Anda di halaman 1dari 19

Tugas Mata Kuliah Islam Disiplin Ilmu

“KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU”

Disusun oleh:

YENNY KASIM
9229 0050

JURUSAN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2009
“KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU”

LATAR BELAKANG
Dari hari ke hari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih, kita
seolah diperbudak oleh perkembangan zaman. Tapi tidaklah selalu demikian, hal ini
tergantung kepada sikap dan mental kita untuk lebih menghadapi dan memahami
dampak-dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dan mesti
menempatkannya untuk hal kebaikan dunia dan akhirat.
Di sinilah bukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pemilik segala ilmu,
menunjukkan kekuasaan-Nya bagi orang-orang berakal dan beriman untuk lebih giat
menuntut ilmu agar manusia mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya, sehingga ia
menjadi manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia.
Menuntut ilmu, dalam ajaran Islam, adalah suatu yang sangat diwajibkan sekali bagi
setiap Muslim, apakah itu menuntut ilmu agama atau ilmu pengetahuan lainnya.
Terkadang orang tidak menyadari betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam kehidupan
ini. Namun kebanyakan dari manusia, mereka lebih mengutamakan harta benda
dibanding ilmu yang sebenarnya harta benda itu sendiri dapat habis dengan sekejap jika
ia tak memiki ilmu untuk tetap memeliharanya sebagai titipan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, bahkan dapat menjadi malapetaka bagi pemiliknya.
Sebaliknya dengan ilmu, ia akan bertambah terus yang tidak pernah habis-habisnya
sebagai kunci untuk memperoleh apa yang dicita-citakan dalam hal duniawi ataupun
ukhrawi yang harus direalisasikan dengan usaha dan mengamalkannya.
Menyikapi hal seperti ini, Rasulullah saw. bersabda, "Nabi Sulaiman disuruh memilih
antara harta benda, kerajaan dan ilmu. Maka dia memilih ilmu, akhirnya dia diberi pula
kerajaan dan harta benda." (H.R. Ad-Dailami). Ini berarti, dengan ilmu segala sesuatu
dapat tercapai, selama ia istiqamah dan ada dalam jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka dengan ke-istiqamahan dan ber-amar ma'ruf nahi munkar baik dalam menuntut
ilmu ataupun mengamalkannya, secara otomatis ia akan mampu menjalankan hidup
dengan baik guna tercapainya apa yang dimaksud.

Page 2 of 19
Dalam sebuah hadist Nabi menyatakan, "Barang siapa yang ingin sukses dalam kehidupan
dunianya, hendaklah (dicapai) dengan ilmu, barang siapa yang ingin selamat di akhirat
nanti hendaklah dengan ilmu dan barang siapa yang ingin sukses dalam menghadapi
kedua-duanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah pula dicapai dengan ilmu."
Oleh karena itu diwajibkan bagi kaum Muslim untuk menuntut ilmu baik ilmu
agama yang hukumnya fardhu 'ain, ataupun ilmu-ilmu yang menyangkut kemaslahatan
umum dengan hukum fardhu kifayah. Ilmu adalah suatu yang sangat mulia, sebab ilmu
adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi manusia yang menjadi perantara
untuk menjadi insan bertakwa.
Disinilah Islam sangat menganjurkan sekali untuk mencari ilmu di mana pun ilmu
itu berada, sebagai kunci untuk membuka segala sesuatu. Kita mesti sadar bahwa jika
seseorang, golongan, atau pun bangsa ingin menjadi manusia yang berkualitas maka
mereka harus mengerti apa hakikat dan kedudukan dari ilmu pengetahuan itu sendiri
yang akan memebentuk dan mengarahkan jiwa dan akal pikiran. Ilmu adalah sebagai
penerang yang mampu mengubah jalan keburukan, kebodohan yang melahirkan
kebijaksanaan dalam berbagai masalah-masalah kehidupan selama ada dalam koridor-
koridor agama.
Adapun pahala menuntut ilmu Rasululllah saw. bersabda, "Orang yang menuntut ilmu
berarti menuntut rahmat; orang yang menuntut ilmu berarti menjalankan rukun Islam
dan pahala yang diberikan kepadanya sama dengan pahala para nabi." (H.R. Ad-Dailami
dari Anas r.a).
Sedangkan dalam hadist lain yang diriwayatkan Imam Muslim r.a., "Barangsiapa yang
melalui suatu jalan guna mencari ilmu pengetahuan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan memudahkan baginya jalan ke surga." Maka dalam menuntut ilmu niatkanlah
semata-mata mencari keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan dibalas dengan
pahala kebaikan untuk dunia dan akhirat.
Secara sederhana kita harus berpikir, bahwa setiap manusia diberikan jatah umur
yang tidak diberi tahu sedikit pun berapa lama kita bertahan hidup di dunia. Ini berarti
kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Alangkah baiknya kita mengetahui
berbagai ilmu, baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Mereka adalah

Page 3 of 19
generasi penerus bangsa kita, apalah daya nasib bangsa ini apabila anak-anak kita tidak
mengenyam pendidikan bukan menuntut ilmu-ilmu keagamaan sebagai dasar untuk
membina jiwa kita, bentengi dari sifat-sifat tercela.
Banyak orang yang menjadi pintar, siapa pun dan jabatan apa pun dia, dikarenakan
dasar religi kurang mengakar di hatinya yang menjadikan jauh dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala sehingga segala tindakan, aturan, ucapan, tingkah laku dll. yang seharusnya
dilaksanakan dengan baik tapi malah sebaliknya.
Menuntut ilmu tidaklah mengenal masa anak-anak ataupun masa tua, semakin kita
bertambah dewasa bisa jadi akan lebih bijaksana dalam menangkap ilmu pengetahuan
yang diterima hal ini karena diimbangi oleh pengalaman dan situasi kondisi yang sedang
dihadapi.
Perlu diketahui pula bahwa ajaran Islam yang luhur ini memberikan jalan atau
toleransi kepada kaum Muslim dalam perihal menuntut dan mengamalkan ilmu,
sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, "Jadilah kamu seorang pengajar, atau pelajar,
atau mendengarkan (ilmu), atau mencintai (ilmu), dan janganlah kamu menjadi orang
yang kelima, kamu pasti menjadi orang yang celaka." H.R. Imam Baihaki. Maksud dari
orang kelima di sini adalah janganlah menjadi orang yang bodoh, yang akan celaka di
dunia dan akhirat kelak, sehingga dapat terjerumuskan kepada hal-hal keburukan.
Oleh karena pentingnya Ilmu itu, terutama Ilmu agama yang merupakan landasan
dalam menentukan sikap maka makalah ini disusun sebagai salah satu bahan untuk
bermuhasabah yang dapat memotivasi diri agar senantiasa tak berhenti untuk belajar,
mengaplikasikan dan mendakwahkan/berbagi ilmu yang dimiliki.

DEFINISI ILMU
Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‫( علم يعلم علما‬alima, ya’lamu, ‘ilman) yang berarti
mengerti, memahami benar-benar.
Ilmu dari segi Istilah ialah Segala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu
yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-rasulnya dan
alam ciptaannya termasuk manusia yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah.

Page 4 of 19
Ilmu dalam bahasa Inggris disebut science, sedangkan pengertian ilmu yang
terdapat dalam kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang
disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Adapun ciri-ciri utama ilmu menurut terminologi, antara lain adalah:
1. Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat
diukur dan dibuktikan.
2. Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan
pengetahuan satu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan
ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
3. Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing
penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri
hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
4. Yang sering kali berkaitan dengan konsep ilmu adalah ide bahwa metode-metode
yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada
semua pencari ilmu.
5. Ilmu menuntut pengalaman dan berpikir metodis.
6. Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.

Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli, di antaranya adalah:


 Mohammad Hatta mendefinisikan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama
tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut
bangunannya dari dalam.
 Ralph Ross dan Ernest Vanden Haag mengatakan bahwa ilmu ádalah yang
empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak.
- Karl Pearson mengatakan bahwa ilmu adalah lukisan atau keterangan yang
komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang
sederhana.

Page 5 of 19
 Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun
dalam suatu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk
menentukan hakikat prinsip tentang hal yang dikaji.
 Harsojo menerangkan bahwa ilmu adalah:
1. Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan.
2. Suatu pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu suatu dunia yang
terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat
diamati oleh panca indra manusia.
3. Suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk
menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : Jika.....maka.....
 Afanasyef seorang pemikir marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah
pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan
alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum yang ketetapannya dan
kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
 T. Jacob mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling
dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa
lampau, sekarang , serta mengubah masa depan.

Dari keterangan para ahli tentang ilmu di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu
adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu
sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif.

ADAB MENUNTUT ILMU


Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil
yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita
tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-
adab tersebut di antaranya adalah:

Page 6 of 19
1. Ikhlas karena Allah
Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk
mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi
orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah telah memberi
peringatan tentang hal ini dalam sabdanya :
"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah Ta’ala sedang
ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan
mendapatkan bau surga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah)
Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan
syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi
karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki
pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam
menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang
benar.
2. Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.
Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan
kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus
mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan
tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat
mengambil faidah dari ilmu kita.
Apakah disyaratkan untuk memberi manfaat pada orang lain itu kita duduk
dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi manfa'at pada orang lain
dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena
Rasulullah bersabda :
"Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para
muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat
menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.

Page 7 of 19
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.
Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu
untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada
seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela
agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan
yang diajarkan Rasulullah saw. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang
yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.
Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan
itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan
aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di
kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak
zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah saw masih hidup. Karena itu jangan
sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat
dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu
yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak
maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang
memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan
(digunakan).
Hendaklah para penuntut ilmu mengamalkan ilmunya, baik berupa aqidah,
ibadah, akhlak, adab dan muamalah, karena hal ini adalah merupakan hasil dan buah
dari ilmu itu. Pengemban ilmu itu seperti pembawa senjata; Bisa berguna dan bisa pula
mencelakakan sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Al Qur’an itu membelamu atau mencelakakanmu.” (HR. Muslim)
Membelamu apabila kamu amalkan dan mencelakakanmu apabila tidak kamu amalkan.
(Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal:32)

Page 8 of 19
Karena keutamaan ilmu itulah ia semakin bertambah dengan banyaknya nafkah
(diamalkan dan diajarkan) dan berkurang apabila kita saying (tidak diamalkan dan
diajarkan) serta yang merusaknya adalah al kitman (menyembunyikan ilmu). (Hiyah
Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hal :72)
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.
Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat
yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang
kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja
sudah termasuk dosa besar, apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama. Ini adalah
masalah yang sangat penting, karena sebagian orang sengaja mencari-cari kesalahan
orang lain untuk menjatuhkan mereka dimata masyarakat. Ini adalah kesalahan terbesar.
(Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal 41).
7. Mencari kebenaran dan sabar
Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu
adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari
berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai
kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan
hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita
berusaha lagi mencari makna (pengertian) dari hadits tersebut.
Hendaklah sabar dalam menuntut ilmu, tidak terputus (ditengah jalan) dan tidak
pula bosan, bahkan terus menerus menuntut ilmu semampunya. Kisah tentang kesabaran
salafush shalih dalam menuntut ilmu sangatlah banyak, sebagaimana diriwayatkan dari
Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma bahwa beliau ditanya oleh seseorang: “Dengan apa
anda bisa mendapatkan ilmu?” Beliau menjawab: “Dengan lisan yang selalu bertanya dan
hati yang selalu memahami serta badan yang tidak pernah bosan.” (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh
Utsaimin hal:40 dan 61) .
Bahkan sebagian dari mereka (salafus shalih) merasakan sakit yang
menyebabkannya tidak bisa bangun dikarenakan tertinggal satu hadits saja. Sebagaimana
terjadi kepada Syu’bah bin al Hajjaj rahimahullah, ia berkata: “Ketika aku belajar hadits
dan tertinggal (satu hadits) maka akupun menjadi sakit.”

Page 9 of 19
Barangsiapa mengetahui keutamaan ilmu dan merasakan kelezatannya pastilah ia
selalu ingin menambah dan mengupayakannya, ia selalu lapar (ilmu) dan tidak pernah
kenyang sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “ Ada dua
kelompok manusia yang selalu lapar dan tidak pernah kenyang: orang yang lapar ilmu
tidak pernah kenyang dan orang yang lapar dunia tidak pernah keying pula.” (HR. Al
Hakim dll dengan sanad tsabit) (Hilyah al ‘Alim al Mu’allim, Syaikh Salim al Hialaliy hal
22- 23)
Abu al ‘Aliyah rahimahullah menuturkan:”Kami mendengar riwayat (hadits) dari
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedang kami berada di Basrah (Iraq), lalu kamipun
tidak puas sehingga kami berangkat ke kota Madinah agar mendengar dari mulut mereka
(para perawinya) secara langsung.” (‘Audah ila as Sunnah, Syaikh Ali Hasan al Atsariy hal
44).
8. Memegang Teguh Al Kitab dan As Sunnah
Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengambil ilmu dari sumbernya, yang tidak
mungkin seseorang sukses bila tidak memulai darinya, yaitu:
1. Al-Qur’anul Karim; Wajib bagi para penuntut ilmu untuk berupaya membaca,
menghafal, memahami dan mengamalkannya.
2. As Sunnah As Shahihah; Ini adalah sumber kedua syariat Islam (setelah Al Qur’an)
dan penjelas al Qur’an Karim.
3. Sumber ketiga adalah ucapan para ulama, janganlah anda menyepelekan ucapan
para ulama karena mereka lebih mantap ilmunya dari anda.
(Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hl :43,44, dan 45)
9. Berupaya Untuk Memahami Maksud Allah dan Rasul-Nya
Termasuk adab terpenting pula adalah masalah pemahaman tentang maksud Allah
dan juga maksud Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam; Karena banyak orang yang
diberi ilmu namun tidak diberi pemahaman. Tidak cukup hanya menghapal al Qur’an
dan hadits saja tanpa memahaminya, jadi harus dipahami maksud Allah dan Rasul-Nya
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Alangkah banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh
kaum yang berdalil dengan nash-nash yang tidak sesuai dengan maksud Allah dan Rasul-
Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sehingga timbullah kesesatan karenanya.

Page 10 of 19
Kesalahan dalam pemahaman lebih berbahaya dari pada kesalahan dikarenakan
kebodohan. Seorang yang jahil (bodoh) apabila melakukan kesalahan dikarenakan
kebodohannya ia akan segera menyadarinya dan belajar, adapun seorang yang salah
dalam memahami sesuatu ia tidak akan pernah merasa salah dan bahkan selalu merasa
benar. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal :52)

Inilah sebagian dari adab yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu agar
menjadi suri tauladan yang baik dan mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat,
amien.

DALIL TENTANG ILMU


Dalam Al-Qur'an banyak sekali dalil yang tentang keutamaan menuntut ilmu ini
menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi umat manusia sejak lahir
sampai mati.
"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman yang mempunyai ilmu
diantara kamu dengan beberapa derajat". (QS.Al-Mujadallah : 11)
Dari ayat diatas jelaslah bahwasanya orang yang memeliki ilmu derajatnya lebih tinggi
dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berilmu, kita sebagai kaum muslimin juga
tahu bahwasanya manusia diangkat sebagai kholifah dimuka bumi ini dikarena
dikarenakan pengetahuannya bukan karena bentuknya ataupun asal kejadiannya
Sementara itu dalam surat lain Allah berfirman "Katakanlah : "Samakah orang-orang yang
berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu" (QS, Az-Zumar : 9), jelas menyuruh
manusia itu untuk berfikir apakah kira-kira manusia yang berilmu dengan manusia yang
tidak berilmu itu sama.
Dengan demikian jelaslah bahwa Islam sangat memuliakan orang-orang yang berilmu
bahkan menganggap orang yang berilmu itu sebagai penerus Rosul, apa yang
disampaikannya akan menjadi penerang jalan yang lurus, amalan orang yang berilmu
sama dengan amalan jihad.
Imam Al-Ghazali mengatakan : "Allah mengangkat derajat orang-orang dengan
ilmu, lalu menjadikan mereka kebaikan sebagai pemimpin dan pepberi petunjuk yang

Page 11 of 19
diikuti, petuntuk dalam kebaikan, jejak mereka mereka diikuti dan perbuatan mereka
diamalkan.
Para malaikat ingin menghiasi mereka dan mengusap mereka dengan sayap-
sayapnya. Setiap yang basah dan yang kering bertasbih bagi mereka dan memohon
ampun bagi mereka, bahkan ikan-ikan dilaut dan binatang-binatang, hewan-hewan buas
dan ternak-ternak didaratan serta bintang-bintang dilangit. Karena Ilmu menghidupkan
hati dan menerangi pandangan yang gelap serta menguatkan yang lemah. Dengan Ilmu
hamba mencapai kedudukan orang-orang yang salih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, ”Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan
dinar atau dirham, yang mereka wariskan adalah al-ilmu . Barang siapa yang mengambil
warisan tersebut ,maka ia telah mendapatkan sesuatu yang besar” ( H.R Abu Dawud
dan At Tirmdzi)
Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, “ Kalian lebih tau tentang urusan
dunia kalian” (H.R Muslim)
Ilmu lainnya seperti ilmu fisika, kimia, akuntansi dst tetap memiliki faidah jika
memenuhi batasan berikut :
- Menolong dalam ketaatan kepada Allah Azza wa jalla dan menyebarkan agama
islam
- Terkadang hukumnya menjadi wajib, ketika mempelajarinya termasuk persiapan
yang Allah perintahkan dalam firmannya :

”dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
.....” (Qs Al Anfaal 60)

Page 12 of 19
KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU
Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan
manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal.
Firman Allah : Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Illah selain Allah, dan
mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.
(Muhammad: 19).
Ilmu sebelum berkata dan beramal. Sufyan bin Uyainah berkata : manusia paling
bodoh adalah yang membiarkan kebodohannya, manusia paling pandai adalah yang
mengandalkan ilmunya, sedangkan manusia paling utama adalah yang takut kepada
Allah.
Ibnu Taimiyah mengatakan : bahwa ilmu yang terpuji, sebagaimana yang dinyatakan
dalam Al-Qur'an dan As Sunnah, ilmu yang diwariskan para nabi.
Rasulullah bersabda :
" Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi mereka
mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, ia sangat beruntung”. (HR Abu
Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Ibnu Taimiyah membagi ilmu yang bermanfaat, menjadi tiga bahagian, yaitu :
1. Ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan lain-lain, seperti yang
disebutkan adalah Al-Qur'an surat Al Ikhlas.
2. Ilmu tentang persoalan-persoalan masa lalu yang dikabarkan Allah; persoalan-
persoalan masa kini, dan persoalan-persoalan masa mendatang, seperti yang
dikabarkan dalam Al-Qur'an, yaitu ayat-ayat tentang kisah-kisah, janji-janji, ancaman,
surga, neraka, dam sebagainya.
3. ilmu tentang perintah Allah yang berhubungan dengan hati dan anggota badan,
seperti iman kepada Allah melalui pengenalan hati serta amaliah anggota badan.
Pemahaman ini bersumber pada pengetahuan dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah
islam.

Page 13 of 19
4. Pemahaman akan Ilmu. Banyak orang yang masih keliru memahami masalah ilmu.
Mereka memahami Al-Qur'an dan As Sunnah hanya sebatas verbalitas semata, dan
tidak memahami hakekat yang terkandung didalamnya. Betapa banyak orang yang
hafal ayat Al- Qur'an, namun tidak memahami isinya. Perbuatan seperti ini tentu saja
bukan termasuk perbuatan orang-orang beriman, "Perumpamaan orang yang beriman
membaca Al Qur'an seperti jeruk sitrun yang baunya wangi dan rasanya manis.
Perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur'an seperti kurma yang
tidak berbau dan rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-
Qur'an seperti sekuntum bunga yang baunya wangi, tetapi rasanya pahit. Dan
perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti labu yang tidak
berbau dan rasanya pahit". (HR Bukhari dan Muslim)
5. Ilmu dan Amal Perbuatan yang Sesuai Ilmu yang sempurna adalah ilmu yang
diendapkan dalam hati, kemudian diamalkan. Inilah yang juga disebut ilmu
bermanfaat, yang nerupakan sandi terpenting dari hikmah. Ilmu ini akan memberikan
kebaikan kepada pemiliknya, sedangkan ilmu tanpa amal akan menghujat pemiliknya
pada hari kiamat. Oleh karena itu, Allah memperingatkan kaum beriman yang hanya
bisa berbicara tetapi tidak melakukan apa-apa. "Hai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kemurkaan di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan". (QS.Ash Shaf: 2 -
3)
6. Menyebarkan Ilmu Allah juga memperingatkan kita agar tidak meyembunyikan ilmu.
Kita diperintahkan untuk menyampaikan ilmu yang merupakan karunia Allah itu
sebatas kemampuan kita. Allah tidak memaksakan seseorang kecuali dalam batas
kemampuannya. "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
Kami turunkan, berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah
kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah
dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati". (QS. Al Baqarah:
159).
Simak pula perkataan seorang penyair: Jika ilmu tidak kau amalkan, ia akan menjadi
bukti atasmu. Dan kamu beralasan jika kamu tidak mengetahuinya. Kalau kamu

Page 14 of 19
memperoleh ilmu Sesungguhnya, setiap perkataan seseorang akan dibenarkan olah
perbuatannya.

Ilmu memiliki banyak keutamaan, di antaranya :

1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana dalam hadis :
” jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara :
shodakoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang
mendoakan kedua orang tuanya.” (H.R Bukhori dan Muslim)
2. Menjadi saksi terhadap kebenaran sebagaimana dalam firman Allah Azza wa jalla,

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali dia.
Yang menegakkan keadilan . para malaikat dan orang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu” (Qs Ali Imran 18)
3. Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam
untuk meminta ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah,

”....dan katakanlah : Ya Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (Qs Thahaa 114)

Page 15 of 19
4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah,

”... Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa
derajat dan Allah nebgetahui mana mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs
Mujadilah 11)
5. Orang berilmu adalah orang yang takut Allah Azza wa jalla , sebagaimana dalam
firmannya ,

”.... sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya hanyalah orang-
orangyang berilmu ” (Qs Al fathir 25)
6. Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar , sebagaimana firmannya,

”Allah meng-anugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran


dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman
Allah)”. ( Qs Al Baqarah 269)

Page 16 of 19
7. Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang ”Barang siapa yang Allah
menghendaki kebaikan padanya , maka Allah akan membuat dia paham dalam
agama” (H.R Bukhari dan Muslim )
8. Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh
suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga” (H.R Muslim)
9. Diperbolehkannya ”hasad” kepada ahli ilmu ,”Tidak hasad kecuali dalam dua hal ,
yaitu terhadap orang yang Allah beri harta dan ia menggunakannya dalam
kebenaran , dan orang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya dan
mengajarkannya” (H.R Bukhori )
10. Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu, ”Sesungguhnya
para malaikat benar-benar membentangkan sayapnya karena ridho atas apa yang
dicarinya” ( H.R Ahmad dan Ibnu majah )

HUKUM MENUNTUT ILMU

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik dari Nabi saw
bersabda,”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
Ilmu bisa kita dibagi menjadi dua macam :
1. Ilmu-ilmu syar’i
Menuntut ilmu-ilmu syar’i ini merupakan sebuah tuntutan akan tetapi hukum
menuntutnya disesuaikan dengan kebutuhan terhadap ilmu tersebut. Ada dari ilmu-
ilmu itu yang menuntutnya adalah fardhu ‘ain, artinya bahwa seseorang mukallaf
(terbebani kewajiban) tidak dapat menunaikan kewajiban terhadap dirinya kecuali
dengan ilmu tersebut, seperti cara berwudhu, shalat dan sebagainya, berdasarkan
hadits, ”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Nawawi mengatakan,
”Meskipun hadits ini tidak kukuh namun maknanya benar.”
Menuntut ilmu-ilmu itu tidaklah wajib kecuali setelah ada kewajiban tersebut
Diwajibkan terhadap setiap orang yang ingin melakukan jual beli untuk belajar
tentang hukum-hukum jual beli, sebagaimana diwajibkan untuk mengetahui hal-hal

Page 17 of 19
yang dihalalkan maupun diharamkan baik berupa makanan, minuman, pakaian atau
lainnya secara umum. Demikian pula tentang hukum-hukum menggauli para istri
apabila dirinya memiliki istri.
Adapun tentang kewajiban yang segera maka mempelajari ilmu tentangnya juga
harus segera. Begitu juga dengan kewajiban yang tidak segera, seperti : haji maka
mempelajari tentangnya juga bisa tidak disegerakan, menurut orang-orang yang
berpendapat seperti itu.
Dari ilmu-ilmu syar’i itu ada yang menuntutnya adalah fardhu kifayah, yaitu ilmu-
ilmu yang mesti dimiliki oleh manusia dalam menegakan agama mereka, seperti
menghafal al Qur’an, hadits-hadits, ilmu tentang keduanya, ushul, fiqih, nahwu,
bahasa, mengetahui tentang para perawi hadits, ijma’, perbedaan pendapat ulama.
Ada pula ilmu-ilmu syar’i yang menuntutnya adalah disunnahkan, seperti
mendalami tentang pokok-pokok dalil, menekuninya dengan segenap
kemampuannya yang dengannya bisa menyampaikannya kepada fardhu kifayah.
2. Ilmu-ilmu yang bukan Syar’i
Sedangkan hukum menuntut ilmu-ilmu yang bukan syar’i maka ada yang fardu
kifayah, seperti ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk mendukung urusan-urusan dunia,
seperti ilmu kedokteran karena ilmu ini menjadi sesuatu yang penting untuk
memelihara tubuh, atau ilmu hitung karena ini menjadi sesuatu yang penting didalam
muamalah (jual beli), pembagian wasiat, harta waris dan lainnya. Ada juga yang
menunututnya menjadi sebuah keutamaan, seperti mendalami tentang ilmu hitung,
kedokteran dan lainnya, Namun untuk melakukan ini tentunya membutuhkan
kekuatan dan kemampuan ekstra. Ada juga yang menuntutnya diharamkan, seperti
menuntut ilmu sihir, sulap, ramalan dan segala ilmu yang membangkitkan keragu-
raguan. Ilmu-ilmu ini pun berbeda-beda dalam tingkat keharamannya. (al Mausu’ah
al Fiqhiyah juz II hal 10370 – 10371)
Adapun untuk mendapatkan ilmu itu sendiri yang paling utama adalah
mendatanginya, sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairoh bahwa
Rasulullah saw bersabda,”… Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk
mendapatkan ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surgea.”

Page 18 of 19
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairoh dan dia
mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.
Hadits ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seseorang untuk keluar dari
rumahnya mendatangi majlis-majlis ilmu walaupun dirinya harus melakukan
perjalanan yang jauh seperti kisah Nabi Musa dengan Khaidir. (Baca : Majelis Ilmu
dan Jalan Ke Surga)
Hal lain yang perlu diketahui oleh para penuntut ilmu ini adalah meyakini bahwa
orang-orang yang menjadi sumber ilmunya (guru) itu adalah orang-orang yang
shaleh, bertanggung jawab terhadap ilmunya, memiliki prilaku yang baik, amanah,
jujur, mengamalkan ilmunya.
Adapun cara untuk mendapatkan ilmu bisa dengan mendatangi sumber ilmu
secara langsung di majlisnya atau bisa juga dengan mencari atau memperdalamnya
melalui sarana-sarana media yang sangat mudah didapat saat ini, baik cetak maupun
elektronik. Setelah itu hendaklah dirinya melakukan penelaahan terhadap setiap ilmu
/ pengetahuan yang didapatnya untuk diterima atau ditolak. Karena setiap pendapat
atau perkataan seseorang bisa diterima atau ditolak kecuali pendapat Rasulullah saw.
Akan tetapi jika telah jelas kebenarannya maka tidak boleh baginya untuk berpaling
darinya karena pada dasarnya kebenaran itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pustaka:
Abdullah Shaleh Al Hadrami, 2005, “Adab Menuntut Ilmu”.

Bachtiar, 2009, “Filsafat Ilmu”, Rajawali Press-Jakarta

Indris Khazali, 2009, “Konsep Ilmu”, Anjung Ilmu.

Keluarga Muslim STMB Telkom-Bandung, 2007, “Keutamaan Menuntut Ilmu”, STMB-


Bandung.

Majid bin Su’ud al-Usyan (Terjemah: Muzafan Sahidu bin Mahzun Lc), 2009, “Adab
Menuntut Ilmu” . Islam House.com

Page 19 of 19