Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA STRATEGIS

ARTIKEL
GENERASI KEPEMIMPINAN

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Asri Laksmi, MS

Disusun oleh

Sukaril
NIM S411508006

JURUSAN MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini dari awal hingga akhir pada dasarnya
adalah pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia pemimpin berarti sebagai mengetuai atau mengepalai dan
memenangkan paling banyak. Jadi, dapat diartikan bahwa seorang pemimpin merupakan
orang yang terpilih dari sekelompok individu yang berfungsi sebagai pemandu, pelatih, serta
pemilik kebijakan segala hal terhadap kelompoknya. Sepatutnya pemimpin itu berperilaku
yang baik, taat beragama, selalu memikirkan kepentingan yang dipimpinnya dengan tidak
melakukan kesalahan yang fatal, serta juga menjadi contoh teladan terhadap apa yang ia
pimpin.Pemimpin adalah individu yang memiliki program dan bersama anggota kelompok
bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti
Faham yang menyatakan bahwa pemimpin dijadikan berpendapat bahwa efektivitas
kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa,caranya adalah dengan memberikan
kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan
efektivitas

kepemimpinannya

melalui

berbagai

kegiatan

pendidikan

dan

latihan

kepemimpinan.Sondang P. Siagian (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan


menjadi seorang pemimpin yang efektif jika seseorang secara genetika telah memiliki bakatbakat kepemimpinan. Bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan
untuk menduduki jabatan kepemimpinannyaditopang oleh pengetahuan teoretikal yang
diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
menyangkut teori kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan suatu

konsep relasi [relation consept], artinya

kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan orang lain, maka jika tiadak ada pengikut atau
bawahan, tak ada pemimpin. Dalam defines Locke, tersirat premis bahwa para pemimpin
yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berelasi dengan para
pengikut mereka.
2) Kepemimpinan merupakan suatu proses, artinya proses kepemimpinan lebih dari sekedar
menduduki suatu otoritas atau posisi jabatan saja, karena dipandang tidak cukup memadai
untuk membuat seseorang menjadi pemimpin, artinya seorang pemimpin harus melakukan
sesuatu. Maka menurut Burns (1978), bahwa untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat

mengembangkan motivasi pengikut secara terus menerus dan mengubah perilaku mereka
menjadi responsif.
3)

Kepemimpinan berarti mempengaruhi orang-orang lain untuk mengambil tindakan,

artinya seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi pengikutnya dengan berbagai cara,
seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan),
penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restrukrisasi organisasi, dan
mengkomunikasikan sebuah visi. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat dipandang
efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi
mereka demi keberhasilan organisasi (Bass, 1995. Locke et.al., 1991., dalam Mochammad
Teguh, dkk., 2001:69).
BAB II
PEMBAHASAN
Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau
bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan,
diantaranya ialah:
Teori Genetik (Keturunan)
Penganut teori ini berpendapat bahwa, pemimpin itu dilahirkan dan bukan dibentuk
(Leaders are born and not made). Pandangan terori berpendapat bahwa, seseorang akan
menjadi pemimpin karena keturunan atau ia telah dilahirkan dengan membawa bakat
kepemimpinan. Teori keturunan ini, dapat saja terjadi karena seseorang dilahirkan telah
memiliki potensi termasuk memiliki potensi atau bakat untuk memimpin, dan inilah yang
disebut dengan faktor dasar. Dalam realitas, teori keturunan ini biasanya dapat terjadi di
kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja, karena orang tuanya menjadi raja maka
seorang anak yang lahir dalam keturunan tersebut akan diangkat menjadi raja.
Teori Sosial(Kejiwaan)
Penganut teori ini berpendapat bahwa, seseorang yang menjadi pemimpin dibentuk
dan bukan dilahirkan [Leaders are made and not born]. Penganut teori berkeyakinan bahwa
semua orang itu sama dan mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin. Tiap orang
mempunyai potensi atau bakat untuk menjadi pemimpin, hanya saja faktor lingkungan atau
faktor pendukung yang mengakibatkan potensi tersebut teraktualkan atau tersalurkan dengan
baik, dan inilah yang disebut dengan faktor ajar atau latihan. Pandangan penganut teori

ini bahwa setiap orang dapat dididik, diajar, dan dilatih untuk menjadi pemimpin. Intinya,
bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, meskipun dia bukan
merupakan atau berasal dari keturunan dari seorang pemimpin atau seorang raja, asalkan
dapat di didik, diajar, dan dilatih untuk menjadi pemimpin.
Teori Ekologik(Lingkungan)
Penganut teori ini berpendapat bahwa, seseorang akan menjadi pemimpin yang baik
manakala dilahirkan telah memiliki bakat kepemimpinan. Kemudian bakat tersebut
dikembangkan

melalui

pendidikan,

latihan,

dan

pengalaman-pengalaman

yang

memungkinkan untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang telah dimiliki.Jadi, inti
dari teori ini yaitu seseorang yang akan menjadi pemimpin merupakan perpaduan antara
faktor keturunan, bakat dan lingkungan yaitu faktor pendidikan, latihan dan pengalamanpengalaman yang memungkinkan bakat tersebut dapat teraktualisasikan dengan baik.
Teori Kontigensi atau Teori Tiga Dimensi
Penganut teori ini berpendapat bahwa, ada tiga faktor yang turut berperan dalam
proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin atau tidak, yaitu: (1)Bakat kepemimpinan
yang dimilikinya. (2) Pengalaman pendidikan, latihan kepemimpinan yang pernah
diperolehnya, dan (3) Kegiatan sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan
tersebut.Teori ini disebut dengan teori serba kemungkinan dan bukan sesuatu yang pasti,
artinya seseorang dapat menjadi pemimpin jika memiliki bakat, lingkungan yang
membentuknya, kesempatan dan kepribadian, motivasi dan minat yang memungkinkan untuk
menjadi pemimpin. Menurut Ordway Tead, bahwa timbulnya seorang pemimpin, karana : (1)
Membentuk diri sendiri (self constituded leader, self mademan, born leader),(2) Dipilih oleh
golongan, artinya ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya, karena kecakapannya,
keberaniannya dan sebagainya terhadap organisasi. (3) Ditunjuk dari atas, artinya ia menjadi
pemimpin karena dipercaya dan disetujui oleh pihak atasannya.
TIPE KEPEMIMPINAN
Tipe kepemimpinan akan identik dengan gaya kepemimpinan seseorang. Tipe
kepemimpinan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaannya adalah
1. Tipe Otokratik

Seorang pemimpin yang tergolong otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang


biasanya dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah
seorang yang egois. Egoismenya akan memutarbalikkan fakta yang sebenarnya sesuai dengan
apa yang secara subjektif diinterpretasikannya sebagai kenyataan. Dengan egoismenya,
pemimpin otokratik melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan
organisasional. Egonya yang besar menumbuhkan dan mengembangkan persepsinya bahwa
tujuan organisasi identik dengan tujuan pribadinya. Dengan persepsi yang demikian, seorang
pemimpin otokratik cenderung menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran
segala cara yang ditempuh untuk pencapaian tujuannya. Berdasarkan nilai tersebut, seorang
pemimpin otokratik akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakuannya dalam bentuk
-

Kecenderungan memperlakukan bawahan sama dengan alat lain dalam organisasi

Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas

Pengabaian peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan

Sikap pemimpin demikian akan menampakkan diri pada perilakunya dalam berinteraksi
dengan bawahannya, misalnya tidak mau menerima saran dan pandangan bawahannya,
menonjolkan kekuasaan formal.
Dengan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku demikian, seorang pemimpin yang otokratik
dalam praktek akan menggunakan gaya kepemimpinan
* Menuntut ketaatan penuh bawahannya
* Menegakkandisiplindengankaku
* Memberikan perintah atau instruksi dengan keras
* Menggunakan pendekatan punitip dalam hal bawahan melakukan penyimpangan.
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin ini umumnya terdapat pada masyarakat tradisional. Popularitas pemimpin
yang paternalistik mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
* Kuatnya ikatan primordial

* Extended family system


* Kehidupan masyarakat yang komunalistik
* Peranan ada tistiadat yang kuat
* Masih dimungkinkan hubungan pribadi yang intim
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan
organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan
berwujud keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi
dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan
perhatian terhadap kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang paternalistik
mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya merupakan penerimaan atas peranannya
yang dominan dalam kehidupan organisasional. Berdasarkan persepsi tersebut, pemimpin
paternalistik menganut nilai organisasional yang mengutamakan kebersamaan. Nilai tersebut
mengejawantah dalam sikapnya seperti kebapakan, terlalu melindungi bawahan. Sikap yang
demikian tercermin dalam perilakunya berupa tindakannya yang menggambarkan bahwa
hanya pemimpin yang mengetahui segala kehidupan organisasional, pemusatan pengambilan
keputusan pada diri pemimpin. Dengan penonjolan dominasi keberadaannya dan penekanan
kuat pada kebersamaan, gaya kepemimpinan paternalistik lebih bercorak pelindung,
kebapakan dan guru.
3. Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya
tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan
para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu
dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai yang dianut, sikap, dan perilaku serta gaya
yang digunakan pemimpin itu.
4. Tipe Laissez Faire
Persepsi seorang pemimpin yang laissez faire melihat perannya sebagai polisi lalu
lintas, dengan anggapan bahwa anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa

untuk taat pada peraturan yang berlaku. Seorang pemimpin yang laissez faire cenderung
memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri.
Nilai yang dianutnya biasanya bertolak dari filsafat hidup bahwa manusia pada
dasarnya memiliki rasa solidaritas, mempunyai kesetiaan, taat pada norma, bertanggung
jawab.
Nilai yang tepat dalam hubungan atasan bawahan adalah nilai yang didasarkan pada
saling mempercayai yang besar. Bertitik tolak dari nilai tersebut, sikap pemimpin laissez faire
biasanya permisif. Dengan sikap yang permisif, perilakunya cenderung mengarah pada
tindakan yang memperlakukan bawahan sebagai akibat dari adanya struktur dan hirarki
organisasi. Dengan demikian, gaya kepemimpinan yang digunakannya akan dicirikan oleh
* Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
* Pengambilan keputusan diserahkan kepada pejabat pimpinan yang lebih rendah
* Status quo organisasional tidak terganggu
* Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan
kepada anggota organisasi
* Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimal
5. Tipe Demokratik
Ditinjau dari segi persepsinya, seorang pemimpin yang demokratik biasanya
memandang peranannya selaku koordinator dan integrator. Karenanya, pendekatan dalam
menjalankan fungsi kepemimpinannya adalah holistik dan integralistik. Seorang pemimpin
yang demokratik menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
menggambarkan secara jelas aneka tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan demi
tercapainya tujuan organisasi. Seorang pemimpin yang demokratik melihat bahwa dalam
perbedaan sebagai kenyataan hidup, harus terjamin kebersamaan. Nilai yang dianutnya
berangkat dari filsafat hidup yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi. Nilai tersebut tercermin dari sikapnya
dalam hubungannya dengan bawahannya, misalnya dalam proses pengambilan keputusan

sejauh mungkin mengajak peran serta bawahan sehingga bawahan akan memiliki rasa
tanggung jawab yang besar. Dalam hal menindak bawahan yang melanggar disiplin
organisasi

dan

etika

kerja,

cenderung

bersifat

korektif

dan

edukatif.

Perilaku

kepemimpinannya mendorong bawahannya untuk menumbuhkembangkan daya inovasi dan


kreativitasnya. Karakteristik lainnya adalah kecepatan menunjukkan penghargaan kepada
bawahan yang berprestasi tinggi.
Berdasarkan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku, maka gaya kepemimpinannya biasanya
mengejawantah dalam hal:
1. Pandangan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia bagi organisasi, hanya dapat
digunakan oleh manusia dalam organisasi untuk pencapaian tujuan dan sasarannya.
2. Selalu mengusahakan pendelegasian wewenang yang praktis dan realistik
3. Bawahan dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan
4. Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan sebagai mahluk politik,
sosial, ekonomi, dan individu dengan karakteristik dan jati diri yang khas
5. Pengakuan bawahan atas kepemimpinannya didasarkan pada pembuktian kemampuan
memimpin organisasi dengan efektif.
Sifat Kepemimpinan
Sifat Kepemimpinan yang diperlukan oleh seorang pemimpin dalam suatu organisasi
harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, dimana kriteria tersebut menurut George R. Terry
(1992: 156) adalah sebagai berikut :
1. Penuh energi
2. Memeiliki stabilitas emosi
3. Memeiliki pengetahuan tentang manusia.
4. Motivasi pribadi
5. Kemahiran komunikasi
6. Kecakapan mengajar

7. Kecakapan social
8. Kemampuan teknis

Hal tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

Penuh Energi. Untuk tercapainya kepemimpinan yang baik maka diperlukan energi
yang baik pula, jasmani maupun rohani. Seorang pemimpin harus sanggup bekerja
dalam jangka panjang dan dalam waktu tidak tertentu. Karena itu kesehatan fisik
maupun mental benar-benar diperlukan oleh seorang pemimpin.

Memiliki stabilitas emosi. Seorang pemimpin yang efektifitas harus melepaskan diri
dari berburuk sangka, kecurigaan terhadap bawhannya dan tidak boleh cepat naik
pitam. Sebaliknya ia harus tegas, konsekuen dan konsisten dalam tindakantindakannya.

Memiliki pengetahuan tentang manusia. Mengungat tugas yang penting dari


pemimpin maka pemimpin yang baik harus mengetahui hubungan antara manusia
tersebut. Ia harus menhetahui banyak tentang sifat-sifat orang, bagaiman mereka
mengadakan reaksi terhadap sesuatu tindakan atau situasi yang bermacam-macam,
apa dan bagaimana kemampuan yang memiliki untuk melaksanakan tugas yang
dibebankan tersebut.

Motivasi pribadi. Keinginan untuk memimpin harus datang dari dorongan batin dan
pribadinya sendiri dan bukan perasaan dari luar dirinya.

Kemahiran komunikasi. Seorang pemimpin harus mampu dan cakap dalam


mengutarakan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini sangat penting untuk
dapat mendorong maju bawahan, memberikan atau menerima informasi bagi
kemajuan dan kepentingan bersama.

Kecakapan mengajar. Mengajar adalah jalan terbaik untuk memajukan orang-orang


ataupun menyadarakan orang atas pentingnya tugas-tugas yang dibebankan dan
sebagainya. Pemimipin harus mampu memberikan petunjuk-petunjuk, mengoreksi
kesalahan-kesalahan yang terjadi, mengajukan saran-saran, menerima saran-saran dan
sebagainya.

Kecakapan sosial. Seorang pemimpin harus mengetahui benar tentang manusia dan
masyarakat, kemampuan-kemampuannya maupun kelemahan-kelemahannya. Ia harus
memiliki kemampuan bekerja sama dengan orang-orang dengan berbagai ragam
sifatnya.

Kemampuan teknis. Dengan memiliki kemampuan teknis yang tinggi dari seorang
pemimpin akan

lebih mudah mengadakan koreksi bila terjadi suatu kesalahan

pelaksanaan tugas dari bawahannya.


Syarat-Syarat Kepemimpinan
Syarat-syarat kepemimpinan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: (1)
persyaratan kepemimpinan pada umumnya, (2) persyaratan kepemimpinan khusus yang
berhubungan dengan ciri khas masyarakat atau negara, (3) persyaratan kepemimpinan khusus
yang berhubungan dengan jenis kegiatan atau pekerjaan.
1)

Persyaratan Kepemimpinan Pada Umumnya


Yang dimaksud dengan persyaratan kepemimpinan pada umumnya adalah persyaratan

kepemimpinan yang berlaku bagi pemimpin apa saja. Persyaratan kepemimpinan umum
meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.
b.

Sehat jasmaniah maupun rohaniah (fisik maupun mental)


Bertanggungjawab dan obyektif dalam sikap, tindakan dan perbuatan. Adil terhadap

yang dipimpin.
c.

Jujur, yang meliputi :

1.

Jujur terhadap diri sendiri,

2.

Jujur terhadap atasan,

3.

Jujur terhadap bawahan, dan

4.

Jujur terhadap sesama pegawai.

2)

Persyaratan Khusus dalam Hubungannya dengan Ciri-ciri Khusus Masyarakat

Ciri-ciri khusus masyarakat Indonesia adalah yang berhubungan dengan dasar negara,
yaitu Pancasila. Hal ini berarti kepemimpinan Indonesia harus berlandaskan kepada falsafah
Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang
berlandaskan falsafah Pancasila berisikan azas-azas sebagai berikut:
1.

Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu kesadaran akan beragama dan beriman yang teguh.

2.

Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, yang

artinya:
a)

Hing Ngarsa (di depan), Tulada (teladan, contoh), yang berarti seorang pemimpin di

tengah-tengah masyarakat harus mampu memberi contoh, memberi teladan yang baik kepada
para bawahan/pengikut.
b)

Hing Madya (di tengah-tengah), Mangun Karsa (membangun semangat). Seorang

pemimpin

harus

senantiasa

ada

ditengah-tengah

para

pengikutnya

dan

mampu

membangkitkan semangat para bawahan.


c)

Tut Wuri (dari belakang), Handayani (memberikan dorongan, memberikan pengaruh),

yang berarti seorang pemimpin dari belakang ia harus mampu memberikan dorongan,
memberikan pengaruh yang baik kepada para bawahan.
Falsafah tersebut memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak harus senantiasa ada
di belakang terus-menerus, tetapi juga di depan, dan ada ditengah-tengah para
bawahan/masyarakat. Dengan cara demikian maka pemimpin benar-benar menyatu dengan
para bawahan/pengikut dalam keadaan atau situasi yang bagaimanapun.
d)

Waspada Purbawisesa. Artinya: waspada (berawas-awas dan berjaga, tidak lengah), dan

Purbawisesa (kekuasaan sepenuh-penuhnya). Jadi seorang pemimpin dalam menjalankan


kekuasaannya harus selalu waspada, hati-hati, mau dan mampu mengoreksi diri sendiri dan
orang lain (bawahan).
e)

Ambeg Parameta. Mendahulukan mana yang dianggap lebih penting. Hal ini berarti

bahwa seorang pemimpin harus pandai memilih dan menetapkan berbagai macam masalah,
dan dari sekian masalah itu mana yang harus didahulukan untuk mendapat penyelesaian.

f)

Prasaja. Artinya sederhana. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus bersifat

sederhana, tidak berlebihan-lebihan, sederhana dalam tingkah laku.


g)

Satya, yang artinya setia atau loyal. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus loyal

kepada bawahan, pimpinan dengan pimpinan, atasan yang bersangkutan, dan kepada
organisasi yang dipimpinnya. Loyal kepada organisasi yang dipimpin berarti harus berusaha
untuk mengembangkan, memajukan, mengamankan dari segala macam rongrongan yang
datang dari segenap penjuru, baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok
h)

Hemat, berarti tidak boros. Pemimpin harus mempergunakan dana yang tersedia

seefesien dan seefektif mungkin. Ia harus mampu membatasi penggunaan dana sesuai dengan
kebutuhan yang benar-benar penting.
i)

Terbuka, yang berarti pemimpin harus bersedia menerima saran atau kritik yang

membangun dari semua pihak. Ia juga harus berani mempertanggungjawabkan semua


tindakannya secara terbuka.
j)

Penerusan, yang berarti seorang pemimpin harus mempunyai kesadaraan, kerelaan, dan

kemauan untuk menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepasa generasi penerusan untuk
melanjutkan dan mewujudkan cita-cita yang ditentukan. Untuk itu seorang pemimpin harus
mampu menyiapkan dan menciptakan kader-kader penerus berkualitas dan dapat diandalkan.
3)

Persyaratan Khusus yang Berhubungan dengan Jenis Kegiatan atau Pekerjaan


Menurut jenis kegiatan atau pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab

pemimpin, kepemimpinan dapat dibedakan menjadi kepemimpinan lini (line leadership), dan
kepemimpinan staf (staf leadership). Persyaratan bagi kepemimpinan lini berbeda dengan
persyaratan kepemimpinan staf karena fungsi lini berbeda dengan fungsi staf. Meskipun
demikian ada beberapa persamaan persyaratan yang harus dimiliki oleh kedua jenis pimpinan
itu, anatara lain:
a.

Bersifat ramah tamah, dalam tutur kata, sikap dan perbuatan.

b.

Mempunyai intelegensi yang tinggi.

c.

Sabar, ulet dan tekun dalam menghadapi masalah.

d.

Cepat dan tepat dalam mengambil keputusan.

e.

Jujur, Adil, dan Berwibawa.

Persyaratan khusus bagi kepemimpinan staf akan di jelaskan dalam uraian tentang
kepemimpinan staf.
D. Teknik Kepemimpinan
Yang dimaksud dengan teknik kepemimpinan ialah dengan cara bagaimana seorang
pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya. Teknik kepemimpinan dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) macam, yaitu teknik kepemimpinan secara umum, dan teknik kepemimpinan
khusus. Teknik kepemimpinan secara umum adalah teknik kepemimpinan yang berlaku bagi
setiap pemimpin, sedang teknik kepemimpinan khusus adalah teknik kepemimpinan yang
dijalankan oleh seorang pemimpin yang memimpin suatu bidang tertentu. Teknik
kepemimpinan khusus akan dibicarakan lebih lanjut dalam uraian tentang kepemimpinan staf.
Teknik kepemimpinan pada umumnya terdiri dari: (1) teknik kepengikutan, (2) teknik
human relationship, (3) teknik pemberian teladan, semangat dan dorongan.
1)

Teknik Kepengikutan

Teknik kepengikutan adalah teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang
menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi
pengikut, yaitu:
1.

Kepengikutan karena peraturan/hukum yang berlaku.

2.

Kepengikutan karena agama.

3.

Kepengikutan karena tradisi atau naluri, dan

4.

Kepengikutan karena rasio.

Teknik kepengikutan dapat dijalankan dengan penerangan dan propaganda.


a.

Teknik Penerangan ialah dengan cara memberikan fakta-fakta yang objektif. Fakta

disebut objektif bila fakta-fakta itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, jelas

sumbernya, dan tidak bermaksud mengelabuhi para pengikut untuk menutupi kesalahan
pemimpin. Supaya fakta itu jelas dan berguna maka fakta-fakta itu harus disampaikan tepat
pada waktunya dan disajikan dalam bentuk yang dapat dengan mudah dan cepat dimengerti.
Penyajian fakta-fakta yang demikian diharapkan akan dapat menimbulkan kesadaraan dan
kepuasaan di kalangan para bawahan sehingga mereka kemudian dengan sukarela mengikuti.
b.

Teknik Propaganda. Teknik propaganda berbeda dengan teknik penerangan. Dalam

teknik penerangan pemimpin berusaha untuk memberika pengertian dan kesadaraan kepada
para bawahan sehingga mereka menjadi pengikut berdasarkan atas kesadaraan.
Dalam propaganda, seseorang menjadi pengikut karena merasa terpaksa dan takut.
Propaganda merupakan suatu cara mengubah pikiran orang lain supaya menjadi pengikut
dengan cara-cara yang bersifat negatif, misalnya dengan intimidasi, ancaman, menakutnakuti, dan dengan paksaan.
2)

Teknik Human Relationship


Human relationship merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk

mendapatkan kepuasan, baik kepuasan jasmaniah. Karena human relations bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan, teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan
berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis, maupun
kepuasan jasmaniah.
3) Teknik Memberi Teladan, Semangat dan Dorongan
Dengan teknik ini seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan,
pemberi semangat, dan sebagai pemberi dorongan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila
pemimpin berpegangan kepada filsafat: Hing ngarsa sung tulada, hing madya mangun karsa,
tut wuri handayani. Dengan cara demikian diharapkan dapat memberikan pengertian dan
kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka mau dan suka mengikuti apa yang
menjadi kehendak pemimpin.
Gaya Kepemimpinan

Benar kiranya pendapat dari berbagai ahli yang mengatakan bahwa seorang pemimpin
dibandingkan dengan pemimpin lainnya tentulah berbeda sifat, kebiasaan, tempramen, watak
dan kepribadiannya, sehingga tingkah laku dan gayanya tentu tidak sama diantara mereka.
Estafet Kepemimpinan
Banyak pemimpin yang gagal mempersiapkan pengganti! Seharusnya setiap
pemimpin menyadari bahwa masa kepemimpinannya terbatas. Perlunya regenerasi
merupakan suatu keniscayaan (sesuatu yang pasti terjadi). Oleh karena itu, pemimpin yang
bijaksana adalah pemimpin yang mempersiapkan pengganti dirinya. Memang, bagi seorang
pemimpin, mengerjakan sendiri tugas-tugas kepemimpinan lebih mudah daripada mengajar
orang lain untuk melakukan apa yang biasa dilakukannya sendiri. Tidak mudah untuk
mencari pemimpin yang memiliki visi dan misi yang sama.
Estafet kepemimpinan dapat diartikan sebagai pengalih tugasan dari generasi
terdahulu kepada generasi selanjutnya. Estafet kepemimpinan berkaitan dengan pemuda
tetapi bukan berarti orang tua telah gugur amanah dalam mengemban kepemimpinan.
Maksudnya di sini adalah generasi tua sebagai suri teladan bagi para generasi muda agar
dapat menjawab tantangan bangsa. Untuk menjawab tantangan bangsa maka diperlukan
generasi pemuda yang siap menerima estafet kepemimpinan. Suatu Negara apabila mendapat
kebaikan maupun kejelekan pasti yang pertama akan ditanya adalah siapa pemimpinnya.
Setiap individu mempunyai amanah dalam memimpindiri sendiri. Begitu pula Allah telah
memberikan amanah pada diri tiap makhluk untuk menjadi kholifah (pemimpin) di muka
bumi. Estafet kepemimpinan dibentuk dengan melatih jiwa kepemimpinan setiap orang yang
diawali sejak dini, mulai sekarang dan dari diri sendiri. Jika setiap pemuda dapat berfikir dan
bertindak demikian maka dengan begitu pemuda sekarang akan dapat mampu menjadi
pemuda yang tangguh penerus generasi tua terdahulu.
Permasalahan kepemimpinan sangat luas. Tonggak estafet kepemimpinan dimulai dari
para pemuda. Cara untuk menjawab tantangan bangsa melalui status kepemimpinan ini yaitu
dengan membentuk karakter pemuda yang mampu mempertanggungjawabkan secara moral
maupun dari segi agama di hadapan Sang Pencipta.
Tantangan berupa ideologi maupun budaya barat yang mewarnai bangsa Indonesia
saat ini dapat diminimalisir dengan membekali para pemuda melalui pemberian pemikiran

yang benar. Mereka yang tidak sadar harus disadarkan hatinya bahwa selama ini kita hanya
berbangga dengan produk luar negeri. Dengan membekali berbagai ilmu dan sosialisasi
mengenai kewajiban generasi pemuda, diharapkan mereka tersadar dari mimpinya dalam
penggunaan ideologi maupun produk luar negeri.
Esatafet kepemimpinan pemikiran pembaharuan harus cepat dilakukan agar generasi
muda masa kini tidak kehilangan momentum untuk menggebrak jagat pergulatan pemikiran
nasional, lebih-lebih di tingkat internasional yang pernah ditorehkan oleh M. Natsir dan
kawan-kawan segenerasinya. Generasi muda diharapkan tidak berbangga dengan para
founding fathernya sambil menikmati hasilnya saja tetapi berusaha menemukan gebrakangebrakan baru yang mampu membawa ke arah perubahan zaman yang lebih baik.
Seperti apa yang dipaparkan di atas, berfikir, bertindak sejak dini, saat ini dan dimulai
dari diri sendiri saja tidaklah cukup. Apa yang harus difikirkan? Apa yang harus dilakukan
pemuda? Itulah hal terpenting yang dibutuhkan saat ini. Intelektualitas saja juga masih
kurang. Banyak ditemui pemuda intelektual namun tak bermoral. Banyak ditemui pemuda
bermoral baik namun kurang dapat diandalkan segi pengetahuan dan teknologinya. Jadi
bagaimana cara terbaik untuk membentuk estafet kepemimpinan bangsa yang tangguh dan
mampu menggantikan generasi tua terdahulu? Salah satu caranya dengan membentuk segi
emosional, intelektualialitas, dan spiritual melalui kekuatan ruhiahnya.
Dalam menyiapkan tantangan bangsa, maka pemuda harus disiapkan dengan
memperbaharui pemikiran, moral, ruhiahnya, dan yang paling utama adalah membentengi
diri dari pengaruh negatif bangsa lain yang dapat menggoyahkan iman dan keteguhan hati.
Kemudian peran pemuda dalam menerima estafet kepemimpinan juga dengan menyiapkan
pemuda yang mampu menjawab tantangan bangsa karena pemuda yang mampu menjawab
tantangan bangsa pasti mampu mengemban amanah sebagai pemimpin.
Begitu sebaliknya, apabila pemuda mampu menerima estafet kepemimpinan maka dia
juga harus mampu menjawab berbagai tantangan bangsa. Jika dia sudah menerima estafet
kepemimpinan dan memikul amanah sebagai pemimpin maka dia harus belajar manjadi
pribadi yang tidak hanya mengcopybangsa lain tapi mampu menjadi contoh yang baik bagi
bangsa lain.Membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir sebagai
tuntutan zaman diimbangi dengan iman kuat, intelektualitas bagus diikuti dengan moral yang

bagus, personality yang dinamis dan visioner, keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab
terhadap bangsa dan negara.

BAB III
KESIMPULAN
Pemimpin yang dilahirkan tanpa dibarengi pengalaman, pendidikan dan latihan
kepemimpinan akan melahirkan pengikut yang cenderung mengkultuskan pemimpinnya serta
ditakuti dan kurang disegani, sedangkan pemimpin yang dijadikan atau di bentuk akan
melahirkan pemimpin yang kurang memiliki kharisma, menjadi boneka bagi yang
menjadikannya dan cenderung menerapkan teori teori kepemimpin serta kurang disegani
karena kurang memiliki kharisma atau tampilanya biasa biasa saja. Dengan demikian kami
menyatakan bahwa pemimpin yang baik dan berkualitas adalah pemimpin yang memiliki
keturunan pemimpin, memiliki bakat, pengalaman, serta Pendidikan dan latihan
kepemimpinan yang pernah diperolehnya.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang
lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk
mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Seorang pemimpin yang baik harus memiliki integritas (kepribadian), intelektual
(pengetahuan), intelegensi (spiritual), skill atau kemampuan/keahlian, memiliki power atau
dapat mempengaruhi orang lain, mau belajar, mendengar dan siap dikritik. Apabila ketujuh isi
dari esensi/hakikat kepemimpinan tersebut telah dimiliki oleh seorang pemimpin maka
pemimpin tersebut akan arif dan bijaksana.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.kompasiana.com/abdulmuslim80/pemimpin-itu-dilahirkan-atau-dijadikan
2. 2010. "Pengertian kepemimpinan menurut para ahli" .(Online) .(Http:// Izmanyzz.
wordpress.Com /2010/09/04/ pengertian-kepemimpinan-menurut- para-ahli, diakses
11 November 2014 ).
3. 2011. "Hakekat dan Teori Kepemimpinan". (Online). (Http://duniabaca.com/hakekat
-dan-teori-kepemimpinan.html,).
4. Aynul. 2009. "Leadership: Definisi

Pemimpin".

(Online).

(Http://referensi-

kepemimpinan.blogspot.com/2009/03/definisi-pemimpin.html).
5. Mujiono, Imam. 2002. Kepemimpinan dan Keorganisasian. Yogyakarta: UII Press.