Anda di halaman 1dari 3

BECOMING HUMAN

manusia merupakan makhluk yang memiliki akal sehingga dapat memikirkan


masa lalu dan masa depan. Namun sebenarnya manusia bersasal dari suatu
spesies yang membuat cerita fantastis dari lebih 4 juta tahun yang lalu. Hal ini
dibuktikan dengan fosil-fosil kerangka manusia yang diperkirakan merupakan
nenek moyang pertama berasal dari afrika. Selama jutaan tahun mereka terus
berkembang dan akhirnya menyebar di seluruh dunia. Beberapa spesies
beradaptasi dengan lingkungan dunia yang berubah sementara yang lain punah.
Hari ini hanya ada satu spesies manusia yang bertahan. Spesies yang
berkembang karena mereka mengembangkan budaya, budaya yang lebih
kompleks dari yang pernah terlihat sebelumnya.
Hadar ethipia marupakan tempat yang tepat untuk mempelajari asal-usul
manusia. Eksplorasi lapangan dilakukan pada tahun 1972. Hadar memiliki jenis
geologi yang sangat kaya akan fosil hominid yang membuka bab baru dalam hal
evolusi manusia. Pada tahun 1973, di temukan fosil sendi lutut hominid yang
ditemukan pada strata geologi sekitar 3,4 juta tahun yang lalu. Studi lebih lanjut
menunjukkan bahwa lutut tersebut milik makhluk yang berjalan tegak (hominid).
Dan 1974 ditemukan kembali fosil-fosil lain yang memperkuat bahwa hadar
merupakan tempat terbaik untuk mempelajari evolusia manusia.
Pada mulanya di hadar ditemukan fosil gigi kuda, tengkorak babi yang sudah
punah, beberapa antelope geraham. Kemudian ditemukan fosil hominid yang
mulanya diperkirakan adalah fosil rahang monyet. Fosil tersebut berumur sangat
tua dan merupakan fosil terlengkap manusia purba. fosil tersebut kemudian
dikenal dengan sebutan Lucy, karena diketahui fosil tersebut adalah fosil wanita.
Nama tersebut diambil dari judul lagu Lucy in the sky with diamond yang
dibawakan the beattles. Lucy diperkirakan berumur sekitar 3,2 juta tahun dan
merupakan fosil tertua diikuti oleh fosil berumur 3 juta tahun. Fosil tersebut
memiliki anatomi yang unik sehingga diidentifikasi sebagai spesies baru yaitu
Australopithecus afarensis yang berarti kera dari selatan di wilayah afar. diduga
dari hasil penyelidikan bahwa fosil afarensis merupakan spesies nenek moyang
terakhir untuk semua cabang terakhir manusia. Walaupun fosil yang lebih tua
telah ditemukan, namun Lucy tetap patokan fosil nenek moyang manusia dan
merupakan penemuan luarbisasa penting di dalam evolusi manusia.
Setelah ditelaah lebih dalam wilayah hadar di prediksi merupakan wilayah yang
penuh dengan pepohonan dengan buah-buahan sebagai suber makanan bagi
monyet terlebih bagi hominid. Sisa-sia banyak fosil dilakukan dengan
memperkerjakan banyak penduduk setempat. Hal tersebut dilakukan dengan
pelatihan sebelum eksplorasi lapangan. Pada pelatihan tersebut ditunjukkan
beberapa fosil untuk pengenalan.
Pada tahun 1871, naturalis Charles Darwin mengusulkan bahwa manusia dan
kera afrika memiliki satu nenek moyang yang sama. Hal tersebut di usulkan
tanpa adanya data catatan fosil dan penelitian modern. Namun kini telah
ditemukan bahwa terdapat 98% kemiripan gen antara manusia dengan
simpanse. Hal tersebut memperlihatkan adanya kekerabatan sehingga dapat
disimpulkan bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang
sama. Dari hasil data fosil pun menunjukkan bahwa nenek moyang manusia
terlihat seedikit berbeda dengan manusia modern. Catatan fosil terseut

menunjukkan bahwa 8 juta tahun yang lalu, pada masa miosen diperkirakan
sebagian besar beua dipenuhi oleh hutan lebat dimana terdapat
keanekaragaman kera yang hidup di atas tanah. Kemudian melakukan adaptasi
evolusioner dalam hal anatomi menjadikan jari-jari kaki dapat menggneggam
dan mobilitas lengan, bahu yang baik membuat kera ini dapat hidup di daerah
aboreal. Namun 6 juta tahun yang lalu terjadi perubahan alam dimana dunia
menjadi lebih kering dan lebih dingin, hutan menipis kemudian banyak spesies
kera punah namun dapat bertahan hidup nenek moyang dari kera afrika dan
manusia.
Fosil-fosil yang terbentuk tersebut diperkirakan akibat letusan gunung
saddaman, di tanzania, yang menutupi dengan abu yang akibat hujan
terbentuklah semacam semen alami yang menimbun berbagai makhluk hidup.
Salah satunya adalah nenek moyang hominid. Dari cetakan kaki yang ditemukan
dapat memberikan informasi bahwa speseies hominid yang ditemukan
merupakan makhluk bipedal.
Fosil-fosil berumur dua dan tiga juta tahun sangat jarang ditemukan. Namun
ditemukan fosil berumur dua juta tahun yang lalu yang dikenal dengan genus
Homo. saat ini masih dalam perdebatan tentang jumlah spesies homo yang
benar-benar ada. Fosil hominid yang berumur 1,8 juta tahun teridentifikasi
merupakan fosil Homo erectus. Spesies ini memiliki kerangka yang lebih besar
terutama pada volume otak dibandingkan dengan nenek moyang yang lain. Hal
tersebut memperlihatkan adanya hubungan yang rumit antara ukuran tubuh
dengan volume otak.
Pada tahun 1984 di Danau Turkayana di Kenya utara ditemukan kerangka fosil
homo erectus paling lengkap yang pernah ditemukan. berumur kira-kira hampir
satu setengah juta tahun, diperkirakan ini adalah kerangka laki-laki muda,
mungkin berumur sekitar 9 tahun. Dijuluki Turkana Boy yang memiliki tinggi
sekitar lima kaki empat inci. Diperkirakan ketika dewasa dewasa tingginya
sekitar enam kaki.
Pada situs arkeologi tersebut menunjukkan fakta bahwa Homo erectus memakan
hewan. Diduga spesies ini sudah mampu menangkap hewan. Dari fakta itulah
diperkirakan spesies ini sudah menjalajah dengan jangkauan yang lebih jauh dari
rumah leluhur.
Sekitar 1,5 juta tahun yang lalu, homo erectus meninggalkan afrika dan mulai
menjelajah dunia. Hal tersebut memperlihatkan bahwasanya Homo erectus
adalah induk evolusi dimana tidak hanya mengalami kemajuan secara fisik
maupun budaya akan tetapi spesies ini membuka ambang pintu ke dunia baru.
Pada bulan Agustus, 1856, ditemukan sisa-sisa fosil di gua batu kapur pada
lembah Neather, jerman. Kemudian diketahui fosil tersebut merupakan Homo
Neaderthalensis. Fosil tersebut memperlihatkan adanya perbedaan dengan
manusia modern. Kondisi fisik fosil ini sudah berkembang dan cocok dengan
kondisi dingin, iklim periglacial di Eropa. Perbedaan netderthal dengan manusia
modern adalah struktur wajah dan struktur otak.
Para ilmuan percaya bahwa Nederthal bukan nenek moyang dari manusia
modern, namun gen-gennya masih terus ada hingga saat ini. Diduga karena
terjadi perkawinan antara Neanderthal dengan nenek moyang manusia modern.

Salah satu situs dari Neanderthal disebut Vendiha, di Kroasia. Pada situs tersebut
terdapat hukti fosil yang mencakup ribuan tahun. Pada tingkat Neanderthal awal
ditemukan ciri fosil Neanderthal yang khas namun di tingkat selanjutnya
terdapat perubahan dimana ciri-ciri fosil seperti manusia modern. Perilaku
neanderthal sangat mirip dengan manusia modern dalam hal mengubur mayat,
mengelola api, membuat alat kompleks, tempet tinggal dan pakaian.
Neantderthal sangat sukses hidup di seluruh Eropa dan Asia Barat untuk bebrapa
ratur ribu tahun hingga kemudian mereka punah. Kejadian tersebut terjadi di
duga karena adanya konfil langsung dengan Homo sapiens yang menang dalam
ekologi. Namun hingga saat ini masih belum ditemukan adanya bukti konflik
antar dua spesies manusia tersebut.
Di Australia selatan ditemukan sebuah perubahan budaya dalam hal karya.
Koonalda adalah salah satu gua batu kapur yang terdapat didaerha ini. Dalam
gua ini terdapat kelokan garis berputar-putar. Diperkirakan karya tersebut
berumur 40.000 tahun. Ukiran yang ditemukan sederhana, namun mewakili
perubahan besar dalam cara nenek moyang kita melihat dunia. Pada karya
tesebut terlihat kemampuan untuk menandai kelahiran, memahami konsepkonsep abstrak tentang dunia dan diri mereka sendiri dan ini merupakan awal
kesadaran dari manusia purba.
Karya lain ditemukan di daerah eropa umumnya sebagian besar gambar
cenderung hewan namun di Arnhem, setidaknya 90% atau lebih berupa angkaangka. Budaya seni gua Eropa tersebut berakhir pada 20.000 tahun yang lalu,
namun di Australia seni ini masih berlanjut pada suku aborigin yang masih
mepertahankan budaya leluhurnya dalam hal kemampuan artistik mereka dalam
seni batu. Misalnya adanya situs yang memperlihatkan cetakan tangan di
sandingkan dengan kapal uap. Hal tersebut memperlihatkan kepada kita tentang
kisah masuknya orang Eropa yang datang ke tanah mereka.
Ada beberapa teknik untuk seni lukis batu yaitu dengan menggunakan pigmen
alami misalnya arang dengan bantuan lidah sebagai kuas dan tangan. Seni
tersebut hidup ada hingga sekarang dan merupakan hadiah yang luar biasa
menyaksikan emosi dan pikiran peninggalan nenek moyang kita.