Anda di halaman 1dari 5

PERMANENT ESTABLISMENT (Bentuk Usaha Tetap)

Pengertian BUT

Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan, yang dimaksud dengan


bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa tempat kedudukan manjemen,
cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel,
dan lain-lain. Dengan kata lain BUT adalah bentuk kegiatan usaha di
Indonesia yang dimiliki oleh orang atau badan luar negeri.
Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat
usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung
termasuk juga mesin-mesin dan peralatan.
Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia.
Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan
selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan
atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau
tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha
tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan
agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan
agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya
dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri.
Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan
di luarIndonesia dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia
apabila perusahaan asuransi tersebut menerima

pembayaran premi asuransi di Indonesia atau menanggung risiko di


Indonesia melalui pegawai, perwakilan atau agennya di Indonesia.
Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang
mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada atau bertempat
kedudukan di Indonesia.
Kewajiban Pajak BUT

Walaupun BUT termasuk Wajib Pajak Luar Negeri, namun kewajiban


perpajakan BUT hampir sama dengan Wajib Pajak Badan Dalam Negeri.
Suatu BUT berkewajiban untuk ber NPWP. Apabila memenuhi ketentuan di
Undang-undang PPN, BUT juga wajib untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Setelah berNPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP, BUT berkewajiban
menjalankan hak dan kewajiban perpajakan yang sama dengan Wajib
Pajak Dalam Negeri. BUT Wajib menyampaikan SPT PPh Badan, SPT PPh
Pasal 21/26, PPh Pasal 23/26, PPh Pasal 22, PPh Pasal 4 ayat (2)
dan/atau PPN sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perbedaan mendasar dalam perlakuian PPh antara Wajib Pajak Badan
Dalam Negeri dan BUT terletak pada :
1. Sumber penghasilan BUT yang dikenakan PPh adalah penghasilan dari
Indonesia saja karena BUT termasuk Wajib Pajak Luar Negeri.
2. Adanya perlakuan khusus tentang penghasilan yang menjadi objek
pajak BUT dan biaya yang boleh dikurangkan bagi BUT yang diatur
dalam Pasal 5 UU PPh.
3. 3. Adanya kewajiban khusus pemotongan PPh Pasal 26 atas
Penghasilan Kena Pajak setelah dikurang pajak di Indonesia
sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat (4) UU PPh.
Jenis-Jenis Bentuk Usaha Tetap (BUT)
1

Tipe Fasilitas Fisik (Lihat Pasal 2 ayat (5) huruf a s/d h Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000),

terdiri dari :
-

Tempat kedudukan manajemen;

Cabang perusahaan;

Kantor perwakilan;

Gedung kantor;

Pabrik;

Bengkel;

Pertambangan dan penggalian sumber daya alam, wilayah kerja pengeboran untuk eksplorasi
pertambangan;

Perikanan/pertanian/kehutanan/perkebunan.

Keberadaan BUT tipe fasilitas fisik dapat dilihat dari ada atau tidaknya fasilitas fisik seperti
cabang, bengkel, kantor, dsb di negara sumber.

2
.

Tipe Aktivitas (Lihat Pasal 2 ayat (5) huruf i dan j Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000), terdiri
dari :
-

Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain yang dilakukan dalam
jangka waktu lebih dari 60 hari (kecuali ditentukan lain dalam tax treaty dengan negara yang
bersangkutan) dalam jangka waktu 12 bulan.

Keberadaan BUT tipe aktivitas, baik aktivitas konstruksi maupun pemberian jasa ditentukan dari
lamanya (time test) aktivitas tersebut dilakukan di negara sumber. Penentuan time test tidak
melihat pada formalitas (kontrak) tetapi pada keadaan yang sebenarnya (Pasal 2 ayat (6) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2000)
Misalnya :
Berdasarkan kontrak pemberian jasa, PT XYZ yang berkedudukan di Amerika mengirimkan Mr.
Wong, penduduk Amerika ke Indonesia dari tanggal 10 April 2000 s/d 10 Juni 2000. Namun, pada
kenyataannya, Mr. Wong sudah berada di Indonesia sejak bulan Januari 2000. Dengan demikian,
syarat time testyang digunakan dihitung sejak Mr. Wong berada di Indonesia, yaitu sejak bulan

Januari 2000.

3
.

Tipe Keagenan (Lihat Pasal 2 ayat (5) huruf k Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000), terdiri
dari :

Orang atau badan yang bertindak sebagai agen yang kedudukannya tidak bebas;
Keberadaan BUT tipe keagenan ditentukan oleh ada atau tidaknyadependent agent di negara
sumber.

4
.

Tipe Asuransi (Lihat Pasal 2 ayat (5) huruf l Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000), terdiri dari :

Agen atau pegawai perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di
Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.

Keberadaan BUT tipe asuransi difokuskan pada ada atau tidaknya pemungutan premi dan
penanggungan resiko di negara sumber.

Contoh BUT :
China Corporation adalah sebuah Perusahaan dari China yang memenangkan tender
pembangunan PLTU di Cilacap. Untuk membangun PLTU tersebut China Corporation
mendirikan BUT yang akan beroperasi selama pembangunan PLTU tersebut, sehingga
setelah selesai maka BUT tersebut bubar dan dapat mengajukan penghapusan NPWP.
Kewajiban perpajakan BUT adalah seperti wajib pajak badan dalam negeri.
Perbedaaanya apabila laba setelah pajak dari suatu BUT dikirim keluar negeri maka
akan dikenakan PPh Pasal 26.

Immovable Property (Harta Tidak Bergerak)


Harta tidak bergerak adalah berupa barang-barang yang tidak bergerak seperti
lading,kebun,dan rumah.Harta ini menunjang anda dalam menjalani kehidupan ini,
tanpa harta jenis ini anda akan menderita.