Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang
memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan
pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan
langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan
pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava
superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek
septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum
primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik
atau pada bantalan endokard.
ASD(Atrial Septal Defect) merupakan kelainan jantung bawaan tersering setelah VSD
(ventrikular septal defect). Dalam keadaan normal, pada peredaran darah janin terdapat suatu
lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada
saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus
mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Maka darah bersih dan darah kotor
bercampur.
Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masa
kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun
pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada
dekade ke-4 dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia).
Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek
tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan
menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu
dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah dan ada tidaknya gagal jantung
1

kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit
lain.
Sampai 5 tahun yang lalu, semua ASD hanya dapat ditangani dengan operasi bedah
jantung terbuka. Operasi penutupan ASD baik dengan jahitan langsung ataupun
menggunakan patch sudah dilakukan lebih dari 40 tahun. Tindakan operasi ini sendiri, bila
dilakukan pada saat yang tepat (tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan, dengan
risiko minimal (angka kematian operasi 0-1%, angka kesakitan rendah). Pada penderita yang
menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun menunjukkan ketahanan hidup pasca operasi
mencapai 98%. Semakin tua usia saat dioperasi maka ketahanan hidup akan semakin
menurun, berkaitan dengan sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan tekanan pada
pembuluh darah paru. Namun demikian, tindakan operasi tetap memerlukan masa pemulihan
dan perawatan di rumah sakit yang cukup lama, dengan trauma bedah (luka operasi) dan
trauma psikis serta relatif kurang nyaman bagi penderita maupun keluarganya. Hal ini
memacu para ilmuwan untuk menemukan alternatif baru penutupan ASD dengan tindakan
intervensi non bedah (tanpa bedah jantung terbuka), yaitu dengan pemasangan alat Amplatzer
Septal Occluder (ASO).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ASD?
2. Apa penyebab ASD ?
3. Bagaimana tanda dan gejala yang muncul?
4. Bagaimana patofisiologi ASD?
5. Bagaimana pathway ASD?
C. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini, antara
lain :
1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui pengertian ASD


Mengetahui etiologi, patofisiologi dan tanda serta gejala ASD
Untuk memahami Asuhan Keperawatan pada pasien dengan ASD
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak semester IV

BAB II
TUNJAUAN PUSTAKA
A. Definisi ASD
Atrial Septal Defect (ASD) adalah terdapatnya hubungan antara atrium kanan dengan
atrium kiri yang tidak ditutup oleh katup ( Markum, 1991).
ASD adalah defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri dan kanan. (Sudigdo
Sastroasmoro, 1994).
ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat
antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Defek
3

Septum Atrium (ASD, Atrial Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang
memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan). Kelainan jantung ini mirip
seperti VSD, tetapi letak kebocoran di septum antara serambi kiri dan kanan. Kelainan ini
menimbulkan keluhan yang lebih ringan dibanding VSD. Atrial Septal Defect adalah adanya
hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri.
Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat
atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri
melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus
venousus di dekat muara vena kavasuperior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup
spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum
sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang
letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini
harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui
pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah
terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah
berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal
defek dengan sepotong dakron.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Atrial Septal
Defect ( ASD ) penyakit jantung bawaan dimana terdapat lubang ( defek ) pada sekat atau
septum interatrial yang memisahkan atrium kiri dan kanan yang terjadi karena kegagalan fusi
septum interatial semasa janin.
B. Klasifikasi
Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
1. Ostium secundum : merupakan tipe ASD yang tersering. Kerusakan yang terjadi
terletak pada bagian tengah septum atrial dan fossa ovalis. Sekitar 8 dari 10 bayi lahir
4

dengan ASD ostium secundum. Sekitar setengahnya ASD menutup dengan


sendirinya. Keadaan ini jarang terjadi pada kelainan yang besar. Tipe kerusakan ini
perlu dibedakan dengan patent foramen ovale. Foramen ovale normalnya akan
menutup segera setelah kelahiran, namun pada beberapa orang hal ini tidak terjadi hal
ini disebut paten foramen ovale. ASD merupakan defisiensi septum atrial yang sejati.
2. Ostium primum : kerusakan terjadi pada bagian bawah septum atrial. Biasanya
disertai dengan berbagai kelainan seperti katup atrioventrikuler dan septum ventrikel
bagian atas. Kerusakan primum jarang terjadi dan tidak menutup dengan sendirinya.
3. Sinus venosus : Kerusakan terjadi pada bagian atas septum atrial, didekat vena besar
(vena cava superior) membawa darah miskin oksigen ke atrium kanan. Sering disertai
dengan kelainan aliran balik vena pulmonal, dimana vena pulmonal dapat
berhubungan dengan vena cava superior maupun atrium kanan. Defek sekat primum
dikenal dengan ASD I, Defek sinus Venosus dan defek sekat sekundum dikenal
dengan ASD II.
C. Etiologi ASD
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya :
1. Faktor Prenatal
a. Ibu menderita penyakit infeksi rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
2. Faktor Genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b. Ayah atau ibu menderita PJB
c. Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
d. Lahir dengan kelainan bawaan lain
D. Tanda dan Gejala ASD

ASD di awal kehidupan tidak menimbulkan gejala. Saat tanda dan gejala muncul biasanya
murmur akan muncul. Seiring dengan berjalannya waktu ASD besar yang tidak diperbaiki
dapat merusak jantung dan paru dan menyebabkan gagal jantung. Keadaan ini tidak akan
terjadi sampai pasien dewasa. Tanda dan gejala gagal jantung diantaranya:

Kelelahan

Mudah lelah dalam beraktivitas

Napas pendek dan kesulitan bernapas

Berkumpulnya darah dan cairan pada paru

Berkumpulnya cairan pada bagian bawah tubuh

E. Patofisiologi ASD
Darah arterial dari atrium kiri masuk ke atrium kanan. Aliran tidak deras karena
perbedaan tekanan atrium kiri dan kanan tidak besar (tekanan atrium kiri lebih besar dari
tekanan atrium kanan. Beban pada atrium kanan, atrium pulmonalis kapiler paru, dan atrium
kiri meningkat, sehingga tekanannya meningkat. Tahanan katup pulmonal naik, timbul bising
sistolik karena stenosis relative katup pulmonal. Juga terjadi stenosis relative katup
trikuspidal, sehingga terdengar bising diastolic. Penambahan beban atrium pulmonal
bertambah, sehingga tahanan katup pulmonal meningkat dan terjadi kenaikan tekanan
ventrikel kanan yang permanen. Kejadian ini berjalan lambat. Pada ASD primum bias terjadi
insufisiensi katup mitral atau trikuspidal sehingga darah dari ventrikel kiri atau kanan
kembali ke atrium kiri atau kanan saat sistol

F. Pathway
Berikut pathway ASD

Defek antara atrium dextra dan atrium


sinistra
Tekanan atrium
sinistra > atrium
dextra

Terjadi aliran yang tinggi dari atrium sinistra ke strium dextra

Vol. ventrikel sinistra

Curah jantung

Hipoksia
jaringan

Kelemahan

Dx 2 :
intoleransi
aktivitas

Vol. atrium dextra

Akral dingin

Heart rate meningkat

Vol. ventrikel dextra

Peningkatan aliran
darah pulmonal

Preload
Edema paru
TD
Dx 4 : kerusakan pertukaran
gas
Dx 1 : penurunan
CO

Ketidakadekuatan O2
dan nutrisi ke jaringan

BB rendah/tidak bertambah,
pertumbuhan dan perkembangan
lambat

Dx 3 : gangguan pertumbuhan dan perkembangan


7

G. Manifestasi Klinis
Penderita ASD sebagian besar menunjukkan gejala klinis sebagai berikut :
1. Detak jantung berdebar-debar (palpitasi)
2. Tidak memiliki nafsu makan yang baik
3. Sering mengalami infeksi saluran pernafasan
4. Berat badan yang sulit bertambah
Gejala lain yang menyertai keadaan ini adalah :
1. Sianosis pada kulit di sekitar mulut atau bibir dan lidah
2. Cepat lelah dan berkurangnya tingkat aktivitas
3. Demam yang tak dapat dijelaskan penyebabnya
4. Respon tehadap nyeri atau rasa sakit yang meningkat.
H. Penatalaksanaan Medis
ASD kecil tidak perlu oprasi karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik atau
bahaya endokarditis infektif. ASD besar perlu tindakan bedah yang dianjurkan dilakukan
dibawah umur 6 tahun (pra sekolah). Walaupun setelah operasi kemungkinan ventrikel kanan
masih menunjukkan dilatasi. Hal ini karena komplien otot jantung sudah berkurang. Pada
penutupan spontan ASD sangat kecil kemungkinannya sehingga operasi sangat berarti. Defek
fosa ovalis atau defek atrioventrikuler dengan komplikasi ditutup dengan bantuan mesin
jantung paru.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1) Pengkajian Umum
a. Keluhan Utama
Keluhan orang tua pada waktu membawa anaknya ke dokter tergantung dari
jenis defek yang terjadi baik pada ventrikel maupun atrium, tapi biasanya
terjadi sesak, pembengkakan pada tungkai dan berkeringat banyak.
b. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Anak mengalami sesak nafas berkeringat banyak dan pembengkakan
pada tungkai tapi biasanya tergantung pada derajat dari defek yang
terjadi.
b) Riwayat kesehatan lalu
Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu
(infeksi virus Rubella), mungkin ada riwayat pengguanaan

alkohol dan obat-obatan serta penyakit DM pada ibu.


Intra natal
Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
Riwayat Neonatus
Gangguan respirasi biasanya sesak, takipnea
Anak rewel dan kesakitan
Tumbuh kembang anak terhambat
Terdapat edema pada tungkai dan hepatomegali
Sosial ekonomi keluarga yang rendah.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang

mengalami kelainan defek jantung


Penyakit keturunan atau diwariskan
Penyakit congenital atau bawaan
c) Sistem yang dikaji :
Pola Aktivitas dan latihan
Keletihan/kelelahan
Dispnea
Perubahan tanda vital
9

Perubahan status mental


Takipnea
Kehilangan tonus otot
Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan
Riwayat hipertensi
Endokarditis
Penyakit katup jantung.
Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
Ansietas, khawatir, takut
Stress yang b/d penyakit
Pola nutrisi dan metabolic
Anoreksia
Pembengkakan ekstremitas bawah/edema
Pola persepsi dan konsep diri
Kelemahan
Pening
Pola peran dan hubungan dengan sesama
Penurunan peran dalam aktivitas sosial dan keluarga
B. Pemeriksaan Fisik
a) Pada pemeriksaan biasanya didapatkan impuls prominent ventrikel kanan dan pulsasi
arteri pulmonal yang terpalpasi. Bunyi jantung 1 normal/split, dengan aksentuasi
penutupan katup trikuspid. Bertambahnya aliran ke katup pulmonal dapat
menyebabkan terdengarnya murumur midsistolik. Splitting bunyi jantung 2 melebar
dan tidak menghilang saat ekspirasi. Murmur middiastolik rumbling, terdengar paling
keras di SIC IV dan sepanjang linea sternalis kiri, menunjukan peningkatan alisan
yang melewati katup tricuspid. Pada pasien dengan kelainan ostium primum, thrill
pada apex dan murmur holosistolic menunjukan regurgitasi mitral/tricuspid atau
VSD.
b) Hasil pemeriksaan fisik dapat berubah saat resistensi vaskular pulmonal meningkat
menghasilkan berkurangnya pirau kiri ke kanan. Baik itu aliran balik pulmonal dan
murmur tricuspid intensitasnya akan berkurang, komponen bunyi jantung ke 2 dan
ejeksi sistolik akan meningkat, murmur diastolic akibat regurgitasi pulmonal dapat
muncul. Sianosis dan clubbing finger berhubungan dengan terjadinya pirau kanan ke
kiri.
10

c) Pada orang dewasa dengan ASD dan fibrilasi atrial, hasil pemeriksaan dapat
dipusingkan dengan mitral stenosis dengan hipertensi pulmonal karena murmur
diastolik tricuspid dan bunyi jantung 2 yang melebar.
C. Pemeriksaan Penunjang
a) Foto Ronsen Dada Pada defek kecil gambaran foto dada masih dalam batas normal.
Bila defek bermakna mungkin tampak kardiomegali akibat pembesaran jantung
kanan. Pembesaran ventrikel ini lebih nyata terlihat pada foto lateral.
b) Elektrokardiografi Pada ASD I, gambaran EKG sangat karakterstik dan patognomis,
yaitu sumbu jantung frontal selalu kekiri. Sedangkan pada ASD II jarang sekali
dengan sumbu Frontal kekiri.
c) Katerisasi Jantung Katerisasi jantung dilakukan defek intra pad ekodiograf tidak
jelas terlihat atau bila terdapat hipertensi pulmonal pada katerisasi jantung terdapat
peningkatan saturasi O2 di atrium kanan dengan peningkatan ringan tekanan ventrikel
kanan dan kiri bil terjadi penyakit vaskuler paru tekanan arteri pulmonalis, sangat
meningkat sehingga perlu dilakukan tes dengan pemberian O2 100% untuk menilai
resensibilitas vasakuler paru pada Syndrome ersen menger saturasi O2 di atrium kiri
menurun.
d) Eko kardiogram Ekokardiogram memperlihatkan dilatasi ventrikel kanan dan
septum interventrikular yang bergerak paradoks. Ekokardiogrfi dua dimensi dapat
memperlihatkan lokasi dan besarnya defect interatrial pandangan subsifoid yang
paling terpercaya prolaps katup netral dan regurgitasi sering tampak pada defect
septum atrium yang besar.
e) Radiologi Tanda tanda penting pad foto radiologi thoraks ialah:

Corak pembuluh darah bertambah


11

Ventrikel kanan dan atrium kanan membesar

Batang arteri pulmonalis membesar sehingga pada hilus tampak denyutan


( pada fluoroskopi) dan disebut sebagai hilam dance.

D. Diagnose Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b.d perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunnya preload
2. Intoleransi aktivitas b.d hipoksia
3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan
zat nutrisi ke jaringan.
4. Kerusakan pertukaran gas b.d edema paru
E. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa

Tujuan

1.

criteria hasil
T : klien

Penurunan
curah

jantung memperlihatkan

/ Intervensi

Rasional

Auskultasi nadi apical, Biasanya terjadi


kaji

frekuensi,

irama tachycardia

berhubungan

peningkatan

jantung.

untuk mengkompensasi

dengan

curah jantung

Catat bunyi jantung.

penurunan

perubahan

KH :

Palpasi nadi perifer. kontraktilitas jantung.

dalam

rate, denyut jantung

irama,

kuat,teratur, dan

pompa jantungyang sangat menurunnya kerja pompa

konduksi

dalam batas

dipengaruhi oleh CO dan S3 sebagai aliran kedalam

jantung,

normal

menurunnya
preload.

Untuk mengetahui fungsi S1 dan s2 lemah,karena

pengisisan jantung.
Pantau tekanan darah.
Pantau keluaran urine,
catatpenurunan keluaran,
dan
12

kepekatanatau

serambi yaitu distensi. S4


menunjukkan inkopetensi
atau stenosis katup.
Untuk mengetahui fungsi
pompa jantung yang

konsentrasi urine.

sangat dipengaruhi oleh

Kaji perubahan pada CO dan pengisisan


sensori
bingung,

contoh:letargi, jantung.
disorientasi, Dengan menurunnya CO

cemas dan depresi.

mempengaruhi suplai

Berikan istirahat semi darah keginjal yang juga


recumbent (semi-fowler) mempengaruhi
pada tempat tidur.

pengeluaran hormone

Kolaborasi dengan dokter aldosteron yang berfungsi


untuk terapi, oksigen, obat pada proses pengeluaran
jantung, obat diuretic dan urine.
cairan.

Menunjukkan
tidak adekuatnya perfusi.
serebral sekunder
terhadap penurunan curah
jantung.
Memperbaiki insufisiensi
kontraksi jantung dan
menurunkan kebutuhan
oksigen dan penurunan
venous return.
Membantu dalam proses
kimia dalam tubuh.

13

2.

Intoleransi
aktivitas
hipoksia.

Taksiran tingkat,

T: klien
b.d menunjukkan
perbaikan
curah jantung

Untuk memberikan

kelelahan,kemampuan

informasi

untuk melakukan ADL

energi

Berikan periode dan

tentang
cadangan

danrespon

yang terlihat dari

istirahat dantidur yang

aktivitas klien

cukup

untuk

beraktivitas.
Untuk meningkatkan

Hindari suhu lingkungan

istirahat

dan

menghemat energy.

yang ekstrim

Karena hipertemia/
hipoterma

dapat

meningkatkan
3.

Gangguan

pertumbuhan dan Memberikan

Beri

diet

nutrisi yang seimbang. konsumsi diet tinggi

perkembangan b.d support untuk

Pantau tinggi dan nutrisi

tidak adekuatnya tumbuh

berat

suplai oksigen dan kembang

gambarkan

zat

nutrisi

jaringan.

ke KH

pertumbuhan
yang adekuat.

pada

Anak

melakukan
aktivitas sesuai
usia.

yang sesuai usia.


Tekankan
anak

untuk menentukan
kecenderungan

aktivitas pertumbuhan.

Dorong

pertumbuhan

badan; yang adekuat tercapai.

Anak grafik pertumbuhan

mencapai

kebutuhan oksigen
tinggi diharapkan dengan

melalui

aktivitas

bahwa yang sesuai misalnya

mempunyai bermain,

diharapkan

kebutuhan yang sama klien dapat tumbuh


terhadap

sosialisasi dan

seperti anak yang lain.

Anak tidak
14

berkembang

semampunya.

mengalami

Izinkan anak untuk sosialisasi merupakan

isolasi sosial.

menata

ruangnya faktor

yang

sendiri dan batasan mempengaruhi


aktivitas karena anak pertumbuhan

dan

akan beristirahat bila perkembangan anak

lelah.

Memberikan
kesempatan
berkreativitas
melakukan

anak
dalam
aktivitas

sesuai usia.
4.

Kerusakan

T:

dalam

Berikan

pertukaran gas b.d waktu 3x 24 bronkodilator


edema paru

jam

sesuai Bronkodilatormendilat

setelah yang diharuskan.

diberikan

intervensi
terjadi

Dapat

diberikan membantu

peroral, IV,inhalasi

Observasi

perbaikan

samping:

dalam

disritmia,

pertukaran gas

sistem

KH:

mual, muntah.

Melaporkan

asi jalan napas dan

edema

melawan
mukosa

efek bronchial dan spasme

takikardi, muscular.
eksitasi

Mengkombinasikan

pusat, medikasi

saraf

dengan

aerosolized

tindakan bronkodilator

Evaluasi

penurunan

nebuliser,

dispnea.

dosis terukur.

inhaler nebulisasi

biasanya

digunakan

untuk

Menunjukanp kaji penurunan sesak mengendalikanbronko


erbaikan

napas,

15

penurunan konstriksi

kelonggaran

dalam

laju mengi,

aliran

sekresi,

ekspirasi.

ansietas.

Menggunakan

Teknik

penurunan memperbaiki ventilasi


dengan

pastikan

bahwa jalan

membuka
napas

dan

dilakukan membersihkan

jalan

peralatan

tindakan

oksigen

sebelum makan untuk napas dari sputum.

dengan tepat menghindari mual dan


ketika

muntah.

dibutuhkan.

ini

akan

memperbaiki

Intruksikan

Menunjukan berikan

dan hipoksemia.

dorongan Diperlukan observasi

gas

darah pada

arteri

yang pernapasan

normal.

Oksigen

pasien

untuk yang cermat terhadap


aliran atau presentase

diafragmatik

dan yang

batuk yang efektif.

diberikan

dan

efeknya pada pasien. jika

Berikan oksigen dg pasien mengalami retensi


yang CO2 kronis, maka ada

metoda

perangsangan bernapas

diharuskan.
-

jelaskan
pentingnyatindakan
ini pada pasien.

evaluasi efektifitas;
amati

tanda-tanda

hipoksia
-

analisa gas darah


arteribandingkan
16

dengan

nilai-

nilai

dasar.
-

Lakukan oksimetri
nadi untuk memanitau
saturasi oksigen.

Jelaskan bahwa tidak


merokok
pada

pasien

pengunjung

F. Evaluasi
Proses : langsung setelah setiap tindakan
Hasil : tujuan yang diharapkan

17

dianjurkan
atau

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Defek Septum Atrium (ASD, Atrial Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding
(septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan). Kelainan
jantung ini mirip seperti VSD, tetapi letak kebocoran di septum antara serambi kiri dan
kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan dibanding VSD.
Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut,
karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan
berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat
tergantung pada besar kecilnya aliran darah dan ada tidaknya gagal jantung kongestif,
peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain.
B. Saran
Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan jantung ASD
Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk menanganinya secara efektif
dan efisien .
Mahasiswa kesehatan sebaiknya memahami dan mnegetahui konsep. Atrium septum defek
dan askep nya guna unttuk mengaplikasikan dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Perawat memiliki pengetahuan tentang ASD untuk dapat mempengaruhi orang tua dalam
menjalani pengobatan untuk sehingga penyakit lebih berat dapat dihindari

DAFTAR PUSTAKA

18

Lets learn together Nurse. (10 Juli 2011), Asuhan Keperawatan dengan Atrial Septal Defect,
diperoleh 25 februari 2015, dari http://learntogether-aries.blogspot.com/2011/07/asuhankeperawatan-pada-pasien-dengan.html
Wahab, Samik.Kardilogi Anak : 2009. Penykit Jantung Kongenital yang Tidak
Sianotik.Jakarta.EGC

Blok artikel kesehatan. (28 Maret 2013). Atrial Septal Defect, diperoleh 25 Februari 2-15,
dari http://lomboksehat.blogspot.com/2011/08/atrial-septal-defect-ilmu-penyakit-anak.html
Agung Prasetya. (1 Agustus 2014),ASKEP ASD, diperoleh 25 Fevruari 2015, dari
http://agungprasetya140494.blogspot.com/2014/08/asuhan-keperawatan-atrial-septaldefect.html
Betz Lynn Ciciy dan Sawden A linda.2009.Buku Saku Keperawatan Pediatrik..Jakarta.EGC
Corwin J Elizabeth.2009. Buku Saku Patofisiologi..Jakarta.EGC

19