Anda di halaman 1dari 19

BAHASA INDONESIA BAKU DAN PEMAKAIANNYA DENGAN BAIK

DAN BENAR

OLEH:
Kelompok 2
Helen Soraya S.
Marliana Fitri
Putri Sundari
Rafika Hanum
Saema

4123131040
4123131056
4123131070
4123131072
4123131079

Matakuliah
Kelas
Dosen Pengampu

: Bahasa Indonesia
: Kimia Dik C 2012
: Dra. Rosmaini M.Pd

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM UNIVERSITAS

NEGERI MEDAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Istilah bahasa baku telah dikenal oleh masyarakat secara luas. Namun
pengenalan istilah tidak menjamin bahwa mereka memahami secara komprehensif
konsep dan makna istilah bahasa baku itu. Hal ini terbukti bahwa masih banyak
masyarakat berpendapat bahasa baku sama dengan bahasa yang baik dan benar.
Mereka tidak mampu membedakan antara bahasa yang baku dan yang nonbaku.
Pateda (Alwi, 1997:30) mengatakan bahwa, Kita berusaha agar dalam situasi
resmi kita harus berbahasa yang baku. Begitu juga dalam situasi yang tidak resmi
kita berusaha menggunakan bahasa yang baku.
Slogan Pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar, tampaknya
mudah diucapkan, namun maknanya tidak jelas. Slogan itu hanyalah suatu
retorika yang tidak berwujud nyata, sebab masih diartikan bahwa di segala tempat
kita harus menggunakan bahasa baku. Demikian juga, masih ada cibiran bahwa
bahasa baku itu hanya buatan pemerintah agar bangsa ini dapat diseragamkan
dalam bertindak atau berbahasa. Manakah ada bahasa baku, khususnya bahasa
Indonesia baku? Manalah ada bahasa Indonesia lisan baku? Manalah ada
masyarakat atau orang yang mampu menggunakan bahasa baku itu, sebab mereka
berasal dari daerah. Atau mereka masih selalu dipengaruhi oleh bahasa
daerahnya jika mereka berbahasa Indonesia secara lisan. Dengan gambaran
kondisi yang demikian itu, di dalam bab ini dibahas tentang pengertian bahasa
baku, pengertian bahasa nonbaku, pengertian bahasa Indonesia baku, fungsi
pemakaian bahasa baku dan bahasa nonbaku. Terakhir, akan dibahas tentang ciriciri bahasa baku dan bahasa nonbaku, serta berbahasa Indonesia dengan baik dan
benar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud ragam bahasa?
2. Apa yang dimaksud bahasa baku?
3. Apa yang dimaksud bahasa nonbaku?

4. Apa yang dimaksud bahasa Indonesia baku dan nonbaku?


5. Bagaiman perkembangan bahasa baku?
6. Apa fungsi pemakaian bahasa baku dan bahasa nonbaku?
7. Apa ciri-ciri bahasa baku dan bahasa nonbaku?
8. Bagaimana penggunaan bahasa baku dalam kehidupan?
9. Bagaimana pemakaian bahasa Indonesia baku dan nonbaku dengan baik
dan benar?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian ragam bahasa
2. Untuk mengetahui pengertian bahasa baku.
3. Untuk mengetahui bahasa nonbaku.
4. Untuk mengetahui pengertian bahasa Indonesia baku dan nonbaku.
5. Untuk mengetahui perkembangan bahasa baku.
6. Untuk mengetahui fungsi pemakaian bahasa Indonesia baku dan nonbaku.
7. Untuk mengetahui ciri-ciri bahasa Indonesia baku dan nonbaku.
8. Untuk mengetahui penggunaan bahasa Indonesia baku dalam kehidupan
9. Untuk mengetahui pemakaian bahasa Indonesia baku dan nonbaku dengan
baik dan benar

BAB II
ISI
2.1 Ragam Bahasa
Setiap bahasa sebenarnya mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata
bunyi, tata bentuk, tata kata, tata kalimat, dan tata makna. Tetapi karena berbagai
factor yang terdapat di dalam masyarakat pemakaian bahasa itu menjadi tidak
seragam dan menjadi beragam. Mungkin tata bunyinya menjadi tidak persis sama,
mungkin tata bentuk dan tata katanya, dan mungkin juga tata kalimatnya. Factor
yang menyebabkan ini antara lain: perbedaan usia, pendidikan, agama, bidang
kegiatan dan profesi, dan latar belakang budaya daerah yang berbeda-beda.
Keragaman bahasa ini juga terjadi di Indonesia karena Indonesia memiliki
masayarakat yang berasal dari latar belakang budaya daerah yang beragam,
pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi yang beragam pula. Ragam
bahasa Indonesia yang ada antara lain:
1) Ragam bahasa yang bersifat perseorangan atau disebut juga dengan istilah
idiolek. Setiap orang pasti mempunyai ragam atau gaya bahasa sendirisendiri yang sering tidak disadarinya.
2) Ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat dari
wilayah tertentu, biasanya disebut dengan istilah dialek. Misalnya ragam
bahasa Indonesia di Jakarta, jelas tidak sama dengan ragam bahasa
masyarakat di Medan atau di Ambon.
3) Ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat dari
golongan sosial tertentu, biasanya disebut dengan sosiolek. Misalnya
ragam bahasa golongan berpendidikan, jelas tidak sama dengan ragam
bahasa dari golonganburuh kasar ataupun golongan masyarakat umum.
4) Ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan suatu bidang tertentu,
seperti kegiatan ilmiah, jurnalistk, sastra, hukum, matematika, dan militer.
Ragam bahasa ini sering juga disebut dengan fungsiolek. Ragam bahasa
ilmiah biasanya bersifat logis dan eksak, tetapi ragam bahasa sastra penuh
dengan kiasan dan ungkapan.
5) Ragam bahasa yang digunakan dalam situasi formal atau situasi resmi,
biasanya disebut dengan istilah ragam bahasa baku atau bahasa standar.
Dalam ragam bahasa baku, kaidah-kaidah tata bahasa digunakan secara

konsisten baik dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, maupun


kosakata.
6) Ragam bahasa yang digunakan dalam situasi informal atau situasi tidak
resmi, biasa disebut dengan istilah ragam bahasa nonbaku atau
nonstandard. Dalam ragam bahasa nonbaku kaidah-kaidah tata bahasa
biasanya tidak digunakan secara konsisten.
7) Ragam bahasa yang digunakan secara lisan yang biasa disebut bahasa
lisan. Ragam bahasa lisan tidak sama dengan ragam bahasa tulisan .
bahasa lisan dalam prakteknya sering dibantu dengan mimik, gerak-gerik
anggota tubuh, dan intonasi ucapan. Sedangkan dalam bahasa tulisan,
mimik, gerak-gerik anggota tubuh, dan intonasi tidak dapat diwujudkan.
Karena itu, agar komunikasi dalam bahasa tulisan dapat mencapai
sasarannya dengan baik maka harus diupayakan menyusun struktur
kalimat dengan penggunaan tanda-tanda baca sedemikian rupa, agar
pembaca dapat menangkap bahasa tulisan itu dengan baik dan benar.
2.2 Pengertian Bahasa Baku
Ragam bahasa ini biasanya sudah melewati proses kodifikasi, yaitu tahap
pembakuan tata bahasa, ejaan dan kosakata. Pembakuan tersebut biasanya dicapai
melalui penyusunan kamus bahasa tersebut. Ragam bahasa ini lazim dinamakan
bahasa standar atau baku,yang lebih sering ditemukan dalam bahasa tulis
daripada lisan. Namun tidak tertutup kemungkinan dalam beberapa situasi tidak
tutur, ragam bahasa baku juga digunakan. Misalnya saat berpidato atau dalam
acara-acara ritual. Ragam bahasa ini dinilai lebih bergengsi (prestigious). Ragam
bahasa baku juga secara politis sering berfungsi sebagai bahasa resmi atau bahasa
nasional, seperti bahasa Indonesia di negara kita.
Istilah bahasa baku pertama dalam bahasa Indonesia atau standard language
dalam bahasa Iggris, dalam dunia ilmu bahasa atau linguistik pertama sekali
diperkenalkan oleh Vilem Mathesius sebagaopada 1926. Ia termasuk pencetus
Aliran Praha atau The Prauge School. Pada 1930, B.Havranek dan Vilem
Mathesius merumuskan bahasa baku itu. Mereka berpengertian bahwa bahasa
baku sebagai bentuk bahasa yang telah dikodifikasi, diterima dan difungsikan
sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas.

Bahasa baku adalah bahasa standar (pokok) yang kebenarannya atau


ketetapannya telah ditentukan oleh negara. Baku berarti bahasa tersebut tidak bisa
berubah setiap saat. Baku atau standar beranggapan adanya keseragaman.
Berdasarkan teori, bahasa baku merupakan bahasa pokok yang menjadi bahasa
bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari-hari dalam masyarakat. Bahasa
baku mencakup pemakaian sehari-hari pada bahasa percakapan lisan maupun
bahasa tulisan. Tetapi pada penggunaannnya bahasa baku lebih sering digunakan
pada sistem pendidikan negara, pada urusan resmi pekerjaan, dan juga pada semua
konteks resmi. Sementara itu dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak orang
yang menggunakan bahasa tidak baku dan sesuka hati.
Berdasarkan pengertian diatas, bahasa baku adalah bahasa standar yang benar
dan digunakan oleh suatu masyarakat pada suatu negara. Bahasa baku atau standar
harus diterima dan berterima bagi masyarakat bahasa.
Di dalam Dictionary Language and Linguistics , Hartman dan Strok
berpengertian bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yangs secara sosial lebih
di gandrungi dan yang sering didasarkan bahasa orang-orang yang berpendidikan
didalam atau sekitar pusat kebudayaan atau suatu masyarakat bahasa.
Di dalam Sociolinguistic A Critical Survey of Theory and Aplication, Dittmar
berpengertian bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa dari suatu masyarakat
bahasa yang disahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atas dasar
kepentingan dari pihak-pihak dominan di dalam masyarakat itu. Tidakan
pengesahan dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan nilai yang bermotivasi
sosial politik.
Di dalam Longman Dictionary of Applied Linguistics, Ricard, Jhon, dan Heidi
berpengertian bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang berstatus tinggi di
dalam suatu masyarakat atau bangsa dan biasa didasarkan penutur asli yang
berpendidikan di dalam berbicara dan menulis.
Berdasarkan beberapa pengetian di atas, jelas bahwa bahasa baku itu adalah
bahasa yang telah dikodifikasi atau ditetapkan , diterima atau difungsikan sebagai
model oleh masyarakat luas.
Dari berbagai pengertian bahasa baku diatas, terdapat tiga aspek saling
menyatu, yaitu kodifikasi, keberterimaan dan difungsikan sebagai model. Istilah

kodifikasi adalah terjemahan dari codification (inggris) diartikan sebagai hal


memberlakukan suatu kode atau aturan kebahasaan untuk dijadikan norma dalam
berbahasa. Masalah kodifikasi terkait dengan ketentuan norma kebahasaan.
Norma kebahasaan itu berupa pedoman tata bahasa, ejaan, kamus, lafal dan
istilah.
Bahasa baku itu harus diterima atau berterima bagi masyarakat bahasa.
Bahasa baku itu difungsikan atau dipakai sebagai model atau acuan oleh
masyarakat secara luas. Acuan itu dijadikan ukuran yang disepakati secara umum
tentang ode bahasa dan pemakaian bahasa di dalam suatu situasi tertentu.
2.3 Pengertian Bahasa Nonbaku
Istilah bahasa nonbaku ini di terjemahkan dari nonstandard language, yang
sering di sinonimkan dengan istilah ragam subbaku, bahasa nonstandar,
ragam tabbaku, bahasa tidak baku, ragam nonstandar.
Suharianto (1981) berpengertian bahwa bahasa nonbaku adalah salah satu
variasi bahasa yang tetap hidup dan berkembang sesuai fungsinya, yaitu dalam
pemakaian bahasa tidak resmi.
Crystal (1985) berpengertian bahwa bahasa non baku adalah bentuk-bentuk
bahasa yang tidak memenuhi norma buku, yang dikelompokkan sebagai non baku
atau subbaku.
Alwasilah (1985) berpengertian bahwa bahasa tidak baku adalah bentuk
bahasa yang biasa memakai kata-kata atau ungkapan, struktur kalimat, ejaan, dan
pengucapan yang tidak biasa dipakai oleh mereka yang tidak berpendidikan.
Ricard, Jhon, dan Heidi (1985) perpengertian bahwa bahasa non standar
adalah bahasa yang digunakan dalam berbicara dan menulis yang berbeda
pelafalan, tata bahasa, dan kosakata dari bahasa baku dari suatu bahasa.
2.4 Pengertian Bahasa Indonesia Baku dan Nonbaku
Bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk
bahasanya telah dikodifikasi, diterima dan difungsikan atau dipakai sebagai model
oleh masyarakat indonesia secara luas.
Bahasa Indonesia nonbaku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang
tidak di kodifikasi, tidak diterima, dan tidak difugsikan sebagai model masyarakat
Indonesia secara luas, tetapi dipakai oleh masyarakat secara khusus.

2.5 Tumbuhnya Bahasa Indonesia Baku


Bahasa merupakan salah satu unsur identitas nasional. Bahasa dipahami
sebagai sistem perlambangan yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi
ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi manusia. Di Indonesia
terdapat beragam bahasa daerah yang mewakili banyaknya suku-suku bangsa atau
etnis.
Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia dahulu dikenal dengan bahasa melayu yang merupakan bahasa
penghubung antar etnis yang mendiami kepulauan nusantara. Selain menjadi
bahasa penghubung antara suku-suku, bahasa melayu juga menjadi bahasa
transaksi perdagangan internasional di kawasan kepulauan nusantara yang
digunakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan para pedagang asing.
Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa
Indonesia yaitu :
1. Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa
perhubungan dan bahasa perdangangan.
2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam
bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan
bahasa halus).
3. Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela
menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional
4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai
bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Pada tahun 1928 bahasa melayu mengalami perkembangan yang luar biasa.
Pada tahun tersebut para tokoh pemuda dari berbagai latar belakang suku dan
kebudayaan menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia,
keputusan ini dicetuskan melalui sumpah pemuda. Dan baru setelah kemerdekaan
Indonesia tepatnya pada tanggal 18 Agustus Bahasa Indonesia diakui secara
Yuridis.
2.6 Fungsi Bahasa Indonesia Baku

Bahasa baku mendukung empat fungsi, yaitu (1) fungsi pemersatu, (2)
fungsi penanda kepribadian, (3) fungsi pembawa kewibawaan, dan (4) fungsi
sebagai kerangka acuan.
Fungsi

pemersatu,

bahasa

Indonesia

baku

mempersatukan

atau

memperhubungkan penutur berbagai dialek bahasa itu. Bahasa Indonesia baku


mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa Indonesia baku. Bahasa
Indonesia baku mengikat kebhinekaan rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia
dengan mangatasi batas-batas kedaerahan.
Fungsi sebagai penanda kepribadian, bahasa Indonesia baku merupakan ciri
khas yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Indonesia
baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa Indonesia
baku. Dengan bahasa Indonesia baku kita menyatakan identitas kita. Bahasa
Indonesia baku berbeda dengan bahasa Malaysia atau bahasa Melayu di Singapura
dan Brunai Darussalam. Bahasa Indonesia baku dianggap sudah berbeda dengan
bahasa Melayu Riau yang menjadi induknya.
Pemilikan bahasa Indonesia baku akan membawa serta wibawa atau prestise.
Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha mencapai kesederajatan dengan
peradaban lain yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku. Di samping itu,
pemakai bahasa yang mahir berbahasa Indonesia baku dengan baik dan benar
memperoleh wibawa di mata orang lain. Fungsi yang meyangkut kewibawaan itu
juga terlaksana jika bahasa Indonesia baku dapat dipautkan dengan hasil teknologi
baru dan unsur kebudayaan baru. Warga masyarakat secara psikologis akan
mengidentifikasikan bahasa Indonesia baku dengan masyarakat dan kebudayaan
modern dan maju sebagai pengganti pranata, lembaga, bangunan indah, jalan raya
yang besar.
Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakainya
dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas. Norma atau
kaidah bahasa Indonesia baku itu menjadi tolok ukur pemakaian bahasa Indonesia
baku secara benar. Oleh karena itu, penilaian pemakaian bahasa Indonesia baku
dapat dilakukan. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku juga menjadi acuan
umum bagi segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena
bentuknya yang khas, seperti bahasa ekonomi, bahasa hukum, bahasa sastra,

bahasa iklan, bahasa media massa, surat-menyurat resmi, bentuk surat keputusan,
undangan, pengumuman, kata-kata sambutan, ceramah, dan pidato.
2.7 Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku
Ragam bahasa baku lazim digunakan dalam:
(a) Komunikasi resmi, yakni dalam surat-menyurat resmi, surat-menyurat
dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan instansi resmi,
perundang-undangan, dan sebagainya.
(b) Wacana teknis, seperti dalam laporan resmi, karangan ilmiah, buku
pelajaran, dan sebagainya.
(c) Pembicaraan di depan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, khotbah, dan
sebagainya.
(d) Pembicaraan dengan orang yang dihormati, dan sebagainya.
Ragam bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-cirinya, yang antara lain
sebagai berikut:
2.7.1 Penggunaan Kaidah Tata Bahasa Normatif
Kaidah tata bahasa normatif selalu digunakan secara eksplisit dan konsisten,
misalnya:
(1) Pemakaian awalan me- dan ber- secara eksplisit dan konsisten, misalnya:
Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

- Gubernur meninjau daerah

- Gubernur tinjau daerah

kebakaran

kebakaran

- Anaknya bersekolah di Bandung


- Anaknya sekolah di Bandung
(2) Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk
secara eksplisit dan konsisten, misalnya:
Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

- Ia tidak tahu bahwa

- Ia tidak tahu anaknya sering bolos

anaknya sering bolos


- Ibu guru marah kepada Sudin
- Ibu guru marah kepada Sudin,
Karena ia sering bolos
ia sering bolos
(3) Pemakaian konstruksi sintetis, misalnya:
Bahasa Baku
Bahasa Tidak Baku
- anaknya
- dia punya anak
- membersihkan
- bikin bersih
- memberitahukan
- kasih tau
(4) Pemakaian kata depan yang tepat, misalnya:

10

Contoh : - Saya ingin bertemu sama Kakakmu (tidak baku)


Saya ingin bertemu dengan Kakakmu (baku)
(5) Aspek pelaku-tindakan (kata kerja). Misalnya
Bahasa Baku
Bahasa Tidak Baku
- Surat Anda sudah saya terima
- Surat Anda saya sudah terima
- Rencaana itu sedang kami garap - Rencana itu sedang kami garap
2.7.2 Pengunaan Kata-kata Baku
Kata-kata yang lazim atau yang masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak
digunakan, kecuali dengan pertimbangan khusus,misalnya:
Bahasa Baku
Bahasa Tidak Baku
- cantik sekali
- cantik banget
- lurus saja
- lempeng saja
- uang
- duit
- tidak mudah
- enggak gampang
2.7.3 Penggunaan Ejaan Resmi dalam Ragam Tulis
EYD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan samapai pada
penggunaan tanda baca. Misalnya:
Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

- bersama-sama

- bersama2

- sistem

- sistim

- melipatgandakan

- melipat-gandakan

- ekspres

- ekpres, espres

2.7.4 Penggunaan Lafal Baku dalam Ragam Lisan


Hingga saat ini lafal yang baku dalam bahasa Indonesia belum pernah
ditetapkan . tetapi ada pendapat umum bahwa lapal baku dalam bahasa
Indonesia adalah lafal yang bebas dari cirri-ciri lafal dialek setempat atau cirriciri lafal bahasa daerah. Misalnya
Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

[ atap ]

[ atep ]

[ kalaw ]

[ kalo ], [ kalo ]

[ habis ]

[ abis ]

2.7.5 Penggunaan Kalimat Secara Efektif


Keefektifan kalimat dapat dicapai, antara lain dengan:
(1) Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya:

11

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

-Pulau Buton banyak

- Di Pulau Buton banyak

menghasilkan aspal

menghasilkan aspal

(2) Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat.
Misalnya:
Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

-Dia datang ketika kami

- Ketika kami sedang makan dan

sedang makan
dia datang
(3) Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya:
Bahasa Baku
Bahasa Tidak Baku
-Korban kecelakaan laluas lint
- Korban kecelakaan lalu lintas
bulan ini bertambah
bulan ini naik
-Nama gadis yang berbaju merah
itu Siti Aminah

- Nama gadis yang menggunakan


baju bewarna merah itu Siti Aminah

-Bayarlah dengan

- Kepada para penumpang diharap

uang pas!

Supaya membayar dengan uang pas

Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah
kaidah bahasa, kaidah ini meliputi :
(a) Tata bunyi (fonologi)
Pada aspek tata bunyi, misalnya bila telah menerima bunyi /f/V/dan/2/
kata yang benar adalah : fajar, fakir, motif, aktif, variabel.
(b) Tata bahasa (kata dan kalimat)
Tata bahasa mengenai bentuk kata contoh bentuk yangbenar adalah : ubah
bukan obah/robah/rubah.
(c) Kosa kata (termasuk istilah)
Kata-kata seperti : bilang lebih baik diganti dengan berkata/mengatakan.
Kasih memberi, entar sebentar, udah sudah.
(d) Dari segi ejaan
Dari segi ejaan tulisan yang benar adalah analisa analisa,
sistemsistim,

objekobyek,

jadwaljadual,

kualitaskwalitas,

hierarkihirarki.
Penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan keterapan menggunakan kata
yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak tepat jika
digunakan kata yang bermakna konotatif (kiasan).
2.8 Penggunaan Bahasa Indonesia Baku dan Tidak Baku

12

Kita sering kesulitan menentukan kata yang baku dan kata yang tidak baku.
Berikut ini adalah daftar kata-kata baku bahasa Indonesia yang disusun secara
alfabetis.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
2.8.1

Kata Baku
Aktif
Alquran
Apotek
Azan
Cabai
Daftar
Doa
efektif
Elite
e-mail
Februari
Foto
fotokopi
hakikat
ijazah
Izin
jadwal
Jumat
karena
karismatik
kreatif
lembap
lubang
maaf
makhluk
mukjizat
napas
nasihat

Kata Nonbaku
aktip, aktive
Al-Quran, Al-Quran, Al Quran
Apotik
Adzan
cabe, cabay
Daptar
doa
efektip, efektive, epektip, epektif
Elit
email, imel
Pebruari, February
Photo
foto copy, photo copy, photo kopi
Hakekat
ijasah, izajah
Ijin
Jadual
Jumat
Karna
Kharismatik
kreatip, creative
Lembab
Lobang
maaf
Mahluk
mujizat
Nafas
Nasehat

Bahasa Indonesia Dalam Media Massa Cetak

Bahasa koran! Ungkapan ini dilontarkan sering dengan nada atau konotasi
negatif atau merendahkan. Ungkapan itu berlaku untuk seluruh media cetak,
baik surat kabar maupun majalah. Ungkapan itu disampaikan sejalan dengan
anggapan bahwa media cetak sebagai perusak bahasa Indonesia. Mengapa?

13

Karena koran sering mempergunakan tata bahasa yang dianggap tidak baku
dan memperkenalkan kata singkatan dan idiom-idiom baru dari luar khasanah
bahasa baku, yakni yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah.
Memang ada pula yang menilai koran berperan sebagai pembinaan bahasa
Indonesia. Anggapan bahwa media cetak berperan sebagai pembinaan bahasa
Indonesia didasarkan pada kenyataan bahwa media cetak yang hidup bersama
bahasa tertulis menyediakan ruangan-ruangan untuk pembinaan bahasa
indonesia, sastra budaya, cerpen dan cerbung. Apalagi, ditinjau dari
sejarahnya, bahasa indonesia tumbuh dan berkembang menjadi dalam
keadaannya seperti sekarang ini juga berkat media massa cetak.
Pembinaan bahasa Indonesia oleh media massa cetak erat hubungannya
dengan penggunaannya oleh masyarakat.
2.8.2

Bahasa Indonesia Dalam Televisi

Tuntutan atas peran siaran televisi dalam pembinaan bahasa Indonesia


memerlukan kajian yang sangat dalam. Pendalaman ini berdasarkan latar
belakang proses kelahiran siaran televisi nasional di Indonesia sendiri.
Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam siaran televisi
tentulah sangat erat dengan konteks program yang ditayangkan stasiun televisi
tersebut. Kriteria bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk siaran televisi
tidak dapat sebatas pemakaian kaidah bahasa Indonesia yang benar. Selain
program yang masih menggunakan bahasa daerah yang sepenuhnya juga
muncul di siaran televisi, program dengan pemakaian bahasa Indonesia
dengan dialek daerah juga masih ada. Dalam hubungan ini, menjadi
pertanyaan, apakah acuan untuk menilai sebuah tayangan televisi dalam
program telah menggunak bahasa Indonesia secara baik dan benar?
Bahkan masih banyak program televisi produk lokal yang memakai bahasa
Indonesia formal dalam percakapan nonformal. Sekalipun kaidah bahasa
secara tata bahasa, pemakaian bahasa yang formal tersebut sudah sangat baik,
tetapi menjadi janggal ketika format tersebut di pakai dalam pembicaraan
keseharian.

14

2.9

Pemakaian Bahasa Indonesia Baku dan Nonbaku Dengan Baik Dan


Benar
Sesungguhnya dalam ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar

terkandung dua pengertian yang berkaitan satu sama lain. Pengertian pertama
berkaitan dengan ungkapan bahasa Indonesia yang baik. Sebutan baik atau tepat
di sini berkaitan dengan soal keserasian atau kesesuaian yaitu serasi atau sesuai
dengan situasi pemakai. Pengertian kedua berkaitan dengan istilah bahasa
Indonesia yang benar. Sebutan benar atau betul di sini berhubungan dengan soal
keserasian dengan kaidah. Penggunaan bahasa Indonesia yang benar adalah
penggunaan bahasa indonesia yang menaati kaidah tata bahasa. Sedang maksud
kaidah di sini adalah kaidah bahasa Indonesia baku atau yang dianggap baku.
Maksudnya adalah bahasa yang telah distandardisasikan berdasarkan hukum
berupa keputusan pejabat pemerintah atau sudah diterima berdasarkan
kesepakatan umum yang wujudnya ada pada praktik pelajaran bahasa pada
khayalak.
Atas dasar konsep tersebut, kita memperoleh suatu kejelasan bahwa yang
dimaksud bahasa Indonesia yang baik belum tentu merupakan bahasa Indonesia
yang benar, sebaliknya bahasa Indonesia yang benar juga belum tentu merupakan
bahasa Indonesia yang baik karena semua itu bergantung pada situasi pemakaian
dan kaidah yang berlaku.
Sebagai contoh, kita tahu bahwa situasi dalam rapat dinas, seminar, atau karya
ilmiah adalah situasi pemakaian bahasa yang resmi. Dalam situasi yang resmi
semacam itu kita dituntut untuk menggunakan bahasa yang mencerminkan sifat
keresmian, yaitu bahasa baku. Jika dalam situasi semacam itu kita tidak
menggunakan bahasa yang baku, misalnya kita menggunakan kata nggak,
dibilang, membikin, dan sejenisnya, bahasa yang kita gunakan itu dapat dikatakan
tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi pemakaiannya.
Contoh lagi, ada bahasa Indonesia yang baik, tetapi tidak benar. Misalnya,
dalam situasi yang telah disebutkan di atas, yaitu situasi resmi, kita menggunakan
bahasa seperti, Masalah yang saya ingin tanyakan adalah sebagai berikut.
Seluruh kata dalam ungkapan tersebut cocok atau sesuai jika digunakan dalaM
situasi yang resmi, tetapi susunanya tidak benar karena penempatan bentuk pasif

15

personanya, yaitu saya dan tanyakan, diselangi oleh kata lain, yakni ingin,
sehingga menjadi saya ingin tanyakan. Dalam bentuk pasif persona semacam itu,
kata ganti seperti saya, kami, kita, dia dan mereka harus langsung didekatkan pada
kata kerjanya sehingga menjadi seperti berikut.
ingin saya tanyakan, bukan saya ingin tanyakan
akan kami laporkan, bukan kami akan laporkan
dapat kita setujiu, bukan kita dapat setujui
tidak dia sukai, bukan dia tidak sukai
dapat mereka pahami, bukan mereka dapat pahami
Berdasarkan keterangan tersebut, dapat kita katakana bahwa penggunaan
bahasa seperti pada kalimat Masalah yang saya ingin tanyakan adalah sebagai
berikut merupakan kalimat yang baik, tetapi tidak benar. Agar menjadi benar,
susunan kalimat itu seharusnya Masalah yang ingin saya tanyakan adalah sebagi
berikut.
Untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, kita harus
memperhatikan situasi pemakaian dan kaidah yang digunakan. Dalam situasi yang
resmi kita harus dapat menggunakan bahasa Indonesia yang dapat mencerminkan
sifat keresmian, yaitu menggunakan bahasa yang baku; dan sebaliknya, dalam
situasi yang tidak resmi kita tidak seharusnya menggunaka bahasa yang baku.
Bahasa yang kita gunakan dalam situasi yang tidak resmi itu adalah bahasa yang
cocok atau sesuai dengan situasi. Dalam tawar- menawar di pasar, misalnya,
pemakaian bahasa yang benar akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau
kecurigaan. Akan sangat ganjillah bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur
atau tukang becak kita memakai habasa baku seperti
(1) Berapakah Ibu mau menjual bayam ini?
(2) Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah Abang dan berapa
ongkosnya?
Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi
tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian
kaliamat-kalimat itu, untuk situasi seperti di atas, sebenarnya kita cukup
menggunakan kalimat seperti berikut.
(3) Berapa nih, Bu, bayemnya?
(4) Ke Pasar Tanah Abang, Bang, berapa?

16

Dengan kalimat yang sederhana seperti itu, komunikasi yang terjalin justru
lebih lancar karena situasinya memang memungkinkan hal itu.
Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang baik, tetapi tidak benar. Frasa
seperti ini hari merupakan bahasa yang baik sampai 80-an di kalangan para
makelar karcis bioskop, tetapi bentuk itu tidak merupakan bahasa yang benar
karena letak kedua kata dalam frasa terbalik.
Sehubungan dengan masalah tersebut, bahasa pada dasarnya dapat diibaratkan
dengan pakaian karena, seperti halnya bahasa, pakaian pun penggunaannya harus
disesuaikan dengan situasi yang dihadiri. Kalau kita akan menghadiri rapat dinas,
misalnya, pakaian yang kita kenakan harus sesuai dengan keperluan kedinasan.
Itulah bahasa, seperti halnya pakaian, penggunaannya harus selalu disesuaikan
dengan situasinya.
Karena itu, anjuran agar kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar
dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang
di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar.

BAB III

17

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting dalam kehidupan. Dengan
bahasa manusia dapat menyampaikan isi pikirannya kepada orang lain. Pada
bahasa terdapat dua ragam bahasa, yaitu bahasa baku dan bahasa nonbaku. Bahasa
baku merupakan bahasa standar atau pokok yang digunakan oleh masyarakat pada
suatu negara. Sedangkan bahasa nonbaku adalah bahasa yang berbeda dengan
struktur atau gaya baku, dan biasanya digunakan pada lingkungan atau keadaan
tidak resmi.
Baik itu bahasa Indonesia baku dan nonbaku sebaiknya digunakan dan dipakai
dengan benar. Itulah bahasa, seperti halnya pakaian, penggunaannya harus selalu
disesuaikan dengan situasinya.
Karena itu, anjuran agar kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar
dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang
di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar.
3.2 Saran
Seharusnya masyarakat wajib mengetahui tata bahasa baku dan nonbaku serta
penggunaannya dalam kehidupan sesuai dengan situasinya.

DAFTAR PUSTAKA

18

Alwi, H. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Cetakan Lima.
Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka
Barus, Sanggup.2014.Pendidikan Bahasa Indonesia.Medan: UNIMED-Press
Broto. 1978. Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Bulan Bintang
Chaer, A. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Keraf, G. 1991. Tatabahasa Indonesia Rujukan Bahasa Indonesia untuk Pendidikan
Menengah. Jakarta: Gramedia.

Kushartanti,dkk. 2005. Pesona bahasa : langkah awal memahami linguistik.


Jakarta : PT Gramedia Pustaka Umum
Mustakim.1994.Membina Kemampuan Berbahasa: Panduan Ke Arah Kemahiran
Berbahasa.jakarta :PT Gramedia

19