Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Atas nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.
Segala puji bagi-Nya, pencipta segenap alam raya. Salam
sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada insan mulia, nabi
Muhammad

saw,

kepada

keluarga,

sahabat,

serta

semua

pengikutnya sampai akhir masa.


Berbagai problematika kehidupan dewasa ini semakin
kompleks saja. Dari berbagai belahan bumi ini, terutama yang di
alami oleh dunia Islam sendiri semakin meruncing. Keterpurukan
kita sebagai kaum muslim hanya mampu bernostalgia pada
masa

lalu,

dimana

kejayaan

dan

peradaban

begitu

menghebohkan dunia pada saat itu.


Dimulai dari sisnilah Ilmu atau keilmuan yang akan dapat
mengangkat derajat manusia baik dihadapan Allah maupun
dihadapan sesama manusia. Islam sangat besar dalam menaruh
perhatiannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
berkembanganya ilmu pengetahuan di masyarakat muslim.
Dengan sentuhan yang diberikan oleh al-Quran yang secara
langsung mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan, di
masyarakat islam muncul tradisi keilmuan yang berbeda dengan
masyarakat agama lain yang dapat membentuk peradaban yang
mempunyai ciri khas tersendiri.
Sebuah asumsi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang
berasal dari negara-negara barat dianggap sebagai pengetahuan
yang sekuler, oleh karenanya ilmu tersebut harus ditolak, atau
minimal

ilmu

diterjemahkan

pengetahuan
dengan

tersebut

pemahaman
1

harus

dimaknai

dan

secara

Islami.

Ilmu

pengetahuan yang sesungguhnya yang merupakan hasil dari


pembacaan terhadap ayat-ayat Allah SWT telah

kehilangan

dimensi spiritualitasnya, maka berkembanglah ilmu atau sains


yang tidak punya kaitan sama sekali dengan agama. Tidak
mengherankan

jika

kemudian

ilmu

dan

teknologi

yang

seharusnya memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi


kehidupan

manusia

digunakan

untuk

ternyata

berubah

kepentingan

sesaat

menjadi
yang

alat

justru

yang

menjadi

penyebab terjadinya malapetaka yang merugikan manusia.


Mencermati makna wahyu yang pertama sesungguhnya
mengehendaki ummat Islam mengkaji ilmu dengan
dengan tujuan hasil bacaan dan kajian itu nantinya bermanfaat
bagi manusia. Begitupun dalam pandangan aksiologis, ilmu
pengetahuan harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi
kehidupan

manusia.

Artinya

ilmu

pengetahuan

menjadi

instrumen penting dalam setiap proses pembangunan sebagai


usaha

untuk

seluruhnya.

mewujudkan

Dengan

kemaslahatan

demikian,

ilmu

hidup

manusia

pengetahuan

haruslah

memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia


dan bukan sebaliknya.
Integrasi keilmuan sangat diperlukan dalam membangun
dunia Islam. Ilmu pengetahuan yang telah masuk kerana bipolardikotomis tidak akan sanggup mencapai kesejahteraan manusia.
Untuk itu mempelajari filsafat ilmu, dengan memahami konsepkonsep Islam dan tradisi keilmuan dengan baik, akan meluruskan
persepsi manusia yang salah, akan meluaskan pandangan yang
sempit, dan akan mengembalikan kejayaan Islam dimata dunia.
Saat ini bukan masanya lagi disiplin ilmu agama (Islam)
menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial

dan ilmu-ilmu kealaman dan begitu pula ilmu-ilmu sosial dan


kealaman tidak boleh seteril dari keilmuan Islam
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas,
dapat dibuat beberapa poin masalah sebagai berikut:
1. Bagaiman tradisi keilmuan Islam?
2 Apa saja pengaruh keilmuan Islam terhadap dunia barat
modern.?

PEMBAHASAN
TRADISI KEILMUAN ISLAM
2.1. Pengertian Ilmu dan Pengetahuan
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem,
dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Sementara
itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik
mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah
informasi yang berupa pikiran sehat (common sense), sedangkan ilmu sudah
merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan
mekanisme tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi
tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan.
kata ilmu dalam bahasa Arab ilm yang berarti
memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan
penyerapan

katanya,

ilmu

pengetahuan

dapat

berarti

memahami suatu pengetahuan.


Istilah ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa
Inggris science, yang berasal dari bahasa Latin scientia dari

bentuk

kata

kerja

scire

yang

berarti

mempelajari

mengetahui. The Liang Gie (1987) memberikan pengertian


ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari
penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman
secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai
seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang
menjelaskan

berbagai

gejala

yang

ingin

dimengerti

manusia.1
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia,
aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu,
dan

akhirnya

aktivitas

metodis

itu

mendatangkan

pengetahuan yang sistematis. Dari aktivitas ilmiah dengan


metode ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan dapatlah
dihimpun

sekumpulan

pengetahuan

yang

baru

atau

disempurnakan pengetahuan yang telah ada, sehingga di


kalangan ilmuwan pada umumnya terdapat kesepakatan
bahwa ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang
sistematis.2
Menurut Bahm (dalam Koento Wibisono,1997) definisi
ilmu pengetahuan melibatkan enam macam komponen
yaitu

masalah

(problem),

sikap

(attitude),

metode

(method), aktivitas (activity), kesimpulan (conclusion), dan


pengaruh (effects).3.
2.2. Sejarah Kemunculan Ilmu
Pada hakekatnya ilmu pengetahuan lahir karena hasrat ingin tahu
dalam diri manusia. hasrat ingin tahu timbul oleh banyaknya aspek
1 Ihsan Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta, 2010. h. 108
2 surajiyo, filsafat ilmu dan perkembangannya di indonesia, jakarta :
Bumi Aksara, 2009. H. 56
3 Ihsan Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta, 2010. h. 111

kehidupan yang masih samar atau bahkan gelap. Dalam usahanya untuk
mencapai kebenaran tersebut selalu mengadakan penelitian secara ilmiah.
Penelitian secara ilmiah dilakukan manusia untuk menyalurkan hasrat ingin
tahu yang mencapai taraf keilmuan, disertai dengan keyakinan bahwa setiap
gejala dapat ditelaah dan dicari sebab akibatnya (causalitas). Namun,
pengetahuan pada awalnya masih dikaitkan dengan mitos-mitos atau berbau
mistik.
Proses berpikir manusia menuntut mereka untuk menemukan sebuah
metode belajar dari pengalaman dan memunculkan keinginan untuk
menyusun sesuatu hal secara empiris, serta dapat diukur. Dalam sejarah
tercatat bangsa Yunanilah yang pertama diakui oleh dunia sebagai perintis
terbentuknya ilmu karena telah berhasil menyusunnya secara sistematis.
Implikasi dari hal tersebut manusia akan mencoba merumuskan semua hal
termasuk asal-muasal mitos-mitos karena mereka menyadari bahwa hal
tersebut dapat dijelaskan asal-usulnya dan kondisi sebenarnya. Sehingga
sesuatu hal yang remang-remang -yang berupa tahu atau pengetahuan- dapat
dibuktikan kebenaran sementaranya dan dapat dipertanggungjawabkan pada
saat itu. Dari sinilah awal kemenangan ilmu pengetahuan atas mitos-mitos,
dan kepercayaan tradisional yang berlaku di masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan bermula dari tahu,
berulang-ulang menjadi sebuah pengetahuan, namun masih dipengaruhi
oleh mitos dan mistis yang masih sulit untuk dirasionalkan dan belum dapat
dipertanggungjawabkan. Dari proses berpikir bukan hanya sekedar tahu
itulah lahirnya sebuah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah salah satu jembatan untuk mencapai
kebenaran yang hakiki setelah berkolaborasi dengan yang lain.
2.3. Perkembangan Keilmuan Islam
Keilmuan Islam ini terlihat sejak kemunculan agama Islam itu sendiri
yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, saat beliau menerima wahyu
pertama dengan perintah iqra (bacalah).
Dominasi para teolog Kristen pada masa-masa awal Islam mewarnai
aktivitas ilmiah pergerakan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari

semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa itu adalah ancillla theologia
atau abdi agama4. Atau dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk
mendukung

kebenaran

agama.

Agama

Kristen

menjadi

problema

kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan


kebenaran sejati5. Usaha-usaha menghidupkan kembali keilmuan hanya
sesekali dilakukan oleh raja-raja besar seperti Alfred dan Charlemagne6.
Pada saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi
perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman
Pertengahan lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia
Islam melakukan penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof
Yunani, dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainnya7.
Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam
klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh persepsi tentang
bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an
dan hadis. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani
melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban
Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir),
Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia) 8. W. Montgomery
Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir
diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat
Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah

4 Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta :


PT Bumi Aksara, 2007), hlm. 85
5 . Ibid.
6 Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu : Sejarah dan Ruang Lingkup
Bahasan, cetakan keempat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hlm.
16
7 Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu,cet. II (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar Offset, 2002), hlm. 128
8 Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1998), hlm.7

terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke


Syiria, dan kemudian pada sekitar tahun 900 M ke Baghdad9.
Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengetahuan berada
di pangkuan peradaban Islam. Dalam lapangan kedokteran muncul namanama terkenal seperti: Al-Hw karya al-Rz (850-923) merupakan sebuah
ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai
masanya. Rhazas mengarang suatu Encyclopedia ilmu kedokteran dengan
judul Continens, Ibnu Sina (980-1037) menulis buku-buku kedokteran (alQonun) yang menjadi standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. AlKhawarizmi (Algorismus atau Alghoarismus) menyusun buku Aljabar pada
tahun 825 M, yang menjadi buku standar beberapa abad di Eropa. Ia juga
menulis perhitungan biasa (Arithmetics), yang menjadi pembuka jalan
penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi.
Ibnu Rushd (1126-1198) seorang filsuf yang menterjemahkan dan
mengomentari karya-karya Aristoteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat
70 peta dari daerah yang dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada
Raja Boger II dari kerajaan Sicilia10.
Dalam bidang kimia ada Jbir ibn Hayyn (Geber) dan al-Brn (362442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jbir ibn Hayyn memaparkan
metode-metode

pengolahan

berbagai

zat

kimia

maupun

metode

pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejanabejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal
dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Brn mengukur sendiri gaya berat
khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi11.
Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga
menekuni logika dan filsafat. Sebut saja al-Kind, al-Frb (w. 950 M), Ibn
9 W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam
atas Eropa Abad Pertengahan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1997), hlm. 44-45
10 Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu,
(Yogykarta : Liberty, 1996), hlm 42.
11 W. Montgomery Watt, Op.Cit., hlm. 60-61

Sn atau Avicenna (w. 1037 M), al-Ghazl (w. 1111 M), Ibn Bjah atau
Avempace (w. 1138 M), Ibn T ufayl atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn
Rushd atau Averroes (w. 1198 M). Menurut Felix Klein-Franke, al-Kind
berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun
fondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang
sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh alFrb. Al-Kind sangat ingin memperkenalkan filsafat dan sains Yunani
kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan
menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing.
Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat
Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir,
dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar,
bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar
pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan
disebut Averroists. Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya
pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris.
Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad
pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah
terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman
pencerahan atau renaisans12.
Pada zaman itu Islam juga menjadi pemimpin di bidang Ilmu Alam.
Istilah zenith, nadir, dan azimut membuktikan hal itu. Angka yang masih
dipakai sampai sekarang, yang berasal dari India telah dimasukkan ke Eropa
oleh bangsa Arab. Sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam
tiga bidang, yaitu13:
a. Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskan
sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang
ini.
12 Russell, Betrand, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan
Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga sekarang. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), hlm 567
13 Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Op.Cit., hlm. 42-43

b. Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan,


astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
c. Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
2.4. Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Sebagaimana dijelaskan di atas, orang yang pertama kali belajar dan
mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophist (500 400 SM)
adalah Socrates (469 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 457
SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384
322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi
penerus hingga munculnya Al-kindi pada tahun 801 M. Al-kindi banyak
belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Oleh raja AlMakmun dan raja Harun Al-Rasyid pada zaman Abbasiyah, Al-kindi
diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut kedalam
bahasa Arab.
Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Quraish
Shihab

mengatakan,

bahwa

seluruh

cabang

ilmu

pengetahuan yang terdahulu dan yang kemudian, yang


telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber
dari al-Quran al-Karim14
Sepeninggal Al-kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang
terus mengembangkan filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah: Alfarabi, Ibnu Sina, Jamalludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad
Iqbal dan Ibnu Rushd.
Berbeda dengan filosof-filosof Islam terdahulunya yang lahir dan
besar di Timur, Ibn Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam
lainnya yang lahir di Barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail
(Abubacer).
Ibnu Baja dan Ibnu Tufail merupakan pendukung rasionalisme
Aristoteles. Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.

14 Quraish shihab, Membumikan Alquran, Bandung: Penerbit Mizan,


1992, cet. i. hlm .41

Sedangkan Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol


meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran
berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu
Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof15.
Spanyol Islam telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat
brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada
abad ke-12 M16. Kemajuan-kemajuan umat Islam ini bertahan hingga
beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti
Umayyah dan dinasti Abbasiyah.
Atas inisiatif Al-Hakam (961 976 M), karya-karya ilmiah dan
filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan
perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu manyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan
oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan
persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu
Bakr Muhammad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah.
Dilahirkan di Saragosa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena
keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti AlFarabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis
dan eskatalogis. Magnum opusnya adalah tadbir al-Mutawahhid.
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi
Asy, sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut
15 Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1975), hlm. 148 152
16 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta:
Grafindo Persada, 2007), hlm. 101

10

tahun 1185 M. ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan


filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
2.5. Pengaruh Keilmuan Islam dalan dunia Modern
Sebelum masa pencerahan, atau yang dikenal dengan The Dark Ages,
tradisi keilmuwan Barat bisa dikatakan terpuruk. Tidak semua masyarakat
tersentuh oleh pendidikan, kecuali kaum rohaniawan dan teolog.
Merebakanya kebodohan serta buta huruf telah menjadi hal yang
mengkhawatirkan.
Masyarakat awam (bukan pendeta) yang dipekerjakan dalam bidang
pertanian, dan buruh bangunan dilarang membaca dan menulis pada era
Orde Cisterian tahun 1098. Selama zaman kegelapan nyaris tak ada seorang
pun di kalangan masyarakat Eropa yang mampu baca tulis kecuali kaum
rohaniawan, dan mereka menggunakan keterampilan itu hanya untuk
membaca alkitab. (Russel, 2004)
Pada awalnya dunia barat menolak keilmuan Islam seperti
berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan
iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja
mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal
Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat
ajaran Ibnu Rushd.
Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan keilmuan barat
dipengaruhi pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya
pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam
di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada dan
Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan bukubuku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan itu adalah
Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan
universitas yang sama. Universitas pertama di Eropa adalah universitas
Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya
Ibn Rusyd. Diakhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah
universitas. Didalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh

11

dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu


pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah
pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung
sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali
(renaisance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya
pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan
Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa
latin.
Apalagi

dengan

penyerangan Tentara

Salib

mereka,

mereka

menemukan peradaban Islam yang berkembang di sebagian Eropa dan


Timur Tengah. Terutama di walayah-wilayah pusat peradaban seperti;
Andalusia, Baghdad dan Damuaskus. Terpukaunya mereka pada peradaban
ini, memicu mereka untuk berbondong-bondong ikut menimba ilmu
pengetahuan di negeri Muslim. Selain itu mereka juga telah mencuri
sumber-sumber ilmu pengetahuan dari negeri Muslim yang mereka bawa ke
Eropa melalui perang Salib.17
Para sarjana Kristen yang mengunjungi Andalusia tak sengaja
menemukan terjemahan Latin dari Terjemahan Arab atas karya pemikir
seperti Plato dan Aristoteles. Kebanyakan hasil karya ini ditemukan di
Toledo, tempat berkembangnya industri penerjamahan. Dari Toledo, bukubuku masuk ke wilayah Eropa barat, pada akhirnya menemukan jalan ke
arah kepustakaan gereja dan biara.
Dari tanda-tanda diatas, Eropa mulai memiliki secercah harapan
menuju masa pencerahan, banyak dikalangan masyarakat mengahabiskan
waktu mereka untuk membaca, menulis dan menghasilkan karya seni.
17 Hitti, Philip K. Sejarah bangsa Arab. (Jakarta: Serambi. 2010) hal. 77

12

Disamping itu, para ilmuwan, filsuf dan juga teolog memulai aktivitas
eksperimen mereka secara bertahap. Hingga pada saat ini tidak bisa
dipungkiri, kita bisa menikmati karya-karya temuan dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi dari peradaban Barat.
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara
yang sangat kejam, tetapi ia telah membidangi gerakan-gerakan penting di
Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani
klasik (renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M,
dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.
Meskipun kelahiran ilmu pengetahuan bersumber dari Yunani Kuno,
namun perkembangannya justru dimulai sejak masa keemasan dunia Islam
dalam perkembangan ilmu pengetahuan sekarang. Namun, menurut
berbagai sumber menyimpulkan bahwa terjadi distorsi terhadap fakta
sejarah pada saat dark age. Ada semacam upaya penghapusan jejak hasil
peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan ilmuwan muslim yang pernah
menorehkan keilmuan yang begitu gemilang.

13

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem,
dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Sementara
itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik
mengenai metafisik maupun fisik.
Dalam sejarah tercatat bangsa Yunanilah yang pertama diakui oleh
dunia sebagai perintis terbentuknya ilmu karena telah berhasil menyusunnya
secara sistematis.
Sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang,
yaitu:
a. Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskan
sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat.
b. Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan,
astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
c. Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Spanyol Islam telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat
brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada
abad ke-12 M. Kemajuan-kemajuan umat Islam ini bertahan hingga
beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti
Umayyah dan dinasti Abbasiyah.

Islam telah ikut andil dalam terbitnya zaman Pencerahan di Eropa.


Barat seharusnya berterima kasih pada Islam yang telah memicu lahirnya
tradisi keilmuwan mereka, dan juga konsep skolastisisme yang amat
berpengaruh bagi teologi dan metafisikaKristen, yang sejatinya telah

14

mengadopsi

pemikiran

Ilmuwan

Muslim,

meskipun

nilai-nilai

samawiyahnya telah dicaraikan.


Tanpa berkembangnya tradisi keilmuwan, negara tidak dapat
berkembang dan maju. Oleh karena itu sampai saat ini, terlihat bahwa Barat
telah mengusai seluruh aspek kehidupan seperti; pendidikan, ekonomi,
sosial dan politik. Semua ini berawal dari sebuah tradisi keilmuwan.
3.2. Saran
Islam pernah berjaya di masa lalu, namun kejayaan itu kini seakan
lenyap tiada tersisa. Untuk itu kami menyarankan kepada segenap umat
Islam agar menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama disamping
ibadah, karena hanya dengan ilmu pengetahuanlah umat Islam bisa
mengejar ketertinggalannya.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Grafindo
Persada, 2007)

15

Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1998)


Hitti, Philip K. Sejarah bangsa Arab. (Jakarta: Serambi. 2010)
Ihsan Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta, 2010.
Ihsan Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta, 2010.
Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu : Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan, cetakan
keempat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004)
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu,cet. II (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar Offset, 2002),
Russell, Betrand, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi SosioPolitik dari Zaman Kuno hingga sekarang. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002),
Quraish shihab, Membumikan Alquran, Bandung: Penerbit Mizan,
1992
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : PT Bumi
Aksara, 2007),
surajiyo, filsafat ilmu dan perkembangannya di indonesia, jakarta
: Bumi Aksara, 2009.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogykarta :
Liberty, 1996),
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,
W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa
Abad Pertengahan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm. 44-45
W. Montgomery Watt,
Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)

16