Anda di halaman 1dari 6

Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarakat

(UKM)

MINI PROJECT
TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT
MENGENAI PENYAKIT ASAM URAT
(GOUT ARTHRITIS)

Oleh:
dr. Ajeng Ayu Sekarini U.K
Pembimbing :
dr. Millati Fitri Ananda

Pusat Kesehatan Masyarakat Batang I


Batang
(Periode 1 Desember 2011 31 Maret 2012)

I.

PENDAHULUAN

Mialgia dan arthralgia merupakan gejala yang banyak menyertai berbagai


penyakit di masyarakat, baik penyakit infeksi hingga penyakit degeneratif dan
metabolik. Keluhan ini sulit dibedakan terutama pada masyarakat dengan tingkat
pendidikan dan sosioekonomi menengah ke bawah. Pasien biasanya menyatakan
gejala tersebut sebagai keluhan yang hampir serupa berupa rasa pegal-pegal.
Sehingga seringkali dokter atau tenaga kesehatan lainnya hanya membuat
diagnosis berdasarkan gejala dan bukan diagnosis penyakit karena pada
beberapa kasus diperlukan suatu investigasi lebih lanjut, meliputi perjalanan
penyakit, gejala penyerta , riwayat penyakit dahulu serta pemeriksaan
laboratorium tertentu. Meskipun bukan merupakan kasus terbanyak secara
umum namun perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut terhadap gejala mialgia
untuk lebih
dispesifikasikan ke dalam diagnosis penyakit tertentu. Selain
itu,penyakit mialgia menimbulkan beban masalah kesehatan yang cukup besar
karena pasien yang terkena mialgia tidak dapat melakukan pekerjaan sehariharinya secara optimal, mengingat sebagian besar pekerjaan mereka
membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar sehingga akan menurunkan
kualitas dan kuantitas dari kinerjanya.
Gejala nyeri sendi, khususnya pada pasien usia tua biasanya didominasi oleh
penyakit degenerasi dan metabolik yang meliputi peradangan sendi yang
bersifat progresif. Penyakit tersebut antara lain gout arthritis, osteoarthritis dan
reumathoid arthritis. Selain itu juga dapat merupakan gejala penyakit infeksi
seperti Chikungunya, namun gejalanya biasanya diawali dengan demam yang
khas. Osteoarthritis banyak diderita terutama oleh pasien berusia >55 tahun,
dimana penanganan yang dapat dilakukan di puskesmas adalah sebatas terapi
konservatif melalui pemberian analgetik dan suplemen. Sedangkan untuk kasus
rheumatoid arthritis, yang merupakan penyakit autoimun, selain lebih sulit
dalam hal diagnostik, juga memerlukan penanganan dokter spesialis dalam hal
terapi.
Dari beberapa kasus dengan gejala nyeri sendi, arthritis gout dianggap
sebagai kasus yang paling memungkinkan untuk dilakukan intervensi berupa
prevensi primer. Sebagian besar kasus arthritis gout yang muncul di masyarakat
dipicu oleh pola diet tinggi purin, dimana pola diet keluarga secara umum
ditentukan oleh ibu rumah tangga yang menyediakan makanan bagi keluarga.
Sehingga pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga terkait pola diet yang sehat
khususnya bagi pencegahan kasus arthritis gout sangatlah penting.
Insidensi dan prevalensi arthritis gout di Indonesia masih belum diketahui
secara pasti. Penelitian Darmawan di Bandungan, Jawa Tengah 2007
mendapatkan 8% orang dewasa di atas 15 tahun menderita arthritis gout.
Arthritis gout merupakan penyakit yang paling sering dijumpai pada laki-laki
dewasa dengan puncak insiden pada dekade keempat dan ke-lima. Menurut hasil

penelitian Hermansyah di Subbagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam


FK UNSRI Palembang didapatkan laki-laki 88,2% dan perempuan 11,8%.
Dengan mengetahui tingkat pengetahuan dan pola perilaku ibu rumah
tangga dalam penyediaan diet terkait arthritis gout diharapkan dapat diketahui
tingkat resiko masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Batang I pada khususnya
untuk menderita arthritis gout. Selanjutnya hal ini dapat diimplementasikan
dalam praktek pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Kecamatan Batang
pada umumnya dengan lebih mengedepankan unsur prevensi dan edukasi dalam
penanganan prioritas masalah kesehatan masyarakat secara umum.

II. TUJUAN, SASARAN DAN TARGET KEGIATAN


Adapun tujuan, sasaran dan target dilaksanakannya mini project ini
adalah untuk:
1. Mengetahui tingkat pengetahuan warga masyarakat khususnya ibu
rumah tangga mengenai penyakit asam urat (gout arthritis)
2. Meningkatkan pengetahuan warga masyarakat khususnya ibu rumah
tangga mengenai penyakit asam urat (gout arthritis)
3. Mengetahui pola konsumsi harian purin warga masyarakat secara
umum.
4. Meningkatkan kesadaran ibu rumah tangga akan pentingnya mengatur
pola gizi keluarga dalam rangka pencegahan penyakit asam urat (gout
arthritis)
III. BENTUK KEGIATAN
Penelitian dilakukan melalui pembagian kuesioner secara acak
dalam bentuk wawancara terhadap ibu-ibu rumah tangga. Waktu
pengambilan sampel dilakukan dalam acara-acara pertemuan kader,
penyuluhan warga dan saat pemeriksaan harian di Puskesmas Batang I.
hasil kuesioner kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan penyuluhan
dalam pertemuan rutin warga.
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN
Telah dilakukan kegiatan mini project berupa pembagian kuesioner
secara acak dengan metode wawancara terhadap ibu-ibu rumah tangga
pada pertemuan kader, penyuluhan warga dan dan saat pemeriksaan
harian di Puskesmas Batang I pada bulan Desember 2011. Serta
penyuluhan mengenai asam urat (gout arthritis) pada tanggal 25-27
Januari 2012 di kelurahan Sambong, Proyonanggan Tengah dan Selatan.
V. LAPORAN KEGIATAN DAN ULASAN KEGIATAN

Pengambilan data dilakukan secara acak melalui beberapa


pertemuan yang melibatkan warga masyarakat Batang dari beberapa
wilayah Kelurahan yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Batang
I. Dari kuesioner yang dibagikan dan diisi dengan metode wawancara
diperoleh karakteristik responden sebagai berikut :
KARAKTERISTIK SUBJEK
Karakteristik Subjek Berdasarkan Usia
KATEGORI USIA
31-40 tahun
41-50 tahun
51-60 tahun
>60 tahun

JUMLAH
13 (26%)
5 (10%)
7 (14%)
25 (50%)

Karakteristik Subjek Berdasarkan Pendidikan


TINGKAT PENDIDIKAN
TIDAK TAMAT SD
TAMAT SD
SLTP
SLTA
AKADEMI/PERGURUAN
TINGGI

JUMLAH
5 (10%)
10 (20%)
12 (24%)
15 (30%)
8 (16 %)

Karakteristik Subjek Berdasarkan Pekerjaan


PEKERJAAN
TIDAK BEKERJA
PENSIUNAN
BURUH
WIRASWASTA
PNS

JUMLAH
20 (40%)
14 (28%)
1 (2%)
8 (16%)
7 (14%)

Karakteristik Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin


Keseluruhan subjek adalah wanita.

TINGKAT PENGETAHUAN
Dari keseluruhan 50 kuesioner yang disebar mengenai Tingkat
Pengetahuan Masyarakat mengenai Asam Urat diperoleh hasil sebagai
berikut :
TINGKAT PENGETAHUAN

NILAI

TINGGI
(skor kuesioner >17)

40%
(20 orang)

RENDAH
(skor kuesioner 17)

60%
(30 orang)

Nilai titik potong 17 digunakan berdasarkan penelitian serupa yang


pernah dilakukan oleh Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM tahun
2009 di Kulonprogo.

PERILAKU MAKAN DAN MINUM MASYARAKAT TERKAIT PURIN


ITEM
Daging Sapi
Daging
Kambing
Jeroan
Emping
Udang
Toge
Buncis
Kangkung
Kol
Kacangkacangan
Bayam
Pete
Tempe
Ayam
Teh
Kopi

TIDAK
PERNAH
16
26

JARANG

SERING

28
19

6
5

SETIAP
HARI
0
0

26
24
10
5
7
20
6
7

22
20
29
26
26
23
22
17

2
6
11
19
17
7
22
25

0
0
0
0
0
0
0
1

19
34
0
3
1
20

19
11
3
15
5
20

10
5
21
25
8
4

2
0
26
2
36
6

Berdasarkan
hasil
survey
didapatkan
60%
responden
berpengetahuan kurang mengenai penyakit gout arthritis secara umum.
Hal ini turut mempengaruhi pola konsumsi harian masyarakat yang secara
umum ditentukan oleh ibu rumah tangga. Kemungkinan hal ini disebabkan
oleh tingkat pendidikan responden yang relatif rendah (>80% tidak
mencapai SLTA), tidak bekerja (40%) dan berusia lanjut (50%).
Meskipun berdasarkan pola konsumsi harian didapatkan bahwa ibu
rumah tangga tidak banyak mengkonsumsi makanan tinggi purin, namun
pengetahuan mengenai pemilihan makanan yang baik tetap harus

diberikan sebagai bentuk pencegahan primer dari insidensi gout arthritis.


Untuk itu kemudian dilakukan penyuluhan mengenai gout arthritis (asam
urat) dan diet rendah purin kepada ibu-ibu rumah tangga di beberapa
wilayah kerja Puskesmas Batang I. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan
pada tanggal 25-27 Januari 2012.
Adapun isi dari materi penyuluhan adalah sebagai berikut :
1. Nyeri sendi dan penyebab terseringnya: meliputi osteoarthritis, gout
arthritis dan reumathoid arthritis
2. Epidemiologi penyakit gout arthritis
3. Tanda dan gejala gout arthritis
- Timbul benjolan pada sendi yang terkena, tampak bengkak,
kemerahan, terasa panas dan nyeri
- Rasa nyeri terutama di malam hari atau pagi hari saat bangun
tidur
- Persendian terasa kaku
- Terdapat benjolan di ruas jari
4. Penyebab gout arthritis
- Produksi asam urat berlebih
- Menurunnya kemampuan ekskresi asam urat oleh tubuh
- Konsumsi diet tinggi purin
- Stres, kegemukan dan minuman alkohol
5. Penanganan awal pada kondisi gout arthritis
- Mengistirahatkan bagian sendi yang sakit
- Mengompres hangat di bagian sendi yang nyeri
- Mengkonsumsi obat pengurang rasa nyeri (analgetik) dan
antiinflamasi
6. Pencegahan terjadinya gout arthritis
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi purin
- Memperbanyak minum air putih
- Olahraga teratur dan relaksasi
7. Penjelasan mengenai purin sebagai prekusor asam urat
8. Diet rendah purin
9. Komplikasi asam urat
Para peserta cukup antusias dalam mengikuti kegiatan penyuluhan.
Dengan penyuluhan ini diharapkan ibu rumah tangga dan kader sebagai
duta masyarakat dapat memahami penyakit gout arthritis dan
menyediakan menu harian rumah tangga yang sesuai dengan kebutuhan
anggota keluarga. Selain itu dengan kesadaran mengenai diet purin
diharapkan dapat turut menurunkan prevalensi gout arthritis khususnya di
wilayah kerja Puskesmas Batang I.