Anda di halaman 1dari 31

ANALISIS ADAT ISTIADAT SUKU JAWA DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jawa/Java adalah suku bangsa terbesar yang ada di Indonesia. Selain hidup di Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, mereka juga tersebar di berbagai penjuru tanah air, seperti
Jawa Barat, Jakarta, Banten, Lampung, dan Sumatera Barat, dan jumlahnya mencapai 41,7
persen dari populasi bangsa Indoensia. Persebaran mereka ke berbagai tempat tersebut, selain
dilatarbelakangi oleh adat-budaya (seperti mengembara), juga oleh faktor-faktor ekonomipolitik, seperti ekspansi kerajaan Mataram dan kebijakan transmigrasi Pemerintah Kolonial
Belanda.Tidak hanya tersebar di tanah air, komunitas besar suku Jawa juga hari ini banyak
berdiam di Suriname, Kaledonia Baru, Malaysia, Singapura, dan Belanda. Di beberapa negara
tersebut, dalam sejarahnya, orang Jawa dimobilisasi Pemerintah Kolonial Belanda sebagai tenaga
kerja.
Walaupun mewarisi budaya hidup yang terkenal ulet, namun di sisi lain, orang Jawa
memiliki falsafah hidup nrimo ing pandum atau sikap pasrah menerima jalan hidup yang
ditakdirkan oleh Tuhan. Hal tersebut senada dengan ungkapan yang terkenal di antara orang
Jawa urip ora ngoyo, yang berarti bahwa dalam menjalani hidup tidak usah terlalu ambisius.
Sikap hidup tersebut yang nampaknya membuat orang Jawa terkenal dengan kehidupannya yang
sederhana.
Adat istiadat ini ialah sebuah budaya dan Norma nan telah turun temurun dilakukan oleh
sebagian besar masyarakat jawa. Bahkan di masyarakat sekan terdapat keharusan buat
melakukannya. Segala usaha akan dilakukan agar mereka bisa melaksanakan adat istiadat ini.
Bagi sebagian orang yang tak melakukan atau mulai meninggalkan adat istiadat ini maka
dianggap sebagai orang yang tak wajar bahkan sering menerima gunjingan dari masyarakat
sekitar.
Kebanyakan adat istiadat nan ada bersumber dari kepercayaan nenk moyang terdahulu dari
masyarakat jawa dan tak bersumber dari agama terutama agama Islam sebagai agama nan
banyak dipeluk oleh sebagian besar masyarakat jawa. Oleh sebab hal inilah, banyak masyarakat
jawa nan mulai meninggalkan ritual adat nan ada dalam adat istiadat suku jawa ini. Karena

menurut mereka banyak hal nan dilakukan dalam aplikasi adat istiadat ini nan tak sinkron dengan
ajaran agama Islam.
Seperti yang telah disebutkan bahwa adat istiadat suku jawa ini terdapat dalam banyak
aspek kehidupan manusia. Adat istiadat ini dilakukan mulai dari hamilnya seorang wanita yang
mengandung bayi, saat seseorang memulai sebuah kehidupan baru dalam perahu pernikahan
sampai dalam hal kematian, adat istiadat ini selalu mengikuti.
Selain itu, terkait dengan kebahasaan dan penuturnya mayoritas orang Jawa berkomunikasi
dalam Bahasa Jawa. Bahkan banyak dari mereka yang hidup di perantauan pun masih sering
berbahasa Jawa, terutama antar sesamanya. Orang Jawa memang terkenal akan solidaritas
sosialnya yang tinggi dan loyalitasnya terhadap adat dan tradisi, termasuk dalam berbahasa.
Dalam Bahasa Jawa terkandung prinsip undhak-undhuk atau tata aturan mengenai penggunaan
bahasa, dalam kaitannya dengan peran sosial para penuturnya, misalnya ayah kepada anak atau
sebaliknya, remaja kepada teman sebayanya, dan lain sebagainya.
Maka, hal ini menjadi sangat menarik untuk mengetahui: bagaimana adat istiadat suku
jawa dalam masa kehamilan hingga kematian; bagiamana adat istiadat suku jawa dalam upacara
pernikahan; serta bagaimana pula adat istiadat penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan peran
social penuturnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana adat istiadat suku jawa dalam masa kehamilan hingga kematian?
2. Bagiamana adat istiadat suku jawa dalam upacara pernikahan?
3. Bagaimana adat istiadat penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan peran social
penuturnya?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam menganalisa adat istiadat suku Jawa di Indonesia, antara lain:
1. Memahami dan mengetahui adat istiadat suku jawa dalam masa kehamilan hingga
kematian.
2. Memahami dan mengetahui adat istiadat suku jawa dalam upacara pernikahan.
3. Memahami dan mengetahui adat istiadat penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan
peran sosial penuturnya.
BAB II

PEMBAHASAN
A. Adat Istiadat Suku Jawa
Dalam catatan Yunani, yang ditulis Claucius Ptolomeus (tahun 165 M) istilah labadiou
(jawadwipa) digunakan untuk menyebut pulau Jawa, yang mana kurang lebih artinya adalah
sebuah pulau yang jauh terletak di tenggara yang kaya akan beras .
Njowo digunakan sebagai sebuah ungkapan untuk mendefinisikan tingkah laku seseorang,
atau dengan kata lain njowo itu adalah mengerti; paham; beretika sesuai dengan (budaya) Jawa .
Di pulau jawa masih banyak terdapat budaya baik dari jawa tengah,jawa barat,jawa
timur,dan daerah istimewa yogyakarta.Budaya budaya tersebut masih lestari sampai saat
ini.Salah satu budaya yang masih lestari adalah adat istiadat dari suku jawa itu sendiri.
Adat istiadat suku jawa masih sering di gunakan dalam berbagai kegiatan
masyarakat.Misalnya mulai masa masa kehamilan hingga kematian ada istiadat ini digunakan
dan diterapkan dalam hidupnya.Masyarakat suku jawa merupakan masyarakat dengan jumlah
populasi terbesar di Indonesia.
Suku jawa berasal dari provinsi jawa tengah,jawa timur,jawa barat,dan daerah istimewa
yogyakarta.Suku jawa tidak pernah lepas dari adat istiadat yang memang sudah sangat di
percayai sejak dulu.Adat istiadat adalah sebuah budaya dan kebiasaan yang telah turun temurun
dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa.Bahkan di masyarakat seakan terdapat keharusan
untuk melakukannya,bagi sebagian orang yang tidak melakukan atau mulai meninggalkan adat
istiadat ini di anggap sebagai orang yang tidak wajar bahkan sering menerima gunjingan dari
masyarakat sekitar.Kebanyakan adat istiadat yang ada bersumber dari kepercayaan nenek
moyang terlebih dahulu dari masyarakat jawa dan tidak bersumber dari agama terutama agama
islam sebagai agama yang banyak di peluk oleh sebagian besar masyarakat.
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa pelaksanaan adat istiadat suku jawa ini terdapat
dalam banyak aspek kehidupan manusia.Adat istiadat ini dimulai dari hamilanya seorang wanita
yang mengandung bayi,saat seorang memulai sebuah kehidupan baru dalam bahtera pernikahan
sampai dalam hal kematian,adat istiadat ini selalu mengikuti.

B. Adat Istiadat Suku Jawa Masa Kehamilan, Melahirkan Hingga Kematian


1. Masa Kehamilan dan Melahirkan

Semua orang niscaya menganggap bahwa seorang wanita nan hamil haruslah dijaga agar
tak terjadi hal jelek nan menimpanya dan calon anak nan dikandungnya serta ia akan diberi
kemudahan dalam melahirkan kelak. Suku jawa pun juga memiliki kepercayaan seperti ini. Saat
seorang wanita suku Jawa mengandung ia akan benar-benar dijaga agar tak terjadi hal buruk
yang menimpanya. Untuk merefleksikan hal ini, masyarakat suku jawa mengadakan semacam
slametan.
Slametan ini dilakukan dua kali selama masa kehamilan, nan pertama saat usia kandungan
mencapai usia tiga bulan dan nan kedua saat kandungannya mencapai umur tujuh bulan.
Slametan tiga bulan disebut dengan neloni atau dalam bahasa Indonesia berarti hal ketiga.
Sedangkan slametan saat usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan, biasa disebut mitoni.
Pada kedua ritual neloni dan mitoni ini dijalankan dengan membuat beberapa jenis
makanan eksklusif nan kemudian dibagikan kepada oarng-oarng terdekat nan ada atau juga
kepada tetangga. Terdapat jenis makanan eksklusif nan dibuat misalkan jenang blowok yaitu kue
nan terbuat dari tepung terigu nan dibungkus dengan daun nangka atau trancam yaitu makanan
nan terbuat dari cacahan mentimun, tempe goreng, kacang toro, dan dicampur dengan parutan
kelapa. Jenis makanan ini memang harus dibuat dalam kedua acara ini dan tak boleh
ditinggalkan. Salah satu ritual mitoni nan harus dijalankan oleh ibu hamil tersebut
ialah tingkeban.
Pada ritual ini, wanita yang tengah mengandung dimandikan menggunakan campuran air
dan bunga. Kain nan digunakan sebagai kemben pun jumlahnya harus tujuh dan dipakai secara
bergantian saat acara tingkeban berlangsung. Ketika bayi yang dikandung telah lahir, suku jawa
juga memiliki ritual spesifik dalam menyambut lahirnya si jabang bayi. Dan ritual ini pun juga
berfungsi buat memberikan keselamatan pada si bayi dan menjaga si bayi dari hal-hal buruk
yang menimpa si bayi.
Ritual ini pun juga disebut dengan istilah slametan nan diberi nama brokohan.
Brokohan ini pun hampir sama dengan neloni atau mitoni. Beberapa jenis makanan dibuat, lalu
diberikan kepada tetangga terdekat. Ritual ini dilakukan sehari setelah bayi lahir.
Berikut ini penjelasan secara detail dalam proses hamil hingga melahirkan:
I.

Adat Isitiadat Proses Kehamilan

A. Upacara tiga bulanan

Upacara ini dilaksanakan pada saat usia kehamilan adalah tiga bulan. Di usia ini roh
ditiupkan pada sang jabang bayi. Upacara ini biasanya dilakukan berupa tasyakuran.
B. Upacara Tingkepan atau Mitoni
Upacara tingkepan disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh, sehingga
upacara mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, dan pada kehamilan pertama.
Dalam pelaksanaan upacara tingkepan, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan
dengan air kembang setaman, disertai dengan doa-doa khusus. Berikut ini, tata cara pelaksanaan
upacara tingkepan :
1. Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak tujuh orang. Bermakna mohon doa restu, supaya
suci lahir dan batin.Setelah upacara siraman selesai, air kendi tujuh mata air dipergunakan
untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis, kendi dipecah.
2. Memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain (sarung) calon ibu oleh suami melalui
perut sampai pecah, hal ini merupakan simbul harapan supaya bayi lahir dengan lancar,
tanpa suatu halangan.
3. Berganti Nyamping sebanyak tujuh kali secara bergantian, disertai kain putih. Kain putih
sebagai dasar pakaian pertama, yang melambangkan bahwa bayi yang akan dilahirkan
adalah suci, dan mendapatkan berkah dari Tuhan YME. Diiringi dengan pertanyaan
sudah pantas apa belum, sampai ganti enam kali dijawab oleh ibu-ibu yang
hadir belum pantas. Sampai yang terakhir ke tujuh kali dengan kain sederhana di
jawab pantes.Adapun nyamping yang dipakaikan secara urut dan bergantian berjumlah
tujuh dan diakhiri dengan motif yang paling sederhana sebagai berikut: (a) Sidoluhur; (b)
Sidomukti; (c) Truntum; (d) Wahyu Tumurun; (e) Udan Riris; (f) Sido Asih; (g) Lasem
sebagai Kain; dan (h) Dringin sebagai Kemben.
II. Pantangan dalam Prosesi Kehamilan
Pada saat hamil banyak hal tidak diperbolehkan bagi sang calon ibu maupun calon ayah.
Berikut pantangannya:
o Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab, jika itu dilakukan, bisa
menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu.
o Membawa gunting kecil / pisau / benda tajam lainnya di kantung baju si Ibu agar janin
terhindar dari marabahaya.
o Ibu hamil tidak boleh keluar malam, karena banyak roh jahat yang akan mengganggu janin.

o Ibu hamil dilarang melilitkan handuk di leher agar anak yang dikandungnya tak terlilit tali
pusat.
o Ibu hamil tidak boleh benci terhadap seseorang secara berlebihan, nanti anaknya jadi mirip
seperti orang yang dibenci tersebut.
o Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya jadi kembar siam.
o Amit-amit adalah ungkapan yang harus diucapkan sebagai "dzikir"-nya orang hamil ketika
melihat peristiwa yang menjijikkan, mengerikan, mengecewakan dan sebagainya dengan
harapan janin terhindar dari kejadian tersebut.
o Ngidam adalah perilaku khas perempuan hamil yang menginginkan sesuatu, makanan atau
sifat tertentu terutama di awal kehamilannya. Jika tidak dituruti maka anaknya akan mudah
mengeluarkan air liur.
o Dilarang makan nanas, nanas dipercaya dapat menyebabkan janin dalam kandungan gugur.
o Jangan makan ikan mentah agar bayinya tak bau amis.
o Jangan minum air es agar bayinya tak besar. Minum es atau minuman dingin diyakini
menyebabkan janin membesar atau membeku sehingga dikhawatirkan bayi akan sulit keluar.
o Untuk sang Ayah dilarang mengganggu, melukai, bahkan membunuh hewan. Nanti bayinya
akan mirip dengan hewan tersebut. Contohnya adalah memancing, membunuh hewan.
Serta masih banyak pantangan-pantangan lain yang harus dihindari oleh sang calon ibu
maupun ayah. Namun sebenarnya pantangan-pantangan tersebut dapat dinalar apabila ditelaah
menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja beberapa kemungkinan tidak tertuju
langsung dengan keberlangsungan hidup si jabang bayi kelak.
III. Macam-Macam Upacara Adat untuk Bayi
Tak hanya pada saat kehamilan saja upacara adat atau ritual dilaksanakan. Ketika sang
jabang bayi ini lahir pun masih ada ritual dan upacara adat. Upacara ini pun berlangsung hingga
sang anak menginjak usia satu tahun. Namun, pelaksanaan upacara ini dilaksanakaan hanya di
usia tertentu saja. Berikut jenis upacara yang berkaitan dengan kelahiran anak.
A. Upacara Adat Brokohan
Brokohan memiliki makna adalah pengungkapan rasa syukur dan rasa sukacita atas proses
kelahiran yang berjalan lancar dan selamat. Ditinjau dari maknanyabrokohan juga bisa berarti
mengharapkan berkah dari Yang Maha Pencipta. Sedangkah tujuannya adalah untuk keselamatan
dan perlindungan bagi sang bayi. Selain itu harapan bagi sang bayi agar kelak menjadi anak yang

memiliki perilaku yang baik. Rangkaian upacara ini berupa memendam ari-ariatau plasenta si
bayi. Setelah itu dilanjutkan dengan membagikan sesajen brokohan kepada sanak saudara dan
para tetangga.
B. Upacara Adat Sepasasaran atau Pupak Puser
Sepasaran merupakan salah satu upacara adat bagi bayi berumur lima hari. Upacara adat
ini umumnya diselenggarakan secara sederhana. Tetapi jika bersamaan dengan pemberian nama
pada sang bayi upacara ini bisa dilakukan secara meriah.
Acara ini biasanya dilaksanakn dengan mengadakan hajatan yang mengundang saudara
dan tetangga. Suguhan yang disajikan biasanya berupa minuman beserta jajanan pasar. Selain itu
juga terkadang ada pula yang dibungkus rapi baik menggunakan besek(tempat makanan terbuat
dari anyamam bambu) ataupun lainnya untuk dibawa pulang.
C. Upacara Adat Selapanan
Dalam bahasa jawa, selapan berarti tiga puluh lima hari. Tradisi ini digunakan pada
peringatan hari kelahiran. Setelah 35 hari dari hari H, maka diadakan perayaan dengan nasi
tumpeng, jajan pasar dan berbagai macam makanan sebagi simbol dari makna-makna yang
tersirat dalam tradisi jawa.
Namun dalam perkembangannya, saat ini selapanan sebagai ungkapan syukur atas
kesehatan dan keselamatan bayi, diwujudkan cukup dengan nasi tumpeng beserta lauk seadanya.
Kemudian mengundang tetangga kanan-kiri untuk kendurenan (selamatan), berdoa bersamasama dan diujung acara, tumpeng dibagi rata untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Selapanan sebagai harapan orang tua dan keluarga agar sang bayi selalu sehat, jauh dari
marabahaya. Semoga apa yang diharapkan bisa terlaksana, kabul kajate
D. Upacara Adat Mudhun Siti
Upacara ini dilakukan untuk bayi yang telah berusia 7 bulan. Di Yogyakarta, upacara ini
disebut dengan tedhak siten. Upacara ini sebagai pelambang bahwa sang anak telah siap untuk
menjalani hidup lewat tuntunan dari sang orang tua. Dan acara ini dilaksanakan pada saat anak
berumur 7 selapan atau 245 hari. Prosesi upacaranya adalah tedhak sega pitung warna, mudhun
tangga tebu, ceker-ceker, kurungan, sebar udik-udik,siraman.
2. Ritual Kematian

Masyarakat Jawa dalam lingkungan adat istiadat yang sangat kental. Adat istiadat suku
Jawa masih sering digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Dan hampir setiap masa
dalam kehidupan manusia misalnya mulai masa-masa kehamilan hingga kematian, adat istiadat
ini digunakan dan diterapkan dalam hidupnya.
Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi.
Ritual ini dimaksudkan agar orang nan meninggal dapat mendapatkan loka nan baik di akhirat.
Sebelum mayat dibawa ke pekuburan, ada ritual spesifik nan dilakukan oleh seluruh anggota
keluarga dari si mayat. Ritual nan biasa dilakukan ialah brobosan , yaitu melintas di bawah
mayat nan sudah ditandu dengan cara berjongkok.
Ritual adat istiadat pun belum selesai hingga di situ. Ritual nan menyertai kematian ini juga
disebut dengan istilah slametan. Slametan ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dan
dilakukan di malam hari.
Pada setiap malam dibuat aneka jenis makanan nan nantinya dibagi kepada orang-oarng nan
datang. Bentuk acaranya dikenal dengan istilah tahlilan, karena di loka itu ada pembacaan ayatayat Al-Quran dan juga bacaan tahlil. Ritual ini juga memiliki tujuan buat mendoakan si mayat
nan telah meninggal.
Slametan ini tak hanya dilakukan sampai tujuh hari ini saja tapi masih banyak slametan nan
menyertai kematian dari seorang suku jawa. Ada slametan empat puluh hari nan dilakukan empat
puluh hari setelah hari kematian. Dan juga slametan seratus hari yaitu nan dilakukan seratus hari
setelah kematian.
Setiap tahun pun juga masih dilakukan buat mengenang orang nan telah meninggal. Setahun
pertama setelah meninggal, biasanya, pihak keluarga nan ditinggalkan akan mengadakan
selamatan pendak siji, tahun kedua disebut dengan pendak loro,hingga pendak telu atau
selamatan nan dilakukan di tahun ketiga.

Semua slametan dilakukan oleh pihak keluarga dengan membuat aneka jenis makanan nan
nantinya dibagikan kepada tetangga terdekat atau saudara-saudar dari orang nan telah meninggal
tersebut.
Hanya saja dalam melakukan aneka slametan ini membutuhkan biaya nan tak sedikit. Mungkin
bagi sebagian orang nan memiliki harta nan berlebih, melakukan aneka slametan ini bukanlah
menjadi sebuah masalah.
Justru slametan dilaksanakan dengan sangat meriah, sama halnya dengan acara pernikahan.
Dibuat aneka jenis makanan dalam jumlah nan banyak buat bisa dinikmati oleh banyak orang
pula.
Namun bagi sebagian orang nan tidak memiliki banyak harta, kadang buat melakukan aneka
slametan ini bukanlah hal nan mudah dan murah buat dilakukan.
Namun sebab mereka memahami bahwa ini ialah keharusan nan memang harus dilakukan
bagaimana pun keadaan ekonomi dari keluarga nan ditinggalkan, maka ada sebagian dari
keluarga nan justru berhutang buat bisa melaksanakan acara slametan ini.
Demikianlah adat istiadat suku jawa nan dilakukan kepada orang-orang nan hamil, melahirkan,
akan menikah dan telah meninggal. Kesemuanya ialah Norma nan telah dilakukan secara turun
menurun. Sebagai seorang nan beriman, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah manamana nan memang diperbolehkan oleh syariat buat dilakukan atau tidak.
Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu
tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah
selametan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Berikut diantaranya ritual yang
dilakukan menurut adat istiadat Jawa.
2.1 Pemberitahuan Atau Pemberitaan Lelayu
Hal yang pertama kali dilakukan dalam masyarakat Jawa ketika ada orang meninggal
adalah memberi penghiburan kepada keluarga bahwa semua ciptaan akan kembali kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Apabila keadaan keluarga sudah reda, perhatian segera dialihkan ke jenazah.
Jenazah yang baru saja meninggal dunia segera ditidurkan secara membujur, menelentang, dan
menghadap ke atas. Selanjutnya mayat ditutup dengan kain batik yang masih baru. Kaki dipan

tempat mayat itu ditidurkan perlu direndam dengan air, maksudnya agar dipan itu tidak
dikerumuni semut atau binatang kecil lainnya. Tikar sebagai alas tempat jenazah dibaringkan
perlu diberi garis tebal dari kunyit dengan maksud agar binatang kecil tidak mengerumuni mayat.
Terakhir adalah membakar dupa wangi atau ratus untuk menghilangkan bau yang kurang sedap.
Bersamaan dengan hal diatas, beberapa orang terdekat bertugas memanggil seorang
modin dan mengumumkan kematian itu kepada para sanak saudara dan tetangga. Pemberitaan
juga dilakukan dengan bantuan pengeras suara dari masjid terdekat. Setelah kabar tersiar mereka
yang mendengar akan berusaha segera datang ketempat itu untuk membantu menyiapkan
pemakaman.
2.2 Upacara Ngesur Tanah (Geblag)
Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya
seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur
tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat).
Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal
dari tanah akan kembali ke tanah juga.
Bahan yang digunakan untuk kenduri terdiri atas:
1.

Nasi gurih (sekul wuduk)

2.

Ingkung (ayam dimasak utuh)

3.

Urap (gudhangan dengan kelengkapannya)

4.

Cabai merah utuh

5.

Krupuk rambak

6.

Kedelai hitam

7.

Bawang merah yang telah dikupas kulitnya

8.

Bunga kenanga

9.

Garam yang telah dihaluskan

10. Tumpeng yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng ungkurungkuran)
1.

Upacara Brobosan
Sebelum jenazah diberangkatkan ke makam dilakukan suatu upacara yang disebut

dengan upacara brobosan. Upacara brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan
dari sanak keluarga kepada orang tua atau keluarga mereka (jenazah) yang telah meninggal

dunia. Upacara brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal sebelum
dimakamkan dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua. Namun sebelum upacara
dilakukan, biasanya diawali dengan beberapa sambutan dan ucapan belasungkawa oleh beberapa
pamong desa. Dan semua yang hadir ditempat itu harus berdiri hingga jenazah benar-benar
diberangkatkan.
Upacara brobosan tersebut dilangsungkan dengan tata cara sebagai berikut:
1) Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah
upacara doa kematian selesai.
2) Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan
berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah
jarum jam.
3) Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama;
anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.
Setelah itu jenazah diberangkatkan dengan keranda yang diangkat oleh anak-anaknya
yang sudah dewasa bersama dengan anggota keluarga pria lainnya, sedangkan seorang
memegang payung untuk menaungi bagian dimana kepala jenazah berada. Adapun urutan untuk
melakukan perjalanan ke pemakaman juga diatur. Yang berada diurutan paling depan adalah
penabur sawur (terdiri dari beras kuning dan mata uang), kemudian penabur bunga dan pembawa
bunga, pembawa kendi, pembawa foto jenazah, keranda jenazah, barulah dibagian paling
belakang adalah keluarga maupun kerabat yang turut menghantarkan. Namun dalam keyakinan
orang Jawa, seorang wanita tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman. Jadi mereka
hanya boleh menghantarkan sampai didepan pintu pemakaman saja. Dan mereka yang masuk
hanyalah kaum pria tanpa memakai alas kaki.
2.3 Upacara Nelung Dina ( Tiga Hari)
Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari
meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat
dan tetangga terdekat.
Bahan untuk kenduri biasanya terdiri atas:
*Takir pontang yang berisi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi
kecambah, kacang panjang yang telah dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang
telah

digerus

(dihaluskan),

kue

apem

putih,

uang,

gantal

dua

buah.

*Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan,
sayur menir, jenang merah
2.4 Upacara Mitung Dina (Tujuh Hari)
Upacara

ini

untuk

memperingati

tujuh

hari

meninggalnya

seseorang.

Bahan yang digunakna untuk kenduri biasanya terdiri atas:


*Kue apem yang di dalamnya diberi uang logam, ketan, kolak (semuanya diletakkan dalam satu
takir)
*Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang
yang diikat kecil-kecil, dan daging jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut
(conthong), serta pindang putih.
2.5 Upacara Matang Puluh ( Empat Puluh Hari )
Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang. Biasanya
peringatannya dilakukan dengan kenduri.
Bahan untuk kenduri biasanya sama dengan kenduri pada saat memperingati tujuh hari
meninggalnya,

namun

1.

ada

tambahan

sebagai

Nasi

wuduk

2.

Ingkung

3.

Kedelai

4.

Cabai

5.
6.

berikut:

hitam
merah

utuh

Rambak
Bawang

merah

yang

7.

kulit
telah

dikupas

kulitnya
Garam

8.Bunga kenanga
2. 6 Upacara Nyatus (Seratus Hari)
Upacara ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang. Tata cara dan
bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama
dengan ketika melakukan peringatan empat puluh hari.
2. 7 Upacara Mendhak Pisan (Setahun Pertama)

Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang


meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan bahan yang diigunakan untuk memperingati
seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari.
2. 8 Upacara Mendhak Pindho (Tahun Kedua)
Upacara mendhak pindho merupakan upacara terakhir untuk memperingati meninggalnya
seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya
pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan mendhak pisan.
2. 9 Upacara Mendhak Katelu (Seribu Hari)
Merupakan peringatan seribu hari bagi orang yang sudah meninggal. Peringatan
dilakukan dengan mengadakan kenduri yang diselenggarakan pada malam hari.
Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan yang digunakan pada peringatan empat
puluh hari yang ditambah dengan:
*daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek, seekor domba disiram dengan bunga
setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga
yang telah dirangkai, diberi makan daun sirih. Keesokan harinya domba diikat kakinya lalu
ditidurkan di tanah. Badan domba seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau.
Hal ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi arwah yang mati supaya lekas sampai
surga. Setelah itu domba disembelih dan kemudian dimasak becek.
*Sepasang burung merpati dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan,
burung merpati dilepas dan diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim
tunggangan bagi arwah agar dapat cepat kembali pada Tuhan. dalam keadaan suci, bersih, tanpa
beban.
*Sesaji, terdiri atas tikar bangka, benang lawe empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak
kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi
minyak tua, kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa
utuh satu butir, beras satu takir, sirih dengan kelengkapan untuk menginang, bunga boreh.
Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di tempat orang berkenduri untuk elakukan
doa.
2. 10 Kol (Kol Kolan)
Kol merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal setelah
seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan dengan satu tahun setelah nyewu. Saat

peringatan ini harus bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan
kenduri dengan bahan kenduri: kue apem, ketan, dan kolak. Semuanya diletakkan dalam satu
takir. Pisang raja satu tangkep, uang wajib, dan dupa.
2.11 Nyadran
Nyadran adalah hari berkunjung ke makam para leluhur/kerabat yang telah mendahului.
Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi
umat Islam.
3.

Makna Uba Rampe Pada Saat Kematian Di Jawa

3.1 Lambang-lambang dan Makna yang Terkandung dalam Upacara


a.

Sega golong melambangkan kebulatan tekad yang manunggal atau istilah Jawanya tekad

kang gumolong dadi sawiji. Dalam hal kematian, baik yang mati maupun keluarga yang
ditinggalkannya sama-sama mempunyai tujuan yaitu surga.
b.

Sega asahan atau ambengan melambangkan suatu maksud agar arwah si mati maupun

keluarga yang masih hidup kelak akan berada pada pembenganing Pangeran, artinya selalu
mendapatkan ampun atas segala dosa-dosanya dan diterima di sisiNya.
c.

Tumpeng/nasi gunungan melambangkan suatu cita-cita atau tujuan yang mulia (gegayuhan

kang luhur), seperti gunung yang mempunyai sifat besar dan puncaknya menjulang tinggi. Di
samping itu didasari pula kepercayaan masyarakat bahwa di tempat yang tinggi itulah Tuhan
Yang Maha Kuasa berada, roh manusiapun kelak akan ke sana.
d.

Tumpeng pungkur melambangkan perpisahan antara si mati dengan yang masih hidup,

karena arwah si mati akan berada di alam yang lain sedangkan yang hidup masih berada di alam
dunia yang ramai ini.
e.

Sega wuduk dan lauk pauk segar/bumbu lembaran maksudnya untuk menjamu roh para

leluhur.
f.

Ingkung ayam melambangkan kelakuan pasrah atau menyerah kepada kekuasaan Tuhan.

Istilah ingkung atau diingkung mempunyai makna dibanda atau dibelenggu.

g.

Kembang rasulan atau kembang telon melambangkan keharuman doa yang dilontarkan

dari hati yang tulus ikhlas lahir batin. Di samping itu bau harus mempunyai makna kemuliaan.
h.

Bubur merah dan bubur putih melambangkan keberanian dan kesucian. Di sampingitu

bubur merah untuk memule atau tanda bakti kepada roh dari bapak atau roh laki-laki dan bubur
putih sebagai tanda bakti kepada roh dari ibu atau roh perempuan. Secara komplitnya adalah
sebagai tanda bakti kepada bapa angkasa ibu pertiwi atau penguasa langit dan bumi,
semuadibekteni dengan harapan akan memberikan berkah, baik kepada si mati maupun kepada
yang masih hidup.
i.

Tukon pasar untuk menghormati dinten pitu pekenan gangsal atau hari dan pasaran

dengan harapan segala perbuatan dan perjalanan roh si mati maupun yang masih hidup ke semua
arah penjuru mata angin akan selalu mendapatkan selamat tanpa halangan suatu apa.
Disamping itu semoga mendapatkan berkahNya hari di mana hari itu diadakan selamatan,
misalnya malam Kamis pon, Rabu Wage dan lain sebagainya.
j.

Wajib melambangkan suatu niat ucapan terima kasih kepada kaum yang telah ngujubake

menjabarakan tujuan selamatan itu, dan terima kasih pula kepada semua fihak yang ditujunya,
semoga semuanya itu terkabul.
k.

Sega punar atau nasi kuning melambangkan kemulian, sebab warna atau cahaya kuning

melambangkan sifat kemuliaan. Juga dimaksudkan sebagai jamuan mulia kepada yang dipujinya.
l.

Apem melambangkan payung dan tameng, dan dimaksudkan agar perjalanan roh si mati

maupun yang masih hidup selalu dapat menghadapi tantangannya dan segala gangguannya
berkat perlindungan dari yang maha kuasa dan para leluhurnya.
m.

Ketan adalah salah satu makanan dari beras yang mempunyai sifatpliket atau lekat. Dari

kata pliket atau ketan, ke-raket melambangkan suatu keadaan atau tujuan yang tidak luntur atau
layu, artinya tidak kenal putus asa.

n.

Kolak adalah melambangkan suatu hidangan minuman segar atau untuk seger-seger

sebagai pelepas dahaga. Disamping itu juga melambangkan suatu keadaan atau tujuan yang tidak
luntur atau layu, artinya tidak kenal putus asa.
o.

Kambing, merpati dan itik melambangkan suatu kendaraan yang akan dikendarai oleh roh

si mati.
p.

Materi sajian lain seperti tikar, benang lawe, jodog, sentir, clupak, minyak klentik, sisir,

minyak wangi, cermin, kapas, pisang, beras, gula, kelapa, jarum dan lain sebagainya yang mana
hal ini biasanya pada selamatan seribu hari adalah sebagai lambang dari segala perlengkapan
hidup manusia sehari-hari, dan semua itu dimaksudkan sebagai bekal roh si mati dalam
menjalani kehidupan di alam baka.
C. Adat Istiadat Suku Jawa Dalam Upacara Pernikahan
Pernikahan adalah suatu rangkaian upacara yang dilakukan sepasang kekasih untuk
menghalalkan semua perbuatan yang berhubungan dengan kehidupan suami-istri guna
membentuk suatu keluarga dan meneruskan garis keturunan. Guna melakukan prosesi
pernikahan, orang Jawa selalu mencari hari baik, maka perlu dimintakan pertimbangan
dari ahli penghitungan hari baik berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah ditemukan
hari baik, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan
disiapkan untuk menjalani hidup pernikahan, dengan cara diurut perutnya dan diberi jamu oleh
ahlinya. Hal ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu pengurutan perut untuk menempatkan
rahim dalam posisi yang tepat agar dalam persetubuhan pertama memperoleh keturunan, dan
minum jamu Jawa agar tubuh ideal dan singset.
Sebelum pernikahan dilakukan, ada beberapa prosesi yang harus dilakukan, baik oleh
pihak laki-laki maupun perempuan. Menurut Sumarsono (2007), tata upacara pernikahan adat
Jawa adalah sebagai berikut :
1. Babak I (Tahap Pembicaraan)

Yaitu tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajatmantu dengan pihak calon besan,
mulai dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari penentuan
(gethok dina).
1. Babak II (Tahap Kesaksian)
Babak ini merupakan peneguhan pembicaaan yang disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu warga
kerabat dan atau para sesepuh di kanan-kiri tempat tinggalnya, melalui acara-acara sebagai
berikut :
1. Srah-srahan
Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara
sampai hajat berakhir. Untuk itu diadakan simbol-simbol barang-barang yang mempunyai arti
dan makna khusus, berupa cincin, seperangkat busana putri, makanan tradisional, buah-buahan,
daun sirih dan uang. Adapun makna dan maksud benda-benda tersebut adalah :
a. Cincin emas
yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus
sepanjang hidup.
b. Seperangkat busana putri
bermakna masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain.
c. Perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian
mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak
membuat kecewa.
d. Makanan tradisional

terdiri dari jadah, lapis, wajik, jenang; semuanya terbuat dari beras ketan. Beras ketan sebelum
dimasak hambur, tetapi setelah dimasak, menjadi lengket. Begitu pula harapan yang tersirat,
semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya.
e. Buah-buahan
bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi
keluarga dan masyarakat.
f. Daun sirih
Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. Hal ini
bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan.
2. Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang ditandai dengan
tukar cincin antara kedua calon pengantin.
3. Asok tukon
Hakikatnya adalah penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan
keuangan kepada keluarga pengantin putri.
4. Gethok dina
Menetapkan kepastian hari untuk ijab qobul dan resepsi. Untuk mencari hari, tanggal, bulan,
biasanya dimintakan saran kepada orang yang ahli dalam perhitungan Jawa.
1. Babak III (Tahap Siaga)
Pada tahap ini, yang akan punya hajat mengundang para sesepuh dan sanak saudara untuk
membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara pada waktu sebelum, bertepatan,
dan sesudah hajatan.

1. Sedhahan
Yaitu cara mulai merakit sampai membagi undangan.
2. Kumbakarnan
Pertemuan membentuk panitia hajatan mantu, dengan cara :
a. pemberitahuan dan permohonan bantuan kepada sanak saudara, keluarga, tetangga, handai
taulan, dan kenalan.
b. adanya rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.
c. mencukupi segala kerepotan dan keperluan selama hajatan.
d. pemberitahuan tentang pelaksanaan hajatan serta telah selesainya pembuatan undangan.
3. Jenggolan atau Jonggolan
Saatnya calon pengantin sekalian melapor ke KUA (tempat domisili calon pengantin putri). Tata
cara ini sering disebuttandhakan atau tandhan, artinya memberi tanda di Kantor Pencatatan Sipil
akan ada hajatan mantu, dengan cara ijab.
1. Babak IV (Tahap Rangkaian Upacara)
Tahap ini bertujuan untuk menciptakan nuansa bahwa hajatanmantu sudah tiba. Ada beberapa
acara dalam tahap ini, yaitu :
1. Pasang tratag dan tarub
Pemasangan tratag yang dilanjutnya dengan pasang tarubdigunakan sebagai tanda resmi bahwa
akan ada hajatan mantudirumah yang bersangkutan. Tarub dibuat menjelang acara inti. Adapun
ciri kahs tarub adalah dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan
kadang disertai denganubarampe berupa nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak
ketan dan apem.

2. Kembar mayang
Berasal dari kata kembar artinya sama dan mayang artinya bunga pohon jambe
atau sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan.
Jika pawiwahan telah selesai, kembar mayang dilabuh atau dibuang di perempatan jalan, sungai
atau laut dengan maksud agar pengantin selalu ingat asal muasal hidup ini yaitu dari bapak dan
ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa. Barang-barang untuk kembar mayang adalah :
a. Batang pisang, 2-3 potong, untuk hiasan. Biasanya diberi alas dari tabung yang terbuat dari
kuningan.
b. Bambu aur untuk penusuk (sujen), secukupnya.
c. Janur kuning, 4 pelepah.
d. Daun-daunan: daun kemuning, beringin beserta ranting-rantingnya, daun apa-apa, daun girang
dan daun andong.
e. Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama besarnya.
f. Bunga melati, kanthil dan mawar merah putih.
g. Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya jangan sampai tumpah. Bawahnya dibuat
rata atau datar agar kalau diletakkan tidak terguling dan air tidak tumpah.
3. Pasang tuwuhan (pasren)
Tuwuhan dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin. Tuwuhan biasanya berupa
tumbuh-tumbuhan yang masing-masing mempunyai makna :
a. Janur
Harapannya agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.
b. Daun kluwih

Semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang
diperhitungkan.
c. Daun beringin dan ranting-rantingnya
Diambil dari kata ingin, artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang didambakan
mudah-mudahan selalu terlaksana.
d. Daun dadap serep
Berasal dari suku kata rep artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan
apa pun.
e. Seuntai padi (pari sewuli)
Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih
hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu sesama yang
kekurangan.
f. Cengkir gadhing
Air kelapa muda (banyu degan), adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta
mereka tetap suci sampai akhir hayat.
g. Setundhun gedang raja suluhan (setandan pisang raja)
Semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan
umum daripada kepentingan pribadi.
h. Tebu wulung watangan (batang tebu hitam)
Kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau
istri, tidak tengok kanan-kiri lagi.
i. Kembang lan woh kapas (bunga dan buah kapas)

Harapannya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu
pas, tetapi tidak pas-pasan.
j. Kembang setaman dibokor (bunga setaman yang ditanam di air dalam bokor)
Harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di taman.
4. Siraman
Ubarampe yang harus disiapkan berupa air bunga setaman, yaitu air yang diambil dari tujuh
sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga.
Tahapan upacara siraman adalah sebagai berikut :
calon pengantin mohon doa restu kepada kedua orangtuanya.
calon mantu duduk di tikar pandan tempat siraman.
calon pengatin disiram oleh pinisepuh, orangtuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk.
yang terakhir disiram dengan air kendi oleh bapak ibunya dengan mengucurkan ke muka,
kepala, dan tubuh calon pengantin. Begitu air kendi habis, kendi lalu dipecah sambil berkata
Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku wadon.
5. Adol dhawet
Upacara ini dilaksanakan setelah siraman. Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang
dipayungi oleh bapak. Pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng).
Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacarapanggih dan resepsi, banyak tamu
dan rezeki yang datang.
6. Midodareni
Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua
calon pengantin. Acara ini dilakukan di rumah calon pengantin perempuan. Dalam acara ini ada
acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan

sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi
pernikahan di hari berikutnya. Midodareni berasal dari kata widodareni (bidadari), lalu
menjadi midodareni yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari.
Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi
Kumaratih dan Dewa Kumajaya.
1. Babak V (Tahap Puncak Acara)
1. Ijab qobul
Peristiwa penting dalam hajatan mantu adalah ijab qobuldimana sepasang calon pengantin
bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak
serta beberapa tamu undangan. Saat akad nikah, ibu dari kedua pihak, tidak memakai subang
atau giwang guna memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa
menikahkan atau ngentasake anak.
2. Upacara panggih
Adapun tata urutan upacara panggih adalah sebagai berikut :
a. Liron kembar mayang
Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk
mersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.
b. Gantal
Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing
pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.
c. Ngidak endhog
Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin
sudah pecah pamornya.

d. Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra


Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari
segala perbuatan yang kotor.
e. Minum air degan
Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).
f. Di-kepyok dengan bunga warna-warni
Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang
segala-galanya dan bahagia lahir batin.
g. Masuk ke pasangan
Bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
h. Sindur
Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin
siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.
Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar duduk disasana riengga, di sana dilangsungkan
tata upacara adat Jawa, yaitu :
i. Timbangan
Bapak pengantin putri duduk diantara pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra,
kaki kiri diduduki pengantin putri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi
pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang.
j. Kacar-kucur

Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta
kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah
kepada keluarganya.
k. Dulangan
Antara pengantin putra dan putri saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan laku memadu
kasih diantara keduanya (simbol seksual). Dalam upacara dulangan ada makna tutur
adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng yang
bermakna :
tumpeng tunggarana : agar selalu ingat kepada yang memberi hidup.
tumpeng puput : berani mandiri.
tumpeng bedhah negara : bersatunya pria dan wanita.
tumpeng sangga langit : berbakti kepada orang tua.
tumpeng kidang soka : menjadi besar dari kecil.
tumpeng pangapit : suka duka adalah wewenang Tuhan Yang Maha Esa.
tumpeng manggada : segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi.
tumpeng pangruwat : berbaktilah kepada mertua.
tumpeng kesawa : nasihat agar rajin bekerja.
3. Sungkeman
Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orang tua, serta mohon doa restu. Caranya,
berjongkok dengan sikap seperti orang menyembah, menyentuh lutut orang tua pengantin
perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra, baru kemudian kepada bapak dan
ibu pengantin putra.

D. Adat Istiadat Penggunaan Bahasa


Menurut masyarakat Jawa, kehidupan mereka sudah ditentukan dari sana, kekuasaan yang
didistribusikan kepada mereka sudah dijatah, oleh karena itu setiap orang dalam masyarakat
Jawa harus nrima in pandum (menerima apa yang diberikan padanya), walaupun distribusi
kekuasaan itu tidak merata dan mengakibatkan

ketidaksamaan derajat. Pandangan hidup

masyarakat Jawa ini telah membentuk mereka menjadi masyarakat yang berlapis-lapis.
Masyarakat Jawa tidak memiliki marga, tetapi dalam kehidupannya, masyarakat jawa
memiliki dua strata : (1) priyayi (bangsawan) dan (2) wong cilik (rakyat jelata). Oleh karena itu,
bentuk tuturan dalam budaya masyarakat Jawa terbagi dalam 4, yaitu : (a) ngoko, (b) ngoko alus,
(c) krama, dan (d) krama alus (Sudaryanto, 1991: 5). Dalam budaya Jawa, seorang bangsawan
melayani seorang rakyat jelata

bukanlah suatu hal yang lazim, dan merupakan penurunan

derajat. Jika seorang ndara (tuan) menggunakan bentuk krama alus pada saat berkomunikasi
dengan pembantunya, bukan bentuk ngoko sebagaimana lazimnya, hal ini bisa terjadi karena
ndara tersebut mempunyai tujuan tertentu, misalnya ingin menyindir atau sedang marah kepada
pembantunya. Dalam hal ini sang ndara menerapkan prinsip ironi ketika bertutur dengan
pembantunya. Prinsip ironi adalah second-order principle yang dibangun atas prinsip sopan
santun. Secara umum prinsip ironi ini menurut Leech (1993: 125) mengandung makna bahwa :
kalau anda terpaksa menyinggung perasaan petutur, usahakanlah agar tuturan anda tidak
berbenturan dengan prinsip sopan santun (PS) secara mencolok, biarlah petutur memahami
maksud tuturan anda secara tidak langsung, yaitu melalui implikatur.
Ironi mempunyai ciri yang khas, yaitu tuturannya terlalu sopan untuk situasi seperti pada
contoh berikut ini, yaitu ujaran yang dituturkan oleh seorang ndara kepada pembantunya.
1. Badhe tindakan to ?
(Mau jalan-jalan ya ?)
2. Nembe ngaso to?
(Lagi istirahat ya? )
Pada contoh (7) dan (8) di atas, jika tuturan tersebut diujarkan oleh seorang ndara
kepada pembantunya, maka implikatur dari prinsip ironinya adalah bahwa tuturan tersebut sangat
sopan, tetapi untuk tujuan yang tidak benar, yaitu untuk menyindir si pembantu atau untuk

menunjukkan bahwa sang bangsawan melarang si pembantu kegiatan tindakan (jalan-jalan) dan
ngaso (istirahat). Bentuk Tuturan (7) dan (8) ini merupakan salah satu strategi bertutur
masyarakat Jawa, yaitu dengan menggunakan bentuk ketaklangsungan, yang dalam teori
Trosborg termasuk dalam strategi ketiga : bertutur dengan cara terus terang dengan
menggunakan bentuk basa-basi. Dengan kata lain, tuturan ini merupakan salah satu cara untuk
melunakkan daya ilokusi agar dampak tuturan tidak sekeras dampak tuturan yang diujarkan
tanpa basa-basi. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas di kalangan masyarakat Jawa relatif
rendah. Disamping itu, kelas sosial dalam kehidupan bermasyarakat masih sangat berpengaruh,
seperti yang tampak pada contoh-contoh berikut.
3. Nyuwon pangapunten, menawi bapak kagungan wedhal, kulo badhe sowan bapak
benjang sonten.
(Maaf, jika bapak ada waktu, saya ingin ketemu bapak besok sore)
4. Nek kono ono wektu, aku arep nenggonmu sesok sore.
(Kalau kamu ada waktu, saya mau ke rumahmu besok sore)
5. Ibu tindak wonten pundi ?
(Ibu pergi kemana?)
6. Kowe arep nengendi ?
(Kamu mau pergi kemana ?)
Tuturan (9) dan (11) di atas, jika dilihat dari strata masyarakatnya, tidak mungkin
diujarkan oleh seorang bangsawan priyayi kepada seorang rakyat jelata wong cilik, walaupun
usia rakyat jelata itu lebih tua dari usia si bangsawan. Namun sebaliknya, tuturan (10) dan (12)
sudah pasti diujarkan oleh seorang priyayi kepada seorang wong cilik. Hal ini terjadi karena
budaya masayarakat Jawa yang menentukan bahwa krama alus dipergunakan oleh seseorang
yang berstrata rendah terhadap seseorang yang berstrata tinggi (Adisumarto, 1991: 26).
Bagi masyarakat Jawa hal yang perlu dipertimbangkan oleh peserta petuturan bila hendak
berbicara sopan dengan orang lain, untuk memelihara kerukunan sosial,

dijabarkan dalam

maksim-maksim sebagai berikut (Gunarwan, 2004: 7).


a.Kurmat (menghormati orang lain)
Masyarakat Jawa, dalam kehidupan sosialnya, menggunakan maksim kurmat

(menghormati orang lain). Maksim ini menggambarkan bahwa untuk menjaga kerukunan dalam
bermasyarakat, seseorang diharapkan dapat menghormati dan tidak memandang rendah orang
lain. Berikut contoh-contoh dari tuturan yang diujarkan oleh seorang direktur kepada
karyawannya, yang menggunakan maksim kurmat.
7. Mbak saget nglebetke data niki teng komputer ?
(Mbak bisa memasukkan data ini ke komputer?)
8. Mas, mengke tulung ditelponke Pak Basri nggih?
(Mas, nanti tolong telephon ke Pak Basri ya?)
Tuturan (13) dan (14) di atas, merupakan bentuk tuturan dalam bahasa Jawa dalam ragam
non formal dan menggunakan bentuk sapaan mbak dan mas yang menunjukkan salah satu
bentuk rasa hormat kepada orang yang disapa. Selain itu, pada tuturan (13) tersirat
ketaklangsungan : kalimat interrogatif untuk tujuan perintah, yaitu menyuruh untuk memasukkan
data ke komputer ( perintah/permintaan seorang direktur kepada bawahannya). Selanjutnya, pada
tuturan (14), selain penggunaan bentuk sapaan mas, penutur juga menggunakan kata tulung,
yang menunjukkan bahwa bentuk tuturan tersebut adalah sebuah permintaan dengan tujuan
memberi perintah, seperti pada tuturan (13).
b.Andhap asor ( rendah hati)
Maksim andhap asor (rendah hati) ini menggambarkan bahwa masyarakat jawa akan
selalu menghindari untuk memuji diri sendiri, (bandingkan dengan teori maksim kerendahan hati
oleh Leech). Tuturan-tuturan berikut adalah contoh prinsip sopan santun dari maksim ini.
9. Tiang menika sae sanget, kersa ambiantu dateng kula.
(Orang itu baik sekali, mau membantu saya)
10. Mugi panjenengan kersa nampi cecaosan dalem egkang boten sepinten punika.
( Terimalah pemberian saya yang tidak berharga ini)
11. Kula rumaos cubluk, kirang pangertosan
(Saya merasa bodoh, kurang mengerti)
Tuturan (15) di atas termasuk dalam ragam formal yang menunjukkan sopan santun,
karena tuturan tersebut bertujuan untuk memuji orang lain. Demikian pula tuturan (16) dan (17)
sopan karena menunjukkan kerendahan hati.

c.Empan papan (bisa menempatkan diri)


Maksim ini tampak pada salah satu tindak tutur yang dilakukan oleh seseorang kepada
orang lain yang berusia lebih tua darinya, seperti pada contoh- contoh berikut ini.
12. Nyuwunsewu, bapak dipunaturi lenggah wonten lajengan
(Maaf, bapak dimohon untuk duduk di depan)
13. Kula lenggah wonten wingkingipun bapak mawon
(Saya duduk di (kursi) belakang bapak saja)
Selain contoh tuturan (18) dan (19) di atas, maksim ini juga menunjukkan bahwa
masyarakat Jawa dapat menempatkan dirinya sesuai dengan stratanya, seperti yang telah
dijelaskan pada uraian sebelumnya. Berikut contoh tuturan yang menunjukkan penggunaan
maksim empan papan (bisa menempatkan diri) berdasarkan strata masyarakat Jawa.
14. Kula boten wantun celak kalian ibu bupati
(Saya tidak berani dekat dengan ibu bupati)
Tuturan (20) menunjukkan bahwa ibu bupati adalah priyayi dan tuturan ini
diujarkan oleh seorang biasa wong cilik.
d.Tepa selira (tenggang rasa)
Penggunaan maksim tepa selira (tenggang rasa) ini dapat dilihat pada contoh-contoh
tuturan berikut ini.
15. Mangga embah, lenggahipun
(Silahkan duduk nek)
16. Mriki kula betaken tasipun ibu
(Mari saya bawakan tasnya bu)
Tuturan (21) pada situasi tertentu, misalnya dalam bis umum, akan menjadi sangat sopan
jika diujarkan oleh seseorang yang berusia muda kepada seorang embah (nenek). Demikian
pula pada tuturan (22) misalnya, seorang pemuda tidak hanya berpangku tangan pada saat ia
melihat seorang ibu yang berada di dekatnya membutuhkan bantuan, membawakan tasnya yang
kelihatan berat. Pemuda tersebut akan mengujarkan tuturan (22) ini untuk tujuan membantu ibu
itu. Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa tuturan (21) dan (22) tersebut menunjukkan
bahwa dalam kehidupan sosialnya seseorang telah menggunakan maksim tepa selira (tenggang
rasa).

Keempat maksim ini (kurmat, andhap asor, empan papan dan tepa selira) saling
berkaitan satu sama lainnya. Ketika seseorang menggunakan maksim kurmat, maka orang itu
juga telah menggunakan empan papan, seperti yang terdapat pada tuturan (18) : Kula lenggah
wonten wingkingipun bapak mawon. Maksim kurmat pada tuturan ini tampak pada bentuk
sapaan bapak dan maksim empan papan tampak pada lenggah wonten wingkingipun.
Demikian pula ketika seseorang menggunakan maksim empan papan, ia juga menggunakan
maksim tepa selira. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan (21): Mangga embah, lenggahipun.
Maksim empan papan dan maksim tepa selira tampak pada tuturan tersebut secara keseluruhan.
Dari uraian dan contoh-contoh tuturan di atas, dapat dikatakan bahwa perbedaan struktur
sosial tercermin pada kedua budaya tersebut (budaya Batak dan budaya Jawa). Berbagai bentuk
tuturan, yang merupakan strategi bertutur yang digunakan oleh penutur pada saat berinteraksi
dengan lawan tuturnya, akan mencerminkan bentuk hubungan sosial dan budaya antara penutur
dan lawan tuturnya. Dengan kata lain, budaya akan mempengaruhi penggunaan bahasa oleh
sekelompok masyarakat, seperti yang diuraikan di atas, yaitu contoh-contoh tuturan oleh
masyarakat Jawa, didasarkan pada tiga parameter pragmatik, yaitu jauh dekatnya hubungan
penutur dan lawan tutur, status sosial penutur dan tingkat tindak tutur yang dipilih, dan
penggunaan tingkat tindak tutur masyarakat Batak tidak membedakan derajat antara warga
masyarakatnya.
Perbedaan tindak tutur antara masyarakat Jawa dan masayarakat Batak tersebut akan
berpengaruh terhadap kedua masayarakat pengguna bahasa, jika mereka saling berhubungan baik
dalam berkomunikasi maupun dalam pergaulan sehari-hari, dan hal ini akan sangat terasa bagi
masayarakat Jawa yang priyayi, karena masayarakat priyayi terbiasa dengan tuturan-tuturan
kromo alus, jika bersentuhan dengan masyarakat Batak yang tidak memiliki tindak tutur yang
hierarkis, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman . Demikian pula sebaliknya bagi masyarakat
Batak yang akan merasa aneh jika dalam bertutur dengan masyarakat Jawa, mereka mendengar
kata ndara (tuan) untuk menyapa.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam berinteraksi penutur dan lawan tutur, baik
masayarakat Jawa maupun masayarakat Batak, perlu mempertimbangkan agar bentuk tuturantuturan yang digunakan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip kesopanan yang merupakan
kebiasaan dan menjadi lazim menurut budaya masing-masing kelompok masyarakat. Disamping

itu,

masayarakat kedua bahasa tersebut juga sebaiknya berusaha untuk saling memehami

perbedaan-perbedaan kebudayaannya

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan mengetahui dan memahami budayanya, maka masyarakat akan tergerak hatinya
untuk mencintai dan menjaga budaya mereka. Jika rasa memiliki telah tumbuh, maka mereka
tidak akan pernah mau kehilangan budayanya. Sehingga mereka akan berusaha dengan keras
untuk menjaga budayanya tersebut dari segala hal yang mengancam keberadaan budaya tersebut
dan mereka akan selalu berusaha untuk melestarikannya.
Kita harus berupaya keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini, sehingga kita
semua dapat terus menjaga kelestariannya. Dengan demikian generasi penerus kita masih dapat
menikmati budaya yang elok ini.
Sehingga kekhasanahan budaya bangsa ini juga akan tetap terjaga hingga akhir nanti.
Karena menjaga budaya daerah sama halnya dengan nenjaga budaya negeri ini. Dan hal ini
adalah salah satu perwujudan kecintaan kita kepada tanah air.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1978. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Jakarta : Balai Pustaka
Maruti,Retno.2009. Asal-Usul Budaya Jawa.http://www.tokohindonesia.com
[ 8 Mei 2009]
Nasukha, Yaqub, dkk. 2009. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Ilmiah.
Surakarta : Penerbit MediaPerkasa