Anda di halaman 1dari 14

AUDIT MANAJEMEN

Audit Produksi dan Operasi

DISUSUN OLEH:

UNIVERSITAS STIKUBANK SEMARANG


(KAMPUS MUGAS)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya telah memberikan petunjuk, kesehatan, kesempatan dan
kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyajikan Makalah yang berjudul Audit Produksi
dan Operasi . Di dalam tulisan ini, disajikan pokok-pokok bahasan yang disusun sebagai
bahan penuntun atau pegangan mahasiswa dengan materi yang telah disesuaikan khususnya
mata kuliah Audit Manajemen. Harapan penulis bahwa makalah ini dapat membantu para
mahasiswa dan tim pengajar dalam kegiatan perkuliahan. Penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Adi Riris selaku dosen mata kuliah Audit Manajemen atas bimbingan
dan pengarahannya selama penyusunan makalah ini serta pihak-pihak yang yang telah
membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu. Disadari bahwa dengan kekurangan dan
keterbatasan yang dimiliki penyusun, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk
lebih teliti, tetapi masih dirasakan banyak kekurangtepatan, Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang
membutuhkan.

Semarang, 7 April 2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...

KATA PENGANTAR..

DAFTAR ISI.....

BAB I PENDAHULUAN....

A. Latar Belakang..................

BAB II AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI...................................


A. Pengertian Audit dan Operasi...........................................................................
B. Prinsip-Prinsip Umum.......................................................................................
C. Tujuan Audit.....................................................................................................
D. Manfaat Audit..................................................................................................
E. Tahap - Tahap Audit........................................................................................
F. Ruang Lingkup Audit......................................................................................
G. Produktifitas dan Peningkatan Nilai Tambah..................................................
H. Pengendalian dan Produksi dan Operasi..........................................................
BAB III PENUTUP................................................................................................... ..
I.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BAB II
AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI
A. Pengertian Audit Produksi Dan Operasi
Audit produksi dan operasi melakukan penilaian secara komprehensif terhadap
keseluruhan fungsi audit produksi dan operasi untuk menentukan apakah fungsi ini telah
berjalan dengan memuaskan (ekonomis, efektif dan efisien). Audit ini dilakukan tidak hanya
terbatas pada unit produksi tetapi juga berlaku untuk keseluruhan proses produksi dan
operasi. Audit ini juga berperan melengkapi fungsi pengendalian kualitas.
Beberapa alasan yang mendasari perlu dilakukannya audit ini antara lain :

Proses produksi dan operasi harus berjalan sesuai dengan prosedur yang telah

ditetapkan.
Kekurangan/kelemahan yang terjadi harus ditemukan sehingga segera dapat
diperbaiki.
Konsistensi berjalannya proses harus diungkapkan.
Pendekatan proaktif harus menjadi dasar dalam peningkatan proses.
Berjalannya tindakan korektif harus mendapat dorongan dan dukungan dari berbagai
pihak yang terkait.
B.

Prinsip-Prinsip Umum
1.

Tujuan utama audit adalah untuk menentukan apakah proses produksi dan operasi
yang berjalan saat ini sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk
memastikan bahwa produk yang dihasilkan konsisten dengan standar kualitas yang
telah ditetapkan serta mengidentifikasi wilayah (bagian) yang masih memerlukan

perbaikan.
2. Auditor harus secara objektif dan sistematis mengumpulkan dan menganalisis data
yang cukup dan relevan sebagai dasar penilaian terhadap ketaatan perusahaan dalam
menerapkan kriteria yang telah ditetapkan.
3. Auditor harus mengklarifikasi ketidaksesuaian yang terjadi antara aktivitas produksi
dan operasi denan kebutuhan kriteria (standar) yang telah ditetapkan dan membuat
rekomendasi untuk peningkatan.
C.

Tujuan Audit
1.

Apakah produk yang dihasilkan telah mencerminkan kebutuhan pelanggan (pasar).

2.

Apakah strategi serta rencana produksi dan operasi sudah sevara cermat menghubungkan
santara kebutuhan untuk memuaskan pelanggan dengan ketersediaan sumber daya serta

3.

fasilitas yang dimiliki perusahaan.


Apakah strategi, rencana produksi dan operasi telah mempertimbangkan kelemahankelemahan internal, ancaman lingkungan eksternal serta peluang yang dimiliki

perusahaan.
4. Apakah proses transformasi telah berjalan secara efektif dan efisien.
5. Apakah penempatan fasilias produksi dan operasi telah mendukung berjalannya proses
6.

secara ekonomis, efektif, dan efisien.


Apakah pemeliharaan dan perbaikan fasilitas priduksi dan operasi telah berjalan sesuai
dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam mendukung dihasilkannya produk yang sesuai

dengan kualitas, kuantitas dan waktu yang telah ditetapkan.


7. Apakah setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan operasi telah melaksanakan
aktivitasnya sesuai dengan ketentuan serta aturan yang telah ditetapkan perusahaan.
D.

Manfaat Audit
1.

Dapat memberikan gambaran kepada pihak yang berkepentingan tentang ketaatan dan
kemampuan fungsi produksi dan operasi dalam menerapkan kebijakan serta strategi

2.

yang telah ditetapkan.


Dapat memberikan informasi tentang usaha-usaha perbaikan proses produksi dan

3.

operasi yang telah dilakukan perusahaan serta hambata-hambatan yang dihadapi.


Dapat menentukan area permasalahan yang masih dihadapi dalam mencapai tujuan

produksi dan operasi serta tujuan perusahaan secara keseluruhan.


4. Dapat menilai kekuatan dan kelemahan strategi produksi dan operasi serta kebutuhan
perbaikannya dalam meningkatkan kontribusi fungsi ini terhadap pencapaian tujuan
perusahaan.
E. Tahap-Tahap Audit
1.

Audit Pendahulua
Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor dengan
organisasi auditee. Pertemuan ini bertujuan untuk mengonfirmasi scope audit,
mendiskusikan rencara audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi auditee,
objek yang diaudit, mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan prosedur yang
diterapkan pada prises produksi dan operasi.
Pada tahap ini auditor melakukan overview terhadap perusahaan secara umum,
produk yang dihasilkan, proses produksi dan operasi yang dihasilkan, melakukan
peninjauan terhadap produksi, layout pabrik, sistem computer yang digunakan dalam
upaya menunjang keberhasilan fungsi ini dalam mencapai tujuan. Setelah melakukan
6

tahap ini auditor dapat memperkirakan kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi pada
fungsi produksi dan operasi perusahaan auditee.
2.

Review dan pengujian pengendalian manajemen


Auditor melakukan review dan pengujian terhadap bebrapa perubahan yang
tejadi pada struktir perusahaan, sistem manajemen kulatias, fasilitas yang digunakan
dan/atau personalia kunci dalam perusahaan, sejak hasil audit terakhir. Pada tahap ini
auditor juga mengindentifikasi dan mengklasifikasikan penyimpangan dan gangguangangguan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan terhambatnya pencapaian tujuan
audit produksi dan operasi.
Berdasar review dan pengujian yang dilakukan pada tahap ini auditor
mendapatkan keyakinan tentang dapat diperolehnya data yang cukup dan kompeten serta
tidak terhambatnya akses untuk melakukan pengamatan yang lebih dalam terhadap
tujuan audit sementara yang telah ditetapkan pada tahapan audit sebelumnya.

3.

Audit Lanjutan (Terinci)


Auditor melakukan audit yang lebih dalam dan pengembangan temuan
terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan yang berkaitan dengan produksi dan operasi.
Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit dilakukan untuk mendapatkan
penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang adanya hal-hal yang merpuakan
kelemahan yang ditemukan auditor.
Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapata dipercaya,
auditor menggunakan daftar pertanyaan yang ditujukan kepada berbagai pihak yang
berweang dan berkompeten berkaitan dengan masalah yang diaudit.

4.

Pelaporan
Laporan audit disajikan dengan format :
a. Informasi latar belakang
Menyajikan gambaran umum fungsi produksi dan operasi dari perusahaan yang
diaudit, tujuan dan strategi pencapaiannya serta ketersediaan sumber daya yang
b.

mendukung keberhasilan implementasi strategi tersebut.


Kesimpulan Audit dan Ringkasan Temuan Audit
Menyajikan kesimpulan atas hasil audit yang telah dilakukan auditor dan ringkasan

c.

temuan audit sebagai pendukung kesimpulan yang dibuat.


Rumusan Rekomendasi
Menyajikan rekomendasi yang diajukan auditor sebagai alternative solusi atas

kekurangan yang masih terjadi.


d. Ruang Lingkup Audit
7

Ruang lingkup audit menjelaskan tetang cakupan (luas) audit yang dilakukan
sesuai dengan penugasan yang diterima dengan pemberi tugas audit
5.

Tindak Lanjut
Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan alternatife
perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan yang masih terjadi
pada perusahaan. Tindak lajut yang dilakukan merupakan bentuk komitmen manajemen
untuk menjadikan organisasinya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

F.

Ruang Lingkup Audit


1. Rencana Produksi dan Operasi
Rencana ini menghubungkan

kebutuhan

pasar

atas

produk

yanga

dipersyaratkan, aktivitas pengembangan dan rekayasa, kapasitas produksi, rencana


persediaan, keuangan, ketersidaan SDM, bahan baku, dan tingkat imbal hasil investasi
yang dipersyaratkan investor.
Penyusunan rencana induk harus didasarkan pada ketersediaan kapasitas dan
rencana penggunaannya, peluang dan ancaman yang dihadapi dan usaha-usaha untuk
melaukan perbaikan dan berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi.
Suatu rencana induk memuat tentang :
a) Jadwal induk produksi
b) Penilaian atas penggunaan kapasitas produksi
c) Tingkat persediaan
d) Perencanaan keseimbangan lintas produksi
Menjadikan rencana produksi utama sebagai pedoman operasi dalam
menunjang startegi pencapaian tujuan perusahaan, beberapa pertanyaan mendasar yang
harus dijawab oleh manajer operasi dalam merumuskan rencana produksi tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tesebut meliputi :
Apakah persediaan akan digunakan untuk menyerap perubahan permintaan

selama periode permintaan.


Apakah perubahan-perubahan yang terjadi dalam volume produksi dan operasi

akan diakomodasi dengan cara mengubah jumlah tenaga kerja.


Apakah perusahaan akan menggunakan tenaga paruh waktu, atau waktu lembur
jika terjadi lonjakan permintaan yang melebihi kemampuan kapasitas yang
tersedia untuk mengerjakannya dan bagaimana perusahaan mengelola kapasitas

menganggur jika terjaadi penurunan permintaan.


Apakah perusahaan akan menggunakan subkontaktor dalam mengantisipasi
permintaan yang berfluktuasi, sehingga kestabilan tingkat SDM dapat
dipertahankan.
8

Apakah perusahaan memutuskan untuk mengubah harga atau faktor-faktor yang


lain, untuk memengaruhi permintaan.

2.

Jadwal Induk Produksi


Jadwal produksi utama membuat spekulasi tentang apa yang akan dibuat dan
kapan akan dibuat, sesuai dengan rencana produksi. Rencana ini mencakup input yang
akan diproses seperti permintaan konsumen, kemampuan teknis, ketersediaan SDM ,
fluktuasi persediaan, kinerja pemasok, dan berbagaipertimbangan lainnya. Jadwal
produksi ini mendiskripsikan berapa jumlah produksi yang harus dilakukan untuk setiap
kelompok barang. Kapan produk tersebut harus sudah siap untuk diserahkan kepada
konsumen, sumber daya apa saja yang harus tersedia untuk menghasilkan produk sesuai
dengan rencana operasi perusahaan dalam memenuhi spesifikasi pelanggan.
Jadwal produksi yang akurat dapat memininumkan biaya persediaan dan
penyetelan (set up) mesin karena jadwal ini telah menghubungkan antara kebutuhan
konsumen dengan jadwal pengiriman, penerimaan bahan baku dan pengelolaan kapasitas
produksi yang dimiliki perusahaan. Disamping itu, jadwal produksi yang akurat juga
dapat meminimumkan kerja lembur (over time), waktu sumber daya yang menganggur
(idle time resources) dan penentuan tingkat persediaan yang optimal.
3.

Penilaian atas Penggunaan Kapasitas Produksi


Perusahaan harus memiliki kebijakan dan strategi yang tepat berkaitan dengan
besaran kapasitas yang harus dimiliki. Perusahaan juga harus memiliki dasar dan
metode yang tepat dalam meramalkan kebutuhan kapasitasnya dimasa depan.
Pengelolaan kelebihan dan penentuan sumber lain jika terjadi kekurangan dalam
memenuhi kebutuhan operasi harus dituangkan dalam suatu pedoman tertulis
sehingga pengambilan keputusan berkaitan dengan kapasitas tidak bias dengan tujuan
produksi dan operasi yang telah ditetapkan. Pertimbangan kapasitas ini harus
mendasari terjadinya praktik optimalisasi terhadap penggunaan kapasitas produksi.
Jika berdasarkan rencana penjualan ternyata rencana produksi lebih daripada
kemampuan kapasitas yang dimiliki, memungkinkan perusahaan untuk menerima
pesanan produksi dengan harga dibawah tingkat laba normal untuk memaksimalkan
penggunaan kapasitas. Karena pada kondisi ini biaya tetap untuk kapasitas yang
menganggur yang menjadi dasar perhitungan harga pokok produk ada dalam posisi
nihil (Nol). Rencana induk produksi harus meminimalkan terjadinya kapasitas
menggangur, untuk menjadikan operasi berjalan secara efektif dan efisien.
9

4.

Tingkat Persediaan
Secara umum persediaan pada industri manufaktur terdiri atas persediaan
bahan baku, barang dalam proses, barang jadi, dan persediaan perlengkapan
(supplies). Kebijakan tentang perseddiaan bahan baku harus memerhatikan hubungan
permintaan atas persediaan tetsebut, apakah termasuk dalam kelompok permintaan
independen atau permintaan dependen. Hal ini penting sekali karena akan
berpengaruh kepada metode permintaan atas persediaan tersebut dalam mendukung
efektivitas dan efisiensi, proses produksi dan operasi.

5.

Perencanaan Keseimbangan Lintas Produksi


Keseimbangan lintas produksi atau disebut juga keseimbangan ini produksi
(production line balancing) bertuan untuk memperoleh suatu arus produksi yang
lancer guna memperoleh optimalisasi pengguna fasilitas, tenaga kerja, dan peralatan
yang tinggi melalui penyeimbangan waktu kerja antarstasiun kerja (work station).
Elemen-elemen tugas dalam suatu aktivitas produksi dikelompokkan sedemikian rupa
diantara stasiun kerja, sehingga diperoleh keseimbangan dalam penggunaan sumber
daya produksi. Dengan demikian, tujuan produksi tercapai dengan ekonomis, efektif,
dan efisien.
Pengelompokan penugasan dalam mencapai keseimbangan lintas produksi
dapat dilakukan dengan metode coba-coba (trial and error). Metode ini lebih
sederhana sehingga mudah untuk diterapkan untuk kasus-kasus dengan jumlah
elemen tugas yang tidak banyak. Metode pengelompokan penugasan yang lain adalah
metode heuristik, yang memberikan hasil lebih akurat pada kasus jumlah elemen
penugasan yang sangat banyak. Metode ini mengelompokan penugasan dalam
mencapai keseimbangan lintas produksi yang optimal dengan prosedur sebagai
berikut:
Menetapkan tugas yang dapat dipilih sebagai tugas awal (tidak ada tugas lain

yang mendahuluinya atau tugas yang mendahuluinya sudah selesai dikerjakan).


Menetapkan tugas yang cocok dengan waktu yang tersedia.
Menetapkan penugasan pada suatu stasiun kerja sampai maksimal.
Melanjutkan kestasiun kerja berikutnya dengan mengulangi prosedur diatas
sampai semua penugasan selesai.

Tabel 1

10

Kriteria dan Pengukuran Variabel Rencana Induk Produksi dan Opersai


No Variabel
1. Jumlah Produksi Induk

Kriteria
Tepat kuantitas

Pengukuran
rasio hasil produksi dengan
kebutuhan

2.

Optimalisasi

Tepat mutu (kuantitas)

standar kualitas

Tepat waktu

jadwal

Penggunaan kapasitas penuh

Sumber Daya

Tingkat Persediaan

4.

Keseimbangan
produksi

barang

kepasar
rasio rencana produksi dengan
kapasitas tersedia

Maksimum utilisasi
3.

pelepasan

rasio

pengguna

kapasitas

dengan kapasitas tersedia


Persediaan minimum (zero) Rasio jumlah persediaan akhir
dengan hasil produksi
lintas Tidak ada kemacetan proses Rencana
operasi
produksi

pemeliharaan mesin produksi

Keseimbangan
operator

dan

dengan

beban Raiso operator dengan mesin


mesin produksi

produksi

G.

Produktivitas Dan Peningkatan Nilai Tambah


Keunggulan laen production, didukung oleh kebijakan dan praktik peroduksi yang
secara maksimal mengoptimalkan pengguna sember daya perusahaan untuk meningkatkan
keunggulan bersaingnya, kebijakan dan praktik tersebut meliputi :
1. Penghapusan persediaan
Produsen dengan laen production memfokuskan produksi dan operasinya pada
penurunan (penghapusan) persediaan. Metode ini menggunakan just In Time dalam
menurunkan persediaan dan pemborosan yang disebabkan oleh persediaan tersebut.
Mereka menurunkan waktu pemborosan dan biaya, dalam meningkatkan efisiensi proses
operasinya.
2. Zeno Defect
Metode produksi ini membangun suatu sistem produksi dan operasi yang dapat
membantu karyawan memproduksi unit yang sempurna untuk setiap kalinya. Persiapan
proses produksi dilakukan dengan lebih matang untuk mencegah terjadinya kegagalan
3.

dalam menghasilkan produk sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
Meminimalkan kebutuhan tempat (Areal)
Upaya meminimalkan jarak tempuh unit produk dapat mengurangi kebutuhan tempat
(areal) dalam proses produksi. Penataan fasilitas poduksi yang terintegrasi dengan
11

gudang penyimpanaan bahan baku dan produk jadi, dapat menghemat kebutuhan tempat
tanpa mengganggu jalannya proses produksi
4. Kemitraan dengan Pemasok
Melibatkan pemasok kedalam rencana keberhasilan perusahaan merupakan model yang
banyak dikembangkan dalam praktik produksi modern saat ini. Dengan membangun
hubungan yang erat (kemitraan) dengan pemasok dan menjelaskan rencana dan standar
kebutuhan bahan kapadanya, pemasok menjadi memahami dengan baik kebutuhan
perusahaan. Dan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan perusahaan terhadap
pasokan bahan baku baik dalam kualitas, kuantitas, dan waktu pasokan tersebut
dibutuhkan harus sudah tersedia diperusahaan.
5. Meminimalkan Aktivitas yang tidak Menambah Nilai
Melalui suatu analisis aktivitas dan komitmen untuk melakukan perbaikan secara terusmenerus, perusahaan yang menerapkan metode ini, meminimalkan aktivitas-aktivitas
6.

yang tidak berguna (tidak menambah nilai) baik bagi pelanggan maupun bagi perubahan.
Pengembangan Angkatan kerja
Dengan secara terus-menerus memperbaiki desain pekerjaan, pelatihan, partisipasi,
komitmen karyawan dan pemberdayaan kelompok-kelompok kerja, metode ini secara

7.

konsisten mengembangkan angkatan kerja.


Menciptakan Tantangan dalam Bekerja
Mengidentifikasi tujuh sumber pemborosan yang mengakibatkan operasi perusahaan
tidak efisien, meliputi:
Produksi yang lebih besar dari kebutuhan (penumpukan persediaa)
Waktu tunggu dan/atau waktu menganggur
Penanganan material yang terlalu sering
Persediaa (bahan baku dan/atau barang jadi)
Pergerakan peralatan dan operatornya yang tidak menambah nilai bagi produk.
Proses produksi yang tidak penting (tidak dibutuhkan)
Pengolahan kembali produk cacat

H.

Pengendalian Produksi Dan Operasi


1. Maksimumkan Tingkat Pelayanan
Pengendalian harus menjamin bahwa pelayanan telah diberikan secara tepat. Beberapa
elemen yang harus mendapat perhatian khusus adalah: kualitas produk, ketersediaan
produk (jika diinginkan), harga yang kompetitif, penyediaan untuk stock pengaman dan
penyerahan yang tepat waktu. Proses harus memahami bahwa pelanggan yang harus
dilayani dengan tepat bukan saja pelanggan eksternal tetapi yang telah kalah pentingnya
2.

adalah pelanggan internal.


Minimumkan Investasi pada Persediaan

12

Pengendalian harus mampu memandu seluruh aktivitas (utama dan pendukung)


manufaktur ke dalam suatu proses yang terintegrasi, sehingga proses berjalan sesuai
dengan rencana dan jadwal yang telah ditentukan. Aktivitas pemesanan dan penerimaan
bahan harus terintegrasi dengan jadwal produksi demikian juga jadwal produksi harus
terintegrasi dengan rencana (jadwal) penyerahan kepada pelanggan. Semua hubungan ini
harus berjalan seperti halnya hubungan pelanggan pemasok, dimana setiap pemasok
harus memuaskan pelanggannya. Pengendalian yang baik akan mencapai arus produksi
yang mulus (smooth production flow) dengan persediaan yang minimumkan dan waktu
3.

tunggu yang pendek.


Efisiensi produksi dan Operasi
Untuk memperoleh harga yang kompetitif, pengendalian harus meminimumkan biayabiaya yang terjadi dalam produksi dan operasi. Efisiensi produksi dan operasi adalah
sesuatu yang mutlak dan harus menjadi budaya kerja pada setiap bagian yang terlibat
dalam proses produksi dan operasi. Dalam hal ini pengendalian harus semaksimal
mungkin mampu menekan pemborosan (aktivitas tidak bernilai tambah) yang terjadi.
Perhatian khusus harus diberikan terhadap supervise pabrik dan tenaga kerja tidak
langsung, dukungan dan keterlibatan pekerjaan, kesiapan mesin dan peralatan, fasilitas
pendukung yang efektif dan berbagai hal lain yang berpengaruh baik langsung maupun
tidak langsung.
Pengendalian produksi dan operasi meliputi pengendalian terhadap keseluruhan

komponen dan tahapan dalam proses produksi mulai dari penanganan bahan baku sampai
dengan penanganan penyerahan produk jadi ke gudang. Secara rinci pengendalian tersebut
meliputi hal-hal berikut:
o Pengendalian Bahan Baku
Pengendalian bahan baku bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang diolah
dalam proses produksi telah sesuai dengan kebutuhan standar kualitas produk yang
dihasilkan perusahaan. Pengendalian bahan baku mencakup keseluruhan aktivitas yang
berhubungan dengan bahan baku mulai dari pembelian, jadwal penerimaan, penanganan
pada saat diterima, penyimpanan sampai dengan bahan baku tersebut digunakan (diolah)
o

dalam proses produksi.


Pengendalian Peralatan dan Fasilitas Produksi
Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi bertujuan untuk mematikan bahwa semua
peralatan dan fasilitas produksi ada dalam keadaan siap untuk melaksanakan proses
produksi sesuai dengan ketentuan penggunaannya.desain dan penempatan peratan yang

13

tepat menjadi faktor utama berjalannya proses produksi secara efektif dan efisien mampu
o

menghasilkan produk tepat sesuai dengan yang telah dijadwalkan.


Pengendalian Transformasi
Fungsi transformasi mengolah input menjadi output sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Pengendalian transformasi memegang peranan penting untuk memastikan
bahwa proses pengolahanini bejalan sesuai dengan kebutuhan proses yang efektif dan
efisien. Pada pengendalian ini tugas seorang (tim) pengendali kualitas (quality control)
sangat penting untuk memastikan bahwa proses yang berjalan menghasilkan produk yang
tepat (kuantitas, kualitas, dan waktu) dengan pengorbanan yang minimum. Untuk
mencapai tujuan tersebut, pengendalian ini mencakup pengesahan proses produksi dan
pengendalian perubahan atas permintaan, inspeksi sampel dalam proses dan

pengendalian laboratorium dari pemprosesan ulang.


Pengendalian kualitas
Pengendalian kualitas tidak cukup dipahami sebagai pengendalian proses produksi, yang
hanya membebankan tanggung jawab kualitas produk kepada unit kendali kualitas.
Sistem biaya kualitas dapat memberikan informasi kepada perusahaan tentang berbagai
aktivitas yang terlibat dalam menghasilkan produk sesuai dengan standar kualitas yang

telah ditetapkan perusahaan.


Pengendalian Barang Jadi
Merupakan pengendalian yang dilakukan terhadap pengelolaan barang setelah selesai
diproduksi. Pengendalian ini bertujuan untuk memastikan bahwa penanganan barang
setelah produksi berjalan sesuai dengan prosedur, sehingga tidak terjadi kerusakan
barang dalam proses, penyimpanan, atau pendistribusiannya. Untuk memastikan bahwa
barang dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan pelanggan pada saat diserahkan,
pengendalian ini melakukannya melalui tahapan :
1) verifikasi penanganan, penyimpanan dan inspeksi,
2) pengujian dan distribusi.

14