Anda di halaman 1dari 3

2.

1 Alasan untuk Resistensi Pengguna


Premis dari perspektif sosial adalah bahwa sistem atau karakteristik manusia menyebabkan
resistensi. Alasan sebenarnya untuk resistensi dirasakan pengguna ketakutan akan kerugian
sebelum dan setelah pelaksanaan sistem. Karena penilaian yang berbeda dari dampak dari
interaksi sistem pada organisasi, pengguna menolak sistem dengan cara yang berbeda. Teori
ekuitas yang menunjukkan bahwa pengguna mengevaluasi perubahan diperkenalkan oleh
implementasi IS untuk menilai apakah perubahan akan menguntungkan bagi mereka.
Individu terus-menerus khawatir tentang masukan mereka, hasil dan keadilan pertukaran.
Ketika individu merasakan penurunan keuntungan bersihnya atau ketidakadilan dibandingkan
dengan orang lain, individu cenderung tertekan dan menolaknya dengan mencoba untuk
meminimalkan input dan mereka.
Alasan resistensi dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori: penurunan hasil
individu dan peningkatan masukan individu. Kekalahan kekuasaan dan status biasanya
merupakan efek penurunan pertama yang dirasakan dari implementasi sistem. Evaluasi
kognitif pengguna dari sistem ERP sering disebabkan oleh unsur-unsur afektif seperti
ketidakamanan pekerjaan. ERP dapat mengakibatkan sistem berlebihan dan pengguna di
PHK karena pengguna takut kehilangan otonomi dan kontrol atau keterampilan tertentu.
Atas dasar teori ekuitas, upaya diperlukannya peningkatan adalah penyebab bagian
lain dari resistensi pengguna. Dengan penerapan sistem integrasi, pengguna takut kebutuhan
untuk tingkat keterampilan kerja yang lebih tinggi untuk melakukan pekerjaan dan
menghabiskan lebih banyak waktu di tempat kerja.
Selain pandangan individual dari ekuitas implementasi sistem, integrasi bisnis sistem
juga dapat membawa perhatian pengguna ke tingkat organisasi. Organisasi menganggap
bahwa usaha untuk memahami nilai dari sistem baru yang terintegrasi dari pandangan
organisasi dengan harapan lebih untuk mencapai tujuan strategis dan investasi yang tinggi
dalam bisnis perubahan, dapat memunculkan kekhawatiran pengguna tentang evaluasi hasil
nilai terhadap apa yang diinvestasikan oleh organisasi.
2.2 Perilaku Resistensi
Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa perilaku yang berbeda bahwa respon pengguna
untuk resistensi terwujud melalui perilaku seperti sabotase dan protes vokal atau sikap
seperti penarikan diri dari pekerjaan dan komitmen yang berkurang. Perilaku resistensi ini
dapat menurunkan produktivitas, mempengaruhi kualitas barang atau jasa, meningkatkan
biaya produksi, atau menurunkan tingkat keselamatan kerja. Berdasarkan tingkat resistensi
yang diamati dalam interaksi antara pengguna dan sistem, perilaku resistensi yang disusun
dalam tiga jenis: non-destruktif, destruktif aktif dan destruktif pasif.
Resistor dengan perilaku non-destruktif berusaha untuk menghilangkan kontak
dengan sistem untuk menghindari perasaan negatif. Oermintaan untuk transfer pekerjaan,
menarik dari pekerjaan atau meningkatkan ketidakhadiran dari pelatihan dengan kembali
terlambat dari makan siang atau rehat kopi atau menyalahgunakan cuti sakit. Kadang-kadang
mereka mengkomunikasikan perasaan negatif satu sama lainnya. Perilaku non-destruktif
merusak organisasi secara jangka panjang.

Resistor dengan perilaku destruktif aktif mungkin muncul untuk menjadi kerusakan
langsung ke sistem baru melalui kesengajaan. Dalam penyelidikan implementasi kasus ES
menggambarkan masalah yang disebabkan oleh bentrokan antara konsultan dan klien yang
membawa kegagalan dari penerapan ES dan keterlambatan dalam proyek serta peningkatan
anggaran. Perilaku ini dapat sangat mempengaruhi keberhasilan perubahan organisasi.
Sementara resistor destruktif pasif mungkin tidak sengaja menyerang proses baru dari
IT-enabled. Mengubah, mengurangi produktivitas atau kualitas dengan pasif seperti tindakan
tidak kooperatif yaitu mengabaikan atau menunda tugas kerja, enggan mempelajari
pengetahuan dan keterampilan baru, membuat kesalahan ceroboh atau menghabiskan waktu
berlebihan mendiskusikan hal-hal pribadi.
3. Pendekatan Penelitian
Studi kasus ini membangun sebuah pengertian antara resistensi pengguna dalam perubahan
yang di bawah oleh integrasi bisnis sistem. Studi ini juga berfokus pada bagimana pengguna
berinteraksi dan bagaimana perilaku setelah sistem diterapkan.
3.1 Desain Penelitian
Mencari hubungan langsung antara teknologi yang digunakan dengan perilaku resistensi yang
mmebuthkan pengumpulan data yang mendalam dan luas. Dalam studi kasus yang mendalam
memungkinkan organisasi mengungkap informasi secara detail dan mengantarkan eksplorasi
sifat data. Akan tetapi untuk mengumpulkan bukti untuk mengungkapkan kasus untuk
membuat sebuah kerangka.
Metode Delphi digunakan untuk memahami topik penelitian denga mengumpulkan informasi
dengan cakupan yang luas dengan penulusaran yang mendalam berdasarkan pengalaman
pengguna. Metode Delphi merupakan sebuah metode sistematik, metode peramalan yang
berulang berdasarkan grup panel parah ahli yang independen.
3.2 Komposisi dari Panel Delphi
Tipe peringkat dari survei Delphi didesain untuk memperoleh opini dari panel ahli melalui
feedback berulang yang terkontrol dipilih menjadi metode penelitian dalam studi ini.
Komposisi ini berisi dari tim yang diseleksi berdasarkan latar belakang yang berbeda. Tim ini
berisi 4 pengguna operasional, 4 pengguna manajerial, dan 12 manajer proyek ES. 4
pengguna operasional dan 4 pengguna manajerial dipilih untuk menciptakan keseimbangan
opini.
3.3 Pengumpulan Data dan Analisis
Penelitian ini berdasarkan prosedur yang diuraikan oleh Schmidt (1997) untuk menyaring,
menambahkan, dan memberi peringkat penting alasan dari resistensi, secara berkala
mengobservasi perilaku resistensi dan strategi efektif untuk mengendalikan resistensi.
Phase 1 adalah untuk memvalidasi dan memperluas daftar dari resistensi pengguna. Daftar ini
berisi pokok resistensi, termasuk perilaku resistensi, alasan resistensi dan startegi untuk
mengendalikan resistensi.
Phase 2

Daftar acak yang ditampilkan kepada panel dan panelis yang ditanyakan mengenai pokok
observasi yang telah mereka observasi. Pokok-pokok item yang dipilih kemduian diseleksi
dan dihilangkan
Phase 3
Panelis memberikan peringkat kepada pokok item resistensi yang dipilih. Hal ini dilakukan di
depan konferensi dengan semua panelis dalam satu ruangan dan dikomunikasikan langsung
antar muka. Sesi pertama fokus pada operasional, sesi kedua pada manajerial. Panelis
menggunakan Kendalls W sebagai alat ukur untuk menciptakan konsensus.
Phase 4
Panelis memberikan pendapat mengenai refleksi dari peringkat yag sudah dihasilkan dan
membentuk sebuah interpretasi dari pola resistensi dari pengguna operasional dan
manajeraial.