Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

BAMBU SEBAGAI PENGGANTI KAWAT ANYAM PADA PEMBUATAN FERRO-CEMENT

Oleh :

Satwarnirat & Dwina Archenita

Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang

Archenita Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang ABSTRACT Ferro cement is a mix material between mortar

ABSTRACT

Ferro cement is a mix material between mortar and chicken wire sheet or small diameter steel mesh which is bound to be a rigid structure (Nugraha, 1992). The cement mortar is functioned as a mass while steel wire give strength and ductility (Tjokrodimuljo, 1994). Any material functioned as Ferro cement must fulfill categories required. One material that can be used as the replacement of plaited mats wire or steel wire is bamboo.

Bamboo is important material that may replace the use of wood. Hence, it can be found in many counties in West Sumatra. Besides, bamboos also have been utilized as replacement of bones for the basin of rainwater (cement bamboo basin) that give a good strength.

The research varies the Ferro cement bones into three, namely chicken wire bones, 4 mm thick bamboo bones and 5 mm thick bamboo bones. The Bamboo is cut 250 cm long and then split in accordance with the thickness needed. While the comparison of volume cement and sand is 1 : 2.

The result of comprehensive strength test indicates that the biggest value of comprehensive strength goes to the

Ferro cement using chicken wire bones (212,926 kg/cm 2 ). The result value of shear strength test also shows that

this kind of bones is the biggest (147,640 kg/cm nearly value.

), while the deflect strength of the three variations show the

2

Keywords: Ferro cement, comprehensive strength, ductility

PENDAHULUAN

Latar belakang

Ferrocement adalah suatu bahan gabungan antara

spesi semen atau mortar dengan lembaran-

lembaran kawat ayam (chicken wire) atau kawat-

kawat baja yang kecil (small diameter steelmesh)

yang diikat menjadi suatu struktur yang kaku

(Nugraha, 1990). Mortar semen berfungsi sebagai

massa sedangkan kawat baja sebagai pemberi

kekuatan tarik dan daktilitas (Tjokrodimuljo, 1994).

Oleh karena itu bahan lain apapun yang akan

dijadikan untuk ferrocement harus memenuhi

kategori yang ditentukan. Salah satu bahan yang

mungkin dapat digunakan sebagai pengganti kawat

anyaman atau kawat baja adalah bambu.

Bambu sebagai bahan bangunan biologis terdapat

hampir di seluruh wilayah Indonesia. Bambu

merupakan bahan bangunan yang penting sebagai

pengganti kayu. Bambu sangat banyak dijumpai di

pedesaan seperti di halaman rumah penduduk,

pada lereng-lereng sepanjang jurang, sungai dan

sebagainya. Tumbuhan ini sangat mudah

tumbuhnya. Di daerah pedesaan, bambu digunakan

sebagai bahan baku rumah, anyaman dan peralatan

rumah tangga sehingga merupakan sumber

penghasilan tambahan masyarakat yang penting

(Frick, 1988). Di Sumatera Barat, khususnya pada

daerah yang banyak ditumbuhi bambu pemanfaatan

bahan ini hanya sebatas untuk perabot rumah

tangga dan anyaman, sedangkan untuk bahan

ferrocement belum dilakukan.

Haryoto (1995) menyebutkan bahwa bambu sudah

dicoba dimanfaatkan sebagai pengganti tulangan

untuk bak penampungan air hujan (bak bambu

semen) dan memberikan kekuatan yang lumayan

bagus. Bambu kering mempunyai kekuatan lekat

dengan beton sekitar 2 – 4 kg/cm 2 . Oleh karena

itulah dicoba untuk menggunakan bambu (bambu

yang sudah dikeringkan) sebagai pengganti kawat

anyaman pada pembuatan ferrocement.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk ;

Mengetahui kualitas ferrocement yang

terbuat dari bambu sebagai pengganti kawat

baja

45

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

Mengetahui diameter bambu yang dapat memberikan kekuatan yang lebih tinggi.

Rumusan Masalah

Ferrocement dapat diartikan sebagai beton bertulang dengan bentuk khusus yaitu dengan tulangan lebih rapat daripada tulangan beton bertulang biasa. Walaupun demikian ferrocement mempunyai sifat yang berbeda dengan beton bertulang, terutama pada tingkat tegangan yang sedang akibat besarnya prosentase tulangan terhadap mortarnya dan distribusi tulangan yang lebih menerus dibandingkan dengan beton bertulang. Oleh karena itu ketahanan ferrocement kurang terhadap retakan, fleksibilitas, benturan dan kelelehan (Tjokrodimuljo, 1994). Untuk itu perlu dilakukan modifikasi bahan dengan menggunakan bambu sebagai pengganti kawat baja. Bambu merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di pedesaan dan harganya relatif murah. Dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa bambu memiliki gaya tarik yang tinggi yaitu 665 – 1000 kg/cm 2 (Frick, 1988). Hipotesa awal bahwa kualitas ferrocement yang memakai bambu sebagai tulangan mendekati kualitas ferrocement yang memakai tulangan dari kawat baja. Namun yang menjadi masalah adalah ;

Apakah kualitas ferrocement yang dihasilkan dengan menggunakan bambu dapat lebih baik.

Pada diameter bambu berapa dapat menghasilkan ferrocement dengan mutu sesuai yang disyaratkan.

TINJAUAN PUSTAKA Bambu

Pada umumnya bagian-bagian bangunan yang dapat dibuat dari bambu jauh lebih murah harganya dibandingkan dengan bahan bangunan lain untuk kegunaan yang sama. Bambu sebagai bahan bangunan biologis terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia ini merupakan bahan yang penting sebagai pengganti kayu. Bambu mempunyai ruas dan berwarna kuning jernih atau

hijau tua dan berbintik putih pada pangkalnya, berserat dengan permukaan yang mengkilap. Bambu yang sudah direndam dalam air harus berwarna pucat (tidak kuning, hijau atau hitam) dan berbau asam yang khas, sedangkan bila dibelah dibagian dalam ruas tidak boleh terdapat rambut yang justru terdapat dalam bambu yang belum direndam. Bambu untuk pelupuh dan barang anyaman seperti bilik, sesek, gedek dan lain-lain, harus telah direndam dengan baik. Barang anyaman yang harus tahan lama harus terbuat dari bambu jenis yang terbaik setempat, dengan garis tengah minimum 4 cm dan harus terbuat dari bagian kulit bambu. Yang termasuk jenis bambu yang tahan lama adalah ;

Bambu Tali (apus) ; amat liat, ruasnya panjang dan mempunyai garis tengah sekitar 4 – 8 cm, panjang batang berkisar 6 – 13 m

Bambu Petung ; amat kuat, ruasnya

pendek-pendek, tidak begitu liat, garis tengah sekitar 8 – 13 cm, panjang batang berkisar

13 – 18 m

Bambu Duri ; kuat dan besar seperti bambu petung, ruasnya juga pendek-pendek. Bagian luar halus dan licin daripada bambu lainnya dan keras.

Bambu wulung (bambu hitam) ; ruasnya panjang-panjang seperti bambu tali akan tetapi tidak liat (rapuh). Garis tengahnya

sekitar 4 – 8 cm, panjang batang berkisar 7 –

15 m.

Angka-angka tegangan yang diperkenankan untuk bambu yang dibandingkan dengan kayu yang dipergunakan dalam konstruksi secara aman didasarkan pada buku Bamboo in Building Structure dari Dr. Jules J.A. Jansens, karena hingga kini belum ada daftar tegangan dan peraturan umum tentang bambu. Disamping keuntungan-keuntungan seperti yang tersebut diatas, bambu juga memiliki kekurangan- kekurangan, antara lain ; mudah terbelah, mudah terbakar, peka terhadap rayap dan bubuk, rongga- rongga merupakan hunian yang baik bagi tikus. Akan tetapi jika kekurangan tersebut dapat diatasi

46

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

secara konstruktif maka bambu merupakan bahan bangunan bagi pembangunan biologis dan pembuatan perumahan sederhana (Frick, 1988).

Penggunaan Bambu

Hampir semua bagian rumah tinggal, terutama di pulau Jawa dapat dibuat dari bambu, bisa semua serba bambu kecuali alat-alat penyambung (tali dan sebagainya). Bagian-bagian bangunan tidak terbatas pada tiang, lantai dan dinding beserta konstruksi dan pelapis atap, tetapi juga dapat berupa perabot, seperti kursi, rak buku, meja, dan lain-lain (Anonim, 1987).

Ferrocement Ferrocement merupakan mortar yang banyak menggunakan semen, dengan tebal antara 10 – 60 mm, dengan volume tulangan sekitar 6 – 8 %, dengan bentuk tulangan satu lapis atau lebih. Tulangan tersebut dibuat berupa kawat silang yang dilas atau batang-batang baja tulangan dengan diameter yang kecil. Perbandingan volume antara semen dan pasir adalah antara 1 : 1½ dan 1 : 2. Kadang-kadang dipakai pula dengan perbandingan semen dan pasir sebesar 1 : 3. Pemakaian bahan kimia tambahan untuk membuat adukan mortar lebih encer dapat dipakai juga (Tjokrodimuljo,

1994).

Jumlah air yang dipakai sangat berpengaruh terhadap kekuatan dan kelecekan mortar. Pertama- tama tergantung pada ukuran butiran maksimum, modulus halus dan variasi besar butiran pasirnya. Air yang dipakai harus bebas dari kotoran, misalnya tanah liat, asam garam-garaman, dan zat organik. Batu yang dipakai yaitu pasir halus yang berfungsi sebagai bahan pengisi sekitar 60 – 80 % dari volume mortar. Pasir yang digunakan juga harus bersih, tidak mengandung kotoran, seperti tanah liat, asam, garam-garaman dan zat organik. Besar butiran pasir yang lebih besar dari 2,4 mm sebaiknya tidak digunakan karena akan mengakibatkan mortar berpori. Akan tetapi pemakaian butir-butir yang terlalu halus akan mengakibatkan banyaknya jumlah air untuk mencapai kelecekan yang sama sehingga

mengurangi kekuatan. Oleh karena itu sebaiknya besar butir pasir adalah antara 0,2 mm – 2,4 mm. Sebagai tulangan ferrocement digunakan baja diameter 3 – 8 mm untuk skeleton (rangka) dan kawat ayam dengan diameter 0,5 – 1,5 mm. Baja skeleton merupakan rangka yang berfungsi untuk membentuk secara tepat bentuk ferrocement yang akan dibuat dan skeleton ini dipakai untuk pegangan kawat ayam. Jarak pusat ke pusat antara dua baja skeleton sekitar 70 – 100 mm. Untuk menempelkan antara batang vertikal dan horizontal dapat dipakai kawat ikat atau las. Skeleton juga dapat dibuat dengan menggunakan kawat ayam berdiameter 3 – 4 mm, yang dijadikan satu dengan las dan mempunyai jarak antara batang kawat sekitar 80 – 100 mm. Kawat skeleton semacam ini memudahkan pelaksanaan karena umumnya buatan pabrik, namun harganya sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan baja beton yang diikat. Kawat ayam berdiameter sekitar 0,5 – 1,5 mm yang disambung dengan las, atau dipuntir, jarak antara batang-batang sekitar 6 – 20 mm. Akibatnya prosentase tulangan terhadap mortarnya dan distribusi tulangan lebih merata dan lebih menerus dibandingkan dengan beton bertulang, sehingga ferrocement dapat bersifat seperti pelat baja. Oleh karena itu ketahanan ferrocement terhadap retakan, daktilitas, fleksibilitas, benturan dan kelelehan dipunyai lebih baik daripada beton bertulang. Selain itu ferrocement lebih kedap air daripada beton biasa. Kebaikan ferrocement adalah : (Tjokrodimuljo,

1994)

Struktur yang dibuat dari ferrocement dapat tipis dan ringan. Oleh karena itu dapat terjadi penghematan pada tiang pendukungnya maupun pada pondasi. Pengalaman menunjukkan bahwa terjadi pengurangan berat sendiri struktur sekitar 30%, pemakaian baja berkurang sekitar 15% dan biaya pembuatan atap berkurang sebesar 10% dibandingkan dengan beton biasa.

Akibat berat sendiri yang lebih ringan maka sangat memungkinkan untuk dibuat pabrikasi (dicetak di pabrik)

47

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

Cara pengerjaannya sederhana sehingga

tidak memerlukan pekerja yang terlatih baik.

Dapat dikerjakan oleh pekerja yang belum

terlatih baik.

Penghematan bahan cetakan dapat

dilakukan.

Sedangkan dari segi bangunan ferrocement dapat

digunakan untuk (Anonim, 1997) ;

Septictank, bak-bak untuk kotoran

Selokan-selokan

Bak pengawetan

Penampungan air minum

Tempat pembakaran

Atap pelat, dinding dekorasi dan dinding

panil

Lantai

Pagar keliling tempat pemeliharaan kayu

Bekisting yang digunakan dalam konstruksi

beton

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di laboratorium Pengujian

Bahan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri

Padang. Bahan-bahan yang akan digunakan untuk

pembuatan sampel diambil dari daerah sekitar Kota

Padang, seperti semen dari Indarung, pasir dari

Duku dan bambu dari Lubuk Minturun dan Limau

Manis.

Sampel atau benda uji dibuat dalam 2 (dua) bentuk,

yaitu kubus dan silinder. Benda uji kubus berukuran

15 cm x 15 cm x 15 cm sedangkan benda uji

silinder mempunyai ukuran diameter 15 cm dan

tinggi 30 cm. Sampel dibuat dalam 2 variasi yaitu

dengan menggunakan tulangan berupa kawat ayam

dan dengan menggunakan tulangan berupa bambu.

Kedua variasi ini selanjutnya dibandingkan kuat

tekannya, kuat tarik belah dan kuat lenturnya.

Rancangan percobaan

Campuran untuk benda uji dibuat dengan

perbandingan semen dan pasir sebesar 1 : 2.

Persiapan bambu sebagai tulangan dilakukan

sebagai berikut ;

Bambu yang digunakan harus tua dan kering

Bambu dipotong-potong sepanjang 250 cm

sebanyak 100 batang

Belah dan sayat potongan-potongan bambu

bagian kulit luarnya menjadi bilah selebar 1,5

cm dengan tebal bervariasi (4 mm dan 5

mm), (sketsa pada Gambar 1).

Lakukan penganyaman dan perakitan

(sketsa pada Gambar 2).

1,5 cm 250 cm t cm
1,5 cm
250 cm
t cm

Ket :

t = ketebalan bambu (4 mm dan 5 mm)

Gambar 1. Sketsa bambu yang telah dibelah

Anyaman bambu Kawat ayam
Anyaman bambu
Kawat ayam

Gambar 2. Sketsa anyaman bambu dan kawat ayam

Pasir yang digunakan adalah yang lolos saringan

4,75 mm dan bebas dari kotoran.

Benda uji dibuat sebanyak 10 buah berbentuk

silinder (diameter 15 cm, tinggi 30 cm) dan

berbentuk kubus (15 cm x 15 cm x 15 cm) sebanyak

50 buah dengan memvariasikan tebal bambu (4

mm, 5 mm). Bentuk benda uji dan penempatan

tulangan ditunjukkan pada Gambar 3.

uji dan p enempatan tulangan ditunjukkan pada Gambar 3. Tulangan (kawat ayam atau anyaman bambu) 30

Tulangan (kawat ayam atau anyaman bambu)

30 cm

Gambar 3 Sketsa penempatan tulangan pada benda uji silinder (kawat ayam ataupun anyaman bambu)

48

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

Tulangan (kawat ayam atau anyaman bambu) 15 cm 15 cm
Tulangan
(kawat ayam atau anyaman bambu)
15 cm
15 cm

Gambar 4. Sketsa penempatan tulangan pada benda uji kubus (kawat ayam ataupun anyaman bambu)

Benda uji yang telah dibuat, dibiarkan selama 24

jam dan setelah itu baru dibuka dan diuji.

Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat

tekan, pengujian kuat tarik belah dan pengujian kuat

lentur. Data yang didapat dari pengujian tersebut

diolah dan dianalisis dengan menggunakan rumus ;

Kuat tekan

P

A

Kuat tarik belah

2.P

π.L.D

Kuat lentur

2.l

b.d

2

dimana ;

P

= beban (kg)

A

= luas permukaan yang ditekan (cm2)

b

= lebar (cm)

d

= tinggi (cm)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian dan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap benda uji, diperoleh hasil sebagai berikut ;

a. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan dari bambu tebal 5 mm (benda uji kubus)

No.

 

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 15 x 15

225

263

119,193

2.

15

x 15 x 15

225

217

98,345

3.

15

x 15 x 15

225

198

89,734

4.

15

x 15 x 15

225

201

91,094

5.

15

x 15 x 15

225

211

95,626

6.

15

x 15 x 15

225

230

104,662

7.

15

x 15 x 15

225

206

93,360

b. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan dari bambu tebal 4 mm (benda uji kubus)

No.

 

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 15 x 15

225

195

88,375

2.

15

x 15 x 15

225

168

76,138

3.

15

x 15 x 15

225

183

82,936

4.

15

x 15 x 15

225

169

76,592

5.

15

x 15 x 15

225

148

67,074

6.

15

x 15 x 15

225

176

79,764

7.

15

x 15 x 15

225

183

82,936

49

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

c. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan dari bambu tebal 5 mm (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

315

181,766

2.

15

x 30

176,715

287

165,609

3.

15

x 30

176,715

291

167,918

4.

15

x 30

176,715

305

175,996

5.

15

x 30

176,715

328

189,268

6.

15

x 30

176,715

259

149,452

7.

15

x 30

176,715

227

130,987

d. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan dari bambu tebal 4 mm (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

215

124,063

2.

15

x 30

176,715

207

119,446

3.

15

x 30

176,715

211

121,755

4.

15

x 30

176,715

225

129,833

5.

15

x 30

176,715

218

125,794

6.

15

x 30

176,715

199

114,830

7.

15

x 30

176,715

287

165,609

e. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan kawat ayam (benda uji kubus)

No.

 

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 15 x 15

225

334

151,370

2.

15

x 15 x 15

225

294

133,242

3.

15

x 15 x 15

225

399

180,830

4.

15

x 15 x 15

225

307

139,134

5.

15

x 15 x 15

225

267

121,005

6.

15

x 15 x 15

225

288

130,522

7.

15

x 15 x 15

225

353

159,981

f. Pengujian Kuat Tekan dengan tulangan kawat ayam (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

347

200,232

2.

15

x 30

176,715

309

178,304

3.

15

x 30

176,715

397

229,083

4.

15

x 30

176,715

401

231,392

5.

15

x 30

176,715

389

224,467

6.

15

x 30

176,715

411

237,162

7.

15

x 30

176,715

369

212,926

50

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

g. Pengujian Kuat Belah dengan tulangan kawat ayam (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

207

119,447

2.

15

x 30

176,715

291

167,918

3.

15

x 30

176,715

238

137,335

4.

15

x 30

176,715

403

232,546

5.

15

x 30

176,715

211

121,755

6.

15

x 30

176,715

232

133,872

7.

15

x 30

176,715

209

120,600

 

Rata-rata

 

147,640

h. Pengujian Kuat Belah dengan tulangan dari bambu tebal 4 mm (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

105

60,588

2.

15

x 30

176,715

151

87,133

3.

15

x 30

176,715

208

120,023

4.

15

x 30

176,715

103

59,434

5.

15

x 30

176,715

111

64,051

6.

15

x 30

176,715

182

105,264

7.

15

x 30

176,715

199

114,830

 

Rata-rata

 

87,330

i. Pengujian Kuat Belah dengan tulangan dari bambu tebal 5 mm (benda uji silinder)

No.

Ukuran

Luas

Beban

Kuat Tekan

(cm)

(cm

2 )

(KN)

(kg/cm 2 )

1.

15

x 30

176,715

205

118,293

2.

15

x 30

176,715

183

105,598

3.

15

x 30

176,715

219

126,371

4.

15

x 30

176,715

251

144,836

5.

15

x 30

176,715

143

82,516

6.

15

x 30

176,715

189

109,060

7.

15

x 30

176,715

201

115,985

j. Pengujian Kuat Lentur dengan tulangan dari bambu tebal 4 mm

No.

Beban

Lebar

Tinggi

Panjang

Tegangan Lentur

(Kg)

(cm)

(cm)

(cm)

(kg/cm 2 )

1.

11,667

5

2,5

25

9,334

2.

10,254

5

2,5

25

8,203

3.

12,910

5

2,5

25

10,328

4.

8,570

5

2,5

25

6,856

5.

9,510

5

2,5

25

7,608

6.

7,090

5

2,5

25

5,672

 

Rata-rata

 

8,000

51

Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa Volume 3, Nomor 1, Oktober 2007

ISSN : 1858-3709

k. Pengujian Kuat Lentur dengan tulangan dari bambu tebal 5 mm

No.

Beban

Lebar

Tinggi

Panjang

Tegangan Lentur

(Kg)

(cm)

(cm)

(cm)

(kg/cm 2 )

1.

12,870

5

2,5

25

10,296

2.

11,254

5

2,5

25

9,003

3.

14,850

5

2,5

25

11,880

4.

9,270

5

2,5

25

7,416

5.

10,510

5

2,5

25

8,408

6.

8,590

5

2,5

25

6,872

 

Rata-rata

 

8,979

l. Pengujian Kuat Lentur dengan tulangan dari kawat ayam

No.

Beban

Lebar

Tinggi

Panjang

Tegangan Lentur

(Kg)

(cm)

(cm)

(cm)

(kg/cm 2 )

1.

15,170

5

2,5

25

12,136

2.

13,940

5

2,5

25

11,152

3.

16,050

5

2,5

25

12,840

4.

10,370

5

2,5

25

8,296

5.

11,500

5

2,5

25

9,200

6.

12,190

5

2,5

25

9,752

 

Rata-rata

 

10,560

PENUTUP

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil

beberapa kesimpulan, yaitu ;

1. Berdasarkan pengujian kuat tekan, benda uji

berbentuk silinder dengan tebal bambu 4 mm

memiliki nilai kuat tekan yang lebih besar

(165,609 kg/cm 2 ) dibandingkan dengan

benda uji silinder dengan tebal bambu 5 mm

(130,97 kg/cm 2 ). Sedangkan nilai kuat tekan

dengan menggunakan kawat ayam adalah

212,926 kg/cm 2 . Jadi nilai kuat tekan tertinggi

adalah dengan menggunakan kawat ayam

sebagai tulangan.

2. Ditinjau dari kuat belahnya, ferrocement

dengan tulangan bambu 4 mm memiliki nilai

terendah (87,330 kg/cm 2 ) dibandingkan

dengan yang memakai tulangan bambu tebal

5 mm (114,665 kg/cm 2 ) dan yang

menggunakan tulangan kawat ayam

(147,640 kg/cm 2 ).

3. Kuat lenturnya dari ketiga variasi tulangan

ferrocement memiliki nilai yang hampir saling

mendekati, yaitu ferrocement yang

menggunakan kawat ayam nilai kuat

lenturnya = 10,560 kg/cm 2 ), yang

menggunakan tulangan bambu tebal 5 mm

nilai kuat lenturnya = 8,979 kg/cm 2 ) dan yang

menggunakan tulangan bambu tebal 4 mm

nilai kuat lenturnya = 8,00 kg/cm 2 .

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 1998, Petunjuk Teknik Pemanfaatan Bahan Bangunan Lokal, Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

2. Anonim, 1997, Pengawetan Bambu dan Kayu, Penerbit Puspa Swara, Semarang.

3. Frick, H., 1988, Arsitek dan Lingkungan, Penerbit Kanisius, Jogjakarta.

4. Haryoto, 1995, Membuat Bak Bambu Semen, Teknologi Tepat Guna, Penerbit Kanisius, Jogjakarta.

5. Jansens, Jules J.A., 1998, Bamboo in Building Structure, McGrawHill, London.

6. Nugraha, P., 1990, Teknologi Beton Dengan Antisipasi Terhadap Pedoman Beton 1989, Penerbit Universitas Kristen Petra, Surabaya.

7. Tjokrodimuljo, K., 1994, Teknologi Beton, Penerbit Kanisius, Jogjakarta.

52