Anda di halaman 1dari 14

0

Analisis Instrumen

Kimia Farmasi

Uji Penolakan Hasil


Analisis

Aa
tM
ujiz
A
d
DISUSUN
ria
at
n
A
y
n
Se
OLEH :
i sa
r
N
ly
h
A
u
De
prrjia
enG
se
aa
nC
hn
tin
an
a
i
a
Di
n
sy
an
ah
DiAar
A
i da
di
n
Gin
KaD a
a
r
tw
i
M
Fin
k
ia
a
R
sruos W
Ok ky
S
d
p
i
a
aahn
t av
ia

Uji Kebermaknaan

Uji kebermaknaan (significance


test) melibatkan suatu
perbandingan antara faktor
eksperimental terhitung
dengan faktor yang sudah ada
dalam tabel statistik yang
ditentukan dengan sejumlah
nilai dari suatu serangkaian
data percobaan dan tingkat
probabilitas terpilih, sehingga
membuat keputusan yang
diambil menjadi benar.

Uji kebermaknaan digunakan untuk beberapa tujuan, antara lain:

Untuk mengecek apakah nilai


individual dari suatu serangkaian
data menyimpang dari rata
ratanya.
Untuk membandingkan ketepatan
(presisi) dua atau lebih
serangkaian data.
Untuk membandingkan rata-rata
dua atau lebih serangkaian data
dengan data lain yang sudah
diketahui akurasinya.

Uji kebermaknaan yang sering digunakan dalam


kimia analisis :

1. Uji penolakan hasil analisis (rejection


of measurement)
2. Uji deviasi normal
3. Uji-t/ t-test
4. Uji varian (uji-F)
5. Uji t-perpasangan (paired t-test)
6. Analisis varian

Di antara hasil yang diperoleh dari satu seri


penetapan kadar terhadap satu macam sampel,
adakalanya terdapat hasil yang sangat
menyimpang bila dibandingkan dengan yang lain
tanpa diketahui kesalahannya secara pasti
sehngga timbul kecenderungan untuk menolak
hasil yang sangat menyimpang tadi. Hasil yang
sangat menyimpang ini disebut dengan pencilan
( outlier).

Uji penolakan hasil analisis (rejection of


measurement)

Disini hanya akan dikemukakan cara pemakaiannya saja,


yang pada prinsipnya sebagai dasar penolakan hasil
pengukuran dapat digunakan :
1. defiasi rata-rata (
)
maka hasil analisis (Xi) ditolak jika :
a) Xi
> 2,5
atau b) Xi
>4
2. Standart defiasi (SD)
a) Xi
> 2 SD atau b) Xi
> 3 SD
Rumus mana yang dipakai sebagai dasar penolakan data
pada hakikatnya di dasarkan atas taraf kepercayaan ( level of
confidence) yang dipilih. Ada dua taraf kepercayaan
. Taraf kepercayaan 99 % (p= 0,99) yaitu pada rumus b).
(dalam percobaan kimia umumnya dipilih taraf kepercayaan
ini)
. Taraf kepercayaan 95 % (p= 0,95) yaitu pada rumus a).
(banyaknya penetapan kimia pada umumnya kecil (3 atau 4
kali saja, sering pula dianjurkan untuk memakai taraf
kepercayaan ini)

Contoh 1
Pada penetapan kadar NaCl secara argentometri diperoleh
hasil sebagai berikut : 95,72 %, 95,81 %, 95,83 %, 95,92 %,
dan 96,18 %. Selidiki apakah ada hasil yang ditolak ?
Jawab :
96,18 % patut dicurigai
Untuk menghitung nilai rata-rata, nilai yang dicurigai
tidak dimasukan.
Jadi rata-rata
Selanjutnya data di atas disusun sebagai berikut :
X

95,72

d=

95,82

d2

0,1

0,01

95,81

0.01

0,0001

95,83

0,01

0.0001

95,92

0,1

0,01

d = 0,22

d2 = 0,0202

Selisih antara hasil yang dicurigai dengan rata-rata = 96,18


95,82 = 0,36

Jadi hasil 96,18 % ditolak


Kalu dihitung berdasarkan SD-nya akan diperoleh hasil yang
sama

Jadi hasil 96,18 % ditolak


Kenyataan ini dapat diartikan bahwa sangat boleh jadi
penyimpangan hasil tersebut disebabkan kesalahan tertentu
yang tidak disadari, bukan karena kesalahan random.

3. Q-test (Dixons Q-test)

Jika nilai Q -hitung < Q -kritis = hipotesis nul (null


hypothesis) diterima berarti tidak ada perbedaan
antara nilai yang dicurigai dengan nilai nilai yang
lain
Jika nilai Q -hitung > Q -kritis = hipotesis nul (null
hypothesis) ditolak
Nilai Q kritis pada taraf kepercayaan 95 % (p= 0,05)
pada uji dua sisi
Q kritis atau Q tabel merupakan nilai yang diperoleh
dari tabel statistik

Banyak data

-tabel

(Nilai Q

0,831

0,717

0,621

0,570

0,524

kritis

Contoh 2 :
Pada penetapan cemaran pestisida dalam
sayuran didapat kadar 0,403; 0,410; 0,401;
0,380 mg/kg. Apakah nilai 0,380 merupakan
suatu pencilan ?
Jawab:

Nilai Q kritis untuk 4 data pada taraf


kepercayaan 95 % (p= 0,05) adalah 0,83.
Karena Q -hitung < Q kritis berarti 0,380
bukanlah suatu pencilan.

Jika dari satu seri penetapan kadar terdapat


dua hasil pengukuran yang sangat
menyimpang, pengujian seperti ini perlu
diulangi setelah satu nilai yang sangat
menyimpang tadi ditolak. Tetapi kalau
dari empat kali penetapan terdapat dua
hasil yang sangat menyimpang,
sebaiknya dilakukan penetapan lagi
sehingga diperoleh hasil yang lebih
banyak.

Terimakasi
h..