Anda di halaman 1dari 74

PENGARUH KETERAMPILAN BERPROSES MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SEGITIGA PADA SISWA SMP N 15 SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: Nama : Heni Susilowati NIM : 4101403571

Oleh:

Nama

: Heni Susilowati

NIM

: 4101403571

Program Studi

: Pendidikan Matematika

Jurusan

: Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007

ABSTRAK

Heni Susilowati. 2007. Pengaruh Keterampilan Berproses Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segitiga Pada Siswa SMP N 15 Semarang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Semarang.

Kata Kunci

: Model Pembelajaran Problem Solving, Keterampilan Hasil Belajar.

Berproses,

Model Pembelajaran Problem Solving menjadi salah satu alternatif model pembelajaran. Pembelajaran ini diawali dengan pemberian masalah kepada siswa untuk dipecahkan, diharapkan dapat mencapai tujuan lebih baik. Melihat kondisi pembelajaran matematika di SMP N 15 Semarang, diusulkan dalam penelitian ini dilaksanakan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Solving. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Apakah ada pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang? (2) Apakah pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model pembelajaran Problem Solving dapat mencapai ketuntasan belajar? Standar ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 68, sedangkan untuk keterampilan berproses adalah 70. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang positif keterampilan berproses dengan model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar (2) untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan model Problem solving dapat mencapai ketuntasan belajar. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang terdiri dari tujuh kelas SMP N 15 Semarang dengan rataan 44 siswa. Sampel dilakukan dengan Cluster random sampling untuk mengambil satu kelas yaitu VII G. Variabel bebas adalah keterampilan berproses dan variabel terikat hasil belajar dengan model pembelajaran problem solving. Cara pengambilan data dengan lembar pengamatan dan tes. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan analisis regresi dan analisis uji t satu sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R 2 sebesar 67,8% artinya keterampilan berproses mempengaruhi hasil belajar sebesar 67,8% sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 32,2%. Pencapaian ketuntasan hasil belajar 70,16 dan untuk keterampilan berproses 71,15. Simpulan, (1) Adanya pengaruh yang positif antara keterampilan berproses dengan model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar. (2) Pembelajaran dengan model Problem Solving telah mencapai ketuntasan belajar. Saran, pembelajaran di kelas sebaiknya lebih memberi kesempatan siswa untuk aktif, di mana guru berfungsi sebagai fasilitator. Inovasi terhadap pendekatan pembelajaran dapat dilakukan dengan mengevaluasi diri kondisi setempat sehingga guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran problem solving.

ii

PENGESAHAN

SKRIPSI

PENGARUH KETERAMPILAN BERPROSES

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING

TERHADAP HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SEGITIGA

PADA SISWA SMP N 15 SEMARANG

Skripsi ini telah dipertahankan dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang Hari : Selasa Tanggal : 28 Agustus 2007

Ketua,

Drs. Kasmadi Imam S., M.S NIP. 130781011

Pembimbing Utama

Prof. Dr. YL Sukestiyarno NIP. 131404322

Pembimbing Pendamping

Drs. Wardono, M.Si NIP. 131568905

Panitia Ujian,

Sekretaris,

Drs. Supriyono, M.Si NIP. 130815345

Penguji Utama

Drs. Amin Suyitno, M.Pd. NIP. 130604211

Anggota Penguji I

Prof. Dr. YL Sukestiyarno NIP. 131404322

Anggota Penguji II

Drs. Wardono, M.Si NIP. 131568905

iii

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT, dengan limpahan rahmat-Nya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Keterampilan Berproses

Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan

Segitiga Pada Siswa SMP N 15 Semarang”, ini sebagai salah satu syarat untuk

mencapai gelar sarjana Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang.

Dalam menyusun skripsi ini, penulis memperoleh bantuan dan pengarahan

dari berbagai pihak. Untuk itu dengan rendah hati, penulis mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang,

2. Drs. Kasmadi Imam S., M.S, Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang,

3. Drs. Supriyono, M.Si, Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri

Semarang,

4. Prof. Dr. YL Sukestiyarno, Dosen pembimbing utama yang telah memberikan

bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi,

5. Drs.Wardono, M. Si, Dosen pembimbing pendamping yang telah memberikan

bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi,

6. Bapak

dan

Ibu

Dosen

Jurusan

Matematika

FMIPA

Universitas

Negeri

Semarang yang telah memberikan bekal ilmu yang tidak ternilai harganya

selama belajar dan menuntut ilmu di Jurusan Matematika,

7. Endang Triningsih, S.Pd. MM, Kepala SMP N 15 Semarang yang telah

memberikan ijin penelitian,

vi

8.

Nurhenny Marwiasih, S.Pd., Guru matematika kelas VII SMP N 15 Semarang

yang telah membantu terlaksananya penelitian ini,

9. Siswa-siswi kelas VII SMP N 15 Semarang tahun ajaran 2006/ 2007 atas

ketersediaanya menjadi responden dalam pengambilan data penelitian ini,

10. Bapak dan Ibu guru SMP N 15 Semarang atas segala bantuan yang diberikan,

11. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu persatu.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, penulis menyadari bahwa

skripsi ini masih jauh dari sempurna. Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat

memberikan manfaat dan kontribusi bagi pembaca yang budiman.

vii

Semarang,

Agustus 2007

Penulis

MOTTO

Orang yang bahagia bukanlah orang yang berlimpah harta maupun g yang berlimpah harta maupun

berpangkat

tinggi,

melainkan

orang

yang

mampu

dan

selalu

mensyukuri nikmat-Nya sekecil apapun.

Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan dzikir hidup menjadi dengan dzikir hidup menjadi

indah,

dengan

agama

hidup

menjadi

terarah,

silaturahmi hidup menjadi bergairah.

dan

dengan

tali

Sebaik-baiknya manusia diantaramu adalah orang yang paling banyak adalah orang yang paling banyak

manfaatnya bagi orang lain.

(HR. Bukhari dan Muslim)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kuperuntukkan kepada:

Ibu dan Bapak tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang dan doa tiada henti-hentinya. henti-hentinya.

Adeku angga dan ningrum tersayang.memberikan kasih sayang dan doa tiada henti-hentinya. Kaka’q yang selalu memberikan se mangat, terima kasih atas

Kaka’q yang selalu memberikan semangat, terima kasih atas semuanya. mangat, terima kasih atas semuanya.

Sahabat-sahabatku (Kaozal, Decy, Jajo, Puji & Cah Trio ‘R’).yang selalu memberikan se mangat, terima kasih atas semuanya. Teman-teman seperjuangan Pe ndidikan matematika 2003. v

Teman-teman seperjuangan Pendidikan matematika 2003. ndidikan matematika 2003.

v

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUAN ALAM

KARTU BIMBINGAN SKRIPSI

Nama Mahasiswa NIM Prodi Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

: Heni Susilowati : 4101403571 : Pend. Matematika : Prof. Dr. YL Sukestiyarno : Drs. Wardono, M.Si

Ttd No Tanggal Materi bimbingan Hasil Bimbingan Pembimbing
Ttd
No
Tanggal
Materi bimbingan
Hasil Bimbingan
Pembimbing

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

ABSTRAK

ii

PENGESAHAN

iii

PERNYATAAN

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR LAMPIRAN

x

DAFTAR TABEL

xii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

6

C. Penegasan Istilah

6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

8

E. Sistematika Penulisan Skripsi

10

BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A.

Landasan Teori

12

1. Belajar dan Pembelajaran

12

2. Hasil Belajar

14

3. Pembelajaran Problem Solving

16

4. Keterampilan Berproses

20

viii

5. Ketuntasan Belajar

23

B. Uraian Pokok Bahasan Segitiga

23

C. Contoh Model Pembelajaran Problem Solving

29

D. Kerangka Berpikir

30

E. Hipotesis

33

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Metode Penentuan Obyek Penelitian

34

B. Metode Pengumpulan Data

36

C. Instrumen Penelitian

36

D. Analisis Uji Coba Instrumen Penelitian

40

E. Analisis Data

44

F. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian

49

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

51

B. Pembahasan

57

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

62

B. Saran

62

DAFTAR PUSTAKA

64

ix

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Masalah besar yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada saat ini adalah

adanya krisis paradigma yang berupa kesenjangan dan ketidaksesuaian antara

tujuan yang ingin dicapai dan paradigma yang dipergunakan (Sumadi, 2005).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan mutu

pendidikan

matematika

di

Indonesia,

namun

sampai

saat

ini

belum

memperoleh hasil yang optimal. Fenomena ini dapat dilihat dari indikator

hasil belajar, antara lain dari Nilai Ebtanas Murni (NEM) atau Nilai Ujian

Akhir Nasional (NUAN) matematika siswa yang masih rendah.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa berbagai pendekatan, gagasan

atau

inovasi

dalam

dunia

pendidikan

matematika

yang

sampai

saat

ini

diterapkan secara luas ternyata belum dapat memberikan perubahan positif

yang berarti, baik dalam proses pembelajaran matematika di sekolah maupun

dalam meningkatkan mutu pendidikan matematika pada umumnya. Kesadaran

tentang

pentingnya

pendidikan

yang

dapat

memberikan

harapan

dan

kemungkinan yang lebih baik di masa mendatang, telah mendorong berbagai

upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah

dan perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu upaya

meningkatkan kualitas hidup manusia. Pada intinya pendidikan bertujuan

2

untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, merubah tingkah laku serta

meningkatkan kualitas hidup.

Untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia, Pemerintah membuat

perubahan-perubahan

baru

diantaranya

Kurikulum

2006

atau

Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini menekankan pada

kecakapan – kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam

kehidupan. Kecakapan matematika merupakan bagian yang tak terpisahkan

dari kecakapan hidup dan diperlukan untuk dapat menghadapi dunia di

sekitarnya, serta untuk berhasil dalam karirnya. Kecakapan matematik yang

dimaksud

meliputi

pemahaman

konsep,

penalaran

adatif,

kemampuan

pemecahan

masalah

dan

kemampuan

berkomunikasi.

Tujuan

pendidikan

menengah

menurut

Kurikulum

Tingkat

Satuan

Pendidikan

adalah

meningkatkan

kecerdasan,

pengetahuan,

kepribadian

akhlak

mulia

serta

keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan tidak hanya mengajarkan fakta dan konsep tetapi juga harus

membekali siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.

Kecakapan hidup seseorang tidak terjadi dengan sendirinya tetapi

melalui suatu proses yang terus berlanjut. Keberlanjutan perkembangan proses

belajar sebenarnya dapat diamati. Hal ini juga berlaku bagi siswa, dimana

perkembangan

keterampilan

berproses

seorang

siswa

selama

proses

pembelajaran dapat diikuti atau diamati. Saat kerjasama

dengan orang lain,

mendengarkan dengan aktif, berani bertanya, mau menyampaikan pendapat

3

atau

menjawab

pertanyaan,

dan

kreatif

dalam

memecahkan

masalah

merupakan salah satu ciri kecakapan hidup. Proses menuju ke arah kecakapan

hidup tersebut perlu suatu latihan

serta membutuhkan suatu

disebut dengan keterampilan berproses.

proses yang

Keterampilan berproses merupakan aspek yang sangat penting dalam

belajar matematika. Rendahnya keterampilan berproses akan mempengaruhi

hasil belajar siswa di sekolah, khususnya mengenai pemecahan masalah.

Dengan

menggunakan

keterampilan

berproses,

siswa

akan

mampu

menemukan

dan

mengembangkan

sendiri

fakta

dan

konsep

serta

menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. Seluruh tindakan dalam

proses belajar mengajar akan menciptakan kondisi belajar yang melibatkan

siswa aktif.

Matematika merupakan salah satu unsur dalam pendidikan. Mata

pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar

sampai ke jenjang yang lebih tinggi, namun demikian kegunaan matematika

bukan

hanya

memberikan

kemampuan

kualitatif

tetapi

juga

dalam

penataan

pembentukan

kemampuan

menganalisis,

dalam

perhitungan-perhitungan

cara

berpikir,

terutama

dalam

membuat

sintesis,

melakukan

evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Dengan kenyataan ini

bahwa matematika mempunyai potensi yang sangat besar dalam hal memacu

terjadinya

perkembangan

mempersiapkan

masyarakat

dengan

cara

berpikir

dan

secara

yang

bersikap

cermat

mampu

pula.

dan

tepat

maupun

dalam

mengantisipasi

perkembangan

Pembelajaran

hendaknya

lebih

4

menekankan pada bagaimana upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa

belajar, bukan pada apa yang dipelajari siswa. Jadi, pembelajaran matematika

merupakan

upaya

guru

mendorong

atau

memfasilitasi

siswa

dalam

mengkonstruksi pemahamannya akan matematika. Keberhasilan guru dalam

pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi juga pada

proses dari pembelajaran tersebut.

Salah satu metode pembelajaran yang digunakan oleh guru di SMP N 15

Semarang

adalah

metode

ekspositori.

Keterampilan

siswa

selama

pembelajaran

dengan

metode

ekspositori

belum

memuaskan

karena

pembelajaran berlangsung satu arah saja. Guru tidak mengikutsertakan siswa

dalam pembelajaran. Kalaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya,

sedikit sekali yang melakukannya. Hal ini karena siswa masih takut atau

bingung mengenai apa yang akan ditanyakan. Selain itu siswa kurang terlatih

dalam mengembangkan ide-idenya di dalam memecahkan masalah. Siswa

masih

minder

atau

pasif,

belum

mampu

berpikir

kritis

dan

berani

mengungkapkan

pendapat.

Dan

dalam

pembelajarannya

kurang

memperhatikan keterampilan berproses siswa.

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar

siswa, khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan

model pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Pemecahan

masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting

karena dalam proses pembelajaran maupun penyesuaian, siswa dimungkinkan

memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang

5

sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak

rutin. Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk

berperan aktif dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi

atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip atau simpulan.

Ruang

lingkup

mata

pelajaran

matematika

pada

satuan

pendidikan

SMP/MTs yang harus dikuasai siswa kelas VII SMP salah satunya adalah

tentang geometri dan pengukuran. Materi yang mendukung dalam penguasaan

geometri dan pengukuran salah satunya adalah pokok bahasan segitiga. Alasan

pemilihan

materi

segitiga

dalam

penelitian

ini

adalah

karena

geometri

merupakan materi yang abstrak dan memerlukan kemampuan pemecahan

masalah

dan

nantinya

siswa

juga

diharapkan

dapat

mengembangkan

keterampilan berproses secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, dalam

pembelajaran

pokok

bahasan

segitiga

diperlukan

keterampilan

berproses

dalam memecahkan masalah. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik,

siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan-keterampilan proses memecahkan

masalah.

Keterampilan-keterampilan

tersebut

antara

lain

mengajukan

pertanyaan, menjawab pertanyaan/menanggapi, menyampaikan ide/pendapat,

mendengarkan secara aktif, berada dalam tugas, dan sebagainya.

Dengan begitu peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan

judul

PENGARUH

KETERAMPILAN

BERPROSES

MODEL

PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR

POKOK BAHASAN SEGITIGA PADA SISWA SMP N 15 SEMARANG.

6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah

ada

pengaruh

keterampilan

berproses

model

pembelajaran

problem solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar siswa

SMP N 15 Semarang?

2. Apakah pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model

pembelajaran

problem

solving

dapat

mencapai

(keterampilan berproses dan hasil belajar)?

C. Penegasan Istilah

ketuntasan

belajar

Penegasan Istilah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian yang

sama tentang istilah dalam penelitian ini dan tidak menimbulkan interpretasi

yang berbeda dari pembaca. Istilah-istilah yang perlu diberi penegasan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Keterampilan Berproses

Saat kerja sama dengan orang lain, mendengarkan dengan aktif,

berani bertanya, mau menyampaikan pendapat/menjawab pertanyaan dan

kreatif dalam memecahkan masalah merupakan salah satu ciri kecakapan

hidup. Proses menuju kearah kecakapan hidup tersebut perlu suatu latihan

serta membutuhkan suatu proses yang disebut keterampilan berproses.

Keterampilan berproses adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah

7

laku proses aktif yang kompleks dan tersusun rapi sacara mulus dan sesuai

dengan strategi pembelajaran yang disusun untuk mencapai hasil tertentu.

Keterampilan

bukan

hanya

meliputi

gerakan

motorik

saja

melainkan

pengejawantahan

fungsi

mental

yang

bersifat

kognitif.

Keterampilan berproses akan menjadi ciri kekhasan suatu rancangan

strategi

pembelajaran

dari

mulai

rancangan

awal

strategi

diterapkan,

proses, akibat/dampak yang dihasilkan, hingga menutup strategi tersebut.

2.

Model Problem Solving

 

Problem solving atau disebut juga pemecahan masalah adalah

cara menyajikan bahan pelajaran dengan memberikan persoalan untuk

dipecahkan oleh siswa dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.

Suatu soal matematika akan menjadi masalah bagi siswa, jika siswa

tersebut :

a. memiliki pengetahuan/materi prasyarat untuk menyelesaikan soalnya;

b. diperkirakan

memiliki

kemampuan

untuk

menyelesaikan

soal

tersebut;

c. belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya;

d. punya keinginan untuk menyelesaikannya.

 

3.

Hasil Belajar

Hasil Belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah

melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari

seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku

ke

arah

positif.

Menurut

Kurikulum

Tingkat

Satuan

Pendidikan,

8

penilaian

hasil belajar atau tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu

pembelajaran

matematika

diukur

dari

tiga

aspek

yaitu

aspek

pemahaman

konsep

(siswa

mampu

mendefinisikan

konsep,

mengidentifikasi dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep),

aspek penalaran dan komunikasi (siswa mampu memberikan alasan

induktif dan deduktif juga mampu menyatakan gagasan matematika

secara lisan, tertulis, atau mendemonstrasikan), dan aspek pemecahan

masalah

(siswa

mampu

memahami

masalah,

memilih

strategi

penyelesaian dan menyelesaikan masalah). Dalam penelitian ini hanya

akan dibahas mengenai aspek pemecahan masalah.

4. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian

taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan

pembelajaran setiap satuan pelajaran. Ketuntasan belajar yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah ketuntasan hasil belajar dan keterampilan

berproses.

D. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

a.

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang positif keterampilan

berproses model pembelajaran problem solving pada pokok bahasan

segitiga terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang.

9

b. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pokok bahasan

segitiga dengan model pembelajaran problem solving dapat mencapai

ketuntasan belajar (keterampilan berproses dan hasil belajar).

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Bagi Guru:

Dengan dilaksanakan penelitian ini guru berkesempatan menerapkan

model pembelajaran yang dikembangkan.

b. Bagi Siswa:

(1) Menumbuhkembangkan

memecahkan masalah.

keterampilan

berproses

siswa

dalam

(2) Meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar

mengajar.

(3) Membantu pengembangan kompetensi siswa dalam pembelajaran

matematika.

c. Bagi Peneliti:

(1) Mendapatkan

pembelajaran.

pengalaman

langsung

dalam

pelaksanaan

(2) Memberikan bekal mahasiswa sebagai calon guru matematika

untuk siap melaksanakan tugas di lapangan sesuai kebutuhan di

lapangan.

10

E. Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penulisan tentang isi keseluruhan skripsi ini terdiri dari

bagian awal skripsi, bagian inti skripsi, dan bagian akhir skripsi.

1. Bagian

awal

skripsi

berisi

tentang

halaman

judul,

abstrak,

halaman

pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi,

dan daftar lampiran.

2. Bagian inti skripsi terdiri dari lima bab, yaitu:

BAB I

Pendahuluan, mengemukakan tentang latar belakang masalah,

rumusan

masalah,

penegasan

istilah,

tujuan

dan

manfaat

penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II

Landasan Teori dan Hipotesis, membahas teori yang melandasi

permasalahan

skripsi

serta

penjelasan

yang

merupakan

landasan teoritis yang diterapkan dalam skripsi, uraian pokok

bahasan

yang

terkait

dengan

pelaksanaan

penelitian

dan

hipotesis penelitian.

 

BAB III

Metode Penelitian, meliputi populasi dan sampel penelitian,

variabel penelitian, desain penelitian, metode pengumpulan

data, instrumen penelitian, analisis hasil ujicoba instrumen,

analisis data penelitian, dan hasil ujicoba instrumen.

 

BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan, berisi hasil penelitian dan

pembahasannya.

11

BAB V

Simpulan dan Saran, mengemukakan simpulan hasil penelitian

dan saran- saran yang diberikan peneliti berdasarkan simpulan.

3. Bagian akhir skripsi, berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

12

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Belajar dan Pembelajaran

Menurut Sardiman (2006:20) ada beberapa definisi tentang belajar,

antara lain dapat diuraikan sebagai berikut.

a.

Cronbach memberikan definisi : Learning is shown by a change in

behavior as a result of experience.

b.

Harold Spears memberikan batasan : Learning is to observe, to read,

to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.

c.

Geoch, mengatakan : Learning is a change in performance as a result

of practice.

Dari ketiga definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa belajar

itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan

serangkaian

kegiatan

misalnya

dengan

membaca,

mengamati,

mendengarkan,

meniru

dan

lain

sebagainya.

Perubahan

tidak

hanya

berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk

kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,

penyesuaian diri. Kegiatan belajar memiliki beberapa maksud, antara lain :

a.

Mengetahui

suatu

kepandaian,

kecakapan,

sebelumnya tidak pernah diketahui.

atau

konsep

yang

13

b. Dapat mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dibuat, baik

tingkah laku maupun keterampilan.

c. Mampu mengkombinasikan dua pengetahuan (atau lebih) ke dalam

suatu

pengertian

baru

baik

keterampilan,

maupun sikap dan tingkah laku.

pengetahuan,

konsep,

d. Dapat memahami dan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Menurut Supriyadi (2005:12) menyatakan:

“kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa untuk membangun makna atau pemahaman terhadap suatu objek atau suatu peristiwa. Sedangkan kegiatan mengajar merupakan kegiatan dalam upaya menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi, dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat“.

Pembelajaran

adalah

upaya

menciptakan

iklim

dan

pelayanan

terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang

beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta

antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:2). Matematika adalah disiplin

ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika,

baik

secara

kuantitatif

maupun

secara

kualitatif.

Dengan

demikian

pembelajaran matematika

adalah suatu proses atau kegiatan guru mata

pelajaran

matematika

dalam

mengajarkan

matematika

kepada

para

siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan

iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan

kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi

interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa

dalam mempelajari matematika tersebut.

14

Dalam Kurikulum 2004, tujuan pembelajaran matematika adalah :

a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.

b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan

yang

dikembangkan

oleh

mata

pelajaran

yang

biasanya

dengan nilai tes yang diberikan guru.

ditunjukkan

Menurut Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002:11) hasil-

hasil belajar berupa:

a. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilikan informasi verbal memungkinkan individu berperan dalam kehidupan.

b. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep.

c. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

d. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.

Hasil belajar dapat dikatakan sebagai ukuran keberhasilan siswa

yang

telah

mengikuti

suatu

proses

pembelajaran

dengan

membandingkannya terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

15

Apabila

siswa

memperoleh

hasil

belajar

yang

sesuai

dengan

tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, secara otomatis

siswa

tersebut

dikatakan

berhasil,

demikian

pula

sebaliknya.

Dalam

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, setiap mata pelajaran khususnya

matematika memiliki standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) untuk

setiap aspek penilaian. Aspek penilaian dalam mata pelajaran matematika

terdiri dari tiga, yaitu aspek pemahaman konsep, aspek penalaran dan

komunikasi matematik, dan aspek pemecahan masalah. Dalam penelitian

ini hasil belajar yang dinilai

masalah.

Aspek pemecahan masalah

adalah hasil belajar aspek pemecahan

Pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang

telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal.

Penilaian terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah

disarankan

mencakup

kemampuan

yang

terlibat

dalam

proses

memecahkan

masalah,

yaitu

memahami

masalah,

merencanakan

pemecahan

masalah,

menyelesaikan

masalah

(melaksanakan

rencana

pemecahan masalah), menafsirkan hasilnya. Dari hasil karya siswa dalam

memecahkan masalah , dapat dilihat seberapa jauh kemampuan siswa

dalam

memecahkan

masalah

ditinjau

dari

kemampuan-kemampuan

tersebut. Penilaian dapat dilakukan secara holistik (keseluruhan) atau

analitik (perbagian). Pada kenyataannya, siswa sering terhalang dalam

memecahkan masalah karena lemahnya (tidak terbiasa) mengembangkan

16

strategi pemecahan masalah dan kurangnya pemahaman konsep atau

prosedur yang terkandung dalam penyelesaian masalah.

Indikator

kemampuan :

keberhasilan

memecahkan

masalah

ditunjukkan

oleh

a. Menunjukkan pemahaman masalah.

b. Menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk.

c. Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah.

d. Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat.

e. Mengembangkan strategi pemecahan masalah.

f. Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah menyelesaikan masalah yang tidak rutin. (Tim PPPG Matematika, 2005:79)

Penilaian proses pembelajaran dilakukan terus menerus pada tiap

pertemuan dengan mengacu pada semua indikator yang telah ditetapkan di

setiap kompetensi dasar. Dari hasil penilaian beberapa pertemuan pada

pembelajaran satu kompetensi dasar akhirnya akan diperoleh deskripsi

atau gambaran pencapaian kompetensi tiap siswa pada satu kompetensi

dasar yang mencakup semua indikatornya.

3. Pembelajaran problem solving

a. Pengertian

Sebelum memberikan pengertian tentang pengertian problem

solving atau pemecahan masalah, terlebih dahulu membahas tentang

masalah

atau

problem.

Suatu

pertanyaan

akan

merupakan

suatu

masalah jika seseorang tidak mempunyai aturan tertentu yang segera

dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut.

17

Munurut

Polya

(dalam

Hudojo,

2003:150),

terdapat

dua

macam

masalah :

(1) Masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka-teki. Kita harus mencari variabel masalah tersebut, kemudian mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut.

(a)

Apakah yang dicari?

(b)

Bagaimana data yang diketahui?

(c)

Bagaimana syaratnya?

(2) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya.

Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan usaha-usaha untuk menyelesaikannya sampai memperoleh penyelesaian. Sedangkan pengajaran penyelesaian masalah merupakan tindakan guru dalam mendorong siswa agar menerima tantangan dari pertanyaan bersifat menantang, dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan pertanyaan tersebut (sukoriyanto, 2001:103).

Pembelajaran pemecahan masalah

adalah suatu kegiatan

yang didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada

siswa melalui penugasan atau pertanyaan matematika (Tim PPPG

Matematika,

2005:93).

Fungsi

guru

dalam

kegiatan

itu

adalah

memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing

siswa dalam proses pemecahannya. Masalah yang diberikan harus

masalah

yang

pemecahannya

terjangkau

oleh

kemampuan

siswa.

Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan

motivasi mereka.

18

b. Tujuan Pembelajaran Problem Solving

Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu

tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari pembelajaran problem solving

adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Hudojo (2003:155), yaitu

sebagai berikut.

(1) Siswa

menjadi

terampil

menyeleksi

informasi

yang

relevan

kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.

(2) Kepuasan

intelektual

intrinsik bagi siswa.

akan

timbul

dari

dalam

sebagai

hadiah

(3) Potensi intelektual siswa meningkat.

(4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui

proses melakukan penemuan.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Solving

Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh guru

di dalam memberikan pembelajaran problem solving yaitu sebagai

berikut.

(1) Menyajikan masalah dalam bentuk umum.

(2) Menyajikan kembali masalah dalam bentuk operasional.

(3) Menentukan strategi penyelesaian.

(4) Menyelesaikan masalah.

Sedangkan menurut Hudojo dan Sutawijaya (dalam Hudojo,

2003:162), menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diikuti dalam

penyelesaian problem solving yaitu sebagai berikut.

19

(1) Pemahaman terhadap masalah.

(2) Perencanaan penyelesaian masalah.

(3) Melaksanakan perencanaan.

(4) Melihat kembali penyelesaian.

Strategi belajar mengajar penyelesaian masalah adalah bagian

dari strategi belajar mengajar inkuiri. Penyelesaian masalah menurut

J. Dewey (dalam Hudojo, 2003:163), ada enam tahap:

(1) Merumuskan masalah: mengetahui dan menemukan masalah secara jelas. (2) Menelaah masalah: menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari berbagai sudut. (3) Merumuskan hipotesis: berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat dan alternatif penyelesaian. (4) Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis: kecakapan mencari dan menyusun data, menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar. (5) Pembuktian hipotesis: cakap menelaah dan membahas data, menghitung dan menghubungkan, keterampilan mengambil keputusan dan kesimpulan. (6) Menentukan pilihan penyelesaian: kecakapan membuat alternatif penyelesaian kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap langkah.

d. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran problem solving

Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.

(1) Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.

(2) Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang

dihadapi.

(3) Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.

(4) Mendidik siswa percaya diri sendiri.

20

Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.

(1) Memerlukan waktu yang cukup banyak.

(2) Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen,

maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang

siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja.

4. Keterampilan Berproses

Menurut Syah (dalam Sukestiyarno dan Budi Waluyo, 2006:8)

menyatakan:

“Keterampilan berproses adalah kemampuan pola tingkah laku proses aktif yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan strategi pembelajaran yang disusun untuk mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik saja melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif”.

Menurut Margono (dalam Supriyadi, 2005:20), mengemukakan

pendekatan keterampilan berproses adalah suatu pendekatan pengajaran

yang menekankan pada keterlibatan siswa pada kegiatan-kegiatan dalam

penyusunan atau penemuan konsep sendiri. Terdapat dua kebaikan dalam

pendekatan keterampilan berproses:

a.

Memberi bekal bagaimana cara memperoleh pengetahuan, sehingga

dapat menyiapkan siswa untuk masa depan.

 

b.

Merupakan

pendekatan

yang

kreatif,

karena

para

siswa

aktif

melakukan kegiatan ilmiah sendiri sehingga dapat meningkatkan cara

berpikir dan cara mendapatkan pengetahuan.

Menurut Depdikbud (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002:138),

pendekatan keterampilan

berproses dapat diartikan sebagai wawasan

21

pengembangan keterampilan intelektual, sosial, fisik yang bersumber dari

kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam

diri siswa.

Dalam

suatu

kegiatan

pembelajaran

dapat

dikatakan

terjadi

belajar, apabila terjadi proses perubahan tingkah laku pada diri siswa

sebagai hasil dari suatu pengalaman. Kegiatan pembelajaran di sekolah

secara operasional adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses

dan memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi dirinya sendiri.

Mengajar dengan kemampuan proses berarti memberi kesempatan kepada

siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar menceritakan atau

mendengarkan

pembelajaran

cerita

tentang

ilmu

matematika

tidak

pengetahuan.

semata-mata

Sebenarnya

melalui

hanya

menanamkan

pengetahuan saja, tetapi melalui pembelajaran matematik sangat mungkin

diterapkan pembentukan sikap positif dan keterampilan cermat dan kritis.

Jenis-jenis keterampilan proses :

a.

Mengamati

Melalui kegiatan mengamati, kita belajar tentang dunia sekitar

kita yang fantastis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena

alam dengan panca indra. Informasi yang kita peroleh dapat menuntun

keingintahuan, mempertanyakan, memikirkan, melakukan interpretasi

tentang

lingkungan

kita,

dan

meneliti

lebih

lanjut.

Mengamati

merupakan tanggapan kita terhadap berbagai objek dan peristiwa alam

dengan menggunakan indera.

22

b. Mengklasifikasikan

Mengklasifikasikan

merupakan

keterampilan

proses

untuk

memilih berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya,

sehingga

didapatkan

golongan

sejenis

dari

objek

peristiwa

yang

dimaksud.

c. Mengkomunikasikan

Kemampuan

berkomunikasi

dengan

orang

lain

merupakan

dasar untuk segala yang kita kerjakan. Mengkomunikasikan dapat

diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan

prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara visual.

d. Mengukur

Pengembangan yang baik terhadap keterampilan-keterampilan

mengukur

merupakan

hal

yang

sangat

penting

dalam

membina

observasi kuantitatif, mengklasifikasikan, dan membandingkan segala

sesuatu di sekeliling kita, serta mengkomunikasikan secara tepat dan

efektif

kepada

yang

lain.

Mengukur

dapat

diartikan

sebagai

membandingkan yang diukur dengan satuan ukur tertentu yang telah

ditetapkan sebelumnya.

e. Memprediksi

Memprediksi

dapat

diartikan

sebagai

mengantisipasi

atau

membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu

mendatang,

berdasarkan

perkiraan

pada

pola

atau

kecanderungan

23

 

tertentu,

atau

hubungan

antara

fakta,

konsep,

dan

prinsip

ilmu

pengetahuan.

 

f.

Menyimpulkan

Menyimpulkan

dapat

diartikan

sebagai

suatu

keterampilan

untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan

fakta, konsep, dan prinsip yang diketahui.

Keterampilan siswa selama melaksanakan proses pembelajaran

dapat

diamati

dan

dinilai

tingkat

perkembangannya

indikator dan taraf keterampilan proses.

5. Ketuntasan Belajar

dalam

suatu

Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian

taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan

pembelajaran setiap satuan pelajaran (Supriyadi, 2005:20).

Ketuntasan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

ketuntasan hasil belajar dan keterampilan berproses. Standar ketuntasan

keterampilan berproses yang diterapkan dalam penelitian ini adalah 70

sedangkan standar minimal ketuntasan hasil belajar adalah 68.

B. Uraian Pokok Bahasan Segitiga

Kompetensi Dasar dan indikator pada pokok bahasan segitiga adalah sebagai

berikut.

Kompetensi Dasar : 1.Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan

sudutnya.

24

2.Melukis segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat dan

garis sumbu.

3.Menghitung

keliling

dan

luas

bangun

segitiga

dan

menggunakannya dalam pemecahan masalah.

Indikator

:1. Menjelaskan jenis-jenis segitiga bardasarkan sisi –

sisinya.

2. Menjelaskan jenis-jenis segitiga berdasarkan sudutnya.

3. Menyelesaikan soal mengenai sudut dalam segitiga.

4. Melukis segitiga sama kaki dan sama sisi.

5. Melukis garis tinggi, garis bagi, garis berat, dan garis

sumbu.

6. Menghitung keliling dan luas segitiga.

7. Menyelesaikan

masalah

yang

berkaitan

dengan

menghitung keliling dan luas segitiga.

Unsur-Unsur Segitiga

C

keliling dan luas segitiga. Unsur-Unsur Segitiga C B A   D Segitiga adalah bidang datar yang

B

A

 

D

Segitiga

adalah

bidang

datar

yang

membentuk tiga sudut.

Unsur

Nama Unsur

Sisi

AB, BC, dan AC

Sudut

A, B, dan C

Alas

AB

Tinggi

CD

dibatasi

oleh

tiga

garis

lurus

dan

25

1. Jenis-Jenis Segitiga

a. Jenis segitiga berdasarkan panjang sisinya

1)

Segitiga sama kaki

A

C B
C
B

Segitiga sama kaki adalah segitiga yang memiliki dua sisi yang

sama panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa sisi AB = AC.

2)

Segitiga sama sisi C A Segitiga sama sisi adalah
Segitiga sama sisi
C
A
Segitiga
sama
sisi adalah

B

segitiga

yang

ketiga

sisinya

sama

panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa AB = BC = AC dan

3)

A = B = C.

Segitiga sembarang

A

C B
C
B

Segitiga sembarang adalah segitiga yang ketiga sisinya tidak sama

panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa AB BC

dan

A

B C.

AC

b. Jenis segitiga berdasarkan besar sudutnya

1)

Segitiga Lancip, adalah segitiga yang ketiga sudutnya merupakan

sudut lancip (sudut yang besarnya antara 0 0 dan 90 0 ).

26

2)

M K L Segitiga siku-siku, adalah segitiga
M
K
L
Segitiga
siku-siku,
adalah
segitiga

yang

salah

satu

sudutnya

merupakan sudut siku-siku (sudut yang besarnya dan 90 0 ).

3)

M K L Segitiga tumpul, adalah
M
K
L
Segitiga
tumpul,
adalah

segitiga

yang

salah

satu

sudutnya

merupakan sudut tumpul (sudut yang besarnya antara 90 0 dan

180 0 ).

M K
M
K

L

c. Melukis garis-garis pada segitiga

1)

Melukis garis tinggi segitiga

Langkah-langkah

melukis

garis

tinggi

segitiga

adalah

sebagai

berikut.

a) Gambarlah segitiga ABC.

 

b) Dengan

pusat

titik

A

lukislah

busur

lingkaran

dengan

sembarang jari-jari r. Busur lingkaran tersebut memotong sisi

BC di titik P dan Q.

c) Lukislah dua busur lingkaran berjari-jari r, yang berpusat di P

27

d) Hubungkan titik A dan titik D. Garis AD ini memotong sisi BC

di titik E. Garis AE inilah yang disebut garis tinggi.

2)

C P E Q A B
C
P
E
Q
A
B

D

Melukis garis bagi segitiga

a) Gambarlah segitiga ABC.

b) Dengan pusat A, lukislah busur lingkaran yang memotong sisi

AB dan AC berturut-turut di titik P dan Q.

c) Lukislah dua busur masing-masing berpusat di P dan Q dengan

jari-jari sembarang yang sama. Kedua busur ini berpotongan di

titik R.

d) Hubungkan titik A dan R. Garis AR ini memotong sisi BC di

titik D. Garis AD inilah yang disebut garis bagi.

3)

C A D Q ● ● A P B
C
A
D
Q
A
P
B

Melukis garis berat dan garis sumbu segitiga

a) Gambarlah segitiga ABC.

b) Lukislah dua busur lingkaran masing-masing berpusat di B dan

C dengan

jari-jari

sembarang.

barpotongan di titik P dan Q.

Kedua

unsur

lingkaran

28

c) Hubungkan titik P dan Q. Garis PQ disebut garis sumbu ruas

garis BC.

d) Garis PQ memotong sisi BC di titik D. Panjang BD = panjang

CD. Hubungkan titik A dengan titik D. Garis AD disebut garis

berat segitiga. C Q D P B A
berat segitiga.
C
Q
D
P B
A

d. Sudut-Sudut Segitiga

1)

Jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga adalah 180 0 .

C γ α β A
C
γ
α β
A

α + β + γ

= 180 0

B

2)

Hubungan sudut dalam dan sudut luar segitiga.

Garis AB diperpanjang hingga ke titik D. Sudut-sudut α , β , γ

disebut

sudut

dalam

segitiga.

Sudut

CBD

disebut

sudut

luar

segitiga.

 

C

γ α β A B D
γ
α
β
A
B
D

29

e. Keliling dan Luas Segitiga

C

A B
A
B

1)

2)

C. Contoh

Segitiga

Keliling Segitiga

K = AB + BC + AC

Luas Segitiga 1 L = x AB xAC 2 1 = x alas x tnggi
Luas Segitiga
1
L
=
x AB xAC
2
1
=
x alas x tnggi
2
Luas Segitiga 1 L = x AB xAC 2 1 = x alas x tnggi 2

Model

Pembelajaran

Problem Solving

Pada

Pokok

Bahasan

Siswa membentuk kelompok, guru memberikan soal tentang pengertian

dan jenis-jenis segitiga kepada siswa sebagai sebuah masalah. Setiap siswa

mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mendengarkan

pendapat

teman

kelompoknya.

Setelah

selesai,

setiap

kelompok

mempresentasikan

hasil

diskusi

kelompok

dan

kelompok

lain

memberi

tanggapan. Guru memberikan umpan balik/pemecahan kepada siswa. Secara

lengkap bisa dilihat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lampiran

30

D. Kerangka Berpikir

Pembelajaran

merupakan

upaya

menciptakan

iklim

dan

pelayanan

terhadap

kemampuan,

potensi,

minat,

bakat,

dan

kebutuhan

siswa

yang

beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara

siswa dengan siswa. Dalam metode pembelajaran ekspositori yang masih

banyak dianut oleh guru saat ini, kegiatan pembelajaran terpusat pada guru

sebagai

pemberi

berlangsung

satu

informasi

arah

saja.

pembelajaran,

kalaupun

siswa

(bahan

Guru

pelajaran),

sehingga

tidak

mengikutsertakan

pembelajaran

siswa

dalam

diberi

kesempatan

untuk

bertanya,

hanya

sedikit siswa saja yang melakukannya.

Dalam kehidupan sehari-hari siswa sering dihadapkan oleh berbagai

masalah. Oleh karena itu perlu sedini mungkin siswa dibiasakan untuk

menyelesaikan

masalah.

Dengan

demikian

diharapkan

siswa

mampu

mengambil

keputusan

melalui

proses

yaitu

memahami

masalah,

merencanakan

penyelesaian

masalah,

melaksanakan

rencana

pemecahan

masalah, dan mengecek kembali hasil pemecahan masalah.

Salah

satu

model

pembelajaran

yang

efektif

adalah

pembelajaran

problem

solving,

yaitu

pembelajaran

yang

didesain

guru

dalam

rangka

memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan (pertanyaan) matematika.

Guru sebagai motivator siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing

siswa dalam proses memecahkannya. Model problem solving dapat mendidik

siswa berpikir secara sistematis, mampu mencari berbagai jalan keluar dari

31

suatu kesulitan yang dihadapi, dapat belajar menganalisis suatu masalah dari

berbagai aspek dan dapat mendidik siswa percaya diri.

Pokok bahasan segitiga merupakan salah satu aspek dalam geometri.

Geometri

merupakan

materi

yang

dianggap

siswa

masih

abstrak

dan

memerlukan kemampuan pemecahan masalah, serta dapat membantu siswa

memperoleh pengetahuannya melalui siswa lain dalam diskusi kelompok

sehingga nantinya siswa juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan

berproses secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran

materi

segitiga

masalah.

diperlukan

keterampilan

berproses

dalam

memecahkan

Hasil proses belajar dapat diamati, maka perubahan keterampilan siswa

selama melaksanakan proses pembelajaran juga dapat diamati dan dinilai

tingkat

perkembangnnya

dalam

suatu

indikator

dan

taraf

keterampilan

berproses. Kegiatan tersebut diberi nama variabel keterampilan berproses.

Keterampilan berproses siswa dapat dilihat dengan mengajukan pertanyaan,

menjawab pertanyaan atau menanggapi, menyampaikan ide atau pendapat,

mendengarkan secara aktif, berada dalam tugas, dan sebagainya. Selanjutnya

setelah proses pembelajaran berakhir maka akan dapat diukur hasil belajar

dengan suatu indikator kemampuan kognitif. Pengukuran ini diberi nama

variabel hasil belajar. Apabila ketermpilan berproses seseorang menunjukkan

adanya perkembangan, maka akan dapat memberikan kontribusi yang baik,

yaitu peningkatan hasil belajar. Dengan demikian ada pengaruh yang positif

32

keterampilan berproses terhadap hasil belajar. Dan pada akhirnya tercapai

ketuntasan hasil belajar dan keterampilan berproses.

Bagan kerangka berpikir adalah sebagai beikut

Siswa

Bagan kerangka berpikir adalah sebagai beikut Siswa Masalah pada pokok bahasan segitiga Model Pembelajaran yang

Masalah pada pokok bahasan segitiga

sebagai beikut Siswa Masalah pada pokok bahasan segitiga Model Pembelajaran yang sesuai (Model Pembelajaran Problem

Model Pembelajaran yang sesuai (Model Pembelajaran Problem Solving)

yang sesuai (Model Pembelajaran Problem Solving ) Siswa belajar dalam kelompok Pengamatan keterampilan

Siswa belajar dalam kelompok

Pembelajaran Problem Solving ) Siswa belajar dalam kelompok Pengamatan keterampilan berproses Pengaruh keterampilan

Pengamatan keterampilan berproses

belajar dalam kelompok Pengamatan keterampilan berproses Pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem

Pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar

model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar Ada pengaruh positif keterampilan berproses model

Ada pengaruh positif keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar

Kemampuan memecahkan masalah matematika

Mencapai ketuntasan belajar

33

C. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.

Keterampilan berproses model pembelajaran problem solving pada pokok

bahasan segitiga mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil belajar

siswa SMP N 15 Semarang.

 

2.

Pembelajaran

matematika

pokok

bahasan

segitiga

dengan

model

pembelajaran

problem

solving

dapat

mencapai

ketuntasan

belajar

(keterampilan berproses dan hasil belajar).

34

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penentuan Obyek Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini

adalah semua

siswa SMP N 15

Semarang kelas VII yang berjumlah 352 siswa pada semester genap tahun

pelajaran 2006/2007. Kelas VII terdiri dari delapan kelas yaitu kelas VIIA

sampai dengan kelas VIIH, setiap kelasnya terdiri dari 44 siswa.

2. Sampel penelitian

Penentuan sampel dalam penelitian ini dipilih dengan teknik

cluster random sampling dari populasi normal yang diasumsikan homogen

dengan pertimbangan siswa duduk pada jenjang kelas yang sama, guru

yang mempunyai kemampuan sama, materi berdasarkan pada kurikulum

yang sama dan pembagian kelas tidak ada kelas unggulan. Dari populasi

yang tersebar dalam 7 (tujuh) kelas, dipilih 1 (satu) kelas yang akan

menjadi sampel yaitu kelas VII G (nama responden terdapat pada lampiran

27 halaman 134) dan 1 (satu) kelas untuk uji coba yaitu kelas VII F (nama

responden terdapat pada lampiran 26 halaman 133).

35

3. Variabel penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1)

Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah keterampilan berproses

pembelajaran matematika dengan model problem solving (X).

2)

Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar (Y) siswa

kelas VII SMP N 15 Semarang pada pokok bahasan segitiga. Hasil

belajar yang akan dinilai dalam penelitian ini adalah aspek pemecahan

masalah.

4. Desain Penelitian

Langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti pada saat penelitian adalah

sebagai berikut.

a.

Peneliti merancang kelas yang akan dijadikan sampel.

b.

Peneliti membuat instrumen penelitian yang akan digunakan untuk

penelitian.

c.

Peneliti melaksanakan uji coba instrumen penelitian, menganalisis dan

menetapkan instrumen penelitian

d.

Peneliti melaksanakan pembelajaran pada sampel penelitian. Pada

pelaksanaan ini diterapkan model pembelajaran problem solving.

e.

Peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian

pada

sampel

dengan

pengamatan

untuk

mengukur

keterampilan

berproses dan tes untuk mengukur hasil belajar.

36

f. Peneliti menganalisis/mengolah data yang telah dikumpulkan dengan

metode yang telah ditentukan.

g. Peneliti menyusun dan melaporkan hasil-hasil penelitian.

B. Metode Pengumpulan Data

1. Lembar Observasi/pengamatan

Lembar

pengamatan

dalam

penelitian

ini

digunakan

untuk

mendapatkan data tentang keterampilan berproses siswa kelas VII G SMP

Negeri 15 Semarang pembelajaran matematika dengan model problem

solving.

2. Tes

Tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa

pada pokok bahasan segitiga setelah proses pembelajaran.

C. Instrumen Penelitian

1. Materi dan Bentuk Tes

Materi tes yang digunakan adalah materi kelas VII semester II yaitu

segitiga.

Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk soal uraian.

2. Metode Penyusunan Perangkat tes

Penyusunan tes dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Menentukan materi yang diujikan.

b. Menentukan tipe soal.

c. jumlah

Menentukan

soal

berdasarkan

pertimbangan

dan

tingkat

kesulitan soal.

37

d. Menentukan alokasi waktu untuk mengerjakan soal.

e. Menentukan komposisi atau jenjang.

f. Membuat kisi-kisi.

g. Menuliskan petunjuk mengerjakan soal, bentuk lembar jawab, kunci

jawaban, dan penentuan skor.

h. Menulis butir soal.

i. Mengujicobakan instrumen.

j. Menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas, reliabilitas, daya beda

dan tingkat kesukaran.

k. Memilih item soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang sudah

dilakukan.

3. Indikator Kinerja

Indikator

kinerja

yang

akan

dinilai

dalam

penelitian

ini

keterampilan berproses dan hasil belajar.

a. Indikator keterampilan berproses

adalah

I. Keterampilan siswa dalam pembelajaran secara global.

(1)

Kesiapan siswa untuk menerima pelajaran.

 

(2)

Keterampilan

siswa

mengingat

kembali

materi/pengetahuan

prasyarat.

(3)

Keterampilan membuat catatan penting materi pelajaran.

(4)

Konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.

 

(5)

Keterlibatan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

38

II. Reaksi/tanggapan siswa terhadap tugas yang diberikan.

(6)

Membuat daftar pertanyaan yang berkualitas.

(7)

Jumlah jawaban soal yang coba diselesaikan.

(8)

Membuat rangkuman materi yang berkualitas.

(9)

Keterampilan menyelesaikan tugas rumah yang diberikan.

(10) Kedisiplinan menyelesaikan tugas.

III. Keaktifan dalam pembelajaran.

(11) Keterampilan mengungkapkan pendapat.

(12) Keterampilan menjawab pertanyaan yang diberikan.

(13) Kereaktifan siswa dalam melontarkan kritik.

(14) Keterampilan

berinteraksi

melalui

bertanya/siap

pertanyaan dalam pembelajaran.

menjawab

(15) Memberi kesempatan teman kelompok untuk aktif.

(16) Adanya kerja sama antar sesama anggota kelompok.

(17) Keterampilan beradaptasi dengan teman.

IV.

Keterampilan

siswa

dalam

berkomunikasi

menanggapi

hasil

jawaban.

(18) Keterampilan mengkomunikasikan jawaban.

(19) Keterampilan menyajikan hasil diskusi.

(20) Keterampilan melaksanakan cara kerja sesuai dengan petunjuk.

V. Keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan matematis

(21) Kesiapan siswa menghadapi masalah dalam pembelajaran.

39

(22) Keterampilan memecahkan masalah ketika siswa mengerjakan

evaluasi.

(23) Keterampilan

mengukur,

menghitung,

menafsirkan,

memprediksi suatu konsep dan menunjukkan rumus.

(24) Keterampilan membuat kesimpulan hasil pembelajaran.

(25) Keterampilan dalam mengikuti evaluasi individu.

Penilaian keterampilan berproses menggunakan skala likert 1 sampai

dengan 5.

Standar ketuntasan keterampilan berproses yang diterapkan dalam

penelitian ini adalah 70, dengan pertimbangan keterampilan berproses

harus lebih tinggi dari pada hasil belajar yang dicapai.

b. Indikator hasil belajar

(1) Menjelaskan jenis segitiga berdasarkan sisi-sisinya.

(2) Menjelaskan jenis segitiga berdasarkan sudutnya.

(3) Menyelesaikan soal mengenai sudut dalam segitiga.

(4) Melukis segitiga sama kaki dan sama sisi.

(5) Melukis garis tinggi, garis bagi, garis berat, dan garis sumbu.

(6) Menghitung keliling dan luas segitiga.

(7) Menyelesaikan

masalah

yang

keliling dan luas segitiga.

berkaitan

dengan

menghitung

Penilaian skoring dengan rentang 0 sampai dengan 100.

Berdasar sekolah yang diteliti yaitu SMP N 15 Semarang, standar

40

Dalam pelaksanaan penelitian, teknik pengambilan data pada

variabel keterampilan berproses dilakukan dengan lembar pengamatan

(observasi),

sedangkan

untuk

variabel

hasil

belajar

kelas

pengukurannya dengan tes tertulis.

sampel

Menurut Sugiyono (2003:270) instrumen yang berupa tes perlu

diuji validitas isi dan validitas konstruksi. Instrumen berupa non tes

hanya

cukup