Anda di halaman 1dari 13

CARA PENYIMPANAN DAN PEWADAHAN REAGEN

A. Penyimpanan Reagen
1.

Hal umum yang harus menjadi perhatian di dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia
diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple
hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder
(secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate
chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information).

2.

Pisahkan antara sediaan liquid dan solid dan klasifikasikan berdasarkan sifatnya: flamable,
mudah meledak, toxic, oksidator, korosif, infeksi, dll.

3.

Disimpan dalam suatu lemari hindari bahan dari kayu

4.

Kondisi ruangan harus dingin/ber ac atau dengan dilengkapi exhaust fan, lampu ruangan pilih
yang fire proof, dan kalau tidak dilengkapi dengan AC, ruangan harus punya sirkulasi udara
yg baik Karena ada beberapa reagen yg penyimpananya dibawah suhu 25 C, pantau suhu
ruangan maksimal 30 C.

5.

Tempat penyimpanan harus bersih, kering dan jauh dari sumber panas atau kena sengatan
sinar matahari. Di samping itu tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan ventilasi yang
menuju ruang asap atau ke luar ruangan. Pada penataan bahan kimiapun diperlukan sumber
literatur untuk mengetahui spesifikasi masing-masing bahan kimia tersebut. Spesifikasi bahan
kimia akan dijumpai pada buku katalog bahan.

6.

Jika terjadi tumpahan yang paling baik mengatasinya dengan pasir atau dengan air kran.

7.

Buat sistem administrasi nya: daftar isi, jumlah stock, ED bahan, memasang perhatian APD
yg sesuai dg peruntukannya, dll.

8.

Salah satu informasi penting yang harus selalu disertakan adalah lembar data keselamatan
data (Material Safety Data Sheet MSDS)
Informasi MSDS disamping harus tercantum pada produksi, juga harus muncul
pada dokumen pengangkutan, penyimpanan, pengedaran dan juga pada kemasan bahan
tersebut.

Penyimpanan Reagen yang bersifat berbahaya memerlukan perlakuan khusus, antara lain :
a. Lokasi dan konstruksi tempat penyimpanan reagen yang bersifat berbahaya dan beracun
membutuhkan pengaturan tersendiri, agar tidakterjadi kecelakaan akibat kesalahan dalam

penyimpanan tersebut. Salah satupersyaratan kelengkapan pada tempat penyimpanan tersebut


adalah sistem tanggap darurat dan prosedur penanganannya.
b. Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah tepat,
kebutuhan itu hanya diperlukan untuk melakukan proses pengadministrasian. Pengurutan
secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat
fisis, dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya.
c. Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain, harus disimpan secara
khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, dan ledakan. Penyimpanan
bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko bahayanya yang paling tinggi.
Misalnya benzene memiliki sifat flammable dan toxic.
d.

Sifat dapat terbakar dipandang memiliki resiko lebih tinggi daripada timbulnya

karsinogen. Oleh karena itu penyimpanan benzena harus ditempatkan pada cabinet tempat
menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada cabinet bahan toxic.
e.

Reagen berbahaya dan beracun yang dianggap kadaluwarsa, atau tidak memenuhi

spesifikasi, atau bekas kemasan, yang tidak dapat digunakan tidak boleh dibuang
sembarangan, tetapi harus dikelola sebagai limbah berbahaya dan beracun. Kadaluwarsa
adalah bahan yang karena kesalahan dalam penanganannya menyebabkan terjadinya
perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga bahan tersebut tidak sesuai lagi dengan
spesifikasinya.
f. Salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah kewajiban uji kesehatan secara berkala
bagi pekerja, sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun, denganmaksud untuk mengetahui
sedini mungkin terjadinya kontaminasi oleh zat/senyawa kimia berbahaya dan beracun
terhadap pekerja atau pengawas lokasi tersebut.
g. Salah satu kehawatiran utama dalam penanganan berbahaya dan beracun adalah
kemungkinan terjadinya kecelakaan baik pada saat masih dalam penyimpanan maupun
kecelakaan pada saat dalam pengangkutannya. Kecelakaan ini adalah lepasnya atau
tumpahnya reagen kelingkungan, yang memerlukan penanggulangan cepat dan tepat. Bila
terjadi kecelakaan, maka kondisi awalnya adalah berstatus keadaan darurat (emergency).
-

Penyimpanan reagen yang bersifat anhidrat, disimpan di dalam oven pada suhu 100-110 oC,
selama 1-2 jam dan sebaiknya semalam, sedangkan penyimpanan reagen yang bersifat hidrat
disimpan pada eksikator.

B. Cara pewadahan reagen


Untuk mejaga keamanan dan kualitas reagen perlu dilakukan pewadahan.
a.

Kriteria wadah reagen yang baik antara lain :

1.

Botol yang gelap / berwarna coklat, hal ini dilakukan agar dapat terhindar dari sinar
matahari.

2. Wadah reagen tidak bocor.


3. Wadah reagen harus bermulut kecil, dan tertutup rapat.
4. Wadah reagen harus berbahan dasar dari kaca.
5. Wadah reagen harus steril..

Tidak bereaksi dengan bahan kimia dari reagen yang diwadahkan.

Untuk reagen cair, diwadahkan pada botol yang memenuhi kriteria seperti di atas. Reagen
yang bervolume kecil, diwadahkan pada botol berukuran kecil. Sedangkan pada reagen yang
bervolume besar, diwadahkan pada botol ukuran besar atau jerigen yang berbahan kaca.
Untuk reagen serbuk, jika berisi banyak, dapat diwadahkan pada botol dengan mulut agak
lebar, hal ini bertujuan agar mudah dalam waktu pengambilan reagen pada waktu
penimbangan.
Hal penting yang harus selalu di ingat pada saat pewadahan reagen yaitu, pemberian label
yang berisi, nama reagen, tanggal pembuatan, paraf pembuat reagen, tanggal penerimaan,
konsentrasi dan pelarut pada botol/ wadah reagen.
Alangkah baiknya jika tempat penyimpanan masing-masing kelompok bahan tersebut
diberi label dengan warna berbeda. Misalnya warna merah untuk bahan flammable, kuning
untuk bahan oksidator, biru untuk bahan toksik, putih untuk bahan korosif, dan hijau untuk
bahan yang bahayanya rendah. label bahan flammable label bahan oksidator label bahan
toksik label bahan korosif label bahan dengan tingkat bahaya rendah

Reagen harus dibeli dalam wadah yang ukurannya tepat sehingga isinya dapat digunakan
semua dalam beberapa bulan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya deteriorasi mutu.
Wadah bahan kimia dan lokasi penyimpanan harus diberi label yang jelas. Label wadah
harus mencantumkan nama bahan, tingkat bahaya, tanggal diterima dan dipakai.
b. Syarat-syarat yang harus dipenuhi suatu wadah agar dapat berfungsi dengan baik :
1. Harus dapat melindungi reagen dari kotoran dan kontaminasi sehingga reagen tetap bersih.
2. Harus dapat melindungi dari kerusakan fisik, perubahan kadar air , gas, dan penyinaran
(cahaya).
3. Mudah untuk dibuka/ditutup, mudah ditangani serta mudah dalam pengangkutan dan
distribusi.
4. Harus mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang
ada.
5. Dapat menunjukkan identitas, informasi dan penampilan reagen yang jela

Pelaporan hasil krtitis


1. Hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan validasi oleh PPKA (Petugas
Pengganti Kepala Analis).
2. Apabila didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium masuk kriteria angka kritis
atau angka panik, maka PPKA segera mengkomunikasikan ke dokter atau
ruangan yang meminta pemeriksaan laboratorium tersebut. Komunikasi
dilakukan melalui telepon sesuai dengan prosedur komunikasi melalui telepon.
3. PPKA mendokumentasikan di buku sebagai bukti bahwa angka kritis atau
angka panik tersebut sudah dikomunikasikan ke dokter atau ruangan yang
meminta pemeriksaan laboratorium tersebut. Mendokumentasikan hari,
tanggal, jam, angka kritis atau angka panik yang dilaporkan, yang melapor
(PPKA), yang menerima laporan, dan tanda tangan yang melapor (PPKA).
Jika dokter yang bersangkutan meminta untuk mengulang pemeriksaan
laboratorium tersebut, maka PPKA melaksanakannya sesuai dengan prosedur
yang berlaku

NILAI KRITIS HASIL LABORATORIUM


Semua laporan berupa telepon kepada dokter untuk melaporkan nilain i l a i k r i t i s didokumentasikan dalam BUKU LAPORAN HASIL KRITIS. Untuk memenu i
tu!uankesalamatan pasien" petu#as laboratorium $an# melaporkan asil kritis arus memba
%akembali nama pasien" No laboratorium" Tan##al Lair dan semua asil laboratorium $an

Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi penting dalam
diagnosis invitro. Setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa pemeriksaan laboratorium
diperlukan, yaitu : skrining, diagnosis, pemantauan progresifitas penyakit, monitor
pengobatan dan prognosis penyakit. Oleh karena itu setiap laboratorium harus dapat
memberikan data hasil tes yang teliti, cepat dan tepat.

Dalam proses pengendalian mutu laboratorium dikenal ada tiga tahapan penting, yaitu tahap
pra analitik, analitik dan pasca analitik. Pada umumnya yang sering sering diawasi dalam
pengendalian mutu hanya tahap analitik dan pasca analitik yang lebih cenderung kepada
urusan administrasi, sedangkan proses pra analitik kurang mendapat perhatian.
Kesalahan pada proses pra-analitik dapat memberikan kontribusi sekitar 61% dari total
kesalahan laboratorium, sementara kesalahan analitik 25%, dan kesalahan pasca analitik
14%. Proses pra-analitik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : pra-analitik ekstra
laboratorium dan pra-analitik intra laboratorium. Proses-proses tersebut meliputi persiapan
pasien, pengambilan spesimen, pengiriman spesimen ke laboratorium, penanganan spesimen,
dan penyimpanan spesimen.
PERSIAPAN

PASIEN

Persiapan pasien dimulai saat seorang dokter merencanakan pemeriksaan laboratorium bagi
pasien. Dokter dibantu oleh paramedis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
tindakan apa yang akan dilakukan, manfaat dari tindakan itu, dan persyaratan apa yang harus
dilakukan oleh pasien. Informasi yang diberikan harus jelas agar tidak menimbulkan
ketakutan atau persepsi yang keliru bagi pasien. Pemilihan jenis tes yang kurang tepat atau
tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien akan menghasilkan interpretasi yang berbeda.
Ketaatan pasien akan instruksi yang diberikan oleh dokter atau paramedis sangat berpengaruh
terhadap hasil laboratorium; tidak diikutinya instruksi yang diberikan akan memberikan
penilaian hasil laboratorium yang tidak tepat. Hal yang sama juga dapat terjadi bila keluarga
pasien
yang
merawat
tidak
mengikuti
instruksi
tersebut
dengan
baik.
Ada beberapa sumber kesalahan yang kurang terkontrol dari proses pra-analitik yang dapat
mempengaruhi keandalan pengujian laboratorium, tapi yang hampir tidak dapat diidentifikasi
oleh staf laboratorium. Ini terutama mencakup variabel fisik pasien, seperti latihan fisik,
puasa, diet, stres, efek posisi, menstruasi, kehamilan, gaya hidup (konsumsi alkohol, rokok,
kopi, obat adiktif), usia, jenis kelamin, variasi diurnal, pasca transfusi, pasca donasi, pasca
operasi, ketinggian. Karena variabel tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa
variabel biokimia dan hematologi, maka gaya hidup individu dan ritme biologis pasien harus
selalu dipertimbangkan sebelum pengambilan sampel.
PERSIAPAN PENGUMPULAN SPESIMEN

Spesimen yang akan diperiksa laboratorium haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan

Volume mencukupi

Kondisi baik : tidak lisis, segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah
bentuk, steril (untuk kultur kuman)

Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat

Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat

Identitas benar sesuai dengan data pasien

Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium. Identitas pasien


harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis, dsb) disertai
diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah ditulis dengan benar sesuai
dengan
pasien
yang
akan
diambil
spesimen.
Tanyakan persiapan yang telah dilakukan oleh pasien, misalnya diet, puasa. Tanyakan juga
mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, minum alkohol, merokok, dsb. Catat apabila pasien
telah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minum alkohol, pasca transfusi, dsb.
Catatan ini nantinya harus disertakan pada lembar hasil laboratorium.
1. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

bersih, kering

tidak mengandung deterjen atau bahan kimia

terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen

sekali pakai buang (disposable)

steril (terutama untuk kultur kuman)

tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume
spesimen

2. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Jenis
antikoagulan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang diminta.
Volume darah yang ditambahkan juga harus tepat.
3. Pemilihan Lokasi Pengambilan Spesimen
Tentukan lokasi pengambilan spesimen sesuai dengan jenis spesimen yang diperlukan, seperti
:

Darah vena umumnya diambil dari vena lengan (median cubiti, vena cephalic, atau
vena basilic). Tempat pengambilan tidak boleh pada jalur infus atau transfusi, bekas
luka, hematoma, oedema, canula, fistula

Darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis (pergelangan tangan), arteri
brachialis (lengan), atau arteri femoralis (lipat paha).

Darah kapiler umumnya diambil dari ujung jari tengah atau jari manis tangan bagian
tepi atau pada daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi. Tempat yang
dipilih untuk pengambilan tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah
seperti sianosis atau pucat.

Spesimen untuk pemeriksaan biakan kuman diambil dari tempat yang sedang
mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak.

4. Waktu Pengambilan
Penentuan waktu pengambilan spesimen penting untuk diperhatikan.

Umumnya pengambilan dilakukan pada waktu pagi (ideal)

Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik

Spesimen untuk pemeriksaan GO diambil 2 jam setelah buang air yang terakhir

Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam

Spesimen untuk mikrofilaria diambil pada tengah malam

Spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA diambil pagi hari setelah bangun tidur

Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari dan setelah
puasa 10-12 jam

PENGAMBILAN

SPESIMEN

Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :


1. Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar
sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
2. Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
o Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada
yang menempel pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.
o Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk
mencegah spesimen tumpah.
o Memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal
seperti berikut :

Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.

Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan


agar tidak terjadi hemolisis.

Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel


ke dalam media dilakukan dengan cara aseptik

Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak


keliru.

Homogenisasi segera darah yang menggunakan antikoagulan dengan


lembut perlahan-lahan. Jangan mengkocok tabung keras-keras agar
tidak hemolisis.

o Menampung spesimen urin

Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan


apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar

Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula


keluar sebelum mengumpulkan urine untuk diperiksa.

Untuk mendapatkan specimen


pembersihan lebih sempurna :

clean

catch

diperlukan

cara

Mulut uretra dibersihkan dengan sabun dan kemudian


membilasnya sampai bersih.

Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora,


lalu harus merenggangkannya pada waktu kencing.

Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan banyak


secret vagina, sebaiknya memasukkan tampon sebelum mengumpulkan
specimen.

Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah


spesimen didapat dan keterangan tentang pemeriksaan harus jelas
dicantumkan.

o Menampung spesimen tinja

Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat


diperlukan, sampel tinja juga dapat diperoleh dari pemeriksaan colok
dubur.

Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak


terkontaminasi oleh bahan apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka
dengan mudah dan bermulut lebar.

o Menampung spesimen dahakPenting untuk mendapatkan sekret bronkial dan


bukan ludah atau sekret hidung.

Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan


apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar. Untuk
pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang mengandung bercak lilin
atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan
asam dan dapat menyulitkan penafsiran.

Sebelum pengambilan spesimen, penderita diminta berkumur dengan


air, bila mungkin gosok gigi terlebih dulu. Bila memakai gigi palsu,
sebaiknya dilepas dulu.

Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk


tegak

Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 3 kali kemudian


keluarkan nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali
sampai dahak keluar.

Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan


cara mendekatkan wadah ke mulut.

Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan


tampak kental purulen dengan volume cukup ( 3 5 ml )

Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara


dan secepatnya dikirim ke laboratorium.

Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :


1. Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :
o Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat
o pH menurun, hemokonsentrasi
o PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan
ke dalam sirkulasi darah
2. Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan
pH menurun
3. Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :
o trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang
o kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat

4. Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :


o natrium meningkat pada infus saline
o kalium meningkat pada infus KCl
o glukosa meningkat pada infus dextrose
o PPT, APTT memanjang pada infus heparine.
o kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit
menurun pada semua jenis infus
5. Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan
homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.
6. Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase,
LDH, fosfatase asam total

IDENTIFIKASI SPESIMEN

Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan karena
merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir
permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya
harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau
nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat
merugikan.
Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada label
dan formulir permintaan laboratorium.
PENGIRIMAN

SPESIMEN

KE

LABORATORIUM

Spesimen yang telah dikumpulkan harus segera dikirim ke laboratorium.


1. Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah
memenuhi persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing
pemeriksaan.
2. Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.
3. Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap.
Pastikan bahwa identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
4. Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen ke
laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan
spesimen. Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan kimiawi
yang dapat menjadi sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :

o Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka


trombosit.
o Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik
o PPT / APTT memanjang.
o Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.
o Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.
o Perkembangbiakan bakteri
o Penundaan pengiriman sampel urine :

Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel


eritrosit, lekosit, sel epitel dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.

Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga


menyulitkan pemeriksaan mikroskopik atas unsur-unsur lain.

Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena


sinar matahari.

Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan


terganggunya pemeriksaan bakteriologis dan pH.

Jamur akan berkembang biak

Kadar glukosa mungkin menurun dan kalau semula ada, zat-zat keton
dapat menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu
yang lama spesimen harus disimpan dalam refrigerator/almari es pada
suhu 2 8 oC paling lama 8 jam.

5. Pengiriman sample sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa kotak


atau tas khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang dapat ditutup
rapat dan mudah dibawa.

PENANGANAN SPESIMEN

Identifikasi dan registrasi spesimen

Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius

Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar

Gunakan sentrifus yang terkalibrasi

Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli label

Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan

PENYIMPANAN SPESIMEN

Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan


dikirim ke laboratorium lain

Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan stabilitasnya

Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator

Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan
terlarut sempurna. Hindari terjadinya busa.

Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan

Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8C, suhu kamar, suhu -20C,
-70C atau -120C jangan sampai terjadi beku ulang.

Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka
plasma atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.

Memberi bahan pengawet pada spesimen

Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri

Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :

Kimia klinik : 1 minggu dalam referigerator

Imunologi : 1 minggu dalam referigerator

Hematologi : 2 hari pada suhu kamar

Koagulasi : 1 hari dalam referigerator

Toksikologi : 6 minggu dalam referigerator

Blood grouping : 1 minggu dalam referigerator

Siapa yang Terlibat Dalam Proses Pra-Analitik?


Selalu ada beberapa orang yang terlibat dalam proses pra-analitik, yaitu pasien, dokter,
paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter laboratorium; mereka
semua berbagi tanggung jawab terhadap mutu bahan spesimen dan harus memahami
pentingnya tahap pra-analtik, serta mengenali kemungkinan penyebab kesalahan dan
konsekuensi
mereka
untuk
hasil
pemeriksaan.
Komunikasi antara dokter, paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter
laboratorium harus selalu ditingkatkan dalam bentuk komunikasi langsung, telepon, atau
media lainnya. Lebih baik kalau laboratorium dapat membuat pedoman atau semacam SOP
mengenai pengumpulan spesimen untuk penggunaan oleh bagian lain. Pedoman tersebut
harus ditinjau ulang oleh supervisor laboratorium. Laboratorium juga perlu menetapkan
prosedur untuk penanganan spesimen dan prosedur untuk manajemen spesimen (penerimaan
atau penolakan spesimen).