Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Senam Jumba Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat

Pada Lansia di RW 06 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong


Kota Sukabumi
Gout adalah penyakit metabolic yang ditandai dengan penumpukan asam urat
yang nyeri pada tulang dan sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas,
pergelangan dan kaki bagian tengah (Merkie, Carrie, 2005).
Senam Zumba adalah rangkaian gerakan kardiovaskular yang menyenangkan dan
mudah diikuti, diiringi musik. Gerakan aerobik berbasis tarian ini diiringi kombinasi
musik Latin dan internasional dengan irama cepat mau
Angka pemikiran dari hubungan antara variabel terapi senam zumba dengan
penurunan kadar asam urat adalah:

Pengaruh Terapi Senam Zumba terhadap Penurunan Kadar Asam Urat di RW 06


Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi.

Terapi Senam Zumba

Penurunan Kadar Asam Urat

: Faktor yang diteliti


: Adanya Pengaruh

Penelitian ini bertujuan juga dilakukan untuk pengabdian masyarakat yang bertujuan
untuk mengetahui pengaruh terapi senam jumba terhadap perubahan intensitas nyeri pada
penderita Asam urat menunjukkan adanya beberapa karakteristik pada responden yang

dilakukan terapi senam jumba , karakteristik yang dimaksud meliputi usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan. Selain itu, terdapat ulasan mengenai perubahan skala nyeri Klien
sebelum dan sesudah dilakukan terapi senam jumba .
Skala Nyeri Klien Asam urat Sebelum dan Sesudah diberikan Terapi Senam jumba di
RW 02 Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi.
Dari hasil analisa tabel frekuensi usia tabel 4.1 di dapatkan frekuensi penderita
penyakit Asam urat pada beberapa usia dari mulai usia 26-35 dan >65 tahun. Berdasarkan
teori, prevalensi penyakit Asam urat yang di alami oleh berbagai usia, pada penelitian ini
golongan umur terbanyak adalah pada usia 36-45 tahun. Golongan kelompok umur 36-45
tahun merupakan golongan umur dewasa tengah. Menurut Port (2005) Asam urat
menyerang biasanya terjadi pada umur 30-50 tahun. Asam urat juga dapat terjadi pada
Lansia, diskus intervebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah
tua. Diskus intervebralis akan menjadi fibrokartilago yang padat dan teratur. Degenerasi
diskus merupakan penyebab nyeri punggung biasa (Smeltzer & Bare, 2001). Diskus
lumbal bawah menderita stress mekanis yang paling berat dan perubahan degenerasi
terberat.
Berdasarkan karakteristik responden peneliti menemukan bahwa yang mengalami
Asam urat lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Hal ini didukung oleh teori-teori
berdasarkan epidemiologi dimana wanita lebih rentan terkena penyakit nyeri punggung
bagian bawah. Selain itu, hormon-hormon wanita juga dikatakan turut memainkan
peranan dalam hal jenis kelamin sebagai salah satu faktor risiko (Dubey, 2008). Sama
seperti dalam penelitian ini, secara umum perempuan mempunyai keadaan kesehatan

yang lebih buruk dibandingkan dengan lelaki. Hal ini sesuai dengan data yang peneliti
temukan di lapangan bahwa dari 30 orang responden sebagian besar adalah perempuan.
Berdasarkan karakteristik responden peneliti menemukan bahwa dari total 30
responden Asam urat sebagian besar responden berpendidikan terakhir SD yaitu sebanyak
12 orang, pendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 10 orang dan sebagian lainnya yaitu 8
orang berpendidikan tekahir SMP. Hal ini sesuai dengan teori pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau
pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan,

akhlak

mulia,

serta

keterampilan

yang

diperlukan

dirinya

dan

masyarakat (Anneahira, 2008), yang berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang di
tekuni individu maka semakin baik pula pemahaman individu tersebut dalam memahami
banyak hal, dalam hal ini semakin tinggi jenjang pendidikan individu semakin mudah
pula individu tersebut memahami masalah penyakit nyeri punggung bagian bawah yang
sedang dialami.
Berdasarkan tabel 4.4 jenis pekerjaan terbanyak dari semua responden yaitu Ibu
Rumah Tangga dan disusul dengan Buruh serta Pensiunan dengan presentase 56,7 %.
Faktor penyebab Asam urat mekanik salah satunya adalah faktor fisik yang berhubungan
dengan pekerjaan seperti duduk, duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh kerja yang
statis), getaran, mengangkat, membawa beban, membungkuk dan memutur badannya
(Mahadewa & Maliawan, 2009). Diduga penyebab ibu rumah tangga mengalami Asam
urat karena mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, memasak dan
menyetrika dengan rutin dan biasanya membutuhkan gerakan tubuh seperti mengangkat

benda, membungkuk atau memutar badan sehingga berpotensi untuk mengalami nyeri
punggung bawah. Banyak ibu rumah tangga yang melakukan kebiasaan mencuci pakaian
dengan gerakan membungkuk ataupun mengambil benda dengan gerakan membungkuk.
Cara seperti ini dapat memberikan stres atau tekanan mekanik pada lumbal yang akhirnya
dapat menimbulkan nyeri punggung bawah.dengan gerakan membungkuk. Cara seperti
ini dapat memberikan stres atau tekanan mekanik pada lumbal yang akhirnya dapat
menimbulkan nyeri punggung bawah.
Kategori nyeri responden sebelum diberikannya terapi senam jumba mayoritas
berada pada nyeri sedang (4-6). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan tingkat
nyeri terbanyak penderita Asam urat sebelum diberikan terapi adalah pada nyeri sedang.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh kelompok Studi Persatuan
Dokter Saraf Seluruh Indonesia (PERDOSSI) pada tahun 2002 (Purba dan Susilawaty,
2008) bahwa ditemukan 18,13% penderita Asam urat dengan rata-rata nilai nyeri berada
pada nyeri sedang.
Sesudah diberikan terapi senam jumba peneliti menghitung kembali presentase
yang paling banyak muncul pada responden berdasarkan hasil perhitungan dengan
menggunakan SPSS 16 hasil hitung untuk persentase pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa
dari total 30 Klien Low Back Pain, sebagian besar responden berada dalam kategori nyeri
ringan dengan jumlah 28 orang dan sebagian kecil responden berada dalam kategori nyeri
sedang sebanyak 2 orang. Sesuai dengan hasil diatas dapat disimpulkan tingkat nyeri
sesudah dilakukan terapi paling banyak berada pada nyeri ringan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakuakan oleh Eva (2012), tingkat
intensitas nyeri pada penderita asam urat sebelum diberikan terapi sebesar 5,53 (SD =

1,776) sedangkan sesudah diberikan terapi menurun menjadi 2,57 (SD = 1,775). Dengan
kata lain terdapat pengaruh yang signifikan dalam pemberian terapi senam jumba
terhadap perubahan intensitas nyeri pada penderita Low Back Pain.
Secara teoritis menurut Kozier et al (2002) efek-efek fisiologis yang ditimbulkan
oleh terapi dingin ini adalah vasocontriction, merileks kan pada otot yang mengalami
spasme memperlambat perjalanan inpuls nyeri dan meningkatkan ambang nyeri, dan
memberikan efek anastesi lokal. Diperkirakan 90% asam urat didasari oleh faktor
mekanik dan sekitar 60 %- 70% penyebabnya adalah strain (mahadewa & maliawan,
2009). Strain ini merupakan penegangan pada otot akibat sikap tubuh yang salah dan otot
yang adekuat. Nyeri yang dirasakan bersifat lokal tampa penjalaran. Pemberian terapi
dingin berupa ice massage ini dapat merilekskan otot pada otot spasme dan memberikan
efek anastesi lokal sehingga dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengurangi
nyeri. Seseuai dengan keluhan yang dirasakan responden dengan loew back pain akibat
mekanik, responden merasakan nyeri lokal dan otot terasa pegal di sekitar punggung
bawah.
Pada penelitian ini sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka merasakan
nyaman dan rileks saat dilakukan terapi dingin ice masaage ini. Gerakan memutar yang
dilakukan punggung bawah serta rasa dingin yang dihasilkan membuat nyeri yang
dirasakan menjadi berkuarang. Bahkan ada responden yang menyatakan nyeri tidak
dirasakan lagi setelah dilakukan terapi dan ada yang mengatakan nyeri tidak dirasakan
seperti yang biasa ia rasakan saat melakukan gerakan membungkuk.
Dengan demikian pada penelitiuan ini dapat disimpulkan bahwa terapi senam
jumba

terbukti dapat mengurangi intensitas nyeri pada penderita asam urat akibat

mekanik karena efek dingin yang dihasilkan dapat mengurangi spasme pada otot yang
tegang, memberikan efek anastesi lokal dan meningkatkan ambang nyeri pada penderita
low back pain.

Lampiran
Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Klien Dengan kadar asam urat Tinggi Berdasarkan


Usia Di RW 06 Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi

No
1
2
3
4

Usia
42- 45 Tahun
46 - 55 Tahun
56 65 Tahun
>65 Tahun
Total

Frekuensi
2
4
10
14
30

Presentasi (%)
6,7
13,3
33,3
46,7
100

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Dengan Kadar Asam Urat Tinggi Berdasarkan Jenis
Kelamin Di RW 06 Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi
No
2

Pendidikan
Perempuan
Total

Frekuensi
30
30

Presentasi (%)
60,0
100

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Klien Asam urat Berdasarkan Pendidikan Di RW 06


Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi
No
1
2
3

Pendidikan
SD
SMP
SMA
Total

Frekuensi
21
6
3
30

Presentasi (%)
70%
20%
10%
100

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Klien Kadar Asam Urat Tinggi Berdasarkan Pekerjaan
Di RW 06 Kelurahan Sukakarya Kota Sukabumi
No
1
2

Pendidikan
Buruh
IRT
Total

Frekuensi
13
17
30

Presentasi (%)
43,3
56,7
100

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Klien Kadar Asam Urat Tinggi Di RW 06 Kelurahan
Sukakarya Kota Sukabumi
No
Responde
n
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Terapi Senam Zumba


Kadar Asam Urat Sebelum Kadar Asam Urat Sesudah
Terapi Senam Zumba
Senam Zumba
5,3
3,5
9,2
3,8
5,0
4,0
5,1
4,4
6,5
3,8
5,4
4,0
5,0
3,2
6,5
3,5
9,1
3,8
5,8
4,9
6,5
3,2
6,5
3,2
9,1
6,5
8,1
4,7
5,8
5,5
6,7
4,8
7,1
3,8
6,5
4,2
5,4
3,6
7,8
3,9
7,8
4,0
6,7
4,1
5,2
3,7
6,0
3,5
5,2
3,9
8,0
3,8
6,0
3,4
5,4
4,0
6,6
4,1
6,5
4,6

Tabel 4.6 Kualitas Kadar Asam Urat Tinggi Sebelum dan Sesudah Terapi Senam
Zumba.
Jumlah

Kualitas

Responden (N)
30 Orang

Nyeri
Sebelum

Rata-Rata
6.5

Simpangan
Baku
1,037

Sesudah

4,4

0,925

Tabel 4.7 Uji Normalitas Shapiro-Wilk Skala Nyeri


Skala Nyeri
Skala Nyeri Pre-Test
Skala Nyeri Post-Test

P Value
0,002
0,001

0,05

Uji Normalitas
Tidak Normal
Tidak Normal