Anda di halaman 1dari 11

BOLEHKAH QURBAN PLUS AQIQAH MENURUT SYARA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pendidikan Agama ISlam
Yang dibina oleh Bapak Dr. Yusuf Hanafi, M. Fil I

DISUSUN OLEH:
AHMAD MUBAROK
(120121410935)
Offering B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
OKTOBER 2012

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................................1
DAFTAR ISI ................................................................................................................3
Bab I Pendahuluan ...................................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................

Bab II Pembahasan ....................................................................................................


2.1 Konsep Islam Tentang Qurban .......................................................................
2.1.1
2.1.2
2.1.3
2.1.4

Pengertian Kurban
Hukum Berkurban
Pelaksanaan Qurban ................................
Hikmah dari Berkurban

2.2 Konsep Islam Tentang Aqiqah .......................................................................


2.2.1
2.2.2
2.2.3
2.2.4
2.2.5

Pengertian Aqiqah
Pendapat Para Fuqaha Mengenai Aqiqah ...........................................
Waktu Aqiqah .................................................
Hukum Umum Aqiqah ........................................................................
Hikmah Aqiqah ...................................................................................

2.3 Persamaan dan Perbedaan Qurban dan Aqiqah .............................................


2.4 Ijtihad dari beberapa Ulama ...........................................................................
Bab III Penutup .........................................................................................................
.1

Kesimpulan .....................................................................................................
3.2
Saran ...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ibadah korban merupakan suatu ibadah yang sangat digalakkan didalam islam,khususnya
bagi mereka yang berkemampuan dari segi kewangan.Ibadah korban telah disyariatkan oleh Allah
SWT pada tahun kedua Hijrah.
Firman Allah SWT:
Sesungguhnya kami (ALLAH) telah memberi engkau (wahai Muhammad) kebaikan yang banyak.
Maha sembahyanglah engkau karena Tuhanmu dan sembelihlah (korbanmu).(QS.Al-kautsar 1-2).
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Aqiqah merupakan salah satu ajaran islam

yang di contohkan rasulullah SAW. Aqiqah

mengandung hikmah dan manfaat positif yang bisa kita petik di dalamnya. Di laksanakan pada hari
ke tujuh dalam kelahiran seorang bayi. Dan Aqiqah hukumnya sunnah muakad (mendekati wajib),
bahkan sebagian ulama menyatakan wajib. Setiap orang tua mendambahkan anak yang shaleh,
berbakti dan mengalirkan kebahagiaan kepada kedua orangnya. Aqiqah adalah salah satu acara

penting untuk menanamkan nilai-nilai ruhaniah kepada anak yang masih suci. Dengan aqiqah di
harapkan sang bayi memperoleh kekuatan, kesehatan lahir dan batin. Di tumbuhkan dan di
kembangkan lahir dan batinnya dengan nilai-nilai ilahiyah.
Aqiqah juga salah satu upaya kita untuk menebus anak kita yang tergadai. Aqiqah juga
merupakan realisasi rasa syukur kita atas anugerah, sekaligus amanah yang di berikan allah SWT
terhadap kita. Aqiqah juga sebagai upaya kita menghidupkan sunnah rasul SAW, yang merupakan
perbuatan yang terpuji, mengingat saat ini sunnah tersebut mulai jarang di laksanakan oleh kaum
muslimin.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Islam tentang Qurban
2.1.1 Pengertian Qurban
Qurban adalah penyembelihan binatang qurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji
(selepas sholat Idul Adha) dan hari-hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah kerena
beribadah kepada Allah s.w.t.
Daripada Aisyah r.a Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: "Tiada
suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai
Allah selain daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu pada

hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kukukukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah
diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu."
(Riwayat al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)
Zaid bin Arqam berkata: "Mereka telah bertanya, Wahai Rasullullah, apakah Udhhiyah
(Qurban) itu? Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Ia sunnah bagi bapa kamu Nabi Ibrahim."
Mereka bertanya lagi: Apakah ia untuk kita? Rasulullah s.a.w. menjawab: "Dengan tiap-tiap
helai bulu satu kebaikan." Mereka bertanya: "maka bulu yang halus pula? Rasullullah s.a.w
bersabda yang bermaksud "Dengan tiap-tiap helai bulu yang halus itu satu kebaikan."
(Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

2.1.2 Hukum Qurban


Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban itu wajib, sedangkan
sebagian lain berpenadpat sunat. Alasan yang menyatakan wajib yaitu
firman Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)
Sedangkan alasan yang menyatakan bahwa kurban itu sunah adalah sabda rasulullah
yang berbunyi:
Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagi kamu. (Riwayat Tirmidzi)
Hukumnya Sunnat Muakkad (sunnat yang dikuatkan) atas orang yang memenuhi syaratsyarat seperti berikut:
a. Islam
b. Merdeka (Bukan hamba)
c. Baligh lagi berakal
d. Mampu untuk berqurban
Binatang yang sah dijadikan kurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat
kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut:
a. Domba (Dani) yang telah nerumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
b. Kambing yang sudah nerumur dua tahun lebih.
c. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.
d. Sapi, kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.
Seekor kambing hanya untuk satu orang , diqiyaskan dengan denda menninggalkan
wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau, dan sapi boleh buat kurban tujuh orang. Sebagaimana
hadits riwayat muslim yaitu :
Dari jabir,Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah Saw, pada tahun
Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang. (Riwayat muslim).

Walaupun hukum berqurban itu sunnat tetapi menjadi wajib jika dinazarkan. Sabda
Rasullullah s.a.w: "Barang siapa yang bernazar untuk melakukan taat kepada Allah, maka
hendaklah dia melakukannya." (Fiqh al-Sunnah).
2.1.3 Pelaksanaan Qurban
a.

Binatang yang diqurbankan adalah jenis unta, lembu atau kerbau, kambing biasa yang
berumur dua tahun, jika biri-biri telah berumur satu tahun atau telah gugur giginya

sesudah enam bulan meskipun belum cukup satu tahun.


b. Binatang itu disyaratkan tidak cacat, tidak buta sebelah atau kedua-duanya, kakinya
tidak pincang, tidak terlalu kurus, tidak terpotong lidahnya, tidak mengandung atau baru
melahirkan anak, tidak berpenyakit atau berkudis. Binatang yang hendak disembelih itu
haruslah sehat sehingga kita sayang kepadanya.
c. Waktu menyembelihnya sesudah terbit matahari pada Hari Raya Haji dan sesudah
selesai sholat Idul Adha dan dua khutbah pendek, tetapi afdhalnya ialah ketika matahari
naik seluruhnya pada Hari Raya Haji sehingga tiga hari sesuadah Hari Raya Haji (harihari Tastriq iaitu 11,12 dan 13 Zulhijjah).
d. Daging qurban sunnat, orang yang berkorban disunnatkan memakan sedikit daging
qurbannya.
Pembagian daging qurban sunnat terdapat tiga cara yang utamanya adalah mengikut urutan
sepererti berikut:
1. Lebih utama orang yang berqurban mengambil hati binatang qurbannya dan baki
seluruh dagingnya disedekahkan
2. Orang yang berqurban itu mengambil satu pertiga daripada jumlah daging qurban, dua
pertiga lagi disedekahkannya.
3. Orang yang berqurban mengambil satu pertiga daripada jumlah daging, satu pertiga lagi
disedekahkan kepada fakir miskin dan satu pertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang
mampu. Sabda

Rasullullah s.a.w: "Makanlah oleh kamu sedekahkanlah dan

simpanlah."
2.1.4 Hikmah Qurban
1. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.
2. Menididik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.
3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati, mau membelanjakan
harta di jalan Allah s.w.t.
4. Menghapus dosa dan mengharapkan keridhoan Allah s.w.t.
5. Menjalin hubungan kasih sayang antar sesama manusia, terutama antara golongan
berada dengan golongan yang kurang bernasib baik.

6. Akan memperoleh kendaraan atau tunggangan ketika akan melewati Sirat AlMustaqim di akhirat kelak. Sabda Nabi Muhammad saw, muliakanlah qurban
kamu karena ia menjadi tunggangan kamu di titian pada hari kiamat.
2.2 Konsep Islam tentang Aqiqah
2.2.1 Pengertian Aqiqah
Aqiqah menurut syara berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari
kelahirannya.
2.2.2 Pendapat Para Fuqaha Mengenai Aqiqah ...........................................
Ada tiga pendapat para ahli fiqih dan imam mujtahid tentang disyariatkannya aqiqah:
Pertama: Mereka yang berpendapat disunatkan dan dianjurkan, yaitu Imam Malik,
penduduk Madinah, Imam Syafii dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur
dan sebagian besar ahli fiqih, ilmu dan ijtihad. Mereka berargumantasi dengan hadits-hadits
yang telah disebutkan. Mereka juga menolak pendapat orang-orang yang berpendapat bahwa
aqiqah itu wajib dengan ungkapan sebagai berikut:
a. Jika aqiqah itu wajib, tentu kewajibannya akan diketahui dalam ad-din. Sebab, ini
merupakan tuntutan. Dan tentu Rasulullah saw, akan menjelaskan wajibnya kepada
umat dengan suatu keterangan yang diperkuat dengan hujjah.
b. Rasulullah saw, telah menggarisbawahi persoalan aqiqah ini dengan kesukaan orang
yang melakukannya. Beliau bersabda:


Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai untuk membaktikannya
(mengaqiqahinya), maka hendaklah ia melalukannya.
c. Perbuatan Rasulullah saw, di dalam persoalan aqiqah ini tidak menunjukan hukum
wajib. Tetapi menunjukan suatu anjuran.
Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah itu diwajibkan. Mereka adalah Imam
Al-Hasan Al-Bashri, Al-Lits Ibnu Saad dan lain-lain. Mereka berargumentasi dengan hadits
yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiah:




Sesungguhnya
manusia
pada
hari
kiamat
nanti

akan

dimintakan

pertanggungjawabannya atas aqiqah, sebagaimana akan dimintai pertanggungjawabannya


atas shalat-shalat lima waktu.
Wajah istidlal-nya (pengambilan dalilnya) adalah, bahwa anak itu tidak akan dapat
memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya sebelum di aqiqahi. Inilah yang menguatkan
kewajibannya.
Ketiga, pendapat yang menolak bahwa aqiqah itu disyariatkan. Mereka adalah para ahli
fiqih Hanafiyyah. Argumentasi yang dikemukakan adalah hadits yang diriwayatkan AlBaihaqi dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, ditanya
tentang aqiqah, beliau menjawab:



Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah.
Mereka juga berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari
Abi Rafi ra, bahwa ketika ibu Al-Hasan bin Ali, Fatimah ra, ingin mengaqiqahinya dengan
dua biri-biri, Rasulullah saw, bersabda:
-,

, - -
, .
Janganlah engkau mengaqiqahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah
dengan perak sebanyak berat timbangan rambutnya itu. Kemudian dilahirkanlah Husain
dan ia melakukan seperti itu.
Kebanyakan ahli fiqih, ilmu dan ijtihad, bahwa zhahir hadits-hadits yang telah
disebutkan tadi menguatkan segi disunatkan dan dan dianjurkannya aqiqah.
Mereka telah menjawab hadits-hadits yang dijadikan sebagai argumentasi para ahli fiqih
Hanafiyyah tentang penolakan mereka terhadap disyariatkannya aqiqah. Mereka mengatakan
bahwa hadits-hadits yang dijadikan argumentasi itu tidak berarti apa-apa dan tidak sah untuk
dijadikan sebagai dalil terhadap penolakan disyariatkannya aqiqah. Akan halnya Amr bin
Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda, Aku tidak
menyukai aqiqah-aqiqah, maka siyaqu I-hadits (susunan katanya) dan sebab-sebab keluar
hadits itu menunjukan bahwa aqiqah adalah sunat dan dianjurkan. Lafazh hadits itu
sebenarnya adalah demikian: Rasulullah saw, ditanya tentang aqiqah. Beliau menjawab, Aku
tidak menyukai aqiqah-aqiqah. Seakan-akan beliau tidak menyukai nama, yakni
dinamakannya sesembelihan dengan aqiqah.1 Mereka berkata, Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami hanya bertanya tentang salah seorang diantara kami yang dikaruniai
seorang anak. Beliau bersabda, Barang siapa diantara kamu menyukai untuk membaktikan
(mengaqiqahi) anaknya, maka hendaklah ia melalukannya. Bagi anak laki-laki dua ekor
kambing yang mencukupi dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.
Adapun istidlal mereka dengan hadits Abu Rafi, Janganlah engkau mengaqiqahinya,
tetapi cukurlah rambut kepalanya . . ., tidaklah menunjukan dimakruhkannya aqiqah. Sebab,
Rasulullah saw, tidak suka membebani Fatimah ra, dengan aqiqah, sehingga beliau bersabda,
Janganlah engkau mengaqiqahinya . . . dan beliau telah mengaqiqahi mereka berdua (Al1 Dari zhahir hadits ini, segolongan fuqaha menganbil dalil bahwa kata-kata aqiqah itu diganti
dengan nasikah, karena Rasulullah saw, tidak menyukai nama aqiqah. Segolongan lain
mengatakan bahwa beliau tidak membenci nama itu, dan mereka berpendapat bahwa hal itu
adalah mubah, karena banyak hadits menamakan sembelihan itu dengan aqiqah.Perpaduan
antara kedua pendapat diatas, bahwa hendaknya seorang Muslim hendaknya menggunakan
kata-kata nasikah dan menjadikannya sebagai asal. Jika pada suatu ketika, ia menggunakan
nama aqiqah untuk menjelaskan hukum dan menerangkan maksud, maka hal itu dibolehkan.
Di sinilah terdapat titik temu hadits-hadits itu.

Hasan dan Al-Husain). Maka sudah cukup bagi Fatimah untuk menyajikan makanan-makanan
saja. Di antara hadits-hadits yang menguatkan bahwa Rasulullah saw telah mengaqiqahi
mereka berdua adalah sebagai berikut:
Abu Daud meriwayatkan dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra:

.
Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain satu
kambing satu kambing.
Jarir bin Hazim telah menceritakan dari Qatadah dari Anas:

.
Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dua
kambing.
Yahya bin Said telah menceritakan dari Amirah dari Aisyah bahwasanya ia berkata:


.
Rasulullah saw, telah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain pada hari ketujuh (dari
kelahiran mereka).
Ringkasnya, mengaqiqahi anak itu adalah sunat dan dianjurkan. Ini menurut
kebanyakan imam dan ahli fiqih. Oleh karena itu hendaklah orang tua melakukannya, jika
memang memungkinkan dan mampu menghidupkan sunnah Rasulullah saw ini. Sehingga ia
menerima keutamaan dan pahala dari sisi Allah swt, dapat menambah makna kasih sayang,
kecintaan dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga, tetangga dan
handai taulan, yaitu ketika mereka menghadiri walimah aqiqah itu, sehingga rasa turut
merasakan kebahagiaan atas lahir dan hadirnya sang anak. Di samping itu ia dapat
mewujudkan sumbangan jaminan sosial, yaitu ketika sebagian kaum fakir miskin turut
mengambil bagian di dalam aqiqah itu.
Alangkah agung dan luhurnya Islam serta dasar-dasar syariat di dalam menanamkan
rasa kasih sayang dan kecintaan di dalam masyarakat, termasuk di dalam membina keadilan
sosial dalam kelas-kelas masyarakat miskin.
2.2.3

Waktu Aqiqah
Di dalam hadis Samurah disebutkan:


.
Anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari
ketujuh (dari kelahirannya) dan diberi nama.
Hadis ini menunjukan, bahwa waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah
adalah hari ketujuh dari kelahirannya. Tetapi ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa
penetapan hari ketujuh itu bukan merupakan suatu anjuran. Jika diaqiqahi pada hari keempat,
kedelapan, kesepuluh atau setelah itu, maka aqiqah itu pun telah cukup.
Imam Malik berkata:
Pada lahirnya, penetapan hari ketujuh itu hanya bersifat anjuran. Sekiranya
menyembelihnya pada hari keempat, kedelapan atau kesepuluh atau setelahnya, aqiqah itu
telah cukup. Artinya, jika seorang bapak merasa mampu menyembelih aqiqah pada hari

ketujuh, maka hal itu lebih utama, sesuai dengan perbuatan Nabi Saw. Namun jika hal itu
terasa menyulitkan, maka diperbolehkan untuk melaksanakannya pada hari berapa saja
sebagaimana pendapat Imam Malik.Dengan demikian , maka dalam perintah menyembelih
aqiqah ini terdapat kelonggaran waktu dan kemudahan.



Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.(Al
Baqarah:185)

2.2.4

Hukum Umum Aqiqah


Ada beberapa hukum umum yang berkaitan dengan masalah aqiqah yang harus
diperhatikan:

a.Para ulama sepakat, bahwa semua hal yang dibolehkan di dalam aqiqah adalah juga hal
yang diperbolehkan di dalam kurban. Adapun hal-hal yang diperbolehkan di dalam
aqiqah adalah sebagai berikut:
1)
Hendaknya binatang itu berumur satu tahun lebih atau memasuki dua tahun, jika
2)
3)

binatang itu biri-biri atau kambing.


Hendaknya binatang sembelihan itu tidak cacat.
Sapi atau kerbau, tidak sah kecuali sudah mencapai umur dua tahun dan

memasuki tahun ketiga.


Tidak boleh kooperatif, misalnya tujuh orang bergabung untuk melaksanakan aqiqah.
Sebagai ganti kambing, boleh menyembelih unta atau sapi. Argumentasi orang yang

b.
c.

membolehkan aqiqah dengan unta atau sapi adalah hadis riwayat Ibnul-Mundzir dari
Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:
d.



Anak itu harus diaqiqahi.Maka alirkanlah darah untuknhya.
Diperbolehkan mengadakan pesta aqiqah dengan mengundang orang-orang lain yang

e.

dikehendaki untuk makan bersama.


Dianjurkan, agar aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Diriwayatkan
oleh Ibnul-Mundzir dari Aisyah ra. Bahwa Nabi Saw. Bersabda,Sembelihan atas
namanya (anak yang dilahirkan) dan ucapkanlah,Dengan menyebut nama Allah. Ya
Allah, bagi-Mulah dan kepada-Mulah kupersembahkan aqiqah si Fulan ini.

2.2.5

Hikmah Aqiqah

a. Aqiqah itu merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah
pada awal menghirup udara kehidupan.
b. Suatu penebusan bagi anak dari berbagai musibah dan kehancuran.
c. Bayaran utang anak untuk memberikan syafaat kepada orang tuanya.
d. Sebagai media menampakkan rasa gembira dengan melaksanakan syariat islam dan
bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah Saw, pada
hari kiamat.
e. Dapat memberikan sumber jaminan sosial dan menghapus gejala kemiskinan di dalam
masyarakat.

2.3 Persamaan dan Perbedaan Qurban dan Aqiqah


Qurban dan Aqiqah punya banyak persamaan dan perbedaan. Di antara persamaannya
adalah sama-sama ibadah ritual dengan cara penyembelihan hewan. Dagingnya sama-sama
boleh dimakan oleh yang menyembelihnya, meskipun sebaiknya sebagian diberikan kepada
fakir miskin, tapi boleh juga diberikan sebagai hadiah. Hal ini berdasarkan hadis Aisyah ra.
Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak
perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan
disedekahkan pada hari ketujuh. (HR Al-Baihaqi).
Kemudian dilihat dari pengertiannya saja, antara aqiqah dan qurban memang jelas
berbeda hampir dari semua sisi. Berikut beberapa perbedaan antara aqiqah dan qurban ialah
1. Aqiqah dilakukan dalam rangka menyambut kelahiran anak sebagai tanda kesyukuran
kepada Allah, sedangkan secara histori qurban merupakan bentuk peringatan peristiwa
pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail.
2. Daging aqiqah boleh diberikan kepada orang kaya manakala daging qurban hanya
boleh diberi kepada fakir miskin.
3. Dari segi waktu pelaksanaanya, ibadah qurban hanya boleh dilakukan pada hari tertentu
saja, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dimulai sejak selesainya shalat 'Idul
Adha. Sedangkan aqiqah dilakukan lantaran adanya kelahiran bayi, yang dilakukan
penyembelihannya pada hari ketujuh menurut riwayat yang kuat. Sebagian ulama
membolehkannya pada hari ke 14, bahkan pendapat yang lebih luas, membolehkan
kapan saja.
4. Daging qurban sunat disedekahkan secara mentah, sedangkan daging aqiqah sunat
disedekahkan setelah dimasak.