Anda di halaman 1dari 31

PENGARUH BERBAGAI JUMLAH BIOFILTER TANAMAN

KANGKUNGAN (IPOMOEA CRASSICAULIS) TERHADAP PENURUNAN


KADAR FOSFAT DAN SURFAKTAN DALAM LIMBAH CAIR LAUNDRY

Proposal Penelitian
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh :

Disusun Oleh:
Ratu Sholihah
P17333113414

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
BANDUNG
2015

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah,
rahmat, karunia, kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam
pelaksanaan Penyusunan proposal penelitian Pengaruh Berbagai
Jumlah Biofilter Tanaman Kangkungan (Ipomoea Crassicaulis)
Terhadap Penurunan Kadar Fosfat Dan Surfaktan Dalam Limbah
Cair Laundry.
Proposal Penelitian ini disusun untuk memenuhi tugas akhir
semester V mata kuliah Metodologi Penelitian. Selama proses
pembuatan, penulis banyak mendapatkan bantuan, dukungan, dan
bimbingan dari berbagai pihak, baik secara moral maupun secara
material. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis ingin
mengucapakan terima kasih kepada :
1. Tim Dosen Mata Kuliah Metodologi Penelitian
2. Serta rekan-rekan mahasiswa tingkat 3 prodi DIV Jurusan Kesehatan
Lingkungan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan proposal penelitian ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan proposal
penelitian ini. Semoga proposal penelitian ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis maupun pembaca.
Bandung, 5 Januari
2016

Penulis

Ratu Sholihah 1

Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................................................
Daftar Isi.................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..............................................................................
1.2 Tujuan Penelitian...........................................................................
1.4 Manfaat Penelitian........................................................................
1.5 Ruang Lingkup...............................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Deterjen.....................................................................................

2.2.

Fosfat.........................................................................................

2.3.

Surfaktan...................................................................................

2.4.

Dampak Deterjent......................................................................

2.5.

Pengolahan air limbah deterjen secara biologis.........................

2.6.

Biofiltrasi..................................................................................

2.7.

Rhizodegradasi........................................................................

2.8.

Ipomea crassicaulis..................................................................

2.9.

Kerangka teori..........................................................................

BAB III
3.1.

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian.........................................................................

3.1.1. Desain penelitian...............................................................


3.1.2. Kerangka konsep................................................................
3.1.3. Definisi oprasional..............................................................
3.1.4. Pengendalian Variabel Pengganggu...................................
3.1.5. Hipotesis............................................................................
Ratu Sholihah 2

3.2.

Rancangan Sampel..................................................................

3.2.1. Populasi dan sampel..........................................................


3.2.2. Besar Sampel.....................................................................
3.2.3. Teknik pengambilan sampel...............................................
3.3.

Rancangan Pengumpulan Data................................................

3.3.1. Jenis Data...........................................................................


3.3.2. Alat Pengumpul Data..........................................................
3.3.3. Teknik Pengumpul Data......................................................
3.3.4. Tenaga Pengumpul Data.....................................................
3.4.

Rancangan Pelaksanaan Penelitian..........................................

3.4.1. Tempat dan Waktu Penelitian.............................................


3.4.2. Langkah-langkah Penelitian...............................................
3.4.3. Rencana Pengolahan data dan analisis data......................
Daftar Pustaka......................................................................................
LAMPIRAN

Ratu Sholihah 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pesatnya pertumbuhan penduduk dan perubahan perilaku pola hidup modern yang
serba ingin cepat memicu terhadap peningkatan penggunaan air, diantaranya usaha
pencucian baju atau yang saat ini biasa disebut dengan Laundry. Perkembangan usaha
laundry menghasilkan limbah cair yang banyak mengandung deterjen dengan konsentrasi
tinggi. Penggunaan deterjen dibandingkan sabun biasa juga dipengaruhi oleh
perkembangan dari kemampuan deterjen dalam menghilangkan kotoran pada pencucian
pakaian.
Deterjen mengandung bahan yang mempunyai sifat aktif permukaan (surfaktan)
yang digunakan sebagai bahan pembersih utama yang mampu menurunkan tegangan
permukaan air dan sebagai pengikat kotoran pada pakaian kotor. Deterjen yang dijual
bebas di pasaran biasanya mengandung 2030 % surfaktan. Bahan surfaktan yang biasa
digunakan adalah Alkyl Benzene Sulphonat (ABS). Senyawa ini termasuk dalam
senyawa non biodegradable yaitu tidak dapat dengan mudah

didegradasi oleh

mikroorganisme dan juga banyak menimbulkan busa baik pada sungai ataupun air tanah
sehingga senyawa tersebut diganti dengan Linear Alkyl Sulphonat (LAS) yang lebih
mudah didegradasi. Namun LAS ini belum banyak digunakan di negara-negara
berkembang seperti Indonesia dikarenakan harganya yang relatif lebih mahal
dibandingkan ABS.
Adapun efek yang dapat ditimbulkan oleh adanya deterjen dalam
air antara lain: Terbentuknya film yang dapat menyebabkan
menurunnya tingkat transfer oksigen dari udara ke dalam air menjadi
sedikit dan berlangsung lambat yang berdampak langsung kepada
ekosistem air, pada konsentrasi yang melebihi ambang batas yang
ditentukan dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti iritasi
sedang pada kulit, kombinasi antara polyphospat dengan surfaktan
dalam deterjen dapat mempertinggi kandungan phospat dalam air
sehingga mengakibatkan eutrofikasi yang menyebabkan tanaman
Ratu Sholihah 1

perairan menjadi subur dan pertumbuhan alga menjadi meningkat


melebihi batas normal atau biasa disebut dengan algae blooming.
Penanganan permasalah air limbah Laundry ini menjadi penting
karena jumlah air limbah hasil dari cucian semakin hari semakin
banyak. Sebagai gambaran, air yang dibutuhkan untuk 1 kali proses
pencucian pakaian sebanyak 5 kg adalah 60 liter, dimana 20 liter
digunakan untuk proses cuci, 20 liter untuk proses bilas dan 20 liter
untuk proses softener.
Dalam perhitungan lain, Laundry menghabiskan sekitar 0,056
meter kubik air per orang per hari; Hasil proyeksi yang dilakukan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk
Indonesia diprediksi akan terus meningkat yaitu dari 238,5 juta jiwa
pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta jiwa pada tahun 2035. Maka pada
tahun 2035 limbah laundry dapat mencapai 17.113.600 meter kubik
per hari.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di salah satu sungai
di Malang, kadar deterjen dalam sungai mencapai 20-30 mg/l dan
100,3 mg/l dalam limbah cair Laundry. Sedangkan menurut
PERMENKES R.I. Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang SyaratSyarat dan Pengawasan Kualitas Air menetapkan bahwa kandungan
deterjen dalam air bersih tidak boleh lebih dari 0,5 mg/I.
Biofilter merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menanggulangi maslah limbah Laundry yang kian hari kian meningkat.
Dimana dalam pengolahanya limbah cair dikontakan dengan
menggunakan tanaman yang memiliki kelompok mikroorganisme
rhizosfer. Mikroba rhizosfer ini memiliki kemampuan untuk melakukan
penguraian terhadap benda-benda organik ataupun benda anorganik
yang terdapat pada limbah.
Tanaman kangkungan merupakan tanaman tropis yang biasanya
tumbuh disepanjang tepi sungai, tanah yang lembab atau pinggiran
jalan, terkadang tanaman ini juga biasa digunakan sebagai tanaman
hias (van Stenis, 1992 dalam Kurnia 2015). Tanaman kangkungan
dipilih sebagai media dalam penelitian kali ini karena tanaman
Ratu Sholihah 2

kangkungan (Ipomoea crassicaulis) menurut penelitian yang dilakukan


oleh Kurnia (2015) menunjukkan bahwa tanaman kangkungan mampu
menurunkan konsentrasi surfaktan pada sampel larutan deterjen
sebesar 97,76% serta dapat menurunkan konsentrasi fosfat pada
sampel larutan deterjen sebesar 90,77%. Tanaman kangkungan ini juga
memiliki keunggulan yaitu mudah tumbuh secara liar sehingga mudah
untuk didapatkan dan dapat bertahan hidup pada kondisi yang
tercemar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, maka perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut mengenai variasi jumlah tanaman kangkungan
yang digunakan dalam pengolahan sehingga dapat diketahui dengan
pasti kemampuan tanaman dalam menurunkan kadar bahan-bahan
pencemar dalam air limbah deterjen khususnya parameter fosfat dan
surfaktan serta dapat diketahui konsentrasi maksimum bahan
pencemar yang dapat diturunkan dalam pengolahan oleh tanaman
kangkungan (Ipomoea crassicaulis).
1.1.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka dari itu

perlu dilakukan tinjuan mengenai bagaimanakah kemampuan biofilter


tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis) dalam menurunkan kadar fosfat dan
surfaktan dalam proses pengolahan limbah Laundry.

1.2 Tujuan Penelitian


1.1.1.

Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah biofilter

tanaman kangkungan (Ipomea crassicaulis) yang paling efektif


dalam proses penurunan kadar surfaktan dan fosfat di limbah
Laundry.
1.1.2.
Tujuan Khusus
1.1.2.1.
Mengetahui pengaruh berbagai jumlah tanaman
kangkungan dalam menurunkan kadar surfaktan

Ratu Sholihah 3

1.1.2.2.

Mengetahui pengaruh berbagai jumlah tanaman

kangkungan dalam menurunkan kadar fosfat


1.1.2.3.
Mengetahui jumlah tanaman yang paling efektif
untuk menurunkan kadar surfaktan dalam limbah
laundry
1.1.2.4.
Mengetahui jumlah tanaman yang paling efektif
untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah laundry

1.4 Manfaat Penelitian


1.1.3.
Manfaat Bagi Peneliti
Dapat membuat teknologi tepat guna dalam pemanfaatan
tanaman air untuk pengolahan limbah cair Laundry (Deterjen).
1.1.4.
Manfaat Bagi Institusi
Sebagai bahan tambahan pustaka dalam pengolahan limbah
laundry dengan menggunakan biofilter.

1.1.5.

Manfaat Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi kepada pengusaha Laundry


tentang manfaat lain dari tanaman kangkungan serta
memberikan informasi kepada pengusaha Laundry tentang
salah satu biofilter yang dapat digunakan dalam menurunkan
kadar surfaktan dan fosfat di limbah Laundry.

1.5 Ruang Lingkup


Fokus parameter yang diukur untuk diturunkan yaitu parameter
surfaktan dan fosfat dengan variasi jumlah biofilter tanaman
kangkungan yaitu 5 batang tanaman, 10 batang tanaman dan 15
batang tanaman.
1.1.6.

Ruang Lingkup Tempat

Penelitian dilakukan di kampus Kesehatan Lingkungan jalan


Babakan Loa Nomor 10 A kelurahan Pasir Kaliki Kecamatan
Cimahi Utara. Sampel limbah laundry yang digunakan berasal
Ratu Sholihah 4

dari usaha aktif Laundry sekitar kampus Kesehatan


Lingkungan.
1.1.7.
Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari Maret 2017
1.1.8.
Ruang Lingkup Keilmuwan
Penelitian ini merupakan bagian dari Ilmu Kesehatan Masyarakat terutama
bidang Kesehaan Lingkungan yang mengkaji tentang penurunan kadar
surfaktan pada limbah cair Laundry.

Ratu Sholihah 5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Deterjen
Deterjen umumya tersusun atas tiga komponen utama yaitu,

surfaktan (Surface Active Agent) sebagai bahan dasar deterjen,


bahan builders digunkan untuk meningkatkan efisiensi surfaktan,
melunakan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang
terlarut dan sebagai buffer yang dapat membantu dalam
mempertahankan pH larutan. Bahan builders yang sering digunakan
adalah senyawa kompleks fosfat (polyphosphate). Komponen ketiga
yaitu bahan aditif berupa pemutih dan pewangi yang dewasa ini
banyak pula deterjen yang ditambahkan dengan softener.
Komponen terbesar dari deterjen yaitu bahan builder yang
berkisar antara 70-80%, surfaktan berkisar antara 20-30% dan
bahan aditif relatif yaitu antara 2-8%. Berdasarkan surfaktan yang
digunakan, deterjen dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu
deterjen non ionik, kationik, dan anionik.
Jenis surfaktan yang umumnya digunakan pada deterjen adalah
tipe anionik dalam bentuk sulfat (SO42-) dan sulfonat (SO3-).
Berdasarkan rumus bangun kimianya, deterjen golongan sulfonat
dibedakan menjadi jenis bercabang yaitu Alkyl Benzene Sulfonate
(ABS) dan jenis rantai lurus yaitu Linear Alkylbenzene Sulfonate
(LAS).
Senyawa ABS mempunyai sifat lebih sukar diuraikan oleh
mikroorganisme dibandingkan dengan senyawa LAS. Hal ini
disebabkan karena senyawa ABS memiliki rantai alkyl yang banyak,
sedangkan senyawa LAS rantai Alkylnya lurus sehingga leih mudah
diuraikan oleh mikroorganisme. Di negara maju, perubahan
komposisis deterjen diakukan dengan mengganti ABS menjadi LAS.
Karena ABS merupakan rantai cabang, di dalam negeri juga sudah
Ratu Sholihah 6

terdapat kecenderungan mengganti ABS dengan LAS, namun karena


harganya yang mahal LAS hanya digunakan sebagai bahan
campuran sedangkan bagian terbesarnya masih menggunakan ABS.
(sopiah, R. Nida dan Chaerunisah. 2006. Laju degradasi surfaktan
Linear alkylbenzene sulfonate (LAS) pada limbah deterjen secara
anaerob pada reaktor lekat diam bermedia sarang tawon)
Limbah deterjen yang kerap di buang ke perairan dan tanpa pengolahan dengan
baik akan berakibat terakumulasinya surfaktan dan fosfat pada badan perairan yang
akan menimbulkan masalah pendangkalan perairan akibat dari menumpuknya
sedimentasi di perairan dan terhambatnya transfer oksigen. Hal tersebut menyebabkan
proses penguraian secara aerobik menjadi terganggu dan berdampak pada laju
biodegradasi berjalan sangat lambat, selain itu kandungan oksigen terlarut dalam
perairan tersebut akan menjadi rendah.
Kandungan surfaktan dalam air limbah akan mempengaruhi nilai BOD dan COD
dari limbah tersebut, apabila kandungan surfaktan dalam air limbah tinggi maka nilai
BOD dan COD pada limbah tersebut juga semakin tinggi karena senyawa organik
yang terkandung dalam limbah tersebut juga tinggi. Upaya mengurangi limbah
deterjen dari limbah rumah tanggga dilakukan pengolahan limbah secara fisik, kimia,
dan biologis. Pengolahan limbah secara fisika, hanya mengubah bentuk limbah
sehingga terbentuk secondary waste yang membutuhkan pengolahan limbah lebih
lanjut. Penggunanaan zat kimia dalam pengolahan limbah dapat mengakibatkan
kerusakan limbah dan penggunaan zat kimia dalam kapasitas yang sangat besar untuk
pengolahan limbah menyebabkan biaya pengolahan limbah menjadi tinggi.
Pengolahan limbah secara biologis yang menggunakan katalis mikroba menghasilkan
beberapa produk yang tidak dapat diuraikan menjadi molekul sederhana.
.

2.2.

Fosfat
Fosfat terdapat dalam jumlah yang signifikan pada efluent

pengolahan air buangan domestik. Fosfat yang terdapat bebas di


alam terutama di air, dominan berada dalam bentuk senyawan PO4-3
(Phosphate). Komposisi dari input fosfat terdiri dari industri 7,3%,
derivasi deterjen 40%, buangan manusia 44%, dan pembersih
rumah 6,7%. Hal ini menunjukan bagaimana berbagai aktifitas
Ratu Sholihah 7

masyarakat di era modern dan semakin besarnya jumlah populasi


manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi lepasnya
fosfat ke lingkkungan air.

2.3.

Surfaktan
Surfaktan merupakan molekul senyawa organik yang terdiri atas

dua bagain yang mempunyai sifat berbeda, yaitu berifat hidrofobik


dan bagian lain bersifat hidrofilik. Surfaktan dalam air akan
mengalami ionisasi membentuk komponen bipolar aktif. Komponen
bipolar aktif terbentuk pada kedua ujung gugus aktifnya. Fungsi
penggunaan surfaktan dalam deterjen untuk menurunkan tegangan
permukaan sehingga dapat meningkatkan daya pembasahan air dan
kotoran berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat
kotoran serta mensuspensi kotoran yang terlepas.
Ditinjau dari struktur nya surfaktan dibedakan menjadi dua, yaitu
rantai lurus berupa Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) dan rantai
bercabang berupa Alkyl Benzene Sufonate (ABS).Surfaktan sintentik
yang biasa digunakan dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
2.3.1.
Surfaktan anionik
Surfaktan anionik adalah garam-garam Na dan terionisasi
untuk menghasilkan Na+ dan ion aktif permukaan (surface
active ion) yang bermuatan negatif. Kelompok ini merupakan
jumlah terbesar yang berada di pasaran karena banyak
dipakai untuk tujuan domestik, lebih murah serta stabil dalam
air, memiliki daya bersih yang sangat baik dan biasanya
berbusa banyak. Surfaktan yang termasuk kedalam kelompok
ini umumnya berasal dari persenyawaan sulfonat dan
merupakan turunan senyawa hidrokarbon minyak bumi,
misalnya ABS, LAS, etoksisulfat dan akisulfat.
2.3.2.
Surfaktan sintetik nonionik
Deterjen nonionik tidak terionisasi dalam air, kemampuan
deterjen ini untuk larut dalam air tergantung pada kelompokkelompok dalam molekul deterjen. Busa yang dihasilkan

Ratu Sholihah 8

sedikit namun dapat bekerja di air sadah dan dapat mencuci


dengan baik untuk semua jenis kotoran.
2.3.3.
Surfaktan sintetik kationik
Deterjen sintesis kationik adalah garam-garam amonium
hidroksida (NH4OH) kuartener, berubah menjadi partikel
bermuatan posistif bila dilarutkan kedalam air, surfaktan ini
biasanya digunakan dalam pelembut (softener). Deterjen
kelompok ini mempunyai sifat yang lebih baik karena
kemampuannya sebagai bakterisida maupun bakteriostatik.
Deterjen ini harganya lebih mahal sehingga tidak banyak
digunakan untuk keperluan rumah tangga melainkan banyak
digunakan sebagai desinfektan pada rumah sakit dan hotel.

2.4.

Dampak Deterjent
Bahan kimia penyusun deterjen menjadi sorotan yang penting

untuk diperhatikan, karena gugus fungsi ini akan mempengaruhi


toksisitas terhadap kesehatan makhluk hidup dan lingkungan.
Deterjen memiliki pH yang basa, yaitu berkisar antara 9,5-12,
bersifat korosif dan iritan terhadap kulit. Semakin panjang dan
bercabang rantai pada surfaktan maka semakin keras deterjen
tersebut. Apabila deterjen tidak terdegradasi sempurna pada
perairan dan masuk kedalam jaringan tubuh baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh
dan bbersifat toksik.
Adapun efek yang dapat ditimbulkan oleh adanya deterjen
dalam air antara lain: Terbentuknya film yang dapat menyebabkan
menurunnya tingkat transfer oksigen dari udara ke dalam air
menjadi sedikit dan berlangsung lambat yang berdampak langsung
kepada ekosistem air, kombinasi antara polyphospat dengan
surfaktan dalam deterjen dapat mempertinggi kandungan phospat
dalam air sehingga mengakibatkan eutrofikasi yang menyebabkan
tanaman perairan menjadi subur dan pertumbuhan alga menjadi
Ratu Sholihah 9

meningkat melebihi batas normal atau biasa disebut dengan algae


blooming. Sisa bahan surfaktan yang terdapat dalam deterjen dapat
membentuk chlorobenzene pada proses klorinasi pengolaha air
minum PDAM. Chlorobenzene merupakan senyawa yang bersifat
racun dan berbahaya bagi kesehatan
Pada manusia, deterjen dapat mengakibatkan Permukaan kulit
kasar, hilangnya kelembaban alami yang ada pada permukaan kulit,
meningkatkan permeabilitas permukaan luar, iritasi sedang pada
kulit.

2.5.

Pengolahan air limbah deterjen secara biologis


Penguraian senyawa kimia secara biologis didefinisikan sebagai

perombakan atau penguraian senyawa kimia oleh aktivitas biologis


dari makhluk hidup, khususnya oleh mikroorganisma. Dalam studi
tentang penguraian deterjen secara biologis, dibagi dalam 3
kategori, yaitu:
2.5.1 penguraian biologis primer
Penguraian biologis, primer didefinisikan sebagai penguraian
senyawa kimia yang kompleks oleh aktivitas mikroorganisma
menjadi bentuk senyawa lain sehingga senyawa hasil
penguraian tersebut tidak lagi memiliki karakteristik atau sitat
senyawa asalnya. Untuk penguraian biologis primer dari
senyawa deterjen, biasanya sampai tahap dimana sifat-sifat
deterjennya menjadi hilang.
2.5.2.

penguraian biologis sampai tahap dapat diterima

lingkungan
Penguraian biologis sampai tahap dapat diterima lingkungan
didefinisikan sebagai penguraian oleh aktivitas
mikroorganisma dimana senyawa kimia telah dipecah secara
biologis sampai tahap dapat diterima oleh lingkungan atau
sampai tahap tidak menunjukkan sitat-sitat yang tidak
diinginkan, misalnya sitat menimbulkan busa dan tidak lagi
bersifat toksik.
Ratu Sholihah 10

2.5.3.

penguraian biologis sempurna

Penguraian biologis akhir atau sempurna didefinisikan sebagai


penguraian senyawa kimia oleh aktivitas mikroorganisma
secara lengkap atau sempurna menjadi karbon dioksida, air
dan garam anorganik serta biomassa.
Beberapa taktor yang sangat berpengaruh terhadap proses
penguraian deterjen secara biologis antara lain : jenis
mikroorganisme, waktu adaptasi mikroorganisma terhadap
lingkungannya (adaptation atau aclimation time), jenis
deterjen atau surfaktan, oksigen, konsentrasi deterjen, dan
toksikan yang dapat menghambat kerja mikroorganisma,
Teknologi pengolahan limbah organik dalam hal ini termasuk
deterjen pada dasarnya dapat diolah secara biologis dengan
memanfaatkan jasa mikroorganisma yang mampu
mendegradasi senyawa organik menjadi senyawa yang lebih
sederhana. Dalam pengolahan limbah secara biologis, ada dua
kategori proses yaitu:
1. Suspended-growth proce, yaitu proses pengolahan secara
biologi yang melibatkan aktivitas mikroorganisma untuk
mengurai bahan organik atau unsur-unsur lainnya di dalam
air limbah menjadi gas. Mikroorganisma tumbuh dalam
keadaan tersuspensi di dalam aliran.
2. Attached-growth process, proses pengolahan secara biologi
yang melibatkan aktivitas mikroorganisma untuk mengurai
bahan organik atau unsur-unsur lainnya di dalam air limbah
menjadi gas. Mikroorganisma tumbuh terlekat pada media
tumbuh, seperti batu, keramik, plastik. Proses ini disebut
juga sebagai fixed film processes.
Pengolahan limbah deterjen melibatkan rangkaian proses
degradasi. Mekanisme degradasi meliputi tiga tahapan penting,
yaitu oksidasi rantai alkyl, desulfonasi dan pemecahan pembukaan
cincin benzena. Oksidasi awal terjadi pada gugus alkil yang
terletak di ujung (w-oksidasi) membentuk intermediate berupa
Ratu Sholihah 11

alkohol. Alkohol dioksidasi menjadi asam sulfotenilkarboksilat.


Aktivasi gugus karboksilat melalui proses thioesterifikasi
diperlukan sehingga asam karboksilat ini dapat memasuki jalur oksidasi. Proses ini membutuhkan koenzim A serta ATP. Proses oksidasi menyebabkan rantai alkil mengalami pemendekan 2
karbon melalui 4 tahap yaitu dehidrogenasi, hidrasi, oksidasi dan
pemutusan . Oksidasi ini berlangsung sampai rantai alkil hanya
mempunyai 4-5 atom karbon. Desulfonasi merupakan proses
panghilangan gugus sultonat yang dikatalisis oleh sistem enzim
kompleks, koenzim NAD(P)H dan oksigen. Penghilangan gugus
sulfonat menyebabkan terbentuknya hidroksi fenolik pada cincin
aromatik. Gugus terhidroksifasi ini selanjutnya mengalami oksidasi
dengan katalis dioksigenase menghasilkan katekol yang
tersubstitusi pada 3 atom karbonnya. Katekol merupakan produk
awal dari oksidasi hidrokarbon aromatik. Cincin dari katekol
tersebut kemudian dibuka melalui jalur orto atau meta. Jalur
pembukaan cincin aromatik tergantung pada jenis hidrokarbon,
spesies bakteri dan model induksi.

2.6.

Biofiltrasi
Biofiltrasi merupakan salah satu proses penglahan air limbah

secara biologis yang pada prinsipnya melibatkan mikroba sebagai


media penghancur bahan-bahan pencmar tertentu terutama
senyawa organik ( Muhammad 2010 dalam Purnawati 2015).
Biofiltrasi memanfaatkan material hidup untuk menangkap
dan secara biologis mendegradasi polutan di dalamnya. Biofiltrasi
air limbah domestik merupakan proses pengolahan yang unik
dibandingkan dengan pengolahan biologis lainnya dimana
mikroorganisme menempel pada media kontak dan air limbah
dialirkan melewatinya untuk diolah. Teknologi biofiltrasi ini secara
umum dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu : (a) Sistem
konvensional, dimana mikroorganisme menempel secara alamiah
pada media kontak dan (b) penempelan mikroorganisme secara
Ratu Sholihah 12

artifisial pada material polimer. Dalan sistem biofiltrasi modern,


mikroorganisme ditempelkan pada media kontak atau diperangkap
dalam suatu membran. Proses metabolisme oleh mikroorganisme
dipengaruhi oleh faktor diantaranya adalah :
1. Temperatur, temperatur tidak hanya mempengaruhi aktivitas
metabolism dari populasi mikroorganisme, tetapi juga mempengaruhi
beberapa factor seperti kecepatan transfer gas dan karakteristik
pengendapan lumpur.
2. pH, nilai pH merupakan factor kunci bagi pertumbuhan
mikroorganisme. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH diatas 9,5 dan
dibawah 4,0. Secara umum pH optimum bagi pertumbuhan
mikroorganisme adalah sekitar 6,5-7,5.
3. Waktu Tinggal Hidrolisis (WTH), waktu perjalanan limbah cair di dalam
reactor, atau lamanya proses pengolahan limbah cair tersebut.
Semakin lama waktu tinggal, maka penyisihan yang terjadi pada
reactor aerob sangat bervariasi dari 1 jam hingga berhari-hari.
4. Nutrien, disamping kebutuhan karbon dan energy, mikroorganisme
juga membutuhkan nutrient untuk sintesa sel dan pertumbuhan.
Kebutuhan nutrient tersebut dinyatakan dalam bentuk perbandingan
antara karbon dan nitrogen serta phosphor yang merupakan nutrient
anorganik utama yang diperlukan mikroorganisme.
Ada enam tahapan proses yang terjadi ketika fitoremedisasi berlangsung, yaitu :
1. Phytoacumulation merupakan proses dimana tumbuhan menarik zat pencemar
dari media sehingga terkumpul pada bagian akar tumbuhan.
2. Rhizofiltration yaitu penyerapan zat pencemar dan membuatnya mengendap di
akar tumbuhan .
3. Phytostabilization yaitu menstabilkan zatzat yang tidak dapat terserap masuk ke
dalam akar tumbuhan
4. Rhyzodegradation merupakan tahapan penguraian zat pencemar oleh mikroba
yang terdapat pada bagian akar tumbuhan
5. Phytodegradation yaitu menguraikan zat pencemar yang memiliki rantai molekul
yang kompleks menjadi rantai yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan
bagi pertumbuhan hidup tanaman itu sendiri
6. Phytopvolatization yaitu menguapkan zat pencemar yang telah diurai ke atmosfer
Ratu Sholihah 13

2.7.

Rhizodegradasi
Rhizodegradasi merupakan bagian dari proses fitoremediasi

dengan pelepasan produk ke zona akar. Rhizodegredasi yaitu


penguraian zat-zat kontaminan oleh aktifitas mikroba yang berada
disekitar tumbuhan. Mikroba mengkonsumsi dan menguraikan atau
mengubah bahan organik yang digunakan sebagi nutrient.
Senyawa-senyawa alami yang dilepaskan oleh akar tumbuhan
seperti zat gula, alkohol dan asam yang mengandung karbon
organik berfungsi sebagi sumber nutrient bagi mikrobia dan
penambahan nutrient akan memacu aktifitas mikrobia tersebut
(Sudrajat, 2010 dalam Purnamawati, 2015).

2.8.

Ipomea crassicaulis
Ipomea crassicaulis lebih dikenal di daerah jawa dengan nama

kangkungan. Tumbuhan yang berasal dari Amerika tengah ini


dulunya banyak ditanam sebagai tanaman hias, namun kini telah
mengalami naturalisasi dan tumbuh di sembarang tempat. Tumbuh
di daerah yang lembab, khususnya di daerah yang memilliki kadar
air tinggi. Pertumbuhan yang cepat kadang membuat orang
beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman pengganggu
sehingga harus dimusnahkan.
Habitat Ipomea crassicaulis berupa semak, tumbuh tegak atau
condong, bergetah putih seperti air susu. Tinggi dapat mencapai
lebih dari 2 meter, tumbuh pada ketinggian sekitar 1-1000 mdpl.
Akar tanaman kangkungan berkayu, kompak, ulet, bentuk kerucut,
memanjang ke bawah, warna putih coklat, panjang 0,15-1,0 meter,
diameter 1-2,5 cm. Batang tanaman kangkungan berkayu, bulat,
kompak, permukaan batang banyak lentisal, bergetah, tinggi batang
1,5-2,5 meter, diameter 0,5-3 cm. Tangkai daun tanaman
kangkungan berongga, licin, panjang 5-7 cm, diameter 3-5 mm.
Helai daun tanaman kangkungan bentuk jantung, ujung runcing,
Ratu Sholihah 14

pangkal berlekuk, pertulangan daun menyirip, permukaan licin, tepi


rata, ukuran elai 5-20 x 4-14 cm (Suratman, 2000 dalam
Purnamawati 2015). Tanaman ini memiliki warna daun hijau dengan
daun berbentuk waru atau daun pada umumnya, bentuk bunga
seperti terompet dengan warna bunga ungu. Tanaman ini dapat
diperbanyak dengan cra mengambil sebagian rumpunnya, salah
satunya dengan cara stek batang. Taksonomi tumbuhan Ipomea
crassicaulis adalah sebagai berikut:

Divisi
Kelas
Bangsa
Jenis
Spesies

:
:
:
:
:

Angiospermae
Dycotiledone
Convolvuales
Ipomea
Ipomea crassicaulis

Sumber Limbah Deterjen

Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan pengolahan


limbah dengan sistem biofiltrasi menggunakan tanaman Ipomea
Limbah Pencucian kendaraan

Limbah Laundry

Limbah Rumah Tangga

crassicaulis dapat menurunkan COD, nitrat, pH, BOD, klorida,


surfaktan, fosfat dan rodamin B.
Karakteristik

2.9.

Kerangka teori

Fosfat

Surfaktan

COD

BOD

Gangguan kesehatan dan pencemaran air

Pengolahan

Fisik

Kimia

Biologi

Biofilter Tanaman Kangkungan

Ratu Sholihah 15
Penurunan Kadar Surfaktan dan Fosfat

TSS

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah

penelitian jenis True eksperimen skala laboratorium untuk


mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan oleh peneliti
terhadap objek penelitian. Dalam penelitian ini peneliti ingin
mengetahui pengaruh berbagai jumlah tanaman yang digunakan
dalam penurunan kadar fosfat dan surfaktan pada limbah cair
Laundry.
3.1.1. Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan desain pre-test post-test with group
control. Desain ini digunakan untuk mengetahui jumlah
tanaman kangkungan yang paling efektif dalam penurunakan
kadar fosfat dan surfaktan dalam limbah cair Laundry dengan
cara mengukur kadar awal fosfat dan surfaktan pada sampel
limbah laundry dan membandingkannya dengan kadar akhir
fosfat dan kontrol yang tidak diberi perlakuan. .
3.1.2. Kerangka konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
variabel Independen :

Variabel dependen : penurunan

variasi jumlah tanaman

kadar surfaktan dan fosfat dalam

kangkungan

limbah cair Laundry

Hubungan variabel dalam penelitian ini adalah :


1. Variabel independent dalam penelitian ini adalah variasi jumlah tanaman
kangkungan yang digunakan yaitu 5 batang, 10 batang dan 15 batang.
2. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah penurunan kadar surfaktan dan
fosfat dalam limbah cair Laundry.
Ratu Sholihah 16

3.1.3. Definisi oprasional


Peneliti akan menguraikan beberapa hal yang berhubungan
dengan variabel penelitian, definisi oprasional dan skala
pengukuran yang tertera dalam tabel dibawah ini.
Variabel

Definisi

Alat ukur

Cara ukur

Hasil

skala

penelitian
Jumlah

oprasional
Banyaknya

Alat ukur

Menghitung

ukur
5

Interval

tanaman

tanaman

jumlah

jumlah

kangkunga kangkunga

individu

individu

tanaman

tanaman

n yang
digunakan

batang
10
batang
15
batang

dalam
Kadar

biofilter
Jumlah

fosfat

fosfat

Pastel UV

Pemeriksaan

Mg/l

interval

Mg/l

interval

laboratorium

(mg/l)
sebelum
dan
sesudah
dilakukan
proses
menggunak
Kadar

an biofilter
Jumlah

surfaktan

surfaktan

Pastel UV

Pemeriksaan
laboratorium

(mg/l)
sebelum
dan
sesudah
dilakukan
Ratu Sholihah 17

proses
menggunak
Efektifitas

an biofilter
Jumlah

Hasil

Membandingk

Kadar

Biofilter

tanaman

pemeriksa

an penurunan

dibawah

kangkunga

an

pada tiap-tiap

NAB

n yang

penurunan

hasil

mampu

kadar

pemeriksaan

menurunka

fosfat dan

n kadar

surfaktan

surfaktan
dibawah
NAB

3.1.4. Pengendalian Variabel Pengganggu


1.

Untuk memperoleh air limbah dengan karakteristik yang


representatif, pengambilan sampel dilakukan dengan cara
sesaat (grab sampling) mengacu pada SNI 6989.59:2008

2.

tentang Metoda Pengambilan contoh air limbah.


Untuk menghindari migrasi bahan lain maka wadah atau
botol sampel yang digunakan wadah atau botol jenis plastik

3.

(polietilen dan lainnya) dan gelas.


Ukuran dan berat tanaman harus sama dengan jumlah

4.

batang tanaman yang berbeda


Untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan dilakukan
pengukuran Suhu, pH air limbah, kekeruhan dan
konsentrasi kandungan oksigen terlarut.

3.1.5. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah semakin banyak jumlah
tanaman kangkung maka semakin besar penurunan kadar
surfaktan dan fosfat dalam limbah cair Laundry.

Ratu Sholihah 18

Interval

3.2.

Rancangan Sampel

3.2.1. Populasi dan sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah limbah cair Laundry.
Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah limbah cair hasil pencucian pakaian pada usaha CuciCuci Laundry.
3.2.2. Besar Sampel
Besar sampel yang diambil dalam penelitian ini berdasarkan
banyaknya perlakuan dan banyaknya pengulangan yang
digunakan dalam penelitian yaitu 3 kali perlakuan dengan
mengatur banyaknya jumlah tanaman kangkungan yang
digunakan sebagai Biofilter.
Untuk menentukan besar sampel peneliti mengacu pada rumus
Gomez-Gomez untuk mendapatkan banyak refleksi
(pengulangan) dalam setiap perlakuan sampel.
Rumus Gomez-gomez :
t (r-1) 15
3 (r-1) 15
r 15/3
r 6
Dimana: t (treatment) = banyaknya perlakuan yang dilakukan
r (Replica) = banyaknya pengulangan yang dilakukan
Dari perhitungan yang telah dilakukan maka jumlah
pengulangan pada penelitian ini yaitu sebnayak 6 kali
pengulangan. Banyaknya limbah cair deterjen yang dibutuhkan
dalam satu kali pengulangan adalah 88 liter, sehingga besar
sampel untuk 6 kali pengulangan yaitu:
6 kali pengulangan x 88 liter = 528 liter
Maka banyaknya limbah cair deterjen yang diperlukan dalam
penelitian ini yaitu sebanyak 528 liter.
3.2.3. Teknik pengambilan sampel
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik
pengambilan sampel dengan teknik Purposif Sampling yaitu
teknik pengambilan sample yang dilakukan untuk tujuan yang
Ratu Sholihah 19

memiliki spesifikasi khusus dimana limbah yang dijadikan


sampel berasal dari aktifitas laundry yang dilakukan yang
berpengaruh pada waktu pembuangan limbah Laundry.
Teknik pengambilan sampel dilakukan sebagai berikut :
1. Melakukan survey ke usaha aktif laundry untuk mrenentukan titik
2.
3.
4.
5.
6.
7.

lokasi dan waktu pengambilan sampel.


Siapkan jerigen sebagai alat pengambil sampel limbah Laundry.
Bilas Jerigen dengan Sampel yang akan diambil, sebanyak 3 kali.
Ambil sampel sebanyak 88 liter untuk satu kali pengulangan.
Masukkan kedalam reaktor tempat perlakuan diberikan.
Lakukan segera pengujian untuk parameter kekeruhan dan pH.
Hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan
khusus/lembar pengujian.

3.3.

Rancangan Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis Data


3.3.1.1. Data primer
Data primer yang di dapat dalam penelitian ini yaitu data
mengenai jumlah tanaman kangkungan yang paling efektif
menurunkan kadar fosfat dan surfaktan, data penurunan
kadar fosfat serta data penurunan kadar surfaktan.
3.3.1.2. Data sekunder
Data sekunder didapat melalui wawancara dengan pemilik
usaha Cuci-Cuci Laundry yaitu data mengenai pencucian
yang digunaan dalam sehari, data jumlah penggunaan
detejen, data jenis deterjen yang digunakan, data air yang
digunakan dalam sekali pencucian serta data mengenai
bahan lain yang digunakan dalam pencucian.
3.3.2. Alat Pengumpul Data
3.3.2.1.

Gelas ukur digunakan untuk memperoleh data

mengenai jumlah sampel limbah cair.


3.3.2.2.
pH meter digunakan untuk memperoleh data
mengenai pH limbah cair.

Ratu Sholihah 20

3.3.2.3.

Kamera digital, digunakan untuk

mendokumentasikan penelitian sehingga dapat


digunakan sebagai data pelengkap.
3.3.2.4.
Instrumen Pengumpul data, format yang berisi
hasil penilaian perubahan kadar fosfat dan surfaktan yang
terjadi selama penelitian.
3.3.2.5.
Pastel UV, digunakan untuk mengetahui kadar
fosfat dan surfaktan
3.3.2.6.
Timbangan digunakan sebagai alat ukur jumlah
individu tanaman kangkung.
3.3.2.7.
Thermohygrometer, digunakan untuk mengukur
suhu sampel limbah cair.
3.3.2.8.
spectrofotometer yaitu alat yang digunakan untuk pemeriksaan
parameter fosfat pada sampel yang digunakan sebagai kontrol dan
sampel sebelum dan sesudah diberi perlakuan
3.3.3. Teknik Pengumpul Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
melakukan pengumpulan data hasil pemeriksaan dan pengukuran parameter kadar
fosfat dan surfaktan sebelum dan sesudah dilakuakn perlakuan yaitu pemberian
biofilter berupa tanaman kangkungan yang dilakukan di Laboratorium. Selain
pemeriksaan dan pengukuran parameter fosfat dan surfaktan, peneliti juga
melakukan wawancara kepada pemilik usaha aktif Laundry.
3.3.4. Tenaga Pengumpul Data
Tenaga pengumpul data dalam penelitian ini adalah peneliti, Petugas
laboratorium dan Instruktur Laboratorium.

3.4.

Rancangan Pelaksanaan Penelitian

3.4.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Kampus Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan Bandung Jl. Babakan Loa No. 10A Cimahi
Utara, sedangkan pengambilan sampel berasal dari usaha Cuci-Cuci Laundry
yang berada di sekitar Kampus Kesehatan Lingkungan. Pelaksanaan penelitian ini
dimulai dari bulan Januari 2017 sampai dengan bulan Maret 2017.
Ratu Sholihah 21

3.4.2. Langkah-langkah Penelitian


3.4.2.1.
Persiapan alat dan bahan
1. Bahan penelitian:
a.
Limbah cair Laundry sebanyak 88 Liter untuk satu kali pengulangan
b.
Media biofilter tanaman kangkungan (Ipomea crassicaulis)
c.
Aquadest
d.
Tissue
e.
Reagen atau bahan kimia yang digunakan dalam menguji kandungan
fosfat yaitu 25 gram ammonium molibdat, 175 ml aquades dan larutan
H2SO4 (280 ml dalam 400 ml aquades)
2. Alat yang digunakan dalam penelitian:
a.
b.
c.
d.

Jerigen
4 buah reaktor
Pastel UV
Thermohygromete

e.

r
pH meter

f.
g.

k.

Gelas ukur
Lembar observasi
h. Pipet gondok,
i. Beaker glass,
j. Pipet ukur,
spectrofotometer

3. Langkah-langkah persiapan sampel limbah cair Laundry


a. Tentukan titik lokasi dan waktu pengambilan sampel.
b. Siapkan jerigen sebagai alat pengambil sampel limbah Laundry.
c. Bilas Jerigen dengan Sampel yang akan diambil, sebanyak 3 kali.
d. Ambil sampel sebanyak 88 liter untuk satu kali pengulangan
e. Isi jerigen sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi dan
gelembung udara selama pengisian, kemudian botol ditutup;
4. Langkah-langkah persiapan tanaman kangkungan
a. Siapkan tanaman kangkungan yang ukurannya telah disesuaikan.
b. Aklimatisasi tanaman kangkungan dengan memasukan tanaman
kangkungan kedalam aerator yang berisi air bersih selama 3 hari.
c. Setelah 3 hari tanaman dapat dipindahkan ke aerator berisi sampel
air limbah laundry
3.4.2.2. Persiapan pengambilan data
5.Persiapan pengambilan data dalam penelitian ini adalah:
1. Meminta perizinan pada pihak usaha aktif laundry
2. Melakukan wawancara kepada pemilik usaha Laundry
3. Pengambilan data suhu
a. Siapkan thermohygrometer;
b. Siapkan wadah untuk menyimpan limbah cair yang akan diukur
suhunya;
c. Ukur suhu dengan memasukkan thermohygrometer ke dalam limbah
cair control dan sampel limbah cair sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan;
d. Catat hasil pengukuran.
Ratu Sholihah 22

4. Pengambilan data pH dan Surfaktan


a. Siapkan alat pastel UV
b. Pastikan alat dalam keadaan ON
c. Bersihkan kuvet dengan air aquades
d. Aduk sampel air limbah
e. Masukan sampel kedalam kuvet dengan menggunkan
suntikan sampel
f. Bersihkan kuvet dari kotoran dan minyak dengan
menggunakan tisu
g. Masukan sampel kedalam alat
h. Tekan tombol enter
i. Tunggu sampai nilai-nilai parameter muncul
j. Catat hasil pengukuran
5. Pengambilan data Fosfat
a. Siapkan spektrofotometer,
b. Siapkan pipet gondok, erlenmeyer,dan pipet tetes,
c. Membuat larutan ammonium molibdat dengan cara 25 gram
ammonium molibdat (NH2)2Mo7O4.4H2O) dalam 175 ml aquades.
Kemudian diambahkan dengan larutan H2SO4(280 ml dalam 400 ml
aquades). Setelah dingin diencerkan dengan aquades hingga
volumenya 1 liter.
d. Membuat kristal SnCl2 dengan cara larutkan 2,5 gram SnCl2 dilarutkan
e.
f.
g.
h.

dalam 100 ml glycerol.


Mempersiapkan larutan standar fosfat.
Masukkan 25 ml sampel air kedalam labu erlenmeyer.
Tambahkan 1 ml larytan ammonium molibdat.
Tambahkan 0,125 ml SnCl2 lalu homogenkan biarkan 10 menit ,
kemudian periksa dengan spektrofotometer
6.

3.4.3. Rencana Pengolahan data dan analisis data


3.4.3.1.
1.

Pengolahan data
Editing, yaitu melakukan pengecekan kelengkapan data primer
yaitu data mengenai jumlah tanaman kangkungan
yang paling efektif menurunkan kadar fosfat dan
surfaktan, data penurunan kadar fosfat dan data
penurunan kadar surfaktan yang diperoleh dari hasil
penelitian. Jika hasil pemeriksaan terdapat kejanggalan seperti
penurunan kadar surfaktan dan fosfat terlalu jauh maka dilakukan
pemeriksaan kembali.

Ratu Sholihah 23

2.

Entry, yaitu memasukan data penurunan kadar fosfat dan surfaktan


hasil pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan software

3.

komputer.
Cleaning, yaitu memeriksa kembali kesesuaian data penurunan

4.

kadar fosfat dan surfaktan.


Coding, yaitu merubah data penurunan kadar fosfat dan surfaktan
yang dalam bentuk huruf menjadi data dalam bentuk angka. Hal
ini dilakukan untuk data yang bersifat kategorik atau dilakukan

3.4.3.2.
1.
8.

untuk pengelompokan data terhadap data numerik.


7.
Analisis Data
Analisis bivariat
Uji Anova (Analysis of Variance) untuk menguji perbedaan
rata-rata lebih dari dua sampel dengan menggunakan software
SPSS v.18
Kaidah keputusan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Jika F hitung lebih besar dari pada F tabel (Fhit>Ftab) maka

9.

Hipotesis nol (Ho) = diterima


b. Jika F hitung lebih kecil dari pada Ftabel (Fhit<Ftab) maka
hipotesis nol (Ho)=ditolak
10.

Atau dengan membandingkan nilai P dengan , yaitu :


a. P

maka Ho diterima, tidak ada hubungan atau tidak ada

perbedaan.
b. P maka Ho ditolak, ada hubungan atau ada perbedaan.
11.
12.

Ratu Sholihah 24

13.

Daftar Pustaka
14.

15.

Dewi, Fitriani, M. Faizal dan Mariana. 2015. Efisiensi penyerapan


fosfat limbah laundry menggunakan kangkungan air dan
jeringau. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.

16.

Fardiaz, srikandi. 2006. Polusi Air dan udara. Cetakan 11. Penerbit
Kanisius: Yogyakarta

17.

Natawidha, Catur Nitya. 2012. Degredasi Limbah Deterjen (Senyawa Linear


Alkabenzena Sulfonat) dengan Fotokatalis Komposit Berbasis TiO2 dan Batu
Apung. Depok

18.

Purnamawati, Komang Yogi. 2015. Penurunan Kadar Rhodamin B


dalam Air Limbah dengan Biofiltrasi Sistem Tanaman. Denpasar:
Universitas Udayana

19.

Rosasiawari, Firra. 2008. Penurunan Konsentrasi Limbah Deterjen


Menggunakan Furnace Bottom Ash (Fba). Jatim. TEKLING UPN
Veteran

20.

Santi, Shinta Soraya. 2009. Penurunan Kosentrasi Surfactan Pada


Limbah Deterjen Dengan Proses Photokatalitik Sinar Uv.
Jatim.UPN Veteran

21.

SNI: 6989.59:2008. Air dan air limbah Bagian 59: Metoda pengambilan contoh
air limbah

22.

Sopiah, R. Nida dan Chaerunisah. 2006. Laju Degradasi Surfaktan Linear Alkil
Benzena Sulfonat (LAS) Pada Limbah Deterjen Secara Anaerob Pada Reaktor
Lekat Diam Bermedia Sarang Tawon. Volume 7 No. 3. Jakarta

23.

Sopiah, R. Nida. Pengelolaan Limbah Deterjen Sebagai Upaya Minimalisasi


Polutan Di Badan Air Dalam Rangka Pembangunan Berkelanjutan. Serpong

24.

Suastuti, Ni G. A. M Dwi Adhi, I Wayan Suarsa Dan Dwi Kurnia


Putra R. 2015. Pengolahan Larutan Deterjen Dengan Biofilter
Tanaman Kangkunga (Ipomoea Crassicaulis) Dalam Sistem Batch
(Curah) Teraerasi. Bali: Universitas Udayana
Ratu Sholihah 25

25.

Switarto, bambang dan sugito. 2012. Aplikasi Biofilter Aerobik Untuk


Menurunkan Kandungan Detergen Pada Air Limbah Laundry. Jurnal volume 10
Nomor 02
26. LAMPIRAN
27.

Tabel 1

28. Hasil pengukuran suhu dan pH pada limbah cair Laundry sebelum dan
sesudah diberikan perlakuan.
29.
Parameter
30.
Pretest
32.
Suhu
33.
35.
Ph
36.
38. Tabel 2

31.

Postest
34.
37.

39. Hasil pemeriksaan kadar fosfat pada limbah cair Laundry sesudah
diberikan perlakuan biofilter tanaman kangkungan
41. Kadar Fosfat (mg/l) pada variasi jumlah
40.

Pengulangan 43. Kontrol

44.

biofilter
10

45.

46.

15

batang

batang

batang

tanaman

tanaman

tanaman

47. 1

48.

49.

50.

51.

52. 2

53.

54.

55.

56.

57. 3

58.

59.

60.

61.

62. 4

63.

64.

65.

66.

67. 5

68.

69.

70.

71.

72. 6

73.

74.

75.

76.

77. Tabel 3
78. Hasil pemeriksaan kadar Surfaktan pada limbah cair Laundry sesudah
diberikan perlakuan biofilter tanaman kangkungan
79.

Pengulangan

80. Kadar Surfaktan (mg/l) pada variasi


82. Kontrol

83.

jumlah biofilter
84.
10
85.

15

Ratu Sholihah 26

batang

batang

tanaman

batang

tanaman

tanaman

86. 1

87.

88.

89.

90.

91. 2

92.

93.

94.

95.

96. 3

97.

98.

99.

100.

101. 4

102.

103.

104.

105.

106. 5

107.

108.

109.

110.

111. 6

112.

113.

114.

115.

116.

Ratu Sholihah 27