Anda di halaman 1dari 12

HAKEKAT MATEMATIKA DAN MATEMATIKA SEKOLAH

1. Hakekat Matematika
Pendefinisian matematika sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat, namun demikian dapat
dikenal melalui karakteristiknya. Sedangkan karakteristik matematika dapat dipahami melalui hakekat
matematika.
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran. Ide-ide
yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk
menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku
umum dalam menyelesaikan masalah.
Sehubungan dengan hal di atas Hudoyo (1988:3) menyatakan matematika berkenaan dengan ide-ide
(gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika
itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas
alasan logik yang menggunakan pembuktian deduktif. Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai
aspek kehidupan. Banyak permasalahan dan kegiatan dalam hidup kita yang harus diselesaikan dengan
menggunakan ilmu matematika seperti menghitung, mengukur, dan lain lain. Matematika adalah ilmu
universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, memajukan daya pikir
serta analisa manusia. Peran matematika dewasa ini semakin penting, karena banyaknya informasi yang
disampaikan orang dalam bahasa matematika seperti, tabel, grafik, diagram, persamaan dan lain lain.untuk
memahami dan menguasai informasi dan teknologi yang berkembang pesat, maka diperlukan penguasaan
matematika yang kuat sejak dini. Sedang Soedjadi (1985:13) berpendapat bahwa simbol-simbol di dalam
matematika umumnya masih kosong dari arti sehingga dapat diberi arti sesuai dengan lingkup semestanya.
Berdasarkan uraian di atas, agar supaya simbol itu berarti maka kita harus memahami ide yang terkandung di
dalam simbol tersebut. Karena itu, hal terpenting adalah bahwa ide harus dipahami sebelum ide itu sendiri
disimbolkan. Misalnya simbol (x, y) merupakan pasangan simbol x dan y yang masih kosong dari arti.
Apabila konsep tersebut dipakai dalam geometri analitik bidang, dapat diartikan sebagai kordinat titik,
contohnya A(1,2), B(6,9), titik A (1,2) titik A terletak pada perpotongan garis x = 1 dan y = 2 titik B( 6, 9)
artinya titik B terletak pada perpotongan garis x = 6 dan y = 9. Hubunganhubungan dengan simbol-simbol
dan kemudian mengaplikasikan konsep-konsep yang dihasilkan kesituasi yang nyata.
Soedjadi (2000: 1) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi atau pengertian matematika
berdasarkan sudut pandang pembuatnya, yaitu sebagai berikut:
a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisisr secara sistematik.
b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
e. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

f. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.


Sedangkan John dan Rising (dalam Ruseffendi, 1993 : 28) mengatakan, Matematika adalah pola pikir,
pola mengorganisasikan pembuktian yang logik; matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah
yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa
bahasa simbol mengenai ide (gagasan) daripada mengenai bunyi; matematika adalah pengetahuan struktur
yang terorganisasikan sifat-sifat atau teori-teori itu dibuat secara deduktif berdasarkan unsur-unsur yang
didefinisikan atau tidak didefinisikan, aksioma-aksioma, sifat-sifat, atau teori-teori yang telah dibuktikan
kebenarannya; matematika adalah ilmu tentang pola, keteraturan pola atau ide; dan matematika itu
keterampilan.

Menurut Morris Kline (dalam Simanjuntak, 1993) mengatakan bahwa jatuh bangunnya suatu negara
dewasa ini tergantung dari kemajuan pada bidang matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk
mengarah pada kemajuan suatu bangsa adalah dengan mendorong atau memberi motivasi belajar matematika
pada masyarakat khususnya bagi para anak anak atau siswa. Pengetahuan mengenai matematika
memberikan bahasa, proses, dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan, yang akhirnya
bahwa matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentukan konsepsi tentang alam suatu hakikat
dan tujuan manusia dalam kehidupannya .
Menyadari akan peran penting matematika dalam kehidupan, maka matematika selayaknya
merupakan kebutuhan dan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sebagai mana dari tujuan yaitu melatih
siswa berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan
imajinasi, penemuan, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba coba, mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah dan mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan atau ide melalui
tulisan, pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta atau diagram. Oleh karena itu setiap siswa perlu memili
penguasaan matematika yang merupakan penguasaan kecakapan matematika untuk dapat memahami dunia
dan berhasil dalam kariernya.
Ebbutt dan Straker (dalam Depdiknas, 2006) mengemukakan hakekat dan karakteristik matematika
sekolah yang selanjutnya disebut sebagai matematika, sebagai berikut.
a.

Matematika

sebagai

kegiatan

penelusuran

pola

dan

hubungan

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah guru perlu:
1) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk
menentukan hubungan,
2) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara,
3) mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dsb,
4) mendorong siswa menarik kesimpulan umum,
5) membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang lainnya

b.

Matematika

sebagai

kreativitas

yang

memerlukan

imajinasi,

intuisi

dan

penemuan.

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah guru perlu :
1) mendorong inisiatif siswa dan memberikan kesempatan berpikir berbeda,
2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan,
3) menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya sebagai
kesalahan,
4) mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika,
5) mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya,
6) mendorong siswa berfikir refleksif, dan
7) tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode saja.
c.

Matematika

sebagai

kegiatan

pemecahan

masalah

(problem

solving)

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah guru perlu:
1) menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika,
2) membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri,
3) membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika,
4) mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan,
5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan,
6) membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan
matematika seperti : jangka, penggaris, kalkulator, dsb.
d. Matematika sebagai alat berkomunikasi. Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika
adalah guru perlu:
1) mendorong siswa mengenal sifat-sifat matematika,
2) mendorong siswa membuat contoh sifat matematika,
3) mendorong siswa menjelaskan sifat matematika,
4) mendorong siswa memberikan alasan perlunya kegiatan matematika,
5) mendorong siswa membicarakan persoalan matematika,
6) mendorong siswa membaca dan menulis matematika,
7) menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.

Selanjutnya Ebbutt dan Straker (dalam Depdiknas, 2006) juga memberikan Klasifikasi Materi
Matematika meliputi:
1. Fakta ( facts ), meliputi:

informasi,
nama,
istilah dan
konvensi tentang lambang-lambang.
1. Pengertian (concepts), meliputi:
struktur pengertian,
perananstruktur pengertian,
berbagai macam pola, urutan,
model matematika,
operasi dan algoritma.
1. Keterampilan penalaran, meliputi:
memahami pengertian ,
berfikir logis,
memahami contoh negatif,
berpikir deduksi,
berpikir induksi,
berpikir sistematis dan konsisten,
menarik kesimpulan,
menentukan metode dan membuat alasan, dan
menentukan strategi.
1. Keterampian algoritmik, meliputi:
keterampilan untuk memahami dan mengikuti langkah yang dibuat orang lain,
merancang dan membuat langkah,
menggunakan langkah,
mendefinisikan dan menjelaskan langkah sehingga dapat dipahami orang lain,
membandingkan dan memilih langkah yang efektif dan efisien, serta
memperbaiki langkah.
1. Keterampilan menyelesaikan masalah matematika (problem solving) meliputi:

memahami pokok persoalan,


mendiskusikan alternatif pemecahannya,
memecah persoalan utama menjadi bagian-bagian kecil,
menyederhanakan persoalan,
menggunakan pengalaman masa lampau dan menggunakan intuisi untuk menemukan alternatif pemecahannya,
mencoba berbagai cara, bekerja secara sistematis, mencatat apa yang terjadi, mengecek hasilnya dengan
mengulang kembali langkah-langkahnya, dan
mencoba memahami dan menyelesaikan persoalan yang lain.
1. Keterampilan melakukan penyelidikan (investigation), meliputi:
mengajukan pertanyaan dan mencari bagaimana cara memperoleh jawabannya,
membuat dan menguji hipotesis,
mencari dan menentukan informasi yang cocok dan memberi penjelasan mengapa suatu informasi diperlukan,
mengumpulkan, mengelompokkan, menyusun, mengurutkan dan membandingkan serta mengolah informasi
secara sistematis,
mencoba metode alternatif,
mengenali pola dan hubungan, dan
menyimpulkan. (Depdiknas, 2006: 3-4)
Slamet Dajono (dalam Sukahar, 1997 : 41) mengemukakan tiga macam pengertian elementer
matematika,
1. Matematika sebagai ilmu pengetahuan tentang bilangan dan ruang.
2. Matematika sebagai studi ilmu pengetahuan tentang klasifikasi dan konstruksi berbagai struktur dan pola yang
dapat diimajinasikan.
3. Matematika sebagai kegiatan yang dilakukan oleh para matematisi.
Dari pendapat di atas nampak perbedaan dari definisi matematika yang dikemukakan. Meskipun
terdapat perbedaan matematika dari definisi yang dikemukakan, ada kesamaan pandangan tentang ciri-ciri
khusus matematika, seperti yang dikemukakan (Soedjadi, 1995),
1. Obyek-obyek matematika adalah abstrak.
2. Simbol-simbol yang kosong dari arti.
3. Kesepakatan dan pemikiran deduktif aksiomatik.
4. Anti kontradiksi.
5. Kesemestaan sebagai pembatas pembahasan.

Untuk mencari kebenaran di dalam matematika digunakan metode deduktif. Walaupun di dalam
matematika ada kalanya digunakan cara induktif, intuitif atau coba-coba sebagai awal mencari kebenaran,
namun generalisasi yang diperoleh tersebut harus dibuktikan secara deduktif. Penemuan cara induktif, intuitif
atau coba-coba tersebut harus diorganisasikan dengan pembuktian secara deduktif. Hal ini disebabkan dalam
matematika suatu generalisasi, sifat dan teorema belum dapat diterima kebenarannya sebelum dibuktikan
secara deduktif. Teorema-teorema yang diperoleh secara deduktif, digunakan untuk menyelesaikan berbagai
masalah dalam matematika juga dalam dunia nyata.
Salah satu ciri atau karakteristik matematika, obyeknya abstrak. Hanya ada dalam pikiran manusia.
Menurut Begle (dalam Soedjadi, 1985 : 10), Obyek matematika terdiri dari fakta, konsep, operasi dan
prinsip.
Bell (dalam Yarman 1997 : 11) membagi obyek matematika atas dua bagian, yaitu obyek langsung
dan obyek tidak langsung. Obyek langsung terdiri dari skill / keterampilan , konsep dan prinsip atau dalil.
Obyek tak langsung meliputi transfer belajar , kemampuan inquiri , kemampuan memecahkan masalah.
Secara umum pendapat Begle dengan Bell sama, perbedaannya menurut Bell bahwa
skill/keterampilan meliputi operasi dan prosedur keterampilan matematika adalah semua operasi dan
prosedur yang diharapkan untuk dimiliki siswa dan matematikawan secara cepat dan tepat. Siswa yang telah
menguasai suatu keterampilan apabila dapat menunjukkan keterampilan tersebut secara tepat dengan
menyelesaikan berbagai jenis masalah yang memerlukan keterampilan atau menerapkan keterampilan dalam
berbagai situasi.
Penyajian struktur matematika selalu dipergunakan simbol untuk menata hubungan antar ide/konsep,
aturan dengan operasi tertentu untuk pembentukan konsep baru. Menurut Soedjadi (1985 : 13), Simbolsimbol di dalam matematika masih kosong dari arti, sehingga dapat diberi arti sesuai lingkup semestanya.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat dikatakan hakikat matematika merupakan
kumpulan ide-ide bersifat abstrak, struktur-struktur dan hubungannya diatur menurut aturan logis.

MATEMATIKA DAN MATEMATIKA SEKOLAH


A.

HAKIKAT

(a)

MATEMATIKA

Pengertian

Matematika

Seperti kara Abrahim Si Lunchins dan Edith N Lungias (1973; Apakah Matematika itu? dapat dijawab
secara berbeda-beda tergantung pada bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawabnya, siapa yang
menjawabnya,

dan

apa

sajakah

yang

dipandang

termasuk

dalam

matematika.

Berbagai pendapat muncul tentang pengertian matematika tersebut, dipandang dari pngetahuan dan
pengalaman masing-masing yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa matematika it bahasa simbol,
matematika adalah bahasa Numerik, Matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur,
majemuk dan emosional, matematika adalah metode berfikir logis, matematika adalah sarana berfikir,
Matematika adalah logika pada masa dewasa, Matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi

pelayananya, Matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, serta banyak pendapat lainnya lagi.
Istilah Matematika mulanya diambil dari perkataan Yunani. Matematika yang berarti Reflating of learning.
Perkataan itu mempunyai arti kata yang berarti pengetahuan atau ilmu. Perkataan Mathematike berhubungan
pula sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu matmematein yang mengandung arti belajar
(berfikir).
Jadi berdasarkan etimologis perkataan Matematika berarti Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan
bernalar (Elea Tinggih, 1972:5) tapi bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi
dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain
lebih menekankan hasil observasi atau ekperimen. Matematika mencangkup bahasa, bahasa khususnya yang
disebut bahasa Matematika. Dengan matematika kita dapat berlatih berfikir secara logis dan dengan
matematika ilmu pengetahuan lainnya bisa berkembang dengan cepat. Seperti yang diucapkan oleh Courant
dan Robbin bahwa untuk dapat mengetahui apa Matematika itu sebenarnya, seseorang harus mempelajari
sendiri ilmu Matematika itu, yaitu dengan mempelahari, mengkaji, dan mengerjakannya. Termasuk juga
pengkajian sejauh timbulnya Matematika dan perkembangannya.
(b)

Matematika

Sebagai

Ilmu

Deduktif

Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif. Ini berarti proses pengerjaan matematis harus bersiat deduktif.
Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (induktif) tetapi harus berdasarkan
pembuktian deduktif. Metode mencari kebenaran yang dipakai oleh matematika adalah metode deduktif
sedangkan

oleh

ilmu

pengetahuan

alam

adalah

metode

induktif

atau

eksperimen.

Generalisasi yang dibenarnya dalam matematika adalah generalisasi yang telah dapat dibuktikan secara
deduktif.
Contoh

1:

Jumlah dua buah bilangan ganjil adalah bilangan genap.


+

-3

-2

-3

-2

5
7

-6

6
8

12

10

12

14

Dari tabel penjumlahan di atas jelas bahwa setiap dua bilangan ganjil jika dijumlahkan hasilnya selalu genap.
Dalam matematika tidak dibenarnya membuat generalisasi atau membuktikan dengan cara demikian.
Misalkan pembuktian dengan deduktifnya sebagai berikut : misalkan m dan n adalah sebarag dua buah
bilangan bulat, maka 2m + 1 dan 2n+1 tentunya masing-masing merupakan bilangan ganjil. Jika dijumlahkan
:
(2m+1)

(2n+1)

(m+n+1)

Karena m dan n bilangan bulat, maka (m+n+1) bilangan bulat, sehingga 2 (m+n+1) adalah genap. Jadi
jumlah

dua

buah

bilangan

ganjil

selalu

genap.

Dari contoh di atas kita tidak boleh sembarangan membuat generalisasi sebelum kita ketahui bahwa sesuatu
itu kebenaranya tidak hanya sekedar dari beberapa contoh, tetapi harus bisa dibuktikan secara deduktif.

Dari uraian-uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa matematika itu merupakan ilmu deduktif yang tidak
menerima generalisasu yang didasarkan kepada observasi (induktif) tetapi generalisasi ang didasarkan pada
pembuktian secara deduktif. Memang para matematisi menemukan (menyusun) matematika atau bagiannya
secara induktif, tetapi begitu suatu pola, aturan, dalil, rumus yang merupakan generalisasi ditemukan, maka
harus dapat dibuktikan kebenarannya secara deduktif.
(c)

Matematika

Sebagai

Ilmu

Terstruktur

Matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasi. Konsep-konsep
matematika tersusun secara tersstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana ke
konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topic atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk
memahami

topik

atau

konsep

selanjutnya.

Kita ambil contoh yaitu dalam geometri. Pada geometri terdapat unsure-unsur seperti titik, garis, lengkung,
dan bidang. Titik dalam matematika diasumsikan ada, tetapitidak dinyatakan dalam suatu hal yang tepat
untuk menjelaskannya. Sebab titik adalah suatu obyek matematika tidak didefiniskan. Suatu titik
digambarkan hanya untuk membantu pemikirna kita saja. Meskipun demikian kita sepakat bahwa titik itu
ada. Lengkung kita peroleh bila mulai dari suatu titik tertentu kita membuat suatu jalan dengan alat tulis
sampai di suatu titik tertentu kita membuat suatu jalan dengan alat tulis sampai di suatu titik lain atau kembali
lagi sampai ke titik asal. Sedangkan bidang adalah sesuatu yang bentuknya datar dan tidak mempunyai batas
pinggirs. Titik lengkungan, dan bidang itu termasuk ke dalam unsure primitif yang eksistensinya diakui ada.
Tanpa

pemikiran

semacam

itu

matematika

tidak

akan

terwujud.

Dari unsure-unsur yang tidak terdefinisi itu selanjutnya dapat dibentuk unsur-unsur matematika yang
terdefinisi. Misalnya : Segitiga adalag lengkungan tertutup sederhana yang merupakan gabungan dari tiga
buah segmen garis. Dari unsur-unsur yang tidak terdefinisi dan unsur-unsur terdefinisi dapat diabut asumsiasumsi yang dikenaldengan aksioma atau postulat. Misalnya : melalui sebuah titik sebarang hanya dapat
dibuat sebuah garus ke suatu titik lain. Tahap selanjutnya, dari unsure-unsur yang tidak terdefinisi, unsureunsur yang terdefinisi, atau aksioma/postulat dapat disusun teorema-teorema yang kebenarannya harus
dibuktikan secara deduktif dan secara umum. Misalnya: Jumlah ketiga sudut dalam sebuag segitiga besarnya
180 derajat. Dari teorema yang sudah terbentuk dapat dirumuskan lagi teorema baru sebagai pengembangan
atau

perluasannya.

Itulah salah satu contoh yang memperlihatkan bahwa matematika jelas merupakan ilmu pengetahuan
mengenai struktur yang terorganisasi dengan baik, dan memang bahwa semua struktur dalam matematika
diorganisasikan dengan sistematis dalam rangkaian urutan yang logis.
(d)

Matematika

Sebagai

Ratu

Dan

Pelayan

Ilmu

Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudnya bahwa Matematika adalah sebagai sumber dari ilmu
yang lain. Dengan kata lain, bnyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya tergantung dari
matematika. Sebagai contoh, bentuk teori-teori dan cabang-cabang dari ilmu lain yang ditemukan dan
dikembangkan melalui konsep Kalkulus, khususnya tentang persamaan deferensial; Teori Ekonomi mengenai
Permintaan dan Penawaran yang dikembangkan melalui konsep Fungsi dan Kalkulus tentang diferensial dan
integral.

Matematika itu sebagai suatu ilmu berfungsi pula untuk melayani ilmu pengetahuan dengan kata lain.
Matematika tumuh dan berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu, juga untuk melayani kebutuhan
ilmu pengetahuan dalam pengembangan dan oprasionalnya. Cabang Matematika yang memenuhi fungsinya
sebagai ilmu pengetahuan dalam pengembangan dan operasional dinamakan dengan Matematika Terapan
(Applied Mathematic).
B.

MATEMATIKA

(a)

Peran

SEKOLAH
Matematika

Sekolah

Pada matematika sekolah sifat materinya masih elementer tetapi merupakan konsel esensial sebagai dasar
untuk prasyarat konsep yang lebih tinggi, banyak aplikasi dalam kehidupan di masyarakat, dan pada
umumnya dalam mempelajari konsep-konsep tersebut bisa dipahami melalui pendekatan induktif. Konsep
yang dipelajari bisa didekati dengan menggunakan pengalaman siswa atau benda-benda konkret yang ada
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan matematika Perguruan Tinggi adalah matematika yang mempelajari
konsep-konsep lanjutan (advanced) dari konsep-konsep matematika sekolah. Bisa merupakan Matematika
Terapan bisa pula Matematika Murni (pure mathematic) sebagai suatu disiplin ilmu.
Adapun
1.

peran

Matematika

Sekolah

yaitu

Untuk mempersiapkan anak ddik agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan keadaan di dalam

kehidupan dunia yang senantiasa berubah, mealui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis dan rasional,
kritis
2.

dan

cermat,

objektif,

kreati,

efektif

dan

diperhitungkan

secara

analisis

sintesis.

Untuk mempersipkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan

sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan


Tujuan
1.

Matematika

sekolah

yaitu

Siswa memahami pengertian-pengertian matematika, memiliki keterampilan untuk menerapkan

pengertin tersebut baik dalam matematika sendiri mata pelajaran lainny, maupun dalam kehidupan sehari-hari
menyadari dan menghargai pentingnya matematika dan meresapi konsep, struktur dan pola dalam matmatika.
2.

Siswa memiliki pemahaman tentang hubungan antara bagian-bagian matematika, memiliki kemampuan

menganalisa dan menarik kesimpulan, serta memiliki sikap dan kebiasaan berfikir logis, kritis dan sistematis,
bekerja

cermat,

Adapun

fungsi

1.
2.

Sebagai

dan

pengajaran

dalam

melakukan

bertanggung
matematika

perhitungan-perhitungan

dan

jawab.
yaitu

pertimbangan

pemikiran

Sebagai pola berfikir. System dan struktur merupakan abstraksi/idealisasi/generalisasi dari system

kehidupan
3.

alat

tekun,

dan

system

alamiah.

Pola

piker

matematis

lebih

jelas,

objektif

dan

efektif.

Sebagai ilmu pengetahuan untuk dikembangkan lebib lanjut.

(b)

Faktor

Faktor

Yang

Mempengaruhi

Matematika

Sekolah

Ada beberapa masalah pokok yang sebenarnya masih perlu mendapatkan perhatian dari kita sebagai guru
matematika di sekolah menengah. Ini merupakan masalah yang sudah kita kenal dan bukan menjadi rahasia
umum

lagi.

Maka dari itu, untuk menyelesaikan problematic pengajaran matematika di sekolah dan sekaligus untuk
menambah wawasan kita sebagai guru matematika, kita akan ungkapkan kembali masalah tersebut.

1.

Kualitas

Masukan

Sekolah

Menengah

Kita menyadari bahwa kualitas atau kemampua siswa di sekolah menengah umumnya menurun dibandingkan
tahun-tahun lalu. Apakah yang menyebabkan hal tersebut? Apakah kita harus menyalahkan kualitas
pendidikan saat ini ? Tentunya tidak semudah itu kita boleh mengambil kesimpulan. Karena menurunnya
kualitas siswa tidak disebabkan oleh satu faktor saja, namun berbagai macam faktor juga dapat
mempengaruhi

hal

tersebut.

Kebutuhan sekolah pada masa lampui dan masa sekarang sangat jauh berbeda dulu, kesempatan danb
kesadaran untuk sekolah sangat rendah karena hanya diperuntukkan bagi lapisan masyarakat tertentu. Tapi
sekarang, pendidikan sudah menjadi kebutuhan pokok atau mengejar pendidikan setinggi-tingginya walaupun
biayannya relative mahal. Demikianlah salah satu sebab utama kualitas anak-anak sekolah menengah pada
umumnya menurut. Akibat dari banyaknya anak-anak yang kurang mampu mengikuti kegiatan, guru-guru
tidak dapat lagi mempertahankan mutunya seperti sedia kala. Dalam setiap tahun terpaksa sebagian besar
anak-anak harus naik kelas dan harus lulus walaupun dengan kemampuan yang pas-pasan, karena kondisinya
memang demikian.
2.

Minat

Siswa

Terhadap

Matematika

Bagi sebagain orang, matematika mmang berguna dalam membantu kegiatan berbagai bidang. Namun tidak
sedikit pula orang yang menganggap matematika adalah pelajaran yang tidak menarik, bahkan ada yang
sangat membenci agar anak-anak berbalik menyenagi matematika ? dengan memahami modul-modul strategi
belajar mengajar matematika ini, kita akan mencoba dan mencarikan jalan keluarnya.
3.

Kesiapan

Belajar

Kenyataan telah menunjukkan bahwa intelektual seorang anak berkembng secara kualitatif. Proses belajar
mengajar akan efektif bila kemampuan berpikir anak diperhatika. Proses belajar mengajar dikatakan sukses
apabila terjadi transfer belajar, yaitu materi pelaharan yang disajikan oleh guru dapat diserap ke dalam
struktur kognitif siswa. Siswa dapat menguasai materi tersebut tidak hanya terbatas pada tahap ingatan tanga
pengertian (meaningful learning). Contoh : seorang siswa taman kanak-kanak tidak mungkin dapat menyerap
konsep-konsep matematika secara formal meskipun ia setiap hari diajar oleh seorang ahli pendidikan
matematika. Hal itu terjadi karena kematngan fisik dan psikis serta pengalaman belajar sebelumnya belum
memadai. Tujuan pengajaran matematika akan dapat dicapai dengan baik melalui belajar bermakna.
Bagaimana seadainya guru terus saja memaksakan suatu bahan pelajaran untuk dipelajari siswa karena
pentingnya bahan tersebut, padahal siswa sulit sekali untuk dapat mencerna bahan tersebut?. Ada pendapat
dua orang ahli siswa sulit sekali untuk dapat mencerna bahan tersebut? Ada pendapat dua orang ahli yang
mengatakan

sebagai

berikut

Apabila siswa secara premature pada suatu materi pelajaran tertentu sedangkan ia belum siap untuk

memahaminya, maka ia tidak saja akan gagal dalam belajar juga belajar untuk menakuti, membenci dan
menghindari

pelajaran

tersebut.

Bila siswa dipaksa untuk mencoba mempelajari suatu kemampuan tertentu sebelum ia cukup matang,

maka ia bisa mengalami frustasi dan mungkin pula mengembangkan sikap negatif terhadap kemampuannya

(c)

Strategi

Penyajian

Matematika

Sekolah

Hubungan antara guru dengan siswa pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua pihak yang setara,
yaitu hubungan antara manusia yang tengah mendewasakan diri. Guru dan siswa keduanya merupakan subjek
karena masing-masing memiliki kesadaran dan kebebasan. Dengan menyadari ola hubungan tersebut akan
memungkinkan

keterlibatan

belajar.pengertian

inilah

mental
yang

siswa

yang

dinamakan

optimal
CBSA

di

dalam

atau

merealisasikan

Cara

Belajar

pengalaman

Siswa

Aktif.

Guru hendaknya tidak menyajikan materi pelajaran dalam bentuk jadi. Siswa tidak belajar matematika
dengan hanya menerima dan menghafalkannya saja, tetapi harus belajar secara bermakna. Hal ini bisa
dilakukan dengan melalui metode penemuan, pemecahan masalah, Tanya jawab, dan semacamnya. Dengan
belajar bermakna dapat terjabarkan mlalui penyajian bahan pelajaran yang mengutamakan pada pemahaman
konsep-konsep matematika beserta manipulasinya dalam aplikasinya. Dengan belajar matematika akan
menghindarkan siswa bertindak seperti mein, berbuat sesuatu tanpa mengerti mengapa ia melakukannya.
(d)

Mengapa

Belajar

Bermakna?

Pengajaran secara bermakna (meaningful learning) dimaksudkan sebagai cara mengajarkan materi pelajaran
yang mengutamakan pengertian daripada hafalan. Bukan belajar menerima (reception learning) maupun
belajar hafalan (rote learning). Belajar bermakna lebih mengutamakan proses dari pada produk.
Skemp menyatakan bahwa konsep- konsep matematika tidak dapat diajarkan melalui refinisi, tetapi
hendaknya melalui contoh- contoh ynag relevan. Contoh- contoh tersebut haruslah melibatkan konsepkonsep tertentu yang harus dijamin bahwa konsep- konsep tersebut sudah terbentuk dalam pikiran siswa yang
belajar (Skemp RR, 1975 : 32). Contoh contoh yang diberikan hendaknya memilki cirri- ciri yang sama
dalam pembentukan komsep, yaitu belajar bermakna, memiliki keuntungan yang besar dari pada hanya
belajar dengan hafalan. Belajar yang menekankan pada proses ini menurut istilah Skemp diebut belajar
skematis.
Belajar sistematis tidak hanya lebih efesien dan lebih tertanam, tetapi juga merupakan suatu alat yang dapat
digunakan

dalam

belajar

di

bidang

yang

sama

dengan

pendekatan

yang

sama

pula.

Dalam belajar bermakna siswa mempelajari matematika mulai dari proses terbentuknya suatu konsep
kemudian berlatih menerapkan dan memanipulasi konsep- konsep tersebut pada situasi baru.
(e)

Pendekatan/Metode

Pengajaran

Matematika

Pengajaran secara bermakna dimaksudkan agar efektivitas kegiatan belajar- mengajar tercapai, karena dengan
pengajaran

bermakna

dapat

dijamin

terjadinya

transfer

belajar

melalui

pemahaman.

Syarat agar siswa berhasil dalam belajar bermakna, guru harus memperhatikan hal- hal berikut ini :
1.

Siswa harus memiliki kemampuan untuk mencerna konsep/ bahan pengajaran yang dipelajari.

2.
3.

Siswa

harus

memiliki

motivasi

belajar

Adanya bimbingan dari guru agar tidak cepat putus asa dalam proses penemuan suatu konsep dan

manipulasi

konsep

tersebut

sebagai

aplikasinya.

Apabila persyaratan tersebut telah terpenuhi, guru sebaiknya melakukan tindakan berikut ini dalam
pelaksanaan
1.

pengajaran

secara

bermakna

Konsep diajarkan melalui penemuan, tidak melalui pemberitahuan. Pengajaran dimulai dengan contoh-

contoh
2.

yang

menuju

pada

suatu

proses,

secara

induktif

(Dienes,

1965).

Mengajarkan konsep hendaknya terkait dengan bagian- bagian lain yang relevan, tidak berdiri sendiri.

Belajar secara skematis lebih baik daripada belajar bagian demi bagian secara terpisah (Skemp RR, 1975).
3.

Mengajarkan suatu konsep harus dikaitkan dengan konsep lain yang mendasarinya yang tingkatnya

lebih
4.

rendah,

belajar

konsep

menurut

hierarkinya

(De

Decco

&

Crawford).

Mengajarkan suatu konsep diusahakan melalui berbagai media dan berbagai cara mengajar agar lebih

dapat

dipahami

(Ruseffiendi,

1980).

Dalam rangka mewujudkan Cara Belajar Siswa Aktif guru harus berusaha mencari metode mengajar yang
dapat menyebabkan siswa aktif belajar. Karena dalam CBSA siswa dituntut untuk kreatif mencari sendiri,
menemukan sendiri, merumuskan sendiri atau menyimpulkan sendiri. Trelihat bahwa pemahaman terhadap
proses

terbentuknya

suatu

konsep

lebih

dipentingkan.

Dari segi materi pelajaran, guru bisa memilih materi yang akan disajikan apabila secara akademis
kemampuan siswa telah siap untuk menerimanya, siswa telah memiliki pengetahuan siap sebagai prasyarat.
Kondisi lngkungan tempat berlangsungnya kegiatan belajar- mengajar perlu pula mendapat perhatian dari
seorang guru. Di antaranya ruang serta perlengkapannya, alat pelajaran/ peraga, buku sumber, waktu belajar,
masyarakat

di

lingkungan

sekolah

kehidupan

siswa.

Mengajar siswa SMP perlu dibedakan dengan mengajar siswa SMA, Anak SMP masih senang bermain dan
hal itu menjadi sifat mereka (Dienes, 1965), karena itu pengajaran matematika akan lebih berhasil apabila
menggunakan metode permainan daripada diberi ceramah atau diskusi. Siswa SMP lebih banyak memerlukan
kehadiran benda- benda/ peraga konkret di dalam menyerap konsep- konsep matematika daripada siswa
SMA.
Agar konsep tertanam dengan baik sehingga siswa benar- benar memahaminya dalam pengajaran konsep
guru
1.

supaya

Memberi contoh dengan berbagai ragam. Ini dimaksudkan agar siswa tidak memperoleh generalisai yang

keliru.
2.

Memberi contoh sebanyak mungkin. Ini dimaksudkan agar siswa memiliki wawasan yang luas tentang

konsep
3.

tersebut,

tidak

hanya

terpaku

pada

satu

contoh

saja.

Memberikan beberapa contoh yang sifatnya berlawanan dengan pengertian konsep yang sedang

diberikan. Misalnya dalam menanamkan konsep pemetaan, guru menggambarkan beberapa buah diagram
panah

yang

menunjukkan

pemerataan

dan

beberapa

buah

yang

bukan

pemerataan.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa penyajian suatu konsep matematika sebaiknya tidak langsung
diberitahukan dalam bentuk jadi, tetapi supaya ditemukan sendiri oleh siswa melalui pengamatan
karakteristiknya, dari contoh- contoh dan contoh- contoh penyangkal. Siswa diusahakan terlibat aktif dalam
menemukan

konsep.

Keterlibatan siswa seperti itu dapat terjadi bila bahan yang dipelajari siswa disusun secara bermakna, sehngga
terjadi interaksi efektif antara guru, siswa dan lingkungan belajar.
http://sartika-pgmi.blogspot.co.id/2012/09/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html