Anda di halaman 1dari 11

IV PPh pasal 25 dan Sistem Pembayaran Pajak Penghasilan

1. Pendahuluan
Sistem yang dianut dalam pemungutan Pajak Penghasilan adalah sistem Self Assesment.
Pengertian self assesment ini dimaksudkan bahwa dalam pemenuhan kewajiban
perpajakannya, wajib pajak diwajibkan menghitung sendiri jumlah pajak yang terutang,
meyetor sendiri dan kemudian melapor sendiri ke instansi terkait yakni Kantor Pelayanan
Pajak.
Kewajiban menghitung sendiri ini tercermin pada kewajiban mengisi Surat
Pemberitahuan Pajak Penghasilan Tahunan (SPT PPh) Tahunan. Pada tiap tahun wajib
pajak diwajibkan menghitung sendiri kewajiban pajaknya secara definitif melalui sarana
pengisian SPT PPh Tahunan. Pengisian SPT PPh Tahunan didasarkan pada pembukuan
yang diselenggarakan oleh wajib pajak. Oleh sebab itu Undang Undang mewajibkan
wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan sebagaimana diatur dalam Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Apabila pembukuan wajib pajak dibuat dengan benar dan SPT didasarkan pada
pembukuan tersebut maka kewajiban wajib pajak dalam menghitung sendiri pajaknya
telah benar.
Setelah diketahui jumlah pajak yang terutang berdasarkan isian SPT tersebut, kewajiban
selanjutnya adalah menyetor jumlah pajak yang terutang ke Kas Negara, bank-bank
persepsi yang ditunjuk atau ke Kantor Pos dan Giro.
Setelah menyetor pajaknya ke Kas Negara, wajib pajak masih mempunyai kewajiban
selanjutnya, yakni melaporkan penyetoran tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak.
Berdasarkan uraian tersebut tentunya kewajiban pemenuhan pajak oleh wajib pajak,
baru dapat dilaksanakan pada akhir tahun, dimana sudah diketahui secara pasti jumlah
penghasilan yang menjadi dasar untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar.
Jika self assesment murni seperti itu yang dilaksanakan tentunya uang pajak akan
terlambat masuk ke kas negara. Untuk itu dalam sistem self assesment dalam
pemungutan PPh yang berlaku, dilengkapi dengan keharusan menyetor pajak secara
bulanan yang selanjutnya disebut PPh pasal 25. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa
pembentukan laba/keuntungan sudah terjadi setiap saat, maka wajar bahwa pada setiap
masa tertentu wajib pajak diharuskan menyetor sebagian dari utang pajaknya.
2. Pajak Penghasilan pasal 25 Fungsi dan Cara Menghitungnya
Sebagaimana disebutkan diatas dengan adanya anggapan bahwa keuntungan sudah
dibentuk selama tahun berjalan, maka pada setiap bulan wajib pajak diwajibkan
menyetor pajak, yang disebut PPh pasal 25. Penyetoran ini bersifat sebagai angsuran
dimuka PPh yang nantinya akan diperhitungkan dalam perhitungan akhir sesuai dengan
isian SPT PPh Tahunan.
Timbul pertanyaan selanjutnya, berapakah besarnya angsuran bulanan yang harus
dilakukan oleh wajib pajak ?. Undang Undang memberikan jawaban bahwa besarnya
angsuran (PPh pasal 25) yang harus dibayar adalah sebesar 1/12 dari jumlah PPh tahun
sebelumnya.
Contoh 1:
PPh tahun 2010 berdasarkan perhitungan wajib pajak sebesar
Rp120.000.000,00. Besarnya PPh pasal 25 tahun 2011 =
1/12 x
Rp120.000.000,00 = Rp10.000.000,00.
Dapat dikatakan bahwa terdapat asumsi bahwa perusahaan dalam tahun
2011 memper-oleh laba sama dengan tahun sebelumnya, maka besarnya PPh
pasal 25 dalam satu bulan adalah cukup sebesar 1/12 dari pajak tahun 2010.
Apabila nantinya tahun pajak 2008 telah berakhir, pembukuan telah ditutup
dan SPT PPh Tahunan telah diisi, maka dalam perhitungan PPh yang harus
dibayar, dikreditkan dengan PPh pasal 25 yang telah disetor secara rutin tiap
bulan.
Contoh 2 : Jumlah PPh terutang tahun 2010 Rp180.000.000,00
PPh pasal 25 yang telah disetor =

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

28

12 x Rp10.000.000,00
Rp120.000.000,00
PPh yang masih harus dibayar Rp 60.000.000,00
PPh yang masih harus dibayar ini disebut sebagai PPh pasal 29.

3.

Kaitan PPh pasal 25 dengan Pungutan dan Potongan Pajak dalam Tahun
Berjalan
Pada sebagian wajib pajak selama tahun berjalan ada kemungkinan telah dipungut atau
dipotong pajak penghasilan oleh pihak ketiga karena adanya transaksi atau hubungan
kerja atau sebab lain dengan pihak tersebut. Pungutan atau potongan tersebut adalah :
PPh pasal 21, PPh pasal 22 dan PPh pasal 23. Bila terdapat pungutan atau pemotongan
tersebut maka kewajiban pajaknya sebagian telah terpenuhi, sehingga kewajiban
penyetoran sendiri menjadi berkurang sebesar potongan atau pungutan tersebut.
Contoh 3: PPh tahun 2010 berdasarkan perhitungan wajib pajak sebesar Rp120.000.000.
Wajib Pajak adalah orang pribadi yang disamping mempunyai bidang usaha
dagang, juga merangkap sebagai karyawan sambilan suatu perusahaan. Atas
gaji yang diterima telah dipotong PPh pasal 21 sebesar Rp12.000.000
setahun. PPh pasal 25 tahun 2011 untuk kasus ini adalah = 1/12 x
(Rp120.000.000 Rp12.000.000) = Rp9.000.000.
Contoh 4 : CV Abadi tahun 2010 menghitung PPh-nya sebesar Rp120.000.000 Dalam
tahun 2010 wajib pajak telah dipungut PPh pasal 22 atas transaksi penjulan
alat tulis ke instansi pemerintah sebesar Rp30.000.000 sehingga PPh yang
disetor sendiri sebesar = Rp120.000.000 Rp30.000.000 = Rp90.000.000.
Besarnya PPh pasal 25 CV Abadi tahun 2011 = 1/12 x (Rp120.000.000
Rp30.000.000) = Rp7.500.000.
Pada akhir tahun buku 2010 apabila diketahui pajak terutang sebesar
Rp150.000.000,00 dan terdapat potongan PPh pasal 22 sebesar
Rp40.000.000,00 maka terdapat perhi-tungan pengkreditan pajaknya sbb:
PPh terutang tahun 2010 ....Rp150.000.000
Kredit Pajak.
PPh pasal 25=12 x Rp7.500.0000= Rp90.000.000
PPh pasal 22 pada tahun 2010 Rp40.000.000
Jumlah kredit pajak . Rp130.000.000
PPh kurang bayar 2010 (PPh pasal 29) Rp 20.000.000
Contoh 5: PT Budi tahun 2010 menghitung PPh-nya sebesar Rp246.000.000 Dalam
tahun 2010 wajib pajak telah memperoleh penghasilan dari dividen sebesar
Rp200.000.000 dan telah dipotong PPh pasal 23 sebesar = 15% x
Rp200.000.000 = Rp30.000.000.
Besarnya PPh pasal 25 tahun 2011 PT Budi =
1/12 x (Rp246.000.000,00 Rp30.000.000,00)= Rp18.000.000,00.
Pada akhir tahun buku 2010 apabila diketahui PPh terutangnya sebesar
Rp300.000.000 dan terdapat potongan PPh pasal 23 sebesar Rp40.000.000,00
maka akan terdapat perhitungan pengkreditan pajaknya sbb :
PPh terutang tahun 2010 ....Rp300.000.000
Kredit Pajak.
PPh pasal 25=12 x Rp18.000.0000= Rp216.000.000
PPh pasal 23 Rp 40.000.000
Jumlah kredit pajak . Rp256.000.000
PPh kurang bayar tahun 2010(PPh pasal 29) .. Rp 44.000.000
Dengan demikian pemotongan atau pemungutan PPh pasal 21, PPh pasal 22 dan PPh
pasal 23 adalah melengkapi sistem self assesment dalam sistem pemungutan Pajak
Penghasilan, atau sistem self assesment dalam PPh dilengkapi dengan Withholding
system.

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

29

4. Cara Menghitung PPh pasal 25 untuk Bidang Usaha tertentu


a. Bidang Usaha Perbankan dan Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Besarnya PPh pasal 25 untuk bidang usaha perbankan dan sewa guna usaha dengan
hak opsi adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum pasal
17 atas laba fiskal menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan
dikurangi dengan PPh pasal 24 (apabila ada) yang dibayar atau terutang diluar
negeri, dibagi dua belas.
Contoh 6 : PT ABC bidang usaha perbankan. Laporan triwulan I tahun 2011
menunjukkan laba fiskal sebesar Rp100.000.000,00.
Perhitungan PPh pasal 25 bulan April, Mei dan Juni 2011 adalah sebagai
berikut :
Laba Fiskal Triwulan I tahun 2011 Rp100.000.000,00
Laba Fiskal tahun 2011 diperkirakan .. Rp400.000.000,00
Penerapan tarif PPh pasal 17
25% x Rp400.000.000 = Rp100.000.000.
PPh pasal 25 bulan April, Mei dan Juni 2006 = 1/12 x Rp100.0 00.000 =
Rp8.333.333.
b. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Besarnya PPh pasal 25 untuk BUMN dan BUMD adalah sebesar PPh yang dihitung
berdasarkan tarif umum atas laba fiskal menurut Rencana Kerja dan Anggaran
Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah disyahkan dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dikurangi dengan PPh pasal 22, PPh pasal 23
serta PPh pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri tahun sebelumnya,
dibagi 12.
Contoh 7 : PT Sakti adalah BUMN bidang usaha obat-obatan. Untuk tahun 2011 telah
disusun RKAP, dan RKAP tersebut telah disyahkan dalam RUPS dengan
Laba Fiskal tahun 2011 diperkirakan sebesar Rp600.000.000.
PPh terutang thun 2011 diperhitungkan = 25% x Rp600.000.000 =
Rp150.000.000
PPh pasal 25 tahun 2011 adalah sebesar = 1/12 x Rp150.000.000,00 =
Rp12.500.000.
5. Cara Menghitung PPh pasal 25 untuk Kasus Tertentu
a. Wajib Pajak Baru
Sebagai diuraikan pada butir 2 diatas, bahwa penentuan besarnya PPh pasal 25
didasarkan pajak tahun sebelumnya dibagi dua belas. Dalam hal wajib pajak baru
tentunya cara demikian tidak dapat dilakukan. Dalam menentukan PPh pasal 25
wajib pajak baru caranya adalah sebagai berikut :
1)
Besarnya PPh pasal 25 adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan
penerapan tarif umum atas penghasilan neto satu bulan setelah disetahunkan,
kemudian dibagi 12.
2)
Dalam wajib pajak menyelenggarakan pembukuan, penghasilan neto fiskal
didasarkan pada pembukuan;
3)
Dalam hal wajib pajak menggunakan Norma Penghitungan, Penghasilan Neto
Fiskal dihi-tung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atas
peredaran bruto;
4)
Dalam hal wajib pajak orang pribadi, Penghasilan Neto Fiskal tersebut
disetahunkan terlebih dahulu, kemudian dikurangi dengan PTKP, baru dihitung
pajaknya, selanjutnya dibagi 12.
b. Wajib Pajak yang Diperiksa dan Diterbitkan Surat Ketetapan Pajak
Dalam hal terhadap wajib pajak diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak
yang sebelumnya, maka besarnya PPh pasal 25 dihitung kembali berdasarkan surat

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

30

ketetapan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan
penerbitan surat ketetapan.
Ada kemungkinan dalam suatu tahun pajak, wajib pajak diperiksa oleh fiskus (aparat
pajak). Dari hasil pemeriksaan tersebut dapat diterbitkan surat ketetapan pajak yang
jumlahnya mungkin lebih besar dari jumlah yang dilaporkan dalam SPT PPh Tahunan
wajib pajak. Dalam hal demikian PPh pasal 25 disesuaikan dengan hasil pemeriksaan
fiskus yang hasilnya tertuang dalam surat ketetapan pajak.
Contoh 8: PPh pasal 25 tahun 2011 setiap bulan dihitung oleh wajib pajak sebesar
Rp10.000.000. Jumlah tersebut didasarkan pada isian SPT PPh tahun 2010.
Dalam tahun 2011 terhadap wajib pajak telah diperiksa oleh fiskus dimana
berdasarkan hasil peme-riksaan tersebut PPh tahun 2010 ditetapkan
sebesar Rp180.000.000. Surat Ketetapan Pajak diterbitkan bulan Juni 2011.
PPh pasal 25 bulan Juli dan seterusnya harus disesuaikan menjadi sebesar
1/12 x Rp180.000.000 = Rp15.000.000.
c. Wajib Pajak yang Mempunyai Hak Kompensasi Kerugian
Dalam hal wajib pajak masih mempunyai hak untuk melakukan kompensasi kerugian,
besarnya PPh pasal 25 ditentukan berdasarkan Penghasilan Neto menurut SPT PPh
tahun sebelumnya setelah dikurangi dengan sisa kompensasi kerugian.
Contoh 9 : Penghasilan PT ABC tahun 2010 sebesar .Rp120.000.000
Sisa Kerugian tahun sebelumnya yang
belum dikompensasikan Rp150.000.000
Sisa kerugian yang belum habis dikompensasikan sampai dengan tahun 2011 Rp 30.000.000
Penghasilan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung PPh pasal 25
tahun 2011 = Rp120.000.000 Rp30.000.000 = Rp90.000.000.
PPh terutang = 25% x Rp90.000.000 = Rp22.500.000
PPh pasal 25 tahun 2011 = 1/12 x Rp22.500.000 = Rp1.875.000.
d. Wajib Pajak yang dalam Tahun Berjalan Mengalami Penurunan Kegiatan
Dalam hal wajib pajak mengalami penurunan kegiatan usaha sehingga diperkirakan
PPh pasal 25-nya akan terlalu besar apabila didasarkan perhitungan sebagaimana
biasanya yakni 1/12 dari pajak terutang tahun sebelumnya, maka wajib pajak dapat
mengajukan perhohonan pengurang an besarnya PPh pasal 25. Untuk hal tersebut
harus dipenuhi syaratnya yakni wajib pajak harus dapat menunjukkan bahwa PPh
yang akan terutang untuk tahun berjalan kurang dari 75% dari pajak terutang tahun
sebelumnya yang menjadi dasar penentuan PPh pasal 25 tahun berjalan.
Permohonan tersebut diajukan setelah tiga bulan atau lebih dalam suatu tahun telah
dijalani dan harus disertai perhitungan perkiraan PPh pasal 25 yang seharusnya
dibayar untuk tahun tersebut.
Contoh 10 : Wajib pajak telah mengisi SPT PPh tahun 2010 dengan PPh sebesar
Rp120.000.000,00. Berdasarkan data tersebut maka PPh pasal 25
tahun 2011 adalah sebesar Rp10.000.000 sebulan. Dalam tahun 2010
toko wajib pajak sebanyak dua buah. Dalam tahun 2011 satu tokonya
ditutup. Berdasarkan data tersebut wajib pajak memperkirakan
penghasilan tahun 2011 lebih kecil dari tahun sebelumnya, dan PPh
tahun 2011 diperkirakan hanya sebesar Rp60.000.000. Dalam hal
demikian wajib pajak dapat mengajukan permohonan untuk
mengurangi besarnya PPh pasal 25 tahun 2011 menjadi sebesar =
1/12 x Rp60.000.000 = Rp5.000.000 per bulan.
e. Wajib Pajak yang Sebagian Penghasilannya Tidak Diterima secara Teratur
Dalam hal wajib pajak menerima penghasilan yang teratur dan tidak teratur, PPh
pasal 25-nya hanya didasarkan pada penghasilan yang teratur saja.
Contoh 11: PT ABC dalam tahun 2010 memperoleh penghasilan neto dari usaha
pokok dibidang perdagangan sebesar Rp200.000.000. Dalam tahun 2010
___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

31

diperoleh penghasilan lain karena telah menjual sebagian asetnya


dengan hasil bersih Rp100.000.000. Jumlah prnghasilan neto
Rp300.000.000 = (Rp200.000.000 + Rp100.000.000).
Dalam hal demikian PPh pasal 25 untuk tahun 2011 hanya dihitung
berdasarkan pajak atas penghasilan teraturnya saja, yakni atas
penghasilan sebesar Rp200.000.000.
PPh pasal 25 tahun 2011 = 1/12 x (25% x Rp200.000.000) =
Rp4.166.667.
f.

6.

Wajib Pajak Memasukkan SPT Tahunan Lewat Batas Waktu yang Ditentukan
Dalam hal wajib pajak memasukkan SPT PPh Tahunan melewati batas waktu yang
ditentukan, maka PPh pasal 25 sebelum SPT tersebut dimasukkan adalah sama
dengan PPh pasal 25 bulan terakhir tahun pajak sebelumnya dan bersifat sementara.
Setelah wajib pajak memasukkan SPT, besarnya PPh pasal 25 dihitung kembali
berdasarkan SPT tersebut. Apabila bersarnya PPh pasal 25 berdasarkan SPT lebih
besar dari PPh pasal 25 sebelumnya, maka atas kekurangannya harus dilunasi dan
terutang bunga atas keterlambatan sebesar 2% setiab bulan. Apabila bersarnya PPh
pasal 25 berdasarkan SPT lebih kecil dari PPh pasal 25 sebelumnya, maka
kelebihannya dapat dipindah bukukan kedalam PPh pasal 25 bulan-bulan berikutnya.

PPh pasal 25 (Angsuran Bulanan) Berupa Pembayaran Fiskal Luar Negeri


Orang pribadi yang bepergian ke luar negeri, diwajibkan membayar Pajak Penghasilan
yang selan-jutnya disebut Fiskal Luar Negeri. Besarnya pembayaran Fiskal Luar Negeri
tersebut ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, dan terakhir ditetapkan sebesar:

Rp1.000.000,00 untuk setiap orang setiap kali bertolak ke luar negeri dengan
menggunakan pesawat udara;

Rp500.000,00 untuk setiap orang setiap kali bertolak ke luar negeri dengan
meng-gunakan kapal laut.
(PP nomor 42 tahun 2000)
Pembayaran fiskal luar negeri tersebut berfungsi sebagai:
o
Pembayaran PPh pasal 25 yang dapat dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang dalam SPT Tahunan, bagi wajib pajak orang pribadi dalam
negeri;
o
Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan oleh wajib pajak pemberi kerja
(misalnya WP Badan), apabila PPh tersebut ditanggung oleh pemberi kerja.
Pengkreditan dilakukan pada akhir tahun dalam SPT PPh Tahunan.
Ketentuan tentang fiskal luar negeri sebagaimana diuraikan dimuka berlaku sampai
dengan tahun 2008. Untuk tahun 2009 kewajiban penyetoran fiskal luar negeri hanya
berlaku bagi wajib pajak orang pribadi yang telah berumur 21 tahun keatas yang tidak
memiliki NPWP. Untuk tahun 2010 kewajiban penyetoran fiskal luar negeri sudah tidak
diberlakukan lagi.

7. Pajak Penghasilan Pasal 29


Pengertian
Setelah proses perhitungan Rugi Laba Fiskal selesai, maka tahap berikutnya adalah
menghitung jumlah Pajak Penghasilan definif yang terutang untuk tahun pajak yang
bersangkutan. Selama tahun pajak berlangsung wajib pajak telah menyetor angsuran Pajak
Penghasilan (PPh pasal 25), dan kemungkinan telah dipungut PPh pasal 22 atas transaksi
dengan instansi Pemerintah, telah dipungut PPh pasal 23 atas pembagian dividen yang
diterima dan untuk wajib pajak perorangan kemungkinan telah dipotong PPh pasal 21.
Apabila angsuran pajak selama tahun berjalan dan potongan atau pungutamn pajak
tersebut dijumlahkan, kemudian dibandingkan dengan jumlah pajak terutang berdasarkan
perhitungan akhir tahun akan didapati beberapa kemingkan.

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

32

a.

Jumlah pajak terutang berdasarkan perhitungan akhir lebih besar dari jumlah semua
angsuran dan potongan/pungutan pajak selama tahun pajak berjalan. Dalam hal
demikian akan terjadi kekurangan penyetoran pajak. Kekurangan atas penyetoran pajak
tersebut dinamakan PPh pasal 29. PPh pasal 29 ini harus disetor paling lambat akhir
bulan bulan ketiga setelah penutupan tahun pajak untuk wajib pajak orang pribadi dan
akhir bulan ke empat untuk wajib pajak badan. Apabila tahun pajak berakhir bulan
Desember, maka PPh pasal 29 harus disetor paling lambat tanggal 31 Maret tahun
berikutnya untuk wajib pajak orang pribadi dan akhir bulan April tahun berikutnya untuk
wajib pajak badan.
b.
Jumlah pajak terutang berdasarkan perhitungan akhir lebih kecil dari jumlah semua
angsuran dan potongan/pungutan pajak selama tahun pajak berjalan. Dalam hal
demikian telah terjadi kelebihan penyetoran/pemungutan pajak selama tahun pajak
berjalan. Kelebihan angsuran pajak tersebut dapat :

Dimintakan restitusi. Dalam hal demikian maka fiskus harus menetapkan


jumlah pajak terutang, dan apabila berdasarkan perhitungan fiskus memang telah
terdapat kelebihan penyetoran dan pemungutan maka akan diterbitkan Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), dan berdasarkan SKPLB tersebut akan
diterbitkan restitusi.

Dimintakan untuk dikompensasikan/diperhitungkan dengan utang pajak-pajak


yang lain, misalnya diperhitungkan dengan PPh pasal 25 tahun pajak berikutnya.
Dalam hal demikianpun fiskus harus menetapkan jumlah pajak terutang sehingga
dapat diperoleh kepastian jumlah pajak yang dapat diperhitungkan dengan utangutang pajak yang lain.
c.

Jumlah pajak terutang berdasarkan perhitungan akhir sama dengan jumlah semua
angsuran dan potongan/pungutan pajak selama tahun pajak berjalan. Dalam hal
demikian wajib pajak hanya berkewajiban untuk melaporkan jumlah pajak yang terutang
dan jumlah pajak yang telah diseot dan dipotong /dipungut dalam SPT Tahunan PPh.
Apabila wajib pajak telah menyetor PPh pasal 29, kewajiban selanjutnya adalah
memasukkan SPT PPh Tahunan, dimana didalamnya dilaporkan perhitungan pajak terutang
dengan disertai lampiran Neraca dan Rugi Laba, serta bukti penyetoran PPh pasal 29.
Dengan dimasukkannya SPT PPh Tahunan tersebut maka berakhirlah salah satu tahap
kewajiban pajak dari WP dalam satu tahun. Apabila tidak terdapat data atau keterangan
yang menyatakan bahwa laporan dalam SPT PPh Tahunan tidak benar, maka jumlah pajak
yang dilaporkan wajib pajak tersebut adalah jumlah yang final dan benar.

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

33

V. Pajak Penghasilan Final


Disamping perhitungan penghasilan netto fiskal secara biasa, dalam sitem pengenaan pajak
kita dikenal adanya PPh Final. Dalam sistem pengenaan PPh Final, pajak dikenakan dengan
prosen-tase tertentu dari penghasilan bruto, untuk selanjutnya pengaturannya adalah sbb:

Penghasilan yang dikenakan PPh Final dipisahkan dari penghasilan biasa.

Biaya-biaya yang terkait dengan penghasilan yang dikenakan PPh Final harus
dipisahkan/ dikeluarkan dari biaya-biaya yang dapat dikurangkan atas penghasilan biasa.

Pungutan PPh Final tidak dapat dikurangkan/dikreditkan terhadap jumlah pajak


terutang atas penghasilan biasa.
Rincian penghasilan yang dikenakan PPh Final adalah sbb :
1.
Penghasilan bunga tabungan/deposito, SBI, Jasa Giro,
Tarif PPh = 20% x jumlah bruto
Pemotongnya adalah bank/pemberi penghasilan.
Potongan PPh Final tersebut tidak dapat dikreditkan
(Pasal 4 ayat (2) huruf a UU PPh 2008, jo. Keputusan Menteri Keuangan nomor:
51/KMK.04/2001. Sebelumnya diatur dalam PP 131/2000 berlaku mulai 1 Januari 2001.
Sebelumnya lagi diatur dalam PP 51/ 1994).
2. Bunga dan Diskonto Obligasi yang diperdagangkan dan atau dilaporkan perdagangannya
di Bursa Efek Indonesia.
Pemotongnya adalah : emiten (penerbit obligasi), atau broker (perusahaan efek atau
bank sebagai perantara)
Tarif PPh-nya adalah 20%.
(Pasal 4 ayat (2) huruf a UU PPh 2008, jo Keputusan Menteri Keuangan nomor :
121/KMK.03/2002.)
3. Penghasilan berupa hadiah undian
Tarif PPh = 25% x jumlah bruto hadiah undian
Pemotongnya adalah penyelenggara undian
(Pasal 4 ayat (2) huruf b UU PPh 2008, jo. Peraturan Dirjen Pajak nomor: 395/PJ./2001.
Sebelumnya diatur dalam PP 132/2000. Berlaku mulai 1 Januari 2001.)
4. Penghasilan dari sewa tanah dan bangunan
Tarif PPh = 10% x jumlah bruto nilai sewa
Pada prinsipnya pemotongnya adalah penyewa. Dalam hal penyewa bukan pemotong
pajak, maka PPh yang terutang wajib disetor sendiri oleh penerima sewa.
(Pasal 4 ayat (2) huruf d UU PPh 2008, jo. Keputusan Menteri Keuangan nomor:
120/KMK.03/2002. sebelumnya diatur dalam PP 5 tahun 2002, berlaku mulai 1 Mei 2002.)
5. Penghasilan dari jasa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi dengan tarif
sebagai berikut:
a. 2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa
dengan kualifikasi usaha kecil;
b. 4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa
yang tidak memiliki kualifikasi usaha;
c. 3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa
selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b;
d. 4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang
dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha;
e. 6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang
dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.
Pengenaan PPh Final tersebut hanya berlaku untuk pengusaha yang peredaran brutonya
sampai dengan Rp1.000.000.000,00.
Pemotongnya adalah badan pemerintah, subyek pajak badan DN, BUT, WP OP yang
ditunjuk.
Dalam hal pemberi penghasilan bukan pemotong pajak maka PPh Final harus disetor
sendiri oleh WP.
(PP 40/2009 jo Peraturan Menteri Keuangan nomor: 187/PMK/2008.)
___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

34

6. Pelayaran Dalam Negeri


Tarif PPh = 1,2% x peredaran bruto
Peredaran bruto adalah imbalan uang atau nilai uang yang diterima/diperoleh WP dari
pengangkutan orang dan atau barang yang dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan
lain di Indonesia, dan atau dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan lain di luar negeri
dan sebaliknya
(Kepmen-416/KMK.04/1996 berlaku mulai tahun 1996. Sebelumnya diatur dalam
Kepmen-181/KMK.04/1995).
7. Pelayaran atau Penerbangan Luar Negeri
Tarif PPh = 2,64% x peredaran bruto
Peredaran bruto adalah imbalan uang atau nilai uang yang diterima/diperoleh WP
perusahaan pelayaran dan atau penerbangan luar negeri dari pengangkutan
orang/barang dari satu pelabulan ke pelabuhan lain di Indonesia dan atau dari pelabuhan
di Indonesia ke pelabuhan di luar negeri.
(Kepmen-417/KMK.04/1996 mulai Juni 1996. Sebelumnya diatur dalam Kepmen-181/KMK.
04/1995)
8. Penerbangan Dalam Negeri Charter
Tarif PPh = 1,8% dari peredaran bruto
Peredaran bruto adalah imbalan berupa uang atau nilai uang yang diterima WP
berdasarkan perjanjian charter dari pengankutanh orang atau barang yang dimuat dari
satu pelabuhan ke pelabuhan lain di Indonesia dan atau pelabuhan Indonesia ke
pelabuhan di luar negeri.
(Kepmen-475/KMK.04/1996 mulai berlaku tahun 1996).
9. Penjualan Saham di Bursa Efek
Tarif PPh = 0,1 % x jumlah bruto nilai transaksi atas semua transaksi saham baik saham
pendiri maupun bukan pendiri.
Tambahan 0,5% x jumlah bruto nilai transaksi untuk saham pendiri
(Pasal 4 ayat (2) UU PPh 2008, jo PP tahun 14 tahun 1997 mulai berlaku Mei 1997.
Sebelumnya diatut dalam PP nomor 41 tahun 1994)
10. Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun, Tunjangan Hari Tua
Atas penghasilan berupa uang pesangon, uang tebusan pensiun yang dibayar oleh Dana
Pensiun yang pendiriannya disyahkan Menteri Keuangan dan Tunjangan Hari Tua atau
Jaminan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus oleh Badan Penyelenggara Pensiun atau
Badan Penyelenggara Jamsostek dipotong PPh Final sbb:
a
Penghasilan Bruto sampai dengan Rp50.000.000
0%
b. Penghasilan Bruto diatas Rp50.000.000 sd Rp100.000.000
5%
b
Penghasilan Bruto diatas Rp100.000.000 sd Rp500.000.000
15%
c
Penghasilan Bruto diatas Rp500.000.000
25%
(PP nomor 68 tahun 2009)
11. Penghasilan dari pengalihan Hak atas Tanah dan atau Bangunan.
Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh orang pribadi, yayasan atau
organisasi sejenis yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final.
Besarnya PPh adalah 5 % dari jumlah bruto nilai pengalihan hak. Nilai dimaksud adalah
nilai yang tertinggi antara nilai berdasarkan akta pengalihan hak atau Nilai Jual Obyek
Pajak (NJOP). NJOP didasarkan pada Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) PBB.
Dalam hal nilai penghasilannya kurang dari Rp60.000.000 tidak dikenakan pajak.
(Pasal 4 ayat (2) huruf d UU PPh 2008, jo PP nomor 71 tahun 2008).
12. Honorarium yang Diterima oleh Pejabat Negara.
Honorarium dan Imbalan lain yang Diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil,
Anggota ABRI dan Pensiunan dikenakan PPh sebesar 15% yang bersifat final.
(PP nomor 45 tahun 1994)
13. Pajak Penghasilan atas Perusahaan Modal Ventura

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

35

Atas penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usahanya dikenakan PPh
sebesar 0.1% yang bersufat final.
(PP nomor 4 tahun 1995)
14. Pajak Penghasilan atas Penjualan Rokok
Atas penjualan rokok dalam negeri, dipungut PPh pasal 22 sebesar 0,15% dari harga
banderol. PPh pasal 22 tersebut merupakan PPh pasal 22 Final.
(Kep-529/PJ/2001).
15. Penjualan atas Hasil Produk Pertamina
Penjualan hasil produk Pertamina serta badan usaha yang bergerak dibidang bahan
bakar minyak jenis premix, super TT, dan gas dipungut sebagai berikut :
Uraian
SPBU Swastanisasi
SPBU Pertamina
Premium
0,3% dari penjualan
0,25% dari penjualan
Solar
0,3% dari penjualan
0,25% dari penjualan
Premix/Super TT
0,3% dari penjualan
0,25% dari penjualan
Minyak tanah
0,3% dari penjualan
Gas LPG
0,3% dari penjualan
Pelumas
0,3% dari penjualan
Pungutan PPh sebagaimana dimaksud diatas bersifat final. (Kep-417/PJ/2001)
16. Penghasilan berupa Bunga Obligasi
Besarnya Pajak Penghasilan atas pnghasilan berupa
a. Bunga dari Obligasi dengan Kupon adalah sbb:
1) 15% bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap;
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak
berganda bagi wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap;
dari jumlah bruto.
b. Diskonto dari Obligasi dengan Kupon
1) 15% bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap;
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak
berganda bagi wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap;
dari jumlah bruto.
c. Diskonto dari Obligasi tanpa Bunga
1) 15% bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap;
2) 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak
berganda bagi wajib pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap;
dari jumlah bruto.
d. Bunga dan atau Diskonto dari Obilgasi yang diperoleh oleh wajib pajak Reksa Dana
yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasa Modal dan Lembaga Keuangan, sebesar
1)
0 % untuk tahun 2009 sd 2010;
2)
5 % untuk tahun 2011 sd 2013;
3)
15% untuk tahun 2014 dan seterusnya.
Ketentuan tersebut tidak berlaku apabila penerima penghasilan adalah wajib pajak
Dana Pensiun (tidak dipungut pajak) dan wajib pajak bank (tidak merupakan PPh Final).
(Peraturan Pemerintah nomor 16 tahun 2009 tanggal 9 Februari 2009)
17. Penghasilan dari Transaksi Derivatif berupa kontrak berjangka dikenakan PPh sebesar
2,5% dari margin awal. Dimaksud dengan margin awal adalah sejumlah uang atau
surat berharga untuk menjamin pelaksanaan transaksi kontrak berjangka.
(Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2009 tanggal 9 Februari 2009)
18.
Penghasilan berupa Bunga Simpanan yang dibayarkan oleh Koperasi kepada anggota
koperasi wajib pajak orang pribadi dikenakan PPh Final sbb:
a) 0% untuk penghasulan berupa bunga simpanan sampai dengan Rp240.000 per
bulan, atau
b) 10% dari jumlah bruto bunga untuk penghasilan lebih dari Rp240.000 per bulan.
(Peraturan Pemerintah nomor 15 tahun 2009, tanggal 9 Februari 2009).

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

36

19.

Penghasilan berupa Dividen yang dibagikan kepada wajib pajak orang pribadi dalam
negeri paling tinggi 10% dan bersifat final.

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

37

Sistem Pembayaran Pajak Penghasilan


Ada beberapa cara dalam pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan, yakni dibayar sendiri
oleh wajib pajak dan dipungut/dipotong oleh pihak ketiga.
a)
Pajak yang disetor sendiri meliputi: Angsuran bulanan (PPh pasal 25), Setoran Akhir
(PPh pasal 29), dan Fiskal Luar Negeri.
b)
Pajak yang dipungut/dipotong oleh pihak ketiga meliputi: PPh pasal 21, PPh pasal 22,
PPh pasal 23, dan PPh pasal 24.
Pada akhir tahun pajak diadakan penghitungan kembali antara jumlah pajak terutang
dengan jumlah angsuran yang telah dibayar pada tahun berjalan dan jumlah potongan serta
pungutan yang telah dilakukan oleh pihak ketiga. Dari perhitungan tersebut didapat tiga
kemungkinan:
1)
Jumlah setoran pajak ditambah pungutan/potongan dari pihak ketiga lebih kecil dari
jumlah
pajak
terutang.
Dalam
hal
demikian
terdapat
kekurangan
penyetoran/pemotongan pajak. Kekurangan setoran tersebut harus dilunasi oleh wajib
pajak, yang dalam hal ini disebut PPh pasal 29.
2)
Jumlah setoran pajak ditambah pungutan/potongan dari pihak ketiga lebih besar dari
jumlah pajak terutang. Dalam hal demikian terdapat kelebihan penyetoran/pemotongan
pajak. Kelebihan setoran tersebut dapat dimintakan restitusi atau dikompensasikan
dengan utang pajak yang lain.
3)
Jumlah setoran pajak ditambah pungutan/potongan dari pihak ketiga sama dengan
jumlah pajak terutang. Dalam hal demikian maka tidak terdapat jumlah pajak yang
harus disetor lagi ataupun diminta kembali.
Apabila tidak terdapat pemeriksaan pajak yang menimbulkan tambahan beban pajak yang
ditagih melalui Surat Ketetapan Pajak (SKP) atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT),
maka utang pajak yang telah dipenuhi berdasarkan penyetoran sendiri maupun
pungutan/potongan oleh pihak ketiga yang telah dilaporkan dalam SPT menjadi lunas secara
definitif. Penerbitan SKP/SKPT tersebut dapat dilakukan dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Apabila terdapat pemeriksaan pajak yang menimbulkan SKP/SKPT, maka fungsi penyetoran
yang telah dilapukan dan pungutan/potongan dari pihak ketiga tersebut berfungsi sebagai
pembayaran yang akan diperhiotungkan dengan pajak terutang berdasarkan SKP/SKPT
tersebut.

___________________________________________________________________________________________________________________________
Perpajakan menurut UU PPh baru, di-up date tgl. 5/3/2016, jam: 4:29:22 AM

38