Anda di halaman 1dari 3

1

is Jenis Pingsan
Jenis-jenis pingsan menurut European Society of Cardiology (2009)
menyatakan bahwa terdapat 3 jenis sinkop yaitu :
Sinkop reflek, yang terdiri dari :
a

Sinkop vasovagal (neurogenic syncope)


Sinkop vasovagal adalah sinkop jenis ini dapat dipicu perubahan emosional
dan pada orang yang berdiri dalam jangka waktu yang lama, terutama dalam

suasana yang panas, ramai serta tubuhnya mengalami dehidrasi.


Sinkop situasional,
Sinkop situasional adalah sinkop yang dapat terjadi pada kondisi-kondisi tertentu
seperti berikut :
a Mikturisi atau berkemih
Terjadi selama berkemih, biasanya pasien bangun dari tempat tidur di
malam hari untuk berkemih. Selama urinasi, mekanoreseptor pada dinding
kandung kemih terstimulasi untuk menghasilkan refleks bradikardia dan
vasodilatasi. Apalagi jika pasien berdiri, maka kondisi akan semakin berat
akibat adanya komponen ortostatik yang menyebabkan hipotensi sehingga pada
akhirnya kesadaran akan hilang.
b

Batuk (tussive syncope)


Saat batuk hebat, terjadi peningkatan tekanan intratoraks yang
memperkuat respon hipotensif. Respon ini terjadi akibat gangguan aliran balik
vena dan berkurangnya curah jantung. Batuk yang sangat hebat dapat
menginduksi respon gag, menyebabkan refleks bradikardia dan vasodilatasi.

Deglutinasi/menelan
Terjadi akibat stimulasi mekanoreseptor esofagus selama menelan,
terutama saat menelan bolus padat berukuran besar. Biasanya terjadi pada
pasien dengan riwayat striktur esofagus atau spasme.

Defekasi
Medulla oblongata. Impuls afferen ini mengaktivkan saraf simpatik
efferen ke jantung dan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan sinus arrest atau
atrioventricular block, vasodilatasi. Pemijatan salah satu atau kedua sinus
karotikus, khususnya pada orang usia lanjut, menyebabkan :
(1) perlambatan jantung yang bersifat refleks (sinus bradikardia, sinus arrest,
atau bahkan blok atrioventrikel), yang disebut respons tipe vagal; dan

(2) penurunan tekanan arterial tanpa perlambatan jantung yang disebut respons
tipe depressor. Kedua tipe respons sinus karotikus tersebut dapat terjadi
bersama-sama.
Syncope hipotensi ortostatik
Merupakan penyebab umum syncope pada usia lanjut. Hipotensi terjadi saat
sistem kardiovaskular tidak mampu mengompensasi perubahan aliran darah akibat
perubahan postur dari berbaring/duduk menjadi berdiri. Hal ini akan menyebabkan
penurunan tekanan darah dan hipoperfusi otak, pada akhirnya menyebabkan
hilangnya kesadaran. Banyak faktor yang dapat menyebabkan syncope ortostatik,
diantaranya efek penggunaan diuretik, obat antihipertensi, dan sedatif berlebihan.
Penyebab lainnya adalah tirah baring terlalu lama, dehidrasi, anemia berat, penyakit
sumsum tulang belakang, neuropati otonom, dan penyakit neurodegeneratif.
Sinkop kardiovaskular
Sinkop kardiavaskular adalah penurunan curah jantung secara tiba-tiba,
menyebabkan berkurangnya perfusi otak dan hilangnya kesadaran. Gejala berupa
palpitasi, nyeri dada, posisi non ortostatik saat terjadi sinkop atau eksersional (terjadi
bisanya pada pasien dengan penyakit katup jantung). Pada sinkop jenis ini dapat terjadi
aritmia singkat yang jika tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kematian. Penyebab
lainnya adalah kardiomiopati berat, myxoma atrium kiri, tamponade jantung, hipertensi
pulmuner dan embolus paru. Terjadi pada kondisi gangguan kolon dengan adanya
episode dari defekasi yang nyeri. Sinkop defekasi juga dapat terjadi bersamaan dengan
obstruksi vena cava inferior. Saat mengejan, terjadi peningkatan tekanan intraabdomen
yang menyebabkan obstruksi vena setinggi diafragma.
Glosofaringeal
Neuralgia glosofaringeal dapat menginduksi respon sinkop refleks. Hal ini
terjadi melalui rangsangan nyeri yang tiba-tiba, berat dan tajam yang berjalan
sepanjang nervus glosofaring pada faring posterior, leher, atau telinga luar dan
menghasilkan refleks bradikardi, vasodilatasi, hipotensi dan akhirnya syncope.
Sinkop sinus karotis, yang dapat terjadi saat bercukur atau memakai kerah
yang ketat. Hal ini umum terjadi pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun. Aktivasi
dari baroreseptor sinus karotis meningkatan impuls yang dibawa ke badan.

Mekanisme Terjadinya Pingsan


Mekanisme terjadinya pingsan menurut Sukha & Zimetbaum (2006) lebih dari
80% terjadinya pingsan/sinkop merupakan jenis sinkop vasovagal. Menurut Guyton
dan Hall (2014)

mekanisme sinkop vasovagal diawali dengan timbulnya reaksi

vasodilasi. Pada keadaan ini, sistem vasodilator otot teraktivasi, dan pada saat yang
bersamaan pusat penghambat jantung vagal menghantarkan sinyal kuat ke jantung
untuk memperlambat frekuensi denyut jantung (bradycardia) secara bermakna.
Tekanan arteri menurun dengan cepat, yang menurunkan aliran darah ke otak dan
menyebabkan orang tersebut kehilangan kesadaran.

Pingsan emosional diawali

dengan gangguan berpikir pada korteks serebri, kemudian jalur ini kemungkinan
berlanjut ke pusat vasodilator di hipotalamus anterior, lalu ke pusat vagal di medula,
menuju jantung melalui nervus vagus, dan juga melalui tulang belakang ke saraf
vasodilator simpatis otot. Gejala presinkop berupa nausea, pandangan kabur,
diaphoresis, kelemahan tergeneralisasi, dan merasa akan hilang kesadarannya. Pasien
kemudian kehilangan kesadaran dan akhirnya jatuh.