Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN

DAN BAYI BARU LAHIR

OLEH : KELOMPOK 8
1. FITRIANA SITUMORANG
2. LIDYA GRIS GINTING
3. LINDA AGUSTINA

LOKAL : III A
DOSEN PEMBIMBING : DEWI SINAMO, SST

AKADEMI KEBIDANAN PEMKO TEBING TINGGI


T.A 2013 /2014

ASUHAN IBU BERSALIN KALA II


Kala II persalinan adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil
pengenalan proses dan penatalaksanaan kala pembukaan, batasan kala II di mulai
ketika pembukaan serviks sudah lengkap ( 10 cm ) dan berakhir dengan kelahiran
bayi, kala II juga di sebut sebagai kala pengeluaran bayi. ( Depkes RI 2001)
Asuhan pada ibu bersalin yaitu asuhan yang dibutuhkan ibu saat persalinan. ( Azrul
2007 ).

ASUHAN SAYANG IBU dan POSISI MENERAN


Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya,kepercayaan dan
keinginan sang ibu(Depkes RI 2007).

1. Asuhan Sayang Ibu


Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
a) Asuhan yang aman, berdasarkan evidence based dan turut meningkatkan angka
kelangsungan hidup ibu
b) Membantu ibu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan yang menghargai
kebiasaan budaya praktek keagamaan dan kepercayaan
c) Melibatkan ibu dan keluarga sebagai pengambil keputusan
d) Menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah
dan bahwa intervensi yang tidak perlu dan pengobatan untuk proses alamiah harus
dihindarkan
e) Berpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan dan selalu melihat dahulu ke
cara pengobatan yang sederhana dan non intervensi sebelum berpaling ke teknologi
f) Menjamin bahwa ibu dan keluarganya diberitahu tentang apa yang sedang terjadi dan
apa yang bisa diharapkan

g) Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai dengan
martabatnya
h) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan dan kelahiran
dan anjurkan keluarga agar terlibat dalam asuhan sayang ibu
i) Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya
j) Tenteramkan hati ibu selama kala 2 persalinan
k) Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran
l) Saat pembukaan lengkap, jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila ada
dorongan kuat untuk meneran. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
m) Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi selama kala 2 persalinan
n) Berikan rasa aman, semangat dan tenteramkan hati ibu selama proses persalinan
dengan memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan
o) Menghargai privasi ibu
p) Menghargai dan memperbolehkan praktek-praktek keagamaan maupun tradisional
yang tidak memberi pengaruh yang merugikan
q) Hindari tindakan yang berlebihan dan mungkin dapat membahayakan seperti
episiotomi, kateterisasi rutin, pencukuran dan klisma
r) Anjurkan pada ibu untuk memeluk bayinya segera setelah kelahiran bayi
s) Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran
t) Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan)
Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada masa Pascapersalinan
a. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung)
b. Bantu ibu untuk menyusukan bayinya, anjurkan memberikan ASI sesuai dengan
yang diinginkan bayinya dan ajarkan tentang ASI eksklusif

c. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah
melahirkan
d. Anjurkan suami dan anggota keluarganya untuk memeluk bayi dan mensyukuri
kelahiran bayi
e. Ajarkan ibu dan anggota keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya yang
mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika timbul
masalah atau rasa khawatir
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu diindonesia yang masih tidak
mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan asuhan
selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dari mereka beralasan bahwa penolong
persalinan terlatih tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan
keinginan pribadi pada ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Penyebab lain dari
kurangnya pemanfaatan fasilitas kesehatan adalah peraturan yang rumit dan prosedur yang
tidak bersahabat dan menakutkan bagi para ibu. Contoh dari peraturan dan prosedur rumit
tersebut diantaranya adalah tidak memperkenankan ibu untuk berjlan-jalan selama proses
persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu, hanya pada posisi tertentu
selama persalinan dan kalahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayi segera setelah bayi
dilahirkan.
Kehadiran keluarga atau teman dalam persalinan

Persepsi ibu mengenai kelahiran anak lebih baik

Memberikan rasa nyaman

Sebagai dukungan psikologis maupun emosional

Waktu persalinan terasa lebih pendek

Intervensi medis menjadi lebih sedikit karena rasa nyeri ibu menjadi teralihkan
dengan kehadiran orang-orang yang dicintai

Hasil persalinan yang baik, ternyata erat hubungannya dengan dukungan keluarga
yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al, 2000)

1. Posisi Meneran
Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa disadari dan terus
berlangsung. Posisi persalinan mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi
persalinan. Penolong persalinan dapat membantu ibu agar tetap tenang dan rileks,
maka penolong persalinan tidak boleh mengatur posisi meneran. Penolong persalinan
harus memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri posisi meneran dan menjelaskan
alternatif-alternatif posisi meneran bila posisi bila posisi yang dipilih ibu tidak
efektif. (Sumarah, dkk, 2009 : 102)
Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih
sendiri posisi persalinan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan
bidannya sendiri. Dengan kebebasan untuk memutuskan posisi yang dipilihnya, ibu
akan lebih merasa aman.
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat
mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala II karena hal ini dapat membantu
kemajuan persalinan, mencari posii meneran yang paling efektif dan menjaga
sirkulasi utero plasenter tetap baik (JNPK KR 2007)
Macam-macam posisi meneran :
1.

Posisi Miring atau Lateral

Posisi miring membuat ibu lebih nyaman dan efektif untuk meneran dan membantu
perbaikan oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior dan
memudahkan ibu beristirahat diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga
mengurangi resiko terjadinya laserasi perineum. (JPNK-KR, 2007 : 82)
Posisi berbaring miring kekiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior
sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia karena suplay oksigen tidak
terganggu dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami kecapekan dan dapat
pencegahan terjadinya laserasi/robekan jalan lahir. (Sumarah, dkk, 2009 : 102)
Posisi ini mengharuskan si ibu berbaring miring ke kiri. Salah satu kaki diangkat,
sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi yang akrab disebut posisi lateral ini,
umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat. Normalnya, posisi ubun-ubun bayi
berada di depan jalan lahir. Posisi kepala bayi dikatakan tidak normal jika posisi ubunubunnya berada di belakang atau di samping. Dalam kondisi tersebut biasanya dokter akan

mengarahkan ibu untuk mengambil posisi miring. Arah posisi ibu tergantung pada letak
ubun-ubun bayi. Jika berada dikiri ibu dianjurkan mengambil posisi miring ke kiri sehingga
bayi, bisa berputar, jika berada dikanan ibu dianjurkan mengambil posisi miring ke kanan
sehingga bayi diharapkan bisa berputar. (Rohani, dkk, 2011 : 123)
Gambar 2.1

Posisi Miring / Lateral


Keuntungan :
Oksigenisasi janin maksimal karena dengan miring kekiri sirkulasi darah ibu ke janin
lebih lancar.
Memberi rasa santai bagi ibu yang letih.
Mencegah terjadinya laserasi. (Sulistyawati, dkk, 2010 :105)
Keuntungan :
Perdarahan balik ibu berjalan lancar, sehingga pengiriman oksigen dalam darah dari
ibu ke janin melalui plasenta tidak terganggu.
Kontraksi uterus lebih efektif.
Memudahkan bidan dalam memberikan pertolongan persalinan. Karena tidak terlalu
menekan proses pembukaan akan berlangsung sehingga persalinan berlangsung lebih
nyaman. (Rohani, dkk, 2011 : 50)
2.

Posisi Jongkok

Posisi jongkok membantu mempercepat kemajuan kala II persalinan dan


mengurangi rasa nyeri. (JPNK-KR, 2007 : 82).
Posisi jongkok memudahkan penurunan kepala janin ,memperluas rongga
panggul sebesar 28 % lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan
meneran.
Posisi jongkok dapat memudahkan dalam pengosongan kandung kemih. Jika kandung
kemih penuh akan dapat memperlambat penurunan bagian bawah janin. (Sumarah, dkk, 2009
: 102)
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi yang alami. Biasanya ibu berjongkok di atas
bantalan empuk yang berguna menahan kepala dan tubuh bayi (Rohani, dkk, 2011 :50).

Gambar 2.2

Keuntungan :
Memperluas rongga panggul, diameter tranversa bertambah 1 cm dan diameter
anteroposterior bertambah 2 cm.
Persalinan lebih mudah.
Posisi ini menggunakan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi.

Mengurangi trauma pada perineum. (Rohani , dkk , 2011 : 50)

3. Posisi Merangkak
Posisi merangkak membuat ibu lebih nyaman dan efektif untuk meneran dan
membantu perbaikan oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior
dan memudahkan ibu beristirahat diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga
mengurangi resiko terjadinya laserasi perineum. (JPNK-KR, 2007 : 82)
Posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung
mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.
(Sumarah, dkk, 2009 : 102)
Pada posisi ini ibu merebahkan badan dengan posisi merangkak, kedua tangan
menyanggah tubuh dan kedua kaki ditekuk sambil dibuka. (Rohani, dkk, 2011 : 51).

lihat gambar2.1 sebelah kiri


Keuntungan :

Membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih dalam ke panggul.


Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit.
Membantu janin dalam melakukan rotasi.
Peregangan minimal pada perineum. (Sulistyawati, dkk, 2010 : 105)
Keuntungan :

Posisi merangkak seringkali merupakan posisi yang paling baik bagi ibu yang
mengalami nyeri punggung saat persalinan.
Mengurangi rasa sakit.
Mengurangi keluhan hemoroid. (Rohani, dkk, 2011 : 51)

4.

Posisi Semi Duduk

Posisi ini posisi yang paling umum diterapkan diberbagai RS/RSB di segenap penjuru
tanah air. Pada posisi ini, pasien duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan
paha dibuka ke arah samping. Posisi ini cukup membuat ibu merasa nyaman. (Rohani, dkk,
2011 : 52)

Dengan posisi ini penolong persalinan lebih leluasa dalam membantu kelahiran kepala
janin serta lebih leluasa untuk dapat memperhatikan perineum. (Sumarah, dkk, 2009 : 102)

Gambar 2.4
Posisi Semi Duduk
Keuntungan :
Memudahkan melahirkan kepala bayi.
Membuat ibu nyaman.
Jika merasa lelah ibu bisa beristirahat dengan mudah. (Rohani, dkk, 2011 : 144)
Keuntungan :
Membantu dalam penurunan janin dengan kerja gravitasi menurunkan janin ke dasar
panggul.
Lebih mudah bagi bidan untuk membimbing kelahiran kepala bayi dan
mengamati/mensupport perineum. (Sulistyawati, Ari, dkk, 2010 : 105)
5.

Posisi duduk

Pada posisi ini, duduklah diatas tempat tidur dengan disangga beberapa bantal atau
bersandar pada tubuh pasangan. Kedua kaki ditekuk dan dibuka tangan memegang lutut dan
tangan pasangan membantu memegang perut ibu. (Rohani, dkk, 2011 : 52)
Menurut Sumarah (2009 : 102) dengan posisi duduk penolong persalinan
lebih leluasa dalam membantu kelahiran kepala janin serta lebih leluasa untuk dapat
memperhatikan perineum.
Keuntungan :

Posisi ini memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu turunnya bayi.


Memberi kesempatan untuk istirahat di antara dua kontraksi.
Memudahkan melahirkan kepala bayi. (Rohani, dkk, 2011 : 53)

Gambar 2.5.

Posisi Duduk
6.

Posisi berdiri

Menurut Rohani (2011:53) menyatakan bahwa pada posisi ini ibu disangga oleh
suami dibelakangnya. Sedangkan menurut Sumarah (2009:102) menyatakan bahwa pada
posisi berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas rongga panggul sebesar 28
% lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran.
Keuntungan :
Memanfaatkan gaya grafitasi.
Memudahkan melahirkan kepala.

Memperbesar dorongan untuk meneran.(Rohani , dkk , 2011 : 145)


Cara Meneran
a.
b.
c.
d.

Anjurkan ibu meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi


Beritahukan untuk tidak menahan napas saat meneran
Minta untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi
Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk

meneran jika lutut ditarik kearah dada dan dagu ditempelkan kedada
e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran
f. Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran
bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan risiko distosia bahu dan rupture
uteri. Peringatkan anggota keluarga ibu untuk tidak mendorong fundus bila
mereka mencoba melakukan itu.

Mekanisme Persalinan Normal


Mekanisme persalinan normal adalah rentetan gerakan pasif janin pada saat
persalinan berupa penyesuaian bagian terendah (kepala) janin terhadap jalan lahir atau
panggul pada saat melewati jalan lahir.

1. Masuknya kepala janin pada PAP


Pada primigavida masuknya kepala janin dimulai pada akhir kehamilan. Masuk
periode inpartu dalam keadaan kepala engaged.(BDP). Pada nulipara, masuknya
kepala janin pada pintu atas panggul terjadi pada awal persalinan. masuk periode
inpartu dalam keadaan floating (melayang di atas PAP)
Engagement atau kepala sudah cakap apabila diameter terbesar bagian terendah
janin telah melewati PAP.. Engagement kepala janin bergantian pada situasi :
a)

Sinklitismus jika sutura sagitalis sejajar diameter transversal PAP, berada tepat
antara simfisis pubis dan promontorium, tulang ubun-ubun depan dan belakang sama
rendah.

b)

Asinklitismus jika sutura sagitalis dalam keadaan kebelakang mendekati


promontorium dan ke depan mendekati simfisis pubis. Terdapat 2 macam posisi
asinklitismus.yaitu Asinklitismus Anterior (sutura sagitalis mendekati promontorium
dan tulang ubun-ubun/parietal depan lebih rendah dari tulang ubun-ubun belakang)
dan asinklitismus Posterior (Sutura sagitalis mendekati simfisis pubis, tulang ubunubun/parietal belakang lebih rendah lebih rendah dari tulang ubun-ubun depan.

2. Turunnya kepala janin ke dasar panggul


Pada primipara, masuknya kepala janin ke dalam PAP terjadi sebelum persalinan,
sedangkan turunnya kepala terjadi setelah itu, biasanya pada awal kala II. Pada
nulipara, masuk dan turunnya kepala janin ke dalam panggul terjadi bersamaan
a) Fleksi
Dengan turunnya kepala, fleksi kepala bertambah sehingga posisi ubun-ubun kecil
(UUK) lebih rendah daripada ubun-ubun besar (UUB) sehingga diameter fronto
oksipital (12 cm) sebagai ukuran terpanjang terbentang antara fronto diameter

anteroposterior dan diameter sub oksipitobregmatika (9,5cm) yang lebih kecil yang
akan melewati jalan lahir.
b) Putaran Paksi Dalam
Pemutaran bagian terendah janin ke depan (simfisis pubis) atau ke belakang (sakrum).
Putaran paksi dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala
dengan bentuk jalan lahir.
c) Ekstensi / Defleksi kepala janin
Terjadi agar kepala dapat melewati PBP, sumbu jalan lahir arah anteroposterior
d) Putaran paksi luar atau Restitusi
Setelah kepala lahir seluruhnya, kepala kembali memutat ke arah punggung untuk
menghilangkan torsi pada leher karena putaran paksi dalam tadi.putaran ini disebut
putaran restitusi kemudian putaran dilanjutkan hingga kepala berhadapan dengan
tuber ischiadicum sepihak (di sisi kiri)
e) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah simfisis dan menjadi
hypomochilion untuk melahirkan bahu belakang kemudian bahu depan menyusul
seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.

ASUHAN KALA II IBU BERSALIN


A. Pengertian
Asuhan kala II merupakan kelanjutan data yang dikumpulkan dan dievaluasi selama kala
I yang dijadikan data dasar untuk menentukan kesejahteraan ibu dan janin selama kala II
persalinan.
B. Batasan.
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap ( 10 cm ) dan
beakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga dsebut sebagai kala pengeluran bayi.
a.

Menurut Sumarah (2008) asuhan Kala II meliputi :


Pemantauan ibu

Mengevaluasi his (kontraksi uterus) berapa kali terjadi dalam sepuluh menit (frekuensi
his), lamanya his, dan kekuatan his serta kaitan antara ketiga hal tersebut dengan
kemajuan persalinan.
Mengkaji keadaan kandung kencing dengan menganamnese ibu dan melakukan palpasi
kandung kencing untuk memastikan kandung kencing kosong.
Mengevaluasi upaya meneran ibu efektif atau tidak.
Pengeluaran pervaginam serta penilaian serviks meliputi effasement (pendataran serviks)
dan dilatasi serviks (pembukaan).
b.

Pemantauan janin
Penurunan kepala, presentasi, dan sikap.
Mengkaji kepala janin adakah caput atau molase.
Denyut jantung janin (DJJ) meliputi frekuensi, ritmenya, dan kekuatannya.
Air ketuban meliputi warna, bau, dan volume.

Pemantauan ibu dan janin.


1.
a.

Pemantauan ibu

Kontraksi

Palpasi kontraksi uterus ( control tiap 10 menit )


Frekuensi setiap 30 menit selama fase aktif.
Lamanya kontraksi yang terjadi dalam 10 menit obsevasi.
Kekuatan kontraksi dalam detik

b.

Tanda-tanda kala dua persalinan adalah

c.

Keadaan umum,

d.

Ibu merasa ingin mineral bersamaan dengan terjadinya kontraksi.


Ibu merasakan adanya peningkatan tekana pada rectum dan / atau vaginanya.
Perineum menonjol.
Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
Meningkatkan pengeluaran lendir bercampur darah.
Kesadaran
Tekanan darah dan temperatur : setiap 4 jam
Nadi : setiap jam
Volume urin, protein,dan aseton.
Respon keseluruhan pada kala II :
Keadaan dehidrasi
Perubahan sikap/perilaku
Tingkat tenaga ( yang dimiliki )

Kemajuan persalinan

Pembukaan serviks

Penurunan bagian terbawah janin

2.

Pemantauan janin

a.

Saat bayi belum lahir


Menentukan bagian terendah janin.
Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami
bradikardi ( 120) ,dilakukan setiap setengah jam.

b.

Saat bayi lahir


Segera setelah lahir , letakkan bayi diatas kain bersih dan kering yang di siapkan
pada perut ibu .Bila hal tersebut tidak memungkinkankan maka letakan bayi dekat
ibu ( diantara kedua kaki atau disebelah ibu ) tetapi harus dipastikan bahwa area
tersebut bersih dan kering.

Pemantauan umum selama kala dua perslinan.


Kondisi ibu, bayi dan kemajuan persalinan harus selalu dipantau secara berkala dan ketat
selama berlansungnya kala dua persalinan.
Pantau, periksa dan catat :

Nadi ibu setiap 30 menit


Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan abdomen (periksa luar)
dan periksa dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal I ini dilakukan dengan
cepat
Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah (jenih atau bercampur mekonium

atau darah)
Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat disamping atau terkemuka
Putaran vaksi luar segera setelah kepala bayi lahir
Kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelum bayi pertama lahir
Catatkan semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan

REFERENSI

Prawirahadjo, 2010, Panduan Maternal Neonatal, YBPSP: Jakarta


JNPK, 2007_ Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, Edisi 3 (Revisi), Depkes: Jakarta
Varney, Helen dkk, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, EGC : Jakarta
JNPK-KR,2012,Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal,Depkes:Jakarta
Sumarah, Widyastuti Yani, Wiyati Nining, (2008).Perawatan Ibu

Bersalin(Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin), Fitramaya.Yogyakarta.


Prawirohardjo, Sarwono, (2009).Ilmu Kebidanan, Bina Pustaka.Jakarta.

Tim,2009,Asuhan Kebidanan II(Persalinan),Trans Info Media:Jakarta


http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/07/asuhan-kala-iipersalinan.html#ixzz2eIsTwtL0
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/16/asuhan-sayang-ibu-dan-posisi-meneran/