Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Protein meupakan salah satu zat gizi yang sangan dibutuhkan untuk anak usia dini yang
masih dalam masa pertumbuhan. Khususnya untuk anak-anak yang melakukan berbagai
macam kegiatan olahraga. Karena protein merupakan salah satu nilai gizi yang mendukung
aktifitas olahraga usia dini. Protein merupakan zat gizi utama yang digunakan untuk
pertumbuhan tulang dan otot. Untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan agar
berjalan dengan semestinya dibutuhkan 15% hingga 20% protein dari total kebutuhan per
hari. Tetapi asupan makanan yang berlebihan juga dapat menimbulkan efek yang berbahaya
bagi tubuh. Susunan makanan yang salah dapat diakibatkan karena kurangnya penyediaan
pangan, ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah merupakan faktor utama (primer)
masalah gizi. Seperti pertumbuhan anak pada keluarga menengah keatas akan cenderung
lebih tinggi karena terpenuhi konsumsi nilai gizinya terpenuhi, daripada anak yang dari
keluarga menengah ke bawah. Maupun berbagai indikator lain yang dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini jika kekurangan asupan protein ( Sofro et al,
1992 ).
Didalam tubuh setiap manusia dilengkapi oleh berbagai sistem. Mulai dari sistem
pencernaan, sistem pernafasan, sistem metabolisme dan sistem imun (kekebalan tubuh).
Sistem imun berperan untuk memberi respon terhadap kuman dan antigen asing yang masuk
kedalam tubuh. Salah satu cara membunuh kuman dan atigen aseing tersebut adalah dengan
cara fagosit yang dilakukan oleh sel neutrofil. Bahn produksi yang dikeluarkan untuk
membunuh kuman dan antigen asing tersebut adalah sitokin. Sitokini adalah golongan protein
/ glikoprotein / polipeptida yang dihasilkan dari sel limfosit dan sel lain seperti sel makrofag,
eosinofil, sel mast dan sel endotel dengan berat molekul 8-40 KD. Sitokin berfungsi sebagai
singal interseluler yang mengatur hampir semua proses biologis yang penting. Sitokin
dibentuk oleh sel sebagai respons terhadap rangsuangan. Sitokin berperan sebagai imun
dalam tubuh. Sitokin tidak tersedia dari sel yang siap digunakan tetapi hasil sintesa protein
yang ditranskrip. Sitokin tidak hanya berfungsi sebagai sel imun tetapi berfungsi sebagai
pertumbuhan dan deferensiasi sel dan merangsang sel limfosit yang belum matang.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Protein
Protein merupakan makromolekul terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino yang
terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino terdiri atas unsur-unsur karbon (C),
hydrogen (H), oksigen (O) dan nitrogen (N). Beberapa asam amino disamping itu
mengandung unsur-unsur fosfor (P), sulfur (S). Unsur nitrogen adalah unsur utama yang
terkandung dalam protein, yaitu 16% dari berat protein dan hanya terdapat didalam semua
protein, tidak terdapat didalam karbohidrat dan lemak. Molekul protein lebih kompleks dari
pada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul dan keanekaragaman unit-unit asam
amino yang membentuknya. Protein pada umumnya memiliki karakteristik tidak berwarna,
merupakan senyawa amphoter, tidak mempunyai titik cair atau titik didih tertentu, dan tidak
dapat larut dalam pelarut organik. (Sumardjo, 1997)
Asam amino terdiri atas atom karbon yang terikat pada satu gugus karboksil (COOH), satu gugus amino (-NH2), satu atom hidrogen (-H) dan satu gugus radikal (-R) atau
rantai cabang. Pada umumnya asam amino yang diisolasi dari protein hididroksilat alfa-asam
amino, yaitu gugus karboksil dan amino terikat pada atom karbon yang sama. Cabang atau
gugus-R asam amino dapat digunakan untuk membedakan asam amino satu sama lain.
Sumber protein didapatkan dari sumber protein hewani dan nabati (Terentyev & Pavlov,
1954). Sumber protein hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun
mutu. Sumber protein nabati dapat ditemukan pada biji-bijian, kacang-kacangan dan gandum.
Satu gram protein mampu menghasilkan energi 4,1 kalori ( Sofro et al, 1992 ).
Protein memiliki empat struktur, diantaranya adalah struktur primer, struktur
sekunder, struktur tersier dan struktur kuartener.
1) Struktur Primer Struktur primer adalah rantai polipeptida. Struktur primer protein di
tentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan yang
membentuk ikatan peptida. Struktur primer dapat di gambarkan sebagai rumus
bangun yang biasa di tulis untuk senyawa organik (Suhardji, 1992).
2) Struktur Sekunder ditentukan oleh bentuk rantai asam amino : lurus, lipatan, atau
gulungan yang mempengaruhi sifat dan kemungkinan jumlah protein yang dapat
dibentuk. Struktur ini terjadi karena ikatan hydrogen antara atom O dari gugus
2

karbonil ( C=O) dengan atom H dari gugus amino ( N-H ) dalam satu rantai peptida,
memungkinkan terbentuknya konfirasi spiral yang disebut struktur helix (Suhardji,
1992).
3) Struktur tersier ditentukan oleh ikatan tambahan antara gugus R pada asam-asam
amino yang memberi bentuk tiga dimensi sehingga membentuk struktur kompak dan
padat suatu protein (Suhardji, 1992).
4) Struktur kuartener adaalah susunan kompleks yang terdiri dari dua rantai polipeptida
atau lebih, yang setiap rantainya bersama dengan struktur primer, sekunder, tersier
membentuk satu molekul protein yang besar dan aktif secara biologis. Sebagian besar
protein berbentuk globular yang mempunyai berat molekul lebih dari 50.000
merupakan suatu oligomer, yang terjadi dari beberapa rantai polipeptida yang
terpisah. Rantai polipeptida ini juga disebut protomer saling mengadakan interaksi
membentuk struktur kuartener dari proteina olighomer tersebut (Suhardji, 1992).

B. Manfaat protein untuk mendukung aktifitas olahraga ,


pertumbuhan, dan perkemabangan anak usia dini.
Dalam jurnal yang didapatkan ini membahas mengenai pengaruh protein terhadap
aktifitas olahraga, pertumbuhan, dan perkembangan anak. Protein ini lebih penting dari
makromolekul lain seperti karbohidrat dan lemak. Karena protein memiliki peran sebagai
biomolekul yang digunakan untuk katalik maupun sebagai antibody dalam tubuh. Selain itu
juga protein juga mengandung unsur utama yaitu N yang tidak dimiliki oleh karbohidrat
maupun lemak, terkadang juga mengandung S, P, dan Fe. Protein terdiri dari rantai panjang
yang tersusun oleh asam amino. Asam amino memiliki reaksi gugusan karboksil yang dapat
merangkai gugus asam amino satu dengan gugus asam amino yang lain dengan ikatan
peptide, yang merupakan ikatan tingkat primer (Winarno. F.G, 1992).
Protein merupakan makromolekul yang cukup besar karena memiliki berat molekul
sebesar lima ribu hingga beberapa juta. Salah satu sifat unik protein yang tidak dimiliki oleh
lemak dan karbohidrat adalah protein bersifat amfoter. Amfoter berarti dapat bereaksi dengan
asam maupun basa. Protein dapat mengalami denaturasi yang mengakibatkan penggumpalan

dengan berbagai cara antara lain dengan panas, asam basa, pelarut organic, pH, garam : daya
larut berkurang sehingga mengakibatkan pengendapan protein, logam berat, sinar radioaktif
Protein memiliki beberapa jenis protein berdasarkan bentuknya yaitu protein fibriler dan
protein globuler. Protein fibriler ini berbentuk serabut yang tidak dapat larut dalam pelarut
encer seperti garam, asam basa, maupun alkohol. Bentuk ini terdapat pada Kerstin pada
rambut dan myosin pada otot. Protein globuler ini berbentuk mirip bola dan sifatnya larut
dalam pelarut encer, seperti alkohol dan garam. Protein berbentuk globuler ini lebih mudah
terdenaturasi daripada protein fibriler. Secara fisiologik protein yang dibutuhkan untuk
perkembangan dan pertumbuhan anak membutuhkan kandungan makanan dengan protein
sempurna (Winarno. F.G, 1992). Protein sempurna ini dapat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan maupun pemeliharaan jaringan yang dibutuhkan oleh anak. Sedangkan ada
protein yang hanya sanggup mendukung pemeliharaan jaringan , tetapi tidak sanggup
mendukung pertumbuhan anak, protein ini termasuk dalam protein setengah sempurna. Ada
juga kandungan proteinnya tidak sanggup untuk pemeliharaan system jaringan dan
pertumbuhan badan, protein ini merupakan protein tidak sempurna. Sehingga asupan
makanan yang mengandung proteinpun harus diperhatikan apakah kandungan protein
tersebut cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.
Dimana protein memiliki fungsi dan peranan yang sangat banyak bagi tubuh manusia,
antara lain untuk transportasi dan penyimpanan, proteksi imun, koordinasi gerak, penunjang
mekanis, katalisis enzimatik, membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf, dan
pengendali pertumbuhan dan diferensiasi. Dimana dalam transportasi dan penyimpanan
berupa molekul kecil ataupun ion-ion ditrasport oleh protein spesifik, seperti trasportasi
oksigen yang di dalam eritrosit oleh hemoglobin ataupun yang di dalam otot oleh mioglobin.
Pada proteksi imun, antibodi adalah protein yang spesifik dan sensitif yang dapat mengenal
dan bergabung dengan virus, bakteri dan sel dari organisme lain. Koordinasi gerak, dimana
kontraksi pada otot terjadi karena pergeseran dua filamen protein, seperti pergerakkan
kromosom saat proses mitosis dan sperma oleh flagela. Pada Penunjang mekanis, pada
ketegangan dan kekerasan kulit ataupun tulang dikarenakan kolagen (protein fibrosa).
Sedangkan pada katalisis enzimatik, sebagian besar reaksi kimia dalam sistem biologi
dikatalisis oleh enzim, dimana enzim kebanyakan adalah protein. Dalam membangkitkan dan
menghantarkan impuls saraf, dimana rangsang spesifik direspon oleh selespon sel saraf, dan
diperantarai oleh protein reseptor, seperti rodopsin (protein yang sensitif) terhadap cahaya
pada sel bayang retina dan protein reseptor pada sinapsis. Dan yang terakhir, pengendali
pertumbuhan dan diferensiasi organisme pada tingkat yang tinggi diatur oleh protein, seperti
4

faktor pertumbuhan saraf mengendalikan pertumbuhan jaringan saraf dan banyak hormon
yang merupakan protein.
Protein yang merupakan molekiul makro pemberi keterangan memiliki ciri-ciri yang
khas pada susunan kimia, bobot molekular, dan urutan asam amino. Pada susunan kimia
setiap protein individual adalah senyawa murni. Dimana bobot molekular dari semua molekul
dalam suatu contoh tertentu dari protein murni adalah sama. Dan urutan asam amino dari
protein tertentu adalah terinci secara genetik, tetapi masih ada perubahan kecil dalam urutan
asam amino dari protein tertentu.
Sumber protein dapat dibedakan menjadi protein hewani dan protein nabati. Sumber
protein hewani merupakan susu, telur, ikan, kerang-kerangan, udang, ayam, daging dan organ
dalam seperti hati, pankreas, ginjal, paru, jantung, dan jerohan seperti babat dan iso (usus
halus dan usus besar). Dimana susu dan telur merupakan protein hewani yang berkualitas
tinggi, sedangkan ikan, kerang, dan udang merupakan protein hewani yang baik, karena
mengandung sedikit lemak, namun ada yang alergi beberapa jenis ini dan mengandung
banyak kolesterol pada kerang atau udang yang tidak baik dalam diet rendah kolesterol. Telur
bagian yolk mengandung banyak kolesterol, sebaiknya ditinggalkan jika diet rendah
kolesterol. Sumber protein nabati merupakan kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang
kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang koro, kelapa dan lain-lain. Pada protein nabati,
asam aminonya tidak selengkap pada protein hewani, tetapi dengan mencampurkan dua atau
lebih sumber protein yang berbeda jenis asam amino pembatasnya akan saling melengkapi
kandungan proteinnya. Contohnya, dua jenis bahan makanan antara campuran tepung
gandum dengan kacang-kacangan, dimana tepung gandum kekurangan amino lisin, tetapi
asam amino belerangnya berlebih, sebaliknya pada kacang-kacangan. Maka bila
pencampuran satu banding satu akan membentuk bahan makanan campuran yang telah
meningkatkan mutu protein nabati. Oleh karena itu seperti susu dengan sereal, nasi dengan
tahu, kacang-kacangan dengan roti, bubur kacang hijau dengan ketan hitam merupakan
kombinasi makanan yang meningkatkan mutu protein dan sangat baik untuk pertumbuhan
dan perkembangan anak-anak.
Masa anak-anak pasti terjadi pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan
berkaitan dengan kuantatif dimana dalam besar, jumlah, ukuran dan fungsi tingkat sel, organ
maupun individu, besarnya tulang, kerangka. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya
kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang komplek dalam pola yang teratur dan
dapat diramalkan sebagai proses pematangan adalah bersifat kualitatif. Dimana pertumbuhan
menekankan aspek fisik, sedangkan perkembangan pada aspek pematangan organ terutama
5

sistem saraf pusat. Faktor yang mempengaruhipun ada dua yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
Olahraga membutuhkan kalori untuk mendukung supaya gerak dan aktifitasnya dapat
tercapai maksimal dengan tujuan untuk kesehatan, berprestasi, pariwisata, pertumbuhan,
kesenangan, pertumbuhan dan perkembangan. Dimana setiap orang memiliki tujuan yang
berbeda maka aktifitas olahraga dilakukan berbeda-beda dalam intesitas, durasi, recovery dan
intervalnya

C. SITOKININ DAN KEMATIAN SEL


Ada beberapa sitokinin yang merangsang terjadinya apoptosis dalam beberapa sel.Semua
reseptor membantu intra cytoplasmic death domai yang memungkinkan terjadinya interaksi
dengan death domain yang lain (TRADD dan FADD).TRADD merupakan suatu molekul
adaptor sebagai penghubung terjadinya antara TNFR-1 dan FADD.Inti kelengkapan apoptosis
terletak pada sitoplasma sel.Mitokondria berperan dalam aktivasi caspase dengan
mengeluarkan cytochrome-c.Sebanyak 14 caspase ditemukan pada golongan mamalia.p53
merupakan suatu [rotein yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan sel tumor dan juga
untuk menghentikan untuk sementara proses pembelahan sel.Setiap sel,mempunyai ambang
kerusakan yang berbeda-beda.
TNF merupakan mediator utama pada respons terhadap bakteri gram negatif dan
berfungsi dalam respons imuns bawaan terhadap berbagai mikroorganisme penyebab infeksi
lain,faktor angiogenesis dengan membentuk pembulih darah baru,serta faktor pertumbuhan
fibroblast.TNF yang diproduksi dalam jangka panjang dengan konsentrasi rendah dapat
menimbulkan tissue remodeling. Ada 2 bentuk TNF,yaitu TNF-

dan TNF-. TNF-

mempunyai fungsi dalam proses inflamasi,mengingkatkan peran pro trombotik,merangsang


molekul adhesi dari sel leukosit,menginduksi sel endotel,mengatur aktivasi makrofag,dan
respon imun dalam jaringan. TNF- berasal dari propeptida.Terdapat 2 reseptor TNF-
yang telah teridentifikasi,yaitu TNF-I dan TNF-II.
Interleukin 10 merupakan protein yang larut dan terdiri dari 160 asam amino dengan berat
molekul sekitar 18kD dan terdiri dari 2 ikatan disulfide intra molekul bersifat labil.IL-10
dapat diinduksi seperti oleh kuman-kuman patogen yang akan mengaktivasi monosit ataupun
makrofag.Penambahan produksi adenosine-purine nukleotida

dan oksigen reaktif akan

meningkatkan eksresi IL-10.Cahaya UV juga dapat merangsang ekspresi IL-10.Di lain


pihak,obat anti tumor akan menghambat regulasi IL-10.IL-10 juga menunjukkan aktivitas
6

imuno stimulator, merangsang kemoatrakan,merangsang aktivasi sel NK,meningkatkan


rangsangan IL-2 terhadap proliferasi sel NK, sitotoksisitas dan pengeluaran sitokin
lain,sebagai pengontrol proses inflamasi,proses allergi,dan juga dapat menurunkan regulasi
produksi IL-5 oleh sel T.Semua peran tersebut merupakan tugas IL-10 dalam meningkatkan
regulasi aseptor ekspresi dalam monosit.Sedangkan,dalam konsentrasi rendah,aktivitas IL-10
sama dengan glukokortikoid.IL-10 juga dapat memperbesar harapan hidup sel dengan cara
meningkatkan protein anti apoptosis Bcl2.
TGF- mempunyai fungsi selain berperan dalam proses penyembuhan luka,namun juga
berperan sebagai anti poliferasi,anti proliteratif,menghambat produksi limfokin dan
monokin,menghambat antibodi,menghambat reaksi komplemen dari leukosit,membangkitkan
CTL,menghambat aktivitas sel NK oleh pengaruh IL-2, dan menghambat ekspresi seluler dari
MHC klas II dan reseptor IL-1.Dalam proses peradangan, TGF- berfungsi ganda sebagai
sitokin pro-inflammatory dan anti- inflammatory TGF- diproduksi dan berperan pada sel
makrofag,sel limfosit T dan B serta endotel.Pada manusia,TGF- disekrasi dalam 3
bentuk,yaitu TGF- 1,TGF- 2, dan TGF- 3.Ketiga bentuk tersebut diproduksi karena peran
gen yang berbeda.Sel penghasil TGF- yang terutamja adalah sel limfosit T,sel limfosit
B,platelet,plasenta,tulang dan ginjal.TGF- merupakan salah satu faktor pertumbuhan yang
terdiri dari 30 mavam protein yang sangat labil dalam menjalankan fungsinya.Suatu saat
TGF- dapat berfungsi sebagai faktor pertumbuhan,namun si lain waktu dapat berperan
sebagai penghambat ataupun perangsang.Dewasa ini dikenal sub-set baru dari sel T-helper
yang diberi nama sebagai sel TH3. TH3 berfungsi untuk menjaga toleransi antigen yang masuk
lewat mulut.
Sitokin merupakan golongan protein / glikoprotein / polipeptida yang dihasilkan dari sel
limfosit dan sel lain seperti sel makrofag, eosinofil, sel mast dan sel endotel dengan berat
molekul 8-40 KD. Sitokin telah banyak diteliti dan juga dibahas dalam berbagai fungsi,yaitu
seperti

perannya dalam proses biologi tubuh,proses patogenesis penyakit serta

penggunaannya dalam bidang pengobatan. sehingga dapat disimpulkan bahwa protein juga
penting untuk pertumbuhan dan imunitas.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Protein sangatlah penting, terutama bagi pertumbuhan dan merupakan zat utama
dalam membantu pertumbuhan.
Penggolongan protein berdasarkan bentuknya yaitu protein globular, protein serabut
(fibrous).
Protein merupakan bagian dari sel hidup yang terbesar dalam tubuh setelah air dan
merupakan senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan

polimer dan monomer asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida.
Struktur protein ada 4 tingkatan yaitu, struktur primer, struktur sekunder, struktur

tersier, dan struktur kuartener.


Fungsi protein adalah sebagai katalisis enzimatik, transportasi dan penyimpanan,

koordinasi gerak, penunjang mekanis, proteksi imun dan sebagainya.


Protein dapat memberi asupan energi jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh
karbohidrat dan lemak.

B. SARAN
Protein merupakan penghasil energi terbesar dan asupan protein untuk tubuh haruslah
seimbang, tidak boleh kekurangan dan tidak boleh kelebihan.
Sebaiknya dalam mengkonsumsi makanan tidak hanya yang mengandung protein saja
tapi juga unsur yang lain harus dipenuhi agar dapat seimbang sehingga tidak
menimbulkan kerugian bagi tubuh.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Primasoni, Nawan. Jurnal Manfaat Protein untuk Mendukung Aktifitas Olahraga,
Pertumbuhan, dan Perkembangan Anak Usia Dini.
8

Soeroso Admadi (2007). Sitokin. Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol.5 No.3 halaman 171-180.
Sofro, A. S; W. Lestriana & Haryadi. (1992). Protein Vitamin dan Bahan Ikutan Pangan.
UGM. Yogyakarta.
Suhardji & Clara. M. Kustanto. (1992). Prinsip Ilmu Gizi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Sumardjo, D. (1997). Kimia Kedokteran. Fakultas Kedokteran UNDIP. Semarang.
Terentyev, A. & B. Pavlov. (1954). Organic Chemistry. Foreign Languages Publishing House.
Moscow.
Winarno, F. G. (1992). Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.