Anda di halaman 1dari 24

MODEL REFERENSI TCP/IP

(Jaringan Komputer dan Pengamanan) Dosen : Rozeff Pramana, ST, MT

Pengertian TCP/IP TCP/IP adalah sekumpulan protokol yang didesain untuk memungkinkan terjadinya komunikasi antar komputer. TCP/IP menjadi sangat populer karena apabila kita ingin terkoneksi ke Internet kita harus menggunakan protokol ini, dengan TCP/IP inilah komputer di seluruh dunia dapat saling berkomunikasi. Dalam proses komunikasi data antar komputer melalui internet dibutuhkan suatu protokol yang mengatur proses komunikasi antar piranti elektronik. TCP/IP merupakan protokol yang digunakan untuk mengirim data antar komputer dalam jaringan tanpa adanya batasan perangkat keras maupun perangkat lunak. Protokol ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengiriman data informasi atau kendali melalui jaringan Komputer. Internet protocol (IP), User datagram Protokol (UDP), dan Transmission Control Protocol (TCP) merupakan dasar komunikasi berbasis jaringan. TCP/IP berasal dari 2 protokol, yaitu TCP dan IP. Komunikasi TCP/IP memberikan interface yang sederhana walaupun sebenarnya sangat kompleks. Dengan koneksi TCP/IP, Komputer dapat berfungsi sebagai client atau server.

Sejarah TCP/IP Sejarah TCP/IP dimulainya dari lahirnya ARPANET yaitu jaringan paket switching digital yang didanai oleh DARPA (Defence Advanced Research Projects Agency) pada tahun 1969. Sementara itu ARPANET terus bertambah besar sehingga protokol yang digunakan pada waktu itu tidak mampu lagi menampung jumlah node yang semakin banyak. Oleh karena itu DARPA mendanai pembuatan protokol komunikasi yang lebih umum, yakni TCP/IP. Pada tahun 1974 Vint Cerf dan Bob Khan (perintis Internet), mempublikasikan sebuah tulisan berjudul “A Protocol for Packet Network Interconnection”, tulisan ini menggambarkan tentang Transmission Control Protocol (TCP). TCP menjelaskan bagaimana dua buah host dapat saling berkomunikasi dan bagaimana kedua host ini tetap terkoneksi satu sama lain ketika data dikirim. TCP bertanggung jawab untuk memastikan data diterima di host tujuan. TCP meninggalkan jejak tentang apa yang dikirim dan dikirim ulang (informasi apapun yang tidak berhasil dikirimkan), jika suatu data terlalu besar untuk dikirim sebagai sebuah paket, TCP memecah data tersebut kedalam beberapa paket dan memastikan bahwa seluruh paket yang dikirim dapat sampai di tujuan dengan benar, setelah itu TCP menyusun kembali paket-paket tersebut sesuai dengan urutannya dan kemudian merekonstruksi data yang dikirim. Pada tahun 1978 percobaan dan pengembangan lebih lanjut dari protokol ini mengalami banyak kemajuan yang menggiring para pengembangnya pada sebuah protokol baru yang disebut dengan Transmission Control Protocol/Internet Protocol. Protokol ini menjadi standard ARPANET pada tahun 1983. Untuk memudahkan proses konversi, DARPA juga mendanai suatu proyek yang mengimplementasikan protokol ini ke dalam BSD UNIX, sehingga dimulailah perkawinan antara UNIX dan TCP/IP. Pada awalnya internet digunakan untuk menunjukan jaringan yang menggunakan internet protocol (IP) tapi dengan semakin berkembangnya jaringan, istilah ini sekarang sudah berupa istilah generik yang digunakan untuk semua kelas jaringan. Internet digunakan untuk menunjuk pada komunitas jaringan komputer

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 1

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

1

worldwide yang saling dihubungkan dengan protokol TCP/IP. Perkembangan TCP/IP yang diterima luas dan praktis menjadi standar defacto jaringan komputer berkaitan dengan ciri-ciri yang terdapat pada protokol itu sendiri yang merupakan keunggulun dari TCP/IP, yaitu :

Perkembangan protokol TCP/IP menggunakan standar protokol terbuka sehingga tersedia secara luas. Semua orang bisa mengembangkan perangkat lunak untuk dapat berkomunikasi menggunakan protokol ini. Hal ini membuat pemakaian TCP/IP meluas dengan sangat cepat, terutama dari sisi pengadopsian oleh berbagai sistem operasi dan aplikasi jaringan.

Tidak tergantung pada perangkat keras atau sistem operasi jaringan tertentu sehingga TCP/IP cocok untuk menyatukan bermacam macam network, misalnya Ethernet, token ring, dial-up line, X-25 net dan lain lain.

Cara pengalamatan bersifat unik dalam skala global, memungkinkan komputer dapat mengidentifikasi secara unik komputer yang lain dalam seluruh jaringan, walaupun jaringannya sebesar jaringan worldwide Internet. Setiap komputer yang tersambung dengan jaringan TCP/IP (Internet) akan memiliki address yang hanya dimiliki olehnya. TCP/IP memiliki fasilitas routing dan jenis-jenis layanan lainnya yang memungkinkan diterapkan pada internetwork.

Arah Pengembangan TCP/IP TCP/IP telah berkembang sedemikian rupa hingga sampai pada level yang seperti sekarang. Protokol TCP/IP telah di test, dimodifikasi dan di tingkatkan dari waktu-kewaktu. Protokol TCP/IP yang asli memiliki beberapa tujuan dalam mewujudkan sebuah jaringan komputer yang luas dan mudah dikembangkan, tujuan-tujuan itu diantaranya :

Independensi hardware: sebuah protokol yang dapat digunakan pada Machintosh, PC, Mainframe atau komputer jenis apapun. Independensi software: sebuah protokol harus dapat digunakan oleh produsen dan aplikasi software yang berbeda. Hal ini akan memungkinkan sebuah host pada suatu situs untuk berkomunikasi dengan host lain di situs yang lainnya tanpa memerlukan konfigurasi software yang sama. Rekoveri kesalahan dan penanganan error: sebuah protokol harus mampu memperbaiki kesalahan secara otomatis atas drop atau hilangnya data. Protokol ini harus mampu mencegah/mengembalikan kehilangan/rusaknya data dari host manapun di bagian manapun dari jaringan serta pada point manapun dari pengiriman suatu data.

Protokol yang efisien dengan atribut yang minimal (tidak terlalu banyak tambahan atribut)

Kemampuan untuk menambah koneksi tanpa menggangu servis dalam jaringan.

Routable data: sebuah protokol harus mampu mencari jalan untuk menyampaikan data

sehingga data tersebut dapat sampai ketujuan.

Arsitektur dan Protokol Jaringan TCP/IP Dalam arsitektur jaringan komputer, terdapat suatu lapisan-lapisan ( layer ) yang memiliki tugas spesifik serta memiliki protokol tersendiri. ISO telah mengeluarkan suatu standard untuk arsitektur jaringan komputer yang dikenal dengan nama Open System Interconnection ( OSI ) yang terdiri dari 7 lapisan protokol. Sedangkan TCP/IP dikembangkan dengan mengacu pada model DoD (Departement of Defense). Tidak seperti model OSI, model DoD hanya memiliki empat layer, namun model DoD dapat berfungsi sebagaimana model OSI. Adapun perbandingan antara model OSI dan TCP/IP dengan 4 layer dapat dilihat pada gambar dibawah berikut .

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 2

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

2

Walaupun jumlah lapisannya berbeda, namun semua fungsi dari lapisan-lapisan arsitektur OSI telah tercakup oleh arsitektur TCP/IP. Aplication layer melingkupi; Application, Presentation dan Session Layer pada model OSI. Transport layer serupa dengan transport layer pada model OSI. Internet layer melingkupi network layer dari model OSI. Network Interface layer melingkupi data-link layer dan physical layer pada model OSI.

Layer TCP/IP

(
(

(

(Layer pada TCP/IP)

Lapisan Network (Network Access Layer ) Lapisan ini merupakan lapisan terbawah dari model TCP/IP dengan tanggung jawab utamanya adalah menentukan bagaimana sebuah komputer dapat terkoneksi kedalam suatu jaringan komputer, hal ini sangat penting karena data harus dikirimkan dari dan ke suatu host melalui sambungan pada suatu jaringan. Lapisan ini mendefinisikan besaran fisik seperti media komunikasi, tegangan, arus, dsb. Lapisan

ini dapat bervariasi bergantung pada media komunikasi pada jaringan yang bersangkutan. TCP/IP bersifat fleksibel sehingga dapat mengintegrasikan berbagai jaringan dengan media fisik yang berbeda-beda. Lapisan ini mempunyai fungsi yang mirip dengan Data Link layer pada OSI. Lapisan ini mengatur penyaluran data frame-frame data pada media fisik yang digunakan secara handal. Lapisan ini biasanya memberikan servis untuk deteksi dan koreksi kesalahan dari data yang ditransmisikan. Beberapa contoh protokol yang digunakan pada lapisan ini adalah X.25 jaringan publik, Ethernet untuk jaringan Etehernet, AX.25 untuk jaringan Paket Radio dsb.

Lapisan Internet (Protokol Internet) Internet layer dari model TCP/IP berada diantara network interface layer dan transport layer. Lapisan ini betanggung jawab atas pengiriman data melalui antar jaringan (melintasi beberapa jaringan). Lapisan ini mendefinisikan bagaimana hubungan dapat terjadi antara dua pihak yang berada pada jaringan yang berbeda seperti Network Layer pada OSI. Pada jaringan Internet yang terdiri atas puluhan juta host dan ratusan ribu jaringan lokal, lapisan ini bertugas untuk menjamin agar suatu paket yang dikirimkan dapat menemukan tujuannya dimana pun berada. Oleh karena itu, lapisan ini memiliki peranan penting terutama dalam mewujudkan internetworking yang meliputi wilayah luas (worldwide Internet). Beberapa tugas penting pada lapisan ini adalah :

Addressing, yakni melengkapi setiap datagram dengan alamat Internet dari tujuan. Alamat pada protokol inilah yang dikenal dengan Internet Protocol Address ( IP Address). Karena pengalamatan (addressing) pada jaringan TCP/IP berada pada level ini (software), maka jaringan TCP/IP independen dari jenis media dan komputer yang digunakan.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 3

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

3

Routing, yakni menentukan ke mana datagram akan dikirim agar mencapai tujuan yang diinginkan. Fungsi ini merupakan fungsi terpenting dari Internet Protocol (IP). Sebagai protokol yang bersifat connectionless, proses routing sepenuhnya ditentukan oleh jaringan. Pengirim tidak memiliki kendali terhadap paket yang dikirimkannya untuk bisa mencapai tujuan. Router-router pada jaringan TCP/IP lah yang sangat menentukan dalam penyampaian datagram dari penerima ke tujuan.

Internet layer terdiri dari beberapa protokol diantaranya :

Address Resolution Protokol (ARP) Reverse Address Resolution Protocol (RARP) Internet Control Message Protokol (ICMP) Internet Protokol (IP)

Address Resolution Protokol (ARP) IP Address adalah 32 bit address yang diperlukan oleh software untuk mengidentifikasikan

host pada jaringan, namun identitas yang sebenarnya diatur oleh NIC yang juga mempunyai address tunggal yang disebut MAC address (Ethernet address). Ethernet address terdiri dari 48 bit, 24 ID dari manufaktur dan 24 bit sisanya adalah nomor urut/sequence number. Oleh karena itu setiap Ethernet card selalu mempunyai address tunggal yang berlaku untuk seluruh dunia. Secara internal ARP melakukan resolusi address tersebut dan ARP berhubungan langsung dengan data link layer. ARP mengolah sebuah tabel yang berisi IP address dan Ethernet address. Reverse Address Resolution Protocol (RARP) RARP digunakan oleh komputer yang belum mempunyai nomor IP. Pada saat komputer di nyalakan/ON, maka komputer tersebut melakukan broadcast ke jaringan untuk menanyakan apakah ada server yang dapat memberikan nomor IP untuk dirinya. Contoh server yang memberikan nomor IP adalah DHCP (Dynamic Host Configuration Protokol). Paket broadcast tersebut dikirim beserta dengan MAC Address dari si pengirim. Server DHCP yang mendengar request tersebut akan menjawabnya dengan memberikan nomor IP dan waktu pinjam (least time). Internet Control Message Protokol (ICMP) ICMP diperlukan oleh Internet Protocol untuk memberikan informasi tentang error yang terjadi antara host. Beberapa laporan yang disampaikan ICMP antara lain :

- Destination unreachable ; Terjadi jika host, jaringan, port atau protokol tertentu tidak dapat dijangkau.

- Time exceded ; Dimana Data gram tidak dapat dikirim karena time to live habis.

- Parameter problem ; Terjadi kesalahan parameter dimana kesalahan terdeteksi.

- Source quench ; Terjadi karena router/host tujuan membuang datagram karena batasan ruang buffer atau karena datagram tidak dapat diproses.

- Redirect ; Pesan ini memberi saran pada host asal datagram mengenai router yang lebih tepat untuk menerima datagram tersebut.

- Echo request dan Echo reply message ; Pesan ini saling mempertukarkan data antara host.

IP (Internet Protocol) Protokol IP merupakan inti dari protokol TCP/IP. Seluruh data yang berasal protokol pada layer diatas harus dilewatkan, diolah oleh protokol IP dan dipancarkan sebagai paket IP agar

sampai ke tujuan. Sifat dari IP adalah UNRELIABLE dan CONNECTIONLESS.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 4

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

4

Unreliable (ke-tidak-handal-an) berarti protokol IP tidak menjamin datagram yang dikirim akan sampai ke tempat tujuan. Protokol IP hanya berjanji bahwa ia akan berusaha sebaik munkin untuk menyampaikan paket hingga ke tujuan (best effort delivary service). JIka di perjalanan paket tersebut mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, misal : terdapat jalur putus, router mengalami kongest/macet, host/network tujuan sedang down. Protokol IP hanya memberitahukan ke pengirim paket melalui protokol ICMP, bahwa terjadi masalah dalam pengiriman paket IP ke tujuan. Connectionless berarti dalam mengirim paket ke tujuan, pihak pengirim paket dan penerima paket sama sekali tidak mengadakan perjanjian dulu. Datagram delivery service maksudnya setiap paket data yang dikirim adalah independent terhadap paket data lainya. Akibatnya jalur yang ditempuh oleh masing masing paket data IP ke tujuan bisa jadi berbeda satu dengan yang lainya. Karena jalur yang ditempuh berbeda, kedatagan paket-pun bisa jadi tidak berurtan. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa paket IP sampai ke tujuan walaupun salah satu jalur mengalami masalah.

Lapisan Transport Lapisan ini bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi antara dua host/komputer. Lapisan ini menjamin bahwa informasi yang diterima pada sisi penerima adalah sama dengan informasi yang dikirimkan pada pengirim. Lapisan ini menjadi antarmuka antara proses-proses dan aplikasi lapisan atas ke jaringan dan mengirimkan pesan lapisan atas antara Host.

Transport layer menentukan bagaimana host pengirim dan host penerima dalam membentuk sebuah sambungan sebelum kedua host tersebut berkomunikasi, serta seberapa sering kedua host ini akan mengirim acknowledgment dalam sambungan tersebut satu sama lainnya.

Transport layer memiliki beberapa fungsi penting antara lain :

Flow Control.

Pengiriman data yang telah dipecah menjadi paket-paket tersebut harus diatur sedemikian rupa agar pengirim tidak sampai mengirimkan data dengan kecepatan yang melebihi kemampuan penerima dalam menerima data. Error Detection. Pengirim dan penerima juga melengkapi data dengan sejumlah informasi yang bisa digunakan untuk memeriksa data yang dikirimkan bebas dari kesalahan. Jika ditemukan kesalahan pada paket data yang diterima, maka penerima tidak akan menerima data tersebut. Pengirim akan mengirim ulang paket data yang mengandung kesalahan tadi. Namun hal ini dapat menimbulkan delay yang cukup berarti.

Pada TCP/IP, protokol yang dipergunakan adalah Transmission Control Protocol (TCP) atau User Datagram Protocol ( UDP ). TCP dipakai untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan keandalan data, sedangkan UDP digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan panjang paket yang pendek dan tidak menuntut keandalan yang tinggi. TCP memiliki fungsi flow control dan error detection dan bersifat connection oriented. Sebaliknya pada UDP yang bersifat connectionless tidak ada mekanisme pemeriksaan data dan flow control, sehingga UDP disebut juga unreliable protocol. Untuk beberapa hal yang menyangkut efisiensi dan penyederhanaan, beberapa aplikasi memilih menggunakan UDP sebagai protokol transport. Contohnya adalah aplikasi database yang hanya bersifat query dan response, atau aplikasi lain yang sangat sensitif terhadap delay seperti video

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 5

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

5

conference. Aplikasi seperti ini dapat mentolerir sedikit kesalahan (gambar atau suara masih bisa dimengerti), namun akan tidak nyaman untuk dilihat jika terdapat delay yang cukup berarti.

Lapisan Aplikasi (Application Layer) Aplication layer adalah lapisan terakhir dalam arsitektur TCP/IP dimana permintaan data atau servis diproses. Aplikasi pada layer ini menunggu di portnya masing-masing dalam suatu antrian

untuk diproses. Pada layer ini

TCP/IP. Lapisan ini menyajikan pelayanan akhir (end user service), seperti transfer file, pesan elektronik (electronic messages), emulasi terminal virtual, dan akses basis data jarak jauh (remote database access). Lapisan ini berfungsi mendefinisikan aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada jaringan. Karena itu, terdapat banyak protokol pada lapisan ini, sesuai dengan banyaknya aplikasi TCP/IP yang dapat dijalankan. Contohnya adalah SMTP ( Simple Mail Transfer Protocol ) untuk pengiriman e-mail, FTP (File Transfer Protocol) untuk transfer file, HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) untuk aplikasi web, NNTP (Network News Transfer Protocol) untuk distribusi news group dan lain-lain. Setiap aplikasi pada umumnya menggunakan protokol TCP dan IP, sehingga keseluruhan keluarga protokol ini dinamai dengan TCP/IP.

terdapat

semua

aplikasi

yang menggunakan

protokol

Cara Kerja TCP/IP Pada TCP/IP terjadi penyampaian data dari protokol yang berada di satu layer ke protokol yang berada di layer lain. Setiap protokol memperlakukan informasi yang diterimanya dari protokol lain sebagai data. Jika suatu protokol menerima data dari protokol lain dari layer /lapisan diatasnya, ia akan memberikan informasi tambahan miliknya (header) ke data tersebut. Informasi ini memiliki fungsi yang sesuai dengan fungsi protokol tersebut. Kemudian data ini diteruskan lagi ke protokol pada layer dibawahnya. Hal yang sebaliknya terjadi jika suatu protokol menerima data dari protokol lain yang berada pada layer dibawahnya. Jika data ini dianggap valid, protokol akan melepas informasi tambahan tersebut untuk selanjutnya meneruskan data itu ke protokol lain yang berada pada layer diatasnya. Layer-layer dan protokol yang terdapat dalam arsitektur jaringan TCP/IP menggambarkan fungsi-fungsi dalam komunikasi antara dua buah komputer. Setiap lapisan menerima data dari lapisan di atas atau dibawahnya, kemudian memproses data tersebut sesuai fungsi protokol yang dimilikinya dan meneruskannya ke lapisan berikutnya. Ketika dua komputer berkomunikasi, terjadi aliran data antara pengirim dan penerima melalui lapisan-lapisan di atas. Pada pengirim, aliran data adalah dari atas ke bawah. Data dari user maupun suatu aplikasi dikirimkan ke Lapisan Transport dalam bentuk paket-paket dengan panjang tertentu. Protokol menambahkan sejumlah bit pada setiap paket sebagai header yang berisi informasi mengenai urutan segmentasi untuk menjaga integritas data dan bit-bit pariti untuk deteksi dan koreksi kesalahan. Dari Lapisan Transport, data yang telah diberi header tersebut diteruskan ke Lapisan Internet. Pada lapisan ini terjadi penambahan header oleh protokol yang berisi informasi alamat tujuan, alamat pengirim dan informasi lain yang dibutuhkan untuk melakukan routing. Kemudian terjadi pengarahan routing data, yakni ke network dan interface yang mana data akan dikirimkan, jika terdapat lebih dari satu interface pada host. Pada lapisan ini juga dapat terjadi segmentasi data, karena panjang paket yang akan dikirimkan harus disesuaikan dengan kondisi media komunikasi pada network yang akan dilalui. Proses komunikasi data di atas dapat dijelaskan seperti pada gambar dibawah berikut.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 6

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

6

Selanjutnya data menuju Network Access Layer (Data Link) dimana data akan diolah menjadi frame-frame, menambahkan

Selanjutnya data menuju Network Access Layer (Data Link) dimana data akan diolah menjadi frame-frame, menambahkan informasi keandalan dan address pada level link. Protokol pada lapisan ini menyiapkan data dalam bentuk yang paling sesuai untuk dikirimkan melalui media komunikasi tertentu. Terakhir data akan sampai pada Physical Layer yang akan mengirimkan data dalam bentuk besaran-besaran listrik/fisik

seperti tegangan, arus, gelombang radio maupun cahaya, sesuai media yang digunakan. (Proses Komunikasi Data Antar Layer TCP/IP)

Di bagian penerima, proses

Data Antar Layer TCP/IP ) Di bagian penerima, proses pengolahan data mirip seperti di atas hanya

pengolahan data mirip seperti di atas hanya dalam urutan yang berlawanan (dari bawah ke atas). Sinyal yang diterima pada physical layer akan diubah dalam ke dalam data. Protokol akan memeriksa integritasnya dan jika tidak ditemukan error, header yang ditambahkan akan dilepas.

Selanjutnya data diteruskan ke lapisan network. Pada lapisan ini, address tujuan dari paket data yang diterima akan diperiksa. Jika address tujuan merupakan address host yang bersangkutan, maka header lapisan network akan dicopot dan data akan diteruskan ke lapisan yang diatasnya. Namun jika tidak, data akan di forward ke network tujuannya, sesuai dengan informasi routing yang dimiliki.

Pada lapisan Transport, kebenaran data akan diperiksa kembali, menggunakan informasi

header yang dikirimkan oleh pengirim. Jika tidak ada kesalahan, paket-paket data yang diterima akan disusun kembali sesuai urutannya pada saat akan dikirim dan diteruskan ke lapisan aplikasi pada penerima. Proses yang dilakukan tiap lapisan tersebut dikenal dengan istilah enkapsulasi data. Enkapsulasi ini sifatnya transparan. Maksudnya, suatu lapisan tidak perlu mengetahui ada berapa lapisan yang ada di atasnya maupun di bawahnya. Masing-masing hanya mengerjakan tugasnya. Pada pengirim, tugas ini adalah menerima data dari lapisan diatasnya, mengolah data tersebut sesuai dengan fungsi protokol, menambahkan header protokol dan meneruskan ke lapisan di bawahnya. Pada penerima, tugas ini adalah menerima data dari lapisan di bawahnya, mengolah data sesuai fungsi protokol, mencopot header protokol tersebut dan meneruskan ke lapisan di atasnya.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 7

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

7

Komponen Fisik pada Jaringan TCP/IP Repeater

Komponen Fisik pada Jaringan TCP/IP Repeater Fungsi utama dari repeater adalah menerima sinyal dari satu segmen

Fungsi utama dari repeater adalah menerima sinyal dari satu segmen kabel LAN dan memancarkannya kembali dengan kekuatan yang sama dengan sinyal asli pada segmen (satu atau lebih) kabel lan yang lain. Dengan adanya repeater ini, jarak antara dua jaringan komputer bisa diperjauh.

Bridge

jarak antara dua jaringan komputer bisa diperjauh. Bridge Bridge bekerja dengan meneruskan paket ethernet dari satu

Bridge bekerja dengan meneruskan paket ethernet dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Bridge dapat menghubungkan jaringan yang menggunakan metode transmisi yang berbeda dan/atau medium access control yang berbeda.

Switch

berbeda dan/atau medium access control yang berbeda. Switch Switch berfungsi sama denga Bridge, Switch adalah

Switch berfungsi sama denga Bridge, Switch adalah pengembangan dari Bridge. Pada awalnya Bridge diimplementasikan dengan basis software (software based), sedangkan Switch menggunakan implementasi hardware dalam bentuk ASIC (Application Specific Integrated Circuit).

Hub

bentuk ASIC (Application Specific Integrated Circuit). Hub Fungsi hub sama halnya dengan fungsi switch, hanya saja

Fungsi hub sama halnya dengan fungsi switch, hanya saja switch punya kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan dengan hub. HUB atau Switch digunakan untuk menghubungkan setiap node dalam jaringan LAN. Perbedaan antara HUB dan Switch adalah kecepatan transfer datanya. Sebuah Hub adalah sebuah perangkat yang menyatukan kabel-kabel network dari tiap-tiap workstation, server atau perangkat lain.

Router

tiap-tiap workstation, server atau perangkat lain. Router Router memiliki kemampuan melewatkan paket IP dari satu

Router memiliki kemampuan melewatkan paket IP dari satu jaringan ke jaringan yang lain yang mungkin memiliki banyak jalur di antara keduanya. Router dapat digunakan untuk menghubungkan sejumlah LAN (Local Area Network).

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 8

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

8

Ethernet

Ethernet Ethernet adalah interface yang merupakan sebuah card yang terhubung ke card yang lain ke ethernet

Ethernet adalah interface yang merupakan sebuah card yang terhubung ke card yang lain ke ethernet hub dan kabel UTP atau hanya menggunakan sebuah kabel BNC yang diterminasi di ujungnya. Pada umumnya kabel yang digunakan pada ethernet terbagi menjadi 3, yakni :10base5, 10base2 dan UTP. Sistem 10Base5 menggunakan kabel coaxial berdiameter 0,5 inch(10 mm) sebagai media penghubung berbentuk bus seperti pada gambar dibawah. Pada kedua ujung kebelnya diberi konsentrator sehingga mempunyai resistansi sebesar 50 ohm. Jika menggunakan 10Base5, satu segmen jaringan bisa sepanjang maksimal 500 m, bahkan jika dipasang penghubung (repeater) sebuah jaringan bisa mencapai panjang maksimum 2,5 km. 10Base2 mempunyai struktur jaringan berbentuk bus. Hanya saja kabel yang digunakan lebih kecil, berdiameter 5

mm dengan jenis twisted pair. panjang maksimal

berdiameter 5 mm dengan jenis twisted pair. panjang maksimal sebuah segmennya menjadi lebih pendek, sekitar 185
berdiameter 5 mm dengan jenis twisted pair. panjang maksimal sebuah segmennya menjadi lebih pendek, sekitar 185
berdiameter 5 mm dengan jenis twisted pair. panjang maksimal sebuah segmennya menjadi lebih pendek, sekitar 185

sebuah segmennya menjadi lebih pendek, sekitar 185

m, dan bisa disambbung sampai 5 segmen menjadi sekitar 925 m. Sebuah segmen hanya mampu

menampung tidak lebih dari 30 unit komputer saja.

Pada jaringan ini pun diperlukan konsentrator yang

membuat ujung-ujung media transmisi busnya menjadi beresistansi 50 ohm. Untuk jenis konektor dipakai jenis BNC (gambar disamping). Berbeda dengan 2 jenis jaringan diatas, 10BaseT berstruktur bintang (star) seperti terlihat di gambar di bawah. Tidak diperlukan MAU kerena sudah termasuk didalam NIC-nya. Sebagai pengganti konsentrator dan repeater diperlukan hub karena

jaringan berbentuk star. Panjang sebuah segmen jaringan maksimal 100 m, dan setiap hub bisa

dihubungkan untuk memperpanjang jaringan sampai 4

unit sehingga maksimal komputer tersambung bisa

mencapai 1024 unit (gambar disamping).

Internet Protocol

Internet Protocol (IP) berfungsi menyampaikan paket data ke alamat yang tepat. Oleh karena itu Internet Protokol memegang peranan yang sangat penting dari jaringan TCP/IP. Karena semua aplikasi jaringan TCP/IP pasti bertumpu kepada Internet Protocol agar dapat berjalan dengan baik. IP merupakan protokol pada network layer yang bersifat :

Connectionless, yakni setiap paket data yang dikirim pada suatu saat akan melalui rute secara independen. Paket IP (datagram) akan melalui rute yang ditentukan oleh setiap router yang

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 9

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

9

dilalui oleh datagram tersebut. Hal ini memungkinkan keseluruhan datagram tiba di tempat tujuan dalam urutan yang berbeda karena menempuh rute yang berbeda pula. Unreliable, atau ketidak andalan yakni Protokol IP tidak menjamin datagram yang dikirim pasti sampai ke tempat tujuan. Ia hanya akan melakukan best effort delivery yakni melakukan usaha sebaik-baiknya agar paket yang dikirim tersebut sampai ke tujuan.

Suatu datagram bisa saja tidak sampai dengan selamat ke tujuan karena beberapa hal berikut :

Adanya bit error pada saat pentransmisian datagram pada suatu medium. Router yang dilewati mendiscard datagram karena terjadinya kongesti dan kekurangan ruang memori buffer. Putusnya rute ke tujuan untuk sementara waktu akibat adanya router yang down. Terjadinya kekacauan routing, sehingga datagram mengalami looping.

IP juga didesain untuk dapat melewati berbagai media komunikasi yang memiliki karakteristik dan kecepatan yang berbeda-beda. Pada jaringan Ethernet, panjang satu datagram akan lebih besar dari panjang datagram pada jaringan publik yang menggunakan media jaringan telepon, atau pada jaringan wireless. Perbedaan ini semata-mata untuk mencapai throughput yang baik pada setiap media. Pada umumnya, semakin cepat kemampuan transfer data pada media tersebut, semakin besar panjang datagram maksimum yang digunakan. Akibat dari perbedaan ini, datagram IP dapat mengalami fragmentasi ketika berpindah dari media kecepatan tinggi ke kecepatan rendah (misalnya dari LAN Ethernet 10 Mbps ke leased line menggunakan Point-to-Point Protocol dengan kecepatan 64 kbps).

Pada router/host penerima, datagram yang ter-fragmen ini harus disatukan kembali sebelum diteruskan ke router berikutnya, atau ke lapisan transport pada host tujuan. Hal ini menambah waktu pemrosesan pada router dan menyebabkan delay. Seluruh sifat yang diuraikan pada di atas adalah akibat adanya sisi efisiensi protokol yang dikorbankan sebagai konsekuensi dari keunggulan protokol IP. Keunggulan ini berupa kemampuan menggabungkan berbagai media komunikasi dengan karakteristik yang berbeda-beda, fleksibel dengan perkembangan jaringan, dapat merubah routing secara otomatis jika suatu rute mengalami kegagalan, dsb. Misalnya, untuk dapat merubah routing secara dinamis, dipilih mekanisme routing yang ditentukan oleh kondisi jaringan dan elemen-elemen jaringan (router). Selain itu, proses routing juga harus dilakukan untuk setiap datagram, tidak hanya pada permulaan hubungan. Marilah kita perhatikan struktur header dari protokol IP beserta fungsinya masing-masing. Setiap protokol memiliki bit-bit ekstra diluar informasi/data yang dibawanya. Selain informasi, bit-bit ini juga berfungsi sebagai alat kontrol. Dari sisi efisiensi, semakin besar jumlah bit ekstra ini, maka semakin kecil efisiensi komunikasi yang berjalan. Sebaliknya semakin kecil jumlah bit ekstra ini, semakin tinggi efisiensi komunikasi yang berjalan. Disinilah dilakukan trade-off antara keandalan datagram dan efisiensi. Sebagai contoh, agar datagram IP dapat menemukan tujuannya, diperlukan informasi tambahan yang harus dicantumkan pada header

diperlukan informasi tambahan yang harus dicantumkan pada header FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 10
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 10

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

10

ini. Struktur header datagram protokol IP dapat dilihat pada gambar diatas. Setiap paket IP membawa data yang terdiri atas :

Version, yaitu versi dari protokol IP yang dipakai.

Header Length, berisi panjang dari header paket IP dalam hitungan 32 bit word.

Type of Service, berisi kualitas service yang dapat mempengaruhi cara penanganan paket IP.

Total length Of Datagram, panjang IP datagram total dalam ukuran byte.

Identification, Flags, dan Fragment Offset, berisi data yang berhubungan fragmentasi paket.

Time to Live, berisi jumlah router/hop maksimal yang dilewati paket IP (datagram). Nilai maksimum field ini adalah 255. Setiap kali paket IP lewat satu router, isi dari field ini dikurangi satu. Jika TTL telah habis dan paket tetap belum sampai ke tujuan, paket ini akan dibuang dan router terakhir akan mengirimkan paket ICMP time exceeded. Hal ini dilakukan untuk mencegah paket IP terus menerus berada dalam network. Protocol, mengandung angka yang mengidentifikasikan protokol layer atas pengguna isi data dari paket IP ini. Header Checksum, berisi nilai checksum yang dihitung dari jumlah seluruh field dari header

paket IP. Sebelum dikirimkan, protokol IP terlebih dahulu menghitung checksum dari header paket IP tersebut untuk nantinya dihitung kembali di sisi penerima. Jika terjadi perbedaan, maka paket ini dianggap rusak dan dibuang. Source Address dan Destination Address, isi dari masingmasing field ini cukup jelas, yakni alamat pengirim dan alamat penerima dari datagram. Masing-masing field terdiri dari 32 bit, sesuai panjang IP Address yang digunakan dalam Internet. Destination address merupakan field yang akan dibaca oleh setiap router untuk menentukan kemana paket IP tersebut akan diteruskan untuk mencapai destination address tersebut.

IP ADDRESS IP address digunakan sebagai alamat dalam hubungan antar host di internet sehingga merupakan sebuah sistem komunikasi yang universal karena merupakan metode pengalamatan yang telah diterima di seluruh dunia. Dengan menentukan IP address berarti kita telah memberikan identitas yang universal bagi setiap interface komputer. Setiap komputer yang tersambung ke internet setidaknya harus memiliki sebuah IP address pada setiap interfacenya. Jika suatu komputer memiliki lebih dari satu interface (misalkan menggunakan dua ethernet) maka kita harus memberi dua IP address untuk komputer tersebut masing-masing untuk setiap interfacenya. Jadi sebuah IP address sesungguhnya tidak merujuk ke sebuah komputer, tetapi ke sebuah interface.

Format IP Adress IP address merupakan sebuah bilangan biner 32 bit yang dipisahkan oleh tanda pemisah berupa titik setiap 8 bitnya. Tiap 8 bit ini disebut sebagai oktet. Bentuk IP address dapat dituliskan sebagai berikut : xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx Jadi IP address ini mempunyai range dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan

11111111.11111111.11111111.11111111.

Notasi IP address dengan bilangan biner seperti ini susah untuk digunakan, sehingga sering ditulis dalam 4 bilangan desimal yang masing-masing dipisahkan oleh 4 buah titik yang lebih dikenal dengan “notasi desimal bertitik”. Setiap bilangan desimal merupakan nilai dari satu oktet IP address.

Contoh hubungan suatu IP address dalam format biner dan desimal adalah sbb :

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 11

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

11

Setiap bagian mampu menampung 255 kemungkinan angka, jadi total alamat IP yang tersedia adalah 255

Setiap bagian mampu menampung 255 kemungkinan angka, jadi total alamat IP yang tersedia adalah 255 x 255 x 255 x 255 = 4.228.250.625 yang dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia. Akan tetapi dalam kenyataannya dalam pengalokasiannya ada batasan - batasan serta kelas tertentu, jadi tidak sembarang salah satu dari 4 milyar kemungkinan alamat IP tersebut dapat dipergunakan begitu saja.

Pembagian Kelas IP Address

alokasi IP Address, baik untuk

host/jaringan tertentu atau untuk keperluan tertentu. IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (net ID) dan bagian host (host ID). Net ID berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan host ID berperan untuk identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam

jaringan yang sama memiliki net ID yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network. IP address dibagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D dan kelas E. Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan jumlahnya. Contohnya IP kelas A dipakai oleh sedikit jaringan namun jumlah host yang dapat ditampung oleh tiap jaringan sangat besar. Kelas D dan E tidak digunakan secara umum, kelas D digunakan bagi jaringan multicast dan kelas E untuk keperluan eksperimental. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut :

Pembagian

kelas-kelas

ini

ditujukan

untuk

mempermudah

Kelas A

Bit pertama IP address kelas A selalu diset dengan nilai 0 (nol).Panjang net ID Kelas A adalah 8 bit dan panjang host ID 24 bit. IP address kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi pada kelas A terdapat 127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16,777,214 host (255x255x255). IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.

untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar. Kelas B Dua bit IP address kelas B

Kelas B Dua bit IP address kelas B selalu diset dengan nilai 10 sehingga byte pertamanya selalu bernilai antara 128-191. Network ID adalah 16 bit pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID, sehingga kalau ada komputer mempunyai IP address 167.205.26.161, network ID = 167.205 dan host ID = 26.161. Pada. IP address kelas B ini mempunyai range IP dari 128.0.xxx.xxx sampai 191.155.xxx.xxx, yakni berjumlah 65.255 network dengan jumlah host tiap network 255 x 255 host

65.255 network dengan jumlah host tiap network 255 x 255 host FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 12

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

12

atau sekitar 65,534 host. Alamat-alamat kelas B dikhususkan untuk jaringan skala menengah hingga skala besar.

Kelas C Tiga bit pertama IP address kelas C selalu diset 110. Network ID terdiri dari 24 bit dan host ID 8 bit sisanya sehingga dapat terbentuk sekitar 2 juta network dengan masing-masing network memiliki 256 host. IP address kelas C digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti LAN.

C digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti LAN. Kelas D IP address kelas D digunakan untuk

Kelas D IP address kelas D digunakan untuk keperluan multicasting. 4 bit pertama IP address kelas D selalu diset 1110 sehingga byte pertamanya berkisar antara 224-239, sedangkan bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan IP address ini. Dalam multicasting tidak dikenal istilah network ID dan host ID.

Kelas E IP address kelas E disediakan sebagai alamat yang bersifat "eksperimental" atau percobaan dan dicadangkan untuk digunakan pada masa depan. IP address kelas E tidak diperuntukkan untuk keperluan umum. 4 bit pertama IP address kelas ini diset 1111 sehingga byte pertamanya berkisar antara 240-255. Sebagai tambahan dikenal juga istilah Network Prefix, yang digunakan untuk IP address yang menunjuk bagian jaringan. Penulisan network prefix adalah dengan tanda slash “/” yang diikuti angka yang menunjukkan panjang network prefix ini dalam bit. Misal untuk menunjuk satu network kelas B 167.205.xxx.xxx digunakan penulisan 167.205/16. Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B.

Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA
Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 13

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

13

Jenis-jenis Alamat (Address) Selain address yang dipergunakan untuk pengenal host, ada beberapa jenis address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan untuk pengenal host. Address tersebut adalah :

Unicast Address Setiap antarmuka jaringan yang menggunakan protokol TCP/IP harus diidentifikasikan dengan menggunakan sebuah alamat logis yang unik, yang disebut dengan alamat unicast (unicast address). Alamat unicast disebut sebagai alamat logis karena alamat ini merupakan alamat yang diterapkan pada lapisan jaringan dalam DARPA Reference Model dan tidak memiliki relasi yang langsung dengan alamat yang digunakan pada lapisan antarmuka jaringan dalam DARPA Reference Model. Sebagai contoh, alamat unicast dapat ditetapkan ke sebuah host dengan antarmuka jaringan dengan teknologi Ethernet, yang memiliki alamat MAC sepanjang 48-bit. Alamat unicast inilah yang harus digunakan oleh semua host TCP/IP agar dapat saling terhubung. Komponen alamat ini terbagi menjadi dua jenis, yakni alamat host (host identifier) dan alamat jaringan (network identifier). Alamat unicast menggunakan kelas A, B, dan C dari kelas-kelas alamat IP yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga ruang alamatnya adalah dari 1.x.y.z hingga 223.x.y.z. Sebuah alamat unicast dibedakan dengan alamat lainnya dengan menggunakan skema subnet mask.

Broadcast Address.

Untuk menghubungi seluruh host di sebuah jaringan, diperlukan alamat khusus yang disebut sebagai alamat broadcast. Address ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu network. Seperti diketahui, setiap datagram IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh datagram tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses datagram tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin mengirim datagram kepada seluruh host yang ada pada networknya ? Tidak efisien jika ia harus membuat replikasi datagram sebanyak jumlah host tujuan. Pemakaian bandwidth akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi datagram-datagram tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima datagram tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada network yang sama harus memiliki broadcast address yang sama dan address tersebut tidak boleh digunakan sebagai IP Address untuk host tertentu. Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 address untuk menerima datagram : pertama adalah IP Addressnya yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada network tempat host tersebut berada. Broadcast address diperoleh dengan membuat bit-bit host pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address 167.205.9.35 atau 167.205.240.2, broadcast addressnya adalah 167.205.255.255 (2 segmen terakhir dari IP Address tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing.

yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing. Bila komputer dengan IP 192.168.1.1. diatas ingin

Bila komputer dengan IP 192.168.1.1. diatas ingin menghubungi seluruh komputer yang berada di jaringan tersebut, maka ada dua cara, yaitu:

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 14

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

14

1.

Local Broadcast, berupa alamat khusus 255.255.255.255, yang berarti mengirim paket untuk seluruh simpul (node) di jaringan lokal.

2. Directed Broadcast, berupa alamat 192.168.1.255, yaitu mengirim paket ke seluruh simpul (node) yang berada pada jaringan 192.168.1.0.

Dengan demikian alamat didefinisikan sebagai berikut :

- Nomor jaringan didefinisikan dengan memberikan binary 0 untuk seluruh bit di host id.

- Nomor broadcast didefinisikan dengan memberikan binary 1 untuk seluruh bit di host id. Sehingga satu jaringan seperti contoh di atas terdiri atas :

-

Network id : 192.168.1.0

-

Nomor IP pertama: 192.168.1.1

-

Nomor IP terakhir:

192.168.1.254

-

Nomor IP broadcast: 192.168.1.255

Multicast Address.

Kelas address A, B dan C adalah address yang digunakan untuk komunikasi antar host, yang menggunakan datagram-datagram unicast. Artinya, datagram/paket memiliki address tujuan berupa satu host tertentu. Hanya host yang memiliki IP address sama dengan destination address pada datagram yang akan menerima datagram tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Jika datagram ditujukan untuk seluruh host pada suatu jaringan, maka field address tujuan ini akan berisi alamat broadcast dari jaringan yang bersangkutan. Dari dua mode pengiriman ini (unicast dan broadcast), muncul pula mode ke tiga. Diperlukan suatu mode khusus jika suatu host ingin berkomunikasi dengan beberapa host sekaligus (host group), dengan hanya mengirimkan satu datagram saja. Namun berbeda dengan mode broadcast, hanya host-host yang tergabung dalam suatu group saja yang akan menerima datagram ini, sedangkan host lain tidak akan terpengaruh. Oleh karena itu, dikenalkan konsep multicast. Pada konsep ini, setiap group yang menjalankan aplikasi bersama mendapatkan satu multicast address. Struktur kelas multicast address dapat dilihat pada gambar disamping.

kelas multicast address dapat dilihat pada gambar disamping. Untuk keperluan multicast, sejumlah IP Address dialokasikan

Untuk keperluan multicast, sejumlah IP Address dialokasikan sebagaI multicast address. Jika struktur IP Address mengikuti bentuk 1110xxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (bentuk desimal 224.0.0.0 sampai 239.255.255.255), maka IP Address merupakan multicast address. Alokasi ini ditujukan untuk keperluan group, bukan untuk host seperti pada kelas A, B dan C. Anggota group adalah host-host yang ingin bergabung dalam group tersebut. Anggota ini juga tidak terbatas pada jaringan di satu subnet, namun bisa mencapai seluruh dunia. Karena menyerupai suatu backbone, maka jaringan muticast ini dikenal pula sebagai Multicast Backbone (Mbone).

Alamat IP spesial

Ada beberapa alamat untuk IP yang tidak boleh digunakan sebagai alamat host karena sudah dipakai untuk fungsi-fungsi tertentu yaitu :

Network ID tidak boleh sama dengan 127

Network ID 127.xxx.xxx.xxx (xxx bernilai 0 – 255 ) oleh aplikasi TCP/IP sebagai alamat loopback, yaitu paket yang di tranmisikan kembali diterima oleh buffer computer itu sendiri

15

yang di tranmisikan kembali diterima oleh buffer computer itu sendiri 15 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

tanpa ditransmisikan ke media jaringan, sebagai alamat untuk diagnostic, dan pengecekan konfigurasi TCP/IP. Contoh: ping 127.0.0.1. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 255.

Network ID atau host ID 255 akan diartikan sebagai alamat broadcast yaitu 255.255.255.255. ID ini merupakan alamat yang mewakili seluruh jaringan. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 0 atau nilai 1(dlm desimal 0 atau 255).

IP address dengan host ID 0 diartikan sebagai alamat network. Alamat network digunakan untuk menunjuk suatu jaringn bukan suatu host. Dan nilai 255 sebagai alamat broadcast atau multicast atau netmask. Host ID harus unik dalam suatu network. Dalam suatu network tidak boleh ada dua host yang memiliki host ID yang sama.

Alamat Private. Dari alamat kelas yang ada tidak semuanya dipakai untuk publik seperti internet yang memerlukan registrasi. Ada alamat-alamat yang dapat kita pakai sebagai alamat jaringan yang disebut sebagai private address. Alamat tersebut adalah ; Untuk kelas A : 10.0.0.1 – 10.255.255.254 Untuk kelas B : 172.16.0.1 – 172.31.255.254 Untuk kelas C : 192.168.0.1 – 192.168.255.254

Subnet mask/ Subnetting

Untuk beberapa alasan yang menyangkut efisiensi IP Address, mengatasi masalah topologi network dan organisasi, network administrator biasanya melakukan subnetting. Esensi dari subnetting adalah “memindahkan” garis pemisah antara bagian network dan bagian host dari suatu IP Address. Beberapa bit dari bagian host dialokasikan menjadi bit tambahan pada bagian network. Address satu network menurut struktur baku dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini

menciptakan sejumlah network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut. Subnet mask adalah angka biner 32 bit yang digunakan untuk :

- membedakan network id dan host id .

- menunjukan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar.

Bit-bit subnet mask yang didefinisikan, adalah sebagai berikut:

Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1. Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0.

Dalam subnetting, proses yang dilakukan adalah memakai sebagian bit host id untuk membentuk subnet id. Dengan demikian jumlah bit yang digunakan untuk host id lebih sedikit. Semakin panjang subnet id, jumlah subnet yang dapat dibentuk semakin banyak, namun jumlah host dalam tiap subnet menjadi lebih sedikit. Hal ini ditunjukkan seperti pada gambar berikut .

Network ID

Host ID

Network ID

Subnet ID

Host ID

<-----Extended Network Prefix------>

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 16

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

16

Dengan adanya subnet id ini, network prefix tidak lagi sama dengan network id. Network prefix yang baru adalah network id ditambah subnet id. Untuk membedakannya dengan network prefix lama, digunakan istilah extended network prefix.

Subnetting juga dilakukan untuk mengatasi perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan dalam suatu network. Router IP dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda hanya jika setiap network memiliki address network yang unik. Selain itu, dengan subnetting, seorang Network Administrator dapat mendelegasikan pengaturan host address seluruh departemen dari suatu perusahaan besar kepada setiap departemen, untuk memudahkannya dalam mengatur keseluruhan network. Suatu subnet didefinisikan dengan mengimplementasikan masking bit (subnet mask ) kepada IP Address. Struktur subnet mask sama dengan struktur IP Address, yakni terdiri dari 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Bit-bit dari IP Address yang “ditutupi” (masking) oleh bit-bit subnet mask yang aktif dan bersesuaian akan diinterpretasikan sebagai network bit. Bit 1 pada subnet mask berarti mengaktifkan masking ( on ), sedangkan bit 0 tidak aktif (off ). Sebagai contoh kasus, mari kita ambil satu IP Address kelas A dengan nomor 44.132.1.20. Ilustrasinya dapat dilihat Tabel berikut :

Dengan aturan standard, nomor network IP Address ini adalah 44 dan nomor host adalah 132.1.20. Network tersebut dapat menampung maksimum lebih dari 16 juta host yang terhubung langsung. Misalkan pada address ini akan akan diimplementasikan subnet mask sebanyak 16 bit 255.255.0.0.(Hexa = FF.FF.00.00 atau Biner = 11111111.11111111.00000000.00000000 ). Perhatikan bahwa pada 16 bit pertama dari subnet mask tersebut berharga 1, sedangkan 16 bit berikutnya 0. Dengan demikian, 16 bit pertama dari suatu IP Address yang dikenakan subnet mask tersebut akan dianggap sebagai network bit. Nomor network akan berubah menjadi 44.132 dan nomor host menjadi 1.20. Kapasitas maksimum host yang langsung terhubung pada network menjadi sekitar 65 ribu host. Subnet mask di atas identik dengan standard IP Address kelas B. Dengan menerapkan subnet mask tersebut pada satu network kelas A, dapat dibuat 256 network baru dengan kapasitas masing-masing subnet setara network kelas B. Penerapan subnet yang lebih jauh seperti 255.255.255.0 ( 24 bit ) pada kelas A akan menghasilkan jumlah network yang lebih besar ( lebih dari 65 ribu network ) dengan kapasitas masing-masing subnet sebesar 256 host. Network kelas C juga dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa subnet dengan menerapkan subnet mask yang lebih tinggi seperti untuk 25 bit (255.255.255.128), 26 bit (255.255.255.192), 27 bit (255.255.255.224) dan seterusnya.

bit (255.255.255.192), 27 bit (255.255.255.224) dan seterusnya. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 17
bit (255.255.255.192), 27 bit (255.255.255.224) dan seterusnya. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 17
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 17

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

17

Subnetting dilakukan pada saat konfigurasi interface. Penerapan subnet mask pada IP Address akan mendefinisikan 2 buah address baru, yakni Network Address dan Broadcast Address. Network address didefinisikan dengan menset seluruh bit host berharga 0, sedangkan broadcast address dengan menset bit host berharga 1. Seperti yang telah dijelasakan pada bagian sebelumnya, network address adalah alamat network yang berguna pada informasi routing. Suatu host yang tidak perlu mengetahui address seluruh host yang ada pada network yang lain. Informasi yang dibutuhkannya hanyalah address dari network yang akan dihubungi serta gateway untuk mencapai network tersebut. Ilustrasi mengenai subnetting, network address dan broadcast address dapat dilihat pada Tabel. Dari tabel dapat disimpulkan bagaimana nomor network standard dari suatu IP Address diubah menjadi nomor subnet / subnet address melalui subnetting. Subnetting hanya berlaku pada network lokal. Bagi network di luar network lokal, nomor network yang dikenali tetap nomor network standard menurut kelas IP Address.

Subnet mask adalah angka biner sepanjang 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID

Alamat Subnet

dengan host ID dan memeriksa apakah suatu node berada pada jaringan yang sama atau jaringan luar. Setiap host di dalam sebuah jaringan yang menggunakan TCP/IP membutuhkan sebuah subnet mask meskipun berada di dalam sebuah jaringan dengan satu segmen saja. Entah itu subnet mask default (yang digunakan ketika memakai network identifier berbasis kelas) ataupun subnet mask yang dikustomisasi (yang digunakan ketika membuat sebuah subnet atau supernet) harus dikonfigurasikan di dalam setiap node TCP/IP. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk merepresentasikan subnet mask, yakni:

Notasi Desimal Bertitik

Notasi Panjang Prefiks Jaringan

Desimal Bertitik Sebuah subnet mask biasanya diekspresikan di dalam notasi desimal bertitik (dotted decimal notation), seperti halnya alamat IP. Setelah semua bit diset sebagai bagian network identifier dan host identifier, hasil nilai 32-bit tersebut akan dikonversikan ke notasi desimal bertitik. Perlu dicatat, bahwa meskipun direpresentasikan sebagai notasi desimal bertitik, subnet mask bukanlah sebuah alamat IP. Subnet mask default dibuat berdasarkan kelas-kelas alamat IP dan digunakan di dalam jaringan TCP/IP yang tidak dibagi ke alam beberapa subnet. Tabel di bawah ini menyebutkan beberapa subnet mask default dengan menggunakan notasi desimal bertitik. Formatnya adalah:

<alamat IP www.xxx.yyy.zzz>, <subnet mask www.xxx.yyy.zzz>

, <subnet mask www.xxx.yyy.zzz> Nilai subnet mask default (desimal) di atas dapat
, <subnet mask www.xxx.yyy.zzz> Nilai subnet mask default (desimal) di atas dapat

Nilai subnet mask default (desimal) di atas dapat dikustomisasi oleh administrator jaringan, saat melakukan proses pembagian jaringan (subnetting atau supernetting). Sebagai contoh, alamat 138.96.58.0 merupakan sebuah network identifier dari kelas B yang telah dibagi ke beberapa subnet dengan menggunakan bilangan 8-bit. Kedelapan bit tersebut yang digunakan sebagai host identifier

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 18

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

18

akan digunakan untuk menampilkan network identifier yang telah dibagi ke dalam subnet. Subnet yang digunakan adalah total 24 bit sisanya (255.255.255.0) yang dapat digunakan untuk mendefinisikan custom network identifier. Network identifier yang telah di-subnet-kan tersebut serta subnet mask yang digunakannya selanjutnya akan ditampilkan dengan menggunakan notasi sebagai berikut : > 138.96.58.0, 255.255.255.0

Panjang prefiks (prefix length) Karena bit-bit network identifier harus selalu dipilih di dalam sebuah bentuk yang berdekatan dari bit-bit ordo tinggi, maka ada sebuah cara yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah subnet mask dengan menggunakan bit yang mendefinisikan network identifier sebagai sebuah network prefix dengan menggunakan notasi network prefix seperti tercantum di dalam tabel di bawah ini. Notasi network prefix juga dikenal dengan sebutan notasi Classless Inter-Domain Routing (CIDR) yang didefinisikan di dalam RFC 1519. Formatnya adalah sebagai berikut:

/<jumlah bit yang digunakan sebagai network identifier>

bit yang digunakan sebagai network identifier> Sebagai contoh, network identifier kelas B dari 138.96.0.0

Sebagai contoh, network identifier kelas B dari 138.96.0.0 yang memiliki subnet mask 255.255.0.0 dapat direpresentasikan di dalam notasi prefix length sebagai 138.96.0.0/16. Karena semua host yang berada di dalam jaringan yang sama menggunakan network identifier yang sama, maka semua host yang berada di dalam jaringan yang sama harus menggunakan network

identifier yang sama yang didefinisikan oleh subnet mask yang sama pula. Sebagai contoh, notasi 138.23.0.0/16 tidaklah sama dengan notasi 138.23.0.0/24, dan kedua jaringan tersebut tidak berada

di dalam ruang alamat yang sama. Network identifier 138.23.0.0/16 memiliki range alamat IP yang

valid mulai dari 138.23.0.1 hingga 138.23.255.254; sedangkan network identifier 138.23.0.0/24 hanya

memiliki range alamat IP yang valid mulai dari 138.23.0.1 hingga 138.23.0.254.

Menentukan alamat Network Identifier Untuk menentukan network identifier dari sebuah alamat IP dengan menggunakan sebuah subnet mask tertentu, dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah operasi matematika, yaitu dengan menggunakan operasi logika perbandingan AND (AND comparison). Di dalam sebuah AND comparison, nilai dari dua hal yang diperbandingkan akan bernilai true hanya ketika dua item tersebut bernilai true; dan menjadi false jika salah satunya false. Dengan mengaplikasikan prinsip ini ke dalam

bit-bit, nilai 1 akan didapat jika kedua bit yang diperbandingkan bernilai 1, dan nilai 0 jika ada salah satu di antara nilai yang diperbandingkan bernilai 0. Cara ini akan melakukan sebuah operasi logika AND comparison dengan menggunakan 32-bit alamat

IP dan dengan 32-bit subnet mask, yang dikenal dengan operasi bitwise logical AND comparison. Hasil

dari operasi bitwise alamat IP dengan subnet mask itulah yang disebut dengan network identifier.

Contoh:

Alamat IP

Subnet Mask 11111111 11111111 11110000 00000000 (255.255.240.000) ------------------------------------------------------------------ AND

Network ID

10000011 01101011 10100100 00011010 (131.107.164.026)

10000011 01101011 10100000 00000000 (131.107.160.000)

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 19

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

19

Tabel Pembuatan Subnet Subnetting Alamat IP Kelas A Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas A.

dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas A. Subnetting Alamat IP Kelas B FAKULTAS TEKNIK

Subnetting Alamat IP Kelas B

dengan network identifier kelas A. Subnetting Alamat IP Kelas B FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 20

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

20

Subnetting Alamat IP Kelas C Variable-length Subnetting Bahasan di atas merupakan sebuah contoh dari subnetting

Subnetting Alamat IP Kelas C

Subnetting Alamat IP Kelas C Variable-length Subnetting Bahasan di atas merupakan sebuah contoh dari subnetting yang

Variable-length Subnetting Bahasan di atas merupakan sebuah contoh dari subnetting yang memiliki panjang tetap (fixed length subnetting), yang akan menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama. Meskipun demikian, dalam kenyataannya segmen jaringan tidaklah seperti itu. Beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih banyak alamat IP dibandingkan lainnya, dan beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih sedikit alamat IP. Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting seperti ini disebut juga variable- length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM). Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli. Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 21

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

21

Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host. Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.

Perbandingan model OSI dengan TCP/IP.

Walaupun jumlahnya berbeda, namun semua fungsi dari lapisan-lapisan arsitektur OSI telah tercakup oleh arsitektur TCP/IP. Adapun rincian fungsi masing-masing layer arsitektur TCP/IP adalah sbb :

Physical Layer (lapisan fisik) merupakan lapisan terbawah yang mendefinisikan besaran fisik seperti media komunikasi, tegangan, arus, dsb. Lapisan ini dapat bervariasi bergantung pada media komunikasi pada jaringan yang bersangkutan. TCP/IP bersifat fleksibel sehingga dapat mengintegralkan berbagai jaringan dengan media fisik yang berbeda- beda.

Network Access Layer mempunyai fungsi yang mirip dengan Data Link layer pada OSI. Lapisan ini mengatur penyaluran data frame-frame data pada media fisik yang digunakan secara handal. Lapisan ini biasanya memberikan servis untuk deteksi dan koreksi kesalahan dari data yang ditransmisikan. Beberapa contoh protokol yang digunakan pada lapisan ini adalah X.25 jaringan publik, Ethernet untuk jaringan Etehernet, AX.25 untuk jaringan Paket Radio dsb. Internet Layer mendefinisikan bagaimana hubungan dapat terjadi antara dua pihak yang berada pada jaringan yang berbeda seperti Network Layer pada OSI. Pada jaringan Internet yang terdiri atas puluhan juta host dan ratusan ribu jaringan lokal, lapisan ini bertugas untuk menjamin agar suatu paket yang dikirimkan dapat menemukan tujuannya dimana pun berada. Oleh karena itu, lapisan ini memiliki peranan penting terutama dlm mewujudkan internetworking yang meliputi wilayah luas (worldwide Internet). Beberapa tugas penting pada lapisan ini adalah :

Addressing, yakni melengkapi setiap datagram dengan alamat Internet dari tujuan. Alamat pada protokol inilah yang dikenal dengan Internet Protocol Address ( IP Address). Karena pengalamatan (addressing) pada jaringan TCP/IP berada pada level ini (software), maka jaringan TCP/IP independen dari jenis media dan komputer yang digunakan.

TCP/IP independen dari jenis media dan komputer yang digunakan. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 22

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

22

Routing, yakni menentukan ke mana datagram akan dikirim agar mencapai tujuan yang diinginkan. Fungsi ini merupakan fungsi terpenting dari Internet Protocol (IP). Sebagai protokol yang bersifat connectionless, proses routing sepenuhnya ditentukan oleh jaringan. Pengirim tidak memiliki kendali terhadap paket yang dikirimkannya untuk bisa mencapai tujuan. Router-router pada jaringan TCP/IP lah yang sangat menentukan dalam penyampaian datagram dari penerima ke tujuan. Transport Layer mendefinisikan cara-cara untuk melakukan pengiriman data antara end to end host secara handal. Lapisan ini menjamin bahwa informasi yang diterima pada sisi penerima adalah sama dengan informasi yang dikirimkan pada pengirim. Untuk itu, lapisan ini memiliki beberapa fungsi penting antara lain :

Flow Control. Pengiriman data yang telah dipecah menjadi paket-paket tersebut harus diatur sedemikian rupa agar pengirim tidak sampai mengirimkan data dengan kecepatan yang melebihi kemampuan penerima dalam menerima data.

yang melebihi kemampuan penerima dalam menerima data. Error Detection. Pengirim dan penerima juga melengkapi data

Error Detection. Pengirim dan penerima juga melengkapi data dengan sejumlah informasi yang bisa digunakan untuk memeriksa data yang dikirimkan bebas dari kesalahan. Jika ditemukan kesalahan pada paket data yang diterima, maka penerima tidak akan menerima

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 23

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

23

data tersebut. Pengirim akan mengirim ulang paket data yang mengandung kesalahan tadi. Namun hal ini dapat menimbulkan delay yang cukup berarti.

Pada TCP/IP, protokol yang dipergunakan adalah Transmission Control Protocol (TCP) atau User Datagram Protocol ( UDP ). TCP dipakai untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan keandalan data, sedangkan UDP digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan panjang paket yang pendek dan tidak menuntut keandalan yang tinggi. TCP memiliki fungsi flow control dan error detection dan bersifat connection oriented. Sebaliknya pada UDP yang bersifat connectionless tidak ada mekanisme pemeriksaan data dan flow control, sehingga UDP disebut juga unreliable protocol. Untuk beberapa hal yang menyangkut efisiensi dan penyederhanaan, beberapa aplikasi memilih menggunakan UDP sebagai protokol transport. Contohnya adalah aplikasi database yang hanya bersifat query dan response, atau aplikasi lain yang sangat sensitif terhadap delay seperti video conference. Aplikasi seperti ini dapat mentolerir sedikit kesalahan (gambar atau suara masih bisa dimengerti), namun akan tidak nyaman untuk dilihat jika terdapat delay yang cukup berarti. Application Layer merupakan lapisan terakhir dalam arsitektur TCP/IP yang berfungsi mendefinisikan aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada jaringan. Karena itu, terdapat banyak protokol pada lapisan ini, sesuai dengan banyaknya aplikasi TCP/IP yang dapat dijalankan. Contohnya adalah SMTP ( Simple Mail Transfer Protocol ) untuk pengiriman e-mail, FTP (File Transfer Protocol) untuk transfer file, HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) untuk aplikasi web, NNTP (Network News Transfer Protocol) untuk distribusi news group dan lain-lain. Setiap aplikasi pada umumnya menggunakan protokol TCP dan IP, sehingga keseluruhan keluarga protokol ini dinamai dengan TCP/IP.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI 24

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

24