Anda di halaman 1dari 10

II.

KAJIAN TEORI

Disposisi Pemahaman Konsep Matematis

Selain mengembangkan kemampuan kognitif, kemampuan afektif juga perlu


dikembangkan

dalam pembelajaran matematika. Hal ini karena keberhasilan

seseorang dalam suatu proses pembelajaran matematika tidak hanya dipengaruhi


oleh faktor kognitif saja melainkan juga kemampuan afektif dan juga psikomotor.
Seperti yang dikatakan Popham ( Depdiknas, 2008) bahwa ranah afektif
menentukan keberhasilan belajar seseorang. Seseorang yang berminat dalam suatu
mata pelajaran akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Salah satu afektif
siswa dalam pembelajaran matematika yang perlu dikemabngkan saat ini yaitu
disposisi pemahaman konsep matematis.
Menurut Gavriel Salomon (Yunarti, 2011:36) disposisi merupakan kumpulan

sikap-sikap pilihan dengan kemampuan yang memungkinkan sikap-sikap pilihan


tadi muncul dengan cara tertentu. Sementara Perhins dan Tishman (Atallah,
2006:4) menggunakan istilah disposisi yang merujuk pada kecenderungan untuk
menunjukkan perilaku dalam kondisi tertentu. Sehingga dari definisi tersebut dapat
dikatakan bahwa disposisi merupakan kecenderungan untuk menunjukkan perilaku

yang memungkinkan perilaku tersebut muncul dengan cara dan kondisi tertentu.
Sedangkan disposisi matematis (Sumarmo, 2005) adalah keinginan, kesadaran dan

9
dedikasi yang kuat pada diri siswa untuk belajar matematika dan melaksanakan
berbagai kegiatan matematika.

Menurut Yuanari (2011: 20-21) seorang siswa akan gagal dalam menyelesaikan soal
jika siswa tersebut sudah kehilangan kepercayaan dirinya, dan ketika siswa
kepercayaan

dirinya

muncul

mereka

dapat

mengembangkan

kemampuan

/keterampilan menggunakan prosedur dan penalaran adaptifnya. Dengan demikian


disposisi matematis merupakan faktor penting dalam menentukan kesuksesan
pendidikan.

Menurut Kilpatrick, Swafford, dan Findel (2001), disposisi matematika adalah


kecenderungan (i) memandang matematika sesuatu yang dapat dipahami, (ii)
merasakan matematika sebagai sesuatu yang berguna dan bermanfaat, (iii) meyakini
usaha yang tekun dan ulet dalam mempelajari matematika akan membuahkan hasil,
dan (iv) melakukan perbuatan sebagai pebelajar dan pekerja matematika yang efektif.

Disposisi matematika siswa berkembang ketika mereka mempelajari aspek


kompetensi lainnya. Sebagai contoh, ketika siswa berusaha membangun pemahaman
konsep matematisnya dalam menyelesaikan persoalan matematika non rutin, sikap
dan keyakinan mereka sebagai seorang pebelajar menjadi lebih positif. Semakin
banyak konsep yang dapat dipahami oleh seorang siswa, maka siswa akan semakin
yakin bahwa matematika itu dapat dikuasai. Sebaliknya, bila siswa jarang diberikan
tantangan berupa persoalan matematika untuk diselesaikan, mereka cenderung
menjadi menghafal dan kurang menguasai konsep, dan pada akhirnya mereka mulai
kehilangan rasa percaya diri sebagai pebelajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa

10
semakin baik pemahaman konsep seorang siswa, semakin tinggi pula tingkat
kepercayaan diri siswa tersebut dalam menjawab soal matematika.

Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi pembelajaran yang


dapat membawa siswa pada pembentukan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Selain itu, pembelajaran berbasis masalah juga memberikan peluang bagi siswa
untuk melakukan penelitian yang berbasis pada masalah nyata dan autentik. Hal
ini sejalan dengan yang dikemukakan Arends (Trianto 2007 : 68) bahwa
pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pembelajaran di mana siswa
mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir
tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Sehingga
dalam proses pembelajaran berbasis masalah terutama untuk pelajaran matematika
hendaknya dimulai dengan mengajukan masalah kontekstual (contextual problem)
agar secara bertahap siswa dibimbing untuk menguasai konsep matematika.
Masalah kontekstual atau masalah kehidupan nyata merupakan salah satu ciri dari
penggunaan model pembelajaran berbasis masalah karena masalah kehidupan
nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta
mendapatkan pengetahuan dan konsep penting.

11
Menurut Nurhadi (2003, 56) pembelajaran berbasis masalah bercirikan sebagai
berikut:
1. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan.
Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar
pertanyaan dan masalah sosial yang penting bagi siswa dan masyarakat.
Pertanyaan atau masalah itu bersifat autentik (nyata) bagi siswa dan tidak
mempunyai jawaban sederhana.
2. Berfokus Pada Keterkaitan Antar Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berbasis masalah mungkin
berpusat pada mata pelajaran tertentu. Masalah yang diajukan hendaknya
benar-benar autentik agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah
tersebut dari banyak segi atau mengkaitkannya dengan disiplin ilmu yang lain.
3. Penyelidikan yang Autentik
Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan
autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Siswa
harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis
dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan
eksperimen (jika perlu), membuat referensi, dan merumuskan kesimpulan.
4. Menghasilkan Produk/Karya dan Memamerkannya
Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan
produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau
mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan. Produk itu dapat
berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Hasil karya
tersebut ditampilkan siswa di depan teman-temannya.

12
5. Kolaborasi
Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu
dengan lainnya dalam kelompok kecil. Adapun keuntungan bekerja sama
dalam kelompok kecil di antaranya siswa dapat saling memberikan motivasi
untuk terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk
berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan
keterampilan berpikir.
Menurut Arends (2008:70) proses pembelajaran berdasarkan masalah bertujuan
untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan
pemecahan

masalah, belajar

peranan

orang

dewasa

secara

autentik,

memungkinkan siswa untuk mendapatkan rasa percaya diri atas kemampuan yang
dimilikinya sendiri, untuk berfikir dan menjadi pelajar yang mandiri. Sehingga
tugas guru dalam pembelajaran ini adalah memfokuskan diri untuk membantu
siswa mencapai keterampilan-keterampilan dalam pembelajaran berbasis masalah
tersebut.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan
pembelajaran berbasis masalah dijabarkan pada tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase
1

2
3

Indikator
Perilaku Guru
Orientasi siswa pada Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
masalah
menjelaskan logistik yang diperlukan dan
memotivasi siswa terlibat pada aktivitas
pemecahan masalah
Mengorganisasi siswa Guru membantu siswa mendefinisikan dan
untuk belajar
mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut
Membimbing
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan

13

penyelidikan individual informasi


yang
sesuai,
melaksanakan
maupun kelompok
eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah
Mengembangkan dan Guru membantu siswa dalam merencanakan
menyajikan hasil karya dan menyiapkan karya sesuai seperti laporan,
dan membantu mereka untuk berbagai tugas
dengan temannya.
Menganalisis
dan Membantu siswa untuk melakukan refleksi
mengevaluasi
proses atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka
pemecahan masalah
dan proses yang mereka gunakan.
(Darmawan, 2010: 110)

Menurut Prametasari (2012: 24) model pembelajaran berbasis masalah memiliki


beberapa kelebihan, diantaranya: (1) Siswa lebih memahami konsep yang
diajarkan karena siswa sendiri yang menemukan konsep tersebut; (2) Siswa secara
aktif terlibat dalam proses pemecahan masalah yang menuntut keterampilan
berpikir siswa yang lebih tinggi; (3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata
yang dimiliki siswa sehingga siswa lebih bermakna; (4) siswa dapat merasakan
manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung
dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan
ketertarikan siswa terhadap materi yang dipelajari; (5) Menjadikan siswa lebih
mandiri yang mampu memberikan aspirasi dan menerima pendapat orang lain,
menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa; (6) Pengkondisian siswa
dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap temannya sehingga
pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah di atas, maka pada
penelitian ini langkah-langkah pembelajaran matematika dengan model
pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:

14
1. Guru menjelaskan secara singkat cara belajar dengan model pembelajaran
bebasis masalah kepada siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Guru mengorientasi siswa pada masalah
3. Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang heterogen
4. Guru membagikan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang berisi
permasalahan matematika yang kontekstual kepada siswa
5. Siswa diminta untuk berdiskusi dengan kelompoknya untuk menyelesaikan
permasalahan dalam LKPD.
6. Guru mengawasi jalannya diskusi kelompok dan memberikan bantuan kepada
siswa dan/atau kelompok yang kesulitan.
7. Beberapa kelompok menpresentasikan hasil diskusi kelompok
8. Guru membantu siswa
merefleksikan dan mengklarifikasi hasil kerja
kelompok.
9. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi.
A. Kerangka Pikir
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang penerapan model pembelajaran
berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas, yaitu pembelajaran berbasis
masalah yang diterapkan pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional
yang diterapkan pada kelas kontrol. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian
ini adalah kemampuan representasi matematis siswa.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menjadikan
masalah kontekstual sebagai dasar bagi siswa dalam belajar. Dalam proses
pembelajaran berbasis masalah terdapat lima fase pembelajaran, yaitu dimulai
dengan guru memberikan orientasi tentang permasalahan kepada siswa,
mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual

15
maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta
menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Pada fase pertama, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan hal-hal
yang diperlukan selama pelajaran, dan mengajukan masalah kontekstual serta
memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memberikan
contoh situasi masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi
pembelajaran. Pemberian masalah dan contoh situasi masalah yang bersifat
konstektual bertujuan untuk memberikan pemahaman baru pada siswa bahwa
tidak semua masalah dalam matematika bersifat abstrak. Sehingga dapat
memberikan keyakinan baru pada siswa terhadap kegunaan matematika.
Fase kedua dan ketiga yaitu mengorganisasikan siswa untuk belajar dan
membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Pada fase ini guru
membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok diskusi yang heterogen dan siswa
diberikan LKPD. Kemudian, siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya
untuk

mengerjakan

aktivitas-aktivitas

dan

memecahkan

permasalahan-

permasalahan yang terdapat pada LKPD tersebut. Dalam kegiatan diskusi


tersebut, siswa dituntut untuk dapat menganalisis masalah, mengumpulkan
informasi yang sesuai dan menghubungkannya dengan ide-ide mereka, lalu
menyajikan pemikiran mereka ke dalam bentuk ekspresi matematika, dan
menemukan solusi dari masalah yang diberikan serta membuat dan menjawab
pertanyaan dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis.
Fase keempat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada fase ini,
guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai

16
seperti laporan, maupun model matematika. Kemudian, guru meminta perwakilan
dari beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas
dan kelompok lain untuk menanggapi. Melalui proses pembelajaran ini, siswa
akan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran dan diberikan kesempatan untuk
mengemukakan ide-ide serta pendapatnya.
Fase kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Pada fase ini, guru membantu siswa memeriksa kebenaran terhadap proses
penyelidikan yang mereka lakukan serta mengklarifikasi hasil diskusi. Kemudian,
guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari sehingga
siswa dapat menyimpulkan pokok pembelajaran tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, diharapkan dengan penerapan model pembelajaran
berbasis masalah peningkatan kemampuan representasi matematis siswa lebih
tinggi daripada pembelajaran konvensional. Hal ini karena model pembelajaran
berbasis masalah dapat membuat siswa lebih aktif dan lebih banyak berperan
dalam pembelajaran daripada pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran
konvensional siswa cenderung pasif karena dalam proses pembelajaran guru lebih
mendominasi kelas dan aktivitas siswa hanya sedikit. Hal tersebut terlihat dari
langkah-langkah pembelajaran konvensional

yaitu guru menjelaskan materi

kemudian memberikan contoh soal dan latihan soal kepada siswa yang
penyelesaiannya mirip dengan contoh soal. Dengan demikian, siswa tidak
mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan representasinya
dan cenderung pasif. Sehingga penerapan model pembelajaran berbasis masalah
diduga dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa sedangkan

17
pembelajaran konvensional cenderung menghasilkan kemampuan representasi
matematis yang lebih rendah.
B. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam Penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Semua siswa kelas X semester ganjil SMA Negeri 1 Trimurjo tahun pelajaran
2015-2016 memperoleh materi yang sama dan sesuai dengan kurikulum 2013.
2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan representasi matematis siswa
selain model pembelajaran dikontrol agar pengaruhnya sama pada kelas
sampel.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pertanyaan dalam rumusan masalah yang diuraikan sebelumnya,
maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Hipotesis Umum
Model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan
representasi matematis siswa.
2. Hipotesis Khusus
Peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang mengikuti
pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan
representasi matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.