Anda di halaman 1dari 3

AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu penyakit

menular yang diakibatkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)


(WHO, 2000). Virus HIV menyerang sistem imunitas tubuh secara
keseluruhan, karena virus HIV menyerang CD4 pada permukaan sel T-helper
yang berperan dalam pengaktifan imunitas seluler tubuh, sehingga orang yang
terkena virus ini akan rentan terhadap setiap jenis penyakit infeksi.
Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun terus
meningkat. Menurut Komisi penanggulangan AIDS (2007) sampai dengan
bulan september 2007 penderita AIDS di Indonesia sekitar 1,3 juta dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 2,3 juta orang. Angka ini
memang masuk akal karena fenomena penyakit HIV AIDS merupakan
fenomena gunung es berkaitan dengan stigma yang berkembang di
masyarakat umum juga di kalangan masyarakat profesional kesehatan. Data
WHO saat ini menyatakan bahwa sekitar 36.100.000 penduduk dunia
terinfeksi HIV/AIDS dimana 6 juta kasus terdapat di Asia Tenggara (BKKBN
online, 2006). Ditjen PPM&PL Depkes RI menyatakan, dari Juli 1987 sampai
dengan September 2007 pengidap HIV dan kasus AIDS sebanyak 16.288
orang dengan kematian 2.287. Namun ibarat fenomena gunung es, angka di
lapangan mungkin lebih besar dibandingkan data yang di dapat ini.
Dalam tujuan Millenium Development Goals 2015, pada tujuan 6 ada
beberapa indikator yang harus dicapai, yaitu: (1) Prevalensi HIV pada
penduduk usia 15-49 tahun kurang dari 0,5%; (2) Presentase penduduk usia
15- 24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS,
menjadi 95%; (3) Penggunaan kondom pada kelompok resiko tinggi, menjadi
65% pada perempuan dan 50% pada laki- laki dan (4) Presentasi ODHA yang
mendapat pengobatan ARV, menjadi 100%. Pada saat ini HIV &AIDS
menjadi perhatian karena peningkatan angka kejadiannya yang terus
bertambah dari waktu ke waktu. Jumlah penderita HIV &AIDS dapat
digambarkan sebagai fenomena gunung es, yaitu jumlah penderita yang

dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah sebenarnya. Hal ini menunjukkan
bahwa jumlah penderita HIV &AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum
diketahui secara pasti. Menurut Data dari Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, hingga tahun 2014 jumlah kasus AIDS sebesar 323.103 orang yang
70% diantaranya pria dan 30 % perempuan. Sejak tahun 2006 Indonesia sudah
dikategorikan sebagai negara dalam tahap epidemi terkonsentrasi HIV
&AIDS, yaitu suatu keadaan yang mengindikasikan bahwa tingkat penularan
HIV sudah cukup tinggi pada subpopulasi berisiko, dan Provinsi Jawa Timur
merupakan salah satu diantara 6 Provinsi lainnya yang masuk daerah endemi
yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Riau, Papua. Diperkirakan tahun 2012 jumlah
ODHA di Jawa Timur bisa mencapai 27.062 orang. Jumlah HIV positif
ditemukan sebesar 14.817 orang atau 56,8 persen 2. Kondisi tersebut tidak
137 Jurnal IKESMA Volume 9 Nomor 2 September 2013 dapat dipungkiri
bertalian erat dengan mobilitas penduduk yang meningkat pesat disertai
peningkatan perilaku seksual yang tidak aman serta penggunaan NAPZA
suntik yang semakin meluas. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten
yang terletak di wilayah bagian timur dari provinsi Jawa Timur. Kabupaten
Banyuwangi

merupakan

daerah

yang

berbatasan

langsung

dengan

SelatBalisehingga menjadikan Banyuwangi semakin pada posisi rentan


terhadap

kemungkinan

penularan

infeksi

penyakit

menular

dan

HIV&AIDS.Hal ini dikarenakan banyaknya industri seks yang menyebar ke


seluruh pelosok Bali. Hal ini dikarenakan jarak yang demikian dekat,
memungkinkan kedua penduduk saling berinteraksi secara terus-menerus dan
berkesinambungan. Dampak dari interaksi dua budaya tersebut diantaranya
adalah bisnis prostitusi3. Akibat dari bisnis prostitusi tersebut diantaranya
adalah dapat menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kulit dan kelamin4.
Kabupaten Banyuwangi, sampai dengan Agustus 2012 telah menemukan 1232
kasus HIV &AIDS.553 kasus diantaranya ditemukan di Poliklinik Volentery
Counseling and Testing (VCT) RSUD Genteng, 580 ditemukan di poliklinik

VCT RSUD Blambangan, 91 orang ditemukan oleh Dinas Kesehatan


Kabupaten Banyuwangi, 7 orang ditemukan oleh puskesmas Singojuruh dan 1
orang ditemukan oleh puskesmas Grajagan. Kabupaten Banyuwangi menjadi
kabupaten ke 5 dengan kasus HIV &AIDS terbesar setelah Surabaya,
Sidoarjo, Malang dan Pasuruan5. Upaya pencegahan dan penanggulangan
HIV &AIDS di Indonesia dilakukan melalui penyuluhan ke masyarakat,
pembentukan klinik IMS dan VCT di Puskesmas, pengobatan dan
pemeriksaan berkala penyakit menular seksual (IMS), pengamanan darah
donor dan kegiatan lain yang menunjang pemberantasan penyakit
HIV&AIDS.Sejak tahun 1994, dalam Pertemuan AIDS di Paris para
perwakilan pemerintah yang hadir mengeluarkan deklarasi untuk memberikan
dukungan yang lebih besar terhadap ODHA dalam memformulasikan
kebijakan dan penyediaan layanan dalam program penanggulangan HIV
&AIDS. Saat ini belum banyak program penaggulangan HIV &AIDS di
Indonesia yang melibatkan ODHA. Hal ini disebabkan karena masih
tingginya

stigma

dan

diskriminasi

masyarakat

terhadap

keberadaan

ODHA.Stigma dan diskriminasi pada ODHA bisa disebabkan karena


masyarakat termasuk ODHA belum memahami atau memiliki pengetahuan
yang rendah dan sikap yang tidak mendukung atau negatif tentang HIV &
AIDS dan pencegahannya. Padahal bekerja sama dengan ODHA sebagai juru
bicara untuk program HIV &AIDS dan melibatkan mereka dalam
perencanaan intervensi, dapat menjadi salah satu stategi paling efektif untuk
mengatasi stigma dan meningkatkan komitmen atau keinginan politis untuk
mengubah kebijakan dan lingkungan yang mendukung6. Maka dari itu
peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengetahuan
dan sikap ODHA tentang HIV &AIDS dan pencegahannya, sehingga dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam melibatkan ODHA dalam program
penanggulangan HIV &AIDS dan mencegah stigma dan diskriminasi di
masyarakat.