Anda di halaman 1dari 26

Daftar Tumbuhan

Endemik Indonesia
1. Aglaia ceramic (sejenis mahoni); Endemik Maluku dengan status Redlist
IUCN Vulnerable.
2. Amorphophallus titanium (Bunga bangkai); Tanaman endemik Sumatera
dan belum terdaftar dalam IUCN Redlist.
3. Amorphophallus gigas (Bunga bangkai raksasa sumatera, Sumatra Giant
Amorphophallus); Endemik Sumatera.
4. Anaphalis javanica (edelweiss jawa); Tumbuhan endemik Jawa, Sumatera
bagian selatan, Sulawesi bagian selatan, dan Lombok.
5. Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) di Kalimantan.
6. Aralia javanica (Spikenard); Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist
Vulnerable.
7. bambu manggong (Gigantochloa manggong) di Jawa.
8. Bunga bangkai (Amorphophalus titanum) di Sumatera.
9. Canarium kipella ; Tumbuhan endemik Jawa dengan status IUCN Redlist
Endangered.
10. Casearia flavovirens (hulu tulang, badung); Endemik Jawa (bagian timur)
dan Bali dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
11. Cassine koordersii; Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist Critically
Endangered.
12.

Ceratolobus glaucescens (palem jawa); Endemik Jawa Barat.

13.

Clethra javanica; Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist Vulnerable.

14.

Coelogyne pandurata (Anggrek hitam); Endemik Kalimantan.

15. Cycas javana (sejenis pakis haji); Endemik Jawa dan Nusa Tenggara
dengan status IUCN Redlist Endangered.

16. Dehaasia pugerensis; Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist


Critically Endangered.
17. Diospyros celebica (kayu hitam sulawesi atau kayu eboni); Endemik
Sulawesi dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
18. Elaeocarpus simaluensis; Endemik pulau Simeulue (Sumatera) dengan
status IUCN Redlist Vulnerable.
19. Eugeissona utilis (bertan, wild bornean sago palm); Palem endemik
Kalimantan
20.

Gigantochloa manggong (Bambu manggong); Endemik Jawa.

21. Goniothalamus majestatis; Endemik Sulawesi dengan status IUCN Redlist


Vulnerable.
22. Gonystylus glaucescens; Endemik Kalimantan dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
23. Guioa asquamosa;
Vulnerable.

Endemik

Flores

dengan

status

IUCN

Redlist

24. Guioa malukuensis; Endemik Maluku dengan status IUCN Redlist


Vulnerable.
25.

Guioa multijuga; Endemik Papua dengan status IUCN Redlist Vulnerable.

26. Guioa patentinervis; Endemik Maluku (Ambon, Buru, Seram, dan Obi)
dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
27. Guioa waigeoensis; Endemik pulau Waigeo (Papua) dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
28. Halophila sulawesii (lamun atau seagrass); Endemik Sulawesi dengan
status IUCN Redlist Data Deficient.
29. Hopea bancana (sejenis merawan atau takian); Endemik Sumatera
dengan status IUCN Redlist Critically Endangered.
30. Hopea celebica (sejenis merawan atau takian); Endemik Sulawesi
dengan status IUCN Redlist Endangerd.
31. Hopea gregaria (sejenis merawan atau takian); Endemik pulau Buru
dengan status IUCN Redlist Endangerd.

32. Hopea nigra (sejenis merawan atau takian); Endemik Sumatera dengan
status IUCN Redlist Critically Endangered.
33. Hopea ovoidea (sejenis merawan atau takian); Endemik Kalimantan
dengan status IUCN Redlist Critically Endangered.
34. Horsfieldia atjehensis (sejenis penarahan); Endemik Sumatera (bagian
utara) dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
35. Horsfieldia coriacea (sejenis penarahan); Endemik Sulawesi (bagian
tengah) dengan status IUCN Redlist Near Threatened.
36. Horsfieldia decalvata (sejenis penarahan); Endemik Maluku (pulau
Seram, Ambon, Morotai, dan Halmahera) dengan status IUCN Redlist
Vulnerable.
37. Horsfieldia lancifolia (sejenis penarahan); Endemik Sulawesi (bagian
tengah dan selatan) dengan status IUCN Redlist Near Threatened.
38. Horsfieldia macrothyrsa (sejenis penarahan); Endemik Sumatera (bagian
tengah dan utara) dengan status IUCN Redlist Near Threatened.
39. Horsfieldia talaudensis (sejenis penarahan); Endemik pulau Talaud,
Sulawesi dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
40. Horsfieldia triandra (sejenis penarahan); Endemik Sumatera (bagian
tengah dan selatan) dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
41. Horsfieldia valida (sejenis penarahan); Endemik
Sumatera dengan status IUCN Redlist Vulnerable.

Kalimantan

dan

42. Kalappia celebica (kalapi atau kalapia); Endemik Sulawesi dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
43.

Kayu Eboni (Diospyros sp) di Sulawesi.

44.

Kayu Cendana (Santalum album) di Nusa Tenggara.

45. Kibatalia wigmani (kibatalia); Endemik Sulawesi dengan status IUCN


Redlist Vulnerable.
46.

Keben (Barringtonia asiatica) di Jawa.

47.

Kepuh (Sterculia foetida) di Jawa.

48.

ketapang (Terminalia cattapa) di Jawa.

49. Knema celebica (knema); Endemik Sulawesi dengan status IUCN Redlist
Vulnerable.
50. Knema krusemaniana (knema); Endemik Kalimantan dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
51. Knema lampongensis (knema); Endemik Sumatera (Kep. Riau) dan
Kalimantan (Pulau Anambas) dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
52. Knema losirensis (knema); Endemik Sumatera dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
53. Knema mamillata (knema); Endemik Kalimanatan (bagian selatan)
dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
54. Knema steenisii (knema); Endemik Flores dengan status IUCN Redlist
Vulnerable.
55.

Licuala orbicularis (sejenis palem); Endemik Kalimantan.

56. Limnocitrus littoralis (klemohan, jeruk swing atau jeruk jepara); Endemik
Jawa Tengah dengan status IUCN Redlist Endangered.
57. Lithocarpus crassinervius (sejenis oak); Endemik Jawa dengan status
IUCN Redlist Endangered.
58. Lithocarpus indutus (sejenis oak); Endemik Jawa dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
59. Lithocarpus kostermansii (sejenis oak); Endemik Jawa dengan status
IUCN Redlist Endangered.
60. Lithocarpus platycarpus (sejenis oak); Endemik
Kambangan dengan status IUCN Redlist Endangered.

Jawa

dan

Nusa

61. Macropanax concinnus; Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist


Vulnerable.
62. Mammea timorensis (mammea); Endemik Nusa Tenggara Timur dengan
status IUCN Redlist Vulnerable.
63. Mangifera campnospermoides (sejenis mangga); Endemik Kalimantan
dengan status IUCN Redlist Critically Endangered.
64. Mangifera casturi (mangga kasturi atau kalimantan mango); Endemik
Kalimantan dengan status IUCN Redlist Extinct in the Wild.

65. Mangifera dewildei (sejenis mangga); Endemik Sumatera Utara dengan


status IUCN Redlist Vulnerable.
66. Mangifera lalijiwa (Mangga lalijiwa); Endemik Jawa dan Bali dengan
status IUCN Redlist Data Deficient.
67. Mangifera sumbawaensis; Endemik Sumbawa dan Flores dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
68. Mangifera transversalis (sejenis mangga); Endemik Maluku dengan
status IUCN Redlist Vulnerable.
69. Myristica fragrans (pala); Endemik Maluku dan Sumatera dengan status
IUCN Redlist Data Deficient.
70. Myristica pubicarpa (sejenis pala); Endemik Halmahera dan Obi dengan
status IUCN Redlist Vulnerable.
71. Myristica robusta (sejenis pala); Endemik Maluku dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
72. Myristica sangowoensis (sejenis pala); Endemik pulau
Halmahera, dan Bacan dengan status IUCN Redlist Least Concern.

Morotai,

73. Myristica succadanea (sejenis pala); Endemik pulau Ternate, Tidore, dan
Bacan dengan status IUCN Redlist Near Threatened.
74. Myristica tamrauensis (sejenis pala); Endemik Papua dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
75. Myristica teijsmannii (sejenis pala); Endemik Jawa Timur dengan status
IUCN Redlist Endangered.
76. Myristica ultrabasica (sejenis pala); Endemik Sulawesi dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
77. Nepenthes adnata (kantong semar); Endemik Sumatera Barat dengan
status IUCN Redlist Data Deficient.
78. Nepenthes aristolochioides (kantong semar); Endemik Sumatera dengan
status IUCN Redlist Critically Endangered.
79. Nepenthes bongso (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.

80. Nepenthes diatas (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status


IUCN Redlist Lower Risk.
81. Nepenthes clipeata (kantong semar); Endemik Kalimantan Barat dengan
status IUCN Redlist Critically Endangered.
82. Nepenthes dubia (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Critically Endangered.
83. Nepenthes eymae (kantong semar); Endemik Sulawesi dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
84. Nepenthes inermis (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
85. Nepenthes insignis (kantong semar); Endemik Papuadengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
86.

Nepenthes jamban (kantong semar); Endemik Sumatera.

87. Nepenthes klossii (kantong semar); Endemik Papua dengan status IUCN
Redlist Vulnerable.
88. Nepenthes lavicola (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Critically Endangered.
89. Nepenthes mikei (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
90. Nepenthes ovata (kantong semar); Endemik Sumatera dengan status
IUCN Redlist Vulnerable.
91. Nepenthes papuana (kantong semar); Endemik Papua dengan status
IUCN Redlist Data Deficient.
92. Nepenthes sumatrana(kantong semar); Endemik Sumatera dengan
status IUCN Redlist Least Concern.
93. Nothaphoebe javanica (Kamfer); Endemik Ujung Kulon Banten dengan
status IUCN Redlist Critically Endangered.
94.

Nyamplung (Calophyllum inophyllum) di Jawa.

95. Parashorea aptera (sejenis meranti); Endemik Sumatera dengan status


IUCN Redlist Critically Endangered.

96.

Pinanga crassipes (sejenis palem); Endemik Kalimantan.

97.

Piper ornatum (Celebes Pepper / Sirih Merah); Endemik Sulawesi.

98.

Pometia pinnata (Matoa); Endemik Papua.

99. Prunus adenopoda (Sejenis Persik); Endemik Jawa dengan status IUCN
Redlist Endangered.
100. Rafflesia arnoldii (Rafflesiaatau Patma Raksasa); Endemik Sumatera.
101. Rafflesia borneensis (Rafflesia); Endemik Kalimantan.
102. Rafflesia cilliata (Rafflesia); Endemik Kalimantan Timur.
103. Rafflesia horsfilldii (Rafflesia); Endemik Jawa.
104. Rafflesia micropylora (Rafflesia); Endemik Sumatera.
105. Rafflesia rochussenii (Rafflesia); Endemik Jawa.
106. Rafflesia patma (Rafflesia Patma); Endemik Jawa Tengah dan Jawa Barat.
107. Rhododendron album (Sejenis bunga yang tumbuh di puncak gunung);
Endemik Jawa dengan status IUCN Redlist Vulnerable.
108. Rhododendron wilhelminae (Sejenis bunga yang tumbuh di puncak
gunung); Endemik Jawa Barat dengan status IUCN Redlist Critically
Endangered.
109. Sagu (Metroxylon sagu) di Papua.
110. Santalum album (Cendana atau Sandalwood); Dipercaya endemik Nusa
Tenggara Timur tapi kini tersebar di barbagai daerah di Indonesia hingga
China. Status konservasi IUCN Red List.
111. Saraca celebica (Sejenis Ashoka); Tanaman endemik Sulawesi dengan
status IUCN Red List Near Threatened.
112. Saurauia bogoriensis; Endemik Jawa Barat dengan status IUCN Red List
Critically Endangered.
113. Saurauia bracteosa (Lotrok); Endemik Jawa dan Bali dengan status IUCN
Red List Vulnerable.

114. Saurauia cauliflora (Ki Leho Beureum); Tanaman endemik pulau Jawa
dengan status IUCN Red List Vulnerable.
115. sawo kecik (Manilkara kauki) di Jawa.
116. Schefflera apiculata; Endemik Maluku dengan status IUCN Red List Data
Deficient.
117. Schefflera fastigiata; Endemik Nusa Kambambangan dan Ujung Kulon
(Jawa) dengan status IUCN Red List Endangered.
118. Schefflera multifoliolata; Tanaman endemik Sumatera dengan status
IUCN Red List Endangered.
119. Shorea balangeran (Meranti Merah, Belangeran, Balau Merah, Red
Balau); Tanaman endemik pulau Sumatera dan Kalimantan dengan status
IUCN Red List Critically Endangered.
120. Shorea cara (sejenis Meranti); Endemik pulau Jawa dengan status IUCN
Red List Data Deficient.
121. Shorea conica (sejenis Meranti); Endemik pulau Sumatera dengan status
IUCN Red List Critically Endangered.
122. Shorea domatiosa (Selangan batu mata-mata);
Kalimantan dengan status IUCN Red List Endangered.

Endemik

pulau

123. Shorea montigena (Meranti Putih, Meranti Maluku); Endemik Maluku dan
Sulawesi dengan status IUCN Red List Critically Endangered.
124. Shorea platyclados (Meranti Batu, Seraya Bukit, Dark Red Meranti);
Tanaman endemik Sumatera dengan status IUCN Red List Endangered.
125. Shorea rugosa (Meranti Merah, Seraya Buaya Hantu, Dark Red Meranti);
Tanaman endemik pulau Kalimantan dengan status IUCN Red List Citically
Endangered.
126. Shorea selanica (Meranti Maluku); Tanaman endemik kepulauan Maluku
dengan status IUCN Red List Citically Endangered.
127. Sympetalandra schmutzii; Endemik kepulauan Nusa Tenggara dengan
status IUCN Red List Vulnerable.
128. Symplocos costata (Kigledog, Aten Manuk,
Sumatera dengan status IUCN Red List Vulnerable.

Kesenger);

Endemik

129. Symplocos fasciculata (Jirak, Jirek Wulu, Jirek Sasah); Endemik Jawa.
130. Syzygium ampliflorum (suku Jambu-jambuan); Endemik Jawa dengan
status IUCN Red List Citically Endangered.
131. Syzygium discophorum (suku Jambu-jambuan); Endemik Jawa Tengah
dengan status IUCN Red List Endangered.
132. Terminalia kangeanensis; Tanaman endemik Karimunjawa dan Kangean
dengan status IUCN Red List Vulnerable.
133. Vatica bantamensis (Kokoleceran, Resak Banten); Tanaman endemik
Ujung Kulon, Banten dengan status IUCN Red List Endangered.
134. Vatica cauliflora (Resak); Endemik Kalimantan dengan status IUCN Red
List Citically Endangered.
135. Vatica flavovirens (Giam Hulodere); Tanaman endemik Sulawesi dengan
status IUCN Red List Citically Endangered.
136. Vatica obovata (Resak); Endemik pulau Sumatera dengan status IUCN
Red List Citically Endangered.
137. Vatica pentandra; Endemik Kalimantan dengan status IUCN Red List
Citically Endangered.
138. Vatica soepadmoi; Tanaman endemik Sumatera dengan status IUCN Red
List Citically Endangered.
139. Vatica teysmanniana; Endemik Sumatera dan Bangka dengan status
IUCN Red List Citically Endangered.
140. Vavaea bantamensis; Endemik Jawa dengan status IUCN Red List Data
Deficient.
141. Zanthoxylum penjualensis (Panjalu); Endemik Jawa Barat.

Daftar Hewan
Endemik Indonesia
1. Anoa dataran
Sulawesi.

rendah

(Bubalus

depressicornis)

endemik

2. Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) di Sulawesi.


3. Babirusa (Babyrousa babyrussa) di Sulawesi.
4. Badak Bercula Satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus)
di Jawa.
5. Badak Sumatra
Sumatera.

(Dicerorhinus

sumatrensis)

endemik

di

6. Bajing Palawan (Sundasciurus juvencus) Bali dan Sumatera.


7. Bajing Tanah (Lariscus hosei) endemik pulau Kalimantan.
8. Bajing Telinga
Kalimantan.

Botol

(Callosciurrus

adamsi)

endemik

9. Banteng (Bos javanicus) hewan endemik Jawa.


10.
Bekantan atau Kera hidung panjang (Nasalis larvatus)
endemik Kalimantan.
11.
Beruk Mentawai (Macaca pagensis) endemik Kepulauan
Mentawai.
12.

Burung Anis sulawesi (Cataponera turdoides) di Sulawesi.

13.
Burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) endemik
pulau Nias, Sumatera.
14.

Burung Elang Flores (Spizaetus floris) endemik Flores.

15.
Burung Bidadari Halmahera
Halmahera, Maluku Utara.

(Semioptera

wallacii)

16.

Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) di Jawa.

17.

Burung Cenderawasih (Paradisea sp.) di Papua.

18.
Burung Celepuk
Sulawesi Utara.

Siau

(Otus

siaoensis)

pulau

19.

Burung Cerek Jawa (Charadrius javanicus) di Jawa.

20.

Burung Kakatua Putih (Cacatua alba) Maluku Utara.

21.
Burung Madu Sangihe
Sangihe, Sulawesi Utara.

(Aethopyga

Siau,

duyvenbodei)

22.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Sulawesi.

23.

Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) di Kalimantan.

24.
Burung
Kalimantan.
25.

Sempidan

Kalimantan

bulweri)

di

Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus) pulau Jawa.

26.
Burung
Kalimantan.

Tokhtor

Kalimantan

27.
Burung
Sumatera.

Tokhtor

Sumatera

28.
Harimau
Sumatera.
29.

(Lophura

Sumatera

(Carpococcyx
(Carpococcyx

(Panthera

tigris

radiceus)
viridis)

di

sumatrae)

di

Jalak bali (Leucopsar rothschild) hewan endemik Bali.

30.
Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus borneensis) di
Kalimantan.
31.
Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis
sumatraensis) di Sumatera.
32.

Kancil Jawa (Tragulus javanicus) endemik Jawa.

33.
Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus)
di Papua.
34.
Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus)
di Papua.
35.

Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) endemik Papua.

36.
Katak Tanpa Paru-Paru (Barbourula kalimantanensis)
Kalimantan.
37.
Kelelawar Berjenggot Coklat dan
(Taphozous achates) di Nusa Penida, Bali.

Ekor

Selubung

38.
Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) endemik
Sumatera.
39.

Kera Belanda (Nasalis larvatus) di Kalimantan.

40.
Kera hitam sulawesi (Macaca nigra) endemik Sulawesi
Utara.
41.
Kodok Darah (Leptophryne cruentata) endemik Jawa
Barat.
42.
Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni) endemik
Jawa Tengah.
43.
Komodo (Varanus komodoensis) di Nusa Tenggara Timur
(P. Komodo).
44.
Kucing Bakau (Prionailurus bengalensis javanensis) di
Jawa.
45.

Kucing Merah (Felis badia) endemik pulau Kalimantan.

46.

Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) pulau Jawa.

47.
Kura-kura Berleher Ular (Chelodina mccordi) di Pulau
Rote, NTT.
48.

Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) Sulawesi.

49.
Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae) Pulau Gebe Maluku
Utara.
50.
Kuskus Matabiru (Phalanger matabiru) Pulau Ternate dan
Tidore Maluku.
51.
Kuskus Kerdil (Strigocuscus celebensis) endemik pulau
Sulawesi.
52.

Kuskus Obi (Phalanger rothschildi) Pulau Obi Maluku.

53.

Landak Jawa (Hystrix javanica) endemik Jawa.

54.

Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) endemik Sumatera.

55.
Landak
Kalimantan.

Kalimatan

56.
Lutung
Kalimantan.

Dahi

57.

(Thecurus

Putih

crassispinis)

(Presbytis

frontata)

endemik
endemik

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) endemik Jawa.

58.
Lutung Merah
Kalimantan.

(Presbytis rubicunda) satwa endenik

59.
Macan Dahan (Neofelis diardi) endemik Sumatera dan
Kalimantan.
60.

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Jawa.

61.

Monyet Ekor Babi (Simias concolor) kepulauan Mentawai.

62.
Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) di
Sulawesi.
63.

Orang utan sumatera (Pongo abelli) di Sumatera.

64.
Orang
Kalimantan.
65.

Utan

Kalimantan

(Pongo

pygmaeus)

Owa jawa (Hylobates moloch) fauna endemik Jawa.

di

66.

Owa-owa (Hyllobates muelleri) di Kalimantan.

67.

Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Jawa.

68.

Penyu hijau (Chelonia mydas) di Jawa.

69.

Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) di Jawa.

70.

Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Jawa.

71.

Pesut di Kalimantan Timur.

72.

Rusa bawean (Axis kuhlii) endemik pulau Bawean.

73.

Rusa timor (Cervus timorensis) endemik Bali, Irian Jaya.

74.

Siamang (Hylobates syndactylus) di Sumatera.

75.

Surili (Presbytis comata) di Jawa.

76.

Surili/lutung (Trachypithecus auratus) di Jawa.

77.
Tarsius Bangka atau Mentilin (Tarsius bancanus) di
Sulawesi Utara.
78.
Tarsius
Sulawesi.

Peleng

(Tarsius

pelengensis)

pulau

Peleng,

79.
Tarsius Pygmy atau Pygmy Tarsier (Tarsius pumilus)
Sulawesi.
80.

Tarsius Sulawesi (Tarsius tarsier) Sulawesi.

81.
Tupai
Mentawai.

Mentawai

(Tupaia

chrysogaster)

Kepulauan

Contoh Gambar Tumbuhan Endemik Indonesia


Spesies Nepenthes
Sumatera

sumatrana

endemik

Palem
Pinanga
Kalimantan

crassipes

endemik

Bunga bangkai (Amorphophallus titanum)

Anggrek
Hitam
Kalimantan

tumbuhan

endemik
Bunga Rafflesia Arnoldi

Nepenthes insignis endemik Papua


Bunga Rhododendron album

Schefflera fastigiata, salah


tanaman endemik Jawa

Contoh Gambar Hewan Endemik Indonesia

satu

spesies

Cara menjaga keanekaragaman hayati :


1. Menghentikan ilegal loging
2. menghentikan pemburuan liar misalnya gajah untuk diambil gadingnya, badak untuk
diambil culanya, macan untuk diambil kulitnya, dan lain sebagainya
3. tidak membuang sampah dan limbah sembarangan
4. membantu keseimbangan ekosistem dengan cara mengurangi pencemaran
5. aktif dalam kegiatan konservasi
6. Meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber energi yang tidak akan habis sebagai
pengganti minyak bumi atau batu bara, misalnya penggunaan energi sinar matahari,
angin, geothermal, tenaga air, pasang air laut, dan sebagainya.
7. Melakukan daur ulang (recylcling), sehingga pengambilan sumber daya alam dapat
diperkecil, misalnya daur ulang terhadap barang-barang bekas, seperti besi, alumunium,
kertas, plastik, dan lain-lain.
8. Melakukan pengawetan terhadap sumber daya alam berupa kayu. Sebelum digunakan
hendaknya diwajibkan untuk diawetkan terlebih dahulu agar daya tahan penggunaan kayu
untuk bahan bangunan dapat di hemat karena kayu yang digunakan telah dapat dipakai
dipakai dalam jangka waktu yang lebih lama.
9. Pengolahan air limbah dan penertiban pembuangan sampah pada setiap pabrik harus
mengolah air limbahnya sebelum dibuang karena limbah pabrik biasanya mengandung
zat-zat kimia. Kebiasaan masayarakat membuang sampah disaluran air, sungai, atau
selokan adalah kebiasaan yang harus dirubah. Hal itu perlu dicegah sedini mungkin untuk
menghindari terjadinya pencemaran air.
10. Program kali bersih (prokasih) yang mempunyai tujuan utama untuk menurunkan atau
mengurangi beban pencemaran perairan sungai, khususnya limbah industri yang banyak
mengandung zat-zat kimia beracun.
11. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menekankan usaha konservasi pertanian
lahan kering, peningkatan pendapatan masyarakat melalui peningkatan lahan kering,
peningkatan diluar sector pertanian, perlindungan daerah nonbudi daya, pengembangan
irigasi, dan pengendalian bahaya banjir.
12. Pengelolaan lautan dan daerah pesisir yang hendaknya memperhatikan kebijaksanaan
sebagai berikut.
1. Pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan laut serta pengaturan antar sector perlu
dikembangkan secara koordinatif.

2. Sumber daya alam yang dapat diperbarui hendaknya digunakan secara hati-hati
dengan tetap memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Sumber daya alam
yang tidak dapat diperbarui hendaknya digunakan secara rasional.
3. kawasan lindung, kawasan penyangga dan kawasan sumber budi daya sumber alam
harus dijaga dan dikendalikan keberadaannya.
13. Pengembangan keanekaragaman hayati yang hayati mencakup usaha pelaestarian flora
dan fauna langka.

14. Reklamasi lahan biasanya dilakukan untuk lahan bekas pertambangan. Rehabilitasi
mencakup pengerjaan reboisasi, pembuatan sengkedan dan pengendalian peladang
berpindah.

Usaha-usaha untuk menjaga keanekaragaman hayati :


1.Taman Nasional, merupakan kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik di darat
maupun di perairan. Beberapa taman nasional di Indonesia:
a Taman Nasional Gunung Leuser Terletak di Propinsi Sumatera Utara dan Propinsi Daerah
.

Istimewa Aceh. Contoh tumbuhan yang dilestarikan: meranti, keruing, durian hutan,
menteng, Rafflesia arnoldi var.atjehensis. Hewan yang dilestarikan: gajah, beruang
Malaya, harimau Sumatra, badak Sumatra, orangutan Sumatra, kambing sumba, itik liar,

d.

tapir.
Taman Nasional Ujung Kulon Terletak di kawasan ujung barat Pulau Jawa. Taman
Nasional ini merupakan habitat terakhir dari hewan-hewan yang terancam punah,
seperti: badak bercula satu (Rhinoceros sendaicus), banteng (Bos sondaicus),
harimau loreng (Panthera tigris), dan surili (Presbytis aygula).

e.

Taman

f.

Taman Nasional Bromo-

Nasiona

Tengger-Semeru Terletak di

kawasan Propinsi Jawa

Kepula

Timur di Kabupaten

uan

Probolinggo, Malang,

Seribu

Pasuruan dan Lumajang.

Terletak

Flora yang dilindungi adalah

di

cemara gunung (Cassuarina

kepulau

junghuniana) sedangkan

an

fauna yang dilindungi adalah

Seribu

babi hutan, kijang, ayam

Propins

hutan, rusa, macan tutul.

i DKI
Jakarta.
Ekosist
em
yang
dilindu
ngi
adalah
ekosiste
m
terumb
u
karang.
g Taman Nasional Meru Betiri Terletak di Propinsi Jawa Timur di wilayah Jember
.

Selatan. Taman Nasional ini merupakan habitat terakhir dari harimau loreng jawa
(Panthera trigis). Flora langka yang dilindungi yaitu Rafflesia zollingeri.

h Taman Nasional Baluran Terletak di Propinsi Jawa Timur. Flora yang dilindungi :

dadap biru (Erythocina endophyla), kosambi, widoro, nimba, kemiri. Sedangkan fauna
yang dilindungi antara lain ular piton, buaya, banteng, rusa, kijang, macan tutul dan

linsang.
i Taman Nasional Komodo Terletak di Pulau Komodo Propinsi NTT. Flora yang
.

dilindungi adalah Kayu hitam (Diospyros javanica) dan bayur (Pterospermum

diversifolium). Satwa/fauna khas adalah komodo.


j Taman Nasional Tanjung Puting Terletak di Propinsi Kalimantan di Kabupaten
.

Kotawaringin Barat, Timur dan Kalimantan Tengah. Taman Nasional ini merupakan
pusat rehabilitasi orang utan. Flora yang dilindungi tanaman yang mengandung getah
dan merusak saraf (misalnya: Gluta renghas) dan durian (Durio sp). Fauna yang

dilindungi: orang utan, lutung, kancil, musang.


2. Cagar Alam, kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan, satwa dan
ekosistem, yang perkembangannya diserahkan pada alam.
3. Hutan Wisata, kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat wilayahnya perlu dibina dan
dipertahankan sebagai hutan, yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan,
konservasi alam, dan rekreasi. Contoh hutan wisata yaitu hutan wisata Pangandaran.
4. Taman laut, merupakan wilayah lautan yang mempunyai ciri khas berupa ke-indahan alam
yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi alam, yang diperuntukkan guna melindungi
plasma nutfah lautan. Contoh: Bunaken di Sulawesi Utara.
5. Hutan lindung, kawasan hutan alam yang biasanya terletak di daerah pe-gunungan yang
dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur tata
air. Contoh: Gunung Gede Pangrango.
6. Kebun Raya, adalah kumpulan tumbuh-tumbuhan di suatu tempat, dan tumbuh-tumbuhan
tersebut berasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan konservasi ex situ, ilmu
pengetahuan, dan rekreasi, contoh: Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Purwodadi.

Hutan rimba atau hutan produksi:


Hutan produksi yaitu adalah hutan yang dapat dikelola untuk menghasilkan sesuatu yang
bernilai ekonomi. Hutan produksi dapat dikategorikan menjadi dua golongan yakni hutan rimba
dan hutan budidaya. Hutan rimba adalah hutan yang alami sedangkan hutan budidaya adalah
hutan yang sengaja dikelola manusia yang biasanya terdiri dari satu jenis tanaman saja. Hutan

rimba yang diusahakan manusia harus menebang pohon dengan sistem tebang pilih dengan
memilih pohon yang cukup umur dan ukuran saja agar yang masih kecil tidak ikut rusak.
Jadi yang lebih baik untuk dilakukan adalah mempertahankan hutan rimba dibandingkan
dengan mengubah hutan rimba menjadi hutan produksi, karena hutan rimba alami dari alam,
dapat menyerap air dari dalam tanah serta memiliki bermacam-macam jenis tanaman, hutan
rimba juga menggunakan system tebang pilih. Sedangkan hutan produksi hanya terdiri dari satu
jenis tanaman saja dan itu pun belum tentu bisa menyerap air agar tidak terjadi banjir ataupun
tanah longsor, Contohnya seperti sawit, karet, dan rotan yang berada diwilayah sampit.

Tumbuhan dan hewan liar yang sementara ini tidak dapat dimanfaatkan:
Hewan liar atau satwa liar adalah hewan yang hidup di alam bebas atau di hutan-hutan.
Hewan-hewan ini bisa tergolong sebagai hewan langka. Indonesia dikenal juga sebagai Negara
yang memiliki daftar panjang tentang hewan liar yang terancam punah. Saat ini jumlah jenis
hewan liar Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis
reptil, 91 jenis ikan dan 28 jenis invertebrata.
Jadi agar tidak terjadi kepunahan pada hewan liar kita juga harus ikut menjaganya serta
tidak melakukan pemburuan liar walaupun hewan liar atau satwa liar tersebut tidak dapat
dimanfaatkan.
Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidip di alam bebas atau di hutan-hutan. Tumbuhan
di Indonesia salah satu contohnya daun lobi-lobi, daun lobi-lobi ini Merupakan tumbuhan liar di
dihutan-hutan atau dibudidayakan sebagai tanaman peneduh untuk diambil buahnya. Tumbuh
dari dataran rendah sampai pegunungan dari ketinggian 100 m sampai 1.300 m di alas
permukaan laut. Berbunga pada bulan September-November. Waktu panen yang tepat bulan
Febuari-Mei. Tanaman ini memiliki fungsi sebagai obat diare dan obat datang bulan yang tidak
teratur. Banyak orang yang belum mengetahuinya. Jadi lebih baik melindungi dari pada
mengurangi jenis tumbuhan di Indonesia dan setiap tumbuhan pasti mempunyai fungsinya
masing-masing tetapi hanya kita yang belum mengetahui fungsinya tersebut.
Kesimpulan

Jadi sikap kita terhadap jenis tumbuhan dan hewan liar yang tidak dapat dimanfaatkan
adalah tetap melindungi sebagai plasma nutfah.

Keanekaragaman hayati dikotim yang sekarang sedang dikembangkan :


Peran manusia dalam rangka menjaga kelestarian orang utan dan juga habitatnya. Sudah
menjadi kewajiban manusia untuk berusaha untuk mencari solusi penyelamatan orangutan dari
kepunahan. Upaya penyelamatan yang dapat dilakukan ialah berupa pencegahan dan
memperkenalkan orangutan secara luas kepada masyarakat. Hal ini dilakukan agar segenap
masyarakat memiliki kepedulian terhadap orangutan dan ikut berpartisipasi aktif dalam
melestarikan orangutan dan habitatnya. Dalam upaya menyelamatkan dan mencegah kepunahan
orang utan Indonesia, pemangku kepentingan yang berada diposisi terdepan ialah pemerintah.
Pemerintah memiliki kekuatan yang besar karena mereka memegang alat kekuasaan. Orangutan
di Indonesia dapat ditemui di kawasan konservasi, hutan produksi, hutan lindung dan juga di
kawasan budidaya non kehutanan. Berdasarkan penelitian yang ada, 75% dari orangutan liar
ditemui diluar kawasan konservasi, kebanyakan mereka berada dikawasan hutan produksi dan
hutan lindung. Oleh karena itu orangutan sangat rentan terhadap ancaman kehilangan habitat dan
konflik dengan manusia. Selain fungsi pemerintah untuk menguasai hutan dan mengedalikan
pengelolaan hutan serta menjaga semua keanekaragaman hayati yang ada didalamnya, yang
diharapkan dari pemerintah juga ialah adanya sikap proaktif untuk melindungi orangutan yang
ada diluar kawasan konservasi dan hutan lindung.