Anda di halaman 1dari 8

Affandi Koesoma adalah maestro seni lukis Indonesia. Dia lahir pada tahun 1907 di Cirebon. Ayahnya, R.

Koesoma, bekerja
sebagai mantri ukur pabrik gula. Peruntungan ini membuat Affandi kecil berkesempatan mengecap berbagai tingkat bangku
pendidikan (dalam sistem kolonial Belanda) mulai dari HIS, MULO, dan AMS; sebuah peruntungan yang memang tidak banyak
bisa dirasakan teman sebayanya.
Dengan bakat lukis dan minat seni yang mengalahkan disiplin ilmu lain, Affandi, sebelum menjadi pelukis besar, dia adalah
tukang sobek karcis dan pembuat iklan. Menginjak usia 26 tahun, ia menikahi Maryati dan dikaruniai Kartika Affandi, matahari
lain dalam wujud seorang putri.
Affandi mulai melukis dengan bergabung dalam kelompok seniman Lima Bandung yang menjadi tempat berkumpulnya pelukis
kenamaan Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi, dan Affandi sendiri sebagai ketua. Selain itu, nama maestro lukis ini
pernah menuai 'kontroversi' pada masa-masa Orde Baru terkait keterlibatannya dalam kepemimpinan Lekra (Lembaga
Kebudayaan Rakyat).
Pada 1943, pameran tunggal pertama Affandi diadakan di Gedung Poetra Djakarta. Sejak itu, Affandi berubah menjadi
matahari. Lebih dari 2000 karya lukis dihasilkan begawan warna Indonesia ini. Dan matahari lukisnya terus bersinar di benua
Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Begawan yang gemar menyulut rokoknya dengan pipa unik ini juga dianugerahi Doctor
Honoris Causa dari University of Singapore pada 1974. Setahun sebelumnya, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan
berupa sebuah museum yang didirikan tepat di atas tanah yang pernah menjadi tempat tinggal sang Empu Lukis Indonesia
dan diresmikan Menteri P&K masa itu, Fuad Hassan.
Meski dunia internasional menyebut Affandi terpayungi dalam genre ekspresionisme, sang Begawan Lukis ini menyatakan
tidak mengenal aliran seperti itu dalam karyanya. Tentu saja, 'Affandi dan Matahari' bukan ekspresionis maupun yang lain;
Affandi adalah Matahari itu sendiri. Dan 'aliran matahari' belum dikenal di dunia lukis manapun di dunia ini. Dan sang Begawan
sendiripun juga mungkin tidak peduli dengan sebutan, setidak peduli asap tembakau pipanya yang terus menyeruak, berbaur
menjadi udara.
Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi
tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memerintah objeknya seperti
yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan
akibat penjajahan.
Pada 23 Mei 1990 Affandi meninggal dunia. Meski telah tiada, karya-karyanya masih dapat dinikmati di Museum Affandi.
Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah
dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988
kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya

Judul Buku
Penulis
Negara
Bahasa
Genre
hal
Penerbit
Tahun
ISBN

: Pelukis S.Sudjojono
: Ajip Rosidi
: Indonesia
: Indonesia
: Biografi
: 50 halaman
: Pustaka Jaya
: 2000
: 979-419-270-8

Sinopsis
Sindudarsono Sudjojono atau yang lebih kenal sebagai Pak Djon dilahirkan di Kisaran, Tebing Tinggi, Sumatra
Utara 14 Desember 1913. lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, Pak Sindu Darmo dan Istrinya yang
merupakan buruh perkebunan di Kisaran. Sudjojono bersekolah di HIS Boedi Oetomo di Tebing Tinggi. Karena
kecerdasannya ia di angkat menjadi anak oleh gurunya yaitu Pak Yudhakusuma.
Yudhokusumo, kemudian membawanya ke Jakarta tahun 1925 saat itu ia sdang duduk di kelas VI.
Sudjojono kemuadian melanjutkan sekolahnya di HIS Arjuna pertama di Petojo Yudhakusuma yang juga
mengajar di sekolah itu adalah orang yang memupuk kegemarannya menggambar. Tahun1928 Sudjojono tamat
HIS. Ia melanjutkan Sekolah Guru, yaitu HIK Gunungsari di Lembang, Bandung. Di asrama sekolah itu
Sudjojono mendapatkan nomor Induk 101. Ia memberikan kode SS-101 pada barang-barangnya kode 101 inilah
yang ia pakai erus dalam lukisan-lukisannya. Tapi saying, setelah kelas III Sudjojono dikeluarkan oleh HIK. Ia
kembali ke Jakarta belajar kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan.

Atas kemauan Yudhakusuma orang tua angkatnya ia dikirim ke SMA Taman Siswa di Yogyakarta.Dia sempat
mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki
Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.
Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya
lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di
Kunstkring, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai
pelukis. bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah
serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan
juru bicara Persagi.Selain itu ia juga seorang kritikus seni, Sudjojono menulis kritik tentang pameran koleksi
Regnault, dengan demikian, Sudjojono merupakan orang pertama di Indonesia yang menulis kritik seni lukis
dalam bahasa Indonesia. Ia memberikan pujian atau makian kepada lukisan-lukisan yang dipamerkan. Tidak
hanya dalam bidang seni lukis, ia juga menulis kritik dalam bidang seni lainnya.
Lukisannya punya ciri khas kasar, tidak naturalistik, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas.
Dalam lukisan-lukisannya yang Nampak bukanlah alam yang disajikan dengan halus cermat, kecermatan
tidaklah dijadikan tujuan, melainkan sebagai bakal untuk mengekspresikan kebenaran yang lebih tinggi. Objek
lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih
didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara
lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi Seko, dan Saya Bukan Anjing yang
merupakan salah satu lukisannya yang terkuat.
Sudjojono juga aktif dalam organisasi, Ketika Jepang datang dan memasuki kegiatan kesenian di Indonesia
Sudjojono diminta duduk membantu Bung Karno dalam organisasi POETERA. Setelah keluar dari POETERA, ia
masuk Keimin Bunka Shidosho, ia mendapat tugas untuk memimpin bagian seni lukis. Setelah Republik
Indonesia Di proklamasikan Sudjojono bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) bersama kawankawan seniman ia membentuk bagian kesenian yang aktif mengadakan kegiatan penerangan kepada rakyat
tentang cita-cita nasional, dan tentang proklamasi kemerdekaan. Ketika pemerintahan RI hijrah ke Yogyakarta,
sudjono pun meninggalakan Jakarta. Ia mula-mula bergabung dengan Front Krawang Cikampek, lalu pergi ke
Madiun membentuk Seniman Indonesia Muda bersama Trisno Sumardjo, Kusbini, dll. Mereka menerbitkan
sebuah majalah yang berjudul seniman, yang banyak memuat karangan tentang kesenian.Sudjojono juga
pernah menerbitkan sebuah buku berjudul seni, seniman, dan senilukis (1946).
Setelah selesai perang kemerdekaan Sudjojono menyatakan bahwa seni lukis Indonesia itu haruslah
merupakan seni lukis dengan gaya realisme. Sudjojono yang semula bukanlah seorang pelukis dengan gaya
realisme namun ekspresionisme. Perubahan pandangan ini menuai kontroversi di kalangan seniman. Para
pengeritiknya berpendapat bahwa Sudjojono menggabungkan pandangan politik dengan pandangan seni. Hal
ini semakin di sokong oleh sudjojono setelah ia secara terang-terangan menjelang pemilihan umum yang yang
pertama awal tahun 1950-an masuk kedalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mencalonkan diri menjadi
menjadi anggota DPR dan terpilih. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia
eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada
alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Sudjojono menceraikan istri
pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan
penyanyi Seriosa, Rose Pandanwangi. Dengan begitu berakhirlah peranan sujojono si seniman sebagai orang
politik, ia kembali menekuni kehidupan seni Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar
Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.

Nyoman Nuarta (lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951)adalah pematung Indonesia dan salah satu
pelopor Gerakan Seni Rupa Baru (1976). Dia paling dikenal lewat mahakaryanya seperti Patung Garuda
Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi
Indonesia (Jakarta). Nyoman Nuarta mendapatkan gelar sarjana seni rupa-nya dari Institut Teknologi
Bandung dan hingga kini menetap di Bandung.

I Nyoman Nuarta adalah putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Wirjamidjana dan
Samudra. I Nyoman Nuarta tumbuh dalam didikan pamannya, Ketut Dharma Susila, seorang guru seni
rupa.[1].

Pendidikan[sunting sumber]
Setelah lulus SMA, Nuarta masuk di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1972. Awalnya Nuarta memilih
jurusan seni lukis, namun setelah menempuh dua tahun dia berpindah ke jurusan seni patung. Saat masih
menjadi mahasiswa pada tahun 1979, I Nyoman Nuarta memenangkan Lomba Patung Proklamator
Republik Indonesia, lomba ini adalah awal dari ketenaran I Nyoman Nuarta. Bersama rekan-rekan
senimannya, seperti pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, dan kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman
Nuarta tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia sejak tahun 1977. [2].

Karier[sunting sumber]
Sejak tenar, I Nyoman Nuarta yang merupakan alumni ITB tahun 1979 telah menghasilkan lebih dari
seratus karya seni patung. Semua karyanya menggambarkan seni patung modern sampai gaya
naturalistik, dan material yang digunakan dalam padatan patungnya adalah dari tembaga dan kuningan.[2]
Bakat I Nyoman Nuarta di bidang seni diturunkan pada putrinya. Putri sulungnya, Tania belajar di jurusan
seni rupa di salah satu Perguruan Tinggi di Melbourne, Australia, sedangkan adiknya, Tasya membantu
Nuarta di studionya.[2]
Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun sebuah Taman Patung yang diberi nama NuArt
Sculpture Park. Nuarta membangun taman ini di kelurahan Sarijadi, Bandung. Puluhan beraneka bentuk
patung dalam beraneka ukuran tersebar di areal seluas tiga hektare tersebut. Di taman tersebut dibangun
gedung 4 lantai yang digunakan untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya yang artistik.
Saat ini, Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio Nyoman Nuarta, Pendiri Yayasan Mandala Garuda
Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda Adhimatra, Pengembang Proyek Mandala Garuda Wisnu
Kencana di Bali, Komisioner PT Nyoman Nuarta Enterprise, serta pemilik NuArt Sculpture Park di
Bandung. Nyoman Nuarta juga tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International
Sculpture Center Washington (Washington, Amerika Serikat), Royal British Sculpture
Society (London, Inggris), danSteering Committee for Bali Recovery Program.[3]
Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya),
serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta) merupakan beberapa dari mahakaryaNuarta.

Mahakarya[sunting sumber]

Monumen Jalesveva Jayamahe diDermaga Ujung Madura, Surabaya.

Pada tahun 1993, Nuarta membuat sebuah monumen raksasa "Jalesveva Jayamahe" yang sampai
sekarang masih berdiri di Dermaga Ujung Madura, Komando Armada Republik Indonesia Kawasan
Timur (Koarmatim) Kota Surabaya.[4] Monumen tersebut menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan
Laut berbusana Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan pedang kehormatan yang sedang

menerawang ke arah laut. Patung tersebut berdiri di atas bangunan dan tingginya mencapai 60,6 meter.
MonumenJalesveva Jayamahe menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis untuk
mencapai cita-cita bangsa Indonesia.[4][5]
Karya Nuarta yang paling besar dan paling ambisius adalah Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK)
yang dimulai sejak 8 Juni 1997namun terhenti beberapa tahun akibat berbagai hambatan. Rencana patung
GWK sendiri akan memiliki tinggi 75 meter dengan rentang sayap garuda sepanjang 64 meter, sedangkan
tinggi pedestal 60 meter. Oleh karena itu, tinggi patung dan pedestal secara keseluruhan akan menjulang
setinggi 126 meter.[6]

1. Seni baru dan kontemporer


2.
3.
4.

5.

6.

7.

8.
9.

10.
11.

.Seni Rupa Modern dan kontemporer


Seni Rupa Modern
Seni rupa Modern adalah istilah umum yang digunakan untuk
kecenderungan karya seni yang diproduksi sejak akhir abad 19 hingga
sekitar tahu 1970 an. Seni rupa modern menunjuk kepada suatu
pendekatan baru dalam seni dimana tidak lagi mementingkan representasi
subjek secara realistis penemuan fotografi menyebabkan fungsi
penggambaran di dalam seni menjadi absolut, para seniman modern
berksperimen mengeksplorasi cara baru dalam melihat sesuatu, dengan
ide segar tentang alam, material dan fungsi ini, seringkali bergerak melaju
kearah abstrak.
Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan
suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan
aliran-aliran seni rupa.
Seni rupa kontemporer dapat dikatakan sebagai sebuah wacana
dalam praktek seni rupa di Barat yaitu praktek seni rupa yang menunjuk
kepada kecenderungan posmodern. Kecenderungan ini menyiratkan
wacana dalam praktek seni rupa yang anti modern. Hal ini disebabkan
karena salah satu paradigma kemunculan posmodern adalah paradigma
yang menolak moernisme.
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh
dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau
lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang
sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat
oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang.
2. Gagasan, teknik, dan bahan karya seni rupa modern atau
kontemporer
Zaman prasejarah
Zaman prasejarah rentang waktunya sangat panjang sampai
manusia mengenal tulisan yang kemudian salah satu teknik terkenal
gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan
menempelkan tangan di dinding gua , lalau menyemburnya dengan

12.
13.

14.

15.

16.

kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna . Hasilnya adalah


jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa
dilihat saat ini . Objek yang sering muncul dalam karya purbakala
adalah manusia, binatang , dan objek-objek yang lain seperti pohon
,bukit ,gunung,sungai,dan laut.
Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalanpeninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang
lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dindingdinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan.
Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan
materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah
satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua
adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya
dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah
jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa
dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan
selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni
rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar
seperti dinding, lantai,kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa
modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua
dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah
manusia, binatang,
dan
objek-objek
alam
lain
seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang
digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu
sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya.
Misalnya, gambar seekor banteng dibuat denganproporsi tanduk yang
luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini
dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah
bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra
mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari
pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok
masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk
menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat
gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu,
bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat
daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa
keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga
mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang

pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan
melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
17.
18.
19.

20.
21.

22.
23.

24.
25.

26.

27.
28.

29.
30.

31.
32.

3. Fungsi dan Tujuan Seni Rupa Modern dan Kontemporer


Seni Rupa suatu keindahan visualisasi baik secara garis, bidang, volume,
warna serta tekstur, tujuan dari seni rupa ini sendiri merupakan
pengungkapan gagasan, ide, keindahan dengan suatu tujuan yang tersirat
pada sebuah media tertentu , baik dari jaman ke jaman maka tujuan dari
seni
rupa
pun
mempunyai
perubahan.
Seni rupa prasejarah memiliki tujuan primer yaitu mengacu pada
religi
pemubuatan arca-arca untuk sesembahan animisme dan dinamisme..
Seni rupa modern memiliki tujuan pengaplikasian atau penunjukan
eksistesi si pencipta karya seni untuk menampilkan seninya untuk sebuah
penilaian
Seni rupa kontemporer tidak jauh dari seni rupa yang menunjukan
karya yang secara tematik yaitu seni yang melawan tradisi barat.
a. Fungsi Individual
Manusia Terdiri dari unsur psikis dan fisik . Salah satu unsur psikis
adalah emosi . Maka fungsi individual dibagi lagi menjadi fungsi
pemenuhan kebutuhan seni secara fisik dan emosional.
1) Fisik
Fungsi ini banyak dipenuhi melalui seni pakai yang berhubungan dengan
fisik. Seperti Busana, perabot,rumah,musik senam,dan sebainya
2) Emosional
Dipenuhi melalui seni murni , baik dari segi si pembuat atau pengubah ,
maupun konsumen penikmatnya . Contohnya , lukisan , novel, musik, tari
, film dan sebagainya.
b.Fungsi
Sosial
Fungsi sosial artinya dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kepentingan
orang banyak dalam waktu relatif bersamaan . Fungsi ini dikelompokkan
menjadi beberapa bidang .
1) Rekreasi atau hiburan
seni dapat jadikan sebagai sarana melepas kejenuhan atau mengurangi
kesedihan. Hal itu dapat terjadi misalkan pada saat kita menyaksikan
musik , tarian,film , dan lawak.
2) komunikasi
seni dapat digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu, seperti pesan,
kritik, kebijakan, gagasan, dan produk kepada orang banyak. Contoh:
lagu, balada, poster, drama, komedi, dan reklame. Tema yang sering
dibuat antara lain:
a) ketidakdisiplinan anggota masyarakat terhadap lingkungan
b) himbauan melaksanakan program pemerintah

33.
34.
35.
36.

37.
38.

c) anjuran kesehatan atau kesejahteraan


d) ketidakadilan suatu kebijakan
3) pendidikan
pendidikan juga memanfaatkan seni sebagai sarana penunjangnya.
Contoh: gambar ilustrasi buku pelajaran, film ilmiah atau dokumenter,
poster ilmiah, lagu anak-anak dan foto.
4) Religi atau keagamaan
Karya seni dapat dijadikan ciri atau pesan keagamaan. Contoh: kaligrafi,
busana muslim atau muslimah, arsitektur atau dekorasi rumah ibadah,
lagu-lagu rohani.

39.
40.
41.
42.

43.
44.
45.
46.

SENI RUPA MODERN


Ciri-ciri :

Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi ,


tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.
Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Contoh :

Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki


Abdullah, Affandi, S.Soedjojono dan pelukis era modern lainnya.
Dibawah
contoh
lukisan
dari
R.
Saleh.

47.
48.
49.
50.

Seniman

Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki


Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S.
Soedjojono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira
Sunarsa.

51.
52.
53.
54.
55.

56.

57.

SENI RUPA KONTEMPORER


Ciri-ciri

Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang


sesuai zaman.
Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias
meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya,
teater, tari, musik, hingga aksi politik.

58.
59.

60.
61.

Contoh
Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya
enviromental art.
Berikut dibawah aini adalah lukisan karya Christo > Happening Art.

62.

2. unsur gambar