Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah farmasi klinikmulai muncul pada tahun 1960an di Amerika,
dengan penekanan pada fungsi farmasis yang bekerja langsung bersentuhan
dengan pasien. Saat itu farmasi klinik merupakan suatu disiplin ilmu dan
profesi yang relatif baru, di mana munculnya disiplin ini berawal dari
ketidakpuasan atas norma praktek pelayanan kesehatan pada saat itu dan
adanya kebutuhan yang meningkat terhadap tenaga kesehatan profesional
yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai pengobatan. Gerakan
munculnya farmasi klinik dimulai dari University of Michigan dan University
of Kentucky pada tahun 1960-an (Miller,1981).
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu
Kedokteran, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Seorang dokter yang
mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang Apoteker yang
menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit,
baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu
keahlian tersendiri.
Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan
secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal
Two Silices. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa
akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya
industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang
industri obat dan di bidang penyedia/peracik obat ( apotek ). Dalam hal ini
keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari
pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi
pembuatan obat.
Buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan
bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi/sintesis,
pembuatan, pengendalian, distribusi dan penggunaan.

Sedangkan Herfindal dalam bukunya Clinical Pharmacy and Therapeutics


(1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan Therapeutic
Judgement dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diambil rumusan
masalahnya sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Bagaimana sejarah farmasi klinik ?


Apa pengertian dan arti penting farmasi klinik ?
Apa saja ruang lingkup pelayanan farmasi klinik ?
Bagaimana pelaksanaan farmasi klinik di RS ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Mengetahui bagaimana sejarah farmasi klinik ?


Mengetahui apa pengertian dan arti penting farmasi klinik ?
Mengetahui apa saja ruang lingkup pelayanan farmasi klinik ?
Mengetahui bagaimana pelaksanaan farmasi klinik di RS ?

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan penulis dalam mencari atau mengumpulkan data
ini menggunakan metode kepustakaan. Dimana metode ini pengumpulan data
dengan cara mengkaji dan menelaah data dari internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Farmasi Klinik
Secara historis, perubahan-perubahan dalam profesi kefarmasian di
Inggris, khususnya dalam abad ke-20, dapat dibagi dalam periode/tahap:
a. Periode / tahap tradisional

Dalam periode tradisional ini, fungsi farmasis yaitu menyediakan,


membuat, dan mendistribusikan produk yang berkhasiat obat. Tenaga
farmasi sangat dibutuhkan di apotek sebagai peracik obat. Periode ini
mulai mulai goyah saat terjadi revolusi industri dimana terjadi
perkembangan pesat di bidang industri tidak terkecuali industri farmasi.
Ketika itu sediaan obat jadi dibuat oleh industri farmasi dalam jumlah
besar-besaran. Dengan beralihnya sebagian besar pembuatan obat oleh
industri maka fungsi dan tugas farmasis berubah. Dalam pelayanan resep
dokter, farmasis tidak lagi banyak berperan pada peracikan obat karena
obat yang tertulis di resep sudah bentuk obat jadi yang tinggal diserahkan
kepada pasien. Dengan demikian peran profesi kefarmasian makin
menyempit.
b. Tahap Transisional (1960-1970)
Perkembangan-perkembangan dan kecenderungan tahun 1960an/1970-an :
1. Ilmu kedokteran cenderung semakin spesialistis
Kemajuan dalam ilmu kedokteran yang pesat, khusunya dalam
bidang farmakologi dan banyaknya macam obat yang mulai
membanjiri dunia menyebabkan para dokter merasa ketinggalan
dalam ilmunya. Selain ini kemajuan dalam ilmu diagnosa, aalat-alat
diagnosa baru serta penyakit-penyakit yang baru muncul (atau
yangbaru dapat didefinisikan) membingungkan para dokter. Satu
profesi tiadak dapat lagi menangani semua pengetahuan yang
berkembang dengan pesat.
2. Obat-obat baru yang efektif secara terapeutik berkembang pesat
sekali dalam dekade-dekade tersebut. Akan tetapi keuntungan dari
segi terapi ini membawa masalah-masalah tersendiri dengan
meningkatnya pula masalah baru yang menyangkut obat; antara lain
efek samping obat, teratogenesis, interaksi obat-obat, interaksi obatmakanan, dan interaksi obat-uji laboratorium.
3. Meningkatnya biaya kesehatan sektor publik amtara lain disebabkan
oleh penggunaan teknologi canggih yang mahal, meningkatnya
permintaan pelayanan kesehatan secara kualitatif maupun kuantitatif,

serta meningkatnya jumlah penduduk lansia dalam struktur


demografi di negara-negara maju, seperti Inggris. Karena tekanan
biaya kesehatan yang semakin mahal, pemerintah melakuakn
berbagai kebijakan untuk meningkatkan efektifitas biaya (costeffectiveness), termasuk dalam hal belanja obat (drugs expenditure).
4. Tuntunan masyarakat untuk pelayanan medis dan farmasi yang
bermutu tinggi disertai tuntunan pertanggungjawaban peran para
dokter dan farmasis, sampai gugatan atas setiap kekurangan atau
kesalahan pengobatan.
Kecenderungan-kecenderungan tersebut terjadi secara paralel
dengan perubahan peranan farmasis yang semakin sempit. Banyak orang
mempertanyakan peranan farmasis yang overtrained dan underutilised,
yaitu pendidikan yang tinggi akan tetapi tidak dimanfaatkan sesuai
dengan pendidikan mereka. Situasi ini memunculkan perkembangan
farmasi bangsal (ward pharmacy) atau farmasi klinis (clinical pharmacy).
Farmasi klinis lahir pada tahun 1960-an di Amerika Serikat dan
Inggris dalam periode transisi ini. Masa transisi ini adalah masa
perubahan yang cepat dari perkembangan fungsi dan peningkatan jenisjenis pelayanan profesional yang dilakukan oleh bebrapa perintis dan
sifatnya masih individual. Yang paling menonjol adalah kehadiran
farmasis di ruang rawat rumah sakit, meskipun masukan mereka masih
terbatas. Banyak farmasis mulai mengembangkan fungsi-fungsi baru dan
mencoba menerapkannya. Akan tetapi tampaknya, perkembangannya
masih cukup lambat. Diantara para dokter, farmasis dan perawat, ada
yang mendukung, tetapi adapula yang menolaknya.
c. Tahap Masa Kini
Pada periode ini mulai terjadi pergeseran paradigma yang semula
pelayanan farmasi berorientasi pada produk, beralih ke pelayanan farmasi
yang berorientasi lebih pada pasien. Farmasis ditekankan pada
kemampuan

memberian

pelayanan

pengobatan

rasional.

Terjadi

perubahan yang mencolok pada praktek kefarmasian khususnya di rumah

sakit, yaitu dengan ikut sertanya tenaga farmasi di bangsal dan terlibat
langsung dalam pengobatan pasien.
Karakteristik pelayanan farmasi klinik di rumah sakit adalah :
1. Berorientasi kepada pasien
2. Terlibat langsung di ruang perawatan di rumah sakit (bangsal)
3. Bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan
dimulai dan memberi informasi bila diperlukan
4. Bersifat aktif, dengan memberi masukan kepada dokter sebelum
pengobatan dimulai, atau menerbitkan buletin informasi obat atau
pengobatan
5. Bertanggung jawab atas semua saran atau tindakan yang dilakukan
6. Menjadi mitra dan pendamping dokter.
Dalam sistem pelayanan kesehatan pada konteks farmasi klinik,
farmasis adalah ahli pengobatan dalam terapi. Mereka bertugas
melakukan

evalusi

pengobatan

dan

memberikan

rekomendasi

pengobatan, baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan lain. Farmasis


merupakan sumber utama informasi ilmiah terkait dengan penggunaan
obat yang aman, tepat dan cost effective.
d. Tahap Masa Depan Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)
Gagasan ini masih dalam proses perkembangan. Diberikan disini
untuk perluasan wawasan karena kita akan sering mendengar konsep ini.
Pelayanan kefarmasiaan (Pharmaceutical Care) didefinisikan oleh
Cipolle, Strand, dan Morley (1998) sebagai: A practice in which the
practitioner takes responsibility for a patient drug therapy needs, and is
held accountable for this commitment. Dalam prakteknya, tanggung
jawab terapi obat diwujudkan pada pencapaian hasil positif bagi pasien.
Proses pelayanan kefarmasian dapat dibagi menjadi tiga komponen,
yaitu;
1. Penilaian (assessment): untuk menjamin bahwa semua terapi obat
yang diiberikan kepada pasien terindikasikan, berkasiat, aman dan
sesuai serta untuk mengidentifikasi setiap masalah terapi obat yang
muncul, atau memerlikan pencegahan dini.
2. Pengembangan perencanaan perawatan (Development of a Care
Plan): secara bersama sama, pasien dan praktisi membuat suatu
perencanaan untuk menyelesaikan dan mencegah masalah terapi obat

dan untuk mencapai tujuan terapi. Tujuan ini (dan intervensi)


didesain untuk:
- Menyelesaikan setiap masalah terapi yang muncul
- Mencapai tujuan terapi individual
- Mencegah masalah terapi obat yang potensial terjadi kemudian
3. Evaluasi: mencatat hasil terapi, untuk mengkaji perkembangan
dalam pencapaian tujuan terapi dan menilai kembali munculnya
masalah baru.
Ketiga tahap proses ini terjadi secara terus menerus bagi seorang
pasien.
Konsep perencanaan pelayanan kefarmasian telah dirangkai oleh
banyak praktisi farmasi klinis. Meskipun definisi pelayanan kefarmasian
telah diterapkan secara berbeda dalam negara yang berbeda, gagasan
dasar adalah farmasis bertanggungjawab terhadap hasil penggunaan obat
oleh/untuk

pasien

sama

seperti

seorang

dokter

atau

perawat

bertanggungjawab terhadap pelayanan medis dan keperawatan yang


mereka berikan. Dengan kata lain, praktek ini berorientasi pada
pelayanan yang terpusat kepada pasien dan tanggungjawab farmasis
terhadap morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan obat.
2.2 Pengertian dan Arti Penting Farmasi Klinik
2.2.1 Pengertian Farmasi Klinik
Farmasi klinik dapat didefenisikan sebagai suatu keahlian
profesional dalam bidang kesehatan yang bertanggung jawab untuk
meningkatkan keamanan, kerasioanalan, dan ketepatan penggunaaan
terapi obat oleh penderita melalui penerapan pengetahuan dan fungsi
terspesialiasi dari apoteker dalam pelayanan penderita. Farmasi klinik
ini memerlukan pengumpulan data dan interpretasi data penderita serta
keterlibatan penderita dan interaksi langsung antar profesional. ( Ray,
M.D. 1983 )
Defenisi ringkas pelayanan farmasi klinik adalah penerapan
pengetahuan obat untuk kepentingan penderita, dengan memperhatikan
kondisi penyakit, penderita dan kebutuhannya untuk mengerti terapi
obatnya, dan pelayanan ini memerlukan hubungan profesional dekat
antara apoteker, penderita, dokter, perawat, dan lain-lain yang terlibat

memberikan perawatan kesehatan. Dengan kata lain, farmasi klinik


adalah pelayanan berorientasi penderita, berorientasi obat, dan
berorientasi antardisiplin. ( Siregar C.J.P. 2003 )
Menurut Hepler and Strand (1990) farmasi klinik yaitu
The responsible provision of drug therapy and the purpose on
achieving definite outcomes that improve a patients quality of life .
2.2.2

Arti Penting Farmasi Klinik


Farmasi klinik bermanfaat sebagai berikut :
1. Relasi yg baik antar tenaga kesehatan
2. Menjamin penerapan pengobatan berbasis bukti
3. Perbaikan perawatan pasien dengan pelayanan yang standar dan
4.
5.
6.
7.
8.

konsisten
Mempromosikan praktek dengan biaya yang efektif
Memperluas kualitas peresepan
Menjamin keamanan pemberian obat
Memperbaiki khasiat & meminimalkan toksisitas terapi obat
Meningkatkan kepuasan kerja

2.3 Ruang Lingkup Pelayanan Farmasi Klinik


Jangkauan pelayanan farmasi klinis yang dapat dilakukan sesuai SK
Menkes di atas meliputi:
- Melakukan konseling & KIE (Komunikasi, Informasi, &Edukasi)
- Monitoring efek samping obat
- Pencampuran obat suntik secara aseptis
- Menganalisis efektivitas biaya
- Penentuan kadar obat dalam darah
- Penanganan obat sitostatika
- Penyiapan nutrisi parenteral
- Pemantauan penggunaan obat
- Pengkajian instruksi & penggunaan obat
2.4 Pelaksanaan Farmasi Klinik Di Rumah Sakit
2.4.1 Penggolongan Pelayanan Farmasi Klinik
Karena luasnya lingkup pelayanan farmasi klinik, diperlukan
pengetahuan dan pengertian terhadap semua aspek yang terlibat dalam
penghantaran pelayanan farmasi kepada penderita dan profesional
kesehatan. Walaupun kehadiran diruang penderita dan temu penderita
adalah kegiatan pokok, apoteker rumah sakit tidak menjauhkan diri dari
fungs lain yang secara langsung atau tidak langsung menguntungkan

penderita. Pelayanan farmasi klinik terdiri atas beberapa golongan


sesuai karakteristik pelayanan seperti dibawah ini : (brown, T.R. 1992)
1. Golongan pelayanan farmasi klinik yang merupakan program
rumah sakit menyeluruh
Pelayanan ini tidak terfokus pada penderita tertentu, tetapi
ditanamkan dalam program rumah sakit menyeluruh (hospital-wide
program) yang pada pokoknya memengaruhi hasil positif dari
terapi. Pelayanan ini ditekankan pada seleksi terapi obat,
pemantauan terapi obat dan edukasi tentang obat. Program tersebut
dilaksanakan dalam : (brown, T.R. 1992)
a. Fungsi, peranan, kegiatan, dan kontribusi apoteker dalam
panitia farmasi dan terapi dan dalam sistem formularium.
b. Fungsi, tugas, dan peranan apoteker dalam sistem pencegahan
dan pemantauan kesalahan pengobatan.
c. Fungsi, tugas dan peranan apoteker dalam sistem pelaporan
reaksi obat merugikan.
d. Peranan kontribusi aoteker dalam evaluasi penggunaan obat.
e. Kegiatan dan peranan apoteker dalam penerbitan buletin terapi
obat.
f. Kegiatan dan peranan apoteker dalam program pendidikan inservice bagi apoteker, perawat, dan staf medis.
2. Golongan pelayanan farmasi klinik yang berdasarkan pada
komunikasi langsung dengan penderita (pelayanan dalam proses
penggunaan obat)
Dalam proses penggunaan obat, apoteker wajib berinteraksi
dengan dokter dan perawat yang menangani langsung penderita,
dan dengan penderita itu sendiri. Dalam proses penggunaan obat,
pelayanan farmasi klinik yang diadakan /diberikan apoteker, antara
lain : (brown, T.R. 1992)
a. Wawancara sejarah obat penderita.
b. Mengadakan konsultasi dengan dokter tentang pemilihan obat
dan regimennya.
c. Mengkaji kesesuaian atau ketepatan resep atau order dokter.
d. Membuat profil pengobatan penderita (p-3).
e. Memberi konsultasi atau informasi pada perawat tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan obat pendeita.

f. Memberi konseling atau edukasi kepada penderita tentang


obatnya.
g. Pemantauan efek obat yang diberikan kepada penderita.
h. Konseling pembebasan penderita.
3. Golongan pelayanan farmasi klinik formal dan terstruktur
Pelayanan ini difokuskan pada kelompok penderita atau
golongan obat bertujuan peningkatan terapi dengan memberi
edukasi bagi dokter penulis resep / order atau penderita. Apoteker
yang memberikan pelayanan ini umumnya adalah apoteker
spesialis dalam berbagai bidang tersebut dibawah ini : (brown, T.R.
1992)
a. Sentra informasi obat
b. Sentra informasi keracunan
c. Pelayanan penetapan dosis individu secara farmakokinetik
klinik
d. Pelayanan dalam investigasi obat
e. Pelayanan dalam tim nutrisi parenteral lengkap
f. Pelayanan dalam penelitian obat secara klinik
g. Pelayanan dalam pengendalian infeksi dirumah sakit
h. Pelayanan obat sitotoksik
4. Golongan pelayanan farmasi klinik subspesialistik
Pelayanan klinik dalam kategori ini merupakan jenis yang
paling terspesialisasi. Praktisi dalam bidang ini sangat terlatih
dalam suatu bidang tertentu. Persiapan untuk pengadaan pelayanan
ini memerlukan pengetahuan dan pengertian yang mendalam
tentang patofisiologi dan farmakoterapi dari status penyakit.
Pelayanan farmasi klinik yang diberikan apoteker subspesialis
dalam : (brown, T.R. 1992)

2.4.2

a. Pelayanan penderita kritis


b. Unit gawat darurat
c. Pelayanan onkologi-hematologi
d. Pelayanan dalam transplantasi organ
e. Pelayanan dalla bedah/anastesi
f. Pelayanan penderita penyakit kronik.
g. Pelayanan untuk pediatric
h. Pelayanan untuk psikiatrik
i. Pelayanan toksikologi klinik
Kriteria Penetapan Prioritas Pelayanan Farmasi Klinik

Untuk memulai pelayanan farmasi klinik perlu ditetapkan kriteria


penetapan prioritas penerapan pelayanan farmasi klinik disuatu rumah
sakit, antara lain : (siregar, C.J.P. 2002)
1. Pelayanan

yang

langsung

memengaruhi

penulisan

serta

penggunaan obat yang paling tepat dan rasioanal


2. Pelayanan yang langsung meningkatkan keamanan dan kepatuhan
penderita
3. Pelayanan segera dapat dilakukan tanpa penambahan biaya yang

2.4.3

besar
4. Permintaan profesioanl kesehatan lainnya
Pelayanan Farmasi Klinik Prioritas
Sesuai dengan kriteria tersebut, prioritas pelayanan farmasi klinik
yang perlu dilakukan apoteker, antara lain : (siregar, C.J.P. 2001)
1. Pelayanan farmasi klinik dalam panitia farmasi dan terapi (PFT)
Fungsi apoteker dalam PFT adalah sekretaris, tetapi
diharapkan agar peranan dan kontribusinya dalam PFT harus
berarti besar bagi PFT khususnya dan rumah sakit umumnya dan ia
harus merupakan salah satu motor penggerak, motivator dari
kinerja PFT agar produktif. Apoteker bukan hanya menyiapkan
agenda dan notulen rapat saja, tetapi ia harus proaktif memberi
masukan untuk rapat panitia yang digunakan sebagai bahan acuan
dalam mengambil keputusan. Pelayanan farmasi klinik dala
berbagai kegiatan PFT, antara lain menghasilkan : (siregar, C.J.P.
2001)
a. Formularium obat rumah sakit yang selalu mutakhir
b. Berbagai kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang sesuai
c. Pelaksanaan program edukasi tentang obat yang dilaksanakan
secara terus menerus
d. Pelaksanaan program evaluasi penggunaan obat (EPO)
e. Pelaksanaan pemantauan terapi obat (PTO)
f. Pelaksanaan program pemantauan dan pelaporan reaksi obat
merugikan (ROM) yang dapat dilaksanakan secara konsisten.
Keberhasilan PFT itu akan tercapai jika ada kerjasama yang
erat antar anggota panitia terutama antara apoteker rumah sakitt
dengan seluruh staf medis rumah sakit dan yang terpenting ialah

10

kontribusi pelayanan farmasi klinik apoteker pada keberhasilan itu


tidak dapat diabaikan. (siregar, C.J.P. 2001)
2. Pelayanan farmasi klinik dalam kegiatan sistem formularium
Formularium yang berhasil ialah jika selalu mutakhir dan
sediaan obat yang tertera didalamnya ditulis oleh semua staf medis
untuk penderita sehingga penggunaan obat yang tertera didalamnya
ditulis oleh semua staf medis untuk penderita sehingga penggunaan
obat non formularium sangat sedikit. Keberhasilan formularium
demikian

hanya

dapat

dicapai

dengan

penerapan

sistem

formularium secara wajib dirumah sakit. (siregar, C.J.P. 2001)


Definisi sistem formularium adalah suatu metode yang
diterapkan staf medis, bekerja melalui PFT, mengevaluasi, menilai,
dan memilih dari banyak zat aktif dan produk obat dalam
perdagangan, yang dipertimbangkan paling aman dan bermanfaat
bag perawatan penderita dan hanya produk obat yang demikian
tertera dalam formularium dan disediakan di IFRS. Jadi, sistem
formularium adalah alat yang penting dalam memastikan mutu
penggunaan

obat.

Pelaksanaan

sistem

formularium

adalah

keharusan dirumah sakit dan PFT harus diberikan wewenang dan


tanggung jawab penuh melaksanakannya. Apoteker dengan
pengetahuan tentang obat yang dimilikinya, merupakan anggota
kunci dalam sistem formularium. (siregar, C.J.P. 2002)
3. Pelayanan farmasi klinik dalam proses penggunaan obat
Pelayanan apoteker dalam proses penggunaan obat berbasis
farmasi klinik antara lain wawancara sejarah obat penderita,
konsultasi dengan dokter, mengkaji resep/order dokter, menulis
profil

pengobatan

penderita

(P3),

meracik/enyediakan,

menyampaikan obat keruang penderita, konseling dengan penderita


dan pemberian informasi kepada perawat, pemantauan penggunaan
obat untuk memaksimalkan kepatuhan penderita, medeteksi efek
dan/ atau reaksi obat merugikan dan untuk meningkatkan
outcomes obat. (siregar, C.J.P. 2001)

11

4. Pelayanan farmasi kilnik dalam sistem distribus obat berorientasi


pada penderita
Suatu sistem distribusi obat yang berhasil ialah jika tidak ada
kesalahan obat (zero defect); obat tepat waktu diterima penderita;
adanya informasi yang cukup bagi perawat dan penderita tentang
regimen obat; tidak ada obat yang hilang; adanya pemantauan
penggunaan obat untuk mendeteksi reaksi alergi dan reaksi obat
merugikan; semua obat yang didistribusikan dirumah sakit berasal
dari IFRS dan penanggung jawab tunggal iyalah pimpinan IFRS.
Oleh karena itu, suatu sistem distribusi obat yang tepat untuk
penderita perawat tinggal, harus dipelajari denga seksama oleh PFT
dan IFRS dimulai dengan perencanaan, diterapkan secara bertahap
dengan proyek percobaan sampai sistem itu diterapkan diseluruh
rumah sakit. (siregar, C.J.P. 2001)
5. Pelayanan farmasi klinik dalam konsultasi dan pelayanan informasi
obat
Kegiatan yang menjadi sasaran informasi obat di rumah sakit,
yang wajib dilayani sentra informasi obat tersebut, antara lain :
(siregar, C.J.P. 2001)
a. Menjawab pertanyaan
Dalam hal ini, sasarn yang dilayani adalah profesional
kesehatan

dan

penderita

yang

mengajukan

pertanyaan

langsung kepada apoteker.


b. Penyediaan informasi untuk berbagai panitia diruah sakit,
misalnya :
Panitia farmasi dan terapi (PFT)
Informasi obat untuk pemutakhiran

formularium,

pengadaan, dan perumusan kebijakan tentang obat.


Panitia evaluasi penggunaan obat (EPO)
Panitia program pelaporan reaksi obat merugikan (ROM)
Panitia pengendalian infeksi nosokomial
c. Informasi dalam buletin farmasi dirumah sakit
d. Informasi untuk materi edukasi obat bagi penderita dan
profesional kesehatan

12

e. Informasi untuk program untuk evaluasi penggunaan obat


Untuk penetapan kriteria yang mencakup : indikasi,
kontraindikasi, dosis, interaksi, duplikasi, uji laboratorium
sebelum dan selama terapi obat, komplikasi, outcomes
perawatan penderita tertentu dan kombinasi antagonis.
f. Informasi untuk kegiatan penyelidikan obat
g. Pelayanan informasi obat bagi staf medis, bertujuan :
Menetapkan tujuan terapi dan titik akhir terapi obat
Pemilihan zat terapi yang paling tepat
Penulisan regimen obat yang paling tepat
Pemantauan efek terapi obat berdasarkan indeks efek
Pemilihan metode penggunaan obat (konsumsi)
6. Pelayanan farmasi klinik dalam pengkajian dan pemantauan terapi
obat
Hal yang dipantau apoteker antara lain : (siregar, C.J.P.
2001)
a. Penyalahgunaan obat
b. Salah penggunaan obat
c. Pola penulisan resep yang abnormal
d. Duplikasi resep
e. Interaksi obat-obat
f. Interaksi obat-makanan
g. Interaksi obat-uji laboratorium
h. Reaksi obat merugikan
i. Inkompatibilitas pencampuran intravena
j. Kondisi patologis penderita yang mempengaruhi

efek

merugikan dari terai obat yang ditulis


k. Data laboratorium farmakokinetik klinik untuk mengevaluasi
kemanfaatan terapi obat dan mengantisipasi efek samping,
toksisitas atau ROM
7. Pelayanan farmasi klinik dalam program evaluasi penggunaan obat
(EPO)
Evaluasi penggunaan obat(EPO) adalah proses jaminan mutu
terstuktur secara organisatoris diakui, ditujukan untuk memastikan
bahwa obat digunakan secara tepat, aman, dan bermanfaat.
Apoteker sangat berperan dalam panitia ini, antara lain dalam
penyediaan informasi obat yang sedang dievaluasi, penetapan
kriteria penggunaan obat yang sedang dievaluasi, mengevalasi

13

penggunaan dengan mengacu pada kriteria enggunaan yang


ditetapkan, berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan perbaikan /
solusi masalah atau perbaikan penggunaan obat, menilai efektifitas
tindakan perbaikan dan mengkomunikasikan temuan dalam EPO,
dan pelaksanaan tindakan perbaikannya serta hasilnya kepada
individu dan kelompok yang sesuai di rumah sakit.
8. Pelayanan farmasi klinik dalam program edukasi dan program
pelatihan In-Service tentang obat bagi profesional kesehatan.
Apoteker memiliki pengetahuan dan keahlian, yang patut
dibagi pada semua pihak yang terlibat dalam pengadakan,
penyimpanan, penulisan resep, dan penggunaan obat. Komunikasi
dengan kelompok diluar informasi farmasi, yang merupakan suatu
sarana yang efektif untuk meningkatkan pelayanan kesehatah
menyeluruh.
Apoteker

rumah

sakit

dapat

melaksanakan

program

pendidikan obat In-Service dalam berbagai bentuk edukasi bagi


profesional kesehatan, antara lain: edukasi langsung bagi perawat;
pengadaan buletin atau surat bagi dokter; berpartisipasi dalam
konferensi staf medis ; dan memberikan pendidikan In-Service
secara informal dalam kunjungan ke ruang.
9. Pelayanan farmasi klinik dalam edukasi dan konseling penderita
Keamanan dan keefektifan terapi obat akan terjadi bila
penderita memahami betul tentang obat dan penggunaannya.
Penderita
peningkatan

yang

cukup

kepatuhan

memahami
pada

obatnya,

regimen

obat

menunjukkan
yang

tertulis,

menghasilkan outcomes terapi yang meningkat. Oleh karena itu,


apoteker mempunyai tanggung jawab moral dan profesional
memberi edukasi dan konseling terapi obt bagi penderita.
Konseling penderita yang dilakukan apoteker merupakan suatu
komponen dari kepedulian farmasi dan harus ditujukan untuk
peningkatan

outcomes

penggunaan obat yang tepat.

14

terapi

dengan

memaksimalkan

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Hepler,C.D. dan Strand, L.M. 1990. Oppurtunities and responsibilities in
pharmaceutical care. American journal of hospital pharmacy.
Miller, R.G. 1981. Survival analysis. Newyork : Jhon wiley & sons.

15