Anda di halaman 1dari 4

CERITA RAKYAT NUSANTARA

Kab. Kepl. Talaud


CERITA RAKYAT TALAUD :

ASAL-USUL NAPOMBARU

Di zaman dulu ada seorang pemuda yang pekerjaan setiap harinya bertani dan berburu.
Namanya Lawongo. Ia terkenal sebagai seorang pandai membuat dan memainkan suling
sekaligus mencipta lagu. Lagu yang diciptakannya ada yang bertema kesedihan,
kegembiraan, percintaan, dan lain-lain.
Sebagai seorang pemuda yang tampan dan kekar, banyak gadis yang menaruh hati
padanya. Namun sayangnya, di antara sekian banyak gadis yang menyukainnya tersebut,
ia telah menambatkan cintanya pada seorang gadis yang kemudian dikawininya. Mereka
berdua saling mencintai dan hidup bahagia sampai akhirnya sebuah kejadian buruk
datang dan merubah keadaaan.
Pada suatu malam, Lawongo seperti biasa tidur bersama istrinya. Sekitar subuh ia
bermimpi. Di dalam mimpinya ia berkelahi dengan seekor babi yang besar. Pertarungan
tersebut berakhir dengan kematian babi yang ditikam Lawongo dengan sebilah Sondappa
(senjata berbentuk pisau yang berukuran besar).

Seusai mimpi tersebut, Lawongo bangun lalu bergegas ke hutan untuk berburu seperti
biasa. Seharian ia masuk keluar hutan namun tidak mendapat binatang yang bisa diburu.
Karena kelelahan dan kehausan ia terpaksa harus istirahat. Untuk menghilangkan rasa
haus yang menderanya, Lawongo berniat memetik beberapa buah kelapa muda.
Dicabutnya Sondappa yang senantiasa terselip dipinggangnya tersebut untuk memotong
kelapa muda. Tidak seperti biasanya, kali ini pisau besarnya tersebut sulit dicabut dari
sarungnya. Setelah dengan susah payah berusaha, akhirnya berhasil juga ia mencabut
senjata andalannya dalam berburu. Namun, alangkah terkejutnya ia sewaktu melihat
Sondappa yang akan digunakan untuk memotong buah kelapa itu justru berlumuran
darah.
Apa gerangan yang telah terjadi dengan Sondappa ini, tanya Lawongo dalam hatinya.
Semua kejadian berusaha diingatnya untuk mencari alasan mengapa senjatanya penuh
dengan lumuran darah yang memerah dan mulai mengering tersebut. Sampailah pada
dugaan tentang mimpi semalam yang berkelahi dengan babi. Jangan-jangan yang ditikam
dalam mimpi tersebut bukan babi melainkan istri tercintanya. Pertanyaan tersebut selalu
mencekami benaknya dalam perjalanan pulang ke rumah.
Dari jauh Lawongo melihat kerumunan orang di rumahnya. Makin kuatlah dugaannya
apalagi sewaktu ia tiba di rumah dan diinformasikan oleh sanak saudara tentang kematian
tragis yang menimpa istrinya. Tak salah lagi. Istrinya mati di tangannya sendiri.
Dalam keadaan yang sangat sedih Lawongo kemudian menceritakan mengenai peristiwa
yang dialami sejak subuh, yaitu mimpi dan perjalanan berburuhnya. Lalu katanya,
Saudara-saudara sekalian, penyebab semua kejadian ini adalah saya sendiri, sekalipun
tidak ada keinginan sekecil apapun dalam pikiran saya untuk membunuhnya. Saya sangat
mencintainya.
Maka, saudara-saudara sekalian, lanjut Lawongo, aku mau mati bersama istriku.
Buatkanlah peti jenazah yang berukuran lebih besar, yang bisa menampung dua orang
sekaligus. Tolong buatkan juga lubang di atas penutup peti. Lubang itu akan disambung

dengan sepotong bambu panjang sampai ke atas tanah agar saya bisa bernapas. Saya akan
membawa suling ke dalam liang kubur yang akan ditiup terus menerus sampai saya mati.
Percuma saja sanak saudara yang berusaha mencegah keinginan Lawongo, tekadnya telah
benar-benar bulat. Sehingga setelah semua persiapan pemakaman rampung, mereka
berdua pun dikuburkan bersama-sama.
Sayup-sayup terdengar bunyi suling dari dalam tanah yang terus mengalunkan lagu-lagu
kesedihan. Irama-irama penyesalan seorang suami yang tanpa sengaja telah membunuh
istri tercintanya. Lambat-laun bunyi itu melemah. Tepat hari ketiga bunyi suling berhenti.
Jelaslah bagi penduduk desa bahwa Lawongo telah meninggal dunia.
Mengetahui hal ini, saudara perempuan Lawongo makin terguncang dalam duka. Di
malam ketiga itu ia mendapat mimpi; Lawongo, kakaknya, datang padanya. Di dalam
mimpi Lawongo berkata,
Jangan larut dalam kesedihan. Bangunlah. Pergilah ke pantai. Jika melihat benda putih
di kaki langit dan bergerak mendekatimu, janganlah ditunjuk.
Setelah mendapat mimpi aneh itu, pagi-pagi benar saudara perempuan Lawongo itu
bergegas menuju pantai. Setibanya di sana, ditatapnya kaki langit. Aneh. Sebuah benda
sebesar titik makin lama makin besar bergerak dari arah laut dengan cepat mendekatinya.
Melihat benda putih yang semakin dekat itu, menjadi takutlah perempuan itu. Sambil
berteriak minta tolong kepada penduduk sekitar, tanpa sadar ia telah mengabaikan pesan
kakaknya untuk tidak menunjuk ke arah benda yang datang itu. Tepat jarinya terancung
menunjuk, berhentilah benda yang datang dari kaki langit tersebut.
Di kemudian hari benda putih itu diketahui ternyata adalah sebuah pulau karang, yang
oleh penduduk setempat disebut Napombaru. Napombaru berasal dari kata Napo (pulau
karang atau kumpulan batu karang) dan Baru/balu (berubah), yang artinya bisa
diinterpretasikan sebagai batu yang datang dan berubah-ubah dari jauh.
Sampai sekarang Napombaru menjadi salah satu penanda batas wilayah Talaud di bagian
Selatan. Hal inipun kemudian diabadikan dalam sebuah ungkapan Wassu Tinonda sara
Napombaru (dari Tinonda sampai Napombaru). Tinonda di bagian Utara sebagai penanda

batas dengan wilayah Philipina, sedangkan Napombaru di bagian Selatan sebagai


penanda batas dengan wilayah Sangir/Sangihe.
Demikianlah cerita tentang ASAL-USUL NAPOMBARU (Cerita ini merupakan salah
satu Sastra Lisan Talaud) by: Pusphita Sari Teppa.