Anda di halaman 1dari 6

KIMIA ANALITIK II

KROMATOGRAFI EKSKLUSI UKURAN


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah kimia anlitik II

Disusun Oleh:
NINDA PRAMITHA G20140024
WINDA AB.

FAKULTAS SAINS DAN FARMASI (FSF)


UNIVERSITAS MATHLAUL ANWAR BANTEN
2016

PEMBAHASAN

A. Kromatografi Ekslusi
Size-Exclusion

Chromatography

(SEC)

disebut

juga

Gel

Permeation

Chromatography (GPC), didasarkan pada pemisahan molekul polimer sesuai


dengan volume hidrodinamikanya ketika sampel diinjeksikan

ke dalam kolom

dengan meninjau perbedaan ukuran dan geometri molekul .


Pemisahan berbagai konstituen dengan meninjau perbedaan ukuran dan
geometri

molekul

adalah

dasar

kromatografi

ekslusi.

Perbedaan

ukuran

menyebabkan beberapa partikel bergerak lebih cepat dari yang lainnya sehingga
menimbulkan

perbedaan

permukaan

migrasi

kromatografi

ekslusi

dapat

dikelompokan dalam tiga kategori yaitu :


1. Teknik permeasi gel atau filtrasi gel
2. Ekslusi dan retardasi ion
3. Inorganic molecular sieves
1. Teknik Permeasi atau Filtrasi Gel
Teknik permeasi atau Filtrasi adalah suatu teknik yang menguraikan campuran zatzat sesuai dengan ukuran molekulnya. Teknik ini didasari atas inklusi dan eksklusi
suatu zat terlarut melalui suatu fase diam yang terbuat dari gel polimer yang terikat
silang dan berpori heterogen. Dalam kromatografi elusi cair-padat pemisahan terjadi
antara vase cair di dalam partike gel dan cairan di luar mengelilingi partikel gel..
Kromatografi gel memiliki beberapa keuntungan dalam penggunaannya
adalah pita-pita sempit, waktu pemisahan pendek,waktu pemisahan mudah
diramalkan,Harga Tr sesuai dengan ukuran cuplikan,tidak terjadi kehilangan cuplikan
atau reaksi selama pemisahan,hanya terjadi sedikit masalah dalam deaktivasi
kolom. Kromatografi gel juga memiliki kelemahan adalah kapasitas terbatas,tidak
dapat digunakan untuk cuplikan yang mempunyai ukuran hampir sama.
Pengelompokkan berbagai penggunaan kromatografi gel biasanya dibagi
dalam dua teknik yaitu teknik filtrasi gel (pelarut air) dan kromatografi permeasi gel
(pelarut oragnik).
a. Fasa Diam

Fasa diam yang digunakan untuk kromatografi gel merupakan bahan dalam ukuran
pori berbeda-beda dimana setiap ukuran cocok untuk pemisahan senyawa yang
tertentu berat molekulnya. Kebanyakan dengan kromatografi permeasi gel
digunakan fasa diam

polistirena berpori yang mempunyai ikatan silang divinil

benzena. Poragel dan Bio-Bead dapat untuk memisahkan senyawa yang relative
kecil sampai dengan berat molekul sekitar 20.000. Styragel untuk memisahkan
senyawa besar dengan berat molekul 20 juta. Gel vinil asetat berpori serupa dengan
gel polistirena, tetapi untuk senyawa dengan berat molekul rendah. Merkogels pori
kecil lebih baik digunakan untuk pemisahan senyawa dengan berat molekul kurang
dari 2000, dan kurang dari sejuta.
b. Fasa Gerak
Dalam kromatografi gel, tidak seperti pada kromatografi cairan lainnya, fasa
gerak tidak diubah ubah untuk mengatur resolusi. Fasa gerak dipilih dengan
kekentalan rendah pada suhu pemisahan ( supaya harga N tinggi ) dan untuk
melarutkan cuplikan. Fasa gerak dengan kekentalan rendah itu mempunyai titik didih
o

sekitar 25-50 C diatas suhu kolom. Jika cuplikan sukar larut, fasa gerak dipilih
supaya dapat melarutkan cuplikan.
Sebagai penunjang fase diam dalam pemisahan ini biasanya digunakan xerogelxerogel. Xerogel adalah suatu gel organik yang dapat bersifat hidrofilik (yaitu : agar
dan dekstran yang terikat silang pada poliakrilamida) ataupun hidrofobik (poistirena).
Xerogel-xerogel ini tersedia di pasaran dengan nama dagang biogel p-2
(poliakrilamida),sepadex G-10-200 (dekstran) juga styrogel (gel polistirena yang
dimodifikasi) dan agarose.
Kolom yang digunakan adalah kolom biaya pengelusi (luent) dibiarkan mengalir
karena grafitasinya. Laju aliran akan bertambah dengan bertambahnya ukuran
partikel seperti kromatografi pertukaran ion, laju aliran juga dapat dipengaruhi oleh
variasi porositas gel. Untuk suatu gel yang tidak padat, volume interstisi dapat
diturukan dengan pemberian tekanan, volume eluent berkisar antara 25 100 ml.
sepertii juga metode kromatografi lainnya, konsekwensi efluaennya diukur melalui
sifat-sifat fisik yang sesuai.. seperti indeks refraksi, absorbansi,, intensitaas pendar
flour atau sifat-sifat listriknya.
3

Pemisahann suatu tipe gel bergantung pada ukurran molekul dan sifat kimia dari zat
yang akan dipisahkan. Misalkan biogel 0 10 digunakan untuk zat-zat dengan berat
molekul berkisar antara 500-17000 satuan. Molekul dengan besar molekul diatas
batas ini yaitu limit eksklusif, akan lewat saja tanpa rintangan dari gel. Di bawah limit
eksklusi, zat tersebut akan terelusi pada volume elusi yang sesuai dengan volume
bed total. Untuk bekerja dalam medium tidak berai, gel yang tepat digunakan adalah
sephadex LH-20.
2. Eksklusi dan reterdarsi ion
Eksklusi ion adalah suatu proses untuk memisahkan materi ionic dari materi
nonionic didasari pada perbedaan distribusi pada ke dua tipe zat pelarut ini di antara
vase resin penukar ion dan larutan air. Jika suatu resin penukar ion diletakkan dalam
larutan elektrolit encer atau dalam air, konsentrasi elektrolit pada kesetimbangan
dalam fase resin akan lebih kecil dari pada larutan sekelilingnya yaitu fase luarnya,
tetapi bila resin diletakkan dalam suatu larutan nondielektrolit (dalam air), maka
nonelektrolit ini akan berubah untuk terdistribbusi secara merata pada kedua fase.
Jadi sebenarnya tidak terjadi penukaran ion dalam peristiwa absobsi elektrolit dan
elektrolit tersebut. Karena ke dua tipe zat terlarut ini dapat diekstraksi dari resin
dengan hanya mengencerkan larutan laurnya (sekelilingnya). Dengan air. Jiak suatu
latutan yang mengandung baik materi-materi ionic dan nonionic diletakkan pada
bagian atas kolom berisi resin dan dicuci dengan air, materi ionic akan mengalir
mengelilingi partikel resin sedang materi nonionic berdifusi kedalam pertikel-partikel
resin dan masuk kedalam rongga-rongga kosong antara partikel resin. Laju
perpindahan materi nonionic akiabatnya akan lebih rendah dari pada komponen
ionicnya dan akan teramati komponen ionic muncul terlebih dahulu sebagai efluen.
Jelasbahwa resin penukaran ion digunakan sebagai fase diam, dank arena tidak
terjadi penukaran ion, resindapat dipakai terus-menerustanpa regenerasi.
a) Mekanisme Eksklusi Ion
Suatu resin penukaran ion tidaklah sama dengan absobsi biasa. Dengan
mengatur jaringan muatan suatu resin, dapat diperoleh keadaan dimana hanya satu
macam ion elektrolit yang dieksklusikan. Jumlah total elektrolit yang berdifusi
kedalam resin dibatasi oleh prinsip elektronetralitas. Makin kuat terionisasi suatu
resin penukaran makin efesien untuk eksklusi ion. Banyaknya garam yang erdifusi
4

kedalam resin berkurang dengan bertamnbahnya kapasitas penukar ion suatu resin.
Sebagian besar ion elektrolit berberat elektrolit rendah yang mudah larut dalam air,
bebas berdifusi kedalam dan keluar resin tidak peduli besarnya kapasitas resin,
sehingga cenderung berkonsentrasi sama dengan ke dua fase saat kesetimbangan
tercapai.
b) Aplikasi Metode Ion Eksklusi
Gula dan garam tidak dapat dipisahkan dengan metode ini karena ukuran dan
ketidakmampuanya relative dari molekul sukrosa dan glukosa untuk berdifusi secara
cepat kedalam fase resin. Pemisahan elektrolit kuat dan molekul netral paling baik
dicapai dengan metode eksklusi ion, misalnya pemisahan NaCl dan etilen glikol, HCl
dan HC3COOH, CH3COOH; NaCl dan etano. Riechenberg telah menggunakan
teknik ini untuk pemisahan anggota deret Homolog, misalkan pemisahan asam
asetat dan asam n- butirat. Gugusan sulfanat yang bersiafat asam pada resin
penukaran ion, dapat menghasilkan efek garam pada materi organic dan cenderung
untuk menehan efek absorbsi matriks resin. Oleh karena itu rieman menggunakan
larutan garam sebagai pengganti larutan H2O untuk eluen dalam memisahkan
methanol, etanol dan propanol. Efek yang menguntungkan adanya garam dalam
eluen adalah efek garam selektif terhadap komponen nonionic dari fase larutannya.
3. Inorganic Molecular Sieves
Zeolit alam dan sintesis membentuk suatu saringan molekul untuk pemisahan
gas-gas dan molekul organic berukuran organic berukuran kecil. Volume suatu zeolit
terbentuk dari suatu rongga-rongga yang saling dihubungkan dengan saluransaluran

(channels).

Penyaringan

dan

aksi

penghambatan

dari

saluran

dikombinasikan dengan aktifitas adsobsi permukaan matriks Kristal sehingga


memungkinkan digunakannya zeolit untuk memisahkan molekulmolekul yang lebih
kecil dari ukuran saluran ini dari molekul yang lebih besar ukurannya dari ukuran
saluran. Aktifitas permukaan dan geometris molecular berperanan dalam pemisahan
ini.
Secara structural zeolit adalah rangka tetrahedral yang bersatu membetuk
struktur sarang tawon dengan rongga-rongga besar yang saling berhubungan
melalui saluran-saluran kecil. Penampang lintang dari saluran inilah yang
5

menentukan ukuran molekul yang dapat masuk ke dalam rongga-rongga. Ukuran


dari posisi ion logam (misal Na, Ca) dalam Kristal zeolit,dan tipe struktur jaringan
rangka tetra hedral alumina silica zeolit menentukan diameter efektif dari saluransaluran tersebut.
Molecular sieve mempunyai afinitas lebih besar terhadap molekul polar dan
senyawa yang berpolarisasi karena induksi pada molekul nonpolar yang berukuran
sama. Molekul-molekul polar tertahan dengan kuat dalam rongga Kristal. Pada
pemurnian dan industry gas, molekul sieve digunakan untuk menghilangkan
molekul-molekul tidak jenuh (polar). Zeolit digunakan juga sebagai medium
berlangsungnya reaksi. Bahan kimia didalamnya sebagai hasil reaksi dapat
dikeluarkan dengan menggunakan teknik vakum atau dengan pergeseran
menggunakan materi yang berabsorbsi kuat, misalkan air. Molecular sieve ini dapat
diaktifkan kemali dengan peanasan 200-3500 C. mereka juga digunakan dalam
kromatografi gas padat sebagai fase diamnya dalam kolom.

Daftar Pustaka
Application of Preparative Size-Exclusion Chromatography (SEC) for Separation /
Clean-UP of Platelets from Blood Plasma Before Their Chemical Investigation
Berg, E. W. 1963. Physical and Chemical methods of Separation. Mc Graw Hill
Dean, John, D. 1969. Chemical Separation Methods. New York: van Nostrand
Company.
Jurnal of The University of Chemical Technology and Metallurgy, Vol. 41, No. 1,
2012
Sudjadi, 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Fakultas Fadmasi Universitas Gajah
Mada