Anda di halaman 1dari 6

AJARAN-AJARAN MADZHAB SYAFI'I YANG DILANGGAR OLEH SEBAGIAN

PENGIKUTNYA 11 - DZIKIR SENDIRI-SENDIRI SETELAH SHOLAT BERJAMA'AH


DENGAN TIDAK MENGERASKAN SUARA
Kategori: Fiqh Diterbitkan pada 15 September 2013 Klik: 41421

Merupakan perkara yang sering kita dapati di masjidmasjid orang-orang yang mengaku bermadzhab syafi'iyyah adalah berdzikir dengan keras,
baik sebelum adzan, atau sesudah adzan sambil menunggu ditegakan sholat, demikian juga
dzikir

dan

do'a

berjama'ah

setelah

sholat

fardu

dengan

suara

yang

keras.

Tentunya hal ini terutama dzikir yang keras setelah adzan sambil menunggu sholatsangatlah mengganggu orang-orang yang mungkin sedang sholat sunnah, atau sedang
membaca

Al-Qur'an

atau

sedang

berdoa

atau

sedang

berdzikir

sendiri.

Demikian juga kita sering melihat pengingkaran yang muncul dari para jama'ah sholat
tersebut tatkala ada seseorang yang berdzikir sendiri dengan suara yang pelan, seakanakan orang tersebut telah menyelisihi sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam..???, bahkan
seakan-akan orang tersebut telah melakukan bid'ah dengan membawa ajaran baru karena
menyelisihi

jama'ah

sholat

yang

berdzikir

dengan

keras

tersebut

!!!.

Lantas bagaiamanakah petunjuk Al-Imam Asy-Syafi'i dalam berdzikir dan berdoa setelah
sholat

fardlu?

Apakah

dengan

dikeraskan

dan

dikerjakan

secara

berjama'ah??!

Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata :

Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat.
Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar bacaanbacaan dzikir tersebut, maka ketika itu dzikir dikeraskanlah, hingga dia menduga bahwa telah

dipelajari darinya (bacaan-bacaan dzikir tersebut-pen), lalu setelah itu ia memelankan


kembali

dzikirnya.

Karena

sesungguhnya
Allah
Azza
wa
Jalla
berfirman



"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya" (QS

Al-Isroo'

110)

(Al-Umm

2/288).

Yaitu wallahu A'lam- tatkala berdoa, "Dan janganlah engkau keraskan suaramu" yaitu
"Jangan kau angkat suaramu", dan "Janganlah engkau merendahkannya" sehingga engkau
sendiri

tidak

mendengar"

Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi


terdengar

suara

dzikirnya

maka

Imam

Syafii

menjelaskan

seperti

berikut:

Menurutku Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang
bisa belajar dari beliau. Kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau
selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadang-kala riwayat
menyebut Nabi berdzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut bahwa
Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap
di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras).
Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan dzikir yang tidak
dikeraskan/dijaharkan.

Jika seseorang berkata: Seperti apa? (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan
apa yang lain?-pen). Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersolat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur
belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah solat di atas mimbar pada kebanyakan usia
beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau,
dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam sholat), rukuk dan bangun (dari rukuk).
Beliau

ingin

mengajarkan

mereka

keluasan

dalam

itu

semua.

Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar
hingga perginya jama'ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah.
Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu,
tidak mengapa. Makmum boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam
bangun. Jika dia tunda/akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu
lebih

aku

sukai

untuknya.

"

(Al-Umm

2/288-289)

Perkataan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah di atas juga dinukil oleh Al-Imam An-Nawawi
dalam kitabnya Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzzab (3/468-469), setelah itu Al-Imam An-Nawawi
rahimahullah

berkata

"Al-Baihaqi dan yang lainnya berhujjah untuk tafsiran (yang disebutkan oleh Al-Imam AsySyafi'i-pen) dengan hadits Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata tentang firman
Allah



"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya" (QS

Al-Isroo'

110)

"Ayat ini turun tentang perihal berdo'a", diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Demikian pula perkataan para

ashaab

(para

ulama

besar

madzhab

syafi'iyah-

pen) bahwasanya dzikir dan do'a setelah sholat disunnahkan untuk dibaca dengan sir
(pelan). Kecuali sang imam ingin mengajari orang-orang maka ia membacanya dengan keras,
dan jika mereka (para makmum) telah mengetahui maka sang imam kembali membaca
dengan

pelan.

Al-Baihaqi dan yang lainnya berhujjah/berdalil tentang (pembacaan dzikir/doa) secara pelan
dengan hadits Abu Musa Al-Asy'ari radhiallahu 'anhu beliau berkata, "Kami bersama Nabi
shalallahu 'alaihi wa sallam (dalam safar), dan jika kami naik dari lembah maka kamipun
bertahlil dan bertakbir. Maka keraslah suara kami, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata, "Wahai manusia, hendaknya kalian lembut terhadap diri kalian, sesungguhnya kalian
tidak menyeru kepada dzat yang tuli dan tidak hadir, sesungguhnya Allah bersama kalian
Maha

Mendengar

dan

Maha

Dekat"

(Al-Majmuu'

Syarh

Al-Muhadzdzab

3/469)

Al-Imam
An-Nawawi
juga
berkata
dalam
kitabnya
At-Tahqiiq:





"Disunnahkan dzikir dan do'a selesai setiap sholat dan dengan sir (suara pelan), jika ia
seorang imam yang ingin mengajari mereka (para makmum) maka ia mengeraskan suara,
dan jika mereka telah belajar (mengerti) maka ia sir (pelan kembali) dan ia menghadap
mereka" (Lihat di Makhthuth kitab At-Tahqiiq karya An-Nawawi rahimahullah, dari Maktabah
Al-Azhar

(silahkan

download

file=m001045.pdf)

lembaran

Ibnu

Hajar

di
ke

http://www.al-mostafa.info/data/arabic/depot3/gap.php?
49,

halaman

sebelah

kiri,

baris

ke

12

dan

13)

Al-Haitami
ditanya
:

Dan Ibnu Hajar Al-Haitami semoga Allah menjadikan beliau bermanfaat bagi kaum muslimintentang apakah yang lebih utama membaca dzikir dan do'a-do'a secara sir (perlahan)?, dan
bagaimanakah bacaan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam?. Dan jika seseorang menjahr
(mengeraskan suara) dengan dzikir dan doa di suatu masjid padahal orang-orang sedang
sholat sehingga bacaan yang keras tersebut mengganggu mereka, maka apakah orang
tersebut

dilarang

atau

tidak?

Maka

Ibnu
Hajar
Al-Haitami
menjawab
dengan
perkataannya
:








"Yang sunnah dalam mayoritas doa dan dzikir adalah dengan sir (pelan) kecuali kalau ada
sebab tertentu. Dan ibarat syarahku (penjelasanku) terhadap kitab "al-'Ubab" bersama
matannya : "Dan disunnahkan berdoa dan berdzikir secara sir, dan imam mengeraskan dzikir

dan do'a setelah salam untuk mengajari para makmum. Jika para makmum telah faham maka
mereka

berdzikir

dan

berdoa

dengan

pelan"

"Adapun apa yang ditunjukkan dari ibarat yang ada di kitab Raudhoh bahwasanya sunnah
dalam berdzikir adalah dengan dikeraskan bukan dipelankan, maka tidaklah dimaksudkan
demikian. Karena menyelisihi apa yang ada di kitabAl-Majmu' (syarh Al-Muhadzdzab) dan
kitab yang lainnya dari Nash (pernyataan Al-Imam Asy-Syafi'i) dan juga para ashaab (para
ulama besar madzhab syafi'iyah) bahwasanya yang sunnah adalah dengan dipelankan (sir).
Dari sini maka Az-Zarkasyi berkata : "Yang sunnah dalam seluruh dzikir adalah dengan
dipelankan kecuali talbiyah dan bacaan qunut bagi imam, takbir tatkala malam lebaran idul
fitri dan malam idul adha, dan tatkala melihat hewan-hewan ternak tatkala tanggal 10
dzulhijjah dan diantara setiap dua surat dari surat Ad-Duha hingga akhir al-Qur'an, dzikir
tatkala masuk pasar (yaitu Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah dst), tatkala naik
dataran

tinggi

Kemudian

dan

tatkala

turun

dari

tempat

yang

tinggi"

Ibnu

Hajar
Al-Haitami
berkata
:





















"Dan membaca dengan keras tatkala ada orang yang sholat atau sedang tidur maka
hukumnya makruh sebagaimana dalam kitab Al-Majmuu' dan kitab yang lainnya-. Hukum
makruh ini mungkin jika gangguan (terhadap orang yang sholat dan tidur-pen) tidaklah parah,
jika parah maka hukum membaca dengan keras adalah haram" (Al-Fataawaa Al-Fiqhiyah AlKubro

1/157-158)

Kesimpulan Madzhab Asy-Syafi'i (sebagaimana kita simpulkan dari perkataan Al-Imam AsySyafi'i, Al-Imam An-Nawawi, Az-Zarkasyi, dan Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahumullah di atas)
adalah

sebagai

berikut

Pertama : Yang sunnah secara asal adalah berdzikir dan berdoa dengan sir (perlahan) dan
bukan dengan dikeraskan. Dzikir hanya dikeraskan jika ada dalil yang menunjukkan
dikeraskannya dzikir tersebut seperti talbiyah, takbiran, dll, sebagaimana pernyataan yang
tegas

dari

Az-Zarkasyi

rahimahullah.

Tentunya hal ini bertentangan dengan praktek sebagian orang yang mengaku bermadzhab
syafi'i yang menunjukkan mereka telah membalik perkaranya, sehingga di mata mereka yang
sunnah

asalnya

adalah

mengeraskan

suara

tatkala

dzikir

dan

berdoa??!!

Kedua : Membaca (termasuk membaca dzikir dan doa) dengan keras jika mengganggu orang
yang sedang sholat atau sedang tidur bisa hukumnya makruh atau haram jika gangguannya
parah.
Karenanya merupakan perkara yang salah adalah berdzikir dan berdoa dengan paduan suara

tatkala sedang thowaf di ka'bah, yang banyak diantara jama'ah yang tidak memahami makna
bacaan paduan suara tersebut, dan juga mengganggu orang-orang yang lain yang sedang
thowaf

dan

sedang

konsentrasi

berdzikir

dan

berdoa.

Ketiga : Yang sunnah adalah sang imam setelah salam adalah balik menghadap para
makmum. Namun kenyataannya kebanyakan orang-orang yang mengaku bermadzhab
syafi'iyah setelah salam dari sholat sang imam menghadap kiblat dan membelakangi para
makmum.
Keempat : Yang sunnah asalnya adalah sang imam setelah sholat berdzikir dan berdoa
dengan suara yang pelan (sir) dan tidak dikeraskan. Hanya saja boleh dikeraskan doa dan
dzikir tersebut kalau tujuannya untuk mengajari para makmum. Akan tetapi jika para
makmum telah mengerti maka imam kembali berdzikir dengan sir (pelan) demikian juga para
makmum

berdzikir

dengan

pelan.

Hal ini tentunya bertentangan dengan kebiasaan orang-orang yang mengaku


bermadzhab syafi'iyah yang mereka senantiasa berdzikir dan berdoa setelah sholat dengan
keras dan terkadang secara berjama'ah !!!