Anda di halaman 1dari 4

Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Dalam
pemahaman teori Deontologi memang terkesan berbeda dengan Utilitarisme. Jika dalam
Utilitarisme menggantungkan moralitas perbuatan pada konsekuensi, maka dalam
Deontologi benar-benar melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan.
Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak
boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan
karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak
dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Di
sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik.
Contoh : Misalkan kita tidak boleh mencuri, berdusta untuk membantu orang lain,
mencelakai orang lain melalui perbuatan ataupun ucapan, karena dalam Teori Deontologi
kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan.
Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling
banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Hak
didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Maka, teori hak
pun cocok diterapkan dengan suasana demokratis. Dalam arti, semua manusia dari berbagai
lapisan kehidupan harus mendapat perlakuan yang sama. Seperti yang diungkapkan
Immanuel Kant, bahwa manusia meruapakan suatu tujuan pada dirirnya (an end in itself).
Karena itu manusia harus selalu dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah
boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain (Bertens,
2000).
Contoh : Kaum kapitalis memandang kebebasan adl suatu kebutuhan bagi individu utk
menciptakan keserasian antara dirinya dan masyarakat. Sebab kebebasan itu adl suatu
kekuatan pendorong bagi produksi krn ia benar-benar menjadi hak manusia yg
menggambarkan kehormatan kemanusiaan.
Teori Keutamaan (Virtue)
memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu
adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai

berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk
bertingkah laku baik secara moral.
Contoh keutamaan :
1.Kebijaksanaan
2.Keadilan
3.Suka bekerja keras dan Hidup yang baik
misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan
tepat dalam setiap situasi.

Etika Deontologi
Etika deontologi adalah sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani deon yang berarti
kewajiban dan logos berarti ilmu atau teori. Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu
harus ditolak sebagai keburukan, deontologi menjawab, karena perbuatan pertama menjadi
kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang.
Sejalan dengan itu, menurut etika deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan
apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Karena bagi etika deontology yang
menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima
dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
Ada tiga prinsip yg harus dipenuhi :
1.

Supaya tindakan punya nilai moral, tindakan ini harus dijalankan berdasarkan kewajiban.

2.

Nilai moral dari tindakan ini tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu
melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan
tindakan itu, berarti kalaupun tujuan tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik.

3.

Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip ini, kewajiban adalah hal yang niscaya dari
tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal.

Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap baik karena tindakan itu memang baik pada dirinya
sendiri, sehingga merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya, suatu tindakan
dinilai buruk secara moral sehingga tidak menjadi kewajiban untuk kita lakukan. Bersikap adil
adalah tindakan yang baik, dan sudah kewajiban kita untuk bertindak demikian. Sebaliknya,
pelanggaran terhadap hak orang lain atau mencurangi orang lain adalah tindakan yang buruk
pada dirinya sendiri sehingga wajib dihindari.
Bagi Kant, Hukum Moral ini dianggapnya sebagai perintah tak bersyarat (imperatif kategoris),
yang berarti hukum moral ini berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat.
Perintah Bersyarat adalah perintah yang dilaksanakan kalau orang menghendaki akibatnya, atau
kalau akibat dari tindakan itu merupakan hal yang diinginkan dan dikehendaki oleh orang
tersebut. Perintah Tak Bersyarat adalah perintah yang dilaksanakan begitu saja tanpa syarat
apapun, yaitu tanpa mengharapkan akibatnya, atau tanpa mempedulikan apakah akibatnya
tercapai dan berguna bagi orang tersebut atau tidak.
Dengan demikian, etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan akibat dari tindakan
tersebut, baik atau buruk. Akibat dari suatu tindakan tidak pernah diperhitungkan untuk
menentukan kualitas moral suatu tindakan. Hal ini akan membuka peluang bagi subyektivitas
dari rasionalisasi yang menyebabkan kita ingkar akan kewajiban-kewajiban moral.
Contoh: Misalkan kita tidak boleh mencuri, berdusta untuk membantu orang lain, mencelakai
orang lain melalui perbuatan ataupun ucapan, karena dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak
bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan.
Atas dasar itu, etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauna baik dan watak yang kuat
untuk bertindak sesuai dengan kewajiban. Bahkan menurut Kant, kemauan baik harus dinilai
baik pada dirinya sendiri terlepas dari apa pun juga. Maka, dalam menilai tindakan kita, kemauan
baik harus dinilai paling pertama dan menjadi kondisi dari segalanya.

Ada dua kesulitan yang dapat diajukan terhadap teori deontologi. Pertama, dalam kehidupan
sehari-hari ketika menghadapi situasi yang dilematis, etika deontologi tidak memadai untuk
menjawab pertanyaan bagaimana saya harus bertindak dalam situasi konkret yang dilematis itu.
Ketika ada dua atau lebih kewajiban yang saling bertentangan, ketika kita harus memilih salah
satu sambil melanggar yang lain, etika deontologi tidak banyak membantu karena hanya
mengatakan, bertindaklah sesuai dengan kewajibanmu.
Persoalan kedua, sebagaimana dikatakan oleh John Stuart Mill, para penganut etika deontologi
sesungguhnya tidak bisa mengelakkan pentingnya akibat dari suatu tindakan untuk menentukan
apakah tindakan itu baik atau buruk.para penganut etika deontologi secara diam-diam menutup
mata terhadap pentingnya akibat suatu tindakan supaya bias memperlihatkan pentingnya nilai
suatu tindakan moral itu sendiri.
Kedua persoalan tersebut tapi dapat dipecahkan, persoalan pertama dipecahkan oleh W.D Ross
dengan mengajukan prinsip prima facie. Menurut Ross, dalam kenyataan hidup ini, kita
menghadapi berbagai macam kewajiban moral bahkan bersamaan dalam situasi yang sama.
Dalam situasi seperti ini kita pertlu menemukan kewajiban yang terbesar dengan membuat
perbandingan antara kewajiban-kewajiban itu. Untuk itu, Ross memperkenalkan perbedaan
antara kewajiban prima facie dan kewajiban-kewajiban actual. Kewajiban prima facie adalah
kewajiban yang selalu harus dilaksanakan kecuali kalau bertentangan dengan kewajiban lain
yang sama atau lebih besar.
Pandangan Adam Smith, mengenai persoalan kedua adalah suatu tindakan dapat dinilai baik atau
buruk berdasarkan motif pelakunya serta berdasarkan akibat atau tujuan dari tindakan itu. Hanya
saja dipihak lain, bagi Adam Smith, motif dan kemauan saja tidak dengan sendirinya
menentukan nilai suatu tindakan. Juga motif tidak dengan sendirinya membebaskan seseorang
dari kesalahan moral karena tindakannya.
Misalnya, seseorang tanpa sengaja membuang kulit pisang dipinggir jalan, kemudian kulit pisang
itu menyebabkan seseorang yang lain terjatuh hingga terluka bahkan menemui kematian, jelaslah
melakukan suatu tindakan yang salah secara moral, bukan karena motifnya untuk melukai atau
membunuh, melainkan karena tindakannya itu berakibat merugikan orang lain.