Anda di halaman 1dari 16

Pendekatan Geografi Untuk Pengembangan Wilayah

Pendahuluan
Bidang ilmu Geografi pada dasarnya mempelajari berbagai komponen fisik muka
bumi, mahluk hidup (tumbuhan, hewan dan manusia) di atas muka bumi, ditinjau
dari persamaan dan perbedaan dalam perspektif keruangan yang terbentuk akibat
proses interaksi dan interrelasinya. Untuk mempermudah mempelajarinya, berbagai
persoalan keruangan (spatial problems) dirumuskan dalam rangkaian pertanyaan :
Apa jenis fenomenanya? Kapan terjadinya? Di mana fenomena tersebut terjadi?
Bagaimana dan kenapa fenomena tersebut terjadi di daerah tersebut dan tidak
terjadi di daerah lainnya?

Fenomena keruangan, atau fenomena geografis, baik tentang aspek fisik maupun
aspek non-fisik serta interaksi dan interrelasi ke duanya, dalam proses belajar
mengajar dapat dimulai dari yang paling sederhana seperti lokasi sekolah, lokasi
pasar, kantor kelurahan atau kantor puskesmas, atau lokasi banjir, longsor, gempa
bumi, dapat diungkap melalui pertanyaan bagaimana dan kenapa ada di tempat
tersebut sedang di tempat lain tidak? Selanjutnya, adanya perbedaan kepadatan
penduduk di wilayah perdesaan dan wilayah perkotaan, adanya perubahan pola
penggunaan tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk sebagai contoh
adanya peranan manusia dalam perubahan fisik muka bumi (mans role in changing
the face of the earths).

Fenomena keruangan saat ini yang menjadi issue global seperti konflik wilayah
perbatasan antar Negara, terbentuknya ketimpangan ekonomi Negara Negara di
dunia (ada yang sangat kaya dan sangat miskin), dampak perkembangan teknologi
informasi yang bersifat tanpa batas (borderless) sebagai tantangan geograf di
seluruh dunia untuk merespon bahwa the end of Geography adalah tidak terjadi.
Interaksi dan interrelasi
(*) Makalah disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Geografi
Dalam Persiapan Sertifikasi Guru yang diselenggarakan oleh Ikatan Geograf
Indonesia (IGI) bekerjasama dengan Depdiknas di Bandung tanggal 15-18
Nopember 2006.
(**) Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI dan Ketua III IGI Pusat.

antar ruang muka bumi masih nyata dengan adanya issue mengglobalnya penyakit
menular yang mematikan seperti kasus penyakit SARS, kolera tahun 60-an, HIV Aids
atau kekawatiran dunia saat ini terhadap issue penyakit Avian Influensa atau Flu
burung yang memiliki kecenderungan terjadi pandemic.

Sebagaimana bidang ilmu lain, ilmu Geografi juga memiliki alat ukur keruangan
seperti jarak antar dua tempat, baik dalam satuan panjang, satuan nilai ekonomi
dan satuan waktu, dan satuan luas (biasanya diekspresikan dalam bidang datar)
dalam hektar atau km2, hasil perhitungan jumlah obyek, baik berdiri sendiri
maupun dalam satuan luas (kepadatan) atau dalam satuan ratio. Di samping
disajikan dalam bentuk diagram, table atau gambar profil, sarana penyajian
informasi geografi paling efektif adalah dalam bentuk peta karena sebuah peta
dapat memberikan penjelasan fenomena geografis dalam perspektif keruangan.
Oleh karena keterbatasan media penyajian ruang muka bumi ke dalam bidang datar
maka sebuah peta mensyaratkan adanya skala peta. Kita mengenal istilah skala
kecil dan skala besar sesuai dengan tingkat informasi yang akan dihasilkan.
Semakin besar skala peta maka informasi atau data yang dihasilkan semakin detil
dan sebaliknya. Skala peta sangat tergantung pada tujuan pengguna peta. Teknik
membuat peta dipelajari dalam Kartografi sebagai salah satu pelajaran inti dalam
Geografi. Dengan adanya kemajuan teknologi computer saat ini dikenal teknologi
GIS atau Sistem Informasi Geografi yang mampu menghasilkan sebuah peta relative
secara lebih cepat dan akurat. Teknologi GIS juga dapat digunakan sebagai alat
bantu analisis geografis.
Secara teoritis, dalam menelaah suatu persoalan keruangan, Geografi memiliki tiga
pendekatan utama yaitu (1) analisis spasial, (2) analisis ekologis dan (3) analisis
komplek regional sebagai gabungan dari pendekatan (1) dan (2). Pendekatan ke
tiga merupakan cara yang lebih tepat digunakan untuk menelaah fenomena
geografis yang memiliki tingkat kerumitan tinggi karena banyaknya variable
pengaruh dan dalam lingkup multi dimensi (ekonomi, social, budaya, politik dan
keamanan). Salah satu contoh adalah telaah tentang pengembangan wilayah.

Pengembangan Wilayah

Kegiatan pengembangan wilayah adalah suatu kegiatan yang memiliki dua sifat
yaitu sifat akademis dan sifat birokratis dalam mengelola wilayah. Sifat akademis
biasanya menggunakan istilah seyogyanya dan sifat terapan biasanya
menggunakan istilah seharusnya. Dengan demikian, pendekatan geografi, dalam
tulisan ini, dapat digunakan dan dapat pula tidak digunakan dalam kegiatan
pengembangan wilayah tergantung kemauan politis pemegang kekuasaan. Suatu

pendekatan yang sudah dipilih dan diputuskan oleh pengambil keputusan politis
maka harus dilaksanakan oleh para pelaksana di lapangan dan tidak boleh
menggunakan yang lain. Produk politik seperti itu biasa disebut Undang Undang
atau berbagai peraturan lainnya. Tulisan ini mencoba melakukan elaborasi sistim
pembangunan yang berlaku saat ini dengan menggunakan pendekatan geografi.

Berbeda dengan sistim pembangunan pada era orde baru yang bertitik tolak dari
GBHN yang berisi garis besar rencana pembangunan yang ditetapkan oleh MPR,
sistim pembangunan pada era reformasi saat ini bertolak dari Program
Pembangunan Nasional (Propenas) yang berisi rencana pembangunan (lima tahun)
yang disusun oleh Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat dan setelah
mendapatkan persetujuan dari DPR. Saat ini, pemerintah (pemerintah pusat) dan
pemerintah daerah, dalam melaksanakan pembangunan mengacu pada UU nomor
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah atau dikenal dengan UU Otonomi
Daerah sebagai amandemen dari UU nomor 22 dan 25 tahun 1999. Di samping itu
berbagai UU lainnya seperti UU nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, UU nomor 25 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU nomor 2 tahun 1992 tentang
Rencana Tata Ruang, UU nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan UU
lainnya yang telah mendapatkan persetujuan DPR-RI digunakan sebagai acuan
dalam melaksanakan pembangunan.
Namun demikian pada prakteknya sistim pembangunan saat ini tidak berbeda
dengan masa yang lalu karena masih menggunakan istilah pembangunan sektoral
dan pembangunan daerah. Bidang pembangunan dijabarkan dalam sector, program
dan proyek pembangunan. Proyek merupakan jenjang terrendah dari hirarki istilah
dalam pembangunan dan pada tahap ini pelaksanaannya membutuhkan dana
dan tanah. Dan dapat dimengerti, hasil pelaksanaan dari proyek pembangunan
tahap inilah yang akan merubah kualitas lingkungan hidup, apakah semakin baik
atau sebaliknya malah banyak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat.

Konsepsi pembangunan wilayah pada dasarnya adalah pembangunan proyek


proyek berdasarkan hasil analisa data spasial (Sandy dalam Kartono, 1989). Karena
yang disajikan adalah fakta spasial maka ketersediaan peta menjadi mutlak
diperlukan. Karena keseluruhan proyek berada di tingkat kabupaten/kota maka
pemerintah kabupaten/kota mutlak perlu menyiapkan peta peta fakta wilayah
dalam tema tema yang lengkap. Dalam lingkup pekerjaan inilah antara lain dituntut
peran aktif para ahli geografi.
Pengwilayahan data spasial untuk menetapkan proyek pembangunan disebut
wilayah subyektif, sedang wilayah yang ditetapkan untuk suatu bidang kehidupan
sebagai tujuan pembangunan (penetapan wilayah pembangunan) disebut wilayah

obyektif. Implementasi wilayah pembangunan pada umumnya tidak sesuai dengan


aspirasi masyarakat.

Produk akhir dari analisis data spasial disebut wilayah geografik sedang cakupan
ruang muka bumi yang dianalisis disebut area/geomer/daerah.

Saat ini semakin dapat dirasakan bahwa perkembangan suatu daerah tertentu tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh daerah sekitarnya mulai dari daerah tetangga
sampai daerah yang lebih jauh jaraknya bahkan pengaruh dari bagian bumi lainnya.
Dampak globalisasi telah membuktikan hal itu. Oleh karena itu, wilayah sebagai
system spasial dalam lingkup kegiatan pengembangan wilayah merupakan
subsistem spasial dalam lingkup yang lebih luas. Sebuah kabupaten/kota, dalam
kegiatan pengembangan wilayah, di samping menganalisis data spasial
kabupaten/kota yang bersangkutan, juga perlu memperhatikan paling tidak
bagaimana perkembangan daerah sekitarnya (interregional planning). Sebuah
kabupaten/kota tidak dapat hidup sendiri dan oleh karena itu perlu mengadakan
kerja sama dengan daerah tetangganya.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, suatu proyek pembangunan daerah
dilaksanakan pada tingkat kabupaten/kota sebagai unit terrendah dalam hirarki
pembangunan. Proyek terkait dengan jenisnya dan dananya. Setelah jenis dan
dananya disediakan maka tahap berikutnya adalah menetapkan di bagian mana
dari daerah kabupaten/kota proyek tersebut akan dilaksanakan. Ada beberapa cara
untuk menetapkan proyek pembangunan. Cara penetapan proyek biasanya
dilakukan, pada tahap awal, melalui suatu kajian akademis antara lain berdasarkan
pendekatan geografi, pendekatan ekonomi dan lainnya.

Pendekatan geografi dilakukan melalui tahapan penetapan masalah, pengumpulan


data dan analisis data mulai dari kegiatan penyaringan, pengelompokan, klasifikasi
data, kegiatan pengwilayahan, korelasi dan analogi. Oleh karena adanya keragaman
berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, berdasarkan kemampuan keuangan
pemerintah dan skala waktu pelaksanaan, disusun skala prioritas proyek.
Hasil korelasi secara spasial (tumpang tindih atau overlay peta wilayah) dapat
ditunjukan masalah apa sebagai prioritas proyek dan di mana lokasi proyek tersebut
dilaksanakan. Dalam pelaksanaanya, pendekatan geografi tidaklah sesederhana itu.

Beberapa cara lain untuk menetapkan proyek pembangunan dapat disebutkan


antara lain dengan menerapkan teori Economic Base, Multiplier Effect yang

berkaitan dengan teori input-output dan penerapan teori lokasi,(Location Theory),


teori pusat (Central Place Theory) dan penerapan teori Kutub Pengembanngan
(Growth Pole Theory). .
Teori Lokasi. Paling tidak ada tiga hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam
menetapkan lokasi proyek pembangunan yaitu (1) pengeluaran terrendah (2)
jangkauan pemasaran dan (3) keuntungan tertinggi.
Teory Pusat Pelayanan. Pola ideal yang diharapkan terbentuk, asumsi homogin
dalam hal bentuk medan, kualitas tanah dan tingkat ekonomi penduduk serta
budayanya, Christaller menyajikan bentuk pola pelayanan seperti jejaring segi
enam (hexagonal). Bentuk pola pelayanan hexagonal ini secara teoritis mampu
memperoleh optimasi dalam hal efisiensi transportasi, pemasaran dan administrasi
(Haggett, 2001).
Teori Kutub Pertumbuhan. Berbeda dengan Christaller yang berlatar belakang ahli
Geografi, teori Kutub Pertumbuhan diprakarsai dan dikembangankan oleh para ahli
ekonomi. Teori ini melahirkan konsep ekonomi seperti konsep Industri Penggerak
(leading industry), konsep Polarisasi dan konsep penularan (trickle atau spread
effect).

Beberapa kelemahan penerapan cara cara di atas dalam penetapan proyek


pembangunan dihadapkan pada factor politis pengambil kebijakan di tingkat
kabupaten/kota utamanya pada era otonomi daerah saat ini, factor ketersediaan
dana dan bidang tanah tempat dilaksanakannya proyek tersebut. Pada akhirnya
dapat disimpulkan bahwa pendekatan geografi menjadi factor kunci dalam kegiatan
penetapan proyek pembangunan berdasarkan penetapan prioritas secara tepat.

Penutup
Pendekatan geografi dalam pengembangan wilayah paling tidak menggabungkan
dua hal yang berbeda dalam substansi analisis yaitu domain akademik dan domain
birokratik. Pendekatan geografi yang telah diuraikan di atas adalah suatu
pendekatan akademis yang bersifat logis dan rasional karena obyek terapannya
dalam konteks ruang muka bumi yang karena sifatnya disebut wilayah. Oleh karena
itu peta menjadi instrument dasar, baik pada tahap awal maupun akhir dari
kegiatan pengembangan wilayah.
Secara sederhana, karena contoh pengembangan wilayahnya di Indonesia, usaha
untuk memperoleh hasil/manfaat yang lebih baik dari kegiatan pengembangan atau
pembangunan suatu wilayah selalu berorientasi pada kehendak pemegang
kedaulatan atas wilayah yang dimaksud yaitu rakyat yang diekspresikan dalam
perangkat UU. Karena pada dasarnya kegiatan pengembangan wilayah diarahkan

untuk sebesar besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, lahir dan batin,
argument dari sudut pandang ekonomi, social budaya dan keamanan tidak dapat
diabaikan dalam pengembangan wilayah.
Para peserta pelatihan diharapkan dapat menularkan esensi tulisan ini kepada para
murid sekolah, dengan cara sederhana sesuai tingkat sekolahnya, dengan
menggunakan kata kunci : location, place dan space, sebagai alat bantu
menjelaskan berbagai fenomena geografis dalam perspektif keruangan.
BAHAN BACAAN
Haggett, 2001; Geography. A Global Synthesis. Pearson Education Ltd, Prentice
Hall,NY.
Sandy, IM dalam Kartono, 1989; Esensi Pembangunan Wilayah dan Penggunaan
Tanah Berencana Departemen Geografi FMIPA-UI Jakarta.
Undang Undang Otonomi Daerah, 2005,Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Geografi Regional, 2005; Kumpulan Bahan Kuliah Program Pasca sarjana Ilmu
Geografi Departemen Geografi FMIPA-UI .
Pendekatan Geografi dalam Pengelolaan Wilayah

Beberapa waktu lalu, banjir menggenangi beberapa daerah yang termasuk dalam
DAS Bengawan Solo. Banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, Jawa
Tengah dan Jawa Timur mengejutkan berbagai pihak dan masyarakat karena
luapannya yang sangat luas telah menggenangi wilayah di beberapa kabupaten,
mulai dari Sukoharjo, Solo, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Bojonegoro, Tuban,
Lamongan, dan Gresik.

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah di daratan yang secara topografis
dibatasi oleh igir alam berupa punggung bukit/ perbukitan dan gunung/
pegunungan, dimana wilayah tersebut berfungsi menampung air yang berasal dari
presipitasi (curah hujan) yang kemudian mengalirkannya melalui suatu sungai
utama yang merupakan single outlet.

Beberapa kalangan dan pakar berpedapat bahwa kerusakan ekositem DAS dan
sedimentasi Waduk Serbaguna Wonogiri-lah penyebab utama banjir. Sebenarnya
jauh hari sebelumnya, sudah muncul prediksi atau dugaan dari para pakar bahwa
usia waduk tidak akan lebih dari 20 30 tahun jika kondisi sedimentasi akibat erosi
lahan di daerah tangkapan waduk dibiarkan terus menerus. Sementara itu pada

awal pembuatan Waduk Serbaguna Wonogiri diharapan usia waduk dapat mencapai
100 tahun. Prediksi para pakar tersebut sangatlah berlawanan dengan yang
diharapkan sebelumnya. Pada kenyataannya kondisi sedimentasi yang terjadi
sungguh diluar prediksi, anak-anak Bengawan Solo di daerah hulu, utamanya di
daerah tangkapan airnya telah membawa banyak material sedimen yang
tersuspensi pada air yang dialirkannya. Sungai Keduang dilansir sebagai
penyumbang terbesar sedimen di Waduk Wonogiri. Banyaknya muatan sedimen
pada aliran Sungai Keduang tersebut berkaitan dengan semakin tingginya tingkat
erosi yang terjadi akibat maraknya konversi penggunaan lahan dan pola
pengelolaan lahan pertanian yang belum mengindahkan konsep dan arahan
konservasi tanah.

Ada beberapa faktor penyebab degradasi fungsi hidrologis dan degradasi lahan DAS
Bengawan Solo, diantaranya :
1.Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Misalnya, daerah
yang diperuntukkan sebagai kawasan lindung dialihfungsikan menjadi lahan
budidaya, kawasan penyangga dialihfungsikan menjadi lahan budidaya semusim
dan kawasan produksi dialihfungsikan menjadi permukiman. Kondisi seperti
tersebut, sangatlah mudah dijumpai di daerah hulu DAS Bengawan Solo.
2Pola penggunaan lahan belum menyesuaikan dengan kemampuan dan kesesuaian
lahan. Lahan yang semestinya hanya untuk kawasan budidaya tahunan dipakai
sebagai lahan budidaya tanaman semusim atau bahkan dipergunakan sebagai
permukiman. Lahan dengan kemiringan lereng >30% masih difungsikan sebagai
lahan pertanian intensif dan dipergunakan juga sebagai lokasi permukiman.
3 Perlakuan terhadap lahan belum memenuhi kaidah-kaidah konservasi lahan.
Kaidah-kaidah konservasi lahan sangatlah dipengaruhi oleh faktor geografis atau
lokasi dimana lahan tersebut berada. Pengelolaan dan teknik konservasi dari suatu
lokasi akan berbeda dengan lokasi yang lainnya, hal ini tergantung pada kondisi
tanah, topografi, penggunaan lahan, iklim dan geologi dari lahan yang
bersangkutan.
4.Tekanan penduduk atas lahan yang dipicu oleh pertumbuhan penduduk yang
cukup pesat. Pertumbuhan penduduk berarti pertambahan kebutuhan akan pangan
dan permukiman, dua hal tersebut akan memicu intensifikasi dan ekstensifikasi
penggunaan lahan. Daerah tangkapan air disekitar lereng Gunung Merapi dan
Gunung Lawu merupakan lahan yang sangat subur dan mempunyai daya tarik

keindahan pariwisata sehingga menjadi faktor penarik bagi manusia untuk


mengembangkan pemukiman dan pertanian di daerah tersebut.
5. Belum ada peraturan yang mengatur dan mengikat secara jelas mengenai
konservasi tanah dan air, sehingga masyarakat sebagai agen pengguna lahan
diharuskan menerapkan usaha konservasi tanah dan air secara memadai pada
setiap lahan yang digunakannya.

Dalam pengelolaan DAS, secara garis besar, sumberdaya alamnya dapat dipilahkan
menjadi dua sumberdaya alam utama, yaitu sumberdaya lahan dan sumberdaya air.
Dalam prakteknya, pengelolaan kedua sumberdaya tersebut tidak dapat dipisahkan,
namun harus terpadu, karena suatu kegiatan/ usaha pengelolaan salah satu
sumberdaya tersebut akan berdampak pada sumberdaya yang lain.
Secara keruangan, karakteristik DAS dapat diklasifikasikan menjadi 3 wilayah, yaitu
daerah hulu, daerah tengah dan daerah hilir. Tiap keruangan dari DAS tersebut
mempunyai karakteristik dan fungsi yang berbeda, sehingga dalam usaha
pengelolaan dan pemanfaatannya pun akan berbeda. Daerah hulu dari suatu DAS
berfungsi sebagai kawasan lindung dan tangkapan air bagi keseluruhan wilayah
DAS. Daerah tengah dari suatu DAS berfungsi sebagai kawasan penyangga,
sedangkan daerah hilir dari suatu DAS berfungsi sebagai kawasa budidaya.

Dalam konsep DAS berlaku hukum sebab akibat yang mengalir dari atas ke bawah,
oleh karena itu rusaknya daerah hulu (atas) dan tengah tentunya akan berdampak
pada kelestarian wilayah dibawahnya (hilir). Daerah hulu sebagai kawasan lindung
mempunyai nilai dan fungsi penting dalam menangkap dan menyimpan air, karena
itu terjadinya perubahan tata air di daerah hulu akan berdampak di daerah hilir
dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air, volume dan tranportasi sedimen serta
material yang tersuspensi dalam sistem aliran airnya. Dalam interaksi antar ruang
antara daerah hulu dan hilir, keduanya mempunyai keterkaitan dalam hal daur
hidrologi. Mengingat pentingnya fungsi daerah hulu dalam sistem tata air suatu
DAS, maka daerah hulu harus menjadi salah satu fokus perhatian.

Dalam suatu pembangunan berwawasan lingkungan, maka dalam pendekatannya


juga harus menggunakan sistem satuan wilayah yang mengacu pada ruang/
ekosistem lingkungan. DAS sebagai sebuah ruang (space) dan ekosistem
seharusnya sudah mulai digunakan sebagai pendekatan dalam pembangunan
wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan karena DAS memiliki
fungsi sebagai berikut :

Fungsi keruangan, karena DAS mempunyai ke-khas-an karakteristik dan batas-batas


fisik dan yang jelas. Didalamnya terdapat berbagai komponen yang berinteraksi
sehingga membentuk sistem terpadu sebagai satu kesatuan ekosistem.

Fungsi hidrologi, karena didalamnya terdapat siklus hidrologi dan proses-proses


ikutannya.
Fungsi pembangunan, karena DAS dapat digunakan sebagai satuan wilayah
pembangunan dimana pengelolaannya untuk kesejahteraan masyarakat di
dalamnya.
Sistem pewilayahan yang sudah ada, dimana batas administrasi selalu dijadikan
batas pemisah, tidak akan berhasil untuk mengelola ruang dan ekosistem yang
notabene bukan ruang administratif. Sistem pewilayahan yang sudah ada tidaklah
harus dirubah, akan tetapi sistem dan pola koordinasi antar wilayah didalam DASlah yang harus dibenahi. Akan selalu diperlukan kemauan dan itikad baik dari
berbagai pihak demi ruang hidup yang lebih baik untuk kemaslahatan bersama.

1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang
menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam
perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial
pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).

Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur,


pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen
penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk
utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line
features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan
susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tersebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk seperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?

5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?


6. Who suffers what dan who benefits what? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia.
Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan
dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
2. Pendekatan kelingkungan
Pendekatan ekologi/lingkungan merupakan pendekatan berdasarkan interaksi yang
terjadi pada lingkungan.Pendekatan ekologi dalam geografi berkenaan dengan
hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan fisiknya.Interaksi tersebut
membentuk sistem keruangan yang dikenal dengan Ekosistem.Salah satu teori
dalam pendekatan atau analisi ekologi adalah teori tentang lingkungan.Geografi
berkenaan dengan interelasi antara kehidupan manusia dan faktor fisik yang
membentuk sistem keruangan yang menghubungkan suatu region dengan region
lainnya.Adapun ekologi, khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi
antara manusia dan lingkungan yang membentuk sistem ekologi atau ekosistem.

Dalam analisis ekologi, kita mencoba menelaah interaksi antara manusia dengan
ketiga lingkungan tersebut pada suatu wilayah atau ruang tertentu.Dalam geografi
lingkungan, pendekatan kelingkungan memiliki peranan penting untuk memahami
fenomena geofer.
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada
keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang
ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan
hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula
dikaitkan dengan:
(1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan
manusia.
(2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis
serta kesadaran akan lingkungan.

Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai


berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku
(behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment).
Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan,
dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan
gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses

sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan


yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan
fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan
lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena
lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk
dan proses anorganik.

Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu


pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap
sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi
tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang.
Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan
tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat
terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan
secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan,
dan hewan yang hidup di lokasi itu.
(2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam
mengelola alam di lokasi tersebut.
(3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya).
(4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan lingkungan masyarakat.

Sumber : DR. Djoko Harmantyo, MS


Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI
Disusun untuk memenuhi permintaan Panitia Penyelenggara Pelatihan Peningkatan
Kompetensi Guru Geografi Dalam Persiapan Sertifikasi Guru.
Diposkan oleh suaibatul islamiyah di 17.45
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

PENDAHULUAN

Kondisi geografis wilayah dan kependudukan adalah sebuah ilmu bagian dari
ilmu pengetahuan sosial. Ilmu ini bersifat wawasan dan pengetahuan. Dalam
makalah ini akan kami jelaskan tentang kondisi geografis wilayah dan penduduk.
Yang dimana dalam masalah ini kami mengambil Negara kesatuan republik
Indonesia sebagai contoh untuk kami jelaskan tentang kondisi geografis dan
penduduknya serta masalah-masalah yang timbul di dalamnya.

Dalam kondisi letak Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai


mempunyai wilayah perairan dan daratan. Sehingga menyebabkan penduduknya
multikultural. Kerena sangat beragamnya penduduk Indonesia serta luasnya wilayah
Indonesia maka muncul masalah dalam kondisi lingkungan geografis ataupun
masalah yang timbul dari kependudukan.

Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang: Kondisi geografis wilayah Indonesia,
kondisi penduduk wilayah Indonesia dan masalah yang timbul dalam kondisi
geografis lingkungan dan kependudukan telah di tulis dalam makalah ini. Sehingga
mudah di pahami sebagai sebuah pembelajaran.

PEMBAHASAN

Kondisi geografis suatu wilayah

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini juga


memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya strategis. Hal ini dapat
dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua
sekaligus memiliki perairan yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan
internasional. Posisi ini menempatkan Indonesia berbatasan laut dan darat secara
langsung dengan sepuluh negara di kawasan. Keadaan ini menjadikan Indonesia
rentan terhadap sengketa perbatasan dan ancaman keamanan yang menyebabkan
instabilitas dalam negeri dan di kawasan.[1]

Letak geografis yaitu letak suatu daerah atau negara dilihat dari kenyataannya
di permukaan bumi dibandingkan dengan posisi daerah itu pada bola bumi
dibandingkan dengan posisi daerah lain. Secara geografis, wilayah Indonesia
terletak di antara dua benua dan dua samudera, yaitu benua Asia dengan benua
Australia serta samudera Hindia dengan samudera Pasifik.[2]

Kondisi penduduk suatu wilayah

Penduduk adalah seseorang yang tinggal di suatu wilayah baik selamanya


ataupun sementara. Pada masalah ini kami menbahas tentang kondisi penduduk di
wilayah Indonesia

Penduduk Indonesia adalah orang yang tinggal di Indonesia baik selamanya


ataupun sementara. Penduduk Indonesia menduduki urutan terbanyak ke empat
setelah Cina, India dan amerika serikat. Keadaan penduduk Indonesia sangat
beragam hal itu di sebabkan penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku
bangsa[3]

Kondisi Penduduk Indonesia Menurut para ahli ilmu Geologi, kepulauan


Indonesia yang merupakan suatu gugusan yang terpanjang dan terbesar di dunia.
Ini terbukti bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan yang masyarakatnya
majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang menyebar dari Sabang
(ujung Sumatera Utara) sampai Merauke (ujung Papua). Keanekaragaman sukubangsa ini tentunya seperti yang telah disebutkan di awal pembahasan ini, bahwa
Indonesia terletak di cross position (posisi silang). Bukan saja suku-bangsa atau ras

yang beraneka ragam di Indonesia, tetapi juga keaneragaman kepercayaan


(agama), misalnya seperti Hindu, Budha, Kristen (Katolik dan Protestan), Konghucu
dan Islam. Bahasa juga merupakan suatu kekayaan bangsa kita, ada bahasa
Indonesia menjadi bahasa persatuan dan bahasa-bahasa daerah yang menjadi
identitas kesukuan. Sebagai daerah lintasan dan menjadi tempat tujuan setiap
orang yang melaluinya, bahkan ini sudah terjadi sejak satu juta tahun yang lalu
pada zaman prasejarah. Seperti persebaran manusia dengan ciri-ciri sebagai
berikut:

a. Kelompok ras Austronesia-Melanesoid (Papua Melanezoid), ada yang


menyebar ke arah barat dan ada yang menyebar ke arah timur. Mereka yang
menyebar ke arah timur menduduki wilayah Indonesia Timur: Papua, Pulau Aru dan
Pulau Kai.

b. Kelompok ras Negroid, yang kini menjadi orang Semang di semenanjung Malaka,
orang Mikopsi di Kepulauan Andaman.

c. Kelompok ras Weddoid, antara lain orang Sakai di Siak Riau, orang Kubu di
Sumatera Selatan dan Jambi, orang Tomuna di Pulau Muna, orang Enggano di Pulau
Enggano, dan orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.

d. Kelompok ras Melayu Mongoloid, yang dibedakan menjadi dua golongan.

1). Ras Proto Melayu (Melayu Tua), antara lain Suku Batak, Toraja, dan Dayak.

2). Ras Deutro Melayu (Melayu Muda), antara lain Suku Bugis, Madura, Jawa, dan
Bali.[4]

Kehidupan suku-suku bangsa yang terdapat di Indonesia ada yang telah maju
dan mengikuti kehidupan modern namun ada juga yang masih tertinggal mereka
belum tersentuh kehidupan modern. Susu-suku bangsa yang mendiami daerah
pedalaman Papua, Sumatra, dan Kalimantan masih hidup secara sederhana.[5]

Masalah kondisi geografis lingkungan dan kependudukan.

Masalah yang timbul dalam kondisi geografis dan kependudukan ada berbagai
macam. Ada yang di sebabkan karena kondisi geografis lingkungan dan ada
masalah yang hubungannya tentang kependudukan.

Bencana alam di sebut juga peristiwa alam. Apa yang dimaksut peristiwa alam?
banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunumg meletus maupun angina topan
merupakan contoh-contoh peristiwa alam.[6]

Adapun permasalahan yang timbul dari masyarakat atau kependudukan.


Karena manusia makluk sosial maka manusia selalu berinteraksi Antara individu
satu dengan individu yang lain. Dalam interaksi krhidupan sehari-hari tersebut
manusia tak dapat luput dari sebuah permasalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapan dengan berbagai masalah hal
itu terjadi akibat dari hubungan antar manusia. Beberapa maslah social yang di
hadapi dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah kemiskinan, kejahatan,
kenakalan remaja, dan pengangguran.[7]

PENUTUP

Dengan mempelajari kondisi geografis wilayah dan penduduk kita dapat


mengetahui bahwa Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi, baik
dari segi keadaan alamnya, maupun keadaan sosialnya. Kondisi alam Indonesia

yang bervariasi mengakibatkan kondisi penduduk yang bervariasi keadaan


sosialnya.

Di mana berbagai varian keadaan sosial juga mengandung potensi konflik yang
besar. Namun, yang patut disyukuri betapa pun majemuknya bangsa Indonesia,
kehidupan di dalamnya tetap bisa berjalan harmonis (Bhineka Tunggal Ika) dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Kondisigeografis Negara Indonesia http:/.blogspot.com/p/

kondisigeografisnegaraindonesia. html. Download: 25 November 2013.

Geografi Sanjose | http://abelpetrus.wordpress.com. Download: 16 November 2013.