Anda di halaman 1dari 9

AUDIT ENERGI PADA WHB (WASTE HEAT BOILER) UNTUK PEMENUHAN

KEBUTUHAN STEAM PADA PROSES UREA (STUDI KASUS PADA PT.


PETROKIMIA GRESIK-JAWA TIMUR)
A.

Audit Energi
Energi sebagai kebutuhan pokok manusia dapat diibaratkan sebagai uang, dimana
pemakaiannya haruslah bijaksana, produktif dan efisien. Perlu diketahui jika sumber energi
yang dipakai selama ini seperti minyak bumi, batubara merupakan energi konvensional dan
berfungsi sebagai sumber energi dalam melakukan aktifitas kehidupan kita, yang mana
cadangan sumber energi sangatlah terbatas. Karena sifat energi yang tidak dapat diciptakan,
maka hal inilah yang mendorong untuk mendapatkan alternatif dan jalan keluar untuk
mengamankan penyediaan energy yang diperlukan. Untuk mengamankan sumber energi dapat
dilakukan dengan cara mengembangkan sumber energi yang bias diperbarui.
Permasalahannya sekarang sumber energi pengganti belum membuahkan hasil optimal
untuk dimanfaatkan sumber energi cenderung semakin meningkat. Perlu kita sadari apabila
sumber energi konvensional habis, gaya hidup yang biasa kita lakukan dapat berubah drastis
jika sumber energi tidak dikelola dengan hemat dan bijaksana. Menghemat energi adalah
menghemat biaya, meningkatkan daya saing serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Upaya yang dapat dilakukan dalam menghemat energi, salah satunya adalah dengan melakukan
audit energi.
Audit energy adalah teknik yang dipakai untuk menghitung besarnya konsumsi energi
pada bangunan gedung dan mengenali cara-cara untuk penghematannya. Audit energi
merupakan teknik yang dipakai untuk menghitung besarnya konsumsi energi pada bangunan
gedung dan mengenali cara-cara untuk penghematannya. Audit energi merupakan aktifitas
pemeriksaan berkala untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan dalam suatu kegiatan
penggunaan energi. Audit energi, juga dapat berguna dalam menelusuri dimana dan berapa
energi yang digunakan, mengidentifikasi kebocoran atau ketidak efisienan energi, menentukan
langkah perbaikannya serta mengevaluasi tingkat kelayakannya. Audit energi bertujuan untuk
mengetahui potret penggunaan energi dan mrncari usaha yang perlu dilakukan dalam rangka
meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Lingkup bahasan petunjuk teknis ini meliputi :
a. Kriteria audit energy
b. Audit energi awal
c. Audit energi rinci
Petunjuk teknis ini menggunakan standar yang berlaku di Indonesia. Apabila ada besaran
yang belum diatur di Indonesia, dapat digunakan standar lain yang dapat diterima oleh
masyarakat profesi, antara lain standar ASHARE, JIS dan lain sebagainya selama standar
tersebut tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.
Melalui audit energi dapat diketahui pola distribusi energi, sehingga bagian yang
mengkonsumsi energi terbesar dapat diketahui. Dari hasil audit energi juga dapat diketahui
besarnya peluang potensi penghematan apabila dilakukan peningkatan efisiensi. Audit energi
dilakukan untuk mencapai hal sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui nilai Intensitas Konsumsi Energi dan profil pemakaian energi
eksisting operasional fasilitas suatu industri pada periode tertentu.
2. Untuk mengidentifikasi jenis alternatif konservasi energi, maupun penghematan energi
sebagai bagian dari manajemen energi sebuah industri.
3. Memilih suatu keputusan alternatif jenis konservasi energi yang terbaik sebagai
rekomendasi perencanaan manajemen energi industri.
Pelaksanaan audit energy pada dasarnya akan menguntungkan pihak itu sendiri. Kerena
ada Aspek Pencapaian yang diharapkan dari proses Audit Energi, yaitu:

saving in money : adanya manajemen energi, dapat mengurangi biaya operasional. Dengan
demikian keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkat.
environmental protection : adanya penggunaan energi yang efisien maka akan memberikan
kontribusi bagi dunia dalam hal membantu pelestarian alam dengan menjaga dan
mempertahankan cadangan minyak bumi dunia agar tidak segera habis.
sustainable development : adanya penggunaan energi yang efisien maka akan memberikan
kontribusi bagi perusahaan di bidang pertumbuhan yang berkelanjutan baik di sisi finansial
maupun penggunaan peralatan industri yang memiliki lifetime maksimum/optimum.
B.

WHB (WASTE HEAT BOILER)


Waste Heat Boiler (WHB) merupakan tipe boiler yang memanfaatkan sebagian energi
panas untuk pembakaran dari luar sistem yaitu berasal dari gas buang Generator Turbin Gas
(GTG). Untuk mencapai kualitas steam yang diharapkan maka dibutuhkan energi panas yang
sesuai. Penambahan energi panas dari dalam boiler dilakukan oleh ruang pembakar (duct
burner) yang tergantung pada laju aliran bahan bakar. Waste heat boiler sendiri dibagi menjadi
beberapa komponen yang bekerja saling berkesinambungan, dimana tiap - tiap komponen
memiliki peranan masing - masing untuk menghasilkan steam produk yang diinginkan.
Komponen - komponen dari waste heat boiler adalah sebagai berikut:
1. Deaerator.
2. LP drum. 3.
3. Feed water pump
4. Economizer.
5. Duct burner.
6. Steam Drum (HP Drum).
7. Evaporator.
8. Superheater.
9. Stack

1.

Gambar 1 : Waste Heat Boiler


Hukum Kesetimbangan Energi
Dasar yang digunakan untuk memodelkan plant ini adalah hukum kesetimbangan energi.
Segala proses yang terjadi pada plant dimodelkan dalam bentuk persamaaan matematika,
sehingga proses yang terjadi di dalam plant bisa diartikan secara fisis.

Kontrol Volume
Untuk pendekatan kontrol volume termal (panas) pada waktu (t) yaitu laju energi panas
dan mekanik yang masuk pada kontrol volume ditambah dengan laju energi panas yang
dibangkitkan dalam kontrol volume dikurangi dengan laju energi panas dan mekanik

yang meninggalkan kontrol volume harus sama dengan kenaikan laju energi yang
tersimpan dalam kontrol volume.

Total Mass Balance


dan laju aliran fluida [volume per unit waktu (ft3/min atau m3/min)] untuk aliran
input dan output. Asumsi bahwa densitas konstan (temperatur tidak berubah) sehingga
persamaan 4 menjadi:

Total Heat Balance

Dimana Q adalah jumlah supply panas per unit waktu. Asumsi =0 , sehingga
persammannya menjadi:

2.

a.
b.
c.
d.

Persamaan Gas Ideal


Pada dasarnya gas ideal merupakan pendekatan yang dilandasi oleh asumsi - asumsi sebagai
berikut:
Gas terdiri atas partikel-partikel dalam jumlah yang besar sekali, yang senantiasa bergerak
dengan arah sembarang dan tersebar merata dalam ruang yang kecil.
Jarak antara partikel gas jauh lebih besar daripada ukuran partikel, sehingga ukuran partikel gas
dapat diabaikan.
Tumbukan antara partikel-partikel gas dan antara partikel dengan dinding tempatnya adalah
elastis sempurna.
Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku.
Persamaan gas ideal dapat ditulis sebagai berikut :

C.

Langkah-langkah Penelitian
Metode dari audit energi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas
penggunaan energi serta rasional dalam pemakaian dan pengoperasiannya. Dengan penggunaan
energi yang efisien, efektif, dan rasional tersebut tentunya tanpa mengurangi: kualitas dan
jumlah produk di industri, dan produktivitas dan kenyamanan kerja karyawan. Jenis audit ini
menawarkan perkiraan yang paling akurat untuk penghematan biaya dan konsumsi energi.
Langkah-langkah :
1. Identifikasi ketel uap (WHB) waste heat boiler
Identifikasi waste heat boiler ini dilakukan untuk mengetahui spesifikasi waste heat
boiler, data penggunaan waste heat boiler serta data data pendukung lainnya seperti hasil
dari steam yang dihasilkan, konsumsi steam tiap bulan, tiap tahun, dan berapa banyak
bahan bakar yang digunakan. langkah selanjutnya adalah menganalisa data yang meliputi
kestimbangan massa dan kestimbangan energi dan energi masuk dan energi yang keluar.

Datadata ini nantinya yang digunakan sebagai patokan pada langkah langkah audit
berikutnya.
2. Melakukan pengamatan (WHB) waste heat boiler

Pengamatan kondisi aktual waste heat boiler dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini
dari waste heat boiler tersebut. Selanjutnya menggunakan teori kestimbangan massa dan
kestimbangan energi. Dimana meliputi analisa termodinamika prinsip kerja pada WHB
dan bahan bakar yang digunakan dan bagaimana proses pembakarannya.
3. Menghitung konsumsi energi (WHB) waste heat boiler
Perhitungan konsumsi energi pada waste heat boiler ini dilakukan pada beberapa tahapan.
Pada tahap awal dilakukan dengan mengambil data yang digunakan untuk menunjang
penelitian ini adalah spesifikasi pada plan WHB. Beserta komponen-komponennya,
karakteristik dan prinsip kerjanya, konsumsi bahan bakar (gas alam), dan data aktual pada
control room (DCS) dimana data tersebut meliputi tekanan steam, suhu pada steam,
kondisi ekstraksi pertama.
Analisa Termodinamika Berdasarkan Siklus Rankine
Analisa termodiinamika digunakan untuk mengetahui secara perhitungan kinerja pada
komponen sistem WHB sebagai berikut.
Fluida kerja menyelesaikan siklus ketika cairan yang meninggalkan pompa Pada kondisi 4
yang disebut air-pengisian , dipanaskan sampai jenuh dan diuapkan di dalam boiler.
Dengan menggunakan volume atur yang melingkupi tabung boiler dan drum yang
mengalirkan air-pengisian dari kondisi 4 ke kondisi 1, kestimbangan laju massa dan energi
menghasilkan.

Uap pada boiler pada kondisi satu berada pada temperature dan tekanan yang tinggi,
kemudian dibuang ke kodensor pada kondisi dua dengan tekanan yang relatif rendah.

Berikut ini adalah perhitungan aktual yang terjadi pada Turbin dip roses WHB. Dimana
data aktual didapat dari daya ideal yang dibandingkan terhadap efisiensi maks turbin.

Pada pompa kondensat cair yang meninggalkan kondensor di kondisi 3 di pompa di


kondenser ke dalam boiler yang bertekanan lebih tinggi. Dengan menggunakan volume
atur di sekitar pompa dan diasumsikan tidak ada perpindahan kalor dengan sekitarnya,
kesetimbangan laju massa dan energi adalah
Pada kondensor terjadi perpindahan kalor dari uap ke air pendingin yang mengalir dalam
aliran yang terpisah. Pada kondisi tunak, kesetimbanagan laju masssa dan energi untuk
volume atur yang melingkupi bagian kondensasi dari penukar kalor dinyatakan dengan
persamaan berikut.

Setelah mendapatkan nilai masing-masing kinerja komponen pada sistem WHB,


selanjutnya perhitungan effisiensi thermal pada siklus sistem WHB adalah sebagai berikut

Dari perhitungan siklus termal dengan menhitung setiap komponen pada siklus,
selanjutnya dengan data yang diperoleh dari data yang diambil perhari maka diperoleh
efisiensi sebesar 32.70344%. Nilai efisiensi ini didapat dari kinerja turbin dikurangi
dengan kinerja pompa, selanjutnya dibagi dengan laju kalor yang masuk pada WHB.

Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui jika distribusi yang dihasilkan dari proses WHB,
dimana steam yang dihasilkan dari proses WHB dijelaskan sebesar 68.55 Ton/jam selanjutnya
hasil dari steam digunakan sekitar 77%. Steam yang dihasilkan dari WHB juga digunakan
untuk recovery urea sebesar 10 Ton/jam dan juga digunakan untuk konsentrasi larutan PH
sebesar 5 Ton/jam. Proses diatas berlaku hukum kesetimbangan energi, dimana energi yang
masuk sama dengan energi yang keluar. Dapat disimpulkan bahwa energi yang masuk tidak
sama dengan energi yang keluar, produksi steam oleh WHB sebesar 68,55 Ton/jam sedangkan
steam yang digunakan hanya sebesar 65.04 Ton/jam. Berikut data produksi steam pada WHB.

Gambar 2 Produksi Steam pada WHB


Dari gambar 2 diagram produksi dan penggunaan steam pada unit Utilitas pabrik 1 PT
Petrokimia Gresik, dijelaskan pola penggunaan steam yang dihasilkan oleh WHB sebesar
68.55Ton/jam atau 77%, steam yang digunakan untuk proses di turbin Urea yang berfungsi
sebagai penggerak pompa-pompa pada unit Urea. Selanjutnya sebesar 10Ton/jam atau sebesar
15% digunakan untuk Recovery pada proses urea dan untuk proses konsentrasi larutan PH
diman disini larutan yang yang ada di panaskan pada suhu tertentu, dan steam yang digunakan
sebesar 5Ton/jam atau sekitar 8% dari produksi yang dihasilkan WHB. Berikut ini adalah
Tabel profil konsumsi energi di pabrik PT Petrokimia Gresik.
Tabel 1 profil konsumsi Energi

Selanjutnya adalah tabel yang menjelaskan konsumsi Steam dan bahan bakar untuk
menghasilkan setiap ton untuk menghasilkan 1 ton pupuk Urea.
Tabel 2 Konsumsi Steam dan Bahan Bakar

Perbandingan konsumsi Bahan Bakar terhadap Steam

Gambar 9 Grafik perbandingan konsumsi bahan bakar terhadap steam


Perbandingan grafik antara kondisi Turbin actual terhadap kondisi ideal turbin

Gambar 10 Grafik Perbandingan Daya Q-in WHB Terhadap Daya Turbin


Daya yang dihasilkan pada turbin, dari grafik dapat dilihat perbedaan kondisi yang berbeda,
seperti pada tanggal 10 Januari Q-in turbin mengalami peningkatan konsumsi atau Q-in namun
berbeda dengan daya pada turbin yang mengalami penurunan.
Perbandingan Grafik antara Kondisi Pompa Aktual terhadap pompa Ideal

Gambar 11 Perbandingan Pompa Ideal terhadap kondisi Pompa Aktual


Perbandingan kondisi aktual turbin terhadap kondisi ideal pompa. Dimana dijelaskan
perbandingannya yang terlihat adalah kondisi pompa ideal lebih tinggi terhadap kondisi aktual.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh ireversibilitas Pompa . Rekomendasi Peluang Penghematan
Energi pada WHB Dari design awal diketahui konsumsi bahan bakar pada burner sebesar
1,483 MMBtu bahan bakar/jam sehingga konsumsi bahan bakar/hari. 2.439,83 MMBtu.
sehingga 1645.2 x 1,483 = 2.439,83 MMBtu/Ton.
Dari kondisi aktual setelah dilakukannya audit diketahui konsumsi bahan sebesar 2440
MMBtu/day. Berikut adalah Perhitungan burner setelah dilakukan audit sebesar 1.569,6
Ton/hari. Untuk 1 Ton steam yang dihasilkan, membutuhkan 1,483 MMBtu bahan bakar.
4Sehingga 1.569,6 x 1,483 = 2.327,7168 MMBtu/Ton/hari.
Pada sitem WHB yang telah dilakukan audit energi dimana rekomendasi yang dapat
dilakukan dengan memanfaatkan sistem gas buang atau exhaust dari GTG. Dengan cara
meregenerasi, pemanfaatan kembali udara panas dengan alat penukar kalor yang disebut
regenerator. Konsumsi bahan bakar pada burner system WHB sebesar 121.557kJ/kg.
sedangkan konsumsi bahan bakar pada burner setelah ditambah regenerator pada exhaust
sebesar 6.027 kJ/kg. Mampu mengurangi konsumsi bahan bakar pada burner sistem WHB di
PT.Petrokimia Gresik. Sehingga konsumsi burner ideal sebesar: 121.557 kW x 24jam=
2,917,368 kWh. Konsumsi burner dengan sistem regenerator sebesar 6.027 kW x 24jam
=144.648 kWh.
D.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kinerja pada sistem WHB berdasarkan siklus rankine. Untuk produksi 1 Ton pupuk
membutuhkan 18,23 kg/Ton steam. Sedangkan untuk memproduksi 1 Ton steam membutuhkan
bahan bakar sebesar 1,484 MMBtu/Ton steam.
Steam yang dihasilkan oleh sistem WHB sebesar 68.55 Ton/jam, digunakan untuk menggerakkan
turbin pada proses urea sebesar 50.04 Ton/jam, 10 Ton/jam digunakan untuk Recovery urea dan 5
Ton/jam dan loses sebesar 03.51 Ton/jam pada proses turbin. Kinerja aktual pada pompa sebesar
1504.328 kW dan diperoleh data aktual pada proses WHB adalah sebesar 94716.95 kW.
Konsumsi bahan bakar pada burner sistem WHB sebesar 121.557kJ/kg. sedangkan konsumsi
bahan bakar pada burner setelah ditambah regenerator pada exhaust sebesar 6.027 kJ/kg. Mampu
mengurangi konsumsi bahan bakar pada burner sistem WHB di PT. Petrokimia Gresik.

E.

Rekomendasi Untuk Menerapkan Strategi Dari Hasil Audit


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi waste heat boiler. Faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Excess air
Pembakaran di dalam sistem boiler selalu membutuhkan udara lebih dengan maksud
untuk mencapai pembakaran sempurna. Untuk meningkatkan efisiensi boiler, besarnya
excess air dapat diatur. Excess air yang rendah menyebabkan pembakaran kurang

2.

3.

4.

5.

6.

sempurna sehingga terbentuk gas CO. Sedangkan excess air yang terlalu tinggi dapat
meningkatkan kerugian panas yang terbawa oleh gas buang yang keluar melalui
cerobong. Terdapat perbandingan tertentu antara udara pembakaran dengan bahan bakar
sehingga boiler akan bekerja dengan efisiensi terbaiknya.
Alat pembakar/burner
Burner berfungsi untuk mencampur udara pembakaran dengan bahan bakar. Performansi
burner mempunyai pengaruh yang penting terhadap efisiensi boiler karena
mempengaruhi kebutuhan excess air. Burner yang baik akan membentuk campuran
bahan bakar dan udara pembakaran dengan excess air yang minimum.
Temperatur gas buang/flue gas
Tingginya temperatur gas buang berarti bahwa tingginya panas yang dibawa gas buang.
Jika panas tersebut terbawa keluar cerobong oleh flue gas, maka hal ini merupakan suatu
kerugian.
Temperatur feedwater boiler
Efisiensi boiler dapat dinaikkan dengan menaikkan temperatur feedwater. Dengan
menaikkan temperatur feedwater, berarti jumlah panas yang diserap oleh feedwater dari
flue gas untuk membentuk uap jadi berkurang. Dengan demikian, pemakaian bahan bakar
menjadi berkurang. Cara untuk menaikkan temperatur feedwater yaitu dengan
menggunakan ekonomiser.
Tekanan uap/ steam pressure
Keuntungan penurunan tekanan kerja operasi boiler akan menurunkan kerugian panas
akibat radiasi pada boiler, menurunkan konsumsi energi dari pompa feedwater boiler dan
memperkecil kehilangan energi pada terminal penurunan tekanan. Akan tetapi, besarnya
penurunan uap tekanan kerja operasi dibatasi oleh kebutuhan uap dan pipa distribusi uap
pada boiler.
Pengaruh bahan bakar
Komposisi yang berbeda dari bahan bakar mempunyai pengaruh terhadap efisiensi boiler.
Pengaruh tersebut ditentukan oleh kandungan hidrogen dalam bahan bakar yang akan
menyebabkan perbedaan moisture content dalam flue gas dan perbedaan jumlah panas
yang dilepas pada pembakaran bahan bakar.

Oleh karena itu untuk meningkatkan efisiensi pada waste heat boiler, maka dapat
dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. Faktor kelebihan udara/excess air
Dengan menurunkan excess air, maka konsumsi bahan bakar akan menjadi lebih sedikit.
Dengan demikian, efisiensi boiler akan meningkat.
2. Temperatur flue gas
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi boiler adalah dengan menurunkan
temperatur flue gas serendah mungkin sampai pada batas yang diijinkan, karena
temperatur flue gas yang terlalu rendah akan mengakibatkan korosi pada cerobong.
terdapat dua hal yang dapat menyebabkan tingginya temperatur flue gas, yaitu tidak
cukupnya pemukaan perpindahan panas dan buruknya permukaan perpindahan panas.
Permukaan perpindahan panas dapat ditingkatkan dengan menginstalasi air preheater
atau ekonomiser. Air preheater digunakan untuk meningkatkan temperatur udara
pembakaran dengan memanfaatkan panas flue gas. Ekonomiser digunakan untuk
meningkatkan temperatur air pengisi boiler dan juga menyerap panas dari flue gas. Untuk
memperbaiki permukaan perpindahan panas dapat dilakukan dengan pembersihan pipapipa air dari kotoran

3.
4.

Melakukan pengoptimalisasi kinerja pada proses GTG sehingga dapat mengurangi


konsumsi bahan bakar pada burner.
Untuk melakukan pengembangan pada penelitian lebih lanjut tentang audit energi pada
sistem pembangkit. Dalam satu sistem pembangkit uap dan gas diharapakan untuk lebih
mengevaluasi tentang kinerja sistem pembangkit kombinasi antara pembangkit listrik
tenaga gas dan pembangkit listrik tenaga uap, sehingga akan diperoleh kinerja dari
sebuah sistem kombinasi dimana effisiensi thrmal pada sistem pembangkit dengan
kombinasi tenaga gas dan uap.

Untuk menerapkan strategi dari hasil audit sebenarnya tergantung dari kebijakan industri
atau perusahaan yang bersangkutan. Penerapan strategi tersebut merupakan langkah nyata
untuk melakukan penghematan energi. Tapi sekali lagi, penghematan energi memang penting,
tetapi jangan sampai mengurangi kenyamanan sehingga mempengaruhi kinerja suatu
perusahaan atau industri. Harus sesuai standar yang telah ditetapkan dan jangan sampai
mengurangi tingkat keselamatan.