Anda di halaman 1dari 9

TELAAH JURNAL PENELITIAN

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP TEKANAN


DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI DESA KARANGBENDO
BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA
Untuk Memenuhi Tugas Telaah Jurnal Study Profesi Departemen Gerontik

Disusun Oleh :
Ike Evilia Noviantari
115070207113007

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A. Latar belakang masalah:
Lansia adalah saat dimana berbagai penurunan fungsi organ terjadi. Pada
masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami berbagai kemunduran, baik
kemunduran fisik, mental, dan sosial (Azizah, 2011). Perubahan fisik yang terjadi

pada setiap lanjut usia sangat bervariasi, perubahan ini terjadi dalam berbagai
sistem, yaitu sistem integumen, sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal, sistem
reproduksi, sistem muskuloskeletal, sistem neurologis, dan sistem urologi. Semua
perubahan fisiologis ini bukan merupakan proses patologis, tetapi perubahan
fisiologis umum yang perlu diantisipasi (Potter & Perry, 2005).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan
pada masyarakat baik di negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia.
Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari
sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi
dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang
penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh
penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan anak ginjal.
Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang
terus-menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh
karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah
secara berkala (Sidabutar, 2009).
Banyak penelitian yang telah dikembangkan untuk mencari terapi non
farmakologis yang dapat digunakan untuk mendukung terapi farmakologis guna
mengontrol tekanan darah. Salah satu terapi non farmakologis yang telah
dikembangkan adalah dengan menggunakan tanaman cincau untuk menurunkan
tekanan darah lansia. Cincau dirasa potensial karena mudah didapat di masyarakat
sehingga lebih aplikatif untuk digunakan sebagai alternatif pengobatan. Selain itu
kandungan flavanoid yang terdapat dalam cincau juga berpotensi untuk menurunkan
tekanan darah.
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, prevalensi hipertensi di
Indonesia tahun 2004 sekitar 14% dengan kisaran 13,4 - 14,6%, sedangkan pada
tahun 2008 meningkat menjadi 16-18%. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah
dilakukan peneliti dalam jurnal dijelaskan bahwa

jumlah lansia yang mengalami

hipertensi di RW 15 Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang


sebanyak 41%.
B. Pernyataan masalah
-

Dalam jurnal
Apakah terdapat Pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap
tekanan darah pada lansia dengan hipertensi

Dalam lansia binaan

Apakah teknik relaksasi otot progresif dapat menurunkan dan


mengontrol tekan darah klien dalam batas normal ( tidak lebih dari
120/90 mmHg).

C. Tujuan telaah hasil penelitian:


Tujuan umum:
-

Mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif untuk menurunkan

tekanan darah pada lansia binaan


Tujuan khusus
- Menerapkan teknik relaksasi progresif pada lansia binaan dengan hipertensi
- Mengidentifikasi tekanan darah lansia binaan sebelum penggunaan teknik
-

relaksasi otot progresif


Mengidentifikasi tekanan darah lansia binaan sesudah penggunaan teknik
relaksasi otot progresif

D. Telaah hasil penelitian

Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan quasi eksperiment. Hal ini dirasa tepat

karena metode quasi eksperiment digunakan pada penelitian yang tidak dapat
dilakukan pengontrolan yang ketat pada semua aspek yang mempengaruhi
variabel penelitian (Danim, 2003). Sedangkan desain penelitian yang digunakan
adalah pretest-posttest control group desain. Desain ini sesuai digunakan karena
peneliti ingin mengungkapkan hubungan sebab akibat tanpa melibatkan kelompok
kontrol (Nursalam, 2008). Kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan simple random sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
Criteria inklusi:
- lansia yang berusia 60 tahun
- mengidap hipertensi primer baik perempuan dan laki-laki
- bisa diajak berkomunikasi dengan baik
- bersedia menjadi responden
Dari kriteria inklusi tersebut didapatkan 36 lansia dari 42 lansia yang
bersedia menjadi responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Stratified Proportional Random Sampling yaitu pengambilan
sampel dalam populasi yang bersifat heterogen yang dibagi-bagi dalam
strata dan setiap strata pengambilan sampel dengan cara acak sesuai
dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Teknik sampling simple random
sampling juga dirasa kurang sesuai, karena peneliti juga menerapkan berbagai
syarat untuk menjadi responden seperti TD, usia dan jenis kelamin sehingga
purposive sampling dirasa lebih sesuai. Simple random sampling sesuai untuk

digunakan peneliti dalam menentukan kelompok kontrol dan eksperimen dari 22


responden tersebut.
Analisa data menggunakan paired sample t-test. Paired-Sample T-Test
sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini karena dapat mengetahui rata-rata dan
korelasi antara pre-test dan post-test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan
atau tidak, sehingga dapat diketahui apakah terdapat pengaruh cincau pada
penurunan tekanan darah klien (Hinton, 2004).

Cara Penelitian
Responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan

kelompok intervensi. Untuk kelompok kontrol tidak diketahui perlakuan apa yang
diberikan, sedangkan kelompok intervensi diberikan perlakuan dengan memberikan
latihan teknik relaksasi otot progresif untuk menurunkan tekanan darah. Namun
tidak dijelaskan secara pasti prosedur teknik relaksasi otot progresif seperti apa
yang diberikan. Serta tidak diungkapkan juga durasi atau berapa lama terapi
diberikan. Prosedur tindakan yang diberikan dimulai dari pengukuran tekanan darah
pretest pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, selanjutnya diberikan
intervensi latihan teknik relaksasi otot progresif kepada kelompok intervensi, dan
terakhir dilakukan pengukuran tekanan darah posttest pada kelompok intervensi
dan kelompok kontrol
Sedangkan Kompas (2010) menyebutkan bahwa penelitian khasiat cincau
untuk mengobati penyakit tekanan darah tinggi pernah dilakukan di tahun 1966
oleh Prof. Dr. Sardjito, Dr. Rajiman dan Dr. Bambang Suwitho dari Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada penelitian itu pasien diberi
daun cincau segar sebanyak 5 gram yang digerus dengan 150 cc air matang
kemudian diperas. Air perasan itu diberikan kepada pasien untuk diminum dua kali
sehari. Uji coba itu dilakukan kepada pasien tekanan darah tinggi dengan usia di
atas 40 tahun. Hasilnya pasien mengalami penurunan tekanan darah secara
signifikan. Seorang pasien usia 70 tahun dan tekanan darahnya mencapai
215mmHg/ 120mmHg mengalami penurunan tekanan darah menjadi 160mmHg/
100mmHg dalam satu bulan setelah mengkonsumsi cincau. Keluhan pusing, sering
lelah dan jalan sempoyongan hilang dan berat badan turun. Selain itu cincau hijau
untuk hipertensi juga dapat dibuat dengan 20 helai daun cincau hijau lalu dicuci
bersih. Remas-remas lalu beri 1 gelas air minum dingin lalu saring dengan kain.
Tambahkan jeruk nipis sesuai selera. Biarkan di tempat dingin sampai menjadi
agar-agar. Taruh di dalam gelas dan beri madu, atau sirup atau gula aren cair yang
sudah dimasak dengan pandan lali diminum.

Pengukuran variabel dependen dengan:


Pengukuran variabel dependen pada penelitian ini menggunakan tensimeter

dan stetoskop. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui seberapa besar


perbedaan TD yang terjadi pada lansia setelah diberikan cincau untuk mengontrol
tekanan darah. sehingga dapat diketahui apakah terdapat pengaruh penurunan
tekanan darah lansia dengan hipertensi setelah pemberian cincau.

Hasil penelitian:

Sebelum diberikan perlakuan pada kelompok kontrol tekanan darah sistolik


rata-rata 163.64 mmHg dengan tekanan darah sistolik terendah 150 mmHg
dan tertinggi 180 mmHg. Sedangkan untuk tekanan darah diastolik
mempunyai rata-rata 96.36 mmHg dengan tekanan darah diastolik terendah
80 mmHg dan tertinggi 110 mmHg. Pada kelompok eksperimen sebelum
diberikan perlakuan tekanan darah sistolik rata-rata 170.00 mmHg dengan
tekanan darah sistolik terendah 150 mmHg dan tertinggi 190 mmHg.
Sedangkan untuk tekanan darah diastolik mempunyai rata-rata 100.00 mmHg

dengan tekanan darah diastolik terendah 90 mmHg dan tertinggi 110 mmHg.
Perbedaan tekanan darah setelah diberikan perlakuan pada kelompok kontrol
dan eksperimen terlihat jelas yakni perbedaan mean kelompok kontrol dan
eksperimen setelah pemberian cincau adalah 20,91 mmHg untuk sistolik dan
8,64 mmHg untuk diastolik. Dengan rata-rata kelompok kontrol 160,91 mmHg
untuk sistolik dan 94,55 mmHg untuk diastolik. Sedangkan untuk kelompok
eksperimen 140,00 mmHg untuk sistolik dan 85,91mmHg untuk diastolik.

Hasil analisis dengan uji statistic paired sample t test didapatkan hasil p value
sebesar 0.00 hal ini menunjukkan memang terdapat pengaruh pemberian
cincau terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.

Pembahasan
Dalam pembahasan peneliti hanya menyebutkan bahwa cincau hijau

mempunyai flavanoid yang berfungsi menghambat ACE sehingga dapat


mengontrol tekanan darah. Didalam jurnal juga hanya terdapat satu sumber yaitu
Trubus, hal ini sebenarnya menjadi kelemahan jurnal karena data yang
dipaparkan kurang dapat memperkuat penelitian.
Flavonoid, disebut juga bioflavonoid, memberikan warna cerah pada buahbuahan dan sayuran. Zat kimia rumit ini yang membuat jeruk, paprika, dan berry
memiliki warna-warna yang sangat menarik. Selain membuat warna dan rasa
yang menarik bagi buah dan sayuran, flavonoid juga memberikan perlindungan
antioksidan bagi yang memakannya (Widjono, Sri Harsodjo, 2003).

Flavonoid merupakan bagian dari keluarga yang jauh lebih besar dari zat
tumbuhan yang disebut phytochemical. Sejauh ini, para ilmuwan telah
menemukan lebih dari 4.000 fitokimia berbeda dalam tanaman. Lebih dari 600
adalah flavonoid atau karotenoid, dan sekitar 50 sampai 60 jenis zat itu akan tetap
aktif setelah dikonsumsi dan sangat bermanfaat untuk kesehatan. Sebagian besar
flavonoid merupakan antioksidan yang sangat bermanfaat, ada yang memiliki
kemampuan mengurangi pembengkakan, nyeri, dan reaksi alergi, bahkan
sebagian dapat membantu anda melawan virus (Widjono, Sri Harsodjo, 2003).
Dari berbagai jenigs flavanoid cincau hijau salah satunya mengandung
quercetin. Quercetin merupakan flavonoid yang mempunyai berbagai aktivitas
farmakologi, antara lain sebagai anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-mutagenik, antikanker, anti-viral, anti-bakteri, dan anti-hipertensi (Widjono, Sri Harsodjo, 2003).

Implikasi terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi


Pohon cincau (Cyclea barbata) adalah tanaman merambat dari famili

Menispermaceae. Di beberapa daerah, tanaman ini dikenal dengan nama


Camcauh, Juju, Tarawalu, Tahulu, Kepleng, dan lain-lain. Meski cincau lebih
dikenal sebagai salah satu bahan dalam minuman dingin atau es campur, ternyata
agar yang berasal dari daun cincau itu mengandung manfaat yang cukup banyak
bagi kesehatan tubuh (LIPI, 2009).
Dalam jurnal dijelaskan bahwa cincau hijau mengandung flavanoid yang
dapat menurunkan aktivitas ACE (Angiotensin Converting Enzym) sehingga dapat
menurunkan kadar angiotensin II yang memberikan hasil akhir terkontrolnya
tekanan darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardjito dalam Prakoso (2008)
yang menyebutkan bahwa cincau hijau telah diteliti mengandung karbohidrat,
polifenol, saponin, flavonoida dan lemak. Kalsium, fosfor, vitamin A dan B juga
ditemukan dalam daun cincau hijau. Kandungan-kandungan ini memungkinkan
cincau hijau dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat-obatan, di samping
digunakan sebagai minuman penyegar.
Flavanoid terbukti dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai
bermacam-macam bioaktifitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas,
antiviral,

antidiabetes,

antidepressant,

diuretic

(peluruh),

dan

lain-lain

(Wijayakusuma, 1992). Senyawa flavonoid mempunyai ikatan gula yang disebut


aglikon yang berikatan dengan berbagai gula dan sangat mudah terhidrolisis atau
mudah lepas dari gugus gulanya. Flavonoid merupakan antioksidan yang
potensial untuk mencegah pembentukan radikal bebas. Senyawa tersebut
mempunyai sifat anti bakteri dan anti viral (Tobing, 1989).

Dosis dan cara pembuatan cincau untuk hipertensi pernah diteliti oleh LIPI
(2009) dan didapatkan hasil sebagai berikut:
1.
2.

Bahan: daun cincau secukupnya (5 gr)


Cara membuat : daun cincau diremas-remas, dengan air matang,
disaring dan dibiarkan beberapa saat sampai berbentuk agar-agar,
kemudian ditambah santan kelapa dan pemanis dari gula kelapa.

5 gr daun cincau dibersihkan


dan dicuci terlebih dahulu

direndam dengan air matang lalu


diremas-remas

Disaring

dan

dibiarkan

beberapa saat

setelah

menjadi

agar-agar

dapat ditambahkan gula


atau santan

3.

Cara menggunakan : dimakan biasa

WHO merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal


dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan
penyakit terutama penyakit kronis, penyakit degeneratif, dan kanker. Hal ini
mendorong perawat untuk terus mengembangkan dan mengaplikasikan terapi
non farmakologis khususnya pada hipertensi. Namun, bukan berarti terapi non
farmakologis digunakan untuk mengantikan terapi farmakologis melainkan
sebagai penunjang terapi farmakologis untuk mendapatkan hasil maksimal.
Penulis untuk pengaplikasian pada pasien kelolaan gerontik akan
mengaplikasikan dengan menggunakan cincau hijau berbentuk jely yang akan
dikonsumsi satu kali sehari dan akan diterapkan selama 1 minggu. Konsumsi
cincau ini juga tidak akan merubah konsumsi obat klien berupa captopril sebanyak
3xsehari dikarenakan tekanan darah klien masih fluktuatif. Sehingga diharapkan
akan terjadi pengontrolan tekanan darah yang optimal dan kedepannya klien atau
lansia dengan hipertensi secara umum dapat mengkombinasikan terapi
farmakologis dengan non farmakologis seperti cincau ini.
E. Kesimpulan dan Saran
Adanya perubahan tekanan darah pada responden penelitian setelah
diberikan terapi relaksasi otot progresif, menunjukkan potensi terapi relaksasi otot
progresif untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.
Saran:
Kelemahan:
-

Penulis tidak membahas tentang berapa besar dosis yang harus diberikan
pada pasien hipertensi untuk mendapatkan efek terapeutik yang dapat
menurunkan tekanan darah. Penulis hanya menyebutkan

5 gram daun

cincau tanpa menjelaskan lebih jauh cara membuatnya dan hasil akhirnya
berupa ekstrak atau jely atau lainnya.
-

Tidak jelasnya juga perlakuan apa yang diberikan pada kelompok kontrol,
apakah dibiarkan tanpa perlakuan atau diberikan perlakuan dengan obat
hipertensi ataupun lainnya. Sehingga tidak dapat diketahui apakah kondisi
kelompok kontrol dan eksperimen seimbang atau tidak.

Kelebihan:
-

Kriteria inklusi sudah dipaparkan secara jelas

Jurnal memberi gambaran potensi terapi non farmakologis baru untuk


mengatasi hipertensi dengan bahan yang mudah dan murah dan mudah

diaplikasikan
F. Referensi:
Danim, Sudarwan. 2003. Riset Keperawatan Sejarah dan Metodologi. Jakarta: EGC
Hinton, Perry. 2004. SPSS Explained. New York: Routledge Inc.
Kompas.
2010.
Cincau
Hijau
Kendalikan
Hipertensi.
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/01/22333718/cincau.hijau.kendalik
an.hipertensi. diakses tanggal 25 Juni 2012
LIPI. 2009. Pengobatan Alternatif Hipertensi dengan Tanaman Obat. Badan
Informasi Teknologi LIPI (Pangan&Kesehatan). www.bit.lipi.go.id/pangankesehatan/documents/artikel_hipertensi/tanaman_obat.pdf. diakses tanggal 25
Juni 2012
L.Tobing.M.Sc,Rangke.1989.Kimia Bahan Alam .Jakarta: Depdikbud Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Nursalam. 2008. Konsep ddan Penerapan Metodologi Penelitian Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika
Prakoso, 2008 Cincau Hijau - Kendalikan Tekanan Darah Tinggi tersedia pada
http://sehatherbal.blogspot.com/2008/06/cincau-hijau-kendalikan
tekanandarah.html). diakses tanggal 25 Juni 2012
Widjono, S. Harsodjo. 2003. Identifikasi dan Isolasi Favaanoid pada Ddaun Katu.
Makara, Sains, vol. 7, no. 2.
Wijayakusuma, M. Hembing .1992. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia . Jakarta:
Pustaka Kartini.