Anda di halaman 1dari 19

Daftar Isi

No. 03 Tahun IV Mei 2013

Dari Redaksi

Pelindung:
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Mohammad Nuh,
Wakil Menteri Bidang Pendidikan,
Musliar Kasim,
Wakil Menteri Bidang Kebudayaan,
Wiendu Nuryanti

Hal. 1 PESAN MENTERI

Penasihat:
Sekretaris Jenderal, Ainun Naim

Hal.

Kemdikbud Terus
Tingkatkan Layanan
Pendidikan

Indonesia membutuhkan jutaan tenaga


terampil saat masuk tujuh besar
negara maju di tahun 2030. Caranya,
kami akan meningkatkan kapasitas
universitas yang sudah ada, juga dengan
mendirikan politeknik baru, kata
Mendikbud.

14

Tingkatkan Akses
Pendidikan di Daerah 3T

25

Pengakuan Noken
oleh Dunia

Hal.

Hal.

Perjuangan masyarakat Indonesia di


kancah internasional akhirnya berbuah
manis. Noken, tas khas Papua, diakui
UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Namun, pengakuan itu justru menjadi
langkah awal untuk mengembangkan
Papua nan eksotis.

2 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Pengarah:
Sukemi
Penanggung Jawab:
Ibnu Hamad

Hal. 3 DARI REDAKSI

Pemimpin Redaksi:
Dian Srinursih
Dewan Redaksi:
Setiono, Eka Nugrahini, Hawignyo

Total Mendidik Anak


Berkebutuhan Khusus
Hal. 8

Redaktur Pelaksana:
Emi Salpiati
Staf Redaksi:
Arifah, Ratih Anbarini, Agung SW, Aline
Rogeleonick, Desliana Maulipaksi, Gloria Gracia,
Nur Widianto

Tingkatkan Akses
Pendidikan di Daerah 3T
Hal. 10

Desain & Artistik:


Susilo Widji P., Yus Pajarudin
Fotografer:
Arif Budiman, Ridwan Maulana

Yang Khas dalam


Membangun Pendidikan
di Perbatasan
Hal. 20

Sekretaris Redaksi:
Dina Ayu Mirta, Tri Susilawati, Mohtarom
Redaktur Eksekutif:
Priyoko
Alamat Redaksi:
Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Gedung C Lantai 4, Jalan Jenderal Sudirman,
Senayan, Jakarta
Telp. (021) 5711144 Pes. 2413, (021) 5701088
Laman: www.kemdikbud.go.id

FOTO: Arifah PIH

FOTO: Dok. PIH

Hal. 2 DAFTAR ISI

Museum La Galigo,
Buah Keberhasilan
Revitalisasi
Hal. 31

Desain Sampul:
Susilo Widji P.

Foto:

Pendhi (Suasana belajar salah


satu sekolah di Papua)

Majalah DIKBUD

Edisi No. 03 Tahun IV - Mei 2013

Sajian Khas: dari SM3T, Adik,


ABK, SILN Hingga Noken

endidikan nasional ditujukan meningkatkan kecerdasan, harkat


dan martabat bangsa. Pendidikan nasional juga harus mampu
menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air dan cinta pada
Tuhan Yang Maha Esa, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa
kesetiakawanan sosial.
Itulah esensi penyelenggaraan pendidikan. Intinya, semua anak bangsa harus
mendapat pendidikan yang layak, sesuai dengan kemampuan akademiknya.
Dengan demikian, layanan pendidikan sudah semestinya menyasar semua
anak-anak usia sekolah, dari Sabang sampai Merauke, dari pojok perkotaan
hingga daerah terpencil di wilayah terluar Indonesia.
Pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa di manapun dan dalam sejarah
kapanpun. Kalimat demikian sering dikemukakan oleh Wapres Boediono dalam
berbagai kesempatan. Hal itu menyiratkan, bahwa pemerintah berkewajiban
menyiapkan pendidikan yang berkualitas, salah satunya dengan terus
meningkatkan layanan pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan
tinggi. Tidak cukup sampai di sana, pemerintah juga wajib menyediakan
layanan pendidikan bagi mereka yang berada di wilayah terpencil, perbatasan,
maupun WNI di luar negeri, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Pembaca budiman, masalah layanan pendidikan menyeluruh itulah yang kami
sajikan pada edisi 3 ini. Secara keseluruhan, kami mengupas tuntas seputar
pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), Sekolah Indonesia
di luar negeri (SILN), serta layanan khusus pendidikan.
Sumarna Surapranata, Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
menulis bahwa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud), berupaya keras memenuhi kebutuhan guru di
daerah 3T, salah satunya melalui program sarjana mendidik di daerah
terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T). Dalam program ini, mereka
berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama
satu tahun. Hal ini sebagai penyiapan diri sebagai pendidik profesional. Daerah
sasaran program ini adalah kabupaten yang termasuk kategori daerah 3T di
empat provinsi, yaitu Aceh, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua.
Pada artikel lain, kami mengupas program afirmasi pendidikan tinggi
(Adik). Sebagaimana kita ketahui, program ini dimaksudkan untuk memberi
kesempatan siswa-siswa dari daerah khusus yang memiliki potensi akademik
bagus untuk melanjutkan studi ke program sarjana. Tentu saja ada sejumlah
artikel lain yang juga sayang jika dilewatkan. Salah satunya adalah mengenai
Noken, tas khas Papua yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
Mau tahu lebih lanjut mengenai Noken? Yuk, kita simak halaman Kebudayaan
di bagian akhir edisi ini. (*)

si
k
a
ed

No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 3

Pendidikan

Kemdikbud Terus Tingkatkan


Layanan Pendidikan
Setiap anak berhak memeroleh pendidikan. Kalimat ini rupanya terus menerus menjadi pedoman
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam menjalankan programnya yang berkaitan
dengan pemerataan pendidikan. Bahkan Kemdikbud saat ini sedang gencar memeratakan layanan
pendidikan tinggi, sehingga dapat memperlebar peluang putra-putri daerah mengikuti pendidikan di
jenjang tersebut.
Pendidikan adalah kunci
kemajuan bangsa di manapun
dan dalam sejarah kapanpun.

alimat tersebut kerap


dilontarkan Wakil Presiden
Boediono di hampir setiap
pidatonya saat diundang pada
berbagai kegiatan yang berhubungan
dengan dunia pendidikan. Pernyataan
itu menyiratkan pesan, pemerintah
berkewajiban menyiapkan pendidikan
yang berkualitas, salah satunya
dengan terus meningkatkan layanan
pendidikan, mulai dari tingkat dasar
hingga pendidikan tinggi. Tidak cukup
sampai di sana, pemerintah juga wajib
menyediakan layanan pendidikan
bagi mereka yang berada di wilayah
terpencil, perbatasan, dan sekolah
Indonesia di luar negeri, termasuk
bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Memfasilitasi kebutuhan masyarakat
di daerah terpencil akan pendidikan
tinggi, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemdikbud)
menyelenggarakan sejumlah
perguruan negeri. Pada awal
April 2013 lalu misalnya, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan
(Mendikbud), Mohammad Nuh,
meresmikan pembangunan Politeknik
Negeri Fakfak yang terletak di
Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Peresmian ditandai dengan peletakan
batu pertama yang disaksikan oleh
pejabat pemerintah setempat.
Pembangunan politeknik baru
memang menjadi salah satu kebijakan

4 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Kemdikbud. Setidaknya akan ada


100 politeknik baru hingga 2015 yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Penyebarannya pun direncanakan
merata, tidak hanya di kota-kota
besar, tetapi juga di kawasan
3T, yakni terdepan, terluar, dan
tertinggal.

mendirikan Institut Seni Budaya


Indonesia (ISBI) di Aceh, Kalimatan,
Sulawesi, dan Papua. Ia mengatakan,
sudah menjadi tugas dan kewajiban
pemerintah untuk mengonservasi
serta mengembangkan kekayaan
budaya luar biasa yang dimiliki setiap
daerah di Indonesia.

Indonesia membutuhkan jutaan


tenaga terampil saat masuk tujuh
besar negara maju di tahun 2030.
Caranya, kami akan meningkatkan
kapasitas universitas yang sudah
ada, juga dengan mendirikan
politeknik baru, kata Mendikbud saat
meresmikan pembangunan Politeknik
Negeri Madura (Poltera) di Sampang,
Madura akhir tahun lalu.

Saat serah terima aset ISBI Papua,


Kamis (3/1), ia berharap perguruan
tinggi tersebut dapat menjadi pusat
pengembangan budaya Papua dan
berperan sebagai faktor penentu
kesejahteraan. Hal ini mendapat
dukungan dari Pejabat Gubernur
Papua, Constant Karma, yang
menyebut bahwa budaya merupakan
landasan penting bangsa ini.
Kehadiran ISBI sangat baik karena
dapat menggali lebih banyak nilainilai budaya untuk membangun
kesejahteraan, ujar Constant.

Di kesempatan berbeda, ia
menegaskan, Kementerian memiliki
kebijakan dasar sekurang-kurangnya
setiap daerah perbatasan memiliki
satu perguruan tinggi negeri. Hal
ini akan menjadi sabuk pengaman
nasional dari aspek sosial budaya,
ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, di daerahdaerah tertentu yang memerlukan
perhatian khusus, seperti daerah
3T, negara harus hadir. Kemdikbud
saat ini setidaknya telah memiliki
sejumlah politeknik negeri di kawasan
perbatasan, seperti Politeknik
Negeri Sambas di Kalimantan Barat,
Politeknik Negeri Banyuwangi di
Jawa Timur, dan Politeknik Hasnur
di Kalimantan Selatan. Tidak
hanya politeknik, Kemdikbud juga

Sementara itu untuk memfasilitasi


pendidikan bagi Warga Negara
Indonesia (WNI) yang tinggal di Pulau
Mindanao, sebuah pulau di bagian
selatan Filipina, pada akhir November
tahun lalu, Kemdikbud meresmikan
dua Sekolah Menengah Pertama
(SMP Terbuka) di Tupi dan Laensasi,
Filipina. Dalam kesempatan tersebut,
Mendikbud mengatakan, pembukaan
SMP Terbuka di Filipina merupakan
bagian dari program pendidikan
untuk semua (education for all)
yang gencar dilakukan pemerintah.
Pemerintah memiliki kewajiban
menjangkau pendidikan di manapun
warga kita berada, tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan guruguru di SMP Terbuka, selain pamongpamong yang telah ditunjuk, akan
dikerahkan pula guru-guru dari
program Sarjana Mengajar di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal
(SM3T) untuk mengajar. Jika selama
ini guru-guru SM3T hanya mengajar
di dalam negeri, nanti akan kami coba
tempatkan sebanyak-banyak di luar
negeri, di mana banyak kantong WNI
yang membutuhkan guru, tambah
Mendikbud.

Masyarakat Nelayan

Layanan pendidikan juga diberikan


bagi para nelayan. Akhir tahun
lalu, Kemdikbud bersama belasan
kementerian dan lembaga negara
non kementerian mencanangkan
Kawasan Program Peningkatan
Kehidupan Nelayan (PKN) Berbasis
Industrialisasi Perikanan Terpadu di
Teluk Awang, Nusa Tenggara Barat.
Kementerian tersebut diantaranya
Kementerian Dalam Negeri,
Perhubungan, Pekerjaan Umum,
Kesehatan, Perumahan Rakyat, serta
Pembangunan Daerah Tertinggal.
Dalam kesempatan itu, Mendikbud
menjelaskan, pencanangan ini
merupakan bagian dari tugas
kementerian untuk memotong mata
rantai kemiskinan di wilayah pesisir
yang sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian sebagai nelayan.
Oleh karena itu, salah satu yang
paling efektif diberikan di kawasan
nelayan adalah perhatian khusus,
mulai dari pendidikan anak usia dini
sampai tingkat akademi komunitas.
Kegiatan peningkatan kehidupan
nelayan di antaranya terdiri atas
pembangunan rumah sangat murah,
pengembangan lapangan kerja
alternatif dan pendapatan bagi
keluarga nelayan. Mereka juga
diberikan skim usaha menengah
kecil dan kredit usaha rakyat,
pelayanan angkutan umum murah,
dan pembangunan puskesmas.
Sementara di bidang pendidikan,
Kemdikbud akan membangun fasilitas
sekolah untuk memfasilitasi anakanak nelayan menempuh pendidikan
di sekolah-sekolah yang dibangun
tersebut.

Perhatian Kemdikbud juga menyasar


anak-anak berkebutuhan khusus
yang memang memerlukan perhatian
dan pendidikan yang khusus pula.
Perhatian tersebut diwujudkan
dengan membangun Pusat Autis di 29
lokasi yang dimulai sejak tahun lalu.
Suyanto, ketika masih menjadi Plt.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar,

mengatakan, pembangunan Pusat


Autis dilandasi perkembangan jumlah
anak autis yang semakin banyak. Dari
tahun ke tahun, prevalensi kelahiran
anak autis menunjukkan angka yang
dramatis. Sebelumnya rasio satu anak
autis berbanding dengan 10.000 anak
normal, tahun ini jumlah tersebut
meningkat dengan perbandingan
1:5.000 hingga 1:1.000. (Ratih)

UT Sasar Guru dan


Mahasiswa Miskin
di Daerah 3T
Universitas Terbuka (UT) mengalokasikan dana untuk membantu guru di
daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Mahasiswa aktif UT, tetapi tidak
lagi melakukan registrasi untuk beberapa semester karena kekurangan biaya,
juga mendapat bantuan sehingga mampu melanjutkan pendidikannya.
Bantuan itu berasal dari alokasi 20 persen atau Rp 20 miliar dari dana
Rp 100 miliar Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang
diperoleh UT. Dari Rp 100 miliar yang diterima oleh UT, 20 persen harus
dipakai untuk memberikan layanan kepada guru-guru di daerah 3T tadi untuk
menyelesaikan pendidikan D4 atau S1-nya secara gratis, kata Mendikbud
saat menggelar jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Senin (22/4).
Rektor UT, Tian Belawati, mengatakan bahwa dana Rp 20 miliar tersebut
rencananya akan digunakan untuk membiayai 4.139 mahasiswa. Adapun
mahasiswa yang bisa mendapatkannya adalah guru-guru di daerah 3T dan
mahasiswa aktif UT yang tidak lagi melakukan registrasi untuk beberapa
semester karena kekurangan biaya. Kami juga akan mulai menyisir
mahasiswa yang nonaktif karena kekurangan biaya, akan kita undang dan
kita sapa lagi untuk info pembebasan biaya ini, katanya.
Tian menambahkan, alokasi biaya untuk beasiswa bagi guru daerah 3T ini
adalah Rp 4,8 juta per mahasiswa per tahun. Bagi guru yang sebelumnya
telah melalui jenjang diploma 2, maka pendidikannya akan selesai dalam lima
semester. Dan untuk lulusan SMA, akan selesai dalam 10 semester. Beasiswa
ini akan mulai diberlakukan pada tahun 2013 ini, September mendatang.
Rata-rata lulusnya kalau mereka sudah D2 maka 5 semester lagi, tapi
kalau baru lulusan SMA maka 10 semester, ujar wanita yang juga menjadi
President of International Council for Open and Distance Education ini.
Anggaran total untuk BOPTN Tahun 2013 adalah Rp 2,7 triliun. Dan dari
data Kemdikbud, diketahui bahwa hingga 2012, baru 75 persen guru yang
memenuhi kualifikasi akademik S1 atau D4. Jadi, program yang dilakukan UT
ini merupakan salah satu afirmasi untuk guru agar minimal pendidikannya S1
atau D4 pada 2015 nanti, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Guru
dan Dosen. (Aline)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 5

Oleh Sumarna Surapranata


Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pendidikan yang bermutu


hanya dapat diraih jika
memiliki guru yang bermutu
pula, yaitu guru profesional,
bermartabat, dan sejahtera.
Guru dengan kriteria tersebut
adalah guru yang tidak
hanya mampu menyiapkan
generasi saat ini tetapi juga
mampu menyiapkan generasi
yang memiliki kecerdasan
sosial dan emosional yang
tinggi, kemandirian dan daya
saing menghadapi tantangan
masa depan.

ayangnya, guru dengan kriteria


seperti itu masih belum
banyak ditemui di daerah
terluar, terdepan, dan tertinggal
(3T). Kondisi saat ini adalah sumber
daya manusia (SDM) yang berminat
mengajar di daerah 3T masih sangat
kurang. Padahal jika tidak ada guru
berkualitas di daerah tersebut, maka
pendidikan di sana berpotensi akan
terus terbengkalai dan terbelakang.
Namun sebaliknya, jika di daerah
3T diisi oleh guru-guru yang hebat,
mereka akan semakin pintar hingga
memiliki kemampuan setara dengan
saudara-saudaranya yang berada di
daerah perkotaan.
Untuk itulah, pemerintah, dalam
hal ini Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud), berupaya
keras memenuhi kebutuhan guru di
daerah 3T, salah satunya melalui
program sarjana mendidik di daerah
terdepan, terluar, dan tertinggal
(SM3T).
Dalam program ini, mereka
berpartisipasi dalam mengajar di
daerah 3T selama satu tahun. Hal
ini sebagai penyiapan diri sebagai
pendidik profesional. Daerah sasaran
program ini adalah kabupaten yang
termasuk kategori daerah 3T di empat
provinsi, yaitu Aceh, Nusa Tenggara
Timur, Sulawesi Utara, dan Papua.
Peserta SM3T adalah orang-orang
pilihan yang hebat dan cerdas,
dapat beradaptasi dan mudah
bersosialisasi di lingkungan baru.
Mereka dikontrak selama satu tahun
untuk mengajar dengan stimulus

6 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

gaji pokok dan tunjangan khusus.


Bahkan tidak sedikit yang memilih
terus mengabdi seusai kontrak, dan
banyak pula yang memilih kembali ke
daerah asalnya sehingga pemerintah
mengisinya dengan peserta program
SM3T lainnya. Dengan demikian,
kekosongan di daerah tersebut tidak
berlangsung lama.
Selain mengajar, peserta SM3T
juga ditugaskan mendidik
masyarakat di daerah tersebut,
menumbuhkembangkan asetaset daerah, dan membangkitkan
semangat putra-putri daerah 3T
menjadi guru. Bagi mereka yang
akhirnya berminat menjadi guru,
pemerintah telah menyediakan
beasiswa. Diharapkan, selepas kuliah,
mereka kembali ke daerahnya untuk
mengabdi mendidik masyarakat di
daerah.
Undang-undang Nomor 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen
mensyaratkan siapa saja yang mau
mengajar di daerah khusus akan
diberikan tunjangan khusus sebesar
satu kali gaji, di luar tunjangan
sertifikasi. Sampai saat ini, Direktorat
Pembinaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Dasar
(P2TK Dikdas) telah memberikan
tunjangan khusus kepada lebih dari
53.000 guru pendidikan dasar yang
tersebar di seluruh Indonesia. Tahun
ini, tercatat pula tunjangan khusus
kepada lebih dari 1.800 guru PAUD
dan 6.000 guru pendidikan menengah.
Hal itu adalah sebuah insentif,
sekaligus tantangan yang menarik

Penghargaan Immaterial

Selain bentuk insentif material


kepada para guru, pemerintah juga
memberikan bentuk apresiasi lain
dengan memberikan pengalaman
kepada guru-guru daerah khusus
(gurdasus). Sudah menjadi agenda
tahunan, para gurdasus tersebut
dibawa ke Jakarta, dibekali berbagai
pelatihan dan wawasan, diberikan
sertifikat serta diberikan hadiahhadiah menarik, seperti motor, laptop,
buku-buku, dan keperluan mengajar
lainnya.
Untuk peningkatan kualitas,
pemerintah juga memberikan
pengalaman dan peningkatan
kompetensi dengan memagangkan
mereka di luar negeri, seperti
Australia, China, Selandia Baru,
Korea, dan Jepang. Mengenai bahasa,
hal itu tidak menjadi masalah karena
mereka disediakan penerjemah.

Yang terpenting adalah pengalaman


dan penghargaan. Ada juga program
pertukaran guru antar daerah
dimana mereka akan saling bertukar
pengalaman mengajar dengan sesama
guru.
Bentuk penghargaan lainnya,
yaitu pengiriman buku-buku
untuk peningkatan kapasitas
dan kompetensi guru, termasuk
pemberian block grant. Para guru
dibebaskan merancang sendiri bentuk
pelatihannya, dengan program
demand driven, bukan top-down atau
supply driven sebagaimana model
pelatihan pada umumnya.
Pemerintah juga memenuhi
kebutuhan P2TK dengan mengatur
karir dalam jenjang kepangkatan dan
jabatan. Berdasarkan Permenpan
yang mulai berlaku 1 Januari 2013,
ada empat jabatan guru, yaitu guru
pertama, guru muda, guru madya,
dan guru utama. Penilaiannya
berdasarkan angka kredit, kompetensi
keilmuan, dan kepemimpinan.
Selain itu, pemerintah memberikan
perlindungan hukum karena profesi
guru tidak terlepas dari perbuatan
sengaja maupun tidak sengaja dalam

FOTO: Dok. Dikti

Ragam Program
Pemberdayaan PTK

karena tidak banyak profesi yang


mendapat apresiasi sebesar itu. Oleh
karena itulah pada masa mendatang
diharapkan menjadi motivasi generasi
muda untuk menangabdi pada
pembangunan pendidikan berkualitas
di Indonesia, khususnya di daerah 3T.

Guru SM3T adalah orang-orang pilihan yang hebat dan cerdas, dapat beradaptasi dan mudah
bersosialisasi di lingkungan baru.

menjalankan profesinya. Bantuan


ini berupa block grant kepada
lembaga bantuan hukum di daerah
masing-masing.

Guru di Luar Negeri

Dalam hal penyediaan guru,


pemerintah bukan hanya fokus
pada daerah 3T. Namun, juga
memerhatikan guru Indonesia yang
mengajar di luar negeri.
Ada tiga kategori guru mengajar
di luar negeri. Pertama, guru yang
mengajar di Sekolah Indonesia di
Luar Negeri (SILN), yaitu sekolah
resmi milik pemerintah Indonesia.
Kemdikbud bersama Kementerian
Luar Negeri (Kemlu) melakukan
perekrutan dan para pengajar yang
direkrut diberikan standar penggajian
menurut standar Kemlu.
Kedua, guru yang mengajar di
sekolah-sekolah yang didirikan
yayasan formal/nonformal untuk
mengajar anak-anak TKI. Gurugurunya direkrut oleh yayasan.
Beberapa berlokasi di kantongkantong TKI di Mekkah, Jeddah,
Madinah, Vietnam, dan Hongkong.
Ketiga yaitu kategori guru yang
mengajar di daerah perbatasan
Indonesia-Malaysia sebagai bentuk
kerja sama pemerintah Indonesia
dan Malaysia. Guru yang dikirim
diseleksi dari LPTK terbaik, lulusan
terbaik, mempunyai jiwa petualang,
pengetahuan tentang seni dan
budaya. Guru yang di tempatkan
di perbatasan mendapat kontrak
selama dua tahun. Namun, kini
sedang diusulkan dikontrak selama
5 tahun, supaya peserta didik tidak
berulangkali menghadapi guru baru.
Sementara itu, berdasarkan ketentuan
otonomi daerah, untuk pemenuhan
penyediaan guru dilakukan di
daerah. Peran Direktorat P2TK
adalah memberikan potret kebutuhan
nasioanl kepada Menpan. Kemudian
Menpan yang mengatur formasi
dan menginformasikan formasi
tersebut kepada pemerintah provinsi/
kabupaten/kota untuk direkrut.
(Ditulis ulang oleh Arifah dari
wawancara di Jakarta, 1 April 2013)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 7

Totalitas Mendidik
Anak Berkebutuhan
Khusus
Oleh Kartana
Guru SLBN Pringsewu, Lampung
Juara I Guru Berdedikasi Tingkat Provinsi Lampung 2010

Kementerian Pendidikan dan


Kebudayaan (Kemdikbud)
memberi kesempatan seluasluasnya bagi guru, termasuk
guru sekolah luar biasa
(SLB). Guru yang mendapat
kesempatan belajar atau
kursus ke luar negeri pastilah
bersyukur, karena tidak
banyak guru yang beruntung
mendapat kesempatan
tersebut.

aya adalah salah satu guru yang


beruntung itu. Atas inisiatif
dan bantuan Direktorat P2TK
Dikdas Kemdikbud, saya dapat
mengikuti kursus singkat (short
course) di Jepang, pada tanggal 1-8
Juli 2012 lalu. Selain mendapat
pelajaran teori, para peserta kursus
juga mengunjungi sekolah luar biasa
seperti Nagareyama Special Needs
School Tokyo, Minato Special Needs
School Tokyo, Kanazawa Needs
School, Kurihama Special Needs
School. Kami juga berkunjung ke
Kementerian Pendidikan Riset dan
Teknologi, dan Sekolah Swanano Oka.

Selama mengikuti pembelajaran di


Jepang tersebut, saya menyaksikan
bahwa pelayanan terhadap anak
berkebutuhan khusus (ABK) sangat
diperhatikan, baik sarana prasarana
guru dan peralatan praktek lainnya.
Kegiatan praktek siswa meliputi
praktek pertukangan, pembuatan
keramik, pekerjaan sosial, tata boga,
tata busana, pertanian, dan lain
sebagainya.
Pelayanan pendidikan dari seorang
guru (shuise) sangat total, terutama
pada anak autis, karena autis
memang memerlukan pelayanan
yang lebih ekstra. Para orangtua
siswa dilibatkan dalam kegiatan
sekolah, sehingga turut melayani
kebutuhan para siswa terutama untuk
penyediaan makan siang. Peran
pemerintah selain menyubsidi dana
operasional sekolah, selalu memantau
kegiatan sekolah secara berkala.
Pengalaman yang bisa diambil
manfaatnya dalam kursus singkat itu,
diantaranya:

FOTO: Kartana

8 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

1. Budaya disiplin masyarakat Jepang


sangat tinggi.
2. Selalu menjaga keberhasilan.
3. Sangat menghormati orang lain.
4. Suka bekerja keras.
5. Pelayanan pendidikan bagi ABK
sangat diperhatikan.
6. Totalitas dalam mendidik anak
berkebutuhan khusus.
7. Fasilitas bagi anak berkebutuhan
khusus terpenuhi.
8. Tersedia aksesbilitas bagi para
anak berkebutuhan khusus di
tempat-tempat umum.

FOTO: Dok. PIH

Biarpun saya berada di Indonesia,


negeri yang belum sempurna
menunjang keberhasilan dalam
melaksanakan tugas harian guru
SLB, namun saya berusaha untuk
mencontoh dan menerapkan berbagai
hal yang dilakukan Jepang. Tidak
harus menunggu sampai semuanya
terpenuhi. Dengan niat yang tulus dan
penuh pengabdian, mudah-mudahan
pendidikan anak berkebutuhan
khusus di Indonesia semakin maju.

Kesan dan Pesan

Mengenai layanan pendidikan bagi


ABK di Indonesia, saya memiliki
kesan dan pesan yang barangkali
dapat dijadikan masukan bagi
pemangku kepentingan pendidikan
nasional. Semoga apa yang akan saya
sampaikan dapat bermanfaat bagi
pemerintah, masyarakat, dan ABK.

Untuk kesan, terdapat empat


hal, yaitu masyarakat belum mau
menyekolahkan anak berkebutuhan
khusus pada pendidikan khusus.
Selain itu, pemerintah daerah
terkesan kurang memperhatikan
pelayanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus.
Terkait dengan program penghargaan
sebagai guru berdedikasi, saya rasa
hal ini dapat menambah pengalaman
dan memotivasi rekan guru untuk
lebih giat dalam bekerja. Demikian
pula dengan kesempatan short course
ke Jepang, dapat menyadarkan
kekurangan saya sehingga saya
termotivasi untuk terus berusaha
untuk meningkatkan pelayanan
pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus.

Sedangkan pesan saya, yaitu dalam


pemilihan guru berdedikasi mohon
waktu persiapan dan pelaksanaan
diberi waktu agak panjang.
Kepada pemerintah daerah untuk
memperhatikan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus. Kepada
masyarakat untuk lebih mengerti
sehingga tidak akan mengucilkan
anak berkebutuhan khusus.
Untuk kegiatan short course
sebaiknya diberi waktu agak panjang
agar para guru bisa terjun langsung
ikut menangani anak berkebutuhan
khusus di sana. Terakhir tetapi tidak
kalah pentingnya adalah kerjakanlah
semua pekerjaan yang diamanahkan
kepada kita, niscaya Tuhan akan
membalasnya. (*)

No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 9

Tingkatkan Akses
Pendidikan
di Daerah 3T

Oleh Thamrin Kasman


Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Untuk memenuhi kebutuhan


layanan pendidikan di
daerah terluar, terdepan,
dan tertinggal (3T), berbagai
upaya terus-menerus
dilakukan pemerintah,
dalam hal ini Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemdikbud). Upaya-upaya
tersebut di antaranya adalah
pemenuhan kebutuhan
sarana dan prasana,
sehingga mutu dan layanan
pendidikan di daerah 3T
dapat meningkat.

akikatnya, klasifikasi 3T
menurut Kementerian
Pembangunan Daerah
Tertinggal (PDT) adalah daerah
yang dikategorikan tertinggal
dari segi akses, terpencil dari segi
letak geografis, lamban dari segi
pertumbuhan, dan terluar dalam
jangkauan dari pusat layanan.
Untuk mengidentifikasi sekolahsekolah di daerah 3T, Kemdikbud
mengacu pada daftar wilayah
yang dikategorikan Kementerian
PDT tersebut. Kemudian, daftar
sekolah dari data pokok pendidikan
(Dapodik) yang berada di wilayah
3T dikofirmasikan kepada pemda
kabupaten yang bersangkutan untuk
kemudian direkomendasikan sebagai
sekolah-sekolah penerima program
bantuan 3T. Konfirmasi silang ini
dilakukan untuk mengecek apakah
sekolah-sekolah yang terdata pada
Dapodik dan berada di daerah 3T
benar-benar sesuai dengan sasaran
program.

Pemenuhan Sarana Prasarana

Bagi pendidikan di daerah 3T,


khususnya daerah yang belum
tersedia infrastruktur layanan
pendidikan, pemerintah mendirikan
unit sekolah baru (USB). Dalam
membangun sekolah baru, Pemerintah
menyesuaikan dengan rasio jumlah
anak usia sekolah. Apabila anak
usia sekolah mencukupi, maka akan
dibangun sekolah baru. Tetapi jika

10 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

sudah ada sekolah, namun rasio siswa


tidak layak dalam satu kelas, maka
diberikan bantuan dalam bentuk
ruang kelas baru (RKB).
Sedangkan bagi daerah 3T yang
memang sudah ada infrastrukturnya,
maka bantuan yang diberikan
adalah dalam bentuk rehabilitasi
sekolah dengan prioritas sekolah
yang mengalami rusak berat, diikuti
dengan rusak sedang. Program
ini membutuhkan kerja sama dan
koordinasi dengan pemerintah daerah
setempat, sedangkan pembiayaan
berasal dari pusat. Bantuan sarana
dan prasana juga diberikan untuk
memperbaiki ruangan lain di sekolah
selain ruang kelas, seperti ruang
kepala sekolah, ruang guru, WC,
laboratorium, perpustakaan, dan lain
sebagainya.
Berikutnya, sekolah juga diberikan
bantuan dalam bentuk kelengkapan
teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) untuk memudahkan proses
pembelajaran. Dalam hal ini, TIK
dapat berupa laptop, LCD, dan alat
lainnya dengan kriteria di sekolah
tersebut terdapat akses jaringan
listrik untuk mengoperasikan alatalat TIK.
Adapun bantuan-bantuan tersebut di
atas diberikan dengan pola block grant
dimana sekolah diberikan bantuan
dalam bentuk uang dan dibelanjakan
sesuai dengan kebutuhan.

Dalam hal ini, sekolah harus


memberikan laporan sesuai panduan
kepada Kemdikbud dan ditembuskan
kepada pemda setempat. Pemda
bersama pusat turut melakukan
monitoring terhadap penggunaan
block grant di sekolah-sekolah yang
mendapat bantuan, sehingga hasilnya
dapat optimal.
Bukan hanya berupa sarana
prasarana, Kemdikbud juga
melakukan upaya-upaya lain,
diantaranya dengan memberikan
beasiswa bagi siswa di daerah 3T
sehingga mereka dapat mengenyam
pendidikan tanpa membebani
orangtuanya. Sementara itu, pola
SMP Terbuka maupun Kejar Paket
A, B, dan C, juga dilakukan untuk
menjangkau layanan pendidikan di
daerah khusus, seperti daerah pesisir.

FOTO: Ratih PIH

Pengembangan Sarana Prasarana

Pelaksanaan perbelanjaan harus


sesuai dengan panduan penggunaan,
termasuk juga bentuk pelaporannya.

Harapan

Sangat diharapkan kerja sama dan


perhatian Pemda setempat untuk
dapat terus mengoptimalkan segala
sumberdaya dan dana yang ada guna
meningkatkan layanan pendidikan.
Pemda juga diharapkan mengarahkan
untuk memacu peningkatan layanan
pendidikan dan mutu pembelajaran
secara bertahap, misalnya guru-guru
segera disertifikasi, siswa-siswa
keluarga miskin segera didaftar dan
diberikan beasiswa, dan buku-buku
yang belum lengkap untuk segera
dilengkapi sesuai dengan peruntukan
dana BOS.
Dengan peran dan kerja sama pusatdaerah diharapkan pendidikan
di daerah 3T dapat lebih terpacu,
sehingga putra-putri di daerah
tersebut dapat pula mendapat layanan
pendidikan berkesinambungan dan
memadai sebagaimana saudarasaudaranya yang berada di daerah
perkotaan. Apabila hal ini terjadi,
kualitas dan pemerataan pendidikan
niscaya dapat tercapai, sebagaimana
yang kita cita-citakan. Semoga.
(Ditulis ulang oleh Arifah dari
wawancara di Jakarta, 5 April 2013)

Dalam membangun sekolah baru, Pemerintah menyesuaikan dengan rasio jumlah anak usia sekolah.
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 11

Peningkatan Mutu PK-LK

Menjemput Bola,
Memberi Subsidi

Oleh Mudjito
Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus
Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sebagai wujud tanggung


jawab dari tuntutan
pendidikan untuk semua
(Education for All), Pemerintah
Indonesia juga memberikan
perhatian pada peningkatan
mutu pendidikan khusus
(PK) bagi anak-anak
berkebutuhan khusus, dan
layanan khusus (LK) bagi
mereka yang tidak terjangkau
layanan pendidikan, baik
secara akses maupun
keterbatasan faktor-faktor
lainnya. Pembinaannya
dikelola oleh Direktorat
Pembinaan Pendidikan
Khusus dan Layanan Khusus
Pendidikan Dasar (Dit. PK
dan LK Dikdas) dan juga
Pendidikan Menengah (Dit PK
dan LK Dikmen), Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemdikbud).

Beberapa situasi yang dapat dijadikan


gambaran pendidikan di daerah
3T seperti keadaan anak-anak di
Karimun (perbatasan Riau). Pada
umumnya anak-anak usia sekolah di
sana berjualan koran. Jadi, pelayanan
pendidikannya menunggu hingga
mereka selesai berjualan sekitar
pukul 10:00. Guru-gurunya pun
kebanyakan bekerja dengan sukarela.
Situasi lainnya seperti yang dialami
anak-anak di pesisir pantai yang
mempunyai jadwal melaut seperti
yang terjadi di Bontang, dibuatkan
konsep community boarding. Konsep
ini adalah semi-asrama dimana pada
saat mereka menepi, mereka akan
diasramakan di masyarakat sekitar,
sementara sekolah melayani mereka
mempersiapkan ujian akhir. Program
pelayanan khusus untuk kelas 6 SD
dan 3 SMP ini dimaksudkan supaya
mereka mendapatkan ijasah dan tidak
putus sekolah.
Lain halnya di Sambas, ada semacam

12 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

tour kolektif dimana anak-anak di


pinggiran diajak naik bus untuk
berkeliling kota. Setelah itu mereka
dititipkan di sekolah untuk belajar
guna mempersiapkan diri mengikuti
ujian, tentu proses pembelajarannya
dibantu oleh pengajar setempat.
Tujuan program khusus ini adalah
supaya anak-anak tidak putus
sekolah dan bisa melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sangat disayangkan jika putus
sekolah dan tidak mempunyai ijasah,
otomatis anak tersebut tidak dapat
melanjutkan jenjang pendidikannya.

Mengenai tenaga pengajarnya, ada


yang berasal dari guru PNS yang
mendapat diklat layanan khusus.
Ada pula guru pembimbing khusus
(GPK) dengan tunjangan insentif,
mengingat pekerjaan mereka yang
sangat berat. Masyarakat juga
banyak yang membantu dengan
cara-cara khusus tergantung situasi
dan kondisinya. Bahkan, karena rasa
tanggung jawab yang besar, beberapa
guru ada yang menempuh pendidikan
tinggi dengan biaya sendiri dengan
harapan mendapat wawasan lebih
untuk menangani pendidikan layanan
khusus ini.
Melihat betapa berat dan penting
dalam menyukseskan program

tersebut, kesejahteraan guru pada


pendidikan layanan khusus ini perlu
mendapat perhatian khusus pula.
Harus ditangani secara integratif dan
juga bekerja sama dengan Pemda
setempat.

Bantuan Operasional

Kemdikbud memandang penting PKLK, karena membantu mengurangi


putus sekolah di kalangan anak-anak.
Menyadari betapa penting peranan
PK-LK, pemerintah melakukan
berbagai upaya yang mengarah pada
peningkatan mutu secara terpadu
dan berkesinambungan. Salah
satunya dengan pemberian subsidi
kepada sekolah/yayasan/perguruan
tinggi/lembaga yang telibat dalam
pembinaan PK dan LK. Tujuannya
untuk mendorong dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan PK-LK.
Peruntukan bantuan subsidi ini
dapat digunakan untuk pelaksanaan
operasional layanan khusus yang
langsung terkait, pembelian bahanbahan dan peralatan untuk keperluan
penunjang pembelajaran bagi peserta
didik, bahan dan peralatan bersifat

Oleh karena itu, pada program ini


diperlukan perlakuan khusus untuk
masa transisi dan menempati kelas
khusus pula. Ada pula kelas dengan
mobil dan perahu berjalan dibeberapa
lokasi. Bahkan di Papua, helikopter
kerap digunakan untuk menjangkau
anak-anak di pedalaman.
Di Kabupaten Kaur, Provinsi
Bengkulu, anak-anaknya korban
konflik hutan juga dilayani
pendidikannya. Di Solo, Jawa Tengah,
anak jalanan yang teridentifikasi
mencapai 300 anak usia sekolah
dasar. Mereka hidup dengan menjadi
pengamen jalanan. Untuk menjaga
kesinambungan pembelajaran,
pemerintah menyediakan sanggar
belajar dan guru.
Di Kabupaten Nganjuk dan Kediri,
Provinsi Jawa Timur, terdapat

habis pakai (tidak menjadi aset tetap),


dan pembayaran pajak berkaitan
dengan honor, dan pajak pembelian
bahan/alat habis pakai.
Selain memberikan subsidi,
Kemdikbud juga menjalankan secara
konsisten program peningkatan mutu
lulusan PK-LK, melalui berbagai
upaya, antara lain: penyempurnaan
kurikulum dan sistem; peningkatan
kualitas proses pembelajaran di
kelas melalui penyediaan sarana dan
prasarana belajar yang berstandar;
peningkatan kualitas manajemen
sekolah; pemberian bantuan
operasional; peningkatan bakat dan
prestasi siswa (melalui berbagai lomba
mulai dari tingkat lokal, regional,
nasional, sampai internasional).

Pusat Autis

Selain layanan khusus di daerah


3T, Kemdikbud juga berupaya
memberikan layanan kepada anakanak autis dengan mendirikan Pusat
Autis (Autis Center), yang rencanakan
didirikan di setiap ibu kota provinsi.
Dengan adanya Pusat Autis ini,
pemerintah memberikan subsidi besar
dengan segmentasi sangat bervariasi
yang menjangkau berbagai kalangan.
Saat ini telah dibangun empat Pusat
Autis, yaitu di Bali, Kalimantan
Selatan, Riau, dan Jakarta. Rencana
awal Pusat Autis ini akan dibangun
di lima lokasi, namun hingga saat ini
baru terealisasi di empat lokasi. Masih
ada 25 lokasi lagi yang akan dibangun
oleh Kemdikbud pada 2013 ini.

FOTO: Dok. PIH

elain melayani anak


berkebutuhan khusus (ABK),
Direktorat PK-LK, baik tingkat
Dikdas maupun Dikmen, juga
menangani pembinaan dan pelayanan
pendidikan di daerah khusus, seperti
daerah terdepan, terluar, tertinggal
(3T), termasuk daerah konflik dan
bencana. Dengan demikian, setiap
warga negara mendapatkan layanan
pendidikan yang sama.

banyak anak-anak putus sekolah


karena masalah ekonomi. Mereka
bersama orangtuanya bekerja di
pabrik dan enggan pergi ke sekolah.
Melihat kondisi demikian, Kemdikbud
mendatangkan guru ke pabrik sebagai
guru kunjung sehingga mereka
dapat belajar secara fleksibel. Dalam
mengikuti proses pembelajaran,
ternyata anak-anak ini sangat
antusias.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dan
memperluas jangkauan layanan khusus.

Untuk mencapai target pendirian


keseluruhan Pusat Autis tersebut,
telah dilakukan penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Perubahan (APBN-P) dan
telah disiapkan dana Rp 106 miliar.
Untuk pemenuhan sumber daya
pembimbing dan pendidik anak
autis, Kemdikbud akan bekerja
sama dengan pemerintah daerah.
Kemdikbud telah mempersiapkan
nota kesepakatan terkait dengan
penyiapan tenaga pengajar maupun
pembimbing dan terapis.
(Ditulis ulang oleh Arifah dari
wawancara di Jakarta,
22 Februari 2013)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 13

Hal ini dilatarbelakangi bahwa


banyak daerah yang pendidikan
tingginya memerlukan uluran dari
perguruan tinggi (PT) lain yang lebih
baik kualitasnya. Di Papua misalnya,
dalam memberi pendidikan tinggi
bermutu untuk anak-anak Papua
tidak mungkin hanya dibebankan
pada PT yang ada di Papua,
khususnya PTN. Untuk kriteria
PTN, di sana hanya ada Universitas
Masamus, Universitas Cendrawasih,
Universitas Negeri Papua, dan
Politeknik Fakfak.

Memeratakan
Akses Siswa
di Daerah 3T
ke Perguruan
Tinggi
Semula, tidak gampang mengakses pendidikan tinggi bagi
pemuda di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Artinya, tidak semua lulusan sekolah menengah atas atau
kejuruan di daerah tersebut memiliki keleluasaan melanjutkan
pendidikan di politeknik atau universitas karena terdapat
beberapa kendala. Namun, kendala tersebut sekarang
dicoba diminimalkan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud).
Berbagai fasilitas dan kemudahan diharapkan dapat
mendorong pemerataan layanan pendidikan tinggi di daerah
3T.

emerintah terus berupaya memperluas jangkauan layanan pendidikan,


termasuk di dalamnya melalui program afirmasi pendidikan tinggi
(Adik). Program ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan siswasiswa dari daerah khusus yang memiliki potensi akademik bagus untuk
melanjutkan studi ke program sarjana.

14 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Oleh karena itu, putra daerah yang


memiliki kemampuan akademik
diberi kesempatan khusus untuk
menimba perguruan tinggi di luar
daerahnya. Dalam hal ini, pihak
kampus diminta tetap melakukan
pembinaan dan pendampingan agar
para peserta cepat beradaptasi dengan
kultur budaya di daerah tujuan.
Begitu pula mengenai pendanaan,
harus ada penanganan yang baik agar
tidak membebani mahasiswa peserta
afirmasi.
Program Adik ini diharapkan
dapat memberi dukungan dan
mengembangkan ide-ide lain, seperti
misalnya penelitian, pengembangan
dan peningkatan mutu pendidikan.
Ini berguna untuk menumbuhkan
rasa kebangsaan dan keberpihakan
pengembangan sumber daya manusia
bagi masyarakat di daerah terdepan,
terluar, dan tertinggal (3T).
Sejauh ini telah banyak mahasiswa
yang merasakan program tersebut.
Pada 2012 misalnya, sebanyak 749
siswa SMA/SMK/MA dari Papua
dan Provinsi Papua Barat mendapat
beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi
untuk melanjutkan studi ke-32
perguruan tinggi negeri (PTN) di
seluruh Indonesia.
Pada masa mendatang, program ini
tidak hanya diperuntukkan bagi putra
asal Papua tetapi juga untuk daerah
lain. Afirmasi juga akan dilakukan
di beberapa provinsi lainnya, seperti
Kalimantan Barat, Aceh, Maluku
Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

(Dirjen Dikti), Djoko Santosa saat


ditemui di Jakarta (19/4), menjelaskan
lebih terperinci tentang Adik Papua
ini. Beban untuk meningkatkan
kualitas pendidikan tinggi di Papua
harus dapat dibagi kepada PTN lain
di seluruh Indonesia. Kita menjaring
anak-anak Papua belajar di PTN di
luar Papua dan tidak dikompetisikan
secara nasional tetapi dikompetisikan
hanya di daerah Papua saja. Anakanak terbaik akan disekolahkan di
luar Papua, paparnya.

Yang penting semua anak


difasilitasi agar memiliki
kesempatan mengenyam
pendidik yang sama.

Djoko Santosa menambahkan, bahwa


program serupa juga diberlakukan di
daerah-daerah perbatasan, misalnya
daerah yang bersinggungan langsung
dengan Malaysia, yaitu ada sekitar
5 kabupaten. Mereka juga diberi
beasiswa. Setelah lulus, mereka
diharapkan bersedia bekerja di
kabupatennya masing-masing. Yang
penting semua anak difasilitasi agar
memiliki kesempatan mengenyam
pendidikan yang sama, jelasnya.
Untuk 2013, Kemdikbud melanjutkan
program afirmasi pendidikan untuk
Kalimantan Barat karena langsung
berbatasan dengan Malaysia.
Direncanakan, sebanyak 100 siswa
dari Kalimantan Barat akan disaring
untuk dikuliahkan di universitas
berkualitas seperti UI, ITB, IPB,
UGM, dan ITS.
Ia menjelaskan, penerima beasiswa ini
akan menerima bantuan Rp 600.000
per bulan untuk biaya hidup dan
Rp 600.000 per bulan untuk biaya
pendidikan. Khusus Papua, bekerja
sama dengan Pemda agar biaya hidup
ditambah bisa menjadi Rp 1 juta,
ujarnya.

Ia berharap melalui program ini,


daerah-daerah yang menjadi target
afirmasi dapat mempunyai sumber
daya yang unggul dan sanggup
bersaing tidak hanya tingkat nasional
tetapi juga internasional, dan bisa
berperan juga tidak hanya lokal
tapi juga nasional di Indonesia.
Kita menginginkan nanti daerah
perbatasan langsung mempunyai
sumber daya manusia yang tangguh,
tambahnya.

Penegerian PTS

Lebih lanjut ia memaparkan program


pemerataan pendidikan tinggi
agar diupayakan sesuai dengan
proporsinya, yaitu dengan melakukan
penegerian perguruan tinggi swasta
(PTS) menjadi perguruan tinggi negeri
(PTN). Mengingat negara harus hadir
di daerah-daerah sesuai dengan
kepentingannya, maka kehadiran
negara dalam pendidikan tinggi, yaitu
melalui adanya PT yang didirikan di
wilayah Indonesia.
Penegerian PTS dan pendirian PTN
baru ini sejalan dengan amanat
Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2012 tentang Pendidikan Tinggi
yang mengedepankan pendidikan
vokasi dan menunjukkan kehadiran
negara Indonesia, terutama di daerah
3T. Kriterianya adalah daerah itu
di 3T atau tidak, tingkat Angka
Partisipasi Kasar (APK), kemudian
apakah Pemda setempat mendukung
penuh dengan kehadirian PTN di
daerahnya, jelas Djoko.
Adapun serah terima aset dan
penandatanganan nota kesepahaman
antara Kemdikbud dengan
pemerintah daerah menjadi salah
satu tahapan dalam proses penegerian
PTS. Seiring tahapan tersebut, juga
ada visitasi dari Kementerian untuk
melihat langsung kesiapan PTS yang
bersangkutan. Proses penegerian ini
sudah dimulai sejak 2010. Sampai
saat ini, setidaknya Kemdikbud
telah memiliki sejumlah politeknik
negeri di kawasan perbatasan,
seperti Politeknik Negeri Sambas di
Kalimantan Barat, Politeknik Negeri
Banyuwangi di Jawa Timur, dan
Politeknik Hasnur di Kalimantan
Selatan. (Arifah)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 15

Penegerian Poltek Sambas:

Menjaga Marwah Negara


di Daerah Perbatasan
Oleh Tedi Heryanto
Direktur Politeknik Negeri Sambas,
Provinsi Kalimantan Barat

P
Perbatasan merupakan
kawasan yang sangat
strategis. Pengelolaan
kawasan secara arif dan
bijaksana merupakan sebuah
keharusan, karena kawasan
perbatasan merupakan
kawasan terdepan, terluar,
dan tertinggal (3T). Dalam
pengelolaan kawasan
perbatasan harus dimaknai
sebagai Beranda Terdepan
Negara.

engembangan kawasan
perbatasan merupakan
geostrategi bangsa Indonesia.
Geostrategi adalah suatu strategi
dalam memanfaatkan kondisi
geografis negara dalam menentukan
kebijakan, tujuan dan sarana
umum untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi dan tujuan nasional. Hal
ini dilatar belakangi, bahwa Indonesia
menjadi ajang persaingan kepentingan
dan perebutan pengaruh negaranegara besar. Bangsa Indonesia harus
memiliki keuletan dan ketangguhan
yang perlu dibina secara konsisten
dan berkelanjutan.
Dalam UU No. 43 tahun 2008 tentang
Wilayah Negara dinyatakan, bahwa
yang dimaksud dengan kawasan
perbatasan adalah bagian dari
wilayah negara yang terletak pada
sisi dalam sepanjang batas wilayah
Indonesia dengan negara lain, dalam
hal batas wilayah negara di darat,
kawasan perbatasan berada di
kecamatan.
Pada bagian penjelasan UU tersebut
dinyatakan, bahwa mengingat sisi
terluar dari wilayah negara atau yang
dikenal dengan kawasan perbatasan
merupakan kawasan strategis dalam
menjaga integritas wilayah negara,
maka diperlukan juga pengaturan
secara khusus.
Pengaturan batas-batas wilayah
negara dimaksudkan untuk
memberikan kepastian hukum
mengenai ruang lingkup wilayah
negara, kewenangan pengelolaan
wilayah negara, dan hak-hak
berdaulat. Pengelolaan wilayah

16 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

negara dilakukan dengan pendekatan


kesejahteraan, keamanan, dan
kelestarian lingkungan secara
bersama-sama.
Pendekatan kesejahteraan dalam arti
upaya-upaya pengelolaan wilayah
negara hendaknya memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi
peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang tinggal di kawasan
perbatasan.
Pendekatan keamanan dalam arti
pengelolaan wilayah negara untuk
menjamin keutuhan wilayah dan
kedaulatan negara serta perlindungan
segenap bangsa. Sedangkan
pendekatan kelestarian lingkungan
dalam arti pembangunan kawasan
perbatasan yang memperhatikan
aspek kelestarian lingkungan
merupakan wujud dari pembangunan
yang berkelanjutan.
Peran pemerintah pusat dan
pemerintah daerah menjadi sangat
penting terkait dengan pelaksanaan
fungsi-fungsi pemerintahan sesuai
dengan prinsip otonomi daerah dalam
mengelola pembangunan kawasan
perbatasan.
Kawasan perbatasan di seluruh
wilayah NKRI merupakan bagian
dari Geostrategi Indonesia yang
harus dimanfaatkan sebagai ruang
hidup nasional untuk menentukan
kebijakan, sarana dan sasaran
perwujudan kepentingan dan tujuan
nasional melalui pembangunan
bangsa agar tetap eksis dalam arti
ideologis, politis, ekonomis, sosial
budaya, dan Hankam.

Geostrategi Indonesia memanfaatkan


wilayah negara republik Indonesia
sebagai ruang hidup nasional guna
merancang arahan tentang kebijakan,
sarana dan sasaran pembangunan
untuk mencapai kepentingan dan
tujuan nasional. Geostrategi Indonesia
harus berupa sebuah konsep strategi
untuk mengembangkan keuletan dan
daya tahan, kekuatan nasional untuk
menghadapi dan menangkal ancaman,
tantangan, hambatan, dan gangguan
(ATHG) baik bersifat internal maupun
eksternal.

BNPP menyelenggarakan fungsi yaitu


penyusunan dan penetapan rencana
induk dan rencana aksi pembangunan
batas wilayah negara dan kawasan
perbatasan; pengoordinasian
kebijakan dan pelaksanaan
pembangunan, pengelolaan serta
pemanfaatan batas wilayah
negara dan kawasan perbatasan;
pengelolaan dan fasilitasi penegasan,
pemeliharaan dan pengamanan

batas wilayah negara; inventarisasi


potensi sumberdaya dan rekomendasi
penetapan zona pengembangan
ekonomi, pertahanan, sosial budaya,
lingkungan hidup dan zona lainnya di
kawasan perbatasan. Lainnya, BNPP
menyelenggarakan fungsi penyusunan
program dan kebijakan pembangunan
sarana dan prasarana perhubungan
dan sarana lainnya di kawasan
perbatasan; penyusunan anggaran

Mengembangkan potensi kekuatan


nasional, baik yang berbasis pada
aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan dan keamanan
(ipoleksosbudhankam) maupun
aspek alamiah, upaya kelestarian
dan eksistensi hidup negara dan
bangsa untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi dan tujuan nasional. Hal
ini juga berfungsi menunjang tugas
pokok pemerintahan dalam:
1. Menegakkan hukum dan ketertiban
(Law and Order)
2. Terwujudnya kesejahteraan
dan kemakmuran (Welfare and
Prosperity)
3. Terselenggaranya pertahanan dan
keamanan (Defense and Prosperity)
4. Terwujudnya keadilan hukum dan
keadilan sosial (Yuridical Justice
and Social Justice)
5. Tersedianya kesempatan rakyat
untuk mengaktualisasikan diri
(Freedom of the People).
Mengingat pentingnya kawasan
perbatasan, Pemerintah telah
menetapkan Peraturan Presiden
Nomor 12 Tahun 2010 tentang Badan
Nasional Pengelola Perbatasan
(BNPP). BNPP adalah Badan
Pengelola Batas Wilayah Negara dan
Kawasan Perbatasan sebagaimana
dimaksud Undang-Undang Nomor 43
Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Tugasnya menetapkan kebijakan
program pembangunan perbatasan,
merencanakan kebutuhan anggaran,
mengoordinasikan pelaksanaan,
serta mengevaluasi dan mengawasi
pengelolaan batas wilayah negara dan
kawasan perbatasan.

FOTO: WJ PIH

Peran strategis PT di daerah perbatasan sebagai wujud integritas wilayah negara.


No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 17

pembangunan dan pengelolaan


batas wilayah negara dan kawasan
perbatasan sesuai dengan skala
prioritas; pelaksanaan, pengendalian
dan pengawasan, serta evaluasi dan
pelaporan pelaksanaan pembangunan
dan pengelolaan batas wilayah negara
dan kawasan perbatasan.
Dalam rangka implementasinya,
BNPP menyusun grand design,
rencana induk, dan rencana aksi
pengelolaan batas wilayah negara dan
kawasan perbatasan. Diharapkan,
tiga dokumen mengintegrasikan
pembangunan yang melibatkan
kementerian/lembaga dan pemerintah
daerah di batas wilayah negara dan
kawasan perbatasan.

Kabupaten Sambas

Sambas merupakan salah satu


kabupaten di Kalimantan Barat
bagian sebelah utara yang berbatasan
langsung dengan negara tetangga,
yaitu Malaysia. Jarak antara Kota
Sambas dari ibu kota Provinsi
Pontianak cukup jauh lebih kurang
225 km dengan waktu tempuh
lebih kurang 5 jam perjalanan
darat. Sementara itu, perjalanan
ke Sambas hanya dapat lakukan
lewat perjalanan darat melalui jalan
propinsi yang menghubungkan kota
Sambas ke ibukota provinsi dan
kota-kota lainnya seperti Mempawah,
Pinyuh, Sungai Duri, Singkawang,
Selakau dan Pemangkat.
Kabupaten Sambas dengan luas
wilayah 6.395,70 km persegi atau
639.570 ha (4,36 persen dari luas
wilayah Propinsi Kalimantan Barat),
ia merupakan wilayah kabupaten
yang terletak pada bagian pantai
Barat dan paling Utara dari wilayah
Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu
kabupten ini juga mempunyai panjang
pantai sekitar 128,5 km dan panjang
perbatasan negara sekitar 97 km.
Berdasarkan angka hasil proyeksi
pendataan penduduk, jumlah
penduduk Kabupaten Sambas pada
tahun 2009 sekitar 496.464 jiwa.
Kepadatan penduduk sekitar 78 jiwa
per kilometer persegi atau 2.699
jiwa per desa. Jika diamati, maka
persoalan yang sangat mendesak bagi
daerah Kabupaten Sambas adalah

18 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Posisi strategis Kabupaten Sambas

berkaitan dengan minimnya kuantitas


dan kualitas sumberdaya manusia
(SDM) yang mampu mengelola
pembangunan di daerah yang
berpotensi amat besar ini.
Daerah yang luas dengan potensi
besar jika tanpa disertai dengan SDM
yang mendukung dan memadai, baik
secara kualitas maupun kuantitas,
sudah tentu tidak akan banyak
memberi manfaat bagi pengembangan
dan pembangunan daerah.

Peranan Perguruan Tinggi

Berkaitan dengan pengelolaan


kawasan perbatasan seperti tersebut
di atas, maka peranan perguruan
tinggi sangat penting. Perguruan
tinggi dapat menyiapkan SDM yang
kompeten, sehingga pada akhirnya
menjadi sebuah kekuatan untuk
mengelola dan mengamankan daerah
perbatasan sekaligus juga untuk

meningkatkan daya saing bangsa.


Perguruan tinggi yang berada di
kawasan perbatasan dalam rangka
pelaksanaan Tri Dharma Perguruan
Tinggi dapat diorientasikan untuk
membantu pemerintah dalam
mengembangkan kawasan perbatasan
tersebut. Setiap perguruan tinggi
dapat mengambil peran untuk ikut
andil membentuk ketahanan nasional
(Tannas) di kawasan perbatasan.
Salah satu peran perguruan tinggi
yang berada di kawasan perbatasan
adalah Politeknik Terpikat Sambas
yang berdiri pada tahun 2008, berkat
kerja sama Direktorat Pendidikan
Tinggi dan Pemda Kabupaten Sambas
yang kemudian pada tanggal 9 Maret
2013 diresmikan menjadi Politeknik
Negeri Sambas.
Penguatan pendidikan di daerah
perbatasan, meningkatkan kualitas
dan akses pembelajaran, serta

meningkatkan status lembaga dari


swasta ke negeri, merupakan program
penting pendidikan di Indonesia.
Mengutip pernyataan Mendikbud
pada waktu peresmian Politeknik
Negeri Sambas, 9 Maret 2013 di
Sambas, bahwa perbatasan itu
sebagai sabuk pengaman, tapi bukan
dalam arti secara fisik.

Natuna, Selatan dengan Kabupaten


Singkawang dan Bengkayang, Barat
dengan Laut Natuna dan sebelah
timur dengan Kabupaten Bengkayang
dan Serawak. Sebelah Barat
berhadapan dengan Laut Natuna dan
laut Cina Selatan yang dilintasi kapalkapal perdagangan yang menuju Selat
Malaka.

Pada tulisan ini, dapat dijelaskan


secara spesifik tentang peranan
Politeknik Negeri Sambas dalam
rangka turut andil mengambil peran
dalam pembangunan di Kawasan
Perbatasan Sambas (Indonesia)
dengan Serawak (Malaysia).

Ada dua titik perbatasan di


Kabupaten Sambas dengan Malaysia
yaitu Desa Aruk Kecamatan Sajingan
yang berbatasan darat dengan Biawak
Serawak Malaysia dan Desa Temajuk
Kecamatan Paloh yang berbatasan
darat dan laut dengan Sematan
Serawak Malaysia.

Kabupaten Sambas memiliki


potensi yang sangat besar, karena
memiliki letak yang strategis dengan
lokasi berbatasan langsung dengan
negara tetangga. Sebelah Utara
berbatasan dengan Serawak dan Laut

Dalam posisi geografis yang strategis


dengan usia yang masih relatif
muda, Politeknik Negeri Sambas
telah berupaya untuk turut andil
mengambil peran membantu

pemerintah di Kawasan Perbatasan


dengan berbagai kegiatan yang
dipusatkan di Desa Temajuk
Kecamatan Paloh.
Kegiatan itu di antaranya pembuatan
turbin pelton untuk pembangkit
listrik piko hidro, sosialisasi teknologi
injeksi gaharu pada kelompok tani
Gaharu Mandiri dalam mempercepat
pembentukan global, pelatihan teknik
pengembangbiakan mikro organisme,
pembuatan pupuk Bokashi dan
pembuatan pupuk organik cair, teknik
budidaya tanaman sawit dengan
biaya murah, dan manajemen usaha
perkebunan kelapa sawit. Pada masa
mendatang, diharapkan Politeknik
Negeri Sambas ini menjadi pionir
dalam pembangunan di daerah.
Mampu berperan menjadi daya ungkit
bagi para investor untuk membuka
atau mengembangkan lebih luas lagi
usahanya di kabupaten ini. (*)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 19

Berbicara mengenai pendidikan,


di kawasan perbatasan tersebut
memerlukan lebih banyak perhatian
dan sentuhan. Letak geografisnya
sangat jauh dari ibu kota provinsi dan
kabupaten, menjadi alasan mengapa
pendidikan di sana kurang perhatian
dan sentuhan. Alasan lain adalah
belum ada akses jalan darat yang
memadai, saluran komunikasi melalui
telepon seluler maupun kabel tidak
tersedia, dan belum terjangkau aliran
listrik.
Kondisi geografis di daerah
perbatasan menyulitkan banyak anak
mendapatkan akses pendidikan. Di
beberapa perkampungan atau dusun
di perbatasan Kalimantan Barat
misalnya, anak-anak harus berjalan
kaki 1-2 jam sejauh hingga lebih dari
6 km melintasi hutan dan menuruni
bukit untuk mendapatkan pendidikan
di sekolah setiap hari.

Kalimantan Barat merupakan provinsi yang berbatasan


langsung dengan Malaysia dan memiliki wilayah perbatasan
terpanjang. Provinsi ini juga memiliki kesamaan sosial dan
budaya dengan wilayah perbatasan negara tetangga,
seperti kehidupan masyarakat Dayak Iban, Dayak Uud
Danum, Dayak Bedayuh. Banyak suku-suku tersebut yang
tinggal di wilayah Malaysia. Bukan hanya itu, tranportasi
pun telah menyatu. Terdapat mobil umum lintas negara dari
Pontianak ke wilayah Malaysia dan Bandar Sri Bengawan,
Brunai Darussalam.

Oleh Mujahir
Widyaiswara pada Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP),
Provinsi Kalimantan Barat

20 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Kondisi sulit yang dihadapi anak di


perbatasan juga dialami oleh para
guru, terutama para guru honorer
yang kebanyakan honor komite. Para
guru tersebut banyak yang harus
mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini
karena kekurangan tenaga guru di
sekolah perbatasan.
Kondisi yang dialami oleh para siswa
dan guru di daerah-daerah perbatasan
yang pada hakikatnya merupakan
daerah terdepan sebagai pintu
gerbang untuk memasuki Indonesia.
Tentu saja menjadi tanggung
jawab kita bersama untuk mencari
solusinya, agar pendidikan di sana
memiliki kualitas yang sederajad

FOTO: Arifah PIH

Membangun
Pendidikan
di Perbatasan

enggunaan Bahasa Melayu


merupakan perekat suku
serumpun, sehingga komunikasi
tutur tidak mengalami hambatan.
Perlu dipahami, Kalimantan
Barat memiliki lima kabupaten
yang berbatasan langsung dengan
Malaysia, yaitu Kabupaten Sambas,
Bengkayang, Sanggau, Sintang, dan
Kapuas Hulu. Lintas batas yang
resmi digunakan untuk berkunjung
ke Malaysia dan sebaliknya adalah
melalui Aruk (Sambas), Jagoi Babang
(Bengkayang), Entikong (Sanggau),
dan Badau Kabupaten Kapuas Hulu.

Semangat siswa dan guru Indonesia di SMP Terbuka di perkebunan sawit Bombalai, Sabah Malaysia

dengan daerah lain yang letak


geografisnya lebih menguntungkan.
Pemerintah pusat, pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota kiranya
perlu menaruh perhatian yang lebih
besar lagi terhadap pendidikan di
kawasan tersebut.
Kita patut khawatir terjadi dampak
buruk jika pendidikan di sana
kurang diperhatikan, misalnya
pengikisan nasionalisme yang bukan
tidak mungkin akan mengancam
kedaulatan bangsa.
Setidaknya ada delapan langkah yang
harus dilakukan oleh pemerintah
dalam membangun pendidikan
berkelanjutan di wilayah perbatasan.
Pertama, membangun sarana dan
prasarana pendukung pendidikan,
seperti memperbaiki gedung sekolah
yang sudah rusak dan fasilitas

pembelajaran lainnya.
Kedua, memenuhi kebutuhan guru.
Ketiga, meningkatkan kesejahteraan
guru dengan memberikan insentif
yang layak, selain gaji. Keempat
membuka akses komunikasi yang
layak, seperti penyediaan transportasi
yang memadai, dan komunikasi lisan
yang dapat diakses melalui telepon
seluler/telepon kabel.
Kelima, meningkatkan kualitas guru
melalui pelatihan-pelatihan agar
tercipta pembelajaran yang efektif.
Keenam, mengembangkan kurikulum
yang berkearifan lokal, sehingga
sesuai untuk diterapkan di daerah
perbatasan.
Ketujuh, menuntaskan buta aksara.
Dan kedelapan, batasi pembangunan
unit sekolah baru, cukup sekolah
yang ada diberi asrama atau sekolah
berasrama.( * )
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 21

Sekolah Indonesia Luar Negeri

Menyuntikkan Ilmu
Pengetahuan, Menjalankan
Diplomasi Budaya

memenuhi berbagai kebutuhan terkait


dengan sekolah, seperti pengadaan
pendidik dan tenaga kependidikan
yang berkualitas, sarana-prasarana
yang memadai, pembenahan
manajemen dan pengelolaan sekolah,
pelatihan pengembangan kurikulum,
supevisi pembelajaran, diklat
penulisan dan penilaian karya ilmiah,
serta kebutuhan lainnya sesuai
dengan kebijakan.
Selain aspek pendidikan, pendirian
SILN juga berhubungan erat dengan
aspek lainnya, yakni pelaksanaan
politik luar negeri, terutama
pencitraan diri Indonesia di dunia
internasional, sebagai negara
demokrat ketiga terbesar di dunia,
negara muslim moderat terbesar,
serta bangsa yang pluralistik. SILN
juga berperan sebagai sumber
informasi bagi pengembangan
pendidikan nasional dengan memetik
pelajaran dari sistem pendidikan di
luar negeri.

Di manapun warga
Indonesia berada, termasuk
di luar negeri, Pemerintah
Republik Indonesia terus
berupaya agar mereka
mendapatkan layanan
pendidikan yang memadai.
Sejauh ini, penyelenggaraan
pendidikan nasional di luar
negeri sudah menjangkau 15
kota di seluruh dunia. Hanya
saja penyelenggarakan
pendidikan di perbatasan
menjadi tantangan tersendiri.

anyak warga negara Indonesia


yang tinggal di luar negeri.
Ada beberapa alasan mereka
berada di sana, seperti menjadi tenaga
kerja Indonesia (TKI), staf Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI), dan
menjadi mahasiswa.
Meskipun tinggal di negeri orang,
mereka berhak mendapat pendidikan
yang diselenggarakan pemerintah
Indonesia. Selain untuk membina
dan menanamkan rasa kebangsaan,
pendidikan nasional itu dapat
memupuk persatuan dan kerukunan
antar sesama warga Indonesia di luar
negeri.
Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN)
adalah bentuk kepedulian Pemerintah
Indonesia untuk memberikan akses
pendidikan sekaligus pelayanan
pendidikan bagi warga Indonesia yang
bermukim di luar negeri. Berdasarkan
Surat Keputusan Bersama, SILN
dikelola dan menjadi tanggung jawab
bersama Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

22 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Saat ini, SILN yang ada sudah


menjangkau sejumlah kota di luar
negeri, yaitu Jeddah, Riyadh, dan
Mekkah (Arab Saudi), Singapura
(Singapura), Davao (Filipina),
Bangkok (Thailand), Yangon
(Myanmar), Moskow (Rusia),
Nederland dan Wassenar (Belanda),
Beograd (Serbia), Tokyo (Jepang),
Kairo (Mesir), Kuala Lumpur dan
Kinabalu (Malaysia). Khusus Sekolah
Indonesia (SI) di Kairo, mempunyai
sekolah filial di Damaskus yang
dikenal dengan Sekolah Indonesia
Damaskus (Suriah).
Sama halnya dengan sekolahsekolah yang ada di Indonesia, SILN
mendapat perhatian yang sama dari
pemerintah. Hal ini dalam rangka
mewujudkan amanat Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, yang
menyebutkan bahwa setiap warga
negara mempunyai hak yang sama
untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu.
Oleh karena itu, pemerintah berupaya

Beragam kelebihan dimiliki SILN,


seperti yang diterapkan di SI Yangon
yang melaksanakan kurikulum
pendidikan Indonesia, lokal, dan
internasional dengan bahasa
pengantar bahasa Inggris (kecuali
mata pelajaran Bahasa Indonesia).
Ada juga yang menerapkan sistem
pendidikan jarak jauh (PJJ) seperti
yang dilakukan SI Nederland. PJJ
bersifat semi-homeschooling dan
menggunakan internet sebagai
sarana komunikasi dan konsultasi
antara siswa, orangtua, dan guru.
SI Singapura menyelenggarakan
program pelatihan penata laksana
rumah tangga, memfungsikan sekolah
sebagai pusat budaya, dan melakukan
berbagai program inovatif yang dapat
menjadi ciri khas Indonesia.
Sementara itu, akreditasi SILN telah
mendapat pengakuan internasional
dari aspek penerimaan mahasiswa.
Hal ini sudah resmi diakui oleh
Pemerintah Jepang dan Mesir dimana
para lulusan SILN dapat langsung
mengikuti tes masuk ke berbagai
perguruan tinggi di negara-negara
tersebut. (Arifah, sumber: dokumen
Direktorat P2TK Dikdas)

14.000 Anak TKI


di Malaysia pun Peroleh
Layanan Pendidikan
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud), terus menerus memperbaiki metode layanan
pendidikan bagi anak-anak Indonesia di luar negeri. Termasuk pada anakanak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia, khususnya yang
bekerja di sektor perkebunan di sekitar wilayah Sabah. Mereka mengalami
kesulitan dalam memperoleh pendidikan bagi anak-anaknya. Melihat kondisi
demikian, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
(Ditjen Dikdas), pada 2008 mendirikan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu
(SIKK) Malaysia dan mengirimkan tenaga pendidik untuk mengajar di Sabah,
Malaysia.
Hal ini merupakan tindak lanjut dari salah satu hasil Joint Working Group
Meeting ke-4 antara Pemerintah Indonesia dengan Malaysia pada tanggal 21
Juli 2006 di Langkawi, Malaysia. Langkah ini juga sebagai upaya peningkatan
pelayanan pendidikan anak-anak Indonesia di luar NKRI, tepatnya di Sabah,
Malaysia
Dari sisi gerakan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas), anakanak TKI di Malaysia juga mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan
pendidikan. Kebanyakan dari mereka adalah usia SD dan SMP atau usia target
Wajar Dikdas.
Dari 53.000 anak dari pekerja Indonesia yang tersebar di seluruh negeri
Sabah Malaysia, hingga saat ini baru sekitar 14.000 anak yang tertangani.
Ini merupakan tugas besar karena harus bersama-sama dengan kementerian
lain untuk menanganinya. Jika tidak ditangani, nantinya Indonesia tidak
hanya dibanjiri oleh banjir devisa, tapi juga banjir buta aksara. Kita tidak
ingin anak-anak disana tidak mengetahui lagu Indonesia Raya ataupun budaya
Indonesia, ujar Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Suyanto, di Jakarta,
21 November 2012 lalu.
Di Kota Kinabalu Sabah Malaysia, Pemerintah Indonesia pada 2008
mendirikan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan saat ini memiliki 487
siswa. Namun demikian, Pemerintah juga telah mendirikan konsep Community
Learning Centre (CLC) sebagai sekolah satelit SIKK yang berada di seluruh
wilayah Sabah Malaysia.
Pendirian CLC ini tidaklah semudah membalikkan tangan, terutama untuk
bisa diakui dan mendapat izin dari pihak Pemerintah Malaysia. Oleh sebab
itu, Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan perluasan pelayanan
pendidikan di wilayah tersebut.
Sejauh ini penyelenggaraan SIKK terbilang bagus. Maka, tak heran jika banyak
negara belajar kepada Indonesia bagaimana memberi pelayanan pendidikan
kepada warga negaranya di luar negeri. (Arifah)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 23

K e b u daya a N

Pengakuan

NOKEN
oleh Dunia

Perjuangan masyarakat Indonesia di kancah internasional akhirnya


berbuah manis. Noken, tas khas Papua, diakui UNESCO sebagai warisan
budaya dunia. Namun, pengakuan itu justru menjadi langkah awal
untuk mengembangkan Papua nan eksotis.
Penetapan Noken sebagai warisan dunia
oleh UNESCO merupakan simbol, bahwa
Papua mempunyai warisan budaya yang
luar biasa. Oleh karena itu, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
akan terus menggali kebudayaan apa saja
yang ada di Papua, sebab hal itu sangat
penting sebagai bagian dari NKRI.

NOKEN

Mendikbud menerima pengalungan Noken dari Masyarakat adat Papua,


pada acara peletakkan batu pertama pembangunan Museum Noken.
(Jayapura, 10 April 2013)
24 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan


dan Kebudayaan (Mendikbud),
Mohammad Nuh, dalam acara
penyerahan sertifikat UNESCO tentang
penetapan Noken sebagai warisan dunia
di Hotel Aston Niu Manokwari, Minggu
(7/4). Sertifikat itu diserahkan oleh
Mendikbud kepada Gubernur Papua,
Abraham O. Ataruri.
Mendikbud menyatakan, untuk
membangun Papua tidak cukup dengan
pengembangan sarana prasarana tetapi
peradaban juga harus dikembangkan.
Kita ingin mewariskan kepada anak-anak
dan adik-adik kita, bahwa NKRI itu sangat
beragam, katanya.
Pengakuan UNESCO ini harus
ditindaklanjuti dengan konservasi dan
promosi. Oleh karena itu, Kemdikbud
berencana mendirikan Museum Noken
untuk melatih generasi muda mengenal
pembuatan Noken dan mengembangkan

Noken yang sudah mengalami modifikasi.


Pada Desember 2012 lalu, UNESCO
menetapkan Noken sebagai warisan
dunia. Lembaga PBB untuk Bidang
Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan,
ini secara resmi menilai tas rajutan
atau anyaman multifungsi tersebut
memerlukan perlindungan mendesak.
Pengakuan UNESCO ini akan mendorong
upaya melindungi dan mengembangkan
warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh
lebih dari 250 suku di Provinsi Papua
dan Papua Barat. Inskripsi UNESCO ini
bukanlah tujuan akhir, melainkan awal
upaya kita untuk bersama-sama menggali,
melindungi dan mengembangkan warisan
budaya Noken ini, ujar Wakil Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Bidang
Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, dalam
pidato singkatnya menyambut inskripksi
Noken pada daftar UNESCO yang
bergengsi itu.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk
UNESCO, Carmadi Machbub, menjelaskan
bahwa inskripsi Noken menambah satu
lagi warisan budaya takbenda Indonesia
yang telah ditetapkan UNESCO, menyusul
Wayang, Keris, Batik, Diklat Warisan
Budaya Batik untuk Siswa Sekolah,
Angklung dan Saman. (Nopendhi)
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 25

K e b u daya a N

NOKEN
Simbol Kehidupan

Noken juga menjadi


simbol kehidupan
yang baik, kejujuran,
perdamaian, dan
kesuburan bagi wanita
Papua.

Bagi masyarakat Papua, Noken tidak terlepas dari kehidupan seharihari untuk membawa barang. Tak jarang pula difungsikan sebagai alat
gendong anak balita.
Noken, tas tradisional khas Papua, ini
sangat kuat. Terbuat dari serat kulit kayu
manduam, nawa, genemo atau anggrek
hutan. Bentuknya unik. Pada umumnya,
Noken yang berukuran besar digunakan
di kepala untuk membawa kayu bakar,
tanaman hasil panen, barang dagangan,
bahkan untuk menggendong anak.
Sementara Noken ukuran kecil banyak
digunakan anak-anak membawa buku dan
perlengkapan sekolah lainnya.

Lantaran kekhasannya, noken kerap


diberikan sebagai kenang-kenangan
untuk tamu dalam berbagai upacara
adat. Berdasarkan tradisi masyarakat
setempat, Noken merupakan pelambang
kedewasaan bagi wanita Papua dan
sebagai salah satu syarat untuk menikah.
Jika belum bisa membuat tas Noken,
dianggap belum dewasa. Selain itu, Noken
juga menjadi simbol kehidupan yang baik,
kejujuran, perdamaian, dan kesuburan
bagi wanita Papua.
Proses pembuatan noken juga terbilang
cukup rumit, karena tidak menggunakan
mesin. Langkah pertama, menyiapkan
kulit kayu dan mengolahnya. Lalu kulit
kayu yang keringkan tersebut dipilah
seratnya untuk dipintal menjadi benang,
yang selanjutnya dianyam dengan tangan
menjadi Noken. Proses penyelesaiannya
bervariasi, tergantung ukuran, antara 1-3
minggu.
Berdasarkan kekhasan dan nilai filosofis
tersebut, pada 4 Desember 2012 Tas
Rajutan atau Anyaman Multifungsi
Noken mendapat pengakuan sebagai
Warisan Budaya Dunia Takbenda oleh
UNESCO. Keputusan ini disahkan pada
Komite Antar-Pemerintah ke-7 untuk
Perlindungan Warisan Budaya Takbenda
di Markas UNESCO di Paris, Prancis.

Wanita dan pria Papua menggunakan


Noken untuk berbagai keperluan.

26 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Hal ini menandakan betapa istimewa


Noken di mata dunia. Sudah selayaknya
Noken terus dilindungi, mengingat
warisan budaya ini digunakan oleh lebih
dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua
dan Papua Barat.
(Arifah, dari berbagai sumber)

Lindungi Pohon

Bahan Baku Noken


Oleh Titus Pekei
Ketua Lembaga Ekologi Papua,
Penulis Buku Cermin Noken Papua

Tanggal 4 Desember 2012, pukul 10:30 (waktu Paris, Perancis)


merupakan saat yang tidak terlupakan. Pada saat itu, Noken diakui
sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Pembahasan Noken
relatif mulus dan lancar, bahkan peserta sidang yang berasal dari
Jepang melakukan interupsi guna mendukung Noken segera
ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.
Setelah budaya daerah-daerah lain di
Indonesia seperti keris, wayang, batik,
angklung, dan tari Saman Gayo dari
Aceh, diajukan sebagai warisan budaya
dunia. Kami di Lembaga Ekologi Papua
berpikir bahwa warisan budaya apa yang
bisa diajukan dari tanah Papua. Lalu,
muncullah inisiatif untuk mengajukan
Noken.
Noken didahulukan untuk mendapat
penghargaan dari UNESCO dibandingkan
budaya-budaya lain seperti tarian atau
ukir-ukiran karena Noken ini adalah
kehidupan masyarakat Papua. Dengan
Noken, masyarakat Papua mewadahi
masalah dalam segala bidang kehidupan.
Di tahun 2008 ketika memilah budaya
Papua yang akan dimajukan sebagai
warisan Budaya Takbenda dunia, ada
beberapa alternatif seperti pahat,
tarian, dan Noken. Kami menilai Noken
mempunyai peran yang besar. Sebelum
acara tarian, para penari menggunakan
Noken untuk membawa perkakas
menari. Demikian juga ketika suku Asmat
berangkat memahat. Ketika mereka
masuk hutan untuk menebang pohon,
alat pahatan dan makanan mereka bawa
dalam Noken.
Noken adalah identitas budaya yang
dimiliki masyarakat Papua yang terdiri
250-an lebih suku yang menyebar di
seluruh pulau Papua. Mereka memiliki
Noken dengan model, bentuk, dan corak

yang beragam. Kalau masuk ke komunitas


suku atau masyakat, kita akan mengetahui
ternyata mereka menghasilkan Noken
yang berbeda dengan suku yang lain.
Secara garis besar, Noken yang dibuat
di Papua ini terdiri dari Noken anyam
dan Noken rajut. Sejalan dengan
perkembangan zaman, terdapat benang
manila dan wol, sehingga ada Noken yang
dibuat dengan cara menyulam. Selain
itu, bahan baku Noken tediri dari kulit
kayu, serat kayu, rotan, daun pandan, dan
rumput rawa ataupun pelepah sagu.
Noken mempunyai banyak keunikan.
Walaupun ada lebih dari 250 suku
mempunyai Noken, ukuran dan
kegunaannyapun beragam antara suku
satu dengan yang lain. Bentuk dan fungsi
Noken tergantung kebiasaan dan kearifan
lokal tiap suku. Ada pula Noken yang
bisa untuk membawa anak babi atau
menggendong bayi. Apabila komunitas
suku tersebut pekerja keras, maka Noken
mereka berfungsi untuk mengisi berbagai
macam barang.
Namun, jika suku tersebut suka masuk
hutan mencari kayu kering, suku tersebut
akan menghasilkan Noken yang khusus.
Demikian juga dengan suku yang punya
kebiasaan membawa buah dan sayur
sayuran atau suku yang sering pergi ke
kota, mereka akan mempunyai Noken
yang berbeda lagi.
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 27

K e b u daya a N

Apabila terjadi perang antar suku, maka


noken ini mereka isi dengan piring batu
atau kulit biak (kerang) sebagai alat
transaksi sehingga terjadi perdamaian.
Keterampilan membuat Noken juga
menentukan status seorang perempuan,
apakah sudah dewasa atau belum dengan
melihat apakah ia dapat membuat
Noken. Setelah menikah, mereka akan
mengalungkan Noken sebagai tanda
Noken kehidupan. Noken ini harus
dijaga, jangan sampai ada anggota
keluarga merobek Noken kehidupan
tersebut. Merobeknya berarti merobek
kebersamaan yang sudah terjalin.
Sekarang hanya sedikit generasi muda
Papua yang bisa melanjutkan ilmu rajut
maupun ilmu anyam untuk pembuatan
Noken. Peran serta pemerintah sangat
diharapkan agar dapat mempertahankan
eksistensi Noken sebagai benda budaya.
Pemberian sertifikat pengakuan UNESCO
bahwa Noken adalah warisan budaya
dunia adalah langkah-langkah nyata untuk
melestarikan Noken.
Pengakuan Noken sebagai warisan budaya
dunia ini menjadi suatu kebanggaan
daerah. Pemerintah daerah, baik provinsi
maupun kabupaten/kota, hendaknya
lebih berpartisipasi dalam kebangkitan
Noken. Perhatian pemerintah daerah
dapat diwujudkan dengan perhatian
kepada kaum ibu-ibu sudah lanjut usia
untuk menularkan ilmu Nokennya, baik
rajut maupun anyam, kepada generasi
yang lebih muda.
Setelah menerima pengakuan dari
UNESCO, kita mempunyai kewajiban
antara lain memproteksi bahan baku,

28 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

membina perajinnya, melestarikan


dengan memikirkan bagaimana Noken
diturunkan ke generasi berikutnya supaya
berkelanjutan, dan kemudian menjadikan
Noken masuk menjadi ilmu pengetahuan
Generasi muda sekarang lebih dimanjakan
dengan kantong-kantong plastik dan tas
produk pabrik. Hal ini menjadi salah satu
penyebab terjadi pengikisan identitas
budaya Papua sehingga Noken kurang
diminati oleh kaum muda masa kini.
Dengan pengakuan UNESCO tersebut,
diharapkan agar ada perlindungan dan
pengembangan Noken sehingga warisan
budaya tersebut dapat dilestarikan
keberadaannya.
Pembinaan untuk pelestarian Noken
salah satunya dengan cara pengadaan
modul muatan lokal yang mengajarkan
pembuatan Noken. Kemdikbud melalui
Wakil Menteri Pendidikan bidang Budaya
pernah menyampaikan pembuatan
modul muatan lokal di sekolah-sekolah
atau pendidikan informal mengenai
pembuatan Noken.
Penyelamatan bahan baku juga sangat
penting sebagai upaya menyelamatkan
situs peradaban orang Papua. Sumber
daya alam Papua sangat luar biasa,
tapi sangat disayangkan ketika proses
pembangunan, misalnya proyek
pengembangan kelapa sawit banyak
yang membabat pohon-pohon yang
penting untuk bahan baku Noken. Studi
kelayakan pembangunan kiranya perlu
memperhatikan kelestarian bahan baku
Noken, kelestarian tumbuhan yang
nantinya menjadi bahan baku warisan
budaya lain, seperti ukiran-ukiran dan
pahatan Papua.
Saya berharap kepada Kementerian
Kehutanan dan Kementerian Lingkungan
Hidup untuk bekerja sama dengan
Kemdikbud agar membuat program
pelestarian pohon yang menjadi bahan
baku Noken, salah satunya dengan
melakukan reboisasi lahan dimana
pohon bahan baku hidup dan tumbuh.
Sedangkan kepada Kementerian
Lingkungan Hidup, untuk menghasilkan
kebijakan yang menjadi kontrol supaya
bahan baku bisa dilestarikan dan
dibudidayakan. (*)

Mansinam,
Pulau Peradaban di Papua
Setelah berpredikat sebagai simbol peradaban di
Papua, tak menutup kemungkinan Pulau Mansinam
juga akan dikenal sebagai daerah wisata religi,
khususnya bagi umat Kristen. Pembangunan sarana
transportasi darat dan air terkonsep dengan apik,
mengiringi pembangunan museum dan patung
Yesus yang segera dilaksanakan.
Pulau Mansinam terletak di selatan
Manokwari, Ibukota Provinsi Papua
Barat. Dari Kota Injil itu, Mansinam bisa
dijangkau dengan menggunakan longboat
dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Pulau seluas 410,97 ha ini mempunyai
nilai penting bagi rakyat Papua.
Di pulau berpantai indah tersebut ajaran
Kristen pertama kali masuk ke tanah
Papua, yang dibawa oleh dua misionaris
dari Jerman: Carel Willem Ottow dan
Johann Gottlob Gissler, sekitar 158 tahun
lalu, tepatnya pada tanggal 5 Februari
1855.
Sejak kedatangan mereka, Pulau
Mansinam menjadi titik penting
penyebaran ajaran Kristen di Papua. Di
Pulau ini pula gereja pertama berdiri di
tanah Papua, yaitu gereja Pengharapan
(krek der Hopen). Tidak hanya
melakukan penyebaran agama kristen,
Ottow dan Gissler juga mengajarkan
menulis, membaca, dan berhitung serta
mengenalkan berbagai keterampilan
kepada orang Papua.
Pada tahun 1857 Ottow dan istrinya
membuka sekolah putri di Kwami

FOTO: Heru PIH

Secara garis besar,


Noken yang dibuat di
Papua ini terdiri dari
Noken anyam dan
Noken rajut. Sejalan
dengan perkembangan
zaman, terdapat
benang manila dan wol,
sehingga ada Noken
yang dibuat dengan
cara menyulam. Selain
itu, bahan baku Noken
tediri dari kulit kayu,
serat kayu, rotan, daun
pandan, dan rumput
rawa ataupun pelepah
sagu.

Nenek moyang orang Papua sudah


menyatu dengan Noken sebagai identitas
dan atribut budaya. Pada masa lalu
masyarakat Papua tidak mengenal
tas atau baju-baju yang punya banyak
kantong tetapi mereka mempunyai
Noken sebagai wadah yang sangat
menentukan dalam kelangsungan hidup.
Noken kehidupan yang dibuat dengan
cara merajut dan menganyam, bermakna
agar masyarakat Papua bisa merajut
dan menganyam kebersamaan. Noken
berfungsi untuk mempertahan relasi
kekerabatan, dan simbol perdamaian.

(Manokwari). Itulah awal mula pendidikan


formal di tanah Papua.
Menyadari akan nilai sejarah dan arti
penting Pulau Mansinam terhadap
pengembangan pendidikan dan
peradaban di Papua, orang Papua sering
menyebut Mansinam sebagai Pulau
Peradaban.
Tanggal 5 Februari juga ditetapkan
sebagai Hari Perkabaran Injil di Papua.
Setiap tanggal tersebut, puluhan ribu
umat Katolik Papua dan dari Indonesia
Timur berdatangan ke Pulau Mansinam
untuk merayakan hari kedatangan CW
Ottow dan Geister sebagai hari permulaan
peradaban.
Banyak peninggalan bersejarah
yang masih ada di Mansinam untuk
memperingati masuknya ajaran Kristen
di Papua. Di depan dermaga Pulau
Mansinam berdiri Salib Suci setinggi
sekitar 10 meter. Selain prasasti salib,
terdapat sumur tua milik Pendeta J.L. Van
Hasselt yang dibangun pada tahun 1872.
Sumur tersebut sampai saat ini masih ada
dan berfungsi dan airnya sering digunakan
untuk membaptis.
No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 29

K e b u daya a N
Kisah perjalanan Ottow dan Gissler
dan Gissler sampai ke Pulau Mansinam
juga menyiratkan semangat toleransi
antar umat beragama. Mereka melalui
perjalanan panjang mengarungi samudera
untuk tiba di Pulau Mansinam. Dengan
Kapal Abel Tasman mereka menjelajahi
Tanjung Harapan, Batavia, Makassar, dan
Ternate. Akhirnya, 30 mei 1854, mereka
tiba di Ternate. Di sana mereka belajar
dan memperdalam bahasa Melayu serta
belajar mengkaji berbagai informasi
tentang Papua.
Mereka kemudian menerima surat
jalan dari Sultan penguasa Ternate
yang beragama Islam. Sultan sudah
mengetahui, bahwa Ottow dan Geissler
adalah misionaris perkabaran injil. Namun
Sultan tidak menghalangi perjalanan
tersebut, bahkan memberikan surat izin
dan memerintahkan pelaut dari keluarga
besar Sultan Ternate yang beragama Islam
untuk mendampingi ke Pulau Mansinam.
Kejadian Ini adalah simbol dari
kebersamaan antara Islam dan Kristen.
Toleransi yang tinggi sudah ditunjukkan
oleh para pendahulu bangsa Indonesia.
Perbedaan agama, bahasa, dan suku,
tidak membuat terpecah. Berbagai agama
dan suku adalah kekayaan Indonesia
sebagai modal pembangunan.

Pembangunan Mansinam

Beberapa fasilitas/bangunan yang berada


di Pulau Mansinam.

Mengingat betapa penting arti


Pulau Mansinam bagi rakyat Papua,
pemerintah memberi perhatian terhadap
pembangunan pulau tersebut. Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang
Yudhoyono, pernah mengunjunginya.
Dalam kunjungannya, Presiden
memerintahkan untuk membangun pulau
yang bersejarah itu. Pembangunan sarana
keagamaan, pendidikan dan dermaga,
sebagai bentuk keseriusan pemerintah
untuk membangun Papua.
Presiden juga memerintahkan Menteri
Pendidikan dan kebudayaan, Mohammad
Nuh, untuk membangun sebuah patung
Yesus. Patung setinggi kurang lebih 15
meter tersebut akan didirikan di atas
bukit di tengah-tengah pulau Mansinam.

30 DikbuD No. 03 Tahun IV Mei 2013

Sebagai simbol dimulainya pembangunan


patung tersebut, Mendikbud telah
menyerahkan miniatur patung Yesus
kepada Gubernur Papua Barat, Abraham
O. Atururi. Penyerahan tersebut
dilaksanakan di Hotel Niu Aston
Manokwari, 7 April 2013 lalu.
Dalam kesempatan itu, Mendikbud
menyatakan bahwa di Pulau Mansinam
juga akan dibangun museum. Dengan
demikian generasi muda akan mengetahui
sejarah dari perkembangan peradaban
dan agama yang ada di Papua, jelasnya.
Kompleks Patung Yesus yang menjadi
simbol pengabaran injil dan penyebaran
agama Kristen di Pulau Papua ini
direncanakan akan diresmikan oleh
Presiden SBY pada 5 Februari 2014.
Peresmian ini bertepatan dengan
perayaan hari pengabaran Injil di Papua
ke-159.
Selain itu, juga disiapkan program
pemberdayaan masyarakat berupa
pembangunan kantor kepala kampung,
Puskesmas dan rumah dinas dokter,
sekolah dasar (SD); pembangunan taman
kanak-kanak (TK); rumah penduduk (tipe
36) sebanyak 50 unit, balai kampung,
delapan unit pasar desa, 10 unit rumah
dinas guru dan dokter, gardu PLN dan
kantor, jalan beton lingkar pulau (11,7
Km), Rest Area (shelter), lapangan
olahraga, dan museum.
Kini, pulau tersebut berpenghuni sekitar
199 kepala keluarga dan 1.032 jiwa.
Terdapat satu komplek SD-SMP Satap
(satu atap) di Pulau Mansinam, satu
gereja dengan aula yang sangat luas.
Aula yang luas tersebut digunakan untuk
menampung pengunjung yang datang,
terutama ketika perayaan tanggal 5
Februari.
Dengan segala fasilitas yang akan
dibangun, boleh jadi Pulau Mansinam
akan menjadi kawasan wisata religi
terbaik dan terbesar di Indonesia
Timur. Semoga Pulau Mansinam dapat
membawa kesejahteraan dan kedamaian
di kawasan tersebut.
(Nopendhi, dari berbagai sumber)

FOTO: Arifah PIH

Simbol Toleransi

Museum La Galigo
Buah Keberhasilan
Revitalisasi
Museum kehilangan pengunjung. Gambaran umum pada museum
seperti itu rupanya telah berlalu. Sekarang museum berubah menjadi
tempat rekreasi sekaligus edukasi yang menyenangkan. Hal ini berkat
program revitalisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Museum La Galigo, Makassar, merupakan salah satu contoh
keberhasilan program tersebut.
Ada yang baru di Museum La Galigo.
Museum ini berpenampilan baru. Tak lagi
terkesan angker. Kesan sebagai sebuah
galeri seni terpancar kuat di seantero
museum yang terletak di dalam Fort
Rotterdam atau Benteng Ujungpandang,
Makassar, Sulawesi Selatan.

tematik tersebut menjadikan pengunjung


lebih mudah memahami masa lalu
pelaku sejarah, karena informasi yang
diberikan oleh museum menjadi lebih
mudah terserap. Dalam hal transfer ilmu
pengetahuan kepada pengunjung, pihak
Museum La Galigo boleh dibilang berhasil.

Pintu masuk museum didominasi


sentuhan arsitektur modern sehingga
terkesan sophisticated. Setiap pengunjung
disambut dengan keramahan penjaga
museum. Di ruang depan, terdapat
bangku panjang dimana pengunjung
dapat duduk santai sebelum memasuki
area pameran ataupun sesudah
menyelesaikan kunjungannya.

Indrawaty, pengunjung asal Makassar,


misalnya, sangat terkesan dengan
perubahan penampilan museum.
Terakhir kali saya ke sini tahun 2010.
Saat itu museum terkesan kumuh,
sekarang sangat menarik, tertata rapi, dan
informatif, katanya, saat berada di area
tema bahari, Sabtu (30/3).

Penataan koleksi benda-benda


bersejarah di lantai 1 dan 2 begitu rapi,
dikelompokkan berdasarkan tema.
Seperti tema sejarah Benteng Rotterdam,
kebudayaan dan lintas peradaban,
pola perkampungan dan adat istiadat
masyarakat Sulawesi Selatan, pedalaman/
agragris, pesisir/bahari, pertumbuhan
dan perkembangan kota, hingga simbol
kekuasaan dan kekuatan. Penyusunan

Revitalisasi Museum
Perubahan tersebut tidak terlepas dari
peran pemerintah pusat dan daerah
dalam melaksanakan program revitalisasi
museum, yaitu upaya meningkatkan
kualitas museum untuk melayani
masyarakat dan menempatkan kembali
arti penting museum secara proporsional
dan kontekstual. Revitalisasi museum
La Galigo merupakan salah satu bagian
dari Gerakan Nasional Cinta Museum

Dengan penataan
berdasarkan tema
ini, pengunjung
mendapatkan ruang
yang cukup untuk
mengeksplorasi
informasi dari
berbagai koleksi yang
ditampilkan.

No. 03 Tahun IV Mei 2013

DikbuD 31