Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY.

N DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN HALUSINASI DI RUANG ARIMBI
RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO
MAGELANG

Praktek Klinik Keperawatan Jiwa

Disusun Oleh :
Dyah Ayu Purbarani
Riky Harsono
Rizwan Cahyanto
Sofingati
Sri Haryani Fauzi
Wahyudi Candra
Waslih Nuryati
Widya Arisanti
Windi Rahayu Ningsih
Woro Aisyah Nurliana
Yachya Abaatihim

(NIM. A01201627)
(NIM. A01301808)
(NIM. A01301812)
(NIM. A01301818)
(NIM. A01301819)
(NIM. A01301832)
(NIM. A01301833)
(NIM. A01301835)
(NIM. A01301836)
(NIM. A01301837)
(NIM. A01301838)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. N DENGAN MASALAH


KEPERAWATAN HALUSINASI DI RUANG ARIMBI
RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO
MAGELANG

1. TINJAUAN TEORI
a. Pengertian
Kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan saat didorong
oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan negatif atau
mengancam (NANDA, 2012).
Menarik diri merupakan keadaan seorang individu yang
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Klien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain (Keliat & Akemat, 2011)
b. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Proses terjadinya masalah :
1) Pattern of Parenting (Pola Asuh Keluarga)
Misalnya, pada anak yang kelahirannya tidak dikehendaki
(unwanted child) akibat kegagalan KB, hamil di luar nikah, jenis
kelamin yang tidak diinginkan, bentuk fisik kurang menawan
menyebebkan
keluarga
mengeluarkan
komentar-komentar
negative, merendahkan, menyalahkan anak.
2) Ineffective Coping (Koping Individu tidak Efektif)
Misalnya, Saat individu menghadapi kegagalan menyalahkan
orang lain, ketidakberdayaan, menyangkal tidak mampu
menghadapi kenyataan dan menarik diri dari lingkungan, terlalu
tingginya self ideal dan tidak mampu menerima realitas dengan
rasa syukur.
3) Lack of Development Task (Gangguan Tugas Perkembangan)
Misalnya, kegagalan menjalin hubungan intim dengan sesama
jenis, tidak mampu mandiri dan menyelesaikan tugas, bekerja,
bergaul, sekolah, menyebabkan ketergantungan pada orang tua,
rendahnya ketahanan terhadap berbagai kegagalan.
4) Stressor Internal and External (Stressor Internal dan Eksternal)
Misalnya, stress terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan
terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk
mengatasinya.Ansietas terjadi akibat berpisah dengan orang
terdekat, hilangnya pekerjaan atau orang yang dicintai.

c. Manifestasi Klinik
Data subyektif :
1) Tidak berminat pada kegiatan.
2) Perasaan berbeda dengan orang lain.
3) Tidak mampu memenuhi harapan orang lain.
4) Merasa sendirian.
5) Menolak interaksi dengan orang lain.
6) Mengungkapkan tujuan hidup yang tidak adekuat.
7) Merasa tidak diterima
8) Merasa tidak mampu berkonsentrasi.
Data obyektif :
1) Tidak ada dukungan orang yang dianggap penting.
2) Afek tumpul.
3) Adanya kecacatan (missal fisik, mental).
4) Tindakan tidak berarti.
5) Tidak ada kontak mata.
6) Menyendiri di kamar / menarik diri.
7) Tindakan berulang.
8) Afek sedih.
9) Tidak komunikatif.
10) Ekspresi wajah kurang berseri.
11) Kurang energi.
12) Banyak diam dan tidak mau berbicara.
13) Rendah diri.
d. Psikopatologi
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang
lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien
mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang
lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada
perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman.
Menurut Stuart Sundeen rentang respons klien ditinjau dari
interaksinya dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum
yang terbentang antara respons adaptif dengan maladaptive sebagai
berikut :
1) Respon Adaptif
Yaitu respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial
dan kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal
dalam menyelesaikan masalah.
a) Menyendiri

Respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa


yang telah terjadi di lingkungan sosialnya.
b) Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran,, perasaan dalam hubungan sosial.
c) Bekerja Sama
Kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama
lain.
d) Interdependen
Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal.
2) Respon Maladaptif
Yaitu respon yang diberikan individu yang menyimpang dari
norma sosial yang termasuk respons maladaptif adalah :
a) Menarik diri
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain.
b) Ketergantungan
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga
tergantung dengan orang lain.
c) Manipulatif
Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu
sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara
mendalam.
d) Curiga
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang
lain.
e. Diagnosa Keperawatan
1) Isolasi sosial.
2) Harga diri rendah.
3) Perubahan sensori persepsi : halusinasi.
4) Koping keluarga tidak efektif.
5) Koping individu tidak efektif.
6) Intoleransi aktivitas.
7) Deficit perawatan diri.
8) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan.
f. Fokus Intervensi
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
a) Bina hubungan saling percaya dengan:Beri salam setiap
berinteraksi.Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan
tujuan perawat berkenalan. Tanyakan dan panggil nama
kesukaan klien. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji

setiap kali berinteraksi. Tanyakan perasaan klien dan masalah


yang dihadapi klien. Buat kontrak interaksi yang jelas.
Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
2) Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri.
a) Tanyakan pada klien tentang:Orang yang tinggal serumah /
teman sekamar klien, orang yang paling dekat dengan klien di
rumah/ di RS, apa yang membuat klien dekat dengan orang
tersebut, orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/di RS,
apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut,
upaya yang harus dilakukan agar dekat dengan orang lain.
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan penyebab
menarik diri atau tidak mau bergaul
c) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya
3) Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
a) Tanyakan pada klien tentang :Manfaat jika berhubungan
dengan orang lain dan kerugian jika tidak berhubungan dengan
orang lain.
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
c) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain.
d) Beri pujian terhadap kemempuan klien mengungkapkan
perasaannya.

4) Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap.


a) Observasi perilaku klien dengan berhubungan dengan orang
lain.
b) Motivasi dan bantu klien untuk berkenalan / berkomunikasi
dengan:perawat, perawat lain, klien lain, dan kelompok
masyarakat.
c) Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
d) Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
e) Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas
pergaulannya

f) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk


meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi.
5) Klien mampu mengungkapan perasaanya setelah berhubungan
dengan orang lain.
a) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
setelah berhubungan dengan orang lain
b) Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain
c) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
6) Klien dapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan
dengan orang lain dan lingkungan.
a) Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai
pendukung untuk mengatasi prilaku menarik diri.
b) Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi
perilaku menarik diri
c) Jelaskan cara merawat klien menarik diri yang dapat
dilaksanakan oleh keluarga.
d) Motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi.
e) Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatan merawat klien di
rumah sakit
f) Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang
dilatihkan.
7) Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
a) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis,efek
samping dan manfaat obat
b) Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya
c) Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek
samping obat yang dirasakan
d) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
e) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima) benar
2. TINJAUAN KASUS
a. Pengkajian
1) Identitas Pasien
Initial
Tanggal Lahir
Umur
Nomor RM

: Ny. N (Perempuan)
: 6 Desember 1976
: 40 tahun
: 00-09-13-63

Tanggal Masuk
Tanggal pengkajian
Informan

: 23 Februari 2016
: 25 Februari 2016
: Ayah Kandung

2) Identitas Penanggung Jawab


Initial
: Tn. A
Tanggal Lahir
: 7 Juli 1950
Pekerjaan
: Petani
Alamat
: Kalibawang, Wonosobo
3) Alasan Masuk
Pasien diantar oleh keluarga ke RSJS Magelang karena mengamuk,
memecahkan barang-barang, tidak makan, tidak merawat diri sejak
satu minggu sebelum masuk RSJS Magelang.
4) Faktor Presipitasi dan Predisposisi
a) Pasien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya, 5 kali
dirawat di RSJS Magelang.
b) Pasien riwayat putus obat, 2 bulan.
c) Ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, yaitu
adik kandung.
d) Pasien telah bersuami dan memiliki 2 anak, namun tidak
tinggal bersama mereka. Kedua anak pasien tinggal di Jakarta
bersama ayahnya.
5) Pengkajian Fisik
a) Keadaan Umum : Compos Mentis
b) Vital Sign
Tekanan Darah : 80/60 mmHg
Nadi
:78 kali/menit
Suhu
: 37o C
Pernapasan
:18 kali/menit
c) Pemeriksaan Fisik
Kepala
: mesocephal, rambut beruban,
Mata
:ikterik (-), conjunctiva anemis (-)
Hidung
: polip (-),
Mulut
: mukosa bibir lembab (-)
Telinga
: serumen (-)
Leher
: peningkatan JVP (-)
Pemeriksaan Thorax
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis terlihat
Auskultasi : S1/S2 reguler
Palpasi
: ictus cordis teraba

Perkusi
: pekak jantung
Paru-paru
Inspeksi
: ekspansi dada simetris
Auskultasi : vesikuler
Palpasi
:ekspansi dada simetris
Perkusi
: hipersonor
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
:datar
Auskultasi : bising usus 12x/menit
Palpasi
: nyeri tekan (-)
Perkusi
:tympani
Ekstremitas
:
Atas
: kekuatan otot (5/5)
Bawah
: kekuatan otot (5/5)
Genetalia
: tidak terkaji
Integumen
: ada bintik-bintik merah di seluruh tubuh

6) Pengkajian Psikososial
a) Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Sudah meninggal
: Mengalami gangguan jiwa
: Pasien
: Tinggal Serumah
b) Konsep Diri
Gambaran Diri :
Pasien mengatakan tidak mau dipotong rambutnya karena
ingin rambutnya tetap panjang.Tetapi dengan motivasi dari
perawat, pasien mau dipotong rambutnya dan merasa tidak

masalah dengan rambut barunya.Pasien mengatakan tidak


ada bagian khusus dalam tubuhnya yang disukai.
Identitas
:
Pasien mengatakan dia perempuan berusia 40 tahun, sudah
menikah dan punya anak 2 (dua).
Peran
:
Pasien mengatakan sudah menikah dan telah menjadi istri
dengan 2 (dua) anak.Tetapi, kedua anaknya tinggal
bersama suaminya di Jakarta, sedangkan pasien tinggal di
Wonosobo.Pasien mengatakan sedih karena tidak bisa
tinggal dengan anaknya.Pasien mengatakan ingin tinggal
dengan keluarganya dan merawat anak-anaknya.
Ideal Diri
:
Pasien mengatakan ingin cepat pulang ke rumah di
Wonosobo untuk bertemu anaknya.
Harga Diri
:
Pasien mengatakan merasa sedih karena tidak dapat
tinggal bersama suami dan anaknya.
c) Hubungan Sosial
Pasien jarang keluar rumah karena malas bertemu dengan
orang lain. Pasien jarang memulai pembicaraan dan mudah
bosan.Saat di RSJS pasien banyak menyendiri dan melamun di
kamar.Saat diajak mengobrol, pasien sering menolak karena
malas.
d) Nilai, Keyakinan, dan Spiritual
Pasien beragama Islam.Pasien shalat di sembarang waktu,
terkadang mendahului waktu shalat.Pasien menganggap
sakitnya cobaan dari Allah.
7) Status Mental
a) Penampilan Umum
Penampilan pasien rapi, bersih, pakaian sesuai antara atasan
dan bawahan.
b) Pembicaraan
Pasien tidak mampu memulai pembicaraan, sering menunduk,
kontak mata tidak fokus dan mudah beralih, menjawab hanya
seperlunya saja.
c) Aktivitas Motorik

Pasien terlihat lesu, kurang aktivitas, aktivitas diarahkan,


gerakan lambat, tidak mau duduk di kursi, sering tertidur di
lantai.
d) Alam Perasaan
Pasien merasa sedih karena tidak dapat tinggal bersama suami
dan anaknnya.
e) Afek
Tumpul, pasien hanya tersenyum ketika disapa oleh perawat
dan kemudian murung kembali tanpa ekspresi.
f) Interaksi Selama Wawancara
Kontak mata kurang, banyak menunduk, serta tidak fokus pada
perawat, pasien malas untuk gabung bersama teman-temannya
apalagi untuk mengobrol, pasien menyendiri.
g) Persepsi
Pasien mengatakan mendengar suara-suara tidak jelas tidak ada
wujudnya.Suara biasanya muncul 3 (tiga) kali sehari, saat pagi,
siang, dan malam saat menyendiri.Pasien mengatakan sudah
dapat menghardik halusinasi.
h) Proses Pikir
Miskin Ide.Pasien sangat jarang memulai pembicaraan dan sulit
untuk mengungkapkan pendapat.
i) Isi Pikir
Pasien mengatakan tidak memiliki keinginan yang mulukmuluk, hanya ingin pulang.
j) Tingkat Kesadaran dan Orientasi
Bingung.Pasien terlihat mondar-mandir, tidur di lantai, perilaku
harus diarahkan.Pasien juga mengalami disorientasi
orang.Pasien tidak mengalami orientasi tempat, waktu, dan
situasi.
k) Memori
Pasien mengalami gangguan daya ingat jangka pendek.
Terkadang pasien lupa akan nama petugas di ruangan. Pasien
juga mengalami gangguan daya ingat jangka panjang.
l) Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
10

Konsentrasi pasien mudah beralih, tidak mampu bercakapcakap dalam waktu yang lama.Kemampuan berhitung pasien
tidak mengalami masalah.
m) Kemampuan Penilaian
Pasien mengalami gangguan penilaian ringan.Saat dipilihkan
dua kegiatan antara mencuci piring dan mengepel pasien
mampu memilih sesuai kemampuannya.
n) Daya Tilik Diri
Pasien mengingkari penyakit yang dideritanya.Pasien
mengatakan bahwa dirinya tidak sakit gangguan jiwa.
8) Kebutuhan Persiapan Pulang
a) Makan
Pasien terlihat enggan untuk makan.Saat waktunya makan,
pasien memerlukan motivasi yang kuat agar pasien mau,
bahkan harus dipaksa atau ditarik tangannya.Saat makan,
pasien lebih menyukai menggunakan tangan tanpa
sendok.Pasien makan sehari tiga kali.
b) BAB dan BAK
Pasien mampu buang air kecil dan besar
bimbingan.Setelah
buang
air,
pasien
membersihkannya.Pasien BAB sehari satu kali.

dengan
mampu

c) Mandi
Pasien mampu mandi dengan bantuan minimal.Pasien mandi
sehari dua kali.
d) Berpakaian
Pasien dapat menggunakan pakaian sesuai aturan, celana dan
baju atau dress.Saat berpakaian dan berhias, pasien masih
memerlukan bimbingan.
e) Istirahat dan Tidur
Pasien tidur siang selama sekitar 1 jam.Tidur malam sekitar 7
sampai 8 jam.Pasien mengatakan sering terbangun dimalam
hari kira-kira pukul 00.00 wib.Sebelum tidur, pasien melakukan
toileting.
f) Penggunaan Obat
Pasien minum obat masih sering dengan diingatkan.

11

g) Pemeliharaan Kesehatan
Pasien mengatakan saat sakit biasanya ke dokter.Sebelumnya
pasien mengatakan kalau dia rutin control ke RS, tapi kadang
rasanya malas untuk kontrol.
h) Aktivitas di Dalam dan di Luar Rumah
Kegiatan yang mampu pasien lakukan : mempersiapkan
makanan dengan bantuan dan arahan, menyapu dan mengepel
lantai dengan bimbingan, mencuci pakaian dan alat makan
dengan bimbingan.
9) Mekanisme Koping
Pasien mengatakan jika ada masalah akan menyendiri, tidak suka
menceritakan masalahnya pada orang lain.
10) Aspek Medis
a) Diagnosa Medis
F 20.2
b) Terapi yang Diberikan
Clorilex 25 mg / 12 jam
Stelosi 5 mg / 12 jam
Trihexphenydil 2 mg / 12 jam
b. Analisa Data
Tanggal /
Data Fokus
Diagnosis
Jam
25/2/201 Data Subjektif :
Hallusinasi
Pasien
mengatakan
mendengar
suara6
suara tidak jelas yang tidak ada
wujudnya. Suara biasanya muncul 3
(tiga) kali sehari, saat pagi, siang, dan
malam saat menyendiri. Pasien
mengatakan sudah dapat menghardik
halusinasi.
Data Objektif :
Pasien bingung, sering melamun, dan
sering menyendiri. Pasien terlihat
mondar-mandir,
perilaku
harus
diarahkan. Pasien juga mengalami
disorientasi orang.
25/2/201

Data Subjektif :

Isolasi Sosial

12

Paraf

Pasien mengatakan jarang keluar rumah


karena malas bertemu dengan orang
lain. Saat di RSJS pasien banyak
menyendiri dan melamun di kamar.
Saat diajak mengobrol, pasien sering
menolak karena malas.
Data Objektif :
Pasien jarang memulai pembicaraan
dan mudah bosan. Pasien tidak mampu
memulai
pembicaraan,
sering
menunduk, kontak mata tidak fokus dan
mudah beralih. Pasien terlihat lesu,
kurang aktivitas, aktivitas diarahkan,
gerakan lambat, tidak mau duduk di
kursi, sering tertidur di lantai. Miskin
Ide. Pasien sulit untuk mengungkapkan
pendapat.

25/2/201
6

Data Subjektif :
Harga
Diri
Pasien mengatakan sudah menikah dan Rendah
telah menjadi istri dengan 2 (dua) anak.
Tetapi, kedua anaknya tinggal bersama
suaminya di Jakarta, sedangkan pasien
tinggal
di
Wonosobo.
Pasien
mengatakan sedih karena tidak bisa
tinggal dengan anaknya. Pasien
mengatakan ingin tinggal dengan
keluarganya dan merawat anakanaknya.
Data Objektif :
Pasien banyak diam dan menyendiri.
Saat interaksi banyak menunduk dan
tidak fokus.

c. Diagnosa Keperawatan
1) Isolasi Sosial
2) Hallusinasi
3) Harga Diri Rendah

13

d. Rencana Keperawatan
Tgl /
Diagnosis
Tujuan
Jam
25/2/
Isolasi
Klien dapat
2016
Sosial
membina
hubungan
saling
percaya

Rencana Keperawatan
Evaluasi
Klien menunjukkan tandatanda percaya kepada /
terhadap perawat:
1. Wajah cerah, tersenyum
2. Mau berkenalan
3. Ada kontak mata
4. Bersedia menceritakan
perasaan
5. Bersedia
mengungkapkan
masalahnya
6. Bersedia
mengungkapkan
masalahnya.

Tindakan
1. Bina hubungan saling percaya dengan:
a. Beri salam setiap berinteraksi.
b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan
tujuan perawat berkenalan
c. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
d. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
berinteraksi
e. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi
kllien
f. Buat kontrak interaksi yang jelas
g. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi
perasaan klien

Klien mampu Klien dapat menyebutkan


menyebutkan satu penyebab menarik diri
penyebab
dari:
menarik diri 1. Diri sendiri
2. Orang lain
3. Lingkungan

1. Tanyakan pada klien tentang:


a. Orang yang tinggal serumah / teman sekamar klien
b. Orang yang paling dekat dengan klien di rumah/ di
RS
c. Apa yang membuat klien dekat dengan orang
tersebut
d. Orang yang tidak dekat dengan klien di rumah/di
RS
14

2.
3.
Klien mampu
menyebutkan
keuntungan
berhubungan
dengan orang
lain dan
kerugian
tidak
berhubungan
dengan orang
lain
Klien dapat
melaksanaka
n hubungan
social secara
bertahap

Klien dapat menyebutkan


keuntungan berhubungan
dengan orang lain, misalnya
1. Banyak teman
2. Tidak kesepian
3. Bisa diskusi
4. Saling menolong,
Dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang
lain, misalnya:
1. Sendiri
2. Kesepian
3. Tidak bisa diskusi
Klien dapat melakukan
hubungan sosial secara
bertahap antara:
1. K Perawat
2. K Perawat lain

1.

2.

3.

4.

e. Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang


tersebut
f. Upaya yang harus dilakukan agar dekat dengan
orang lain
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul
Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya
Tanyakan pada klien tentang :
a. Manfaat jika berhubungan dengan orang lain.
b. Kerugian jika tidak berhubungan dengan orang lain.
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain.
Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain.
Beri pujian terhadap kemempuan klien mengungkapkan
perasaannya

1. Observasi perilaku klien dengan berhubungan dengan


orang lain
2. Motivasi dan bantu klien untuk berkenalan /
berkomunikasi dengan :
a) Perawat
15

3. K Klien lain
4. K Kelompok/
masyarakat
3.
4.
5.
6.
Klien mampu
mengungkap
an
perasaanya
setelah
berhubungan
dengan orang
lain
Klien dapat
dukungan
keluarga
dalam
memperluas
hubungan
dengan orang

Klien dapat
1.
mengungkapkan perasaanya
2.
setelah berhubungan
dengan orang lain untuk :
3.
1. Diri sendiri
2. Orang lain
3. Lingkungan
Keluarga dapat:
1. Menjelaskan cara
merawat klien menarik
diri
2. Mengungkapkan rasa
puas dalam merawat
klien

b) Perawat lain
c) Klien lain
d) Kelompok masyarakat
Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Sosialisasi
Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas
pergaulannya
Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi
Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain
Beri pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya.

1. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai


pendukung untuk mengatasi prilaku menarik diri.
2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien
mengatasi perilaku menarik diri
3. Jelaskan cara merawat klien menarik diri yang dapat
dilaksanakan oleh keluarga.
4. Motivasi keluarga agar membantu klien untuk
bersosialisasi.
16

lain dan
lingkungan

Klien dapat
1.
memanfaatka
n obat
dengan baik.
2.

3.
4.
5.

25/2/
2016

Hallusinasi

Klien dapat
membina
hubungan
saling
percaya

5. Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatan merawat


klien di rumah sakit
6. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang
dilatihkan
Klien dan keluarga dapat 1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang
menyebutkan manfaat,
dosis,efek samping dan manfaat obat
dosis dan efek samping
2. Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan
obat
merasakan manfaatnya
Klien dapat
3. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat
mendemontrasi kan
dan efek samping obat yang dirasakan
penggunaan obat dgn
4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
benar
5. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima)
Klien dapat informasi
benar
tentang manfaat dan efek
samping obat
Klien memahami akibat
berhenti minum obat
tanpa konsultasi
Klien dapat
menyebutkan prinsip 5
benar penggunaan obat

Klien menunjukkan tandatanda percaya kepada /


terhadap perawat:
1. Ekspresi wajah
bersahabat menunjukan

1. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan


prinsip komunikasi terapentik.
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non
verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan

17

rasa senang
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan
Ada kontak mata.
yang disukai klien
Mau berjabat tangan,
d. Jelaskan tujuan pertemuan
Mau menyebutkan nama,
e. Jujur dan menepati janji
Mau menjawab salam, s
f. Tunjukan sikp simpati dan menerima apa adanya
Klien mau duduk
g. Beri perhatian pada kebutuhan dasar klien
berdampingan dengan
perawat,
7. Klien mau
mengungkapkan masalah
yang dihadapi.
Klien dapat
1. Klien dapat
1. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
menyebutkan
waktu,
isi,
2. Observasi tingkah laku klien terkait dengan
mengenal
frekunsi dan situasi yang
halusinsinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus
halusinasinya
menimbulkan halusinasi
memandang kekiri/ke kanan/ ke depan seolah-olah ada
2. Klien dapat
teman bicara
mengungkapkan
3. Bantu klien mengenal halusinasinya :
perasaan terhadap
a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi,
halusinasi nya
b. Tanyakan apakah ada suara yang didengar
c. Jika klien menjawab ada, lanjutkan : apa apa yang
dikatakan
d. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar
suara itu, namun perawat sendiri tidak
mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa
menuduh atau menghakimi)
e. Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien
f. Katakan bahwa perawat akan membantu klien.
2.
3.
4.
5.
6.

18

4.

Klien dapat
1. Klien dapat
mengontrol
menyebutkan tindakan
halusinasinya
yang biasanya dilakukan
.
untuk mengendali-kan
halusinasinya
2. Klien dapat
menyebutkan cara baru
3. Klien dapat memilih cara
mengatasi halusinasi
seperti yang telah
didiskusikan dengan
klien
4. Klien dapat
melaksanakan cara yang
telah dipilih untuk
mengendalikan
halusinasinya
5. Klien dapat mengikuti
terapi aktivitas

1.
2.
3.
4.

5.
6.

g. Jika Klien tidak sedang berhalusinasi klari fikasi


tentang adanya pengalaman halusinasi.
Diskusikan dengan klien :
a. Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan
halusinasi ( jika sendiri, jengkel / sedih)
b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,
siang sore, dan malam atau sering dan kadangkadang)
Diskusikan dengan klien bagaimana perasaannya jika
terjadi halusinasi (marah/takut, sedih, senang) dan beri
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang
dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah,
menyibukan diri dll)
Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien,
jika bermanfaat beri pujian
Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol
timbulnya halusinasi :
a. Katakan : saya tidak mau dengar/lihat kamu
(pada saat halusinasi terjadi)
b. Menemui orang lain (perawat/teman/anggota
keluarga) untuk bercakap cakap atau mengatakan
halusinasi yang didengar / dilihat
Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi
tidak sempat muncul
Meminta keluarga/teman/ perawat menyapa jika
tampak bicara sendiri

19

kelompok

Kilen dapat
1. Keluarga dapat membina
dukungan
hubungan saling percaya
dari keluarga
dengan perawat
dalam
2. Keluarga dapat
mengontrol
menyebutkan pengertian,
halusinasinya
tanda dan tindakan untuk
mengendali kan
halusinasi

Klien dapat
1. Klien dan keluarga dapat
memanfaatka
menyebutkan manfaat,
n obat
dosis dan efek samping
dengan baik
obat
2. Klien dapat
mendemontrasi kan
penggunaan obat dgn
benar

7. Bantu Klien memilih dan melatih cara memutus


halusinasi secara bertahap
8. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dilatih.
Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
9. Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok,
orientasi realita, stimulasi persepsi
1. Anjurkan Klien untuk memberitahu keluarga jika
mengalami halusinasi
2. Diskusikan dengan keluarga ) pada saat keluarga
berkunjung/pada saat kunjungan rumah)
a. Gejala halusinasi yang di alami klien
b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga
untuk memutus halusinasi
c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di
rumah : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, berpergian bersama
3. Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu
mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol, dan
resiko mencederai orang lain
1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang
dosis,efek samping dan manfaat obat
2. Anjurkan Klien minta sendiri obat pada perawat dan
merasakan manfaatnya
3. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat
dan efek samping obat yang dirasakan
4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
5. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima)

20

3. Klien dapat informasi


tentang manfaat dan efek
samping obat
4. Klien memahami akibat
berhenti minum obat
tanpa konsultas
5. Klien dapat
menyebutkan prinsip 5
benar penggunaan obat
25/2/
2016

Harga Diri Klien dapat


Rendah
membina
hubungan
saling
percaya
dengan
perawat

Klien dapat
mengidentifi
kasi
kemampuan

benar

1. Ekpresi wajah
1. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan
bersahabat,
prinsip komunikasi terapeutik :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non
menunjukkan rasa
verbal
senang,
b.
Perkenalkan diri dengan sopan
2. Ada kontak mata,
c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang
3. Mau berjabat tangan,
4. Mau menyebutkan nama,
disukai klien
5. Mau menjawab salam,
d. Jelaskan tujuan pertemuan
6. Mau duduk
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa
berdampingan dengan
adanya
perawat,
g.
Beri perhatian kepada dan perhatikan kebutuhan
7. Mau mengutarakan
dasar klien
masalah yang dihadapi.
1. Klien mengidentifikasi
1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
kemampuan dan aspek
klien dan buat daftarnya jika klien tidak mampu
positif yang dimiliki
mengidentifikasi maka dimulai oleh perawat untuk
2. Kemampuan yang
memberi pujian pada aspek positif yang dimiliki klien
21

dan aspek
positif yang
dimiliki
Klien dapat
menilai
kemampuan
yang dimiliki
untuk
dilaksanakan
Klien dapat
(menetapkak
an)
merencanaka
n kegiatan
sesuai
dengan
kemampuan
yang dimiliki
Klien dapat
melakukan
kegiatan
sesuai
kondisi dan
kemampuann

dimiliki klien
3. Aspek positif keluarga
4. Aspek positif lingkungan
yang dimiliki klien
Klien menilai kemampuan
yang dimiliki untuk
dilaksanakan

2. Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian


negative
3. Utamakan memberi pujian yang realistis

Klien membuat rencana


kegiatan harian

1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat


dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
a. kegiatan mandiri
b. kegiatan dengan bantuan sebagian
c. kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi
klien.
3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien
lakukan.

Klien melakukan kegiatan


sesuai kondisi dan
kemampuannya.

1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan


yang telah direncanakan.
2. Beri pujian atas keberhasilan klien.
3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah
pulang.

1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat


dilaksanakan selama sakit.
2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan
pelaksanaannya

22

ya
Klien dapat
Klien memanfaatkan system
memanfaatka pendukung yang ada di
n system
keluarga.
pendukung
yang ada

1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara


merawat klien dengan harga diri rendah.
2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di
rawat.
3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

23

e. Implementasi
Diagnosis
Tanggal /
/ TUK /
Implementasi
Jam
SP
25/2/2016 Isolasi
1. Mengidentifikasi
Sosial/SP
penyebab isolasi
1
sosial pasien.
2. Berdiskusi
dengan pasien
tentang
keuntungan
berinteraksi
dengan orang
lain.
3. Berdiskusi
dengan pasien
tentang kerugian
tidak
berinteraksi
dengan orang
lain.
4. Mengajarkan
pasien cara
berkenalan
dengan satu
orang.
5. Menganjurkan
pasien
memasukkan
kegiatan latihan
berbincangbincang dengan
orang lain dalam
jadwal harian

Evaluasi

Paraf

Subjektif :
1. Pasien mengatakan
malas berbicara dengan
orang lain.
2. Pasien mengatakan
keuntungan
berinteraksi dengan
orang lain yaitu dapat
menambah teman dan
pengalaman.
3. Pasien mengatakan
kerugian tidak
berinteraksi adalah
menjadi kesepian dan
tidak banyak teman.
Objektif :
1. Saat diajak
berinteraksi, pasien
tetap tiduran saja di
lantai, malas bergerak.
Pasien melakukan
interaksi dengan
motivasi.
2. Pasien lebih banyak
menunduk, menjawab
singkat, dan tidak ada
inisiatif memulai
pembicaraan.
3. Pasien mampu
menyebutkan penyebab
isolasi sosial.
4. Pasien mempu
menyebutkan
keuntungan
berinteraksi dengan
orang lain.

24

5. Pasien mampu
menyebutkan kerugian
tidak berinteraksi
dengan orang lain.
6. Pasien memasukkan
jadwal untuk berlatih
berbincang-bincang.

26/2/2016

Isolasi
Sosial/ SP
2

1. Mengevaluasi
jadwal kegiatan
harian pasien.
2. Memberikan
kesempatan
pasien
mempraktekkan
cara berkenalan
dengan satu
orang.
3. Membantu
pasien
memasukkan
kegiatan

Analisa :
Masalah keperawatan
isolasi sosial belum
teratasi.
Planning :
Lanjutkan intervensi :
SP 2 Isolasi Sosial
1. Mengevaluasi jadwal
kegiatan harian pasien.
2. Memberikan
kesempatan pasien
mempraktekkan cara
berkenalan dengan satu
orang.
3. Membantu pasien
memasukkan kegiatan
berbincang-bincang
dengan orang lain
sebagai salah satu
kegiatan rutin.
Subjektif :
1. Pasien mengatakan
sudah berlatih
berkenalan sesuai
jadwal dengan
dibimbing oleh
perawat.
2. Pasien mengatakan
sudah mengetahui
nama teman satu
ruangan, tapi masih
sering lupa.
Objektif :

25

berbincangbincang dengan
orang lain
sebagai salah
satu kegiatan
rutin.

1. Pasien mampu
berbincang dengan satu
orang teman dengan
bimbingan.
2. Pasien berbincang
dengan singkat, masih
dengan dibimbing.
3. Pasien banyak
menunduk, menyendiri
di kamar, kontak mata
tidak fokus dan mudah
beralih.
4. Pasien memasukkan
kegiatan berbincang
dengan satu orang
dalam jadwal kegiatan
harian.
Analisa :
Masalah Isolasi Sosial
belum teratasi.

27//2/201
6

Planning :
Lanjutkan intervensi :
SP 3 Isolasi Sosial
1. Mengevaluasi jadwal
kegiatan harian pasien.
2. Memberikan
kesempatan kepada
pasien untuk
berkenalan dengan dua
orang atau lebih.
3. Menganjurkan pasien
memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.
Isolasi
1. Mengevaluasi
Subjektif :
1. Pasien mengatakan
Sosial/ SP
jadwal kegiatan
sudah berkenalan
3
harian pasien.
2. Memberikan
dengan semua teman
kesempatan
satu ruangan, namun
kepada pasien
masih sering lupa
untuk berkenalan
namanya.

26

dengan dua
orang atau lebih.
3. Menganjurkan
pasien
memasukkan
dalam jadwal
kegiatan harian.

Objektif :
1. Pasien hanya berbicara
seperlunya, kontak
mata mudah beralih,
inisiatif mulai muncul
namun hanya beberapa
pertanyaan.
2. Pasien mampu
menyebutkan 5nama
teman satu ruangan dan
3 nama perawat.
3. Pasien berbincang
dengan perawat dan
satu teman.
Analisa :
Masalah isolasi sosial
belum teratasi.
Planning :
Lanjutkan intervensi SP 3
Isolasi Sosial :
1. Mengevaluasi
jadwal kegiatan
harian pasien.
2. Memberikan
kesempatan kepada
pasien untuk
berkenalan dengan
dua orang atau
lebih.
3. Menganjurkan
pasien memasukkan
dalam jadwal
kegiatan harian.

f. Evaluasi
Tanggal /
Jam
25/2/2016
13.45

Diagnosis
Isolasi Sosial

Evaluasi

Paraf

Subjektif :
1. Pasien mengatakan malas berbicara

27

dengan orang lain.


2. Pasien mengatakan keuntungan
berinteraksi dengan orang lain yaitu
dapat menambah teman dan
pengalaman.
3. Pasien mengatakan kerugian tidak
berinteraksi adalah menjadi kesepian
dan tidak banyak teman.
Objektif :
1. Saat diajak berinteraksi, pasien tetap
tiduran saja di lantai, malas bergerak.
Pasien melakukan interaksi dengan
motivasi.
2. Pasien lebih banyak menunduk,
menjawab singkat, dan tidak ada
inisiatif memulai pembicaraan.
3. Pasien mampu menyebutkan penyebab
isolasi sosial.
4. Pasien mempu menyebutkan
keuntungan berinteraksi dengan orang
lain.
5. Pasien mampu menyebutkan kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain.
6. Pasien memasukkan jadwal untuk
berlatih berbincang-bincang.
Analisa :
Masalah keperawatan isolasi sosial
belum teratasi.
Planning :
Lanjutkan intervensi :
SP 2 Isolasi Sosial
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien.
2. Memberikan kesempatan pasien
mempraktekkan cara berkenalan dengan
satu orang.
3. Membantu pasien memasukkan
kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain sebagai salah satu kegiatan

28

26/2/2016
13.45

Isolasi Sosial

rutin.
Subjektif :
1. Pasien mengatakan sudah berlatih
berkenalan sesuai jadwal dengan
dibimbing oleh perawat.
2. Pasien mengatakan sudah mengetahui
nama teman satu ruangan, tapi masih
sering lupa.
Objektif :
1. Pasien mampu berbincang dengan satu
orang teman dengan bimbingan.
2. Pasien berbincang dengan singkat,
masih dengan dibimbing.
3. Pasien banyak menunduk, menyendiri
di kamar, kontak mata tidak fokus dan
mudah beralih.
4. Pasien memasukkan kegiatan
berbincang dengan satu orang dalam
jadwal kegiatan harian.
Analisa :
Masalah Isolasi Sosial belum teratasi.

27/2/2016
13.45

Isolasi Sosial

Planning :
Lanjutkan intervensi :
SP 3 Isolasi Sosial
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien.
2. Memberikan kesempatan kepada pasien
untuk berkenalan dengan dua orang
atau lebih.
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
Subjektif :
Pasien mengatakan sudah berkenalan
dengan semua teman satu ruangan,
namun masih sering lupa namanya.
Objektif :
1. Pasien hanya berbicara seperlunya,
kontak mata mudah beralih, inisiatif
mulai muncul namun hanya beberapa

29

pertanyaan.
2. Pasien mampu menyebutkan 5 nama
teman satu ruangan dan 3 nama
perawat.
3. Pasien berbincang dengan perawat dan
satu teman.
Analisa :
Masalah isolasi sosial belum teratasi.
Planning :
Lanjutkan intervensi SP 3 Isolasi Sosial :
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien.
2. Memberikan kesempatan kepada pasien
untuk berkenalan dengan dua orang
atau lebih.
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
3. PEMBAHASAN
a. Kesesuaian Antara Kasus dengan Teori
Pasien dalam laporan ini merupakan pasien dengan masalah
keperawatan jiwa isolasi sosial. Tanda gejala yang muncul pada pasien
diantaranya, pasien mengatakan jarang keluar rumah karena malas
bertemu dengan orang lain. Saat di RSJS pasien banyak menyendiri
dan melamun di kamar.Saat diajak mengobrol, pasien sering menolak
karena malas.Pasien jarang memulai pembicaraan dan mudah
bosan.Pasien tidak mampu memulai pembicaraan, sering menunduk,
kontak mata tidak fokus dan mudah beralih.Pasien terlihat lesu, kurang
aktivitas, aktivitas diarahkan, gerakan lambat, tidak mau duduk di
kursi, sering tertidur di lantai.Miskin Ide.Pasien sulit untuk
mengungkapkan pendapat.
Tanda dan gejala yang muncul tersebut merupakan data subjektif
dan objektif yang mendukung adanya gangguan isolasi sosial pada
pasien kelolaan kami tersebut, Ny. N.
b. Kekuatan atau Kemudahan Bagi Perawat
Beberapa hal yang menjadi kemudahan bagi perawat selama
melakukan asuhan keperawatan pada Ny. N diantaranya yaitu :Pasien
dapat mengikuti arahan perawat dengan penjelasan singkat.

30

c. Kelemahan atau Kesulitan Bagi Perawat


Ada beberapa hal yang menjadi kesulitan bagi perawat dalam
melakukan perawatan pasien Ny. N, diantaranya :
1) Menjalin bina hubungan sosial dengan pasien karena pasien lebih
suka menyendiri dan perlu dimotivasi agar pasien mau melakukan
interaksi.
2) Saat interaksi, mempertahankan konsentrasi pasien karena pasien
mudah bosan dan cenderung enggan melakukan interaksi.
3) Saat latihan berinteraksi, pasien masih sulit untuk memulai
pembicaran yang mendalam sehingga pembicaraan hanya seputar
data umum seperti, nama, alamat, dan hobi.

4. IMPLIKASI KEPERAWATAN
a. Kesimpulan
1) Menarik diri merupakan keadaan seorang individu yang
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Klien mungkin
merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dengan orang lain.
2) Faktor presipitasi dan predisposisi isolasi sosial diantaranya yaitu
Pattern of Parenting (Pola Asuh Keluarga), Ineffective
Coping(Koping Tidak Efektif), Lack of Development
Task(Kegagalan Tugas Perkembangan), Stressor Internal and
External(Stressor dari dalam dan luar).
3) Fokus Intervensi pada pasien Isolasi Sosial yaitu : klien dapat
membina hubungan saling percaya, klien mampu menyebutkan
penyebab menarik diri, klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain, klien dapat melaksanakan hubungan social
secara bertahap, klien mampu mengungkapan perasaanya setelah
berhubungan dengan orang lain, klien dapat dukungan keluarga
dalam memperluas hubungan dengan orang lain dan lingkungan,
klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
4) Pasien dengan masalah keperawatan isolasi sosial akan mengalami
masalah pada hubungan sosial.

31

5) Implementasi pasien dengan masalah keperawatan isolasi sosial


haruslah dilakukan secara berurutan agar mencapai tujuan dengan
maksimal.
b. Saran atau Rekomendasi
1) Saat melakukan interaksi pada pasien dengan isolasi sosial,
seorang perawat sebaiknya lebih memperhatikan konsep
komunikasi therapeutik utamanya adalah touching, broad opening
untuk mempertahankan konsentrasi pasien serta melatih pasien
berbicara.

5. DAFTAR PUSTAKA
Keliat & Akemat dalam NiaRizki Wahyu Ningrum. 2015. Asuhan
Keperawatan Pada Ny. M Dengan Isolasi Sosial Menarik Diri
Di Ruang Sumbodro Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
Karya Ilmiah Tulis Diploma III Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta
NANDA.2012. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20122014.Cetakan 2012.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

32