Anda di halaman 1dari 25

A.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan istilah umum untuk
sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok
dan interaksi antarsiswa.[1] Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga
tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan
pengembangan keterampilan sosial.[2]
Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky (1978, 1986) yang menekankan
pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung
perkembangan kognitif.[3] Selain itu, metode ini juga didukung oleh teori
belajar information processing dan cognitive theory of learning.[4] Dalam pelaksanaannya
metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh,
karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam Pembelajaran
Kooperatif. Pembelajaran dengan metode Pembelajaran Kooperatif dilandasakan pada
teori Cognitive karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran.
Metode pembelajaran kooperatif learning mempunyai manfaat-manfaat yang positif
apabila diterapkan di ruang kelas. Beberapa keuntungannya antara lain: mengajarkan
siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfikir, mencari informasi dari
sumber lain dan belajar dari siswa lain; mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya
secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya; dan membantu siswa belajar
menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini. [5]
Ironisnya, model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan
walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan
bermasyarakat.[6]
Rujukan[sunting | sunting sumber]
1.

^ Jacobsen, David A.; Eggen, Paul; Kauchak, Donald (2009). Metode-metode


pengajaran. Penerbit Pustaka Pelajar.

2.

^ Tujuan pembelajaran kooperatif

3.

^ Eggen, Paul; Kauchak, Donald (2010). Educational Psychology. Pearson


Education, Inc.,.

4.

^ Gunter, Mary A; Estes, Thomas H. Mintz, Susan L. (2007). Instruction: A


Model Approach. Pearson Education, Inc.,.

5.

^ >Yamin, Martinis; Ansari, Bansu (2008). Taktik Mengembangkan


Kemampuan Individual Siswa. Gaung Persada Press.

6.

^ Lie, Anita (2002). Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative


Learning di ruang-ruang kelas. PT Grasind

B. Metode dan Strategi Pembelajaran di Sekolah

Metode dan Strategi Pembelajaran di Sekolah


Berdasarkan penglihatan dan pengalaman penulis, diperoleh data bahwa belum semua
guru atau calon guru memahami, menguasai, dan terampil dalam memilih, menetapkan,
dan menggunakan metode

mengajar yang

tepat

dengan

pelaksanaannya yang

benar. Selain itu, ada pula guru yang sudah secara rutin hanya menggunakan satu
metode mengajar untuk menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya. Gejala
semacam itu bukan karena disebabkan guru tersebut tidak mengetahuinya, melainkan
karena

langkanya

buku-buku yang

memberikan

pengajaran, khususnya

petunjuk

di

bidang

metode

metodologi
mengaja

Penulis sadar bahwa, metode mengajar yang paling dikenal dan dikuasai adalah metode
ceramah

dan

metode

tanya

jawab. Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka untuk mendukung
usaha pemerintah untuk memeratakan pendidikan, dalam hal ini memasyarakatkan
pengetahuan, kecakapan,

dan

keterampilan

dalam

penggunaan

metode-

metode mengajar yang tepat bagi guru, penulis menyampaikan metode dan strategi
mengajardi sekolah. Dengan adanya artikel ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi para
guru

dalam

melaksanakan

tugas

mengajarnya

dan

sebagai

perwujudan

untuk

memasyarakatkan pengetahuan mengenai metode mengajar dapat tercapai.


Pemerintah pun diharapkan, dalam hal ini departemen pendidikan nasional menetapkan
kurikulum

baru

dengan

satuan pelajarannya bagi kegiatan proses belajar-mengajar yang lebih baik.


Ada

beberapa metode

dan

strategi

pembelajaran yang

dalam PanduanGuru.com ini, antara lain sebagai berikut.


Metode dan Strategi Pembelajaran Konvensional
1.

Metode Ceramah

2.

Metode Demonstrasi

3.

Metode Eksperimen

4.

Metode Tugas

5.

Metode Proyek

Metode dan Strategi Pembelajaran Modern

penulis

sampaikan

1.

Metode Karyawisata

2.

Metode Berkemah

3.

Metode Mengajar Beregu (Team Teaching Method)

Silakan klik link tersebut diatas untuk mengetahui lebih jelas pemaparan dari
berbagai metode dan strategi pembelajaran di sekolah.
Semoga artikel berjudul Metode dan Strateggi Pembelajaran di Sekolah dapat bermanfaat
bagi rekan-rekan guru untuk kepentingan pembelajaran.
Tags: macam-macam metode pembelajaran, metode belajar, Metode dan Strategi
Pembelajaran di Sekolah,metode-metode pembelajaran, Strategi Pembelajaran di Sekolah

1. Jenis Metode Pembelajaran | Metode Ceramah


Metode ceramah adalah metode yang paling sering kita jumpai di sekolah-sekolah. Pada
metode

ini

guru

memberikan

penjelasan

secara lisan

kepada

muridnya.

Murid

mendengarkan apa yang ijelaskan oleh gurunya dan membuat catatan kecil yang
dianggap penting. Pada umumnya murid bersifat pasif, yaitu hanya menerima semua
yang dijelaskan oleh guru. Guru menggunakan alat pendukung alam kegiatan belajarmengajarnya,yaitu papan tulis, kapur/spidol, gambar-gambar, dan sebagainya. Metode ini
mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:

dapat diberikan kepada jumlah murid yang banyak;

dapat menyelesaikan suatu mata pelajaran dengan cepat.


Metode ceramah juga memiliki kekurangan, antara lain:

murid sering kali tidak aktif dalam proses belajar-mengajar sehingga materi yang
diterima menjadi kurang efektif. Metode ini sudah tidak sesuai dengan tuntutan dari
tujuan pendidikan saat ini yang mengharuskan siswa lebih aktif dan berani dalam
menyampaikan sesuatu.

metode ini sering menimbulkan kebosanan terhadap para siswa,


Metode ceramah masih digunakan, apabila guru hendak menjelaskan hal-hal yang
bersifat teoretis, misalnya untuk menjelaskan tentang hubungan antara tekanan dan
volume sejumlah gas dengan mempergunakan teori molekuler, atau menjelaskan teori
evolusi, pengertian tentang valensi, dan lain sebagainya.
Metode ceramah juga digunakan untuk merangkum suatu kesimpulan yang diperoleh dari
suatu percobaan, mengulang suatu pelajaran yang telah lalu secara cepat, memberikan 8
Metode dan Strategi Pembelajaran di Sekolah penjelasan-penjelasan yang diperlukan
sebelum melakukan suatu percobaan atau demonstrasi, mengungkapkan suatu sejarah
penemuan biografiilmuwan dan lain sebagainya.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Ceramah

Agar siswa berperan aktif dalam proses belajar-mengajar, metode ini biasanya diselingi
dengan tanya jawab atau diskusi sehingga para siswa ikut serta dalam proses
pengembangan pengertian baru itu. Biarkan siswa untuk menyelesaikan masalahnya dan
guru hanya pembimbing saja. Apabila siswa tidak dapat menyelesaikannya, barulah guru
ikut serta dalam menyelesaikan masalah siswanya.
Suatu kebiasaan yang sering kita jumpai adalah guru terlalu banyak memberikan
informasi dan sedikit sekali memberikan kesempatan kepada murid untuk menyelesaikan
atau menemukan sendiri masalahnya. Akan lebih baik jika siswa diberi lebih banyak
kesempatan untuk menemukan informasi dan menyelesaikan suatu masalah, tentunya
dengan bimbingan dan arahan dari guru. Cara ini lebih efektif untuk proses pembelajaran
bagi siswa dibandingkan dengan cara menghafal dari buku dan penjelasan gurunya.
Untuk Jenis Metode Pembelajaran selengkapnya, silakan klik di sini.

2. Jenis Metode Pembelajaran | Metode Demonstrasi


Metode Demonstrasi adalah suatu proses atau kejadian yang diperagakan oleh guru
kepada siswa atau memperlihatkan cara kerja suatu alat kepada siswa. Metode ini tidak
hanya digunakan untuk dilihat saja, tetapi digunakan untuk mengembangkan suatu
pengertian, mengemukakan suatu masalah, memperlihatkan penggunaan suatu prinsip,
menguji kebenaran suatu hukum yang diperoleh secara teoritis dan untuk memperkuat
suatu pengertian (re-inforcement).
Metode ini dilakukan oleh seorang guru. Akan lebih baik jika siswa ikut berperan aktif
dalam demonstrasi yang sedang berlangsung. Keefektifan belajar dengan melakukan dan
mencoba sendiri telah diakui orang sejak zaman dahulu.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Demonstrasi


Terbatasnya waktu sekolah dan kemampuan masing-masing siswa berbeda, tidak semua
siswa dapat melakukannya sendiri. Oleh karena itu, maka Metode Demonstrasi masih
merupakan metode utama dalam proses belajar-mengajar. Metode Demonstrasi biasanya
dilakukan oleh guru dalam hal berikut ini.

Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat yang rumit sehingga sulit bagi siswa
menggunakannya, memanipulasinya atau karena memakan waktu yang terlampau lama.

Alat yang digunakan mudah rusak.

Alat yang akan digunakan jumlahnya lebih sedikit di-bandingkan jumlah siswanya.

Percobaan yang akan dilakukan itu memerlukan ketelitian yang cukup tinggi.

Ingin mengulangi prinsip-prinsip yang sudah diajarkan secara cepat.

Mengembangkan suatu pengertian yang berhubungan dan serangkaian percobaan


yang terkait satu sama lainnya.Percobaan yang tidak dapat atau sukar untuk dipisahpisahkan.
Demonstrasi tidak selalu harus dilakukan oleh guru. Siswa juga perlu melakukannya
sendiri, terutama percobaan yang mudah dan tidak memerlukan suatu keterampilan
yang tinggi dan khusus. Kegiatan ini sebaiknya harus dalam pengawasan guru yang
bersangkutan.
Metode ini juga dapat dilakukan secara bergantian antar siswa. Terutama, bila dalam
percobaan itu ada data-data yang harus diamati atau ada pengukuran-pengukuran yang
harus dilakukan. Guru menuliskan hasil pegamatan itu di papan tulis, dan siswa dapat
mengambil satu kesimpulan dari hasil pengamatan tadi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru sebelum dan pada saat
akan mengadakan demonstrasi.Demonstrasi itu harus dicoba terlebih dulu sebelum
dilakukan di depan kelas.
Jangan terlalu percaya kepada percobaan-percobaan demonstrasi yang dituliskan dalam
buku. Sering percobaan yang ditulis tidak sesuai dengan apa yang dihasilkan apabila kita
melakukannya sendiri. Oleh sebab itu, guru perlu sekali untuk mencoba lebih dulu
sebelum mendemonstrasikannya di depan kelas.
Selain itu, mencoba terlebih dulu memberikan kesempatan bagi guru untuk mengecek
perlengkapan dan waktu yang diperlukan. Guru harus dapat membuat para siswanya
nyaman sehingga pada saat dilakukan percobaan siswa dapat memahami proses
percobaan dan cara menyusun data.
Tujuan demonstrasi yang akan dilakukan itu hendaknya dipahami oleh guru yang
bersangkutan. Seorang guru harus mengerti betul, tujuan yang ingin dicapainya dalam
pelaksanaan demonstrasi tersebut. Tidak akan ada manfaatnya suatu demonstrasi
dilakukan jika gurunya tidak mempunyai tujuan yang jelas. Untuk itu, seorang guru perlu
mempertimbangkan dan persiapan yang matang sebelum melakukan demonstrasi di
depan kelas.
Demonstrasi dilakukan di suatu tempat yang mudah dilihat oleh semua siswa. Tempat
untuk mengadakan demonstrasi juga patut diperhatikan. Tempatnya dapat menampung
semua siswa, dengan sirkulasi udara yang cukup, jika dilakukan di dalam ruangan.
Tempat demonstrasi pun dapat dilihat oleh semua siswa. Hal ini cukup penting, agar
siswa dapat dengan jelas mengetahui bagaimana proses berjalannya suatu demonstrasi
dan memahami apa yang didemonstrasikan di depan.
Alat peraga yang digunakan dibuat lebih menarik .Alat peraga yang digunakan dibuat
lebih unik dan menarik agar siswa lebih tertarik untuk memperhatikan penjelasan guru
dalam demonstrasi tersebut. Tetapi alat peraga yang digunakan juga jangan sampai
membuat siswa hanya memperhatikan alat peraganya saja sehingga tidak fokus
terhadap penjelasan gurunya. Alat peraga dibuat dan digunakan untuk memberikan
penjelasan terhadap siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami apa yang
disampaikan guru melalui alat peraga tersebut.
Tercapainya tujuanDengan melakukan tahapan yang telah dijelaskan sebelumnya,
diharapkan tujuan yang dibuat oleh guru akan tercapai. Sebuah demonstrasi harus
memiliki daya tarik yang cukup baik agar siswa lebih tertarik dan bisa dimengerti.
Demonstrasi yang baik adalah demostrasi yang dapat menambah pengetahuan,
membuat siswa lebih kritis sehingga timbul minat siswa terhadap hal yang sedang
didemokan oleh gurunya. Diharapkan sebuah demonstrasi bukan hanya menjadi
tontonan

bagi

siswa

dengan

mengabaikan

prinsip

keilmiahannya,

tetapi

dapat

menangkap maksud dan tujuan yang ingin disampaikan guru melalui demo tersebut.

3. Metode Pembelajaran | Metode Eksperimen

Eksperimen ialah suatu pekerjaan yang menggunakan alat pengajaran dengan tujuan
untuk mengetahui sesuatu yang baru (setidak-tidaknya bagi siswa itu sendiri, meskipun
tidak baru bagi orang lain), atau untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya
sesuatu. Metode ini mulai digunakan oleh sekolah-sekolah yang berstandar internasional.
Setiap anak mendapatkan satu set alat percobaan dan diberi petunjuk bagaimana cara
pemakaiannya.
Setiap siswa melakukan ekperimen yang ditugaskan oleh gurunya yang telah dijelaskan
sebelumnya mengenai pengertian, tujuan, dan bagaimana cara melakukan eksperimen
tersebut. Metode ini mengajak siswa lebih aktif karena siswa dituntut untuk mengerjakan
sendiri eksperimennya. Diharapkan siswa lebih memahami dari proses persiapan sampai
akhir dari ekperimennya.
Ketika semua siswa sudah selesai dengan eksperimennya masing-masing, lantas tidak
berakhir

begitu

saja.

Setiap

siswa

harus

mempertanggungjawabkan

hasil

yang

diperolehnya kepada guru dan siswa yang lain dengan cara berdiskusi, yang dipimpin
oleh guru. Dari hasil diskusi tersebut akan diambil satu kesimpulan. Kesimpulan dapat
diambil oleh siswa sendiri maupun oleh guru yang bersangkutan.

Metode Pembelajaran | Metode Eksperimen


Ekperimen tidak hanya dilakukan secara idividu, metode ini juga dapat dilakukan secara
berkelompok. Eksperimen yang dilakukan secara berkelompok biasanya eksperimen yang
memerlukan kerja sama antar anggota kelompok. Hal ini juga baik untuk siswa dapat
bekerja sama dan saling membantu dan dapat memupuk rasa solidaritas dengan siswa
lain.Selain eksperimen, kita juga mengenal istilah praktikum (practical work). Praktikum
adalah melakukan pekerjaan atau kegiatan dengan mempergunakan alat untuk
mengetahui sesuatu. Tetapi pratikum lebih bersifat sebagai ajang latihan siswa sebelum
masuk pada tahap eksperimen.
Baik eksperimen maupun praktikum memegang peranan yang penting dalam pendidikan
karena keduanya dapat memberikan latihan metode ilmiah kepada siswa.
Eksperimen yang diberikan kepada siswa sebaiknya eksperimen yang bersifat open
ended experiment, yaitu suatu eksperimen yang hasilnya tidak dapat langsung
ditemukan di dalam buku atau bahkan menebak hasilnya. Hasilnya hanya dapat
diperoleh dari eksperimen itu sendiri.

Ini adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melatih siswa menggunakan
metode ilmiah (scientific method) dan sikap ilmiah (scientific attitude). Siswa juga dilatih
untuk membaca suatu data secara objektif apa adanya, dapat mengambil kesimpulan
berdasarkan fakta-fakta yang ada.

4. Jenis Metode Pembelajaran | Metode Tugas


Metode tugas seperti ini telah dicoba digunakan di salah satu sekolah menengah di
Jepang untuk mata pelajaran fisika. Untuk itu murid diberikan tugas tertentu dan diberi
keleluasaan untuk bekerja sendiri di dalam laboratorium untuk melakukan percobaanpercobaan yang berhubungan dengan tugas yang harus dilakukannya. Guru membantu
siswa secara individual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kurang dimengerti
siswanya.
Kesulitan metode ini adalah diperlukan banyak alat pendukung, karena kemungkinan
siswa melakukan percobaan yang sama bisa saja terjadi. Kesulitan lain adalah diperlukan
suatu disiplin yang tinggi kepada siswa karena sering terjadi sasaran yang dituju tidak
tercapai pada waktunya.
Di samping itu, guru harus selalu siap memberikan tugas kepada siswa yang telah dibuat
sebelumnya. Tugas-tugas itu dikerjakan oleh siswa di sekolah pada jam pelajarannya.
Selain memberikan tugas di sekolah, guru juga memberikan tugas untuk dikerjakan di
rumah.
Guru yang seperti ini, tidak mengajar secara konvensional, melainkan memberikan
bimbingan dan arahan kepada siswa yang memerlukan, tanpa mengganggu pekerjaan
siswa lainnya.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Tugas


Di

bawah

ini

adalah

beberapa

keuntungan

dari

cara

belajar

dengan

menggunakan metode tugas jika dibandingkan dengan cara mengajar yang konvensional.

Cara mengajar konvensional biasanya cenderung untuk menyesuaikan cara dan


kecepatan mengajar terhadap mayoritas siswa dalam kelas itu. Kecepatan jalan pelajaran
menjadi terlalu cepat bagi kelompok yang kurang dan menjadi terlalu lamban bagi yang
cerdas. Dengan metode tugas ini siswa dapat bekerja menurut kemampuannya sendiri.
Setiap siswa atau kelompok diberikan porsi yang berbeda-beda bergantung kepada
kemampuan dan tingkat kecerdasannya;

Siswa

mendapat

banyak

latihan

untuk

dikerjakan

sendiri.

Siswa

dilatih

menggunakan buku sebagai sumber untuk belajarnya dan dibiasakan membuat catatancatatan kecil dari buku tersebut. Biasanya buku yang mereka jadikan sumber tidak hanya
dari satu buku, melainkan dari beberapa buku;

Siswa ditugaskan belajar secara berkelompok, yang terdiri dari dua atau tiga
orang, maka kesempatan ini merupakan latihan bagi para siswa untuk belajar dalam satu
kelompok untuk memecahkan suatu masalah. Hal ini juga berguna bagi siswa agar
mampu bersosialisasi dan mempererat rasa persaudaraan; dan

Guru dapat berhadapan dengan murid sebagai pribadi dengan pribadi, tidak
sebagai guru dengan kelas secara keseluruhan, dengan demikian guru akan mengenal
anak-anak didiknya lebih dekat.

Jenis Metode Pembelajaran |Metode Proyek


Dian Sukmawati Jun 17th, 2013 0 Comment
Metode proyek dipergunakan untuk menyalurkan minat siswa yang berbeda-beda. Baik
berhubungan langsung dengan pelajaran di sekolah, atau hal yang menyangkut
penggunaan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sekelompok anak yang tertarik dengan teknik radio dapat memilih proyek
pembuatan sebuah pesawat penerima sederhana. Sekelompok anak yang tertarik dengan
cara-cara penetasan telur secara listrik dapat memilih proyek pembuatan alat penetas
dan sebagainya.

Jenis Metode Pembelajaran |Metode Proyek


Proyek yang dipilih oleh siswa terkadang bukan merupakan bidang yang dikuasai oleh
gurunya. Guru harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Guru yang
menghadapi masalah seperti ini, tidak usah merasa berkecil hati. Sebagai guru yang
menangani proyek yang bukan keahliannya, guru dapat membaca buku-buku reverensi
yang dipilih oleh anak-anak. Sebagai guru anda tidak usah malu untuk mengakui bahwa
anda tidak banyak mengetahui tentang masalah tersebut.
Suatu proyek hendaknya mempunyai perencanaan yang baik. Mulai dari langkah
kerjanya, maupun mengenai jangka waktu dari masing-masing langkah kerja dan dari
seluruh proyek. Guru harus mengusahakan agar disiplin dalam menepati rencana dapat
dilakukan setepat mungkin.
Metode proyek bukan merupakan metode utama dalam proses belajar-mengajar di
sekolah. Metode ini pada kondisi tertentu dapat digunakan untuk mengintegrasikan
pengetahuan mengenai pelajaran dengan masalah-masalah dalam masyarakat, untuk
menimbulkan minat terhadap suatu bidang studi, dan melatih siswa untuk bekerjasama
dalam bidang tertentu dalam satu organisasi.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Karyawisata Part 1


Dian Sukmawati Jun 18th, 2013 0 Comment
Metode Karyawisata ini pada dasarnya digunakan karena objeknya tidak dapat dibawa ke
dalam kelas. Kalaupun objeknya dibawa ke dalam kelas, keasliannya tidak dapat diamati
lagi atau mengalami perubahan dan tidak akan memberikan gambaran, pengetahuan
dan pengertian yang sebenarnya mengenai objek yang akan diajarkan kepada siswa.
Perlu

diketahui,

walaupun

namanya metode

karyawisata bukan

berarti

tidak

menggunakan metode pengajaran yang lain seperti, metode ceramah, tanya jawab,
diskusi, demonstrasi dan lain-lainnya. Metode karyawisata mencakup semua metode.
Dengan demikian, mengajar dengan metode karyawisata sebenarnya hanyalah penyajian
bahan pelajaran yang dilakukan dengan cara para siswa dan guru pergi dari kelas ke
tempat objek yang akan dipelajari itu berada.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Karyawisata Part 1


Definisi Metode Karyawisata
Metode karyawisata adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan membawa
siswa langsung pada objek yang akan dipelajari dan objek itu terdapat di luar kelas. Kata
karyawisata berasal dari kata karyayang artinya kerja dan wisata berarti pergi. Dengan
demikian, karyawisata berarti pergi bekerja atau bepergian ke suatu tempat untuk
bekerja.
Hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, penger-tian karyawisata adalah para
siswa akan mempelajari suatu objek di luar kelas. Dengan demikian, apa yang disebut
dengan karyawisata sebenarnya ialah mempelajari sesuatu.
Metode karyawisata sering pula disebut dengan nama field trip method(metode study
touratau metode study trip) yang sudah lazim disebut widya wisata (widya=ilmu).
Sebenarnya, apapun nama yang diberikan pada metode ini yang penting adalah isi
pengertian yang diberikan pada metode dengan nama seperti karyawisata ini.
Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa kegiatan belajar-mengajar dilakukan di
luar kelas.

Objeknya terlalu besar;

Objeknya akan mengalami perubahan atau kerusakan jika dipindahkan dari


tempatnya;

Objeknya terlampau berat;

Objeknya berbahaya jika dibawa ke kelas; dan

Objeknya hanya terdapat disatu tempat tertentu.


Di

bawah

ini

merupakan

langkah-langkah

yang

harus

ditempuh

dalam

pelaksanaan metode karyawisata.


1. Persiapan atau Perencanaan
Sebelum karyawisata dilakukan, guru harus membuat persiapan atau perencanaan yang
matang agar waktu yang dipakai selama karyawisata digunakan dengan sebaik-baiknya.
Persiapan atau perencanaan itu meliputi faktor-faktor sebagai berikut.

Menetapkan tujuan penggunaan metode ini;

Penentuan metode pembelajaran harus dipilih berdasarkan kebutuhan siswa ketika


melakukan karyawisata.

Penentuan objek karyawisata.

Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di awal, perlu dipertimbangkan juga


dengan kurikulum yang ada. Apabila, bahan pelajaran itu tidak tercantum dalam
kurikulum dan guru berpendapat bahwa siswa harus mengetahui objek yang ada itu
maka dapat digunakan pertimbangan dari segi didaktik, yaitu prinsip lingkungan.
Misalnya, disaat siswa harus mengenal alam lingkungannya dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, alasan pertimbangan dan penetapan objek yang dipilih guru
berdasarkan berikut ini.

Kepentingan kurikulum/rencana pelajaran dalam setahun;

Kepentingan

siswa

didik

untuk

menambah

pengalaman

dan

memperluas

pengetahuan;

Kepentingan objeknya;

Kepentingan guru sendiri. Mungkin saja selama ini guru bersangkutan belum
pernah melihat objek itu secara langsung dan dengan demikian untuk memperkaya
pengetahuan dan pengalaman guru, alangkah baiknya jika pergi bersama siswa didik
berkaryawisata;

Kepentingan didaktis yaitu kepentingan berdasarkan ilmu mengajar. Seperti kita


ketahui, menurut prinsip-prinsip didaktik, mengajar harus memperhatikan prinsip
peragaan dan lingkungan untuk menghindari timbulnya verbalisme (mengetahui kata
tetapi tidak memahami isi pengertian kata tersebut). Untuk itu metode karya wisata
merupakan metode yang tepat;

Penetapan waktu karyawisata; dan Untuk menetapkan berapa lama waktu yang
akan digunakan dalam karyawisata, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.
A.

Banyak atau sedikitnya bahan yang harus diteliti pada objek yang akan
dikunjungi;

B.

Mudah atau sulitnya bahan yang harus diteliti pada objek tersebut; dan

C.

Banyaknya waktu yang dapat diambil dari mata pelajaran lainnya tanpa
menghambat kemajuan mata-mata pelajaran tersebut dalam keseluruhan rencana
pelajaran.

Penetapan teknik-teknik untuk mempelajari objek.Sebelum karyawisata dilakukan,


guru dengan siswa didik perlu menetapkan teknik- teknik yang umumnya dipergunakan
adalah:

Observasi
Meneliti atau mempelajari sesuatu objek melalui observasi merupakan tahapan yang
paling penting dalam keseluruhan proses belajar selama karyawisata dilakukan. Teknik
observasi merupakan cara pemahaman yang paling alamiah (wajar) dalam usaha
memperoleh informasi mengenai objek-objek dan kejadian-kejadian kehidupan yang
nyata.
Kegiatan ini lebih penting karena bersifat dasar merupakan landasan) dibandingkan
dengan kegiatan mempelajari sesuatu dengan teknik membaca. Memang, sangatlah
disayangkan bahwa dengan teknik observasi, yang menggunakan ber-bagai indera telah
kurang diperhatikan dalam kehidupan di lingkungan sekolah, terutama selama kegiatan
belajar mengajar dilakukan.
Terlebih lagi observasi secara langsung terhadap objek-objek yang akan diteliti atau
dipelajari telah semakin berkurang digunakan di sekolah-sekolah.
Observasi merupakan proses pengamatan yang dilakukan dengan indera kita baik
pendengaran, penglihatan, perasaan, dan penciuman. Walaupun observasi itu bersifat
alamiah, namun teknik ini hanya akan berhasil jika guru dapat membimbing dan
mengajarkannya untuk mengamati dengan baik. Observasi langsung tidak boleh hanya
dibatasi pada hal-hal tertentu saja, atau yang hanya menggunakan mata saja tanpa alat
bantu.
Memberitahu dan memberikan petunjuk mengenai apa yang harus diobservasi dan
bagaimana cara mengobservasinya, sangat perlu disampaikan kepada siswa didik
mengingat bahwa setiap siswa didik akan berbeda selera dan pusat perhatiannya. Hal itu
dapat kita coba sendiri dengan misalnya me-ngajak siswa untuk berjalan-jalan melalui
sederetan toko-toko. Sepulang dari berjalan-jalan itu tanyakanlah apa saja yang telah
mereka lihat di etalase toko-toko tersebut.
Kita dapat menemukan bahwa setiap anak tertarik pada objek-objek tertentu sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa ada yang melihat suatu objek tertentu dan ada juga
yang tidak melihatnya walaupun letak objek itu sangat mencolok di etalase toko itu.
Mengingat bahwa metode karyawisata akan banyak menggunakan alat indera, maka
sebelum karyawisata dilakukan guru harus memberikan petunjuk, pengarahan dan
bimbingan mengenai apa yang yang harus diamati, bagaimana caranya, dan mengapa
harus diamati.

Bagi siswa, melakukan observasi bernilai sebagai suatu alat untuk memperoleh informasi,
mengumpulkan data dan memperoleh ide yang tepat (gambaran yang jelas) mengenai
benda-benda atau kejadian.
Bagi guru, teknik observasi merupakan alat untuk melatih siswa, memberi kesempatan
pada siswa untuk belajar mengumpulkan data, mengamati benda dalam situasi yang
sebenarnya, menambah kekayaan pengalaman siswa dan akhirnya mengembangkan
suatu keterampilan dan kecermatan dalam mengamati objek, yang sangat diperlukan
siswa bagi kehidupannya.
Wawancara (interview)
Pada pelaksanaan observasi, sering pula harus dilengkapi dengan teknik pengumpulan
data dan informasi berupa wawancara atau tanya jawab. Mengamati sesuatu sering tidak
cukup memberikan kejelasan yang cukup memuaskan bagi si pengamat sendiri.
Ketidakjelasan itu mungkin disebabkan karena objeknya terlalu asing, menerangkannya
terlalu cepat, dan nama-nama istilah yang tidak bisa dipahami.Guru harus menanamkan
rasa keberanian siswa untuk bertanya kepada orang lain. Hal ini merupakan modal bagi
siswa, karena dalam metode wawancara pasti melakukan tanya jawab.Tujuan dari
wawancara sendiri adalah untuk memeroleh informasi yang akurat dari tangan pertama
dan ahli dibidangnya.
Diskusi
Sebagai penyempurna dari penggunaan teknik pengumpulan data berupa observasi dan
tanya jawab, dapat digunakan teknik diskusi. Melalui diskusi, siswa dapat bertanya
kepada ahlinya untuk mendapatkan dan bertukar informasi.

Membentuk sebuah kepanitian yang nantinya akan mengurus semua persiapan


yang diperlukan dalam melakukan perjalanan karyawisata;

Banyaknya siswa yang akan mengikuti karyawisata;

Jumlah peserta karyawisata pun harus diperhatikan karena akan menyangkut


jumlah kendaraan yang akan dipakai, keamanan, ketertiban dan kenyamanan untuk
peserta sendiri ketika melakukan karyawisata, serta daya tampung tempat yang akan
dikunjungi.

Persiapan perlengkapan keperluan belajar;

Perlengkapan keperluan karyawisata harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya


agar belajar dengan menggunakan metode ini betul-betul berhasil. Perlengkapan yang
harus dipersiapkan untuk dibawa ialah:

Buku catatan dan semua alat tulis seperti ballpoint, pensil, dan perlengkapan
menggambar;

Buku-buku pelajaran yang berisi keterangan atau pelajaran atau gambar-gambar


yang akan dicocokkan kebenarannya dengan objek yang sebenarnya;

Perlengkapan atau alat-alat untuk mengabadikan hal-hal yang diobservasi,


misalnya kamera dan tape recorder.Guru memeroleh dokumentasi yang otentik (asli) dan
teliti mengenai objek yang telah diselidiki; dan

Memerhatikan cara menyusun atau membuat laporan karyawisata.

Siswa-siswa pada umumnya belum dapat atau bahkan belum mengetahui cara-cara
menyusun laporan suatu observasi. Cara-cara atau teknik menyusun laporan harus
diajarkan guru agar siswa-siswa tidak menulis secara serampangan apa yang diamatinya.
Misalnya, jika siswa akan dibawa berkaryawisata ke suatu peternakan ayam ras, maka
bentuk laporan observasi harus memuat antara lain hal-hal sebagai berikut:

Syarat-syarat administratif;
Hal ini berhubungan dengan semua ketentuan surat perizinan yang harus dipersiapkan
guru sebelum kegiatan dilakukan. Untuk memenuhi tatatertib dan sopan santun
kunjungan suatu sekolah, dalam hal ini guru yang akan memimpin karyawisata, harus
memberitahukan terlebih dahulu maksud kunjungannya kepada kepala sekolah dan
pejabat dari tempat yang akan dikunjungi.
Hal itu harus diperhatikan agar jalannya karyawisata dapat berjalan lancar dan
memeroleh bantuan sepenuhnya dari pejabat-pejabat pemerintah maupun swasta
tempat karyawisata itu akan dilakukan.

Keadaan iklim, musim, dan cuaca;dan


Suatu faktor yang tidak boleh dilupakan dalam mempersiapkan dan merencanakan
karyawisata ialah keadaan iklim musim dan cuaca. Sebaiknya metode ini digunakan pada
musim kemarau di saat tidak ada atau tidak banyak curah hujan.

Menjelaskan secara garis besar keadaan objek yang akan dikunjungi kepada siswasiswa.

Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan ialah suatu tahapan yang disaat semua acara yang telah disiapkan
dan diatur seperti yang sebelumnya dilaksanakan. Langkah-langkah yang dilakukan pada
objek metode ini adalah:

pertemuan dengan pimpinan atau kepala pengurus objek yang kita kunjungi;

para siswa diatur untuk melakukan penelitiannya sesuai dengan apa yang telah
ditetapkan oleh pimpinan objek tersebut;

siswa berperan aktif selama peninjauan dan pengamatan objek kepada petugas
untuk mendapatkan informasi melalui tanya jawab; dan

akhirnya, setelah semua kegiatan selesai, tidak lupa untuk mengucapkan terima
kasih kepada pimpinan objek tersebut.
Tahap Penyelesaian
Tahap penyeselesaian ini sering pula disebut tahap tindak lanjut, yaitu suatu tahap
setelah siswa kembali ke sekolah. Di kelas kemudian diadakan lagi diskusi atau

pertukaran data dan informasi untuk saling melengkapi. Setelah data dan informasi
terkumpul dengan lengkap, maka disusunlah sebuah laporan.

Jenis Metode Pembelajaran | Medote Berkemah


Dian Sukmawati Jun 18th, 2013 0 Comment
Seperti halnya dengan metode sebelumnya, metode berkemah ini adalah metode yang
dilakukan di luar kelas. Berkemah bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada
siswa, belajar di alam terbuka dan menghayati kehidupan di alam.
Siswa-siswa menghayati lingkungan alamiah yang asli, dalam jangka waktu yang cukup
lama,

baik

di

waktu

siang

maupun

malam

hari.

Berbeda

dengan

metode

karyawisata, metode berkemah ini menggunakan waktu lebih lama sehingga siswa-siswa
bersama gurunya bermalam di tempat objek-objek yang akan dipelajari atau diobservasi.

Jenis Metode Pembelajaran | Medote Berkemah


Definisi Metode Berkemah
Metode berkemah adalah metode belajar-mengajar yang menggunakan alam terbuka
sebagai ruang belajar dan memanfaatkan alam sebagai bahan untuk melakukan kegiatan
belajar.
Alasan-alasan penggunaan metode berkemah pada umumnya adalah disebabkan faktorfaktor sebagai berikut:

memenuhi persyaratan atau keperluan suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya


pada ilmu bumi mengenai bintang-bintang di langit, siswa-siswa harus mengetahui apa
yang disebut bintang weluku, bintang salib selatan, bintang venus dan rasi-rasi
perbintangan lainnya;

objek-objek yang akan diteliti terlalu banyak dan memerlukan waktu yang agak
lama sehingga harus bermalam;

pemahaman kehidupan dan kebudayaan penduduk di tempat itu hanya mungkin


dipahami jika siswa-siswa berada agak lama di tempat tersebut;

tempat yang akan dikunjungi terlampau jauh sehingga terpaksa harus bermalam;

memanfaatkan waktu liburan bagi kepentingan pendidikan khususnya untuk


menambah dan menyempurnakan bahan-bahan pengetahuan yang telah maupun yang
akan diberikan selama tahun ajaran di kelas tersebut;

sebagai variasi penggunaan metode pengajaran sehingga siswa tidak bosan hanya
belajar di dalam kelas saja; dan

memperkaya pengalaman siswa.


Metode berkemah juga memerlukan persiapan atau pe-rencanaan yang teliti seperti
halnya dengan metode karya-wisata. Dalam garis besarnya, persiapan yang harus
dilakukan baik oleh guru maupun siswa adalah sama seperti jika akan melakukan
karyawisata. Perbedaannya ialah terutama mengenai banyaknya perlengkapan yang
akan diperlukan sehubungan dengan keharusan untuk bermalam.
Metode berkemah juga mengikuti langkah-langkah se-perti: persiapan atau perencanaan,
pelaksanaan dan tindak lanjutnya, sama seperti metode karyawisata.
Metode ini memerlukan persiapan yang matang dari semua pihak. Oleh karena itu,
metode ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahannya.
Kelebihan yang dimiliki oleh metode berkemah, yaitu:

memberikan pengalaman baru di luar kelas tanpa dibatasi ruangan;

mendidik siswa di alam terbuka yang alami;

mengamati sendiri semua objek dalam bentuk aslinya di alam, sehingga dengan
demikian juga berarti menghilangkan terjadinya verbalisme;

memperkenalkan kegiatan yang teratur dan disiplin dengan adanya jadwal belajar
dan bekerja, baik pagi, siang maupun malam;

mendidik siswa untuk memenuhi tugas-tugas dengan baik;

mendidik siswa untuk mencintai alam;

memupuk,

menanamkan

dan

mengembangkan

rasa

setia

kawan,

tolong-

menolong, dan tenggang rasa;

mendidik siswa untuk memanfaatkan seluruh waktu yang senggang dengan


kegiatan yang bermanfaat;

mendidik siswa untuk memanfaatkan semua kegiatan sebagai sumber untuk


menambah pengalaman dan pengetahuannya;

mendidik siswa untuk bertanggung jawab melaksanakan tugas kerjanya dengan


baik; dan

mendidik siswa untuk lebih mencintai semua ciptaan Tuhan.


Kelemahan-kelemahan metode berkemah adalah sebagai berikut:

terlalu banyak menghabiskan waktu sehingga mungkin sekali mata pelajaran


lainnya akan terganggu;

mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli perlengkapan yang dibebankan


kepada orangtua siswa;

kemungkinan terjadinya kecelakaan baik selama perjalanan maupun di tempat


perkemahan adalah lebih besar jika dibandingkan dengan belajar di kelas;

pengawasan dan pemeliharaan ketertiban lebih sulit di banding di sekolah;

keadaaan cuaca dan iklim seringkali menyebabkan tidak dapat dilaksanakannya


suatu program yang telah direncanakan; dan

tidak mudah untuk mencari tempat atau lokasi berkemah yang berisi objek yang
ada sangkut-pautnya dengan rencana pembelajaran di sekolah.

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Mengajar Beregu (Team Teaching Method) Part 1
Dian Sukmawati Jun 18th, 2013 0 Comment
Berikut ini akan dijelaskan mengenai metode mengajar yang persiapan mengajarnya
diorganisir oleh beberapa orang guru dan staf pengajar. Metode ini tidak dilakukan oleh
seorang guru yang berkepentingan saja, tetapi akan ada guru dengan pembantupembantunya secara bersama-sama merencanakan seluruh kegiatan belajar mengajar
yang akan dilaksanakan.
Hal ini disebabkan karena dalam perencanaan penga-jaranya dan dalam praktik
pelaksanaannya dilakukan oleh kelompok guru serta pembantu-pembantunya sesuai
dengan tugas yang harus dilakukan menurut kesepakatan bersama. Metode seperti ini
disebut dengan metode beregu (Team Teaching Method).

Jenis Metode Pembelajaran | Metode Mengajar Beregu (Team Teaching Method)


Pada pelaksanaan metode ini, guru menjelaskan kepada siswa yang berada pada
kelompok kecil atau perorangan. Pekerjaan guru dalam seluruh kegiatan ini dibantu oleh
seorang asisten. Di Indonesia metode ini jarang digunakan, karena tidak ada istilah
asisten guru melainkan guru bantu atau guru yang sedang melakukan PPL di sekolah.
Selain itu, mungkin pula metode inii sulit dilaksanakan dengan maksimal karena
perlengkapan belajar kurang lengkap.
Team Teaching Methodini pada dasarnya berusaha memanfaatkan potensi dari semua
guru yang menjadi regu pengajarnya. Seperti kita ketahui dari pengalaman kita, setiap
guru memiliki kecakapan tertentu yang tidak atau kurang dimiliki guru lainnya dalam soal
menyajikan bahan pelajaran kepada para siswanya.
Dalam perencanaan bahan pengajaran, semua guru yang tergabung dapat bertukar
pendapat dan pengalaman sehingga cara atau langkah penyajian bahan pengajaran
dapat disiapkan dan dilakukan lebih baik dibandingkan dengan jika hanya berdasarkan
pada pengalaman sendiri saja.
Oleh karena metode ini melibatkan sejumlah guru dan asistennya maka sudah tentu
diperlukan sesorang yang dapat mengorganisasi dengan baik semua guru yang terlibat.
Guru yang lain berkewajiban untuk membantunya.
Memang metode ini tidak mengenal pembagian waktu yang ketat sehingga setiap guru
harus meniadakan pikiran adanya batas waktu seperti di Sekolah pada umumnya yang

ditandai dengan bunyi bel atau lonceng. Seluruh kegiatan belajar mengajar seakan-akan
menjadi suatu arus yang terus mengalir.
Peralihan mata pelajaran tidak ditandai dengan bunyi lonceng tetapi terjadi secara
mengalir.
Dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar yang terlihat dan dialami
dengan metode mengajar beregu(Team Teaching Method), yaitu:

seorang guru bisa menghadapi jumlah siswa yang besar, yaitu bisa sampai 250
orang siswa;

guru ini memberi petunjuk atau pelajaran dengan menggunakan metode ceramah;

guru membagi-bagikan tugas sehubungan dengan segala sesuatu yang telah


diterangkan, karena sekarang siswa harus memahaminya sendiri;

semua siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil;

siswa melakukan pendalaman belajar atas bimbingan asisten guru;

para asisten memberikan bimbingan sesuai dengan ke-tentuan yang telah


disepakati pada awal perencanaan metode ini;

guru memberikan petunjuk khusus terhadap kelompok yang memerlukan


penjelasan;

dapat mengikuti diskusi yang dilakukan oleh kelompoknya

para asisten ikut memberikan penilaian mengenai kemajuan, kesulitan atau


hambatan yang dialami siswa;

mendatangkan beberapa pakar atau ahli pada bidang tertentu sesuai dengan
pokok pembahasan pelajaran;

siswa-siswa aktif bekerja di laboratorium atau sibuk membaca buku sumber di


ruang perpustakaan, dibawah asuhan asisten guru;

guru menerima laporan dari asisten mengenai kemajuan para siswa yang berada
di bawah asuhannya; dan

guru mempelajari hasil evaluasi tersebut dan menjadikannya bahan untuk


menetapkan apakah perlu diadakan penjelasan khusus baik secara kelompok maupun
perorangan.
Demikianlah penjelasan ringkas mengenai gambaran situasi yang akan dialami pada
pelaksanaan metode mengajar beregu(Team Teaching Method). Metode Mengajar Beregu
adalah suatu pengorganisasian mengajar yang terdiri dari dua atau lebih dari guru dan
asistennya merencanakan, menyajikan dan menilai satu atau lebih dari satu bidang
pelajaran

yang

diberikan

kepada

sejumlah

siswa

yang

lebih

banyak

siswanya dibandingkan dengan kelas konvensional.


Penyajian pelajaran dilakukan secara klasikal, kelompok kecil dan perorangan. Sedangkan
metode pengajaran yang digunakan dapat berupa ceramah umum, diskusi, tanya jawab,
tugas, proyek, dan lain sebagainya sesuai dengan tuntutan si-tuasi belajar mengajar
yang dialami.
Jika dianalisis, maka kita akan mendapatkan tiga komponen dalam metode ini.

Adanya jumlah siswa yang banyak (lebih dari 100 siswa);

Adanya beberapa orang guru beserta asisten dan pegawai tata usaha lainnya; dan

Adanya orang-orang tertentu dari luar sekolah yang diikutsertakan karena


dipandang sebagai ahli dalam bidang ilmu atau keterampilan tertentu.
Dengan

demikian, metode

mengajar

beregu benar-benar

memerlukan

kemampuan

berorganisasi yang baik, mengingat bahwa yang dihadapi bukan hanya siswa melainkan
juga sesama guru, asisten, dan petugas lainnya. Semuanya terlibat ke dalam kegiatan
belajar mengajar.
Kalau kita teliti bagaimana susunan regu gurunya, maka kita mendapatkan komponenkomponen sebagai berikut:

pimpinan regu (satu orang);

guru ahli;

guru umum; dan

asisten guru.
Tugas Regu Guru
1. Pimpinan Regu
Tugas dari seorang pimpinan regu adalah mengorganisasi seluruh perencanaan;
memberikan

pengarahan

kepada

semua

dengan

kegiatan

belajar

mengajar,

mengkoordinasikan kegiatan dengan semua guru ahli, asisten dan pihak lain yang terkait;
merencanakan penggunaan metode dan perlengkapan mengajar, mengadakan supervisi
terhadap semua kegiatan guru regunya, para asisten dan semua orang yang terlibat
dalam kegiatan itu.
Memberikan pelajaran baik secara klasikal (terutama pada awal pengajaran saat
memberikan penjelasan prinsip-prinsip utama dari seluruh bahan pelajaran yang akan
diberikan), maupun kepada kelompok-kelompok kecil dan perora-ngan yang memerlukan
penjelasan khusus. Sebagai pimpinan regu, ia melakukan semua tugas adminsitratif yang
biasanya dilakukan oleh seorang kepala sekolah.
2. Guru Ahli
Tugasnya adalah memberikan pelajaran atau bimbingan dan penjelasan-penjelasan
mengenai bahan pelajaran sesuai dengan keahlian yang dimilikinya kepada kelompokkelompok kecil dan perorangan.
Penjelasan yang sangat mendalam diberikan olehnya jika semua kelompok memintanya
atau menurut penilaian para guru dan asisten lainnya perlu memberikan penjelasan yang
lebih mendalam dari guru ahli tersebut.
3. Guru Umum

Tugasnya sama dengan guru ahli, hanya penjelasannya tidak mendalam. Jika ada bagian
pelajaran yang harus diberikan secara mendalam maka hal itu diserahkan kepada guru
ahli.
Selanjutnya tugasnya ialah menilai kemajuan siswa-siswa guna keperluan pendalaman
pelajaran membimbing diskusi maupun tugas perorangan.
4. Asisten Guru
Asisten ialah membantu para guru ahli dan guru umum seperti membantu memeriksa
tugas-tugas yang telah dikerjakan siswa, membuat laporan evaluasi dan kemajuan siswa,
mendampingi siswa ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke objek di luar sekolah;
menjembatani siswa untuk menanyakan kesulitan yang mereka hadapi atau mengatur
giliran untuk mendapatkan penjelasan pelajaran dari guru ahli, guru umum maupun
pimpinan regu. Membagi-bagikan soal ulangan, mengawasi, memeriksa hasil ulangan,
dan menyelesaikan laporan. Membantu siswa secara perorangan ketika bekerja di
laboratorium atau bengkel sekolah. Asisten ini bukan guru dan tidak memiliki
kewenangan mengajar.
Tugasnya hanya membantu para guru agar semua kegiatan dapat berjalan baik dan
semua siswa memahaminya Asisten guru ini biasanya mahasiswa tingkat akhir S1 yang
memiliki pengetahuan yang cukup di bidang ilmu pengetahuan dan mata pelajaran
tertentu tetapi tidak mempunyai hak untuk mengajar. Bisa juga siswa sekolah dari
pendidikan guru setempat yang sedang berlatih praktik mengajar atau memang sengaja
diminta bantuannya untuk tugas tersebut.
Susunan regu pengajar seperti yang diuraikan di atas adalah suatu susunan yang ideal
dan lengkap. Sudah tentu, untuk kondisi dan situasi sekolah-sekolah seperti pada saat
pelajaran itu dibuat oleh susunan regu pengajar seperti yang dikemukakan di atas
sebelum dilaksanakan. Oleh karena itu, jika metode ini akan dilaksanakan, perlu kiranya
dikemukakan kembali susunan regu pengajar yang lebih sederhana dari apa yang telah
dijelaskan di atas. Tugas pimpinan regu sama seperti pada susunan regu pengajar yang
ideal, sedangkan guru-guru pengajar bertugas seperti guru ahli, guru umum dan
sekaligus

merangkap

tugas-tugas

asisten

guru

serta

ketatausahaan.

Tentunya

perangkapan tugas-tugas semacam itu akan memberikan akibat yang kurang baik bagi
kelancaran dan penyajian pelajaran siswa. Maksud pengorganisasian guru-guru ke dalam
suatu regu tertentu adalah memberi kesempatan kepada guru untuk dapat saling
menukar pengalaman dan menyajikan pelajaran sebaik-baiknya sesuai dengan hasil-hasil
pertukaran pikiran dan pengalaman dari semua anggota regu pengajar