Anda di halaman 1dari 12

4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Diare
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang

mendapatkan prioritas program pemberantasan karena tingginya angka kesakitan


dan menimbulkan banyak kematian. Pada tahun 2008 dilaporkan terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare di 15 provinsi di Indonesia dengan jumlah
penderita sebanyak 8.443 orang, jumlah kematian sebanyak 209 orang atau Case
Fatality Rate (CFR) sebanyak 2,48%. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh
rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak
bersih (Depkes, 2007).
2.1.1

Pengertian Diare
Diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi

buang air besar lebih dari tiga kali sehari disertai adanya perubahan bentuk dan
konsistensi tinja penderita (Sutanto 1984; Bambang 1981). Diare merupakan salah
satu masalah kesehatan di Indonesia dan menurut Survei Kesehatan Rumah
Tangga 1986 ternyata diare termasuk dalam 8 penyakit utama di Indonesia
(Budiarso 1986).
2.1.2 Klasifikasi Diare
Diare akut adalah buang air besar lembek/ cair bahkan dapat berupa air
saja yang frekuensinya lebih sering biasanya ( biasanya 3 kali atau lebih dalam
sehari ) dan berlangsung kurang dari 14 hari (DepKes, 2007).
Diare persisten adalah diare akut yang berlanjut sampai 14 hari atau lebih.
Sesuai dengan batasan bahwa diare persisten dapat merupakan kelanjutan diare
akut yang menetap dengan sendirinya etiologi diare sama dengan diare akut
(DepKes, 2007).

2.1.2

Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau parasit. Diare dapat

juga disebabkan oleh malabsorpsi makanan, keracunan makanan, alergi ataupun


karena defisiensi (Bambang, 1981).
Penyakit diare ini dapat terjadi melalui kontaminasi agent (penyebab
penyakit) seperti virus, bakteri dan sebagainya dengan makanan, minuman yang
kemudian dimakan oleh orang sehat. Penyakit ini biasanya juga termasuk dalam
penyakit yang sumber penularannya melalui perantaraan air atau sering disebut
sebagai water borne diseases. Agent penyebab penyakit diare sering dijumpai pada
sumber-sumber air yang sudah terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit,
air yang sudah tercemar apabila digunakan oleh orang sehat bisa membuat orang
tersebut terpapar dengan agent penyebab penyakit diare. Bakteri masuk kedalam
tubuh manusia melalui perantaraan makanan atau minuman yang tercemar oleh
4
bakteri. Apabila jumlah bakteri cukup banyak
ada bakteri yang dapat lolos sampai
kedalam usus dan merangsang sekresi cairan yang berlebihan, sehingga volume
cairan bertambah banyak, kemudian menyebabkan usus akan mengadakan
kontraksi sehingga terjadi diare (Hiswani, 2003).
Keadaan gizi yang buruk akan mempengaruhi lamanya diare dan
komplikasinya. Anak dengan status kurang kalori protein akan mengalami
gangguan keseimbangan elektrolit dan diare mempercepat proses ini. Hygiene dan
sanitasi yang buruk mempermudah penularan diare baik melalui makanan, air
minum yang tercemar kuman penyebab diare maupun air sungai. Penduduk dusun
memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan, memiliki sanitasi yang
buruk,

konsumsi makanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan, serta

pengolahan limbah yang tidak baik,

faktor-faktor tersebut dapat menjadi

penyebab diare (Richard, 1985; Artini, 1987).


2.1.3 Pengobatan Diare
Bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan
cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi
dehidrasi. Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar

bersama tinja dengan cairan yang memadai melalui oral atau parenteral (Richard,
1985; Rubin, 1985).
Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air
tajin, air susu ibu, air teh encer, sup wortel, dan air perasan buah. Pemakaian
cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. Sedangkan
bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minuman Oralit.
(Bromilow 1993; Patra 1992)
a) Mencegah terjanya dehidrasi
Mencegah terjadi nya dehidasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan
memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan
seperti air tajin , kuah sayur, air sup. Macam Cairan yang dapat digunakan akan
tergantung pada kebiasaan setempat dalam mengobati diare, tersedianya cairan
sari makanan yang cocok, jangkauan pelayanan kesehatan, tersedianya oralit. Bila
tidak mungkin memberikan cairan rumah tangga yang diajukan, berikan air
matang (DepKes, 2007).
b. Mengobati dehidrasi
Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa
ke petugas atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan
tepat, yaitu dengan oralit. Bila terjadi dehidrasi berat, penderita harus segera
diberikan cairan intravena dengan ringer laktat sebelum dilanjutkan terapi oral.
(DepKes, 2007). Terapi intra vena jika diperlukan, cairan normotonik seperti cairan
saline normal atau laktat Ringer harus diberikan dengan suplementasi kalium
sebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus dimonitor dengan baik
dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, dan penyesuaian infus
jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera mungkin
(Umar,.2004). Pada bayi setelah 1 jam pertama, diberikan 30 mg/kg dan dapat

dilanjutkan untuk 5 jam berikutnya 70 mg/kg berat badan. Untuk anak-anak dan
dewasa diberikan Ringer Laktat secara intravena dengan dosis 100 mg/kg berat
badan (Greene 1980).
c. Memberi makanan
Berikan makanan selama diare untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat

badan. Berikan cairan termasuk oralit dan makanan sesuai yang dianjurkan. Anak
yang masih mimun ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susu
formula diberikan lebih sering dari biasanya. Anak Usia 6 bulan atau lebih
termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus diberikan makanan yang
mudah dicerna sedikit sedikit tetapi sering. Setelah diare berhenti pemberian
makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat
badan anak. (DepKes, 2007)
d. Mengobati masalah lain
Apabila diketemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka
diberikan pengobatan sesuai indikasi, dengan tetap mengutamakan rehidrasi.
Tidak ada Obat yang aman dan efektif untuk menghentikan diare (DepKes, 2007).
e. Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut
infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa
pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada pasien dengan
gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses,
mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan
jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan, tetapi terapi antibiotik
spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman (Umar, 2004)
2.1.4

Pencegahan Diare
Diare dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Adapun cara pencegehan diare dapat dilakukan dengan cara (Sri, 2009):
1.

Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting yaitu:
sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah
menceboki anak ,dan sebelum menyiapkan makanan;

2.

Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara
merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;

3.

Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga


(lalat, kecoa, kutu, lipas)

4.

Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan
jamban dengan tangki septik.

5.

Pemberian ASI minimal 6 bulan juga penting dilakukan. Sebab, di dalam ASI
terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin.

6.

Untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus, bisa diberikan vaksin


rotavirus per-oral (melalui mulut).

2.2 Faktor Resiko


Faktor resiko adalah karakteristik, tanda atau kumpulan gejala pada
penyakit yang diderita induvidu yang mana secara statistic berhubungan dengan
peningkatan kejadian kasus baru berikutnya (beberapa induvidu lain pada suatu
kelompok masyarakat). Dari faktor resiko yang kemudian dijadikan dasar
penentuan tindakan pencegahan dan penanggulangan (Arsad,2010).
2.2.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah upaya
untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu
mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan di masyarakat (DepKes, 2007).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga

dapat dilakukan

dengan cara menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk rumah sekali
seminggu, mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari, melakukan olahraga setiap
hari, tidak merokok di dalam rumah (DepKes, 2007).
Sebagian besar penduduk desa memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan
sebelum makan, selain itu ketersediaan fasilitas dan sarana kesehatan

dirasa

masih kurang. Sedangkan berdasarkan observasi yang telah dilakukan, diketahui


bahwa keadaan jamban penduduk dusun masih dikatakan belum memenuhi syarat
jamban sehat. Syarat kamar mandi dan jamban keluarga (Entjang, 1993):
1.

Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari dindingnya
yang berlubang ventilasi berhubungan dengan udara luar. Bila tidak

dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar


mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori ruangan lain.
2.

Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang cukup jumlahnya.

3.

Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh dari 7 orang bila
jamban tersembut terpisah dari kamar mandi.
Masyarakat yang tidak memiliki tempat penampungan sampah yang

memadai, mengakibatkan warga membuang sampah di belakang rumah. Sampah


tersebut juga tidak di olah dan dipisahkan, hanya dibakar dengan seadanya.
Ketersediaan tempat sampah berpengaruh langsung dalam menjaga kesehatan,
karena tidak adanya tempat sampah membuat sampah menumpuk mengakibatkan
lalat dan bakteri datang yang mengakibatkan sakit diare (Entjang, 1993).
2.2.2

Fasilitas kesehatan yang bisa diakses oleh warga Dusun Trajeng


Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal dengan sebutan posyandu,

adalah salah satu fasilitas kesehatan yang merupakan wahana kegiatan


keterpaduan KB-kesehatan ditingkat kelurahan atau desa, yang melakukan
kegiatan lima program prioritas yaitu: KB, Gizi, KIA, Imunisasi dan
penanggulangan diare. Pelaksanaan Posyandu dilakukan di awal atau akhir bulan
dan dilakukan bergilir pada tiap RW (Zulkifli, 2003).
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis kesehatan kabupaten atau kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja (DepKes RI, 2007). Penduduk dusun biasanya berobat ke
Puskesmas. Akses menuju Puskesmas tersebut harus d tempuh dengan kendaraan
bermotor, sedangkan tidak semua penduduk memiliki kendaraan bermotor. Hal ini
menjadi suatu hambatan bagi penduduk untuk mengakses fasilitas kesehatan
tersebut.
2.2.3. Latar Belakang Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolahsekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang
jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan
tinggi. Salah satu tugas pendidikan adalah meningkatkan pengetahuan sehingga

10

dicapai suatu masyarakat yang berkembang sehingga menuju suatu perubahan


perilaku (Wantikirmanti, 2007).
Latar belakang pendidikan formal mempengaruhi jenis pekerjaan
penduduk dusun Trajeng yang sebagian bekerja sebagai petani tebu, peternak sapi,
dan industri rumah tangga yaitu pengolah tahu dan tempe. Jenis pekerjaan
penduduk berhubungan erat dengan tingkat pendapatan seseorang. pendapatan
adalah hasil berupa uang atau hasil materiil-materiil lainnya yang dicapai daripada
penggunaan kekayaan atau jasa manusia bebas (perusahaan atau individu) dalam
produksi. Jenis pekerjaan tertentu dapat memudahkan seseorang mendapatkan
akses pelayanan kesehatan. Pendapatan yang cukup mempermudah masyarakat
mendapatkan akses kesehatan serta sarana untuk pengadaan tempat sampah.
(Bambang, 1981).
2.2.4

Tingkat Pengetahuan tentang penyakit diare


Berdasarkan ilmu pengetahuan pada saat ini dimana teknologi untuk

pencegahannya sudah cukup dikuasai, akan tetapi permasalahan tentang penyakit


diare dalam masyarakat, sampai saat ini masih merupakan masalah yang relatif
besar yang terjadi pada keluarga pra sejahtera yang mempunyai keterbatasan
dalam pendidikan, pendapatan dan pengetahuan yang benar tentang pencegahan
diare. Hal ini maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengatasi penyakit diare
tidak

cukup

hanya

dengan

menguasai

teknologi

pengobatan

maupun

pencegahannya saja tetapi dibutuhkan suatu pengetahuan yang cukup tentang


pencegahan diare pada keluarga (Rachmataji, 2010).
Tingkat pengetahuan diare biasanya kurang, karena di batasi minimnya
fasilitas untuk mengakses pengetahuan melaui berita maupun teknologi,
contohnya internet. Penngetahuan mengenai mencegah terjadinya diare dengan
membuat sanitasi yang baikpun kurang memenuhi standar kesehatan, bahkan
masih ada warga yang menggunakan cangkul untuk mencangkul tanah, kemudian
buang air besar dan menutup kembali tanah tersebut. Pengetahuan mengenai
makanan bergizi dan pencegahan pertama diare yaitu penggunaan oralit belum
semua menerapkan, pengetahuan mengenai mecuci tangan sebelum makan untuk

11

mencegah masuknya bakteri ke dalam mulut penyebab diare belum dilakukan


semua penduduk (Rachmataji, 2010).
Usia yang masih kurang juga mempengaruhi tingkat pengetahuan. Anak
usia SD biasanya masih kurang pengetahuan mengenai pencegahan dan
pengobatan berbagai macam penyakit, termasuk diare (Iwan, 2011).
2.2.5

Keadaan Sanitasi Lingkungan Yang Dapat Mempengaruhi Kejadian


Diare.
Kesehatan lingkungan merupakan bagian dari dasardasar Kesehatan

Masyarakat modern yang meliputi semua aspek manusia dalam hubungannya


dengan lingkungan, yang terikat dalam bermacammacam ekosistem. Lingkungan
hidup manusia sangat erat kaitannya antara host, agent dan enviroment untuk
timbulnya suatu masalah kesehatan seperti halnya dengan penyakit diare. Menurut
Azwar (1997) lingkungan adalah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruhpengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan perkembangan suatu organisasi.
Secara umum lingkungan ini dibedakan atas dua macam yaitu lingkungan
fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik ialah lingkungan alam yang
terdapat disekitar manusia, misalnya cuaca, musim, keadaan geografis dan
struktur geologi. Sedangkan lingkungan non-fisik ialah lingkungan yang muncul
sebagai akibat adanya interaksi antar manusia, misalnya termasuk faktor sosial
budaya, norma, dan adat istiadat (Hiswani, 2003).
Peranan lingkungan dalam menyebabkan timbul atau tidaknya penyakit
dapat bermacam- macam. Salah satu diantaranya ialah sebagai reservoir bibit
penyakit (environmental reservoir). Adapun yang dimaksut dengan reservoir ialah
tempat hidup yang dipandang paling sesuai bagi bibit penyakit lainnya yakni
human reservoir, animal reservoir, dan anthropode rerservoir. Pada reservoir disini
bibit penyakit hidup di dalam tubuh manusia. Timbul atau tidaknya penyakit pada
manusia tersebut tergantung dari sifat-sifat yang dimiliki oleh bibit penyakit
ataupun pejamu. Hubungan antara pejamu, bibit penyakit dan lingkungan dalam
menimbulkan suatu penyakit amat kompleks dan majemuk. Disebutkan bahwa
ketiga faktor ini saling mempengaruhi, dimana pejamu dan bibit penyakit saling
berlomba untuk menarik keuntungan dari lingkungan. Hubungan antara pejamu,

12

bibit penyakit dan lingkungan ini diibaratkan seperti timbangan. Disini pejamu
dan bibit penyakit berada di ujung masing- masing tuas, sedangkan lingkungan
sebagai penumpangnya. Menurut Sutomo, sanitasi lingkungan adalah bagian dari
kesehatan masyarakat secara umum yang meliputi prinsip-prinsip usaha untuk
meniadakan atau menguasai faktor- faktor lingkungan yang dapat menimbulkan
penyakit melalui kegiatan- kegiatan yang ditujukan untuk (Hiswani, 2003) :
1. Sanitasi air (Water Sanitasi)
2. Sanitasi Makanan (food Sanitasi)
3. Pembuangan Sampah (Sewage and Excreta disposal).
4. Sanitasi Udara (Air Sanitation)
5. Pengendalian vektor dan binatang mengerat (vektor ang rodent controle).
Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada
pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajad
kesehatan manusia, jadi sanitasi itu lebih mengutamakan upaya pencegahan.
Sanitasi lingkungan sebagai jawaban alternatif terhadap dampak lingkungan pada
kesehatan manusia (Hiswani, 2003).
2.2.6 Frekuensi Jajan dan Asupan Gizi Subyek
Asupan makanan yang kurang bergizi dan frekuensi jajan yang tinggi,
seperti mengkonsumsi makanan di luar rumah yang tidak bersih, higienis dan
minim gizi mengakibatkan, dapat mempengaruhi daya tahan tubuh, daya tahan
tubuh yang kurang membuat mudahnya terkena penyakit, contohnya diare. Diare
merupakan gangguan pencernaan yang biasanya muncul karena banyaknya debu
dan kotoran yang berpotensi menjadi pemicu timbulnya diare. Hal ini juga erat
kaitannya dengan pola konsumsi makan yang kurang baik, misalnya kurang
memperhatikan kebersihan makanan atau minuman yang dikonsumsi. (Iwan,
2011)
Daya tahan tubuh merupakan kemampuan fisik, yang berfungsi untuk
membentengi tubuh dari masuknya kuman. Jika daya tahan tubuh baik, maka
tubuh akan sehat, sebaliknya jika daya tahan tubuh menurun, maka kuman akan
mudah masuk ke dalam tubuh dan tubuh akan lebih mudah terjangkit penyakit

13

Daya tahan tubuh juga dipengaruhi jenis kelamin, karena wanita biasanya
memiliki daya tahan tubuh yang kurang dibandingkan laki-laki.(Iwan, 2011).
Kondisi daya tahan tubuh dapat mengalami naik-turun. Hal tersebut
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain oleh pola hidup seperti masukan
gizi/pola makan, pola pikir, dan aktivitas sehari-hari. Apabila proporsi salah satu
faktor tersebut tidak lagi seimbang pada tubuh, akan mengakibatkan menurunnya
daya tahan tubuh. Perkembangan sistem kekebalan tubuh juga dipengaruhi faktor
usia juga. Sistem kekebalan tubuh pada bayi dan balita masih lelah, kemudian
mengalami perkembangan dengan bertambahnya usia, setelah itu mengalami
penurunan kembali pada usia tua (di atas 50 tahun). (Iwan, 2011)
2.3 Profil Desa Pakis Jajar
Desa Pakis Jajar merupakan salah satu desa di kecamatan Pakis,
Kabupaten Malang. Desa Pakis Jajar mempunyai luas wilayah 504.303 Ha,yang
terdiri dari tanah sawah 64.303 Ha, tanah kering 307.765 Ha, tanah pekarangan
60.000 Ha, lain-lain 71.171 Ha.
Desa Pakis Jajar terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Robyong,
Dusun Trajeng dan terdapat 13 RW dan 58 RT. Sebelah utara berbatasan dengan
Desa Sukolilo Jabung, sebelah timur berbatasan dengan Desa Sumber Pasir
Kecamatan Pakis, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pakis Kembar
Kecamatan Pakis, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Bunut Wetan
Kecamatan Pakis.
Jumlah penduduk Desa Pakis Jajar sebanyak 10.309 jiwa, yang terdiri dari
jumlah kepala keluarga 3114, jumlah laki-laki 5186, jumlah perempuan 5123.
Dari data diatas digambarkan distribusi penduduk berdasarkan usia dan jenis
kelamin Desa Pakis Jajar sebagai berikut :
Tabel 1. Distribusi penduduk Desa Pakis Jajar berdasarkan usia dan jenis kelamin

No
1
2
3
4

Usia (tahun)

Jenis Kelamin

0-1
1-4
5-9
10-14

Laki-Laki
91
298
246
830

Jumlah
Perempuan
82
337
169
753

173
635
215
1538

14

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
75+
Jumlah

291
333
345
279
351
291
464
353
318
276
263
96
61
4779

280
371
268
312
317
225
412
449
416
334
260
80
58
5530

571
704
613
591
668
516
876
802
734
510
523
176
119
10309

Sumber : Profil Desa Tahun 2010

Sarana Pendidikan penduduk Desa Pakis Jajar digambarkan dalam tabel berikut :
Tabel 2. Sarana pendidikan penduduk Desa Pakis Jajar

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pendidikan
TK Insani
TK Miftahul Huda
TK Muslimat Hj. Maimunah
TK Alkausa RW 5
TK Muslimat Trajeng RW 06/07
TK PGRI III RW 12
SDN Pakis Jajar 1
SDN Pakis Jajar II
MI Al Hasib Trajeng
MI Miftahul Huda Karang
Tengah

Jumlah Siswa
18
101
15
66
57
34
244
257
254
213

Jumlah Guru
2
6
2
4
4
3
10
11
11
9

Sumber: Profil Desa tahun 2010

Sarana Peribadatan penduduk Desa Pakis Jajar yaitu Masjid 6 buah dan
Mushola 36 buah. Sarana Kesehatan penduduk Desa Pakis Jajar yaitu tenaga
dokter umum 1 orang, tenaga dokter gigi 1 orang, tenaga perawat 6 orang, bidan 4
orang.
2.3.1 Gambaran Dusun Trajeng
Dusun Trajeng merupakan salah satu dusun di Desa Pakis Jajar,
Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dusun Trajeng memiliki 4 rukun warga

15

(RW) yaitu RW 6 sampai dengan RW 9. Masing-masing RW memiliki 4 Rukun


Tetangga(RT). Adapuin jumlah kepala keluarga (KK) di dusun ini sebanyak 731
KK dengan jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 2196 orang.
Di dusun Trajeng tedapat 2 posyandu di RW 6 dan RW 7. Biasanya
posyandu diadakan sebulan sekali. Adapun kegiatan di posyandu ini adalah
kegiatan rutin mengenai Kesehatan Ibu dan Anak serta posyandu lansia.
Terdapat 1 masjid, 1 MI, 1 MTs, dan 1 Panti Asuhan di Dusun Trajeng.
Sebagian besar penduduk mempunyai latar belakang pendidikan setara SD atau
SMP. Penduduk yang mendiami Dusun Trajeng mayoritas terdiri dari suku
Madura dan Jawa. Sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani tebu,
sedangkan yang lain ada yang memproduksi tahu dan tempe, dan sebagai pekerja
pabrik. Pada setiap rumah sebagian besar mempunyai binatang ternak seperti sapi.
Penduduk Dusun Trajeng memiliki fasilitas kebersihan yaitu kamar mandi,
tetapi tidak semua rumah memiliki jamban, ada yang menumpang pada tetangga,
bahkan ada yang mencangkul tanah untuk buang air besar kemudian menutup
tanah itu kembali. Sarana pembuangan sampah penduduk Dusun masih kurang,
penduduk hanya menumpuk sampah di lahan kosong di sekitar rumah dan
membakarnya. Penduduk yang memiliki ternak membuang kotoran ternak
bersama sampah di lahan kosaong atau dikumpulkan untuk dijadikan pupuk.
Sumber air bersih yang digunakan berasal dari sumur karena PDAM belum
masuk. Jarak antara septictank dan sumur kurang dari sepuluh meter.