Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Bentuk sediaan lepas lambat (Sustained release) banyak mendapatkan
perhatian dalam pengembangan sistem penghantaran obat karena dibandingkan
bentuk sediaan konvensional, bentuk lepas lambat memiliki beberapa kelebihan.
Antara

lain

sediaan

lepas

lambat

dapat

mengurangi

efek

samping,

mengurangi/menjarangkan jumlah penggunaan, mengurangi fluktuasi obat dan


secara umum dapat meningkatkan kenyamanan bagi pasien (Welling, 1997).
Kebanyakan bentuk lepas lambat (sustained release) dirancang supaya pemakaian
satu unit dosis tunggal menyajikan pelepasan sejumlah obat segera setelah
pemakaiannya, secara tepat menghasilkan efek terapeutik yang diinginkan secara
berangsur-angsur dan terus menerus melepaskan sejumlah obat lainnya selama
periode waktu yang diperpanjang biasanya 8 sampai 12 jam (Ansel et al., 2005).
Menurut Rao et al, (2001), tujuan utama dari sediaan lepas lambat adalah untuk
mempertahankan kadar terapeutik obat dalam darah atau jaringan selama waktu
yang diperpanjang. Keunggulan bentuk sediaan ini menghasilkan kadar obat
dalam darah yang merata tanpa perlu mengulangi pemberian unit dosis.
Penghantaran obat ke reseptor atau tempat bekerjanya obat sering terhambat
dengan adanya efek samping obat ataupun karena pelepasan obat tidak sesuai
pada tempat kerjanya. Untuk itu, obat dibuat dalam bentuk controlled release atau
sediaan lepas terkendali. Sediaan lepas terkendali ini mengatur pelepasan obat di
dalam tubuh yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas obat pada
reseptornya. Sediaan sustained release atau sediaan lepas lambat merupakan
bagian dari bentuk controlled relese. Sediaan lepas lambat merupakan sediaan
yang menyebabkan obat terlepas ke dalam tubuh dalam waktu yang lama.
1.2. Rumusan masalah
Berdasarkan topik yang dipilih, dapat dirumuskan permasalahan:
1.2.1.

Apakah pengertian dengan sustaned release?

1.2.2.

Apakah keuntungan dan kerugian sustaned release?

1.2.3.

Bagaimana mekanisme dari sustaned release?


1.2.4.

Apa saja formulasi formulasi yang dibuat dengan sustaned

release?

1.3. Tujuan Penulisan


1.3.1.
Untuk mengetahui pengertian dari sustaned release
1.3.2.
Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian sustaned release
1.3.3.
Untuk mengetahui mekanisme dari sustaned release
1.3.4.
Untuk mengetahui formulasi formulasi yang dibuat dengan
sustaned release
1.4. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini yaitu:
1.4.1.
Mengetahui dan memahami pengertian sustaned release
1.4.2.
Mengetahui dan memahami keuntungan dan kerugian sustaned
release
1.4.3.
Mengetahui dan memahami mekanisme dari sustaned release
1.4.4.
Mengetahui formulasi formulasi yang dibuat dengan sustaned
release
1.5. Metode Penulisan
Metode yang dilakukan dalam penulisan makalah ini dilakukan dengan cara
pengumpulan data dari berbagai sumber seperti Internet, buku sumber (kajian
pustaka).

1.6. Sistematika Penulisan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penulisan

1.4. Manfaat Penulisan


1.5. Metode Penulisan
1.6. Sistematika Penulisan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Sustaned release
2.2. Keuntungan dan Kerugian Sustaned release
2.3. Mekanisme Sustaned release
2.4. Formulasi Sustaned release

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Berbagai Zat Aktif yang dibuat Sustaned release
BAB IV PENUTUP
3.2. Kesimpulan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian Sustaned release

Sediaan lepas lambat merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk


melepaskan obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap supaya
pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat (Ansel et al., 2005).
Sistem lepas lambat adalah setiap modifikasi obat atau sediaan obat yang
memperpanjang aktivitas terapetik dari obat (Sumber: Lachman-Tablets, vol. 3,
150).
Tablet lepas lambat adalah sediaan tablet yang dirancang untuk
memberikan aktivitas terapetik diperlama dengan cara pelepasan obat secara
terus-menerus selama periode tertentu dalam sekali pemberian (Sumber:
Powerpoint kuliah DR. Heny R., Phd.).
Tablet lepas lambat adalah tablet yang dibuat sedemikian rupa sehingga
zat aktif akan tersedia dalam jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Istilah
lepas lambat digunakan untuk tujuan farmakope dan persyaratan pelepasan obat
dijelaskan dalam masing-masing monografi (Sumber: FI. IV, 6).
Dalam beberapa keadaan penyakit, bentuk sediaan obat yang ideal adalah
mampu memberikan jumlah obat untuk sampai ke reseptor (tempat aksi obat) dan
kemudian secara konstan dipertahankan selama waktu pengobatan yang
diinginkan. Pemberian obat dalam dosis yang cukup dan frekuensi yang benar
maka konsentrasi obat terapeutik steady state di plasma dapat dicapai secara
cepatdan dipertahankan dengan pemberian berulang dengan bentuk sediaan
konvensional peroral. Namun terdapat sejumlah keterbatasan dari bentuk sediaan
konvensional peroral (Collett and Moreton, 2002).
Adapun keterbatasan bentuk sediaan konvensional peroral adalah:
melepaskan secara cepat seluruh kandungan dosis setelah diberikan, konsentrasi
obat dalam plasma dan di tempat aksi mengalami fluktuasi sehingga tidak
mungkin untuk mempertahankan konsentrasi terapetik secara konstan di tempat
aksi selama waktu pengobatan, fluktuasi konsentrasi obat dapat menimbulkan
overdosis atau underdosis jika nilai Cmax dan Cmin melewati jendela terapetik
obat. Obat dengan t1/2 pendek membutuhkan frekuensi pemberian lebih sering
untuk mempertahankan konsentrasi obat dalam jendela terapeutik, dan frekuensi

pemberian obat yang lebih sering dapat menyebabkan pasien lupa sehingga dapat
menyebabkan kegagalan terapi (Collett and Moreton, 2002).

Gambar 1 menunjukkan perbandingan profil kadar obat di dalam darah yang


diperoleh dari pemberian bentuk sediaan konvensional, terkontrol (controlledrelease), lepas lambat (sustained-release). Tablet konvensional atau kapsul hanya
memberikan kadar puncak tunggal dan sementara (transient). Efek farmakologi
kelihatan sepanjang jumlah obat dalam interval terapeutik. Masalah muncul ketika
konsentrasi puncak dibawah atau diatas interval terapeutik, khususnya untuk obat
dengan jendela terapeutik sempit. Pelepasan orde satu yang lambat yang
dihasilkan oleh sediaan lepas lambat dicapai dengan memperlambat pelepasan
dari bentuk sediaan obat. Pada beberapa kasus, hal ini dapat diperoleh melalui
proses pelepasan yang kontinyu (Jantzen and Robinson, 1996).
2.2.
Keuntungan dan Kerugian Sustaned release
2.2.1. Keuntungan bentuk sediaan lepas lambat dibandingkan bentuk sediaan
konvensional adalah sebagai berikut (Ansel et al., 2005):
a Memberikan kadar obat dalam darah yang konstan / berkelanjutan,
sehingga menghasilkan
b

respon klinis yang lebih panjang dan

konsistensi pada pasien.


Kadar obat dalam darah tidak mengalami fluktuasi antara suatu nilai
maksimum dan minimum seperti yang terjadi pada pemberian dosis
berganda.

Kenyamanan penggunaan obat bagi pasien yang pastinya akan

meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat.


Karena interval dosis yang lebih panjang maka pasien tidak akan

mengalami gangguan waktu tidur.


Keuntungan ekonomis, karena dosis tunggal obat lepas lambat akan
lebih murah dibandingkan obat dengan dosis yang sebanding yang

pemberiannya dengan dosis berganda.


2.2.2. Kelemahan sediaan lepas lambat diantaranya adalah (Simon, 2001) :
a Biaya produksi lebih tinggi sehingga harga obat lebih mahal karena
b

biaya pengembangan dan produksi yang relatif lebih tinggi.


Kemungkinan terjadinya keracunan obat lebih besar dibandingkan
sediaan konvensional. Hal ini disebabkan karena absorpsi obat yang

diperlama kadang-kadang diikuti dengan eliminasi obat diperlambat.


Kemungkinan zat aktif gagal dilepaskan pada kondisi yang diinginkan
sehingga mengakibatkan kelebihan dosis untuk waktu yang lama dan
efek toksik bahan obat yang sukar diberi antidotum (penawar racun),

maka konsentrasi toksik dari obat dapat terlampaui.


Pelepasan tidak pada tempatnya dan sangat berbahaya terutama bila

obat sangat aktif dan selanjutnya terjadi keadaan kurang dosis.


Adanya pengulangan dan keteraturan farmakologi tergantung pada
pengosongan isi lambung, sering terjadi perubahan skema pelepasan zat
aktif, bila obat tidak seluruhnya ditelan, melainkan dipecah, digerus,

dikunyah dengan resiko terjadi over dosis.


Ukuran tablet kemungkinan lebih besar. Hal ini menyulitkan terutama
untuk pasien yang tidak dapat menelan obat

Beberapa sifat fisika kimia yang berpengaruh dalam pembuatan sediaan lepas
lambat (Lee dan Robinson, 1978):
a. Dosis
Produk oral yang mempunyai dosis lebih besar dari 0,6 gr sangat sulit untuk
sediaan lepas lambat karena dengan dosis yang lebih besar akan dihasilkan
volume sediaan yang besar yang tidak dapat diterima sebagai produk oral.
b. Kelarutan

Obat dengan kelarutan dalam air yang rendah atau tinggi, tidak cocok untuk
sediaan lepas lambat. Batas terendah untuk kelarutan pada sediaan lepas lambat
ini adalah 0,1 mg/ml.Obat yang kelarutannya tergantung pH, fisiologis, akan
menimbulkan masalah yang lain karena variasi pH pada saluran cerna (GIT)yang
dapat mempengaruhi kecepatan disolusi.
c. Koefisien partisi
Obat yang mudah larut dalam air kemungkinan tidak mampu menembus
membran biologis sehingga obat tidak sampai ke tahap aksi. Sebaliknya untuk
obat tidak mencapai sel target. Kedua kasus di atas tidak diinginkan untuk sediaan
lepas lambat.
d. Stabilitas obat
Sediaan lepas lambat dirancang untuk dilepaskan dalam saluran cerna (GIT),
sehingga obat yang tidak stabil dalam lingkungan isi cairan usus kemungkinan
sulit untuk diformulasikan dalam sediaan lepas lambat.
e. Ukuran molekul
Molekul obat yang besar menunjukkan koefisien difusi yang kecil dan
kemungkinan sulit dibuat sediaan lepas lambat.
Beberapa sifat biologis yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan lepas
lambat (Lee dan Robinson, 1978):
a

Waktu paruh biologis


Waktu paruh biologis bertujuan menetapkan tingkatan terapi jangka waktu

lama. Waktu paruh pendek akan mengurangi frekuensi dosis. Obat-obat dengan
waktu paruh panjang lebih dari 8 jam tidak dipakai dalam bentuk sediaan
berkelanjutan karena efeknya sendiri sudah berkelanjutan, seperti digoksin,
warfarin dan fenitoin.
b Absorbsi
Absorbsi bertujuan untuk memperoleh keadaan dimana rata - rata pelepasan
jauh lebih rendah dibandingkan rata - rata absorbsi.
c. Metabolisme Obat - obat yaang dimetabolisme sebelum absorbsi baik pada lumen
atau jaringan usus dapat menunjukkan ketersediaan hayati yang menurun.
2.3.

Mekanisme dari Sustaned release

(Sumber: Lachman-Tablets, vol. 3, 157-162)


Pelepasan obat yang diperlukan harus mengikuti pelepasan orde 0, yaitu
kecepatan pelepasan obat tidak dipengaruhi oleh konsentrasi obat.
Rumus pelepasan obat orde 0:

Kadang-kadang sulit mencapai pelepasan obat konstan, dan seringnya yang


terjadi adalah pelepasan lambat orde 1.Untuk memperoleh orde 0, dilakukan
modifikasi sediaan dan beberapa mekanisme pelepasan:
1. Difusi
Beberapa produk tablet lepas lambat bekerja dengan mekanisme difusi yang
merupakan proses perpindahan molekul dari larutan dengan konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah. Hukum pertama Fick tentang difusi menyatakan bahwa
difusi obat melintas membran sebanding dengan penurunan konsentrasi di luar
membran difusi.

Keterangan:
J

= fluks obat (jumlah/ luas-waktu)

D = koefisien difusi (luas/waktu)


C = konsentrasi
X = jarak
Jika polimer tidak larut air, maka kelarutan obat dalam membran merupakan
faktor penting yang mendorong terjadinya difusi melintas membran.Sedangkan
jika membran merupakan polimer larut air, sebagian polimer akan terlarut
membentuk saluran-saluran yang merupakan panjang lintasan difusi yang
bersifat konstan.
2. Disolusi
Obat disalut dalam bahan polimerik dan kecepatan disolusi polimer
menentukan kecepatan pelepasan obat. Sistem ini dapat digunakan untuk
menahan pelepasan obat melalui cara yang berbeda-beda. Salah satunya

dengan menempatkan partikel-partikel obat ke dalam penyalut yang masingmasing memiliki ketebalan yang bervariasi, akibatnya pelepasan obat akan
terjasi secara bertahap. Partikel obat yang memiliki lapisan penyalut yang
paling tipis akan memberikan pelepasan yang segera, sehingga dapat
memenuhi konsentrasi obat yang dibutuhkan pada tahap awal pemberian dosis,
sedangkan lapisan penyalut yang lebih tebal akan memenuhi kadar obat yang
dibutuhkan utuk menjaga agar konsentrasi obat tetap konstan di dalam tubuh.
3. Osmosis
Penempatan membran semipermeabel di sekeliling tablet, partikel atau
larutan obat, yang menyebabkan terbentuknya perbedaan tekanan osmotik
antara bagian dalam dan bagian luar tablet sehingga memompa larutan obat
keluar dari tablet melalui celah kecil dan memberikan sifat pelepasan obat yang
diperlama.
Faktor penentu mekanisme ini adalah kemampuan larutan obat menarik air
melalui membran semipermeabel dengan cara osmosis. Karena larutan obat
terkandung dalam sistem yang cukup rigid, larutan obat tersebut dapat dipompa
keluar dari tablet atau partikel pada tetapan kecepatan yang terkendali. Jika
lubang yang diciptakan pada permukaan salut kecil maka aktivitas obat dapat
dipertahankan selama waktu tertentu.
4. Swelling
Ketika suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang
menyebabkan polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi di
dalam polimer akan berdifusi keluar. Akibatnya, pelepasan obat bergantung
pada dua proses kecepatan yang simultan yaitu antara proses berdifusinya air
ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer.
5. Proses Erosi
Pada sistem ini, polimer pada matriks akan mengalami erosi atau
pengikisan karena terbentuk ikatan labil akibat reaksi yang terjadi secara
hidrolisis maupun enzimatis. Seiring dengan terkikisnya polimer, maka obat
akan dilepaskan ke dalam medium di sekitarnya.
2.4.

Formulasi sediaan yang dibuat dengan sustaned release

2.4.1. Formulasi Sediaan Sustaned release (Lepas Lambat)


Tujuan formulasi sediaan lepas lambat adalah melepaskan obat secara
cepat untuk dosis awalnya kemudian diikuti oleh pelepasan lambat dari dosis
berikutnya. Untuk formulasi sediaan lepas lambat digunakan suatu barrier kimia
atau fisika untuk mendapatkan pelepasan yang lambat dari dosis maintenance.
Diantaranya

adalah

dengan

penyalutan,

matrik

lemak

atau

plastik,

mikroenkapsulasi, ikatan kimia dengan resin penukar ion, dan sistem pompa
osmotik (Collett & Moreton, 2002).
Aspek - aspek pembuatan
Beberapa aspek yang harus dikaji dalam pembuatan tablet lepas lambat antara
lain:
a. Aspek farmakodinamik
Tujuan

utama

pengembangan

sediaan

lepas

lambat

adalah

untuk

mempertahankan konsentrasi zat aktif dalam darah pada konsentrasi efektif.


b. Aspek biofarmasi
Informasi sifat biofarmasi zat aktif merupakan hal penting dalam
pengembangan sediaan lepas lambat. Aspek biofarmasi meliputi:

Lokasi utama di mana obat diabsorpsi


Kecepatan absorpsi
Waktu paruh eliminasi obat,
Apakah absorpsi non-linier dikarenakan penjenuhan absorpsi obat, first pass

effects, atau yang lain


Apakah eliminasi yang tidak linier disebabkan penjenuhan metabolisme,
Inaktivasi atau metabolisme obat dalam tubuh.
Teknologi yang sering digunakan dalam formulasi tablet lepas lambat

menurut Simon (2001) adalah:


a Sistem matriks
Sistem matriks merupakan sistem yang paling sederhana dan sering
digunakan dalam pembuatan tablet lepas lambat. Bahan aktif didispersikan secara
homogen di dalam pembawa. Bahan pembawa yang sering digunakan dapat

10

digolongkan menjadi bahan pembawa tidak larut air bersifat lilin/wax dan
hidrofilik pembuatan gel. Campuran tersebut kemudian dicetak menjadi tablet.
b

Penyalutan
Teknologi penyalutan sering digunakan pada bahan aktif berbentuk serbuk,

pellet mengandung bahan aktif atau tablet. Lapisan penyalutan ini berfungsi
mengendalikan ketersediaan bahan aktif dalam bentuk larutan. Penyalutan serbuk
bahan aktif dapat dilakukan dengan metode mikroenkapsulasi,

antara lain

menggunakan teknik koaservasi atau (pemisahan fase) dengan polimer larut air
atau teknik polimerisasi pada antar permukaan antara larutan bahan aktif dalam
pelarut organik dan larutan monomer dalam pelarut air.
c

Pompa osmotis
Penyalut

tablet

yang

mengandung

bahan

aktif

dengan

membran

semipermeabel. Membran ini dapat dilalui hanya oleh molekul-molekul air tetapi
tidak oleh bahan aktif terlarut. Membran tersebut dilubangi dengan Bor laser.
Melalui lubang inilah larutan bahan aktif didorong keluar dari tablet bersalut oleh
tekanan osmosa yang berasal dari bahan aktif osmosis.
2.4.2. Jenis sediaan Sustaned release
Tablet Matriks
Sistem matriks telah lama dipergunakan untuk membuat sediaan lepas
lambat karena sistem matriks dipertimbangkan sebagai metode yang sederhana
dan relatif tidak mahal. (Sumber: Wicaksono, Y., E. Hendrardi, Radjaram, A.,
Seminar Nasional MIPA 2005, 24-26 November 2005)
Dalam sistem matriks, obat dicampur dengan polimer dalam keadaan
kering. Kecepatan pelepasan obat ditentukan oleh jenis dan konsentrasi polimer
yang digunakan. Konsep sistem matriks terutama sesuai untuk obat-obat dosis
rendah. Eksipien bersifat hidrofilik maupun hidrofobik dapat ditambahkan untuk
mempengaruhi profil pelepasan obat melalui cara difusi atau erosi. Contoh
polimer yang digunakan dalam sistem matriks misalnya Eudragit . Konsentrasi
yang biasa digunakan adalah antara 10-50%.
Zat aktif yang mudah larut lebih sulit dibuat dalam bentuk tablet sustained
release matrics dibandingkan zat aktif yang sedikit larut karena prinsip sistem
lepas lambat secara luas adalah efek tahan air.

11

Matriks adalah zat pembawa padat yang di dalamnya obat tercampur


secara merata (Shargel et al., 2005). Suatu matriks dapat dibentuk secara
sederhana dengan mengempa atau menyatukan obat dan bahan matriks bersama
sama. Umumnya, obat ada dalam persen yang lebih kecil agar matriks
memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap air dan obat berdifusi keluar
secara lambat (Sulaiman, 2007).
Tablet sistem matriks dapat dibuat dengan :
Kempa langsung, dengan Eudragit S 100 dan Eudragit RS PO.
Granulasi basah melalui dispesi polimer dalam air. Polimer yang dapat
digunakan misalnya Eudragit L 30 D-55 dan Eudragit NE 30 D.
Metode granulasi basah digunakan untuk zat aktif dosis tinggi dan yang larut
cepat dalam air. Pelepasan zat aktif dari tablet matriks dalam cairan lambung
mula-mula terjadi melalui difusi melalui pori, dimana secara bertahap tablet tererosi (terkikis) dan selanjutnya hancur secara perlahan-lahan. Faktor yang
mempengaruhi kecepatan pelepasan obat adalah ukuran partikel, dosis, kelarutan
obat, jenis dan konsentrasi matriks, porositas dan perilaku penghancuran tablet.
Terdapat 3 golongan bahan penahan yang digunakan untuk formulasi tablet
dengan matriks (Lachman et al., 1994):

a. Matriks tidak larut, inert Polimer inert yang tidak larut seperti polietilen,
polivinil klorida, etil selulosa dan kopolimer akrilat telah banyak digunakan
sebagai bahan dasar dalam pembuatan tablet lepas lambat. Tablet yang dibuat dari
bahan ini dirancang untuk tetap utuh dan tidak pecah dalam saluran cerna.
b. Matriks tidak larut tetapi dapat terkikis Matriks jenis ini mengontrol pelepasan
obat melalui difusi pori dan erosi. Bahan-bahan yang termasuk dalam golongan
ini adalah asam stearat, stearil alkohol, malam carnauba, dan polietilen glikol.
c. Matriks hidrofilik Polimer hidrofilik selulosa biasanya digunakan sebagai bahan
pengisi berdasarkan sistem matriks yang ditablet. Efektivitas dari system matriks
hidrofilik ini didasarkan pada proses hidrasi dari polimer selulosa; pembentukan
gel pada permukaan polimer; erosi tablet; dan pelepasan obat yang
berkesinambungan.

12

Keuntungan sistem matriks hidrofilik adalah sebagai berikut: sederhana,


relatif murah dan aman, mampu memuat dosis dalam jumlah yang besar (Collett
and Moreton, 2002). Matriks yang sering digunakan dalam sediaan lepas lambat
salah satunya Na CMC.
Disolusi
Pelarutan merupakan proses dimana suatu bahan kimia atau obat menjadi
terlarut dalam suatu pelarut. Dalam sistem biologi pelarutan obat dalam media
aqueous merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi sistemik. Laju
pelarutan obat dengan kelarutan dalam air sangat kecil dari bentuk sediaan padat
yang utuh atau terdisintegrasi dalam saluran cerna sering mengendalikan laju
absorbsi sistemik obat (Shargel et al., 2005).

Disolusi dikatakan sebagai hilangnya kohesi suatu padatan karena aksi dari
cairan yang menghasilkan suatu dispersi homogen bentuk ion (dispersi molekuler)
sedangkan kecepatan pelarutan atau laju pelarutan adalah kecepatan melarutnya
zat kimia atau senyawa obat ke dalam medium tertentu dari suatu padatan
(Wagner, 197; Martin et al., 1993). Proses disolusi obat dari suatu matrik
ditunjukkan pada gambar 2. Secara keseluruhan kecepatan disolusi dapat
digambarkan oleh persamaan Noyes- Whitney yang mirip dengan hukum difusi
Fick (Shargel et al., 2005). Optimasi Model Simplex Lattice Design Optimasi
adalah suatu metode atau desain eksperimental untuk memudahkan dalam

13

penyusunan dan interpretesi data secara matematis. Simplex Lattice Design


merupakan suatu tehnik untuk memprediksi profil sifat campuran bahan. Profil
tersebut digunakan untuk memprediksi perbandingan komposisi campuran bahan
yang memberikan sifat optimum. Prosedur SLD meliputi penyiapan variasi
kombinasi bahan tambahan yang akan dioptimasi. Hasil kombinasi formula SLD
dapat digunakan untuk menetapkan respon yang optimal dan variasi kombinasi
bahan tambahan, sehingga dapat digunakan untuk memproduksi suatu sediaan
yang memenuhi syarat (Bolton, 1997). Suatu formula merupakan campuran yang
terdiri dari beberapa komponen. Setiap perubahan fraksi dari salah satu komponen
dari campuran akan merubah sedikitnya satu variabel atau bahkan lebih fraksi
komponen lain.
Sediaan partikel ganda (multiparticulate dosage form)
Sediaan partikel ganda (multiparticulate dosage form) yaitu sediaan lepas
lambat yang bahan aktifnya terbagi ke dalam banyak satuan individu, yang
disebut sub-unit. Sepanjang obat yang tidak terlarut masih ada dalam inti, maka
pelepasan obat akan berlangsung pada kecepatan tetap, mengikuti reaksi orde 0.
Setelah seluruh obat terlarut, maka kecepatan pelepasan berubah ke orde 1.
Keuntungan sediaan multipartikel adalah dapat mempertahankan ketersediaan
hayati dan pelepasan obat sesuai yang diinginkan (mikroenkapsulasi merupakan
proses di mana partikelpartikel kecil atau tetesan-tetesan diselimuti oleh salut
homogen (mikrokapsul) atau dengan matrik polimer (mikrofer). Bahan penyalut
yang digunakan misalnya polimer golongan metakrilat: Eudragit NE 30 D,
Eudragit RL 30 D, Eudragit RS 30 D.

Persyaratan khusus tablet lepas lambat sistem multipartikel

Memerlukan pengaturan yang teliti tentang parameter fisikokimia dari bahan

inti, formulasi salut dan eksipien untuk tablet.


Salut film harus cukup elastis terhadap gaya kompresi.
Eksipien yang ditambahkan untuk pencetakan tablet

harus

punya

kompresibilitas tinggi dan harus mampu mengisi antar-ruang antara partikel-

14

partikel dalam masa tablet dan mempertahankan bagian-bagian yang


menyebabkan penggabungan salut.
2.4.3 Bahan Polimer

Beberapa polimer untuk tablet lepas lambat yang


umum digunakan adalah sebagai berikut:
1. Eudragit
Sinonim
: Polymeric methacrylates,
Kegunaan : Pembentuk film; pengikat dan pelincir
dalam tablet.
Aplikasi
:
Eudragit secara umum digunakan
dalam formulasi tablet sebagai bahan
salut film. Karakteristik kelarutan dan
salut film yang terbentuk tergantung dari
jenis
polimer
yang
digunakan.
penggunaan
Eudragit
kering
untuk
mengontrol pelepasan zat aktif pada
tablet matriks adalah sekitar 5-20%.
Sedangkan pada metode kempa langsung
sekitar 10-50%.
Jenis
:
-Eudragit E digunakan untuk
membentuk film tipis; larut dalam cairan
lambung pH < 5. Jenis polimer lain
memiliki kelarutan pada pH berbeda
seperti Eudragit L 100 larut > pH 6,
Eudragit S 100 larut > pH 7
-Eudragit RL, RS, dan NE 30 D digunakan untuk salut
film sediaan lepas lambat tidak larut air.
Eudragit RL lebih permeabel dibanding
Eudragit RS, dan pencampuran keduanya
menghasilkan permeabilitas berbeda.
-Eudragit L 30 D-55 digunakan dalam salut film
enterik untuk sediaan tablet. Salut ini
resisten terhadap cairan lambung tetapi

15

larut > pH 5,5. Eudragit L 100-55


merupakan pilihan lain dari Eudragit L 30
D-55. umumnya berbentuk serbuk tabur.
-Eastacryl 30D, Kollicoat MAE 30 D, dan Kollicoat MAE
30 DP, merupakan dispersi aqueous dari
methacrylic acid atau ethyl acrylate
copolymers. Juga dapat digunakan dalam
salut enterik untuk sediaan tablet.
(Sumber: HOPE, 2nd ed., 362-370,HOPE 5th ed 553,
others information available at:
2. Carnauba Wax
Sinonim
: Brazil wax; caranda wax.
Kegunaan : Penyalut
Aplikasi
: Carnauba wax (10-50% w/w) digunakan
sebagai bahan tunggal atau kombinasi
dengan HPC, alginat atau gelatin-pektin,
Eudragit,
dan
steril-alkohol
dalam
formulasi sediaan padat lepas lambat.
(Sumber: HOPE, 2nd ed., 352, HOPE 5th ed 809)
3. Hydroxypropylcellulose
Sinonim : Cellulose, hydroxypropyl ether; Methocel;
HPC; oxypropylatecellulose.
Kegunaan : Penyalut; emulsifier; stabilizing agent;
suspending agent; pengikat dalam tablet;
peningkat viskositas.
Aplikasi
: Konsentrasi hydroxypropyl cellulose 26% w/w digunakan sebagai pengikat
dalam
pembuatan
tablet
metode
granulasi basah atau granulasi kering
atau
metode
kempa
langsung.
Konsentrasi hydroxypropyl cellulose 1535% w/w digunakan untuk pembuatan
tablet lepas lambat.

16

(Sumber: HOPE, 2nd ed., 223, HOPE 5th ed 333, 336,


342,348, 352)
Mekanisme Pelepasan obat Terkendali (controlled drug release) Menggunakan
polimer
Delayed Dissolution
Polimer bekerja dengan menunda disolusi obat sehingga memperlambat kontak
obat dengan lingkungan berair. Mekanisme ini diperoleh dengan menggunakan
polimer penyalut atau matrix yang terlarut pada laju yang lebih rendah daripada
obat

Diffusion Controlled
Difusi molekul obat di dalam larutan air dihambat oleh matriks polimer tidak larut
(insoluble polymer matrix).Mekanisme ini terjadi pada sistem yang menggunakan
polimer sambung-silang (crosslinked) hidrogel sebagai penghalang difusi.
Penghalang difusi menurun dengan mengembangnya hidrogel terbentuk
kekosongan dalam struktur gel.
Hidrogel ini memiliki keuntungan bioadhesive dalam sal.cerna pada periode
tertentu.

Drug Solution Flow Control


Perangkat pada sistem ini dimana pengendalian aliran larutan obat menggunakan
potensial osmotik gradien yang melewati suatu polimer penghalang yang bersifat
semipermeable yang membangkitkan tekanan. Tekanan diperoleh dari aliran

17

larutan obat keluar dari perangkat sistem.Kecepatan aliran dikendalikan dengan


adanya pori-pori dalam skala mikrometer.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Sustained release merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk
melepaskan obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap sehingga
pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat. Tujuan utama dari sediaan
lepas terkendali adalah untuk mencapai suatu efek terapetik yang diperpanjang
disamping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang disebabkan
oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Long acting menyatakan durasi kerja obat
yang relatif lama tanpa menjelaskan durasi pelepasan bahan aktif ari bentuk
sediaannya. Keuntungan sediaan sustained release ini antara lain sediaan tersebut

18

dapat dikonsumsi dengan tidak begitu sering dibandingkan sediaan yang


diformulasikan untuk lepas segera dengan komposisi obat yang sama dan sediaan
ini dapat lebih terjaga secara terus-menerus dalam aliran darah. Tablet sustained
relesase diformulasikan di mana bahan-bahan aktif dilingkupi dengan lapisan
matriks tak larut sehingga proses pelarutan bahan obat terjadi melalui suatu
lubang pada matriks. Pada beberapa formulasi, matriks dibuat mengembang
menjadi bentuk gel sehingga obat terlebih dahulu akan larut pada matriks
kemudian keluar melalui lapisan matriks terluar. Untuk mencapai fungsi
pelepasan obat lepas lambat, sediaan sustained release memerlukan bahan-bahan
tambahan sebagai penunjang aksi mekanisnya. Bahan-bahan tersebut antara lain
Hidroksi

Propil

Polymethacrylates,

Metil

Selulosa

Hydroxy

Ethyl

(HPMC),

Asam

Celullosa

(HEC),

Alginat,

Carbomer,

Asam

Hyaluronat

(Hyaluronan), Hidroksipropil Selulosa(HPC), Etil Selulosa (Ethylcellulose), dan


sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Ansel C Howard, 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi . Jakarta: UI Press.


DepKes RI-DirJen POM, Farmakope Indonesia, Edisi IV, DepKes, Jakarta,
1995, 6.
Dosage Forms: Tablet, Vol. 3, 2 nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, 1989,
150, 156-162.

19

IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences (IOSRJPBS) ISSN: 22783008 Volume 2, Issue 5 (Sep-Oct. 2012), PP 17-23 www.iosrjournals.org
Lieberman, H.A., L. Lachman and J. B. Schwartz, Pharmaceutical Dosage
Forms: Tablet, Vol. 1, 2 nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, 1989, 181190.
Lieberman, H.A., L. Lachman and J. B. Schwartz (Editor), Pharmaceutical
Powerpoint Tablet Lepas Lambat Dr. Heni Rachmawati, Phd.
Makara, Kesehatan, Vol. 15, No. 1, Juni 2011: 15-20
Wade, Ainley and Paul J. Weller (Editor), The Handbook of Pharmaceutical
Excipients 2nd edition, The Pharmaceutical Press, London, 1994, 223, 352, 362370.
Welling P.G., 1997. Pharmacokinetics: Processes, Mathematics, and Applications.
2nd edition,Washington DC. p. 83
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/54929416
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25886/3/Chapter%20II.pdf.
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/7206170176.pdf

20