Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH BIOFARMASI

Biofarmasi Obat yang Diberikan Melalui Sublingual

Disusun Oleh : Demia Wahyuni Rahayu


Lia Faridatul Azkia
Pratiwi Hoerunnisa
Risma Nurjanah
Sari Safitri
Siti Maryam
Siti Sarah Mutmainah

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GARUT
2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Biofarmasi Obat
yang Diberikan Melalui Sublingual tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Kami ucapkan banyak terimakasih kepada pihak - pihak yang telah ikut
andil dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk penulisan makalah berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat adanya.

Penulis,
Garut, Maret 2016

BIOAVAIBILITAS (BIOEKUIVALENSI) PERMBERIAN OBAT SECARA


SUBLINGUAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Biofarmasetika adalah pengkajian faktor-faktor fisiologis dan farmasetik

yang mempengaruhi pelepasan obat dan absorbansi dari bentuk sediaan. Sifat-sifat
fisika kimia dari obat dan bahan-bahan penambah menetapkan laju pelepasan obat
dari bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati membran-membran
biologis, sedangkan fisiologis dan kenyataan biokimia menentukan nasib obat
dalam tubuh.
Bioavailabilitas suatu obat mempengaruhi daya terapetik, aktivitas klinik,
dan aktivitas toksik obat, maka biofarmasetika menjadi sangat penting.
Biofarmasetika bertujuan mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi
sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Biofarmasi sediaan obat yang diberikan secara sublingual perlu dipelajari
agar dapat mengetahui proses pelepasan obat melalui penggunaan sublingual.
Sediaan sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet dibawah lidah
sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut agar
menghasilkan ketersediaan obat yang cepat seperti tablet nitrogliserin.

B.

Rumusan Masalah

1.

Bagaimana anatomi dan fisiologi sublingual?

2.

Bagaimana pembuluh darah yang melewati sublingual?

3.

Bagaimana komponen dan karakteristik sublingual?

4.

Apakah faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetik obat pada


pemberian secara sublingual?

5.

Bagaimana evaluasi biofarmasetik sediaan sublingual?

C.

Tujuan

1.

Memahami anatomi dan fisiologi sublingual

2.

Mengetahui pembuluh darah yang melewati sublingual

3.

Mengetahui komponen dan karakteristik sublingual

4.

Mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetik obat


pada pemberian secara sublingual

5.

Mengetahui evaluasi biofarmasetik sediaan subligual

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Biofarmasetika Obat Sublingual


Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari hubungan sifat fisikokimia
formulasi obat terhadap bioavailabilitas obat.Bioavailabilitas menyatakan
kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik.Biofarmasetika
bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik
agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Faktor-faktor Farmasetik yang mempengaruhi Bioavailabilitas Obat:
1.

Disintegrasi
Proses disintergasi tidak menggambarkan pelarutan sempurna tablet atau

obat. Disintergasi yang sempurna ditakrifkan oleh USP XX sebagai keadaan


dimana berbagai residu tablet, kecuali fragmen-fragmen penyalut yang tidak larut,
tinggal dalam saringan penguji sebagai massa yang lunak dan jelas tidak
mempunyai inti yang teraba
2.

Pelarutan (Disolusi)
Merupakan proses di mana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut

dalam suatu pelarut. Suhu media dan kecepatan pengadukkan juga mempengaruhi
laju pelarutan obat. Kenaikkan suhu akan meningkatkan energi kinetik molekul
dan meningkatkan tetapan difusi, D. sebaliknya kenaikan pengadukan dari media
pelarut akan menurunkan tebal stagnant layer, h, mengakibatkan pelarutan obat
lebih cepat.
3.

Sifat fisikokimia obat


Makin besar luas permuakaan obat makin cepat laju pelarutan.Luas

permukaan dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel.Bentuk


geometric partikel juga mempengaruhi luas permukaan dan selama perlarutan
permukaan berubah secara konstan.Obat dalam keadaan anhydrous, maka laju
pelarutan biasanya lebih cepat daripada bentuk garam hidrous.

Obat dalam

bentuk amorf menunjukkan laju pelarutan yang lebih cepat daripada obat dalam
bentuk kristal.

4.

Faktor formulasi yang mempengaruhi pelarutan obat


Misalnya

bahan

penyuspensi,

bahan

pelincir

tablet,

surfaktan,

pembentukan garam dan kompleks, perubahan pH.


Obat adalah semua zat baik dari alam (hewan maupun tumbuhan) atau
kimiawi yang dalam takaran (dosis) yang tepat atau layak dapat menyembuhkan,
meringankan atau mencegah penyakit atau gejala gejalanya. Obat dapat
diberikan pada pasien secara sublingual yaitu dengan cara meletakkan obat di
bawah lidah. Cara sublingual ini, aksi kerja obat lebih cepat yaitu setelah hancur
di bawah lidah maka obat segera mengalami absorbsi ke dalam pembuluh darah.
Cara ini juga mudah dilakukan dan pasien tidak mengalami kesakitan. Pasien
diberitahu untuk tidak menelan obat karena bila ditelan, obat menjadi tidak aktif
oleh adanya proses kimiawi dengan cairan lambung. mencegah obat tidak di telan,
maka pasien diberitahu untuk membiarkan obat tetap di bawah lidah sampai obat
menjadi hancur dan terserap. Obat yang sering diberikan dengan cara ini adalah
nitrogliserin yaitu obat vasodilator yang mempunyai efek vasodilatasi pembuluh
darah. Obat ini banyak diberikan pada pada pasien yang mengalami nyeri dada
akibat angina pectoris. Cara sublingual ini, obat bereaksi dalam satu menit dan
pasien dapat merasakan efeknya dalam waktu tiga menit.
Pemberian obat secara sublingual merupakan pemberian obat yang cara
pemberiannya ditaruh di bawah lidah. Hanya untuk obat yang bersifat
lipofil.Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena
pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Orang tersebut tidak
boleh minum atau makan apapun sampai obat itu hilang.
Kelebihan:
1. Efek obat akan terasa lebih cepat karena pembuluh darah dibawah lidah
merupakan pusat dari sakit
2. Menghindari kerusakan saluran cerna pada metabolisme di dinding usus serta
hati
3. Tidak diperlukan kemampuan menelan

4. Kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati
dapat dihindari (tidak lewat vena porta).
Kekurangan:
1. Absorbsi tidak adekuat,
2. Mencegah pasien menelan
3.Kondisi anatomis bawah lidah yang dapat mengakibatkan resiko cepat
hilangnya zat aktif sebagai akibat sekeresi dan mobilisasi saliva.
B. Anatomi dan Fisiologi Sublingual
Kelenjar ludah terdiri atas tiga pasang sebagai berikut:
1. Kelenjar sublingual adalah kelenjar saliva yang paling kecil, terletak di bawah
lidah bagian depan.
2. Kelenjar submandibular terletak di belakang kelenjar sublingual dan lebih
dalam.
3. Kelenjar parotid adalah kelenjar saliva paling besar dan terletak di bagian atas
mulut depan telinga.
C. Pembuluh Darah yang Terdapat dalam Sublingual
Arteri carotid internal
Arteri ini tidak memiliki cabang pada leher
Arteri carotid eksternal
Arteri ini bercabang pada leher terhadap sudut mandibular. Ujungnya menyilang
posterior belly otot di gastric dan otot stilohioid. Cabang-cabangnya menyilang
muka dan kulit kepala. Arteri carotid eksternal memiliki cabang salah satunya
adalah arteri lingual:
Arteri lingual

Arteri lingual muncul diatas level tulang hyoid. Berjalan kedalam otot
hypoglossus dan menembus dasar lidah. Arteri ini berakhir pada ujung lidah dan
memiliki 3 cabang yaitu:
a.

Arteri sublingual

Mensuplai dasar mulut, kelenjar sub lingual otot maylohvoid dan gingiyal lingual
b.

Arteri dorsal lingual

Mensuplai dorsum lidah, tonsil, palatum lunak danepiklottis


c.

Arteri deep lingual

Mensuplai ujung lidah sampai ke permukaan inverior


D. Komponen dan Karakteristik Sublingual
Contoh Tablet Sublingual dan Bukal
Tablet bukal dan sublingual pemberiannya hanya terbatas pada gliseril trinitrat,
nitrogliserin dan hormon - hormon steroid.
1.

Nitrogliserin

Sediaan nitrogliserin sublingual dan bukal dapat mengurangi serangan angina


pada penderita iskemia jantung. Pemberian 0,3 0,4 mg melepaskan rasa sakit
sekitar 75% dalam 3 menit, 15% lainnya lepas dari sakit dalam waktu 5 15
menit. Apabila rasa sakit bertahan melebihi 20 30 menit setelah penggunaan dua
atau tiga tablet nitrogliserin berarti terjadi gejala koroner akut dan pasien diminta
untuk mencari bantuan darurat.
Efek samping mencakup hipotensi postural yang berhubungan dengan gejala
sistem saraf pusat, refleks takikardi, sakit kepala, dan wajah memerah, dan mual
pada waktu tertentu.
E. Berbagai Faktor yang Mempengaruhi Proses Biofarmasetik Obat
pada Pemberian Sublingual

Sifat Fisika : daya larut obat dalam air/lemak.

Sifat Kimiawi : asam, basa, garam, ester, garam kompleks, pH, pKa.

Toksisitas : dosis obat berbanding terbalik dengan toksisitasnya.

F. Evaluasi Biofarmasetik Sediaan Sublingual


Dalam membuat tablet sublingual dan bukal ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
1. Sifat dan Kualitas
Ciri ciri fisik tablet sublingual dan bukal adalah datar atau oval, dan keras.
Bentuk tersebut ditentukan oleh punch dan die yang digunakan untuk
mengkompresi (menekan) tablet. Untuk menghasilkan tablet yang datar,
makapunch-nya jangan terlalu cembung.
Adapun ketebalan tablet dipengaruhi oleh jumlah obat yang dapat diisikan ke
dalam cetakan dan tekanan yang diberikan pada saat dilakukan kompresi.
2. Berat Tablet
Berat tablet ditentukan oleh jumlah bahan yang diisikan ke dalam cetakan yang
akan ditekan. Volume bahan (granul) harus disesuaikan dengan beberapa tablet
yang telah lebih dulu dicetak supaya tercapai berat tablet yang diharapkan.
Penyesuaian diperlukan, karena formula tablet tergantung pada berat tablet yang
akan dibuat.
Sebagai contoh, jika tablet harus mengandung 10 mg bahan obat dan bila yang
akan diproduksi 10.000 tablet, maka diperlukan 100 gr dari obat tersebut dalam
formula. Setelah penambahan bahan tambahan, formulanya mungkin meningkat
menjadi 1000 gr. Ini berarti tiap tablet beratnya menjadi 100 mg dengan bahan
obat yang terkandung 10 mg. Jadi, obat yang diisi ke dalam cetakan harus
disesuaikan supaya dapat menampung volume granul yang beratnya 100 mg.
3. Kekerasan Tablet

Tablet bukal sengaja dibuat keras. Hal ini dimaksudkan agar obat yang disisipkan
di pipi larut perlahan lahan. Dalam proses kompresi, besarnya tekanan yang
biasa digunakan adalah lebih kecil dari 3000 dan lebih besar dari 40.000 pound.
Jadi, untuk membuat tablet bukal yang keras tekanan yang dibutuhkan juga besar.
Pada saat ini banyak alat yang bisa digunakan sebagai tester pengukur kekerasan
tablet, diantaranya Pfizer tablet hardness tester, HT500 Hardness Tester, dan
Friabilator.
4. Daya Hancur Tablet
Semua tablet dalam USP harus melalui pengujian daya hancur secara resmi yang
dilaksanakan in vitro dengan alat uji khusus. Alat ini terdiri dari rak keranjang
yang dipasang berisi 6 pipa gelas yang ujungnya terbuka, diikat secara vertikal di
atas latarbelakang dari kawat stainless yang berupa ayakan dengan ukuran mesh
nomor 10.Selama waktu pengujian, tablet diletakkan pada pipa terbuka dalam
keranjang tadi, dengan memakai mesin, keranjang diturun-naikkan dalam cairan
pencelup dengan frekuensi 29 32 kali turun naik per menit.Layar kawat
dipertahankan selalu berada di bawah permukaan cairan. Untuk tablet bukal dan
sublingual, meggunakan air (cairan pencelup) yang dijaga pada temperatur 37oC,
kecuali bila ditentukan ada cairan lain dalam masing masing monogramnya.
Tablet bukal harus melebur dalam waktu 4 jam dan tablet sublingual biasanya 30
menit (Ansel, 1989).
5. Pengemasan dan Penyimpanan
Pada umumnya tablet sangat baik disimpan dalam wadah yang tertutup rapat di
tempat dengan kelembaban nisbi yang rendah, serta terlindung dari temperatur
tinggi. Tablet khusus yang cenderung hancur bila kena lembab dapat disertai
pengering dalam kemasannya. Tablet yang dirusak oleh cahaya disimpan dalam
wadah yang dapat menahan masuknya cahaya.
Tablet sublingual yang mengandung nitrogliserin (Tablet Nitrogliserin) memiliki
peraturan tersendiri dalam pengemasannya, yaitu :

a.

Semua tablet nitrogliserin harus dikemas dalam wadah gelas dengan tutup

logam yang sesuai dan dapat diputar.


b.

Tiap wadah tidak boleh berisi lebih dari 100 tablet.

c.

Tablet nitrogliserin harus disalurkan dalam wadah aslinya dan pada labelnya

ada tanda peringatan untuk mencegah hilangnya potensi, jagalah tablet ini dalam
wadah aslinya dan segera tutup kembali wadahnya setelah pemakaian.
d.

Semua tablet nitrogliserin harus disimpan dalam ruangan dengan temperatur

yang diatur antara 59o - 86 oF.


Pelaksanaan peraturan ini membantu memelihara keseragaman standar kandungan
tablet nitrogliserin supaya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimanapun juga,
nitrogliserin merupakan cairan yang mudah menguap dari wadahnya bila terbuka
dan khususnya apabila wadah tadi tidak tertutup rapat.

DAFTAR PUSTAKA

Shargel, Leon. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan- Leon Stargel


dan Andrew B. C. Yu: penerjemah: Dr. Fasich., Apt, Dra. Siti Sjamsiah., Apt.
Surabaya:Airlangga University Press.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi ke-4. Jakarta: UI
press.
Lachman, L., Lieberman H. A., Kanig, J. L., 1994., Teori dan Praktek Farmasi
Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, edisi III, Jakarta: Universitas Indonesia.
Sukandar, E. Y., dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI