Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring perkembangan zaman dimana masyarakat mulai sadar
akan pentingnya kebutuhan pangan yang harus terpenuhi.
Salah satu faktor yang paling di lirik oleh masyarakat adalah
kebutuhan protein yang dapat dipenuhi oleh protein nabati atau
protein hewani. Dengan demikian Kebutuhan protein setiap
tahun selalu meningkat terutama protein hewani. Salah satu
protein hewani yang paling murah dan terjangkau semua
kalangan adalah telur. Perkembangan peternakan ayam
petelurpun terus berkembang untuk memenuhi permintaan
konsumen. Sudah banyak peternakan ayam petelur di
indonesia, mulai dari peternak rakyat skala kecil sampai
perusahaan komersil. Perkembangan peternakan ayam petelur
komersil tentunya harus didukung oleh penyediaan DOC ayam
petelur.
B. Rumusan Masalah
Salah satu masalah yang dihadapi oleh peternakan ayam
petelur adalah susahnya mendapatkan DOC yang berkualitas
dengan harga terjangkau, hal tersebut karena perusahaan yang
menyediakan DOC ayam petelur masih sangat sedikit, selain itu
perusahaan yang menyediakan DOC ayam petelur tidak
tersebar dengan merata, hanya berada di daerah-daerah
tertentu saja. Biasanya mereka dapat memonopoli harga pasar.
Untuk mendirikan sebuah perusahaan pembibitan ayam petelur
tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit, itulah yang
menjadi penyebab sedikitnya perusahaan pembibitan ayam
petelur.
C. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam usaha pembibitan ayam
petelur ini adalah metode analisis kriteria investasi. Dengan
menghitung NPV, B/C Ratio, IRR, BEP, dan Pay Back Periode.

Page 1

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
A. Nama dan Alamat Perusahaan
Nama perusahaan bibit ayam petelur ini adalah Perusahaan
PTW. PTW merupakan singkatan dari Pray, Train and Work,
berasal dari bahasa inggris yang artinya berdoa, berlatih dan
berkerja. Diharapkan perusahaan bibit ayam petelur ini akan
menjadi perusahaan terkemuka dalam hal kualitas produk dan
pelayanan. Pemilihan nama ini dikarenakan mudah dihapal dan
dibaca baik bagi orang Indonesia maupun bagi orang asing,
seperti orang Inggris, Malaysia, Korea, dan lain-lain. Perusahaan
ini juga diharapkan akan mampu untuk memenuhi kebutuhan
konsumen baik yang ada dalam negeri maupun di luar negeri.
Perusahaan PTW beralamat di Jalan Pelita Perumnas, Kec. Lubuk
Sikaping Kab. Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Tempat ini
dipilih karena Letaknya yang cukup strategis untuk dipasarkan.
B. Visi dan Misi Perusahaan
1. Visi Perusahaan
Visi dari perusahaan PTW adalah ingin menjadikan bibit
ayam petelur sebagai komoditi utama bagi daerah Sumatera
Barat dan dapat mengembangkan produksi bibit ayam
petelur untuk memenuhi permintaan pasar serta membuka
lapangan kerja.
2. Misi Perusahaan
Misi perusahaan PTW adalah menjadi perusahaan bibit ayam
petelur yang menjual bibit ayam petelur dengan kualitas
yang baik dengan harga terjangkau. Selain itu juga
menawarkan pelayanan yang baik seperti menerima pesan
antar sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang
maksimum.
C. Bisnis Yang Digeluti
Perusahaan bergerak di bidang peternakan. Produk yang
ditawarkan berupa bibit ayam petelur. Pemilik melihat adanya
potensi pasar yang cukup besar untuk dikembangkan, resiko
usahapun kecil, terlebih lagi perusahaan yang bergerak dalam
bidang yang sama relatif sedikit. Selain itu tidak membutuhkan
tenaga kerja yang banyak dan tidak memerlukan waktu yang
Page 2

begitu lama untuk setiap kali panen. Cukup dilakukan dengan


manajemen dan alat produksi yang sederhana.
BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
I. Permintaan dan Penawaran
Dalam pembangunan usaha, aspek pasar harus benar-benar
diperhatikan.
Sektor pemasaran sangat memegang peranan penting, termasuk
permintaan dan penawaran yang ada di pasar. Tujuan usaha
adalah untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal,
sedangkan besar kecilnya keuntungan akan diraih tergantung
kepada keberhasilan dalam sektor pemasaran.
Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran
pada peternakan pembibitan ayam petelur komersil adalah :
1. Harga bahan baku (ternak, pakan, dan obat-obatan dan juga
biaya produksi lainnya), semakin tinggi harga bahan baku
maka akan meningkatkan biaya produksi dan akan
mempengaruhi terhadap harga jual DOC.
2. Harga produk utama (DOC Betina).
3. Harga jual produk sampingan (DOC Jantan, kotoran dan ayam
afkir).
4. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan protein,
hal ini akan berpengaruh terhadap permintaan telur
dimasyarakat.
5. Meminimalkan biaya produksi sehingga harga DOC dan ayam
afkir dapat bersaing di pasar.
Dalam penentuan permintaan dan penawaran dapat dilihat dari
perkembangan peternakan ayam petelur komersil di wilayah
pulau Sumatera. Yang kami lihat permintaan DOC untuk ayam
petelur komersil dipulau Sumatera cukup besar. Selain itu hal lain
yang harus diperhatikan dalam permintaan adalah adanya
perusahaan lain yang sejenis, adanya perusahaan lain yang
bergerak di bidang yang sama akan mengurangi permintaan dari
konsumen.

Page 3

II. Target Atau Segmen Pasar Yang Dituju


1) Pedagang Pengumpul

Pedagang pengumpul merupakan pedagang yang langsung


mengambil produksi bibit ayam petelur di Perusahaan PTW
dengan kesepakatan harga tertentu kemudian menjualnya
kembali untuk memperoleh keuntungan. Sebagai produsen
bibit ayam petelur, pedagang pengumpul dijadikan konsumen
bertujuan untuk memudahkan pemasaran hasil produksi bibit
ayam.
2) Masyarakat Setempat
Bagi masyarakat setempat (berada sekitar lokasi peternakan)
yang menginginkan bibit ayam petelur dapat secara langsung
membeli di Perusahaan Bibit Ayam Petelur PTW.
3) Pasar Tradisional
Pasar Tradisional merupakan sentral untuk penjualan hasil
produk. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di
berbagai pasar Tradisional yang ada pada wilayah
pemasaran, penjualan bibit ayam petelur cukup berpeluang.
III. Pangsa Pasar
Pemasaran hasil produksi berupa DOC Jantan dan DOC Betina
akan dipasarkan keseluruh wilayah Sumatera Barat dan
sekitarnya, sedangkan untuk ayam afkir akan dipasarkan di
daerah Kab. Pasaman dan sekitarnya.
Hasil produk utama yaitu DOC betina akan dipasarkan langsung
kepada peternak-peternak ayam petelur komersil, sedangkan
ayam afkir dijual langsung kepada konsumen. Untuk kotoran
akan dijual langsung kepada petani-petani sayuran di daerah
Kab. Pasaman dan sekitarnya.
IV. Strategi Pemasaran
Dalam pemasaran hasil produk kami, perusahaan kami akan
melakukan berbagai cara dalam memasarkan produk, untuk
memenuhi dan mencapai target pemasaran yang telah
ditentukan antara lain dengan cara :
1. Melihat situasi permintaan DOC ayam petelur komersil di
pulau Sumatera cukup prospek dan masih terbatasnya
Page 4

perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan ayam petelur


komersil di Sumatera Barat, maka perusahaan kami berusaha
untuk memenuhi permintaan pasar di Sumatera Barat dan
sekitarnya.

2. Berusaha meningkatkan kualitas genetik DOC agar lebih


tahan terhadap penyakit dan memiliki produktifitas yang
tinggi.
3. Membangun jaringan dengan para peternak ayam petelur
komersil di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya.
4. Memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen agar
konsumen merasa puas dan ada kepercayaan konsumen.
5. Membuat promosi-promosi iklan di berbagai media massa
maupun dari peternak ayam petelur komersil di lapangan.

Page 5

BAB IV
ASPEK TEKNIS
I. Pemilihan Lokasi
Lokasi yang dipilih untuk pembangunan perusahaan peternakan
pembibitan ayam petelur adalah di daerah Kabupaten Pasaman
tepatnya di Kecamatan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Lokasi tersebut sangat strategis karena jauh
dari pemukiman penduduk, dekat dengan akses jalan raya, dan
sarana dan prasarana lainnya yang mendukung.
II. Perkandangan dan Bangunan Pendukung
Perkandangan yang digunakan adalah close house dengan
sistem litter dan terdiri dari tiga buah kandang yaitu kandang
untuk DOC (starter), kandang pullet (grower), dan kandang
produksi (layer). Jarak antar kandang 20 m. Hal tersebut untuk
mengurangi penyebaran penyakit. Untuk kandang fase starter
hanya dibangun satu buah kandang dengan luas 60 m2 (6 m x
10 m) dengan kapasitas 1.000 ekor.
Sedangkan untuk kandang fase grower dan fase produksi
masing-masing dibangun tiga buah kandang dengan jarak antar
kandang 4 m. Untuk luas kandang fase grower 160 m2 (8 m x 20
m) dengan kapasitas 1.000 ekor, dan luas kandang fase produksi
600 m2 (20 m x 30 m) dengan kapasitas 1.000 ekor dilengkapi
dengan sarang (nest).
Selain kandang, bangunan lainnya adalah kantor dengan luas 30
m2, ruangan penetasan 80 m2, mess untuk karyawan tetap 120
m2, gudang pakan 100 m2, dan gudang peralatan 40 m2.
III. Asumsi dan Koefisien Teknis
Untuk asumsi dan koefisien teknis yang digunakan dalam
penyusunan studi kelayakan ini dapat dilihat di tabel berikut:
Tabel 1. Tabel Koefisien Teknis

Page 6

ZOOTEKNIS
Target penjualan DOC
Betina
pembelian DOC PS
Ayam Betina
Pengafkiran ayam
Jumlah ayam afkir
Fase starter
Mortalitas Fase starter
Fase grower
Mortalitas Fase grower
Fase produksi
Mortalitas Fase produksi
Produksi Telur (HDP)
Bulan
ke 1-12 (%)
Jumlah hari rata-rata
Daya tetas
Waktu Penetasan
sex ratio DOC betina
Konsumsi pakan
Fase starter
Fase grower
Fase produksi
Manure

KOEFISIEN
20.000
1.000
90
18
964
2
2
4
1
12
1

SATUAN
ekor/bulan
ekor

%
bulan
ekor/periode produksi
bulan
%/periode
bulan
%/periode
bulan
%/periode

10 50 70 80 90

95 90 90 85 80 75 70

30
85
21
50

hari/bulan
%
hari
%

2.000
100
110
100

gram/periode
gram/ekor/hari
gram/ekor/hari
kg/kandang/bulan

Tabel 2. Tabel Asumsi Harga


No
Asumsi harga
1 DOC Betina PS
DOC Jantan PS
DOC Betina
DOC Jantan
2 Kandang
Ruang Penetasan
3 Peralatan
a. Tempat pakan
b. Tempat minum
c. sekop
d. gerobak
e. egg tray
g. Mesin Tetas
h. mobil pickup

Page 7

Jumlah
2.700
300
20.000
20.000
2.340
80

300
150
6
3
200
5
2

Satuan
ekor
ekor
ekor/bulan
Ekor/bulan
m2
m2
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Unit
Unit

Harga
10.000
5.000
2.500
1.500
500.000
500.000

Satuan
Rp/ekor
Rp/ekor
Rp/ekor
Rp/ekor
Rp/m
Rp/m

200.000
200.000
45.000
1.000.000
20.000
5.000.000
60.000.000

Rp/buah
Rp/buah
Rp/buah
Rp/buah
Rp/buah
Rp/unit
Rp/unit

i. Mobil Box
k. mobil truk

4
5
6

7
8

Culling
Manure
Tenaga kerja
a. anak kandang
b. Manajer
pelengkap
a. Kantor
b. Mess
c. Gudang pakan
Luas lahan keseluruhan

3
2

Unit
Unit

70.000.000
120.000.000

Rp/unit
Rp/unit

264
100

Ekor/periode
Kg/kandang/bulan

50.000
500

Rp/ ekor
Rp/kg

12
1

Orang
Orang

2.000.000
5.000.000

30
120
60

m
m
m
m

1.000.000
3.000.000
150.000
80.000

6.400

Rp/orang/bulan
Rp/orang/bulan
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m

IV. Dinamika Populasi


Tabel 3. Tabel dinamika Populasi per tahun
Tahun
Kandang grower
Kandang layer
Total populasi ayam
Jumlah Produksi Telur
Daya Tetas 85%
DOC FS Betina
DOC FS Jantan
Ayam Afkir

Page 8

2011

2012

973
1940
2913

978
3885
4862,6
65063
5
55636
4
27818
2
27818
2
2891,3
1928
7

975
2905
3880
63885
94360
8
53755
49030
6
26877
24515
8
26877
24515
8
0

2013

2014

1953
3889
5842
65454
6
54420
5
27210
2
27210
2
2891,3
7

2015

1930
1930
63761
5
55087
9
27544
0
27544
0
1928

BAB V
ASPEK KEUANGAN
Proyeksi Kebutuhan Investasi
Tabel 4. Tabel Kebutuhan Investasi
No
Uraian
A PRAOPERASI

1. Perizinan
2. Pembuatan Proposal
3. Feasibility study
Sub Total
B
1
2

Kandang

1
5
1

Paket
Buah
Paket

Harga Satuan

1.000.000
100.000
1.000.000

Jumlah

1.000.000
500.000
1.000.000
2.500.000

2.340

m2

90.000,00

210.600.000,00

300
150
6
3
200
5
2
3
2
1
5

buah
buah
buah

60.000.000,00
30.000.000,00
270.000,00
3.000.000,00
4.000.000,00
25.000.000,00
120.000.000,00
210.000.000,00

unit

200.000,00
200.000,00
45.000,00
1.000.000,00
20.000,00
5.000.000,00
60.000.000,00
70.000.000,00
120.000.000,00
10.000.000,00
5.000.000,00

m
m
m
m

1.000.000,00
3.000.000,00
150.000,00
80.000,00

30.000.000,00
360.000.000,00
9.000.000,00
512.000.000,00
1.848.870.000,
00

ekor
ekor

10.000,00
5.000,00

27.000.000,00
1.500.000,00

gram/ekor/
periode
starter

60.000.000

Peralatan

i. mobil truk
j. Instalasi Listrik
k. Pompa air

Satuan

INVESTASI TETAP

a. Tempat pakan
b. Tempat minum
c. sekop
d. gerobak
e. egg tray
f. Mesin Tetas
g. mobil pickup
h. Mobil Box

Volume

perlengkapan
a. Kantor
b. Mess
c. Gudang pakan
Luas lahan keseluruhan

30
120
60
6.400

buah
buah
unit
unit
unit
unit
unit

Sub Total

240.000.000,00
10.000.000,00
25.000.000,00

MODAL KERJA
5

Ternak
Betina
Jantan
Ransum

2.700
300

Ransum starter

4.000

Page 9

Ransum Grower

100

Ransum Produksi
Tenaga kerja
a. anak kandang
b. Manajer
c. Tenaga Kerja lepas
listrik

110

gram/ekor/
hari
gram/ekor/
hari

12
1
2
1

orang
orang
orang
unit/bulan

4,5

158.165.642

4,5

129.780.675

2.000.000
5.000.000
1.000.000
10.000.000

288.000.000
60.000.000
24.000.000
120.000.000

868.446.316,5
4

Sub Total
Total Kebutuhan

2.719.816.316
,54

Investasi

Investasi awal yang dibutuhkan ditahun pertama dalam peternakan


kami sebesar Rp.2.719.816.316,54. Biaya tersebut terdiri dari
praoperasi, investasi tetap yang akan digunakan untuk membeli
lahan, membangun kandang dan fasilitas pendukungnya, modal
kerja awal untuk pembelian DOC, pakan, obat-obatan dan lainnya.

BAB VI
ANALISIS INVESTASI
Page 10

I. Net Present Value (NPV)


NPV (Net Present Value) adalah salah satu kriteria yang banyak
digunakan untuk menentukan apakah rencana usaha tersebut
layak (feasible) untuk dilaksanakan atau tidak. Perhitungan NPV
adalah menghitung arus pendapatan (net benefit) yang telah
didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital
(SOCC) sebagai discount factor.
Cara perhitungan adalah sebagaberikut:

Dimana: NB
C
I
N

= Net benefit = Benefit Cost


= Biaya investasi + Biaya operasi
= Discount factor
= Tahun (waktu)

Apabila NPV > 0, maka rencana usaha atau proyek tersebut


dikatakan dikatakan feasible (go) untuk dilaksanakan. Tetapi
apabila NPV < 0, maka rencana usaha tersebut dalam keadaan
impas (break even). Dimana jumlah penerimaan sama besarnya
dengan jumlah pengeluaran (TR=TC).
Tabel 7. Tabel Penghitungan NPV
Tahun
Analisi total Cost
s
0

3.100.055.171

1.141.636.933

1.122.387.965

1.122.346.096

1.121.464.201

Page 11

DF
Total Benefit
2.840.634.00
5
1.049.683.43
7
1.297.019.79
1
1.536.747.45
6
1.748.483.37
6

(12%)

PVC

PVB

PV Net
Benefit

3.100.055.17 2.840.634.00
259.421.
1,00
1
5
167
1.019.318.69
0,89
0
937.217.354 -82.101.336
1.033.976.23
0,80 894.760.814
7
139.215.423
1.093.826.48
0,71 798.863.782
5
294.962.703
1.111.192.79
0,64 712.710.774
5
398.482.021

6.525.709.2 7.016.846.8 491.137.64


32
77
4

Jumlah

Dari penghitungan diatas pada suku bunga Bank 12% didapatkan


NPV sebesar 491.137.644. Dari nilai NPV tersebut maka usaha
pembibitan tersebut layak untuk dijalankan karena nilai NPV
lebih besar dari nol (0).
II. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah tingkat kamampuan suatu proyek dalam
mengembalikan modal pinjaman. IRR menunjukan besarnya
tingkat discount rate pada saat NPV sama dengan nol (0). Suatu
usaha dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari nilai
SOCC (Social Opportunity Cost of Capital). IRR didapatkan
dengan mencari tingkat discount factor yang menghasilkan NPV
=0. Untuk mendapatkan nilai NPV = 0 dengan cara mencoba
coba mencari tingkat discount factor yang menghasilkan nilai
NPV positif mendekati nilai nol (NPV 1) serta yang menghasilkan
nilai NPV negative mendekati nol (NPV 2).
Penghitungan IRR dilakukan dengan teknik interpolasi sebagai
berikut :

Dimana :
i1
=
i2
=
NPV1
=
NPV2
=

tingkat discount rate yang menghasilkan NPV1


tingkat discount rate yang menghasilkan NPV2
NPV bernilai positif mendekati nilai nol (0)
NPV bernilai negatif mendekati nilai nol (0)

Tabel 8. Tabel penghitungan IRR


Tahun
Analisi
s
0
1
2
3
4

Total
Cost

DF
(50%
Total Benefit
)

3.100.055.17
1
2.840.634.005
1.141.636.93
3
1.049.683.437
1.122.387.96
5
1.297.019.791
1.122.346.09
6
1.536.747.456
1.121.464.20
1
1.748.483.376

Page 12

PV Net Benefit
PVC

PVB

3.100.055.17 2.840.634.00
1,00
1
5

259.421.
167

0,67 761.091.289 699.788.958 -61.302.331


0,44 498.839.096 576.453.241 77.614.145
0,30 332.546.991 455.332.580 122.785.588
0,20 221.523.793 345.379.432 123.855.640
4.914.056.34 4.917.588.21
0
5
3.531.875

Tahun
Analisi
s

0
1
2
3

Total
Cost

DF
(51%
Total Benefit
)

PVC

PVB

PV Net Benefit
3.100.055.17
3.100.055.17 2.840.634.00
259.421.
1
2.840.634.005 1,00
1
5
167
1.141.636.93
3
1.049.683.437 0,66 756.050.949 695.154.594 -60.896.355
1.122.387.96
5
1.297.019.791 0,44 492.253.833 568.843.380 76.589.547
1.122.346.09
6
1.536.747.456 0,29 325.983.755 446.346.014 120.362.259

1.121.464.20
1
1.748.483.376 0,19 215.713.649 336.320.793 120.607.144
4.890.057.35 4.887.298.78
8
6
-2.758.572

Dari tabel diatas didapatkan


i1 = 50%
NPV1
= 3.531.875
i2 = 51%
NPV2
= -2.758.572
Maka nilai IRR = 50% +
3.531.875
.(51-50)
(3.531.875-(-2.758.572)
= 50%+(0,56x1)
= 50,56%
Dari hasil penghitungan IRR diatas didapatkan nilai IRR sebesar
50,56%, nilai IRR tersebut lebih besar dari nilai SOCC (12%)
maka usaha tersebut layak untuk dijalankan.
III. B/C Ratio (Gross B/C dan Net B/C)
A. Net/BC
Net B/C merupakan perbandingan antara total net benefit
positif (+) yang telah didiscount dengan total net benefit
negatif (-) yang telah didiscount. Untuk dapat menghitung
Net B/C, selama umur proyek harus ada arus kas bersih (NB)
yang bernilai negatif.

Dari tabel 6 dapat dihitung nilai Net B/C perusaan pembiitan


ayam petelur ini adalah :
NB

= 139.215.423 + 294.962.703 + 398.482.021 = 832.660.147


p

Page 13

o
s
i
t
i
f
NB
negati
f
= 259.421.167 + 82.101.336 = 341.522.503
Net B/C

832.660
.147
= 2,44
(341.522.503)

Dari perhitungan diatas didapatkan nilai Net B/C = 2,24


artinya perusahaan tersebut layak karena nilai Net B/C > 1
(lebih besar
dari 1).
B. Gross B/C
Gross B/C adalah perbandingan antara total benefit kotor
yang telah di discount dengan total cost yang telah di
discount pula. Cara penghitungannya adalah sebagai berikut :

Berdasarkan data pada Tabel 6 maka dapat dihitung besarnya


Gross B/C :
Gross B/C = 7.016.846.877 = 1,08
6.525.709.232
Nilai gross B/C > 0 berarti rencana usaha feasible untuk
dilaksanakan.
IV. Payback Periode (PBP)
Tabel 9. Tabel PBP (Payback Periode)
Tahun
Analisis
0

Investasi

Total cost

3.100.055.1
71

1.141.636.933

1.122.387.965

3
4

1.122.346.096
1.121.464.201

Page 14

Total
benefit
2.840.634.0
05
1.049.683.4
37
1.297.019.7
91
1.536.747.4
56
1.748.483.3

Benefit
komulatif
2.840.634.005
3.890.317.442
5.187.337.233
6.724.084.689
8.472.568.066

3.100.055.
171

Total

4.507.835.19
5

76
8.472.568.
066

Dalam suatu rencana usaha, lama waktu pengembalian investasi


sering kali dijadikan sebagai salah satu penilaian / indikator
kelayakan investasi. Pay Back Period (PBP) adalah jangka waktu
pengembalian biaya investasi yang merupakan nilai kumulatif
dari arus penerimaan (benefit). Semakin cepat suatu rencana
usaha dapat mengembalikan biaya investasi maka semakin
cepat pula suatu usaha dapat menghasilkan keuntungan. Apabila
suatu usaha yang direncanakan, pengembalian investasinya
lambat maka beban yang harus ditanggung atas sejumlah dana
investasi menjadi berat terutama apabila dana investasi berasal
dari dana pinjaman, karena ada sejumlah beban bunga pinjaman
yang harus dibayarkan.
Pay

back

period

adalah

jangka

waktu

tertentu

yang

menunjukkan adanya arus penerimaan (cash In flows) secara


kumulatif sama dengan jumlah investasi.
Secara matematis PBP dapat dihitung sebagai berikut:

Dari tabel 8 nilai PBP didapat :


Tp-1 = 2-1 = 1
i1

= 3.100.055.171

Bi-1 = 2.840.634.005
Bp = 1.049.683.437
PBP = 1 + 3.100.055.171-2.840.634.005 = 1,25 tahun
Page 15

1.049.683.437
PBP = 1,25 tahun artinya perusahaan ini akan dapat
mengembalikan biaya investasi setelah 1 tahun 3 bulan.
V. Break Event Point (BEP)
Tabel 10. Tabel BEP (Break Event Point)
Tahun
Analisis
0

Investasi
3.100.055.17
1

1
2
3
4
Total

3.100.055.
171

Total cost

1.141.636.9
33
1.122.387.9
65
1.122.346.0
96
1.121.464.2
01
4.507.835.
195

Total
benefit
2.840.634.0
05
1.049.683.4
37
1.297.019.7
91
1.536.747.4
56
1.748.483.3
76
8.472.568.
066

Komulatif
Cost
3.100.055.1
71
4.241.692.1
05
5.364.080.0
70
6.486.426.1
66
7.607.890.3
67

Benefit
komulatif
2.840.634.0
05
3.890.317.4
42
5.187.337.2
33
6.724.084.6
89
8.472.568.0
66

Selain pay back period yang perlu diketahui dalam penyusunan


studi kelayakan adalah break even point (BEP). Break even point
(titik impas) adalah suatu titik keseimbangan dimana total
benefit sama besarnya dengan total pengeluaran, Penghitungan
BEP dalam suatu studi kelayakan bisnis bertujuan untuk
menentukan berapa lama waktu yang diperlukan proyek/usaha
untuk dapat menutup seluruh biaya. Pada tahap awal kita harus
menentukan pada tahun ke berapa total penerimaan (benefit
kumulatif) mulai dapat menutup total biaya (biaya kumulatif).
Baru kemudian melalui teknik interpolasi dicari tepatnya waktu
saat posisi TB = TC. Dengan menggunakan persamaan berikut:
BEP = Tb-1 Ci- Bi-1
Bp

Dimana :
Tb-1

= Tahun sebelum terdapat BEP

Ci

= Jumlah biaya

Bi-1 = Jumlah Benefit sebelum BEP


Bb

= Jumlah Benefit pada BEP berada

Maka :
Page 16

Tb-1
Ci
Bi-1
Bb

=
=
=
=

4-1 = 3
7.607.890.367
6.724.084.689
8.472.568.066

BEP

= 3 + 7.607.890.367-6.724.084.689 = 3,10
8.472.568.066

BEP = 3,10 artinya perusahaan tersebut dapat menutupi


seluruh pengeluaran setelah 3 tahun 1 bulan 6 hari.

BAB VII
ASPEK LINGKUNGAN
I. Pendugaan Dampak Lingkungan
Setiap sesuatu pasti mempunyai dampak, baik itu dampak positif
maupun dampak negatif. Tidak terkecuali dalam usaha
peternakan. Dalam usaha pembibitan ayam petelur komersil ini
mempunyai dampak positif dan negatif bagi lingkungan.
Dampak positif dari usaha pembibitan ayam petelur komersil
adalah :
Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar
Menambah PAD (Pendapatan Asli daerah)
Meningkatkan pembangunan masyarakat
Sedangkan dampak negatifnya adalah :
Polusi lingkungan (polusi udara dan air)
Timbulnya bibit penyakit (lalat)
II. Strategi Mengatasi Dampak Lingkungan
Dari permasalahan diatas perlu dikaji lebih dalam agar adanya
usaha membawa dampak positif yang sebesar-besarnya dan
dampak negatif sekecil mungkin bagi masyarakat. Untuk itu
Page 17

diperlukan pengolahan limbah agar limbah yang dihasilkan tidak


mencemari lingkungan, salah satu cara yang dapat dilakukan
adalah dengan membuat pengolahan limbah untuk mengolah
kotoran menjadi pupuk kandang yang dapat bermanfaat atau
langsung di jual pada petani sayuran. Selain itu perlu
diperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan sekitar kandang
agar tidak menimbulkan bau (polusi udara). Untuk meminimalkan
penyebaran bibit-bibit penyakit dapat dilakukan dengan
penerapan biosecurity yang benar.

BAB VIII
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dari uraian diatas maka kami menyimpulkan bahwa
pembangunan usaha pembibitan ayam petelur komersil di
daerah Sumatera Barat sangat menjanjikan. Dari proyeksi yang
kami lakukan, perusahaan yang akan kami bangun sangat layak
untuk dilaksanakan, namun dalam pelaksanaannya kami sadari
masih banyak kendala yang akan kami hadapi, termasuk biaya
investasi yang cukup besar.

B. Saran
Saran yang kami ajukan untuk pelaksanaan usaha ini adalah :
1. Dalam pemilihan lokasi harus diperhatikan kondisi
masyarakat, bukan hanya dilihat dari manfaat yang akan di
dapat oleh perusahaan, tetapi juga harus memperhatikan
kesejahteraan masyarakat sekitar.
2. Perusahaan harus benar-benar memperhatikan dampak
perusahaan terhadap lingkungan sekitar, jangan sampai
menimbulkan dampak negatif yang tidak seimbang dengan
dampak positif perusahaan.

Page 18

3. Dalam
pelaksanaanya
perusahaan
memperhatikan kondisi pasar.

harus

selalu

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir,SE.MM,2006.Kewirausahaan.Jakarta:PT
Persada

Raja

Grafindo

(http://cutima.blogspot.sg/2013/09/proposal-businessplanning.html diakses tanggal 17 November 2014)


(http://www.slideshare.net/farahdinaalmas/bisnisplankeripiksingkong diakses tanggal 17 November 2014)

Page 19

Page 20