Anda di halaman 1dari 27

Tugas Fisika Statistik

Resume Bab 13

Oleh:
Muhammad Habibie, S.Pd
15726251040

Program Studi Pendidikan Fisika


Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
2016

13-1 TEORI EINSTEIN TENTANG KAPASITAS PANAS


SPESIFIK ZAT PADAT
ASUMSI
Einstein merumuskan Cv secara kuantum dengan asumsi bahwa atom-atom
kristal sebagai vibrator yang bergetar bebas satu sama lain disekitar

kedudukan - setimbangnya. Seakan-akan didalam 1 mol terdapat NA buah atau

yang bebas dan terikat pada titik setimbang tersebut.


atom-atom dari zat padat betul-betul dipertimbangkan sebagai himpunan dari
osilasi semua getaran yang terkuantisasi dengan frekuensi yang sama v
Einstein mengasumsikan bahwa energi osilasi diberikan oleh
j =n j h v
Energi internal U zat padat yang terdiri dari N atom-atom adalah
1
1
U=3 Nk E
+
exp ( E / T )1 2

(13-1)
Di mana suhu einstein E didefinisikan sebagai
hv
E
k
Rata-rata energi atom adalah
U
1
1
= =3 k E
+
N
exp ( E /T ) 1 2

(13-2)

Dan kapasitas panas spesifik pada volume konstan adalah


2
exp ( E / T )

c v =3 R E
2
T
[ exp ( / T ) 1 ]

( )

Ketika T
Ketika T

(13-3)

E , E /T
E

kecil dan c v mendekati nilai Dulong Petit


c v =3 R
, bentuk eksponensial besar, kita bisa mengabaikan 1 pada

denominator, dan
2

c v =3 R E exp (E /T )
T

( )

13-2 TEORI KAPASITAS PANAS SPESIFIK ZAT PADAT


DEBYE
ASUMSI

Menetapkan atom-atom, bukan sebagai osilasi tertutup semua getaran pada


frequensi yang sama,tetapi sebagai sistem osilasi ganda yang memiliki spektrum

frekuensi natural yang berkelanjutan.


Beranggapan bahwa tiap atom sebagai vibrator bergetar dengan frekuensi
yang tidak sama dan ada frekuensi maksimum karena jumlah ragam

frekuensi keseluruhan tidak boleh melebihi 3N.


Frekuensi natural atom kristal akan sama dengan frekuensi gelombang stasioner
pada kristal jika kristal adalah material padat elastis kontinu.
Sebagai contoh yang sederhana dari osilasi ganda, misal, kita mempunyai dua

partikel yang identik, dihubungkan dengan pegas yang identik, seperti pada gambar 13-2.
Jika kedua partikel diberikan kelajuan awal yang sama pada arah yang sama, seperti yang
ditunjukkan panah ke atas, partikel-partikel akan berosilasi pada fase dengan frekuensi
tertentu

v 1 . Jika kecepatan awal sama dan berlawanan, seperti ditunjukkan panah ke

bawah, partikel akan berosilasi diluar fase tetapi dengan frekuensi yang berbeda

v2

.Jika kecepatan awal memiliki nilai yang acak, resultan gerakan adalah superposisi dari
dua osilasi dengan frekuensi

v1

dan

v 2 . Sistem itu dikatakan memiliki frekuensi

natural.
Sekarang, misal jumlah partikel (dan pegas) ditambah. Bukan hal yang hebat untuk
menghitung frekuensi natural ketika jumlahnya kecil, tetapi jika jumlahnya ditingkatkan,
ada banyak persamaan simultan yang harus dipecahkan. Ternyata, bagaimanapun, jika
ada N partikel pada rantai, sistem akan memiliki N frekuensi natural, berapapun nilai N.
Sebuah pegas dengan panjang L terikat pada kedua ujungnya, dapat berosilasi
pada modus steady state dimana panjang gelombang adalah
2L

.
n
Persamaan dasar dari gelombang berjalan yang kelajuan perambatannya adalah c
sama dengan hasil dari frekuensi v dan panjang gelombang
c=v
Oleh karena itu, untuk tiap frekuensi v, jumlah n adalah
2L
n=
v
c

dan
4 L2 2
v
c2
Teori elastisitas mengarahkan pada hasil bahwa frekuensi natural dari gelombang
2

n=

stasioner pada material elastis dalam bentuk kubus dengan sisi panjang L diberikan oleh
persamaan yang sama kecuali nilai n2 yang mungkin adalah
n2=n2x +n2y + n2z
Di mana n x , n y , dan n z adalah bilangan bulat positif yang bisa memiliki nilai 1,2,
3, .... dst.
Untuk menemukan jumlah gelombang pada tiap interval frekuensi, atau pada
spektrum frekuensi, kami melanjutkan dengan cara yang sama seperti pada bagian 12-1
dan gambar 12-1. Biarkan

nx , n y ,

dan

nz

diletakkan pada tiga sumbu yang saling

tegak lurus. Setiap triad dari nilai-nilai menentukan titik pada ruang n, dengan nilai
koresponden n dan v
4
L3 3
v
3
3
c
adalah volume V dari kubus, dan hal itu bisa menunjukkan bahwa terlepas

Tetapi

L3

dari bentuk materialnya, kita bisa mengganti

L3 dengan V. Lalu
V 3
4
v

3
c3

(13-4)
Jumlah total kemungkinan dari gelombang stasioner yang memiliki frekuensi
lebih dari dan termasuk beberapa frekuensi v karena itu
4
1 2

V 3 + 3 v3

3
cl ct

(13-5)
Menurut persamaan teori Debye (13-5) dapat juga diintepretasikan sebagai
deskripsi jumlah osilasi linear yang memiliki frekuensi lebih dari dan termasuk frekuensi
v. Dengan demikian, agar sesuai dengan notasi pada bagian 12-2,
(13-5) harus diganti dengan

pada persamaan

dan

4
1 2
V 3 + 3 v3
(136)
3
cl ct
Jika tidak ada batas atas untuk frekuensi, jumlah total osilasi akan menjadi tidak
=

terhingga. Tetapi kristal yang mengandung N atom merupakan suatu assembly dari 3N
osilasi linear. Oleh karena itu, kami berasumsi bahwa spektrum frekuensi memotong
pada frekuensi maksimum
dengan 3N. Lalu atur

vm

=3 N

sehingga jumlah total osilasi dari osilasi linear sama


dan v =v m ,

4
1 2
V 3 + 3 v 3m
(13-7)
3
cl c t
Harus ada frekuensi maksimum dari gelombang stasioner yang bisa terdapat di
3 N=

zat padat nyata, dapat dilihat sebagai berikut. Untuk satu set gelombang dengan kelajuan
c, frekuensi maksimum

vm

sesuai dengan panjang gelombang minimum

m / n=c /v m

dan persamaan (13-7) bisa ditulis


4 1 /3 V 1 /3
min =
(13-8)
9
N
Tetapi (V/N) adalah rata-rata volume per atom dan akar pangkat tiga dari

( )( )

( V / N )1/ 3 , adalah urutan jarak rata-rata interatomik. Oleh karena itu, struktur dari
kristal nyata (yang mana bukan medium kontinu) mengatur batas untuk panjang
gelombang minimum yang mana dari urutan jarak interatomik, seperti yang akan
diharapkan karena panjang gelombang pendek tidak menyebabkan mode baru gerak
atomik. Hal ini mengikuti persamaan (13-6) dan (13-7) bahwa
3N
= 3 v 3
vm
Jumlah osilasi linear yang memiliki frekuensi antara v dan v + v lalu
9N
= 3 v2 v
vm
Dan jumlah per unit kisaran frekuensi adalah
9N 2
= 3 v
v
vm

Gambar 13-3 adalah grafik dari


dan lebarnya adalah
v / v

(13-9)

(13-10)
v . Hal ini

bertentangan dengan model Einstein, yang mana semua osilasi memiliki frekuensi yang
sama. Luas total dibawah kurva sesuai dengan jumlah total osilasi linear, 3N.

Osilasi tiap frekuensi v merupakan subassembly dari osilasi linear yang semuanya
memiliki frekuensi yang sama, seperti pada model Einstein. Lalu pada persamaan (12-48)
energi dalam U dari subassembly, menggantikan 3N dengan v
9N
h v3
U v= 3
v
v m exp ( hv /kT ) 1
(13-11)
Kami menghilangkan energi titik 0 konstan karena tidak ada pengaruhnya pada kapasitas
panas
Jika assemblynya adalah gas, kita bisa memperbaiki baik itu volume atau suhu
dari wadah, dan masih bisa memperkenalkan jumlah N molekul gas ke dalam wadah.
Tetapi ketika volume dan suhu kristal dispesifikasi, kristal itu sendiri, jadi bisa dikatakan,
menentukan jumlah gelombang yang berbeda, atau fonon, yang setara dengan osilasi
molekul itu sendiri. Sehingga, kristal tidak bisa dianggap sebagai sistem terbuka yang
mana N adalah variabel bebas dan istilah dN tidak muncul dalam persamaan (11-22).
Hal ini setara dengan pengaturan = 0 dan karenanya exp (/kT) = 1. Jumlah partikel
pada level makro antara and + karena itu

=
exp(/kT )1
(13-12)
Menurut prinsip-prinsip mekanika kuantum, energi gelombang (atau fonon) dari
frekuensi v adalah
=hv ,
Di mana h adalah konstanta planck. Tidak seperti osilasi linear frequensi v, yang

1
bisa mempunyai salah satu dari energi ( n j+ hv , di mana
2

nj

= 0, 1, 2, .... dst,

frekuensi gelombang v hanya bisa memiliki energi hv. Sehingga, jika sejumlah besar
energi dikaitkan dengan frekuensi yang diberikan, ini berarti bahwa sejumlah gelombang,
atau fonon, semua energi yang sama, ada di dalam assembly.
Interval energi antara dan + sesuai dengan interval frekuensi antara v
and v + v . Sehingga jumlah fonon dengan frekuensi antara v dan v + dv
v
v=
exp ( hv /kT )1
Di mana v adalah jumlah yang memiliki frekuensi antara v + v + dv
Energi gelombang U v pada interval frekuensi ini adalah
hv v
U v =hv v =
exp ( hv /kT )1
Dan perbandingan dengan persamaan (13-11) menunjukkan bahwa
2
9N
v v
v= 3
v m exp ( hv /kT ) 1
Simbol

persamaan (13-15),

adalah
(13-3)

(13-15)
tidak mewakili hal yang sama pada dua persamaan. Pada

adalah jumlah dari gas yang tidak terbedakan (atau fonon)

yang memiliki frekuensi antara v dan v +


statistik B-E. Pada persamaan (13-9),

, pada sebuah sistem yang mematuhi


adalah jumlah osilasi yang terbedakan

yang memiliki frekuensi pada rentang yang sama, pada sistem yang mematuhi aturan
statistik M-B.
U energi total asembli kini diperoleh dengan menjumlahkan nilai untuk

Uv

untuk semua nilai v dari nol ke vm, dan setelah mengganti jumlah tersebut dengan
integral, kita akan memiliki
vm

9N
hv 3
U= 3
dv
v m 0 exp ( hv /kT )1
(13-16)
Dengan temperatur Debye D diberian oleh
hv
D= m
k

(13-

17)

v m . Berberapa nilai diberikan oleh tabel


dan
D sebanding pemotongan frekuensi
13-1.
Tabel 13-1 Temperatur Debye dari beberapa material
Substance
Lead
Thallium
Mercury
Iodine
Cadmiu

D (K)
88
96
97
106
168

Sodium
Petassium bromide
Silver
Calcium
Sylvine (KCL)
Zinc
Rocksalt (NaCL)
Copper
Aluminium
Iron
Fluorspar (CaF2)
Iron pyrites (FeSg)
Diamond

172
177
215
226
230
235
281
315
398
453
474
645
1860

Untuk lebih muda, kita mengenalkan dimensi quantitas


hv
hvm D
x=
xm=
=
,
kT
kT
T
3 xm
3
T
x dx
U=9 NkT

D 0 exp ( x )1
Persamaan ini berhubungan dengan persamaan (13-1) untuk persamaan energi U sesuai

( )

dngan teori Einstsein. Mempertimbangkan limit temperatur tinggi di mana, x=hv/kT


kecil. Maka

[ exp ( x )1 ] x

dan integral menjadi


xm
x 3m 3D
2
x dx= 3 = 3 D3
0
Ketika pada temperatur tinggi
U=3 NkT , C v =3 R
Ketika suhu rendah
3 4
T 3
U= NkT
5
D

( )
12
T
C= R
( )
5
3

(13-19)

Persamaan (13-19) diketahui sebagai Hukum

Debye. Menurut hukum ini,

kapasitas kalor mendekati nilai nol mutlak menurun dengan pangkat tiga temperatur,
bukan sebagai nilai exponen seperti pada teori einstein. Karena penurunannya kurang
cepat maka nilai melalui suatu percobaan lebih baik. Meskipun teori Debye didasarkan
pada analisis dari gelombang elastis dalam homogen, isotropik, medium yang kontinyu,
nilai-nilai eksperimental spesifik kapasitas panas padatan kristal berada dalam kondisi
sesuai teori Debye pada suhu dibawah

D /50 , atau ketika T / D <0,02. Ketika suhu

bertambah kapasitas panas spesifik bertambah sedikit lebih cepat sebagaimana teori ini
diprediksi. Belakangan ini pecobaan membuktikan bahwa material amorf tidak terlihat

mengikuti hukum
<0,01.

T3

Debye ketika suhu dibawah

D /100 , atau ketika

Akan terlihat dari Gambar. 13-4 secara umum bahwa, ketika T / D

T / D

lebih besar

dari 1 , atau ketika suhu aktual melebihi suhu Debye, sistem berperilaku "klasik" dan C,
hampir sama dengan "klasik" atau "non-kuantum" bernilai 3R.

Ketika suhu sebenarnya kurang dari suhu Debye, efek kuantum menjadi
signifikan dan Cv akan turun medekati ke nol. Jadi untuk tertinggi, dengan suhu Debye
hanya 88 K, "suhu kamar" jauh di atas suhu Debye, sementara berlian, dengan suhu
Debye 1860 K, adalah "kuantum yang solid" bahkan pada suhu kamar.

13-3 RADIASI BENDA HITAM


Untuk mengaplikasikan metode statistika kepada sejumlah energi yang
dipancarkan, kita mempertimbangkan gelombang sendiri sebagai partikel dari suatu
asembli.

Setiap gelombang

dapat dipertimbangkan sebagai partikel yang disebut

photon dan asemblinya disebut photon gas. Karena photon-photon sifatnya tak
terbedakan, dan toidak ada batasan jumlah photon per energi, maka perumusan asembli
mematuhi statistika Bose-Einstein.

Jumlah dari photon-photon pada enclosure tidak bisa dianggap sebagai suatu
variabel yang bebas dan fungsi distribusi B-E tereduksi menjadi bentuk yang sederhana,
yv
v=
exp ( hv /kT )1
Terdapat perbedaan tanda untuk degeneracy (penurunan/merosot) y v . Sebagaimana
ditunjukan pada bagian terdahulu, degeneracy adalah mikrolevel pada asembli dari
gelombang (photons) adalah sama atau seimbang dengan kemungkinan jumlah
dari gelombang stasioner pada interval frekuensi

sampai

yv

v + v . Kita kembali

ke persamaan (13-5)

4 V 3
v
3 C3
adalah jumlah dari gelombang statsioner dengan fekuensi hingga termasuk
y=

Dimana

v .

Gelombang elektromagnetik adalah murni melintang dan dapat menjadi dua set
gelombang yang terpolarisasi tegak lurus pada bidang dan keduanya bergerak dengan
kecepatan cahaya c . Juga karena ruang kosong tidak memiliki struktur maka tidak ada
batasan

frekuensi

maksimum

menginterpretasi/menafsirkan

yang

mungkin

terjadi.

sebagai total jumlah kemungkinan keadaan energi

pada semua frekuensi hingga termasuk v , kita mempunyai


8 V 3
y=
v ,
3 c3
Maka degeneracy y adalah
8 V
yv = 3 v2 v ,
c
Dan jumlah dari gelombang (atau photons) mempunyai frekuensi antara
v+v

adalah

Energi dari tiap gelombang adalah

sampai

kT
hv /1

(13 -20)

exp
8 V v3
v= 3
c
hv , dan setelah dipisahkan oleh volume V, kita

mempunyai energi per satuan volume, dalam interval frekuensi dari


v+v

Kemudian

atau kepadatan spektrum energi u v ,

sampai

kT
hv / 1

(13-21)

exp
8 V v 3
uv= 3
c
Persamaan ini mempunyai bentuk yang sama seperti Hukum Planck yang diberikan
c 1 dan c 2 dalam

dalam Bagian 8-7 dan kita apat melihat bahwa konstanta eksperimen
persamaan (8-50) adalah berhubungan dengan konstanta dasar

h , c , dan

oleh

persamaan

8 h
h
, c 2= ,
(13-22)
3
k
c
Pada sebuah suhu yang diberikan T, dan pada frekuensi tinggi yang mana
c 1=

hv kT , ekspenonsial adalah besar, kta dapat mengabaikan.... dan


kT
hv /

(13-23)

8 h
u v 3 v 3 exp
c
Hukum wien bersesuaian dengan eksperimen pada frekuensi tinggi tapi sedikit
menyimpang ketika eksperimen pada frekuensi yang rendah. Bagaimana pun, pada
eksperimen frekuensi rendah, yang mana
mendekati hv /kT

hv kT ,

[ ( ) ]
hv
1
kT

eksp

hampir

dan

8 kT 3
v v
(13-24)
3
c
Planck mencari sebuah persamaan matematika yang bisa mereduksi persamaan
uv

Wien ketika hv /kT

mempunyai hasil yang besar, dan ketika persaman Reyleigh Jeans

mempunyai hasil yang kecil. Ia menemukan bahwa persamaan (13-21) mempunyai sifat
itu, dan mencari sebuah teori untuk menjelaskan persamaan yang menunutun dia
mengembangkan teori kuantum.
Gambar 13-5 menunjukan grafik dari dimensi kuantitas
sebagai sebuah fungsi berdimensi kuantitas

u
c h
v 8 mk 3 T 3

, diplot

hv /kT . Sebuah kurva yang solid adalah

grafik hukum Plack. Dan titik-titik dari kurva, secara masing-masing, grafik dari hukum
Rayleigh Jeans, dapat diaplikasikan ketika
hv kT .

hv kT , dan Hukum wien ketika

Total kerapatan energi U v , termasuk semua frekuensi sekarang dapat ditemukan


dengan menjumlahkan U , atas semua nilai

dari nol sampai tak hingga, selama

tidak ada limit pada nilai maksimum dar v . Dengan menggantikan tanda tambah
dengan intergral, kita akan mendapatkan

kT
hv /

1
exp
v3

8 h
uv = 3
c 0

Fig. 13-5 Grafik Hukum Wien, Reyleigh dan Planck


Atau jika kita menetapkan sebuah variabelk berdimensi x=hv /kT ,

8 k4
x2 d
4
Uv

T
exp ( )1
3 3
c h
0
Nialai pasti dari integral adalah 4 /15, sehingga
8 5 k4
U v =
T4 = T4
3 3
15 c h
(13-25)
dimana
5

8 k
=
(13-26)
3 3
15 c h
Persamaan (13-25) adalah sama dengan Hukum Stefan (18-54) dan ketika nilai
dari

k , c dan h

dimasukan pada persamaan (13-26), nilai

perhitungan dan

eksperimen bersesuaian dengan benar dengan memperhitungkan batas-batas kesalahan


dalam ekperimen.
Jadi teori kuantum dan metode-metode statistika menyediakan sebuah dasar teori
untuk Hukum Planck, dan berelasi dengan konstanta eksperimen

c 1, c 2,

dan

k , c dan h .

menjadi konstanta yang fenomenal

Penjelasan untuk energi dalam,

entropi, serta persamaan Helmholtz dan Gibbs tentang radiasi benda hitam, yang
diturunkan dari persamaa-persamaan termodinamika dalam bagian 8-7 tidak dijelaskan
G=0 , mungkintelah diambil sebagai

lagi. Perlu diingat bahwa fungsi Gibbs


justifikasi/pembenaran untuk menetapkan

=0

pada distribusi fungsi BE .

13-4 PARAMAGNETIK
Suatu tipe dari paramagnetik adalah chromium potassium sulfate
K 2 SO 4. 24 H 2 O.

Cr 2 ( SO 4 )3

Sifat paramagnetik semata-mata untuk atom-atom chromium yang

ada pada kristal sebagai ion C

+++
. Setiap elektron pada sebuah atom tidak hanya
r

mempunyai muatan listrik tetapi juga momentum magnetik


26

sebanding (in MKS units) to 9.27 x

10

dari 1 Bohr magneton,

, seolah-olah elektron adalah

sebuah bola kecil yang berputar pada porosnya. Dalam kebanyakan atom, momen
magnetik yang dihasilkan dari elektron adalah nol, tetapi ion kromium C

+++
r

memiliki tiga elektron berputar mengimbangi dan momen magnetik sebesar 3 .


Untuk setiap ion kromium ada 2 atom belerang, 1 atom potasium, 20 atom
oksigen, dan 24 atom hidrogen, sehingga terdapat total 47 partikel dimana bukan
magnetik. Ion-ion magnetik karena begitu jauh dipisahkan dan bahwa hanya ada interaksi
magnetik kecil di antara mereka.
Hal ini ditunjukkan dalam bagian 8-8 bahwa sifat termodinamika dari kristal
paramagnetik dapat dihitung dari pengetahuan tentang kuantitas
Menggunakan metode statistik, nilai

f 4=E TS .

dapat diturunkan dari T suhu dan parameter-

parameter yang menentukan tingkat energi atom-atom dalam kristal. Karena atom dapat
diberi label sesuai dengan posisi mereka tempati dalam kisi kristal, sistem mematuhi
statistik M-B, dan seperti biasa langkah pertama untuk menghitung fungsi partisi Z, yang
didefinisikan sebagai

j
,
kT
i
Karena gerak osilasi mereka, molekul-molekul memiliki set tingkat energi vibrasi
Z = y j exp

yang sama, dan total energi osilasi merupakan energi dalam

U vib . Di samping itu,

interaksi kecil antara ion-ion magnetik, dan interaksi mereka dengan medan listrik
dibentuk oleh sisa kisi, menimbulkan energi internal tambahan (dari ion-satunya) yang

kita tulis sebagai

. Akhirnya, jika ada medan magnet dalam kristal, yang dibentuk

oleh beberapa sumber eksternal, ion memiliki energi potensial magnet yang, seperti
energi potensial gravitasi perticles dalam medan gravitasi, merupakan sifat bersama dari
ion dan medan magnetik dan tidak dapat dianggap sebagai energi internal. Total energi
potensial magnetik adalah E p .
Tingkat-tingkat energi vibrasi , level-level berhubungan dengan

gaya internal

magnetik dan interaksi muatan dan level-level energi potensial adalah bebas. Fungsi
partisi Z, seperti dalam kasus gas dalam medan gravitasi, dapat dinyatakan, sebagai
Z , dan Z x.
fungsi partisi bebas yang mana dapat kita tulis sebagai as Z vib.
Sehingga
Z Z vib . Z , Z x .
Ion magnetik merupakan subassembly, ditandai dengan fungsi partisi dan Z ,
and

Zx

dan mereka dapat dianggap independen dari kisi-kisi, yang dapat dianggap

hanya sebagai wadah subassembly tersebut. Meskipun energi

dan

Z ,

fungsi

partisi memainkan peran penting dalam teori yang lengkap, kita akan mengabaikan
mereka dan menganggap bahwa energi total subassembly hanya energi potensi

Ep

saja. Jadi kita hanya mempertimbangkan fungsi partisi Z x .


Seperti ditunjukkan dalam Lampiran E, energi potensial dari ion medan magnet
berintensitas

adalah

cos , di mana adalah momen magnetik ion dan

sudut antara (vektor) momen magnet dan arah bidang. Untuk mempermudah, kita hanya
mempertimbangkan subassembly ion memiliki momen magnetik dari 1 Bohr magneton
. Prinsip-prinsip mekanika kuantum membatasi nilai yang mungkin dari , seperti
pada ion, baik pada nol atau

180o , sehingga momen magnetik adalah paralel atau

antiparalel pada medan magnetik. (Sudut lain yang diizinkan adalah jika momen
magnetik lebih besar dari

). Nilai-nilai yang sesuai dari cos adalah + 1 dan - 1,

dan tingkat energi yang mungkin adalah


adalah nondegenerate;

B + B . . Tingkat-tingkat

energi

hanya ada satu keadaan di setiap tingkat, tetapi tidak ada

pembatasan untuk jumlah ion per tingkat/level. Fungsi partisi


dikurangi juga pada jumlah dua terms:
B

= 2cos B
kT
kT

Z =exp B + exp
kT

( )

Zx

kemudian akan

Karena defenisi hyperbola diberikan oleh cosine


1
cos x= [ exp ( x ) +exp (x ) ]
2
Jika N dan N masing-masing mewakili jumlah ion yang saat seimbang paralel dan
antiparalel pada medan . Energi yang sesuai

=B

dan

= B . Maka rata-

rata jumlah yang menempati dua arah,

N
N
N =
N =
exp ,
exp ,
z
kT
z
kT
Kelebihan ion-ion secara paralel, di atas mereka dalam keselarasan antiparalel adalah,


N
N
N N =
exp
exp = 2 sin B
Z
kT
kT
Z
kT
Yang dikurangi menjadi

N N =N tan B
kT

[ ( ) ( )]

Momen magnetic M dari Kristal adalah hasil dari moment magnetic

dari setiap ion

dan jumlah sisa dari ion sejajar dengan bidangnya. Kemudian


M

( N t N 0 ) B

N B

B
kT

tanh

(13-29)
Persamaan magnetic ini dalam keadaan Kristal, yang mengungkapkan momen magnetic
M adalah fungsi dari dan T. catatan M hanya tergantung pada rasio /T.
Persamaan keadaan tersebut bisa diturunkan sebagai berikut. Fungsi F* adalah

B
(13-30)
kT
Momen magnetik M, yang dalam hal ini sesuai dengan variabel luasan X, adalah
B
F
M =
N B tanh
T

kT
F* = - NkT ln Z = - NkT ln

2 cosh

( )

(13-31)
Dalam medan yang kuat dan suhu yang rendah, dimana

<< kT, tanh (

kT

pendekatan I dan nilai momen magnetik


M = N B
(13-32)
Tapi ini hanya momen magnetic saturasi Msat. yang akan terjadi jika semua magnet ionik
yang paralel ke bidangnya.
Pada keadaan yang ekstrem yang lain dengan bidang lemah dan suhu tinggi,
kT, tanh (

B
pendekatan
kT

B
kT

dan persamaan (13-31) menjadi

B <<

N B
(13-33)
k
T
Tapi ini hanya percobaan hukum Curve yang diamati, yang menyatakan bahwa di
M=

bidang lemah dan pada suhu tinggi, magnet berbanding lurus dengan

, atau
T

(13-34)
T
dimana Cc adalah konstanta Curie. Metode statistik tidak hanya mengarah pada hukum
M =Cc

Curie, tetapi juga memberikan nilai teoritis dari Curie konstan, yaitu,
N B2
Cc=
k
(13-35)
Satuan di bidang paramagnetism umumnya menggunakan unit cgs. Unit intensitas
magnetik adalah 1 Oersted *[(1 Oe) sama dengan 10-4 A m2.]. Bohr magneton adalah
B

= 0,927 x 10-20 erg Oe-1

dan nilai konstanta Boltzman adalah


k = 1,38 x 10-16 erg K-1
Jika jumlah partikel adalah bilangan Avogadro NA, yang sama dengan 6,02 x 1023 cgs
unit,
Curie konstan seperti yang diberikan oleh Persamaan. (13-33) adalah
N B2
Cc=
= 0,376 cm3K mole-1
k
Teori complete mengarah ke hasil bahwa untuk ion kromium cr

++

, Moment

magnetik 3 B th nilai Cc adalah 5 kali lebih, atau


Cc = 5 x 0,376 = 1,88 cm3K mole-1
Secara eksperimental nilai yang terukur adalah
Cc = 1,88 cm3K mole-1
dalam perjanjian yang baik dengan prediksi teori kuantum.
Rasio M / Msat Adalah

M
=tanh B
M sat
kT
(13-36)
Gambar 13-6 adalah grafik dari kurva magnetization dari sistem, di mana ratio M / M sat
diplot sebagai fungsi dari

B
. Kurva magnetisasi merupakan gambaran dari sistem
kT

antara pengaruh pemesanan terhadap bidang eksternal

, yang merupakan semua ion

magnet yang mengarah ke bidang, dan efek Disordering agitasi termal, yang meningkat
terhadap suhu.

Gambar 13-6 kurva magnetisasi dari Kristal magnetik


dalam bidang yang lemah nilai-nilai dari dua tingkat energi yang hampir sama, keduanya
pada keadaan yang hampir sama, dan momen magnetik yang dihasilkan sangat kecil.
Dalam bidang yang kuat. perbedaan antara tingkat energi besar, efek pemesanan
mendominasi, dan hampir semua magnet berada di tingkat energi yang lebih rendah di
mana mereka memiliki arah yang sama dengan
Ini akan terlihat dari Gambar. 13-6 bahwa kejenuhan, seperti yang diperkirakan
B
kT

oleh teori kuantum, sangat hampir dicapai ketika

, atau ketika

3k
= =45 kOeK -1
T B
Oleh karena itu, jika T = 300 K, bidang 13,5 x 10 6 Oe akan diperlukan untuk saturasi. Di
sisi lain, jika suhu serendah I K, bidang 4,5 x 10 4 Oe akan menghasilkan saturasi, dan
pada suhu 0,1 K, bidang hanya 4,5 x 10 3 Oe. (superkonduktor Elektromagnet modern
dapat menghasilkan intensitas magnet hingga 1,5 x 105 Oe.)
Kita sekarang menghitung sifat termodinamika lain dari sistem. Energi total E,
yang dalam hal ini adalah energy potensial Ep, adalah
ln Z
E=Ep=Nk T 2

(13-37)
Nk B tan B
k
kT
Perbandingan dengan Persamaan. (13-29) menunjukkan bahwa energi potensial adalah
Ep= - M
(13-38)
Energi potensial adalah negatif karena berdasarkan referensi; yaitu, energi potensial dipol

)
( )

magnetik ditetapkan sama dengan nol ketika dipole pada sudut kanan bidang.
Kapasitas panas dengan konstanta adalah
E
C =

( )

(13-39)

Nk

B 2

sech2 B
kT
kT

( )

Gambar 13-7 menunjukkan grafik Ep dan C (keduanya dibagi dengan Nk)


sebagai fungsi dari

kT
. Kurva ini berbeda dari kurva yang sesuai untuk energi dan
B

kapasitas panas internal perakitan osilator harmonik karena hanya ada dua tingkat energi
yang diizinkan dan energi subassembly tidak dapat meningkatkan tanpa batas dengan
meningkatnya suhu.

Gambar. 13-7 Energi potensial spesifik dan


kapasitas

panas

spesifik

pada

konstan

intensitas magnet, baik dibagi dengan Nk,


untuk kristal paramagnetik sebagai fungsi dari
kT
H
B
Mari kita bandingkan kapasitas panas C

dari subassembly ion magnetik

dengan kapasitas panas Cv, dari seluruh kristal. Dengan T =1K dan
Kemudian

104 Oe.

kT
B
1,5, sech2
0,81
B
kT

Dan dari persamaan (13-39)


C Nk (1,5)2 x 0,81 0,36 Nk
Dengan asumsi ada 50 partikel bukan magnetik untuk setiap ion magnetik, dan
mengambil suhu Debye dari 300 K sebagai nilai khas, kita mendapatkan dari hukum
Debye T 3,
3

1
12 4
300
5
0,5 x 10 -5 Nk
Entropi dari subassembly yang sekarang dapat dihitung dari persamaan F* = E
Cv Nk (50) x

TS. Dari pers. (13-30) dan (13-37) kita memiliki

( )

S=

EF
T

= Nk

B
B
B

tanh
kT
kT
kT

ln 2 cosh

(13-40)

Gambar 13-8 entropi dari Kristal paramagnetic


Gambar 13- 8 adalah grafik dari S / Nk, diplot sebagai fungsi dari
yang diberikan dari

kT
.
B

Dari nilai

, S mendekati nol sebagai T mendekati nol. Pada suhu ini,

semua energi dipol dalam keadaan yang lebih rendah, hanya ada satu kemungkinan
keadaan mikro dan S = k ln = k ln = 0. Pada batas lain, ketika kT B
B
B
B
0, tanh (
1
Cosh (
) 1(
kT
kT
kT

dan S Nk ln 2. entropi ini juga merupakan fungsi (


) saja. Dalam demagnetisasi
T
adiabatik reversibel, S dan karenanya (

tetap konstan. Jadi menurun, T harus

menurunkan juga sesuai dengan hasil termodinamika.

13- 5 SUHU NEGATIF


Perhatikan kembali sistem dengan hanya dua kemungkinan tingkat energi
magnetik, di mana momen magnetic saat

dari partikel dapat berupa paralel atau

sejajar dengan intensitas magnetik . Energi dari tingkat yang lebih rendah, di mana
B

sejajar dengan

. 1=B , dan dari tingkatan atas, di mana

berlawanan dengan , adalah

adalah

2=+ B . Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu T,

jumlah tingkat rata-rata adalah

( )

1
N
N 1= exp
Z
kT
2
N
Rasio
N 2= exp
Z
kT

( )

N 1
, adalah
N 2

N 1

=exp 2 1
kT
N 2
1 2 1
T=
k ln N 1 N 2

(13-41)
dan kita bisa menganggap ini sebagai persamaan mendefinisikan T, dalam hal
N 1 dan N 2 ,. Jika

2 > 1

dan

2 , 1

N 1 > N 2 , maka sisi kanan persamaan adalah positif

dan T positif. The situasi ini dapat direpresentasikan secara grafis seperti pada Gambar.
13-9 (a), dimana panjang garis berat sesuai dengan rata-rata angka kedudukan
N 1 dan N 2 ,.

Gambar. 13-9 (a) Dalam keadaan keseimbangan yang stabil jumlah


atau energi yang lebih rendah lebih besar dari jumlah
lebih

tinggi.

terjadi

N 1 dari tingkatan

N 2 dari tingkat atau energi yang

(b)

dengan

segera

pembalikan

setelah

intensitas

magnetik
'telah
Sekarang

terbalik.
anggaplah

intensitas

tiba-tiba

momen

magnetik
magnetiknya

arah
terbalik.

yang

dengan bidang yang asli, dan dalam keadaan energi yang lebih rendah

sejajar
1

yang

berlawanan dengan bidang baru dan sekarang dalam keadaan energi yang lebih tinggi,
sementara yang berlawanan dengan bidang asli, dan keadaan energy lebih tinggi

2 ,

keadaan energi sejajar dengan bidang baru dan sekarang dalam keadaan energy yang
lebih rendah. Akhirnya, saat-saat dalam keadaan energi yang lebih tinggi akan gagal ke
keadaan energi baru yang lebih rendah, tetapi segera setelah keadaan telah terbalik, dan
sebelum perubahan dalam jumlah pendudukan telah terjadi, keadaan ini digambarkan
dalam Gambar. 13- 9 (b). Rata-rata jumlah pendudukan dari
sama dengan jumlah

N 1

yang baru adalah

N 1 , di keadaan asli yang lebih rendah, dan jumlah

keadaan baru yang lebih rendah adalah sama dengan jumlah

N 1 ,

N 1

dari

di keadaan bagian

atas. Kami mengatakan telah terjadi pembalikan populasi. Kemudian jika kita

mempertimbangkan bahwa suhu sistem didefinisikan oleh Persamaan. (13-41), dan jika
T' adalah suhu yang sesuai dengan Gambar. 13-9 (b)
1 2 1
'
T=
k ln N 1 N 2

Ketika

N 2

(13-42)
N 1 , denominator pada persamaan sisi kanan adalah
lebih besar dari

negatif dan T'negatif.


Suhu negatif dapat dilihat dari sudut pandang lain. Pada suhu T = 0, semua
magnet dalam keadaan energi yang lebih rendah. Karena suhu meningkat, semakin
banyak magnet pindah ke keadaan energi yang lebih tinggi dan ketika T = + , kedua
keadaan sama-sama mendiami. Kemudian bisa dikatakan bahwa jika jumlah dalam
keadaan yang lebih tinggi bahkan lebih besar daripada dalam keadaan yang lebih rendah,
karena ketika ada pembalikan keadaan, suhu harus lebih panas kemudian tak terhingga.
Dengan demikian kita memiliki paradoks bahwa sistem pada suhu negatif bahkan lebih
panas dari pada suhu yang tak terbatas.
Dalam zat paramagnetik, interaksi antara magnet ionik Dan kisi begitu besar
bahwa substansi tidak bisa berada dalam keadaan pembalikan yang mendiaminya untuk
waktu yang cukup. Namun, Pound, Purcell, dan Ramsey pada tahun 1951 menemukan,
bahwa momen magnetik nuklir dari atom litium LiF berinteraksi secara perlahan-lahan
dengan kisi dan memerlukan beberapa menit untuk kesetimbangan dengan kisi untuk
mencapainya, waktu cukup lama untuk eksperimen yang akan dibuat menunjukkan
bahwa populati pada pembalikan benar-benar ada.

13- 6 GAS ELEKTRON


Kami berasumsi bahwa setiap atom di bagian kisi kristal dengan beberapa
(integral) jumlah elektron valensi terluar dan elektron tersebut dapat bergerak bebas di
seluruh logam. Ada, tentu saja, medan listrik dalam logam karena ion positif dan yang
bervariasi dari titik ke titik. Rata-rata, namun, efek dari bidang ini dibatalkan kecuali
pada permukaan logam di mana ada bidang lokal yang kuat (atau potensial penghalang)
yang menarik elektron kembali ke dalam logam jika kemungkinan untuk membuat
perjalanan kecil di luar permukaan. Oleh karena itu elektron bebas terbatas pada bagian
dalam logam dalam dari logam dengan cara yang sama bahwa molekul gas terbatas pada
bagian dalam wadah. Kita berbicara tentang elektron sebagai elektron gas.

The degeneracies dari tingkat energi adalah sama sebagai partikel bebas dalam
kotak, dengan satu pengecualian. Ada dua set elektron dalam logam, yang identik
kecuali bahwa electron tersebut telah berputar dengan arah berlawaan. Prinsip
pengecualian Pauli, menyatakan bahwa tidak ada lebih dari satu partikel tiap keadan,
sekarang memungkinkan dua elektron per keadaan asalkan mereka memiliki arah putaran
yang berlawanan. Hal ini setara dengan dua kali lipat jumlah keadaan di tingkat makro,
atau penurunan

dari tingkat makro, dan memungkinkan hanya satu elektron per

keadaan. Oleh karena itu, Persamaan. (12-17) yang kita miliki


8 m3 V 2
=

3
h
Ini akan lebih berguna untuk mengungkapkan penurunan dalam hal energi kinetik
1
= m 2 , maka menjadi
2
1

2
2 12 2
1 2
= =
=
m
m
2 m

1
2

2m
2
h

( )

3
2

2m
2
h

3
2

( )

( )

1
2

Berdasarkan persamaan
=4 V

(13-43)

Jika
A 4 V

( )

(13-44)
Kemudian
1

(13-45)
= A 2
Oleh karena degenerasi dapat tingkatkan dengan akar kuadrat dari energi.
Kemudian dari fungsi distribusi F-D, persamaan. (11-40), rata-rata jumlah

dari

elektron di tingkat makro adalah


1

2
N=
=A

( )
( )
exp
+1
exp
+1
kT
kT

46)
Potensial kimia

dapat dievaluasi dari persyaratan

(13-

N =N , di mana N

adalah jumlah total elektron. Mengganti jumlah tersebut dengan integral, kita
mendapatkan

N= A
0

1
2

d
( )
exp
+1
kT

integral

tidak dapat dievaluasi dalam bentuk tertutup dan hasilnya dapat

dinyatakan hanya sebagai seri terbatas. Hasilnya, pertama diperoleh Sommerfeld* adalah
2
2
4
4
kT
kT
= F 1
+
+.
(13-47)
12 F
80 F
Nilai dari F adalah konstan untuk logam tertentu dan disebut energy fermi.

[ ( ) ( ) ]

Seperti yang akan kita tampilkan,

adalah fungsi dari jumlah elektron per satuan

volume, N / V, sehingga persamaan sebelumnya mengungkapkan . sebagai fungsi


dari T dan N / V. Ketika T = 0,

= F

Fungsi distribusi di T = 0 kemudian



No=
(13-48)
( F )
exp
+1
kT
Arti penting dari energi Fermi F dapat dilihat sebagai berikut. Di semua

tingkatan yang << F , perbedaan ( F Adalah kuantitas negatif, dan pada


T = 0,

F
=
kT
Istilah eksponensial dalam persamaan. (13-48) kemudian nol dan di semua tingkatan
F
1

(13-49)
N o = = A 2
Artinya, rata-rata jumlah elektron di tingkat makro sama dengan jumlah dari keadaan
pada setiap tingkat, dan semua tingkatan dengan energi kurang dari

sepenuhnya

dihuni dengan batasan dari satu elektron di setiap keadaan.

Gambar . 13- 10 Grafik dari fungsi distribusi dari


elektron bebas dalam logam, pada T = 0 dan pada dua
suhu yang lebih tinggi T1 dan T2.
Dalam semua tingkatan yang > F , istilah ( F ) adalah positif. Oleh
karena itu pada T = 0 istilah eksponensial sama dengan +
tidak ada elektron di tingkat ini dan energi Fermi

dan

N o = 0. Jadi

adalah energi maksimum

elektron pada nol mutlak. Tingkatan kesesuaian ini disebut tingkatan Fermi.

Kurva yang solid pada Gambar. 13- 10 adalah grafik jumlah elektron setiap
1

interval satuan energi,.

No
= A 2 , saat T =0 , Kurva memanjang dari

= 0 ke

= F , Dan nol unutk semua energy yang lebih besar dari F


Ekspresi untuk energi Fermi sekarang dapat diperoleh dari persyaratan
o

N =N

. Mengganti jumlah dengan integral, memperkenalkan fungsi distribusi T

= 0, dan mengintegrasikan seluruh tingkatan dari "nol sampai F kita mendapatkan


1
3
2
2
N= A d= A F2
3
0
Atau, setelah memasukkan nilai A,
h 2 3 N 23
F=
(13-50)
8 m V
Jadi sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Ep adalah fungsi dari jumlah elektron per unit

( )

volume, N/V, tapi independen terhadap T.


Sebagai contoh numerik, anggap logam tersebut adalah perak dan karena perak
adalah monovalen kita asumsikan satu elektron bebas per atom. Masa jenis dari perak
adalah 10.5 x 103 kg/m3, berat atomnya adalah 107, dan jumlah elektron bebas permeter
kubik N/V sebanding dengan jumlah atom per meter kubik yaitu 5.86 x 1028. Massa
sebuah elektron adalah 9.11 x 10-31 kg dan h = 6,62 x 10-34 Js. Maka
F 9.11019 J 5.6 eV .
Total energi U dari elektro adalah

U N

(13-51)

Atau mengganti jumlah dengan integral

3/2
d .
1
0 exp / kT
Sekalilagi, integral tidak bisa dievaluasi dalam bentuk yang mendekati dan harus di
U A

ekspresikan sebagai deret tak hingga. Hasilnya adalah


2
4

3
5 2 kT
4 kT
.
U N F 1

5
12 F
16

F
(13-52)
Ketika T = 0,
3
U 0 N F .
5
(13-53)
Ini menyisakan masalah untuk menunjukkan bahwahasil yang sama akan didapatkan jika
kita memasukkan pada persamaan 13-51 nilai untuk fungsi distribusi pada T=0 dan
integrasi dari = 0 dan = p
Energi rata-rata per elektron pada nol absolute adalah
U0 3
0
F.
N 5

Jadi untuk perak


3
0 5.6 eV 3.5 eV .
5
Energi kinetik rata-rata suatu molekus gas pada suhu ruangan hanya sekitar 0.03

eV dan suhu dimana energi kinetik rata-rata suatu molekul gas adalah 3.5 eV mendekati
28,000 K. Sehingga energi kinetik rata-rata elektron dalam suatu logam, bahkan pada
nol absolut, jauh lebih besar daripada yang dimiliki molekul gas biasa pada suhu ribuan
kelvin.
Pada suhu 300 kelvin, dan dimana untuk perak F = 9.1 x 10-19 J,
kT 1.38 1023 300

4.58 103.
F
9.1 1019
Jadi pada suhu ini kondisi pada daya kT/EF), dalam deret ekspansi pada persamaan 1347 adalah sangat kecil dan dapat diperkirakan =F pada suhu berapapun.
Pada level tertentu dimana = , jumlah (E-) = 0, dan pada suhu berapapun
diatas T=0, kondisi eksponensial pada distribusi fungsi sama dengan 1 dan nilai kerja
adalah
1
G 0 .
2
Jika suhu tidak terlalu tinggi, maka dapat diperkirakan, = F dan dari perkiraan ini kita
N

dapat dinayatakan bahwa pada suhu berapapun diatas T=0 level Fermi-nya 50% kerja.
Kapasitas kalor pada volume konstan, Cv, diberikan sebagai:
U
CV
,
T V
Dan dari persamaan 13-52.
2

2 kT
3 2 kT
CV
.

N k 1

2 F
10 F

(13-54)
Jika suhu tidak terlalu tinggi kita dapat mengabaikan kondisi pada daya (kT/Ef) Lebih
tinggi dari yang pertama, dan dengan perkiraan tersebut
2 kT
CV

Nk.
2 F

(13-55)
Dengan mengganti Nk dengan nR, dimana n adalah jumlah mol dan membagi kedua sisi
dengan n, kita mendapatkan kapaistas kalor mol spesifik dari elektron bebas pada logam
2 kT
cv

R,
2 F
(13-56)
Yang bernilai 0 pada T=0 dan naik secara linera terhadap suhu T. Untuk perak pada suhu
300 K menggunakan nilai (kT/EF) yang sebelumnya sudah dihitung,
cv 2.25 103 R.
Kapasistas kalor molal spesifik dari gas monoatomik ideal, adalah

3
R.
2
Jadi meskipun energi kinetik rata-rata dari elektron dalam logam jauh lebih besar
cv

daripada yang dimiliki molekul gas ideal, pada suhu yang sama, energi berubah hanya
sangat sedikit dengan perubahan suhu dan kapasitas kalor yang dimilikinya sangat kecil
sekali.
Untuk menghitung entropi dari elektron gas, kita dapat menggunakan fakta bahwa pada
proses reversibel dengan volume konstan, aliran kalor menuju gas saat suhunya nai
sebesar dT adalah

dQr CV dT TdS ;
Dan sehingga temperatur T, entropinya adalah
T

dQ r T C v
S=
= dT
T
0
0 T
Masukkan nilai Cv dari persamaan 13-54 dan dengan mengintegrasikannya, kita
mendapatkan

2 kT
2 kT
S Nk

1
L .
2 F
10
F

(13-57)
Jadi entropi adalah nol pada T=0, dan ini sudah pasti karena hanya ada satu kondisi

mikro yang mungkin pada T=0 dan pada temperatur ini = 1, S = k ln = 0, Fungsi
Helmholtz F adalah

F U TS ,
Dan dari nilai yang di dapat diatas untuk U dan S,
2

3
5 2 kT
.
F N F 1

5
12 F

Tekanan P dari gas elektron ditunjukkan dengan


F
P=
V T
Dan karena
h 2 3 N 2 /3
F =
8m V
Maka
2 N F
5 2 kT 2
P=
1+
+
5 V
12 F

(13-58)

( )

( )

( )

13-59

Ini adalah persamaan dari kondisi gas elektron, menunjukkan P sebagai fungsi V dan T.
Perbandingan dengan persamaan 13-52 menunjukkan bawah tekanan adalah 2/3
dari kepadatan energi.
2U
P=
3V

Untuk perak, N/V = 6 x 1028 elektron permeter kubik dan F = 10 x 10-19J. Jadi pada nol
absolut,
2
P 6 1028 10 1019 24 109 N m2
5
Meskipun terdapat tekanan yang sangat tinggi, tidak semua elektron menguap secara
spontan dari loga karena hambatan potensial pada permukaannya.