Anda di halaman 1dari 4

DINDING PENAHAN TANAH

( Retaining Wall )
A. PENGERTIAN
Dinding penahan tanah (DPT) adalah suatu bangunan yang dibangun untuk
mencegah keruntuhan tanah yang curam atau lereng yang dibangun di tempat di mana
kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri, dipengaruhi oleh
kondisi gambaran topografi tempat itu, bila dilakukan pekerjaan tanah seperti
penanggulan atau pemotongan tanah.
Secara umum fungsi dari DPT (Dinding Penahan Tanah) adalah untuk menahan
besarnya tekanan tanah akibat parameter tanah yang buruk sehingga longsor bisa
dicegah, serta untuk melindungi kemiringan tanah dan melengkapi kemiringan dengan
pondasi yang kokoh.
B. JENIS DINDING PENAHAN TANAH
Di kebanyakan proses konstruksi, terkadang diperlukan perubahan penampang
permukaan tanah dengan suatu cara untuk menghasilkan permukaan vertikal atau
yang dekat dengan permukaan vertikal tersebut (Whitlow, 2002). Penampang baru
tersebut mungkin saja dapat memikul beban sendiri, tetapi dalam beberapa kasus,
sebuah struktur dinding penahan lateral membutuhkan dukungan. Dalam analisis
stabilitas, kondisi tanah asli ataupun material pendukung sangatlah penting, karena
berhubungan dengan dampak bergeraknya dinding penahan atau kegagalan struktur
setelah proses konstruksi. Jika struktur dinding penahan tanah telah didukung dengan
material lain sehingga bergerak mendekat ke tanah, maka tekanan horisontal dalam
tanah akan meningkat, hal ini disebut tekanan pasif. Jika dinding penahan bergerak
menjauh dari tanah, tekanan horisontal akan menurun dan hal ini disebut tekanan aktif.
Jika struktur dinding penahan tanah tidak runtuh, tekanan horisontal tanah dapat
dikatakan dalam tekanan at-rest.
Dinding penahan tanah dapat dibedakan atas 2 bagian yakni Sistem Stabilisasi
Eksternal (Externally Stabilized System) yang terbagi atas Gravity Walls dan InSitu atau Embedded Walls dan Sistem Stabilisasi Internal (Internally Stabilized
System) yang terbagi atas Reinforced Soil Walls dan In-Situ Reinforcement.
I.

Gravity Walls
a. Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)

Bahan dari dinding ini dapat dibuat dari blok batuan, bata, atau beton polos
(plain concrete). Stabilitas dinding ini tergantung beratnya dan tidak ada gaya
tarik di setiap bagian dari dinding. Karena bentuknya yang sederhana dan juga
pelaksanaan yang mudah, jenis ini sering digunakan apabila dibutuhkan
konstruksi penahan yang tidak terlalu tinggi atau bila tanah pondasinya baik.
Dinding ini kurang ekonomis apabila digunakan untuk dinding yang tinggi.
Dinding Semi Gravitasi adalah dinding yang sifatnya terletak antara sifat
dinding gravitasi sebenarnya dan dinding kantilever. Dimana pada dinding ini
terdapat perluasan kaki sehingga tebal penumpang dapat direduksi dan
digunakan sejumlah kecil penguatan baja.

b. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Penahan (Buttress)


Dalam kenyataannya, dinding penahan jenis ini pada umumnya hanya
membutuhkan bahan yang sedikit. Jenis ini digunakan untuk tembok penahan
yang cukup tinggi. Kelemahan dari dinding penahan jenis ini adalah
pelaksanaannya yang lebih sulit dari pada jenis lainnya dan pemadatan dengan
cara rolling pada tanah di bagian belakang adalah jauh lebih sulit.
c. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Balok Kantilever
Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu dinding
memanjang dan suatu pelat lantai, dinding ini menggunakan aksi konsol untuk
menahan massa yang berada di belakang dinding dari kemiringan alami yang
terjadi Masing-masing berlaku sebagai balok kantilever dan kestabilan dari
dinding didapatkan dengan berat badannya sendiri dan berat tanah di atas
tumit pelat lantai. Dinding penahan jenis ini relatif ekonomis dan juga relatif
mudah dilaksanakan.
d. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Dinding Penyokong
Dinding ini sering disebut Dinding Pertebalan Belakang (Counterfort
Retaining Wall) serupa dengan dinding kantilever, tetapi pada dinding tersebut
digunakan untuk konsol yang panjang atau untuk tekanan-tekanan yang sangat
tinggi di belakang dinding dan mempunyai pertebalan belakang, yang
mengikat dinding dan dasar bersama-sama, yang dibangun pada intervalinterval sepanjang dinding untuk mengurangi momen momen lentur dan geser.
II.

In Situ or Embedded Walls


a. Sheet Pile Wall

Jenis ini merupakan struktur yang fleksibel yang dipakai khususnya untuk
pekerjaan sementara di pelabuhan atau di tempat yang mempunyai tanah
jelek. Material yang dipakai adalah timber, beton pre-cast dan baja. Timber
cocok dipakai untuk pekerjaan sementara dan tiang penyangga untuk dinding
kantilever dengan letinggian sampai 3 m. Beton pre-cast dipakai untuk
struktur permanen yang cukup berat. Sedangkan baja telah banyak dipakai,
khususnya untuk kantilever dan dinding penahan jenis tied-back, dengan
berbagai penampang, kapasitas tekuk yang kuat dan dapat digunakan lagi
untuk pekerjaan sementara. Kantilever akan mempunyai nilai ekonomis jika
hanya dipakai sampai ketinggian 4 m (Whitlow, 2001). Anchored atau
dinding tie-back dipakai untuk penggunaan yang luas dan berbagai aplikasi di
tanah yang berbeda-beda.
b. Braced or Propped Wall
Props, braces, shores dan struts biasanya ditempatkan di depan dinding
penahan tanah. Material-material tersebut akan mengurangi defleksi lateral
dan momen tekuk serta pemancangan tidaklah dibutuhkan. Dalam saluran
drainase, dipakai struts dan wales. Dalam penggalian yang dengan area yang
cukup luas, dipakai framed shores dan raking shores.
c. Contiguous dan Secant Bored-Pile Wall
Dinding contiguous bored pile dibentuk dari satu atau dua baris tiang pancang
yang dipasang rapat satu sama lain.
d. Diapraghm Wall
Biasanya dibangun sebagai saluran sempit yang telah digali yang untuk
sementara diperkuat oleh bentonite slurry, material perkuatan ditumpahkan ke
saluran dan beton ditaruh melaui sebuah tremie. Metode ini dipakai di tanah
yang sulit dimana sheet piles akan bermasalah atau level dengan muka air
yang tinggi atau area terbatas.

Proses Pembuatan Guide Wall


Pembangunan guide wall dilakukan sebagai bagian yang dapat membantu memudahkan
pengerjaan diafrgama wall. Guide wall juga digunakan sebagai rel. Adapun cara
pembuatannya guide wall adalah sebagai berikut.
Pertama, mengukur lahan sesuai dengan tempat dimana akan dibuat diafragma wall. Ukuran
guide wall hampir sama ukuran pada tanah exixting. Kedua, melakukan proses menggali
tanah. Ketiga, melakukan proses memasang bekisting yang dapat menggunakan bahan batu
bata, batako, triplek dan sebagainya. Keempat, melakukan proses memasang besi. Dan kelima
adalah melakukan proses pengecoran guide wall.

Tahapan Pembuatan Diafragma Wall


Diafragma wall dapat dibuat dengan cara selang seling (berseling) yaitu dengan cara
berpindah (meloncat) pada satu slot (panel) setelahnya. Cara seperti ini dilakukan agar tidak
terjadi keruntuhan pada tanah. Pengerjaan diafragma wall perlu memperhatikan tahapan
berikut.
Pertama, melakukan proses pengeboran dan menggali tanah dengan sistem bentonite
(pengisisan bentonite). Hal ini dilakukan agar tanah lebih stabil. Sistem bentonite berfungsi
sebagai penahan tekanan pada tanah yang akan disalurkan pada lubang galian.
Kedua, memindahkan atau membuang tanah yang telah digali menggunakan dump truck.
Ketiga, memasang besi rangka (tulangan) diafragma wall. Tulangan digunakan pada galian
dinding ketika lubang galian telah digali. Pemasangannya dapat dilakukan bertahap. Keempat,
melakukan proses pengerjaan pengecoran dengan baik.