Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Protozoa biasanya berukuran 10-50 m, tetapi dapat tumbuh sampai 1 mm, dan
mudah dilihat di bawah mikroskop. Mereka bergerak di sekitar dengan cambuk seperti
ekor disebut flagela. Mereka sebelumnya jatuh di bawah keluarga Protista. Lebih dari
30.000 jenis telah ditemukan. Protozoa terdapat di seluruh lingkungan berair dan tanah,
menduduki berbagai tingkat tropik. Sebagai predator, mereka memangsa uniseluler
atau berserabut ganggang, bakteri, dan mikrofungi (Sukra 2000: 45).
Protozoa memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen di
dekomposer link dari rantai makanan. Protozoa juga memainkan peranan penting
dalam mengendalikan populasi bakteri dan biomassa. Protozoa dapat menyerap
makanan melalui membran sel merek. Misalnya pada Amoeba proteus, protozoa ini
mengelilingi dan menelan makanan itu dan yang lain lagi memiliki bukaan atau mulut
pori-pori ke mana mereka menyapu makanan. Semua protozoa yang mencerna
makanan di perut mereka seperti kompartemen disebut vakuola (Anonima 2013: 1).
Sebagai komponen dari mikro dan meiofauna, protozoa merupakan sumber
makanan penting bagi mikroinvertebrata. Dengan demikian, peran ekologis protozoa
dalam transfer bakteri dan ganggang produksi ke tingkat tropik berurutan adalah
penting. Protozoa seperti parasit malaria Plasmodium spp. Dan Leishmania
trypanosomes

juga penting

sebagai

parasit dan symbiosis dari hewan multi

seluler (Sukra 2000: 45).


Beberapa protozoa memiliki tahap kehidupan bolak-balik antara tahap
proliferatif misalnya trophozoites dan kista aktif. Seperti kista, protozoa dapat bertahan
hidup kondisi yang sulit, seperti terpapar ke suhu yang ekstrem dan bahan kimia
berbahaya, atau waktu lama tanpa akses terhadap nutrisi, air, atau oksigen untuk jangka
waktu tertentu. Menjadi spesies parasit kista memungkinkan untuk bertahan hidup di
luar tuan rumah, dan memungkinkan mereka transmisi dari satu host ke yang lain
(Anonima 2013: 1).

Ketika protozoa adalah dalam bentuk trophozoites (Yunani, tropho = untuk


memberi makan), mereka secara aktif memberi makan dan tumbuh. Proses mana
protozoa yang mengambil bentuk kista disebut encystation, sedangkan proses
mentransformasikan kembali ke trophozoite disebut excystation. Protozoa dapat
mereproduksi dengan pembelahan biner atau beberapa fisi. Beberapa protozoa
bereproduksi secara seksual, beberapa aseksual, sementara beberapa menggunakan
kombinasi, misalnya Coccidia. Seorang individu protozoon adalah hermaphroditik
(Pratiwi 2007: 17).
Protozoa merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi
seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif). Habitat hidupnya adalah tempat yang
basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan
maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut kista. Ilmuwan
yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek karena
ilmuwan ini merupakan orang yang pertama kali menemukan mikroskop sehingga
beliau mampu meneliti organisme uniseluler maupun jasad renik yang ukurannya
sangat mikroskopis dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (Anonimb 2013: 1)
Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak, Rhizopoda atau
sarcodina alat geraknya berupa pseudopodia atau kaki semu contoh protozoa dari kelas
ini adalah Amoeba proteus, mempunyai dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan
vakuola kontraktil. Entamoeba histolityca, menyebabkan disentri amoeba dibedakan
dengan disentri bassiler yang disebabkan oleh Shigella dysentriae. Ciliata atau
Chiliopora alat gerak berupa silia atau rambut getar, contohnya Paramecium caudatum
yang disebut binatang sengat dan mempunyai dua buah vakuaola, vakuola makanan
dan vakuola kontraktil, yang berfungsi mengatur tekanan osmosis. Flagellata
(Mastigophora) alat geraknya berupa flagel atau bulu cambuk contohnya Euglena
viridis mahluk hidup peralihan antara protozoa dengan ganggang (Pratiwi 2007: 17).
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati morfologi beberapa spesies
anggota filum protozoa yang terdapat di air tawar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Protozoa dapat di ambil dari dalam kolam, sungai, atau akuarium, utamanya
dibagian dasar atau pada tumbuhan air di dalam kolam. Protozoa yang hidup bebas mudah
didapat, tetapi protozoa yang parasit sebaiknya menggunakan preparat awetan atau
membeli pada bagian parasitologi. Protozoa dapat mereproduksi dengan pembelahan biner
atau beberapa fisi. Beberapa protozoa bereproduksi secara seksual, beberapa aseksual,
sementara beberapa menggunakan kombinasi, misalnya Coccidia. Seorang individu
protozoon adalah hermaphroditik (Pratiwi 2007: 17).
Secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal dari bahasa Yunani,
yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama.
Tubuh protozoa amat sederhana, yaitu terdiri dari satu sel tunggal (unisel). Namun
demikian, protozoa merupakan system yang serba bisa. Semua tugas tubuh dapat dilakukan
oleh satu sel saja tanpa mengalami tumpang tindih. Ukuaran tubuhnya antaran 3-1000
mikron. Bentuk tubuh macam-macam ada yang seperti bola, bulat memanjang, atau seperti
sandal bahkan ada yang bentuknya tidak menentu. Juga ada memiliki flagel atau bersilia.
Protozoa hidup di air atau tempat yang basah. Protozoa hidup secara soliter atau bentuk
koloni. Didalam ekosistem air protozoa merupakan zooplankton (Sukra 2000: 23).
Permukan tubuh Protozoa dibayangi oleh membran sel yang tipis, elastis,
permeabel, yang tersusun dari bahan lipoprotein, sehingga bentuknya mudah berubahubah. Beberapa jenis protozoa memiliki rangka luar (cangkok) dari zat kersik dan kapur.
Apabila kondisi lingkungan tempat tinggal tiba-tiba menjadi jelek, Protozoa membentuk
kista. Dan menjadi aktif lagi. Organel yang terdapat didalam sel antara lain nukleus, badan
golgi, mikrokondria, plastida, dan vakuola (Pratiwi 2007: 18).
Nutrisi protozoa bermacam-macam. Ada yang holozoik (heterotrof), yaitu
makanannya berupa organisme lainnya. Ada pula yang holofilik (autotrof), yaitu dapat
mensintesis makanannya sendiri dari zat organik dengan bantuan klorofit dan cahaya.
Selain itu ada yang bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organik dari
organisme yang telah mati ada pula yang bersifat parasitik. Apabila protozoa dibandingkan
dengan tumbuhan unisel, terdapat banyak perbedaan tetapi ada persamaannya. Hal ini
mungkin protozoa merupakan bentuk peralihan dari bentuk sel tumbuhan ke bentuk sel

hewan dalam perjalanan evolusinya. Ciri-ciri prozoa sebagai hewan adalah gerakannya
yang aktif dengan silia atau flagel, memili membran sel dari zat lipoprotein, dan bentuk
tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah
ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang
mencirikan sebagai sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof
(Anonima 2013: 1).
Orang pertama yang melihat protozoa ialah ahli mikroskopis belanda Antony Van
Leeuwenhoek (1632-1723). Ia mengasah lensa-lensa sederhana yang dapat membesarkan
sampai 270 kali. Surat-suratnya kepada the Royal Society adalah suatu bahan klasik untuk
Biologi. Antara 1674 dan 1716 Leeuwenhoek menggambarkan banyak protozoa yang
hidup mandiri, diantaranya ialah Euglena, Volvox dan Vorticella (Dobell 1932). Huygens
dalam tahun 1678 adalah yang pertama kali menggambarkan Paramecium. Karya klasik
mengenai protozoa hidup mandiri dilaporkan oleh O.F. Muller (1786) Ehrenberg
(1830,1838) dan (1814) (Levine 1995: 8).
Protozoa pertama yang ditemukan adalah Eimeira stiedai, Leeuwenhoek
menemukan ookista-ookistanya didalam kantong empedu seekor kelinci tua dalam tahun
1674. Kemudian dalam tahun 1681 Leeuwenhoek menemukan Giardila lamblia didalam
tinjanya sendiri yang diracik, dan dalam tahun1683 ia menemukan Opalina dan Nyctoterus
didalam usus katak. Spesies pertama dari Trichomonas, T. tenax, telah ditemukan oleh O.F.
Muller dalam tahun 1773 didalam mulut orang, ia menamakan Cercaria tenax. Donne
menemukan T. Vaginalis di dalam vagina orang dalam tahun 1837, Davaine menemukan
Trichomonas dan Chilo pada tinja manusia yang menderita kolera pada tahun 1854
(Anonimb 2013: 2).
Abad ini melihat banyak kemajuan di dalam protozoologi dan akan banyak lagi
kemajuan di massa yang akan datang. Beberapa kali lebih banyak spesies protozoa parasitik
telah digambarkan sejak 1900 daripada yang diketahui sebelum itu. Sekarang kira-kira
10.000 spesies telah diberi nama tetapi ini baru suatu fraksi dari jumlah seluruhnya.
Penemuan-penemuan baru yang sangat menggembirakan telah terjadi setiap tahun
mengenai fisiologi dan kebutuhan-kebutuhan zat makanan protozoa (Von Brandt 1973,
1979, Carter 1979, Lioyd dan Muller 1979, Levandowsky dan Hutner 1979-1980, Walter

dan Blum 1979). Siklus-siklus hidup, hubungan-hubungan antara hospes dan parasit dan
pathogenesis banyak spesies sekarang sedang dipecahkan. Banyak spesies protozoa dapat
dikembangbiakan diluar hospes didalam pupukan-pupukan cair, pupukan-pupukan sel, atau
embrio-embrio ayam (Levine 1995: 10).
Amoeba proteus masuk dalam dalam subfillum Sarcodina. Anggota-anggota
subfilum ini bergerak dengan kaki semu (pseudopodia). Mereka tidak mempunyai silia dan
kecuali pada contoh-contoh yang jarang, juga tidak mempunyai flagella. Golongan ini
dinamakan berdasarkan istilah sarcode, suatu istilah yang diperkenalkan Dujardin untuk
sesuatu yang kemudian disebut protoplasma. Kebanyakan sarcodina adalah holozoik,
memakan mangsanya menggunakan kaki semu (pseudopodia). Sitoplasma biasanya dibagi
menjadi endoplasma, yang berisi vacuola-vakuola makanan, inti, dan sebagainya, dan suatu
ektoplasma yang relatif jernih. Bentuk-bentuk yang hidup dalam air tawar berisi satu atau
lebih vakuola berdenyut, vakuola-vakuola seperti ini tidak terdapat pada spesies-spesies
yang hidup di air asin dan yang parasitik (Pratiwi 2007: 25).
Dengan beberapa pengecualian berkembang biaknya ialah secara aseksual, yaitu
secara pembelahan yaitu secara pembelahan jadi dua atau jarang sekali dengan cara
pembelahan ganda (multiple fissiaon), secara penguncupan atau secara plasmotomi.
Kebanyakan spesies membentuk kista. Hanya sedikit sarcodina yang parasitik. Bentukbentuk yang hidup bebas mencakup protozoa yang paling cantik, yaitu Radiolaria yang
pelagik (hidup di permukaan laut) yang mempunyai kerangka yang mirip silia, dengan kisikisi nya yang halus atau lembut (Sukra 2000: 57).
Satu kelompok Radiola mempunyai kerangka yang terbuat dari strontium sulfat.
Kelompok laut yang lain, Foraminifera, mempunyai kulit cangkang seperti kalsium
karbonat. Kerangka-kerangkanya membentuk kapur, mereka dan radiolaria adalah penting
artinya bagi dunia geologi mereka dipakai sebagai indikator-indikator pengeboran sumur
minyak, mungkin lebih banyak nama-nama spesies Foraminifera telah diberikan daripada
nama-nama protozoa lainnya jadi satu (Levine 1995: 152).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 6 Maret 2013. Pada Pukul 08.00
WIB sampai dengan 10.00 WIB dan bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan,
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Sriwijaya Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kaca objek, kaca penutup, lup,
mikroskop dan pipet tetes. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah air kolam, air
sawah, dan air sumur.
3.3. Cara Kerja
Air sampel diambil dengan pipet tetes, diteteskan pada kaca objek dan ditutup
dengan kaca penutup. Diamati dibawah mikroskop dengan teliti, digambar dan diberi
keterangan spesies protozoa yang ditemukan dan tulis klasifikasinya. Dicatat
perbesaran mikroskop dan dilakukan pencarian spesies lain.

LAPORAN PRAKTIKUM
TAKSONOMI HEWAN

PROTOZOA

OLEH :
NAMA

: MAHADI KRISTIANTO

NIM

: 08111004029

KELOMPOK

: I (SATU)

ASISTEN

: NEDDY FERDIANSYAH

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
BAB IV

HASIL

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, maka didapat hasil sebagai berikut :


a. Amoeba proteus
Klasifikasi

Filum

: Protozoa

Kelas

: Rhizopoda

Ordo

: Eumobida

Famili

: Amoebidae

Genus

: Amoeba

Spesies

: Amoeba proteus

Keterangan Gambar :
1. Vakuola Makanan
2. Vakuola Kontraktil
3. Sitoplasma
4. Membran Plasma
5. Mitokondria
6. Nukleus
7. Nukleolus
8. Pseudopodium
Deskripsi :
Amoeba

proteus,

sebelumnya

Chaos

diffluens

adalah

amoeba

yang

berhubungan dekat dengan amoeba raksasa. Menurut Pratiwi (2007: 73) menyatakan
bahwa, Amoeba proteus masuk kedalam Rhizopoda, filum Sarcodina. Amoeba proteus
memiliki pseudopodia untuk bergerak, dengan cara pengalirkan protoplasmanya
membentuk pseudopodia atau kaki semu.
b. Paramecium caudatum

Klasifikasi

Filum

: Protozoa

Kelas

: Ciliata

Ordo

: Peniculida

Famili

: Paramecidae

Genus

: Paramecium

Spesies

: Paramecium sp.

Keterangan Gambar :
1. Vakuola makanan
2. Vakuola kontraktil
3. Silia
4. Makanan yang masuk
5. Pori Pengeluaran
6. Mikronukleus
7. Makronukleus

Deskripsi :
Paramecium merupakan salah satu protista mirip hewan. Protista ini berukuran
sekitar 50-350 m. Paramecium ini telah memiliki selubung inti (Eukariot). Uniknya
Menurut Pratiwi (2007: 79) menyatakan bahwa, protista ini memiliki dua inti dalam satu
sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang berfungsi untuk mengendalikan kegiatan
reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan
metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Paramecium bereproduksi secara aseksual
(membelah diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan konjugasi). Paramecium
bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air. Hal
ini akan terlihat jika menggunakan mikroskop.
c. Euglena viridis

Klasifikasi

Filum

: Protozoa

Kelas

: Flagelata

Ordo

: Euglenida

Famili

: Euglenidae

Genus

: Euglena

Spesies

: Euglena viridis

Keterangan Gambar :
1. Vakuola Makanan
2. Kloroplas
3. Nukleus
4. Flagela
5. Nukleolus
6. Stigma
7. Pelikel
8. Kromatin
9. Mitokondria
Deskripsi :
Euglena viridis adalah sejenis alga bersel tunggal yang berbentuk lonjong dengan
ujung anterior (depan) tumpul dan meruncing pada ujung posterior (belakang). Menurut
Srikini (2007: 76) menyatakan bahwa, setiap sel Euglena viridis dilengkapi dengan sebuah
bulu cambuk (flagel) yang tumbuh pada ujung anterior sebagai alat gerak. Pada ujung
anterior ini juga terdapat celah sempit yang memanjang ke arah posterior. Pada bagian
posterior, celah ini melebar dan membentuk kantong cadangan atau reservoir.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik beberapa


kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Tipe tipe protozoa berdasarkan jenis makanannya yaitu holozoik, holofilik, dan
saprofilik.
2. Paramecium caudatum bergerak menggunakan silia.
3. Euglena viridis mampu melakukan fotosintesis, maka dikatakan hidup secara
fotoautotrof.
4. Amoeba proteus termasuk ke dalam kelas Sarcodina karena memiliki kaki semu seperti
akar.
5. Flagel pada Euglena viridis digunakan sebagai alat pergerakan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2013. Artikel Protozoa. http://www.google.co.id/tag/protozoa. Diakses tanggal

4 Maret 2013, Pukul 14.13 WIB.


Anonimb. 2013. Artikel Protozoa. http://id.wikipedia.org/wiki/protozoa. Diakses tanggal
4 Maret 2013, Pukul 14.34.
Levine.1995. Protozoologi Veteriner. Gajah Mada University Press: Yoryakarta.
Pratiwi. 2007. Protista Mirip Hewan dan Tumbuhan. Erlangga: Jakarta. VI+ 237 hlm.
Srikini. 2007. Kingdom Protista. Binarupa Aksara: Bandung. V+ 345 hlm.
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Klasifikasi. Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi DEPDIKNAS: Jakarta. 392 hlm.

Lampiran Gambar :

Gambar. Amoeba proteus

Gambar. Euglena viridis

Gambar. Paramecium caudatum

ABSTRAK
Praktikum ini berjudul Protozoa. Tujuan praktikum kali ini adalah untuk
mengamati dan mengenal morfologi beberapa spesies anggota filum protozoa yang terdapat

di air tawar. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 6 Maret 2013, pukul 08.00
WIB sampai dengan 10.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya,
Indralaya. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah kaca objek, kaca pembesar, kaca
penutup, mikroskop, dan pipet tetes. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah air danau,
air kolam, dan air sawah. Adapun hasil yang akan didapatkan adalah berupa gambaran
bentuk dari Amoeba proteus, Euglena viridis, dan Paramecium caudatum. Dari praktikum
yang dilaksanakan dapat diambil kesimpulan berupa tipe tipe protozoa berdasarkan jenis
makanannya yaitu holozoik, holofilik, dan saprofilik.