Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

TAKSONOMI HEWAN
NEMATHELMINTHES

OLEH :
NAMA

: MAHADI KRISTIANTO

NIM

: 08111004029

KELOMPOK

: I (SATU)

ASISTEN

: NEDDY FERDIANSYAH

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013

ABSTRAK
Praktikum yang berjudul Nemathelminthes. Tujuan praktim kali ini adalah untuk
mengamati dan mengenal ciri morfologi beberapa spesies anggota filum Nemathelminthes.
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 6 Maret 2013 Pukul 08.00 WIB sampai
dengan 10.00 WIB, Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat yang
digunakan pada praktikum ini adalah bak preparat, kaca pembesar dan pinset serta bahan
yang dibutuhkan adalah Ascaris lumbricoides. Hasil yang didapatkan adalah struktur
morfologi dari Ascaris lumbricoides. Kesimpulan dari praktikum ini adalah cacing ini
berbentuk gilig, tidak bersegmen dan berkutikula elastis. Ascaris lumbricoides hidup
parasitik dalam usus halus hewan vertebrata, tubuhnya licin dan bertipe fusiformis.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Karakteristik dari filum Nemathelminthes antara lain : tubuh berbentuk gilig
atau seperti batang dan tidak bersegmen, tripoblastik. Permukaan tubuh dilapisi
kutikula sehingga tampak mengkilat. Memiliki sepasang organ sensor lateral (amphids)
di kepala. Ditemukan di sebagian besar habitat aquatik, tanah lembab, dalam jaringan
tumbuhan, tubuh manusia dan jaringan hewan Sistem respirasi spesies ini masih
menggunakan seluruh permukaan tubuhnya, sedangkan ekskresinya oleh sel-sel eksresi
yang akn bermuara ke saluran eksresi yang terletak di sebelah dalam dari masingmasing garis lateral. Sistem saraf terdiri atas cincin saraf yang mengeliligi esofagus.
Cincin saraf ini dihubungkan dengan enam buah tali saraf longitudinal yang pendek ke
anterior dan enam buah tali saraf longitudinal ke bagian posterior (Anonima 2013: 1).
Cacing gilig atau Nematoda adalah hewan berbentuk silinder yang memanjang.
Hewan-hewan ini mempunyai dua sifat yang berkembang lebih maju secara evolusi
dibandingkan dengan cacing pipih (yang mungkin merupakan nenek moyangnya).
Hewan-hewan ini mempunyai saluran pencernaan satu arah yang menjulur dari
mulut dibagian muka sampai anus di bagian belakang. Sistem pencernaan satu arah ini
menguntungkan, karena meniadakan pencampuran makanan yang masuk dengan
limbah yang ke luar. Setelah makanan masuk ke dalam mulut, maka makanan
tersebut dapat diproses tahap demi tahap pada waktu melalui satu bagian saluran
pencernaan ke bagian lain. Akhirnya, sisa yang tidak tercerna dikeluarkan melalui anus
(Kimball 1983: 904).
Pada sistem reproduksi alat kelamin terpisah, cacing betina lebih besar dari
cacing jantan dan yang jantan mempunyai ujung berkait. Gonad berhubungan dengan
saluran alat kelamin, dan telur dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin. Hewan ini
tidak berkembangbiak secara aseksual. Habitatnya, sebagian besar hewan ini hidup
bebas dalam air dan tanah, tetapi ada juga sebagai parasit dalam tanah, yakni merusak
tanaman atau dalam saluran pencernaan vertebrata (Anonimb 2013: 1).

Nematoda dikenal dengan sebutan roundworms atau cacing gelang. Dua


diantaranya yang terkenal adalah Ascaris lumbricoides cacing gelang pada usus
manusia dan Entrobius vermicularis cacing kremi pada anak kecil. Filum Nematoda
mempunyai anggota sekitar 15.000 spesies. Sebagian besar spesies dari Nematoda
hidup bebas, baik di laut, air payau, air tawar dan tanah; dari daerah kutub yang
dingin sampai tropis; di berbagai habitat seperti padang pasir dan laut dalam. Jadi
penyebarannya luas sekali. Pada lumput laut pernah dijumpai 4 juta cacing nematoda
per meter persegu, di tanah pertanian 100 juta cacing jenis terestrial per meter persegi.
Jenis parasit juga cukup banyak, serta menyerang tumbuhan dan hewan sehingga
sering kali merugikan petani dan peternak (Suwignyo 2005: 104).
Pada sistem reproduksi alat kelamin terpisah, cacing betina lebih besar dari
cacing jantan dan yang jantan mempunyai ujung berkait. Gonad berhubungan dengan
saluran alat kelamin, dan telur dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin. Hewan ini
tidak berkembangbiak secara aseksual. Habitatnya, sebagian besar hewan ini hidup
bebas dalam air dan tanah, tetapi ada juga sebagai parasit dalam tanah, yakni merusak
tanaman atau dalam saluran pencernaan vertebrata (Anonima 2012: 1).
Nematoda memiliki suatu rongga blastocoel selama perkembangan, semenjak
embrio dan karena itu tidak ada kaitannya dengan selom, yang sebagaimana anda
ketahui berkembang seluruhnya dikelilingi oleh mesoderm. Karena itu rongga tersebut
sering disebut pseudocoel. Di dalamnya terdapat berbagai alat-alat internal, termasuk
alat reproduksi. Adanya suatu rongga tubuh yang jelas dan bukannya suatu massa
mesoderm yang padat memungkinkan pergerakan bebas yang lebih besar, meskipun
gerakan mirip pecut yang menjadi ciri khas nematoda tapi tampaknya dia tidak
memanfaatkan hal ini (Kimball 1983: 904).
1.2.Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan mengenal ciri morfologi beberapa
species anggota filum Nemathelminthes.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nemathelminthes (Nemathos = benang atau tambang dan helmins = cacing) ada
yang hidup di dalam tanah, di air dan parasit pada manusia ataupun hewan. Hewan
yang tergolong filum Nemathelminthes mempunyai ciri-ciri, yaitu tubuh berbentuk gilig
atau seperti batang dan tidak bersegmen, mempunyai selom semu (pseudoselomata),
tripoblastik; permukaan tubuh dilapisi kutikula sehingga tampak mengkilat; saluran
pencernaan sempurna mulai dari mulut sampai anus. Beberapa jenis diantaranya
memiliki kait; sistem respirasi melalui permukaan tubuh secara difusi, saluran peredaran
darah tidak ada, tetapi cacing ini mempunyai cairan yang fungsinya menyerupai darah
(Anonima 2013: 1).
Ciri tubuh Nemathelminthes meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran tubuh Nemathelminthes umunya mikroskopis, meskipun ada yang panjangnya
sampai 1 meter. Individu betina berukuran lebih besar daripada individu jantan. Tubuh
berbentuk bulat panjang atau seperti benang dengan ujung-ujung yang meruncing.
Permukaan tubuh Nemathelminthes dilapisi kutikula untuk melindungi diri. Kutikula ini
lebih kuat pada cacing parasit yang hidup di inang daripada yang hidup bebas. Kutikula
berfungsi untuk melindungi dari dari enzim pencernaan inang (Anonimb 2013: 1).
Mayoritas Nematoda berukuran sangat kecil. Beberapa di antaranya, seperti Ascaris,
dapat mencapai panjang satu kaki (30,48 cm) dan seekor cacing, cacing raksasa yang
merupakan parasit pada ikan paus, mencapai 30 kaki (915 cm) panjangnya. Akan tetapi,
sebagian besar Nematoda tidak lebih besar daripada potongan-potongan benang kecil.
Meskipun demikian cacing ini mudah dikenal dari gerakan yakni seperti pecut yang
mendera. Tanah yang subur penuh dengan organisme kecil ini dan pemeriksaan sedikit
tanah dan air dengan menggunakan kaca pembesar pasti akan menunjukkan keberadaan
mereka (Kimball 1983: 905).
Nemathelminthes memiliki sistem percenaan yang lengkap terdiri dari mulut, faring,
usus, dan anus. Mulut terdapat pada ujung anterior, sedangkan anus terdapat pada ujung
posterior. Beberapa Nemathelminthes memiliki kait pada mulutnya. Nemathelminthes tidak

memiliki pembuluh darah. Makanan diedarkan keseluruh tubuh melalui cairan pada
pseudoselom. Nemathelminthes tidak memiliki sistem respirasi, pernapasan dilakukan
secara difusi melalui permukaan tubuh. Organ reproduksi jantan dan betina terpisah dalam
individu berbeda (Anonima 2013: 1).
Kebanyakan Nematoda yang hidup bebas adalah karnovira dan memakan metazoa
kecil, termasuk jenis Nematoda lain. Spesies lain baik air laut maupun air tawar adalah
fitofagus, memakan diatom, ganggang dan jamur. Spesies terestrial merupakan hama
tanaman komersial. Adapula spesies laut, air tawar dan terestrial yang merupakan deposit
feeder, memakan lumpur dan memanfaatkan bakteri dan bahan organik yang terkandung
dalam lumpur. Beberapa spesies memakan sampah organik seperti kotoran hewan, bangkai
dan tanaman busuk (Suwignyo 2005: 106).
Cara hidup dan habitat Nemathelminthes hidup bebas atau parasit pada manusia,
hewan, dan tumbuhan. Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai
sampah organik, sedangkan yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan
darah dari tubuh inangnya. Habitat cacing ini berada di tanah becek dan di dasar
perairan tawar atau laut. Nemathelminthes parasit hidup dalam inangnya. Reproduksi
Nemathelminthes umumnya melakukan reproduksi secara seksual. Sistem reproduksi
bersifat gonokoris, yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang
berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal. Telur hasil fertilisasi dapat membentuk kista dan
kista dapat bertahan hidup pada lingkungan yang tidak menguntungkan (Anonima 2013: 1).
Sampai sekarang telah diidentifikasikan 10.000 species Nematoda, tetapi daftar
ini tentu masih jauh dari sempurna, Nematoda hidup dimana saja. Mereka dapat
ditemukan di air tawar, air asin dan juga dalam tanah. Sebagian parasit, hewan ini hidup
dalam tubuh hewan lain dan tumbuhan. Dikatakan jika semua zat bumi kita semua musnah
kecuali Nematoda, tetapi kita masih dapat mengenal semua makhluk yang masih ada
(benda mati ataupun organisme hidup) dengan jenis Nematoda yang dikandungnya
(Kimball 1983: 904).
Filum Nemathelminthes ini terdiri atas dua kelas, yaitu: Aphasmida (Adenophorea)
dan Phasmida (Secernentea). Kelas Aphasmida, tidak ada phasmid, mempunyai amphid
yang besar dan kebanyakan hidup bebas. Kelas ini terdiri dari dua ordo, yaitu

Chromadorida dan Enoplida. Sedangkan kelas Phasmida, terdapat sepasang lubang


phasmid pada ekornya dan memiliki amphid seperti lubang. Akan tetapi, pada infeksi yang
berat, cacing begitu hebat, sehingga menyebabkan kematian inang karena trikinosis Kelas
ini juga terbagi menjadi empat ordo, yaitu Rhabditida, Strongylida, Ascarida dan Spirudida
(Anonima 2013: 1).
Menurut perkiraan baru-baru ini, lebih dari 4 juta manusia diseluruh Amerika
Serikat telah terkena infeksi Trichinella spiralis. Infeksi disebabkan oleh karena memakan
daging babi mentah atau kurang matang, yang mengandung organisme-organisme ini. Yang
paling bijaksana bila kita menduga bahwa semua daging babi mengandung cacing tersebut,
karena petugas pemeriksa daging tidak berusaha mnemukan cacing tersebut. Infeksi
Trichinella spiralis pada manusia dapat dikatakan sebagai suatu kesalahan biologis. Karena
kita tidak melakukan kanibalisme atau tidak membiarkan mayat-mayat manusia terlantar,
maka tida ada cara bagi cacing tersebut untuk meninggalkan tubuh kita dan masuk ke
dalam tubuh inang lainnya. Mereka hanya akan sekedar membuat tempat istirahat di otot
kita dan akhirnya akan mati (Kimball 1983: 906).
Alat ekskresi nematoda buka protonephridia, tetapi suatu sistem kelenjar, dengan
atau tanpa saluran. Pada spesies laut biasanya terdapat satu atau dua sel kelenjar yang besar,
tanpa saluran, terletak dekat dengan pharynx dan mempunyai sebuah lubang ekskresi,
disebut kelenjar renette. Jenis lain mempunyai sistem kelenjar dengan saluran, seperti
bentuk huruf H. Reproduksi selalu seksual. Umumnya dioecious, dan jantan ditandai
dengan ekor berbentuk kait berukuran lebih kecil dari betina. Pembuahan di dalam uterus;
telur yang telah dibuahi mendapat cangkang yang tebal dan keras (Suwignyo 2005: 107).
Ascaris lumbricoides (cacing perut), cacing ini hidup di dalam usus halus manusia
sehingga sering kali disebut cacing perut. Ascaris lumbricoides merupakan hewan dioseus,
yaitu hewan dengan jenis kelamin berbeda, bukan hemafrodit. Ascaris lumbricoides hanya
berkembang biak secara seksual. Ascaris lumbricoides jantan memiliki sepasang alat
berbentuk kait yang menyembul dari anus disebut spikula. Spikula berfungsi untuk
membuka pori kelamin cacing bretina dan memindahkan sperma saat kawin. Infeksi cacing
ini menyebabkan penyakit askariasis atau cacingan, umumnya pada anak-anak
(Kimball 1983: 906).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 6 Maret 2013 pukul 08.00
WIB sampai dengan 10.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya,
Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak preparat, kaca pembesar dan
pinset serta bahan yang dibutuhkan adalah Ascaris lumbricoides.
3.3. Cara Kerja
Diamati cacing tersebut secara seksama. Dibedakan bagian-bagian tubuhnya
secara morfologi. Hasil yang didapat digambar dan diberi keterangan. Dibuat deskripsi
objek yang diamati dan dibuat klasifikasi spesiesnya.

BAB IV
HASIL
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka didapat hasil berupa gambar
sebagai berikut :
Ascaris lumbricoides

Klasifikasi :
Filum

: Aschelminthes

Kelas

: Nematoda

Ordo

: Ascaroidea

Famili

: Ascaridoidea

Genus

: Ascaris

Spesies : Ascaris lumbricoides


Keterangan Gambar :
A. Posterior
B. Anterior
1. Anus
2. Garis lateral
3. Spikula
4. Mulut

Deskripsi :
Hewan ini hidup parasitik dalam usus halus hewan vertebrata. Tubuhnya licin dan
bertipe fusiformis. Mulut Ascaris dilengkapi dengan tiga buah bibir. Hewan jantan
berukuran lebih kecil daripda hewan betina. Pada hewan jantan, bentuk posteriornya
melengkung dan pada ujungnya terdapat spikula. Menurut Oemarjati (1990: 46)
menyatakan bahwa, Ascaris bereproduksi secara seksual. Pada hewan betina
mempunyai sepasang organ reproduksi, yang berukuran panjang seperti pita dan
berkelok-kelok. Sedangkan pada hewan jantan hanya mempunyai sebuah organ
reproduksi. Bentuknya serupa dengan organ reproduksi hewan betina.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan pratikum yang telah dilakukan, maka didapatkan beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Ciri morfologi Nemathelminthes adalah gilig, tak bersegmen dan berkutikula elastis
2. Jenis cacing ini kebanyakan hidup sebagai parasit.
3. Pada umumnya berukuran kecil, walaupun ada beberapa yang berukuran besar
(panjangnya).
4. Nemathelminthes terdiri atas dua kelas, yaitu Aphasmida (Adenophorea) dan Phasmida
(Secernentea).
5. Ascaris lumbricoides hidup parasitik dalam usus halus hewan vertebrata, tubuhnya licin
dan bertipe fusiformis.

DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2013. Nemathelminthes. http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=81&
fname=ujikb3hal34.htm. Diakses pada tanggal 4 Maret 2013 pukul 14.44 WIB.
Anonimb. 2008. Mengenal Phylum Nmathelminthes. http://gurungeblog.wordpress.com/
2008/11/11/mengenal-phylum-nemathelminthes/. Diakses pada tanggal 4 Maret 2013
pukul 14.44 WIB.
Kimball, John.W. 1983. Biologi Jilid 3. Erlangga: Jakarta. XIII+ 108 hlm.
Oemarjati, Boen S. dan Wardhana, Wisnu. 1990. Taksonomi Avertebrata. UI Press: Jakarta.
VII+ 177 hlm.
Suwignyo, Sugiarti, et al. 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya: Jakarta. IV+ 204 hlm.

Lampiran Gambar :

Cacing Ascaris

lumbricoides dewasa

http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/11/mengenal-phylum-nemathelminthes/.
Diakses pada tanggal 4 Maret 2013 pukul 14.44 WIB.

Ascaris lumbricoides
http://www.iptek.net.id/ind/pd_invertebrata/index.php?mnu=2&id=15. Diakses pada
tanggal 4 Maret 2013 pukul 14.44 WIB.

Ascaris lumbricoides: A. Betina, B.Jantan


http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=81&fname=%20kb4.htm. Diakses pada
tanggal 4 Maret 2013 pukul 14.44 WIB.