Anda di halaman 1dari 14

1

Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Papahit, Hans
Teori Hukum
S2 STIK
Prof.Dr. Iza Fadri,
Dr Zulkarnain Koto M.H.

TUJUAN HUKUM ADALAH KETERTIBAN DALAM MASYARAKAT


TINJAUAN PERSPEKTIF HUKUM KEPOLISIAN

PENDAHULUAN
Glanville Williams mengatakan bahwa arti kata hukum tergantung
pada konteks kata tersebut digunakan, misalnya , hukum adat awal dan
hukum kota yang konteks di mana kata hukum memiliki dua makna yang
berbeda dan tak terdamaikan. Thurman Arnold menyatakan adalah tidak
mungkin untuk mendefinisikan kata hukum namun perjuangan untuk
mendefinisikan definisi tersebut seharusnya tidak pernah ditinggalkan.
Tidaklah salah untuk berpandangan bahwa mendefinisikan kata "hukum"
bukanlah kepentingan yang mendesak (misalnya: "mari lupakan tentang
generalisasi definisi dan langsung pada contohnya").
Permasalahan yang mendasar dalam definisi hukum sesuai konteksnya
adalah bagaimana menentukan hukum yang mana yang berlaku dalam
konteks yang bersifat dinamis. Dilematis anggota Polri dalam menentukan
hukum yang mana akan selalu terjadi dikarenakan masyarakat akan selalu
bersifat dinamis, termasuk pula permasalahan hukumnya.

Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

2
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Undang-undang No.2 Tahun 2002 tahun 2002 tentang Polri dalam pasal
4 merumuskan tujuan Polri sebagai Kepolisian Negara Republik Indonesia
bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi
terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya
hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dikaitkan dengan definisi hukum
yang dimaksud, maka konstruksi jawaban bukanlah sekadar mendefinisikan
secara harafiah, namun melalui pendekatan ilmu dan teori-teori hukum.
ISTILAH HUKUM DAN HUKUM
Menelusuri tafsir harafiah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, hukum diartikan
sebagai: 1. peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang
dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; 2. undang-undang, peraturan,
dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; 3. patokan
(kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang
tertentu; 4. keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam
pengadilan); vonis (http://kbbi.web.id/hukum).
Hukum Menurut Ilmu Hukum
Dalam kamus hukum terkenal Blacks Law Dictionary, hukum
didefinisikan sebagai
a: (1) : a binding custom or practice of a community : a rule of conduct or
action prescribed or formally recognized as binding or enforced by a
controlling authority
(2) : the whole body of such customs, practices, or rules
(3) : common law : the laws that developed from English court decisions
and customs and that form the basis of laws in the U.S.
b: (1) : the control brought about by the existence or enforcement of such
law
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

3
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

(2) : the action of laws considered as a means of redressing wrongs; also


: litigation
(3) : the agency of or an agent of established law
c : a rule or order that it is advisable or obligatory to observe
d : something compatible with or enforceable by established law
e : control, authority
Menelusuri Teori Hukum
Dalam filsafat hukum, terkait dengan pemaknaan hukum, maka
terdapat dua pertanyaan utama yang akan dicoba dijawab ketika konsep
maupun teori hukum dikemukakan. Pertanyaan yang pertama adalah
bagaimana hukum seharusnya?, sedangkan pertanyaan kedua adalah
Apakah hukum itu?. Dalam TEORI HUKUM Strategi Tertib Manusia Lintas
Ruang dan Generasi (Tanya Dkk. :2013), makna hukum tidaklah tunggal,
setiap ruang dan generasi memaknai hukum secara berbeda sesuai sistem
situasi ruang dan generasi itu.
Persamaan yang medasar adalah bahwa teori hukum dari waktu ke
waktu tetap berusaha menjawab kedua jenis pertanyaan tersebut,
bagaimana hukum seharusnya?, dan apakah hukum itu?. Sebagai
contoh, pada zaman klasik filsuf Ionia mencoba menjawab pertanyaan
apakah hukum itu (hukum itu tatanan kekuatan), sedangkan Kaum Sofis
mencoba menjawab pertanyaan bagaimana hukum seharusnya (hukum
sebagai tatanan logos).
Dari penjelasan diatas, maka penulis membedakan konteks
penggunaan istilah hukum dan hukum untuk mempermudah memahami
tulisan ini. Hukum merupakan pemaknaan secara teoritis, yang berkenaan
dengan konteks, sedangkan hukum merupakan pemaknaan sebagai dogma
hukum, hukum tertulis, hukum yang ditetapkan pemerintah untuk dipatuhi
dan dilaksanakan.
MEMAHAMI TUJUAN POLRI MELALUI TERTIB DAN TEGAKNYA HUKUM
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

4
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Undang-undang No.2 Tahun 2002 tahun 2002 tentang Polri dalam


pasal 4 merumuskan tujuan Polri sebagai Kepolisian Negara Republik
Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang
meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan
tegaknya (hukum?), terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat
dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Penjelasan pasal 4 UU No.2
tahun 2002 tentang Polri adalah : Hak asasi manusia adalah hak dasar yang
secara alamiah melekat pada setiap manusia dalam kehidupan masyarakat,
meliputi bukan saja hak perseorangan melainkan juga hak masyarakat,
bangsa dan negara yang secara utuh terdapat dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta sesuai pula dengan prinsipprinsip yang terkandung dalam Declaration of Human Rights, 1948 dan
konvensi internasional lainnya. Dalam penjelasan pasal 4 UU No. 2 tahun
2002 tersebut, tidak ditemukan penjelasan mengenai hukum mana yang
dimaksud, hanya menjelaskan mengenai hak asasi manusia.
Keamanan Dalam Negeri
Secara singkat, keamanan dalam negeri terwujud melalui adanya 4
(empat) kondisi dan 1 (satu) syarat. Keempat kondisi tersebut meliputi: 1.
Terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat; 2. Tertib dan tegaknya
(hukum?); 3. Terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
kepada masyarakat; serta 4.Terbinanya ketentraman masyarakat. Syarat
dalam menciptakan kondisi tersebut adalah menjunjung tinggi Hak Asasi
Manusia.
Sebagai dampak tidak adanya penjelasan hukum mana yang
dimaksud, maka kondisi kedua (tertib dan tegaknya hukum) merupakan
pusat pembahasan dalam penulisan ini.
Dalam Undang-undang No.2 Tahun 2002 tahun 2002 tentang Polri,
Pasal 2 menyebutkan Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi
pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

5
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

masyarakat, penegakan (hukum?), perlindungan, pengayoman, dan


pelayanan kepada masyarakat. Dalam pasal Pasal 5 ayat (2), disebutkan
Dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsi kepolisian, wilayah negara
Republik Indonesia dibagi dalam daerah (hukum?) menurut kepentingan
pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam penjelasan
pasal 2 dan pasal 5, tidak ditemukan petunjuk yang memberikan gambaran
mengenai hukum? mana yang dimaksud.
Petunjuk mengenai hukum? yang dimaksud ditemukan dalam upaya
mencoba menemukan pengertian dari daerah hukum. Dalam penjelasan
pasal 6 Ayat (2), dijelaskan Untuk melaksanakan peran dan fungsinya
secara efektif dan efisien, wilayah Negara Republik Indonesia dibagi dalam
daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas dan wewenang
Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan memperhatikan luas wilayah,
keadaan penduduk, dan kemampuan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pembagian daerah hukum tersebut diusahakan serasi dengan pembagian
wilayah administratif pemerintahan di daerah dan perangkat sistem
peradilan pidana terpadu. Penjelasan ini bersesuaian dengan Pasal 2 ayat
(2) PP No. 23 tahun 2007 tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik
Indonesia menyebutkan Untuk wilayah administrasi kepolisian, daerah
hukumnya dibagi berdasarkan pemerintahan daerah dan perangkat sistem
peradilan pidana terpadu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
(hukum?) yang dimaksud adalah hukum yang diterapkan dalam sistem
peradilan pidana, yaitu hukum pidana sebagai hukum yang bersifat praktis
dan normatif (ilmu hukum / dogmatis hukum). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa hubungan antara Polri dan keamanan dalam negeri
sebagaimana gambar berikut.
Hubungan Polri dan Keamanan Dalam Negeri

Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

6
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa Polri adalah komponen


utama untuk mewujudkan dalam negeri, namun terbinanya ketentraman
masyarakat (peace) merupakan merupakan kondisi yang menjadi tugas
pokok, fungsi, dan peran komponen lain diluar Polri.
Meskipun demikan, dikaitkan dengan tujuan Polri untuk mewujudkan
keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan
ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta
terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, maka dalam mencapai tujuan diperlukan tindakan (action). Untuk
mecapai kondisi tersebut, maka diperlukan perlu dilakukan kajian lebih
mendalam mengenai perbedaan antara tugas dan tugas pokok.
Tertib dan Tegaknya Hukum
Sebagai salah satu indikator (dari empat indikator) yang menunjukkan
terwujudnya keamanan dalam negeri, kondisi tertib dan tegaknya hukum
menjadi menarik untuk dibahas lebih mendalam. Ketika tujuan Polri untuk
mewujudkan kemanan dalam negeri yang salah satunya berupa kondisi
tertib dan tegaknya hukum, dikaitkan dengan tugas pokok, fungsi, dan
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

7
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

peran Polri yang hanya membahas mengenai menegakkan hukum dan


penegakkan hukum, apa yang terjadi dengan tertibnya hukum, dan
penertiban hukum?
Sebagai langkah awal, pemahaman tentang tertib hukum menjadi
penting untuk dapat menggali lebih dalam tentang tertib dan tegaknya
hukum. Pemahaman akan difokuskan kepada tertib hukum tinimbang
tegaknya hukum dikarenakan istilah tertib hukum tidak dapat
ditemukanpada pasal-pasal dalam UU No. 2 tahun 2002 tentang Polri.
Secara harafiah, tertib hukum berasal dari kata tertib dan
hukum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertiannya adalah :
tertib/tertib/ a 1 teratur; menurut aturan; rapi; 2 sopan; dengan sepatutnya; 3
aturan; peraturan yang baik. Sebagai padanan dari penegakkan maka perlu
diketahui pula arti kata penertiban, yaitu : penertiban/penertiban/ n proses,
cara, perbuatan menertibkan (http://kbbi.web.id/tertib), sedangkan penegakkan
adalah: penegakan/penegakan/ n proses, cara, perbuatan menegakkan;

Tertib hukum dapat kita temukan dalam Tap MPRS No.XX/ MPR/ 1966.
Tentang Memorandum DPR-GR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik
Indonesia Dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia.
Dalam Tap MPRS No.XX/ MPR/ 1966, disebutkan sumber tertib hukum
(sumber dari segala sumber hukum) adalah Pancasila dan diwujudkan
kedalam: 1. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945; 2. Dekrit Presiden 5
Juli 1959; 4. Undang- Undang Dasar Proklamasi; 4. Surat Perintah 11 Maret
1966. Tata urut hierarkhi perundang-undangan dalam berdasarkan Tap MPRS
No.XX/ MPR/ 1966 adalah: 1. Undang-undang Dasar; 2. Ketetapan MPR; 3.
Undang-Undang; 4. Peraturan Pemerintah; 5. Keputusan Presiden; 6.
Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Dalam perjalanannya, Tap MPRS
No.XX/ MPR/ 1966 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku oleh TAP MPR No.
III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum Dan Tata Urutan Peraturan PerundangUndangan. TAP MPR No. III/MPR/2000 merumuskan tata urutan perundangundangan sbb: 1. Undang-Undang Dasar 1945; 2. Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia; 3. Undang-Undang; 4.
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

8
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu); 5. Peraturan


Pemerintah; 6. Keputusan Presiden; 7. Peraturan Daerah.
Istilah yang berkaitan dengan tertib hukum kembali
ditemukan pada UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan. Dalam pasal 6 yang mengatur tentang asas-asas
pembentukan perundang-undangan, salah satu asas adalah ketertiban dan
kepastian hukum (ayat 1 huruf i). Dalam penjelasannya, Yang dimaksud
dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap materi
muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan
ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum.
Dalam perspektif dogmatis, UU No. 12 tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan memaknai bahwa tertibnya
hukum adalah mengenai keteraturan hukum dogmatis (peraturan
perundang-undangan) secara hierarkhi, atau yang dikenal sebagai lex
superior derogat lex inferior, dan berlaku dalam konteks pembuatan
peraturan perundang-undangan (dogmatis hukum) yang secara dogmatis
menyatakan bahwa Polri tidak termasuk didalamnya.
Didasari dengan pengakuan hukum bahwa pancasila adalah sumber
dari segala sumber hukum di Indonesia, maka semua peraturan perundangundangan yang ada harus tunduk kepada Pancasila sebagai konsekuensi lex
superior derogat lex inferior. Hukum mengakui bahwa nilai-nilai hukum dan
keadilan yang terdapat pancasila tidaklah dilakukan melalui proses
pembentukkan peraturan perundang-undangan, tetapi sebagai groundnorm
yang tercermin dari dengan didiorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebasyang berdasarkan
kepada..keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Agar tidak terjadi salah persepsi mengenai keadilan secara hukum
dan keadilan sosial, KBBI Daring menjelaskan : keadilan/keadilan/ n sifat
(perbuatan, perlakuan, dan sebagainya) yang adil: dia hanya mempertahankan hak
dan ~ nya; Pemerintah menciptakan ~ bagi masyarakat;~ sosial kerja sama untuk
menghasilkan masyarakat yang bersatu secara organis sehingga setiap anggota
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

9
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh dan belajar
hidup pada kemampuan aslinya; (http://kbbi.web.id/adil). Dengan demikian, konteks
keadilan yang dimaksud berbeda dengan keadilan menurut hukum.

Berdasarkan tradisi common law, konsep negara hukum dikembangkan


atas kepeloporan A.V Dicey yang disebut The Rule of Law. Menurutnya,ada
tiga ciri atau arti penting the rule of law, yaitu :
1. Supremasi hukum dari regular law untuk menentang pengaruh
dari arbitrary power dan meniadakan kesewenang-wenangan,
prerogative atau discretionary authority yang luas dari pemerintah.
2. Persamaan di hadapan hukum dari semua golongan kepada ordinary
law of the land yang dilaksanakan oleh ordinary court. Tidak ada orang
yang berada di atas hukum, baik pejabat maupun warganegara biasa
berkewajiban menaati hukum yang sama.
3. Konstitusi adalah hasil dari the ordinary law of the land, bahwa hukum
konstitusi bukanlah sumber tetapi merupakan konsekuensi dari hakhak individu yang dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.
(A.V.Dicey, An Introduction to Study of Law of the Constitution, Mac.Millan &
Co, London, 1959, Hal.117; Philipus M Hadjon,Perlindungan Hukum Bagi
Rakyat,Op.Cit.hal 80)
Senada dengan diatas, Eugen Ehrlich berusaha untuk membuat jelas
perbedaan dan hubungan antara hukum positif dan bentuk lain dari hukum
atau norma-norma sosial yang mengatur kehidupan sehari-hari, yang
umumnya mencegah konflik berkelanjutan ke proses hukum dan peradilan.
Penelitian sosiologi hukum Kontemporer menekankan pada bagaimana
hukum berkembang di luar yurisdiksi negara, yang dihasilkan melalui
interaksi sosial di berbagai arena sosial, dan melibatkan berbagai pihak
otoritas (sering bersaing atau bertentangan) dalam jaringan komunal. Ehrlich
menyatakan bahwa : Hukum, pertama-tama bukanlah sebuah konsep
intelektual. Hukum pun tidak kurang dari realitas hubungan antar manusia
itu sendiri. Hukum adalah hukum sosial. (Tanya Dkk. :128)

Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

10
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Dikaitkan dengan UU No. 2 Tahun 2002 yang menyebutkan tertib dan


tegaknya hukum sebagai suatu kondisi yang ingin dicapai, dan
penegakkan sebagai proses untuk mencapai, maka konteks kondisi tertib
dalam tertib dan tegaknya hukum lebih tepat dikaitkan dengan upaya
yang dicapai melalui proses penertiban daripada dimaknai sebagai asas.
Penertiban hukum hanya dapat dilakukan ketika kondisi hukum
dalam keadaan tidak tertib. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari
hubungan sebab-akibat. Keadaan hukum yang tidak tertib tersebut dapat
diartikan sebagai terjadinya tumpang tindih (overlap) antar peraturan
perundang-undangan. Berdasarkan penjelasan pasal 6 ayat 1 huruf i tentang
asas ketertiban dan kepastian hukum: bahwa setiap materi muatan
peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam
masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum, maka hukum
dalam keadaan tidak tertib apabila materi muatan peraturan perundangundangan tidak dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui
jaminan adanya kepastian hukum. Artinya tujuan utama dari hukum adalah
ketertiban masyarakat yang ingin diwujudkan melalui kepastian hukum.
Maka bagaimanakah jika kepastian hukum tidak dapat mewujudkan
ketertiban masyarakat tetapi justru kontra produktif? Apa yang dapat
dilakukan Polri? Penjelasan Pasal 15 (1) huruf f menjelaskan bahwa tindakan
kepolisian adalah upaya paksa dan/atau tindakan lain menurut hukum yang
bertanggung jawab guna mewujudkan tertib dan tegaknya hukum serta
terbinanya ketenteraman masyarakat. Pertanyaan besar mengenai apa
hubungan Polri dengan tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya
ketenteraman masyarakat dapat dijawab oleh penjelasan pasal 15 (1) huruf
f, yaitu ketika Polri melakukan tindakan kepolisian (upaya paksa dan/atau
tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab).
Dalam Peraturan Kapolri No. 9 Tahun 2011 tentang manajemen
operasional kepolisian, ketentuan umum pada pasal 1 angka 7 dan 8
menyebutkan: Ambang Gangguan yang selanjutnya disingkat AG adalah
suatu situasi/kondisi Kamtibmas yang apabila tidak dilakukan tindakan
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

11
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

kepolisian, dikhawatirkan akan menimbulkan Gangguan Nyata yang


selanjutnya disingkat GN dan Gangguan Nyata yang selanjutnya disingkat
GN adalah gangguan berupa kejahatan, pelanggaran hukum atau bencana
yang dapat menimbulkan kerugian harta benda, jiwa - raga maupun
kehormatan.
Dalam Peraturan Kapolri No. 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan
Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, ketentuan umum pada pasal 1 angka 2
menyebutkan: Tindakan Kepolisian adalah upaya paksa dan / atau tindakan lain
yang dilakukan secara bertanggung jawab menurut hukum yang berlaku untuk
mencegah, menghambat, atau menghentikan tindakan pelaku kejahatan yang
mengancam keselamatan, atau membahayakan jiwa raga harta benda atau
kehormatan kesusilaan, guna mewujudkan tertib dan tegaknya hukum serta
terbinanya ketentraman masyarakat.

Dari dua peraturan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa tindakan


kepolisian adalah tindakan yang dilakukan Polri untuk mencegah kerugian
harta benda, jiwa-raga, maupun kehormatan.
Pembatasan pasal 15 (1) f adalah kewenangan untuk melakukan
pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka
pencegahan. Pemeriksaan khusus tersebut tidak dijelaskan batasannya,
sehingga pemeriksaan khusus terhadap suatu peraturan perundangundangan tidak dapat dipidana jika tujuannya adalah dalam rangka
pencegahan kerugian jiwa-raga, harta benda, dan kehormatan.
Ketika polisi tersebut menggunakan kewenangannya yang diberikan
oleh pasal 15 (1) f untuk melakukan pemeriksaan khusus terhadap peraturan
perundang-undangan, Pasal 18 (1) menyatakan Untuk kepentingan umum
pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri. Yang
dimaksud dengan "bertindak menurut penilaiannya sendiri" dalam bertindak
harus mempertimbangkan manfaat serta resiko dari tindakannya dan betulbetul untuk kepentingan
umum.
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

12
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Ketika kerugian harta benda, jiwa-raga, maupun kehormatan tidak


dapat dicegah hanya melalui kepastian hukum (penerapan dogmatis hukum)
seperti mencegah meninggalnya wanita dan bayi yang akan menghadapi
persalinan dan tertahan oleh traffic light menunjukkan warna merah, maka
tindakan seorang polisi untuk menghentikan jalur hijau untuk memberikan
akses kepada wanita tersebut tergolong tindakan kepolisian untuk
mewujudkan tertib dan tegaknya hukum. hukum ditertibkan terlebih
dahulu baru ditegakkan.
Dikaitkan dengan asas ketertiban dan penegakkan hukum sebagai
setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat
menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya
kepastian hukumpembentukan peraturan perundang-undangan, maka
ketika anggota tersebut mengabaikan lampu merah dan memerintahkan
untuk meneruskan perjalanan, maka kepastian hukum telah berubah, bukan
hukum (dogmatis) lagi yang diterapkan, tetapi polisi itu sendirilah telah
melakukan pembentukan hukum baru yang bersifat sementara dan
menegakkannya untuk mewujudkan tertib dan tegaknya hukum. Setelah
hukum ditertibkan dan ditegakkan, ketuka polisi tersebut mengembalikan
mekanisme lalu-lintas pada kendali traffic light, maka polisi tersebut
menyatakan hukum yang dibuatnya sudah dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
Terdapat dua kegiatan dalam satu rangkaian ilustrasi diatas. Yang
pertama adalah ketika melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian
dari tindakan kepolisian yang ditujukan untuk mencegah kerugian jiwa-raga,
harta-benda, dan kehormatan (pasal 15). Yang kedua adalah ketika dalam
melaksanakan wewenang pemeriksaan khusus menemukan ke-tidak tertiban
hukum, polisi tersebut demi kepentingan umum dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya bertindak sebagai legislator (pembinaan hukum nasional:
pembaharuan, kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang-bidang tertentu dengan
jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat vide pasal 14 (1) d ),

yaitu membuat suatu hukum baru berdasarkan penilaiannya sendiri


Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

13
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

sehingga hukum menjadi tertib (materi muatan peraturan perundangundangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui
jaminan adanya kepastian hukum), saat situasi yang dapat mengancam
keselamatan jiwa-raga, harta-benda dan kehormatan tadi sudah normal
maka berdasarkan penilaiannya polisi tersebut kembali bertindak
menyatakan hukum yang telah dibuat dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku serta kembali undang-undang sebelumnya (pengaturan oleh traffic
light).
Dengan demikian, berdasarkan tujuan Polri, maka penerapan hukum
yang dilakukan secara teoritis merupakan hukum progresif dari Prof. Satjipto
Rahardjo. Rahardjo mengatakan hukum bertugas melayani manusia, bukan
sebaliknya (Tanya Dkk. :190). Para pelaku hukum dapat melakukan
perubahan (hukum) dengan melakukan pemaknaan kreatif. Peraturan yang
buruk (tidak tertib) tidak harus menjadi penghalang untuk menghadirkan
keadilan karena polisi dapat melakukan interpretasi secara baru
(pemeriksaan khusus dilanjutkan penilaian sendiri), setiap kali terhadap
setiap peraturan (Satjipto Rahardjo).
Next question:
1. Apakah hukum kepolisian itu? Atau,
2. Bagaimanakan hukum kepolisian seharusnya?
REFERENSI
Tap MPRS No.XX/ MPR/ 1966. Tentang Memorandum DPR-GR Mengenai
Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia Dan Tata Urutan Peraturan
Perundangan Republik Indonesia
TAP MPR No. III/MPR/2000
UU No. 2 tahun 2002 tentang Polri
UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
PP No. 23 tahun 2007 tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik
Indonesia
Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan

14
Walaupun Langit Runtuh, Hukum Harus Ditegakkan

Arnold, Thurman. The Symbols of Government. 1935. Page 36.


Dicey, A.V. An Introduction to Study of Law of the Constitution, Mac.Millan &
Co, London, 1959, Hal.117; Philipus M Hadjon,Perlindungan Hukum
Bagi Rakyat,Op.Cit.hal 80
Lord Lloyd of Hampstead. Introduction to Jurisprudence. Third Edition.
Stevens & Sons. London. 1972. Second Impression. 1975.
Tanya, Bernard. TEORI HUKUM Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan
Generasi. Rev ed. Genta Publishing: 2013.
Williams, Glanville. International Law and the Controversy Concerning the
Meaning of the Word "Law". Revised version published in Laslett
(Editor), Philosophy, Politics and Society (1956) p. 134 et seq. The
original was published in (1945) 22 BYBIL 146.
http://sergie-zainovsky.blogspot.com/2012/10/teori-hukum-progresifmenurut-satjipto.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Law
https://en.wikipedia.org/wiki/Eugen_Ehrlich
https://hukumadmissible.wordpress.com/tag/hakikat-makna-sumber-hukumbagi-ketertiban-hukum-indonesia/

Saat Langit Runtuh, Barulah Keadilan Ditegakkan