Anda di halaman 1dari 48

PT Kalbe Farma Tbk

DIAGNOSTIC

PHASE

SWOT ANALYSIS
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats)
dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.
Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai
tujuan tersebut.

A. OPPORTUNITIES AND THREATS


OPPORTUNITIES
1. Kebijakan Pemerintah yang Cenderung Memberatkan Perusahaan Farmasi Asing
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1010/Menkes/Per/XI/2008 yang diterbitkan 3
November 2008 itu menyebutkan perusahaan farmasi berstatus Pedagang Besar Farmasi
yang tidak memiliki fasilitas pabrik di Indonesia tidak bisa mendaftarkan obat-obatan baru
ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, perusahan Pedagang Besar
Farmasi harus menyerahkan izin statusnya ke perusahaan yang memiliki pabrik di Indonesia.
Kebijakan tersebut relatif menguntungkan Kalbe sebagai perusahaan dalam negeri terbesar
di bidang farmasi, untuk dapat meningkatkan dominasinya khususnya di pasar domestik.
Sumber: http://kosmo.vivanews.com/news/read/7738-kebijakan_pemerintah memberatkan pma farmasi

2. Hasil Proyeksi Menunjukkan Bahwa Jumlah Penduduk Indonesia Selama Dua Puluh Lima
Tahun Terus Meningkat Yaitu dari 205,1 Juta pada Tahun 2000 Menjadi 273,2 Juta pada
Tahun 2025
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun
terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025.
Namun, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025
menunjukkan kecenderungan terus menurun. Walaupun demikian, kondisi ini tetap menjadi
peluang bagi Kalbe Farma untuk meningkatkan kapasitas usahanya untuk memenuhi
permintaan yang terus meningkat.
Sumber: http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/919/934/

3. Pertumbuhan Pasar Obat Herbal Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir Rata-Rata Sekitar
15%
Dalam dua dasawarsa terakhir, perhatian dunia terhadap obat-obatan dari bahan alam (obat
tradisional) menunjukkan peningkatan, baik di negara-negara berkembang maupun di
negara-negara maju. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengistilahkan pengobatan tradisional
sebagai traditional medicine untuk negara timur dan menyebut istilah complementary and
alternative medicines bagi negara barat.
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 59

PT Kalbe Farma Tbk


WHO menyebutkan, bahwa hingga 65% dari penduduk negara-negara maju telah
menggunakan pengobatan tradisional di mana di dalamnya termasuk penggunaan obatobat bahan alam. Bahkan, penduduk beberapa negara sudah menunjukkan peningkatan
konsumsi obat tradisional yang menakjubkan. Konsumsi obat tradisional di Cina mencapai
50% dari total konsumsi di bidang kesehatan, dan 80% penduduk Benua Afrika, Asia dan
Amerika Latin juga menggunakan obat tradisional untuk menjaga kesehatan.
Diperkirakan pada 2010 pasar obat modern mencapai Rp 37,5 triliun dan obat herbal Rp7,2
triliun.
Hal ini menjadi peluang bagi Kalbe Farma untuk ikut mengambil bagian dalam persaingan
pasar obat herbal dalam negeri.
Sumber: http://mot.farmasi.ugm.ac.id/files/13OBAT%20HERBAL_Sampurno.pdf

4. Indonesia Merupakan Salah Satu Negara Mega Diversity untuk Tumbuhan Obat di Dunia
Keanekaragaman hayati ini adalah yang tertinggi ke-2 setelah Brazil. Di dunia terdapat 40
ribu spesies tanaman, dan sekitar 30 ribu spesies berada di Indonesia. Dari jumlah tersebut
sebanyak 9.600 di antaranya terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Kalbe Farma dapat
memanfaatkan peluang ini melalui bidang R&D untuk menemukan bahan baku obat yang
berasal dari keanekaragaman hayati Indonesia.
Sumber:

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/03/12/23487/30_negara_hadiri_konferensi
keanekaragaman hayati di bali/

5. Kebijakan Pemerintah Mendukung Ekspor


Dukungan ekspor ini dapat dilihat dari adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009
tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Berdasarkan undang-undang ini,
Pembiayaan Ekspor Nasional bertujuan untuk menunjang kebijakan Pemerintah dalam
rangka mendorong program ekspor nasional.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Pembiayaan Ekspor Nasional, berdasarkan UndangUndang ini dibentuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Adapun tugas LPEI
adalah:
a. Memberi bantuan yang diperlukan bagi badan usaha (perusahaan) dalam rangka ekspor,
dalam bentuk pembiayaan, penjaminan, dan asuransi guna pengembangan dalam
rangka menghasilkan barang dan jasa dan/atau usaha lain yang menunjang ekspor;
b. Menyediakan pembiayaan bagi transaksi atau proyek yang dikategorikan tidak dapat
dibiayai oleh perbankan, tetapi mempunyai prospek untuk peningkatan ekspor nasional;
dan
c. Membantu mengatasi hambatan yang dihadapi oleh bank atau lembaga keuangan
dalam penyediaan pembiayaan bagi eksportir yang secara komersial cukup potensial
dan/atau penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pembiayaan_Ekspor_Indonesia

6. Pasar Farmasi Indonesia Tumbuh Rata-Rata Per Tahun 11% Sejak Tahun 2003 Sampai
dengan Estimasi 2010
Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate
sebesar 11% sejak tahun 2003 sampai dengan estimasi 2010. Pada tahun 2009, pasar farmasi
tumbuh sebesar 13,3%. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi produk
farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia. Kondisi ini tentu
membuka peluang bagi Kalbe Farma dalam meningkatkan produksi dan pemasarannya.
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 60

PT Kalbe Farma Tbk


Sumber: http://pharmacommunity.blogspot.com/2011/03/menjawab-pasar-farmasi-2011-industri.html

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 61

PT Kalbe Farma Tbk

THREATS
1. Kebijakan Pemerintah Mengenai Pembatasan Harga Obat Generik dan Pembatasan
Obat Branded Generic pada Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Pembatasan harga obat generik dilakukan pemerintah dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 302/Menkes/SK/III/2008 tentang Harga Obat Generik
dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 696/Menkes/Per/VI/2007
tentang Harga Obat Generik Bernama Dagang (Branded Generic) pada Sarana Pelayanan
Kesehatan Pemerintah. Kebijakan tersebut berdampak pada rendahnya margin obat generik
yang diproduksi perusahaan farmasi dan secara umum kurang menguntungkan bagi industri
farmasi terutama pada saat terjadi kenaikan harga bahan baku obat.
Sumber: http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/Kepmenkes_No_302_ttg_Harga_Obat_Generik.pdf
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream//123456789/656/3/PMK696--0607-G.pdf

2. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Valuta Asing (Valas)


Nilai tukar rupiah fluktuatif terhadap valas (valuta asing). Berikut kami sajikan sampel
fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap 4 valas, yaitu USD, JPY, CNY, dan EUR selama kurun
waktu 2008-2009 dalam grafik berikut:
Figure 2.1
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap US Dollar 2008-2009

Figure 2.2
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yen Jepang 2008-2009

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 62

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.3
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yuan China 2008-2009

Figure 2.4
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap EURO 2008-2009

3. Peredaran Obat Palsu yang Masih Tinggi


Semakin maraknya peredaran obat palsu di pasaran telah mengakibatkan kerugian yang
cukup signifikan baik bagi pelaku bisnis dan negara pada umumnya, serta dalam hal ini Kalbe
pada khususnya. Kerugian negara atas peredaran obat palsu ini ditaksir hingga trilyunan
rupiah, Justisiari Perdana Kusumah, Sekjen Masyarakat Indonesia Anti Pembajakan (MIAP),
mengungkapkan data tersebut mengacu kepada survei pada 2005 lalu serta melihat temuan
riil di lapangan. Justi mengatakan belum memiliki data 2009 pada pelanggaran farmasi ini.
Akan tetapi, data LPEM Universitas Indonesia yang dirilis 2005 lalu menunjukkan tingkat
kerugian sektor farmasi akibat pelanggaran HaKI amat besar. Asumsi barang yang
dipalsukan produk impor, dengan kerugian mencapai Rp132 miliar dan potensi tenaga kerja
tak terpakai 7.977 orang. Jika produk lokal, kerugian sebesar Rp174 miliar dengan opportunity
lost 25.579 pekerja.
Sumber: http://www.bumn.go.id/rni/publikasi/berita/penjualan-obat-palsu-diduga-masih-tinggi/

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 63

PT Kalbe Farma Tbk


4. Krisis Ekonomi di Indonesia Sebagai Dampak Krisis Global
Dampak krisis global cukup terasa di indonesia, dan menyebabkan turunnya daya beli obat
masyarakat indonesia sehingga akan mengancam kelangsungan hidup dari industri farmasi
di Indonesia.
Sumber: http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4696

5. Rendahnya Kesadaran Masyarakat Memeriksakan Kesehatannya


Kesadaran masyarakat Indonesia dalam memeriksa kesehatannya masih sangat rendah.
Rendahnya ini dikarenakan banyak faktor, mulai takut bertemu dokter, ketakutan akan
ditemukan adanya penyakit di tubuhnya, takut dioperasi hingga harga untuk berobat yang
dinilai masih sangat mahal.
Sumber: http://www.kabarbisnis.com/read/2816744

6. Makin Maraknya Pengobatan Alternatif


Semakin mahalnya biaya pengobatan medis di rumah sakit membuat masyarakat memilih
jalur pengobatan alternatif. Praktek pengobatan ini marak dalam beberapa tahun terakhir
dan sebagian tidak dilengkapi dengan surat izin praktek atau surat tanda daftar praktek.
Faktor pertimbangan biaya dan faktor ketakutan akan operasi juga menjadi seringkali jadi
pemicu pasien untuk beralih ke pengobatan alternatif.
Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2009/09/10/18275077/Pengobatan.Alternatif.Makin.Marak

7. Rencana Merger Indofarma dan Kimia Farma


PT Indofarma Tbk (INAF) akan bertemu PT Kimia Farma Tbk (KAEF) untuk membahas
penggabungan usaha (merger) kedua badan usaha milik negara (BUMN) farmasi tersebut.
Kedua BUMN ini berencana merger pada tahun 2010. Dengan adanya penggabungan 2
BUMN tersebut jelas akan mengancam posisi pasar Kalbe Farma.
Sumber: http://bisnis.vivanews.com/news/read/114667-rencana merger indofarma temui_kimia farma

8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2009 tentang Biaya Promosi dan


Penjualan yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto
Berdasarkan PMK ini, besarnya biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto adalah tidak melebihi 2% (dua persen) dari peredaran usaha dan paling banyak
Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah). Peraturan ini jelas menjadi ancaman
bagi Kalbe Farma dan bagi perusahaan farmasi lain mengingat porsi biaya promosi yang
cukup besar untuk industri ini. Berikut kami sajikan total biaya promosi dari beberapa
perusahaan farmasi:
Tabel 2.1
Biaya Promosi Beberapa Perusahaan Farmasi Indonesia
(dalam milyar rupiah)
Perusahaan

Peredaran Usaha

Biaya Adv.

PT Kalbe Farma

9.087,347

547,365

Persentase
6.02%

PT Sanbe Farma

1.398,279

63,103

4.51%

PT Tempo Scan Pacific, Tbk

4.497,931

579,296

12.88%

PT Kimia Farma (Persero) Tbk

2.854,057

78,414

2.75%

PT Indofarma (Persero) Tbk

1.125,055

112,347

9.99%

Sumber: - http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2009/104~PMK.03~2009Per.htm
-Annual Report PT Kalbe Farma, PT Sanbe Farma, PT Tempo Scan Pacific, PT Kimia Farma, dan PT
Indofarma

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 64

PT Kalbe Farma Tbk

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 65

PT Kalbe Farma Tbk

EFE MATRIX
EFE Matrix merupakan sebuah alat untuk menentukan strategi dengan mengevaluasi
lingkungan eksternal perusahaan yang meliputi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografi,
lingkungan alam, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan informasi eksternal lainnya. EFE
Matrik Kalbe Farma disajikan dalam tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2
EFE Matrix for Kalbe Farma
Key External Factors
Opportunities
1.
Kebijakan
Pemerintah
yang
Cenderung
Memberatkan Perusahaan Farmasi Asing
2.
Hasil Proyeksi Menunjukkan Bahwa Jumlah
Penduduk Indonesia Selama Dua Puluh Lima
Tahun Terus Meningkat Yaitu dari 205,1 Juta pada
Tahun 2000 Menjadi 273,2 Juta pada Tahun 2025
3.
Pertumbuhan Pasar Obat Herbal Indonesia Selama
5 Tahun Terakhir Rata-Rata Sekitar 15%
4.
Indonesia Merupakan Salah Satu Negara Mega
Diversity Untuk Tumbuhan Obat di Dunia
5.
Kebijakan Pemerintah Mendukung Ekspor
6.
Pasar Farmasi Indonesia Tumbuh Rata-Rata Per
Tahun 11% Sejak Tahun 2003 Sampai dengan
Estimasi 2010
Threats
7.
Kebijakan Pemerintah Mengenai Pembatasan
Harga Obat Generik dan Pembatasan Obat
Branded Generic pada Sarana Pelayanan
Kesehatan Pemerintah
8.
Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Valas
(Valuta Asing)
9.
Peredaran Obat Palsu yang Masih Tinggi
10. Krisis Ekonomi di Indonesia Sebagai Dampak Krisis
Global
11. Rendahnya Kesadaran Masyarakat Memeriksakan
Kesehatannya
12. Makin Maraknya Pengobatan Alternatif
13. Rencana Merger Indofarma dan Kimia Farma
14. Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
104/PMK.03/2009 tentang Biaya Promosi dan
Penjualan yang Dapat Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto
Total
Case Analysis Diagnostic Phase

Weight

Rating

Weighted
Score

0,06

0,24

0,08

0,32

0,08

0,16

0,08

0,16

0,07
0,09

3
4

0,21
0,36

0,06

0,18

0,06

0,24

0,07
0,05

2
4

0,14
0,20

0,08

0,16

0,07
0,09
0,06

2
1
2

0,14
0,09
0,12

1.00

2,72
P a g e | 66

PT Kalbe Farma Tbk


Dari tabel EFE Matrix di atas, dapat diketahui nilai total weighted score Kalbe Farma adalah
sebesar 2,72. Jumlah ini sedikit di atas rata-rata (2,5), mengindikasikan bahwa Kalbe Farma
cukup bagus dalam merespon berbagai peluang yang ada dan mengatasi berbagai ancaman
yang dihadapi perusahaan. Dengan score sedikit di atas rata-rata juga mengindikasikan bahwa
Kalbe Farma bisa lebih baik lagi dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang
muncul untuk kemudian diambil manfaatnya bagi perusahaan dengan tujuan untuk semakin
mengokohkan diri sebagai pemimpin pasar farmasi di Indonesia. Pada jangka panjang, bahkan
Kalbe Farma bisa mencapai apa yang telah menjadi visinya (proposed vision) untuk menjadi
perusahaan farmasi terbesar di Asia dan Afrika. Visi tersebut tidaklah mudah untuk dicapai.
Dalam hal adanya peluang dan ancaman, Kalbe Farma harus bisa memanfaatkannya dengan
baik demi kinerja dan pencapaian perusahaan.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 67

PT Kalbe Farma Tbk

B. STRENGTHS AND WEAKNESSES


STRENGTHS
1.

Market Leader Produk Kesehatan dan Obat-Obatan di Indonesia


Kalbe merupakan market leader untuk produk kesehatan masyarakat dan market leader
untuk produk ethical. Produk-produknya merupakan leading brand dengan berbagai
segmentasi pasar yang spesifik. Selain itu produknya merupakan inovator, dengan
mengembangkan obat-obatan serta rumusan kimia baru baik dengan kemampuan sendiri
ataupun melalui aliansi strategis dengan mitra internasional, serta banyak menghasilkan
produk-produk baru yang berbasis teknologi tinggi.

2.

Perusahaan Farmasi Publik Terbesar di Asia Tenggara


PT Kalbe Farma Tbk (Perseroan atau Kalbe) didirikan pada tahun 1966 dan menjadi
perusahaan publik sejak tahun 1991 di Bursa Efek Indonesia, dengan nilai kapitalisasi pasar
pada saat ini di atas US$ 1,4 miliar dan penjualan melebihi Rp 9 triliun. Berkantor pusat di
Jakarta, Kalbe adalah perusahaan publik farmasi terbesar di Asia Tenggara dengan pasar
yang tersebar di 9 negara yang memiliki total populasi mencapai 570 juta jiwa.
Pencapaian ini dimulai pada tanggal 16 Desember 2005 di mana manajemen Kalbe telah
berhasil melakukan penggabungan usaha dengan Dankos dan PT Enseval (Enseval)
menjadi satu perusahaan dalam rangka menciptakan satu perusahaan farmasi tercatat dan
terbesar di kawasan Asia Tenggara. Penggabungan usaha ini akan memberikan peluang
bagi masa depan Kalbe dalam meningkatkan efisiensi serta efektivitas. Merger yang
melibatkan PT Enseval sebagai superholding dan tiga anak perusahaan yang terdaftar di BEJ
tersebut Kalbe Farma, Dankos Laboratories (DNKS), Enseval Putera Megatrading (EPMS)
sekaligus membentuk perusahaan yang betul-betul terintegrasi. Secara horisontal, Kalbe
baru menawarkan rentang produk yang jauh lebih luas, mulai dari berbagai bentuk obat
dan makanan kesehatan sampai suplemen dan minuman berenergi. Secara vertikal, mereka
melakukan kegiatan dari pengadaan bahan baku, manufakturing produk jadi, pemasaran,
sampai penjualan dan distribusi. Kalbe memiliki pengalaman yang cukup panjang dan dari
segi finansial, pendapatan Kalbe meningkat sekitar 18% per tahun.

3.

Penjualan dari Masing-Masing Divisi Cukup Berimbang


Kalbe Farma memiliki 4 divisi, yaitu Divisi Obat Resep, Divisi Produk Kesehatan, Divisi
Nutrisi, dan Divisi Distribusi dan Kemasan. Penjualan dari masing-masing divisi tersebut
pada tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3
Laba Kotor Berdasarkan Segmen Bisnis

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 68

PT Kalbe Farma Tbk

Hal ini merupakan kekuatan bagi Kalbe Farma karena Kalbe tidak bergantung pada satu
divisi secara dominan. Apabila terjadi masalah pada salah satu divisi, misalkan penurunan
penjualan, tidak akan terlalu mempengaruhi total penjualan Kalbe Farma. Jika terjadi
kerugian pun tidak akan terlalu besar jika dibandingkan dengan apabila Kalbe Farma
bergantung pada 1 divisi tertentu.
4.

Kalbe Farma Meraih Berbagai Penghargaan Bergengsi Selama Tahun 2009


Penghargaan yang diperoleh Kalbe Farma terkait pertumbuhan, brand, distribusi, dan
kepuasan pelanggan. Beberapa penghargaan dimaksud adalah:
a. 2009 Asia Pacific Excellence in Growth Award dari Frost & Sullivan;
b. Asias 200 Most-Admired Companies and The Indonesias Top 10 Companies dari The Wall
Street Journal Asia;
c. Top Brand Award 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Promag, Mixagrip,
Fatigon, Neo Entrostop, Komix dan Extra Joss;
d. Top Brand Award For Kids 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Entrostop;
e. Indonesia Best Brand Award Best Brand Platinum dari SWA dan MARS untuk Promag,
Cerebrovit dan Cerebrofort;
f. Indonesia Customer Satisfaction Award from Frontier and SWA untuk Promag, Komix dan
Extra Joss;
g. The Most Powerful Distribution Performance Distribution Performance dari SWA, MIX,
QASA untuk Mixagrip, Komix dan Extra Joss;
h. Gold Medal Indonesia Quality Convention 2009 dari PMMI IQMA untuk QCC Flavettes
Bintang Toedjoe; dll

5.

PT Bintang Toedjoe Memperoleh Sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari
Lloyds Register Quality Assurance (LRQA)
PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dari Lloyds Register Quality
Assurance (LRQA), sebuah institusi pemberi sertifikasi terbesar yang telah diakui di dunia.
ISO 9001:2000 menggabungkan tiga standar 9001, 9002, dan 9003 menjadi satu, yang
disebut 9001. Desain dan prosedur pengembangan diperlukan hanya jika perusahaan
terlibat dalam penciptaan produk baru. Versi 2000 berupaya untuk membuat perubahan
radikal dalam berpikir dengan benar-benar menempatkan konsep dari proses manajemen
pusat dalam pemantauan dan mengoptimalkan tugas perusahaan, dan bukan hanya
memeriksa produk akhir. Versi 2000 juga menuntut keterlibatan oleh eksekutif atas, dalam
rangka mengintegrasikan kualitas ke dalam sistem bisnis dan menghindari pendelegasian
fungsi kualitas untuk administrator level junior. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan
efektivitas melalui matrik kinerja proses, pengukuran numerik efektivitas tugas dan
kegiatan.
ISO 14001:2004 adalah suatu standar pengelolaan lingkungan. Ini menentukan satu set
persyaratan manajemen lingkungan untuk lingkungan manajemen sistem. Tujuan dari
standar ini adalah untuk membantu semua jenis organisasi untuk melindungi lingkungan,
untuk mencegah polusi, dan untuk meningkatkan kinerja lingkungan mereka.

6.

Kalbe Meningkatkan Kepemilikan atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk Sebesar


25,45% Melalui Penawaran Tender

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 69

PT Kalbe Farma Tbk


Pada tahun 2009, kepemilikan Kalbe Farma atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk
berubah dari 58,19% menjadi 83,75%. Enseval merupakan perusahaan distribusi dan logistik
produk kesehatan yang terbesar di Indonesia. Perusahaan ini merupakan perusahaan
distribusi obat-obatan yang baik reputasinya, yakni telah memperoleh sertifikasi Good
Distribution Practice untuk Regional Distribution Center serta gudang bahan baku di Jakarta
dan Surabaya.
7.

Kalbe Memiliki Jaringan Distribusi Paling Luas di Indonesia


Sebagai perusahaan farmasi terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk
(Enseval) dan anak perusahaannya, Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di
Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64
cabang sehingga mampu menjangkau 1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung
dan tidak langsung. Selain mendistribusikan produk-produk Grup Kalbe, Perseroan juga
mendistribusikan produk-produk perusahaan kesehatan terkemuka bertaraf internasional.
Dalam rangka mendekatkan diri ke konsumen, selama tahun 2009 Enseval membuka 4
cabang baru yaitu di Jakarta Selatan, Bengkulu, Gorontalo dan Palangkaraya. Hal tersebut
menjadikan Enseval sebagai perusahaan distribusi dan logistik produk kesehatan yang
terbesar di Indonesia.

8.

Investasi Kalbe Dalam R&D Pada Tahun 2009 Mencapai Rp 78,8 Miliar atau Meningkat
8,4% dari Investasi Tahun 2008
Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai
Rp
78,8 miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp 72,7 miliar yang dilakukan pada tahun
2008. Biaya R&D Perseroan tahun 2009 setara dengan sekitar 0,9% dari total penjualan
konsolidasi. Hal ini merupakan kekuatan Kalbe karena sebagai perusahaan farmasi, salah
satu indikator kesuksesan adalah adanya penemuan produk baru obat-obatan. Sementara,
penemuan produk baru mustahil bisa tercapai tanpa adanya penelitian dan pengembangan
melalui bidang R&D. Dengan peningkatan biaya R&D ini, Kalbe sangat memperhatikan
penelitian produk-produk baru farmasi.

9.

Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Mendapatkan 3 Paten yang Berhubungan dengan
Bahan Anti Kanker
SCI merupakan unit riset di bawah naungan Kalbe yang fokus pada riset sel punca dan
kanker. Dalam riset penyakit kanker tersebut, SCI mendapatkan 3 paten yang berhubungan
dengan bahan anti kanker dari artocarpin, ekstrak daun cassia alata dan piper crocatum.
Penemuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia dengan keragaman hayatinya dapat
digunakan sebagai pengobatan kanker.

10. Pada Tahun 2009, SCI Membentuk Unit Bisnis Kalbe Genomics (KalGen) sebagai
Laboratorium Diagnostik Molecular Canggih yang Pertama di Indonesia
KalGen kini memfokuskan pada layanan pemeriksaan molekular untuk melihat profil gen
dari sel kanker pada pasien sehingga bisa diberikan obat dengan tepat (farmakogenetik).
KalGen telah memiliki 13 layanan pemeriksaan farmakogenetik hingga akhir 2009.
Pemeriksaan genetik ini akan terus dikembangkan, tidak hanya pada kanker saja, tapi pada
penyakit-penyakit lain juga. Dalam kegiatannya, KalGen selalu berkolaborasi dengan
berbagai laboratorium, lembaga-lembaga riset dan perguruan tinggi serta akan
mengembangkan layanan ke tingkat regional.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 70

PT Kalbe Farma Tbk

WEAKNESSES
1. Net Profit Margin yang Relatif Rendah Dibanding Kompetitor
Pada tahun 2009 Kalbe Farma membukukan net profit margin sebesar 10,22% atau
meningkat 1,25% dibanding tahun 2008. Namun angka tersebut masih dibawah net profit
margin Sanbe Farma sebesar 13,58% dan Bio Farma sebesar 18,4%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Kalbe Farma kurang efisien dalam menjalankan proses bisnis dan
adanya kelemahan dalam mengendalikan cost.
2. Adanya Kompetisi Internal yang Cukup Keras
Sesuatu yang dapat disebut perang saudara terutama terjadi di jalur pemasaran. Lebih
spesifik lagi, di produk-produk farmasi yang berada di kategori yang sama. Di obat flu,
misalnya, Kalbe memiliki Procold sementara Dankos punya andalan yang cukup ampuh,
Mixagrip. Lantaran Kalbe dan Dankos bisa saling melihat data masing-masing, akan lebih
banyak energi tersita untuk bersaing dan berpotensi untuk saling menjatuhkan.
3. Penjualan Ekspor Kalbe Farma Masih Kecil Porsinya
Nilai total penjualan Kalbe Farma dalam 5 tahun disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2.4
Penjualan Lokal dan Ekspor Kalbe Farma
Tahun

Sales Volume

Lokal

Ekspor

Porsi
Ekspor

2005

5.870.938.590.836

5.560.103.259.345

310.835.331.491

5.29%

2006

6.071.550.437.967

5.781.655.567.922

289.894.870.045

4.77%

2007

7.004.909.851.908

6.610.161.638.769

394.748.213.139

5.64%

2008

7.877.366.385.633

7.586.191.007.456

291.175.378.177

3.70%

2009

9.087.347.669.804

8.754.157.580.220

333.190.089.584

3.67%

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa porsi penjualan ekspor Kalbe Farma termasuk kecil
jika dibandingkan dengan total penjualannya. Porsi ini justru cenderung menurun sejak
tahun 2005. Jumlah kecil ini tergolong kelemahan Kalbe, mengingat Kalbe memiliki kantor
perwakilan di Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, Singapura, Nigeria,
dan Afrika Selatan.
4. Pangsa Pasar Produk Nutrisi Kalbe Farma Masih Rendah
Pangsa pasar produk nutrisi masih dikuasai oleh Nestle dengan porsi 30%, Sari Husada
dengan 16%, Frisian Flag Indonesia dengan 11%, dan Nutricia dengan 10%. Sementara,
Kalbe Nutritional hanya menguasai pangsa pasar sebesar 8% saja. Data mengenai pangsa
pasar produk nutrisi dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 71

PT Kalbe Farma Tbk


Figure 2.5
Pangsa Pasar Nutrisi

5. Produk Herbal yang Diproduksi Kalbe Farma Masih Relatif Rendah


Dibandingkan dengan kompetitornya, Kalbe Farma memiliki produk herbal lebih sedikit dari
pesaingnya. Pada tahun 2009, Kalbe Farma hanya memiliki 3 produk herbal yakni Bintangin,
Mensana, dan Remuvit. Sementara Kimia Farma memiliki 26 produk herbal. Kondisi ini
merupakan kelemahan Kalbe Farma mengingat pertumbuhan pasar obat herbal yang cukup
tinggi.
6. Tingkat Ketergantungan Kalbe Farma Terhadap Bahan Baku Impor Masih Tinggi
Kalbe masih cenderung rentan terhadap ketergantungan atas bahan baku impor untuk
kelangsungan kegiatan bisnis, sehingga masih perlu memperhitungkan penyediaan dana
mata uang asing yang memadai dan dampak yang mungkin timbul akibat fluktuasi mata
uang asing terhadap biaya produksi.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 72

PT Kalbe Farma Tbk

IFE MATRIX
IFE Matrix merupakan sebuah alat untuk menentukan strategi dengan mengidentifikasi dan
mengevaluasi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) pada level fungsional dalam suatu
perusahaan. Penentuan bobot Key Internal Factors diperlukan kecermatan analisa dan intuisi
mendalam dari perumus matriks ini sehingga formulasi strategi bisa dihasilkan dengan baik.
Tabel 2.5
IFE Matrix for Kalbe Farma
Key Internal Factors
Strengths
1.
Market Leader Produk Kesehatan dan ObatObatan di Indonesia
2.
Perusahaan Farmasi Publik Terbesar di Asia
Tenggara
3.
Penjualan dari Masing-Masing Divisi Cukup
Berimbang
4.
Kalbe Farma Meraih Berbagai Penghargaan
Bergengsi Selama Tahun 2009
5.
PT Bintang Toedjoe Memperoleh Sertifikasi ISO
9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari Lloyds
Register Quality Assurance (LRQA)
6.
Kalbe Meningkatkan Kepemilikan atas PT Enseval
Putera Megatrading Tbk Sebesar 25,45% Melalui
Penawaran Tender
7.
Kalbe Memiliki Jaringan Distribusi Paling Luas di
Indonesia
8.
Investasi Kalbe Dalam R&D Pada Tahun 2009
Mencapai Rp 78,8 Miliar atau Meningkat 8,4% dari
Investasi Tahun 2008
9.
Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Mendapatkan
3 Paten yang Berhubungan dengan Bahan Anti
Kanker
10. Pada Tahun 2009, SCI Membentuk Unit Bisnis
Kalbe Genomics (KalGen) sebagai Laboratorium
Diagnostic Molecular Canggih yang Pertama di
Indonesia
Weaknesses
11. Net Profit Margin yang Relatif Rendah Dibanding
Kompetitor
12. Adanya Kompetisi Internal yang Cukup Keras
13. Penjualan Ekspor Kalbe Farma Masih Kecil
Porsinya
14. Pangsa Pasar Produk Nutrisi Kalbe Farma Masih
Case Analysis Diagnostic Phase

Weight

Rating

Weighted
Score

0,08

0,32

0,07

0,28

0,05

0,15

0,06

0,24

0,05

0,15

0,06

0,24

0,07

0,28

0,06

0,24

0,06

0,24

0,08

0,32

0,07

0,14

0,04
0,06

2
2

0,08
0,12

0,06

0,06
P a g e | 73

PT Kalbe Farma Tbk


Key Internal Factors

15.
16.

Rendah
Produk Herbal yang Diproduksi Kalbe Farma Masih
Relatif Rendah
Tingkat Ketergantungan Kalbe Farma Terhadap
Bahan Baku Impor Masih Tinggi
Total

Weight

Rating

Weighted
Score

0,06

0,06

0,07

0,14

1,00

3,06

Dari tabel IFE Matrix di atas, dapat diketahui nilai total weighted score Kalbe Farma adalah
sebesar 3,06. Jumlah ini di atas rata-rata (2,5), mengindikasikan bahwa Kalbe Farma memiliki
posisi internal yang cukup kuat.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 74

PT Kalbe Farma Tbk

COMPETITIVE PROFILE MATRIX (CPM)


Competitive Profile Matrix mengidentifikasi pesaing-pesaing utama Kalbe Farma mengenai
kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) terkait posisi strategis Kalbe Farma. Pesaing
utama yang menjadi perbandingan dalam CPM ini adalah, Sanbe Farma, Tempo Scan Pacific,
Kimia Farma, Indofarma, dan Bio Farma. Dalam perbandingan ini, ditentukan Critical Success
Factors, yaitu: Market Share, Financial Position, Research and Development, Product
Diversification, Profit Margin, Global Expansion, Promotion, Corporate Social Responsibility, dan
Marketing and Distribution.
Berikut ini uraian dari masing-masing Critical Success Factors tersebut:
1. Market Share
Market Share merupakan kondisi pasar yang menunjukkan seberapa besar pasar yang telah
dikuasai perusahaan untuk memasarkan produk mereka. Industri farmasi di Indonesia
sekurang-kurangnya terdiri dari 200 perusahaan farmasi, di mana 40% lebih pangsa pasar
hanya dikuasai dari beberapa perusahaan besar saja.
Sampai dengan saat ini, PT Kalbe Farma masih merupakan pemimpin pasar dengan
mendapatkan pangsa pasar terbesar untuk produk obat dengan resep dokter (ethical
products) Kalbe Farma masih memimpin seperti terlihat pada figure di bawah ini:
Figure 2.6
Pangsa Pasar Industri Farmasi

Diagram di atas menunjukkan bahwa menurut survei yang dilakukan ITMA dan IHPA, Kalbe
Farma masih memimpin pasar dengan menguasai pangsa pasar sebesar 13% dan 11%,
sedangkan Sanbe Farma mendapatkan pangsa pasar sebesar 6% dan 9%. Sedangkan
pangsa pasar obat resep untuk Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Bio Farma, dan Indo Farma
masih dibawah 3%.
Untuk produk kesehatan dan obat yang dijual bebas di pasaran (Over The Counter) Kalbe
Farma juga menguasai pasar dengan memperoleh 15% dari seluruh pangsa pasar, kemudian
posisi kedua disusul oleh Tempo Group dengan menguasai pasar sebesar 9%. Sedangkan
Sanbe pada pasar ini memperoleh bagian sebesar 4%. Kimia Farma, Bio Farma dan Indo
Farma masing-masing memperoleh kurang dari 3%.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 75

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.7
Pangsa Pasar OTC

2. Financial Position
Pada tahun 2009 Kalbe Farma masih mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar dengan
posisi keuangan yang paling baik. Walaupun secara perkembangan dari tahun 2008 Sanbe
Farma sangat agresif dalam meningkatkan labanya, namun secara keseluruhan laba
tertinggi masih dipegang oleh Kalbe Farma.
Pada tahun 2009, Kalbe Farma memperoleh laba sebesar Rp929 miliar (meningkat 31,43%
dari tahun sebelumnya). Di lain pihak, Sanbe Farma pada tahun 2009 memperoleh laba
sebesar Rp189,91 miliar (meningkat 103,12% dari tahun sebelumnya). Tempo Scan Pacific
pada tahun 2009 memperoleh laba sebesar Rp359,96 miliar, Bio Farma memperoleh laba
sebesar Rp217,68 miliar, Kimia Farma memperoleh laba sebesar Rp62,51 miliar. Sedangkan
Indo Farma memperoleh laba sebesar Rp2,13 miliar.
Berdasarkan posisi keuangan diatas kami memberikan poin 4 untuk Kalbe Farma, poin 3
untuk Sanbe Farma, Tempo Scan Pacific, dan Bio Farma, poin 2 untuk Kimia Farma,
sedangkan untuk Indo Farma dengan laba terendah kami berikan 1 poin.
3. Research and Development
Pelaksanaan penelitian dan pengembangan merupakan suatu keharusan bagi setiap
perusahaan dalam menjaga eksistensi serta mengembangkan pasar bisnisnya. Suatu produk
pasti mengalami siklus hidup mulai dari pengenalan produk sampai dengan produk tersebut
mengalami masa kejenuhan sehingga pemasarannya akan terus menurun. Perusahaan
berkewajiban untuk terus membuat inovasi-inovasi baru dalam pengembangan produknya
sehingga dapat terus mempertahankan pasar yang telah diraih dan terus
mengembangkannya.
Inovasi dan semangat wirausaha telah menjadi ciri khas Kalbe sejak berdirinya lebih dari 40
tahun yang lalu. Di tahun 2009, Kalbe terus melanjutkan langkah-langkah strategis menjadi
inovator dalam penciptaan produk baru yang semakin canggih dan bernilai tinggi.
Pengembangan kapabilitas strategis ini dilakukan Perseroan melalui riset sendiri, di bawah
lisensi pihak ketiga atau kerja sama dan aliansi dengan mitra-mitra lokal maupun
internasional, seperti institusi riset, universitas dan perusahaan lain, atau dengan kata lain
meliputi unsur akademis, bisnis dan pemerintahan.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 76

PT Kalbe Farma Tbk


Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai Rp78,8
miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp72,7 miliar yang dilakukan pada tahun 2008.
Dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor terpilih, Kalbe Farma telah menginvestasikan
dana yang jauh lebih besar, dimana Sanbe Farma sebagai pesaing terdekat hanya
menginvestasikan dananya sebesar Rp47,88 milliar, disusul dengan Biofarma yang
menginvestasikan dananya untuk R&D sebesar Rp24,17 milliar, kemudian Kimia Farma
sebesar Rp8,92 milliar.
Kondisi di atas memberikan dasar bagi kami untuk memberikan rating 4 pada Kalbe Farma
dalam faktor penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama tahun 2009, kemudian
poin 3 kami berikan untuk Sanbe dan Bio Farma, dan poin 2 untuk Kimia Farma.
4. Product Diversification
Diversifikasi produk merupakan salah satu cara untuk meningkatkan volume penjualan yang
dapat dilakukan oleh perusahaan terutama jika perusahaan tersebut telah berada dalam
tahap kedewasaan. Dengan diversifikasi produk, suatu perusahaan tidak akan bergantung
pada satu jenis produknya saja. Tetapi perusahaan juga dapat mengandalkan jenis produk
lainnya (produk diversifikasi). Karena jika salah satu jenis produknya tengah mengalami
penurunan, maka akan dapat teratasi dengan produk jenis lainnya.
Sampai dengan saat ini, Kalbe Farma sebagai market leader masih memimpin dengan produk
yang paling variatif. Sanbe Farma sebagai rival terdekat Kalbe Farma masih bersaing dalam
variasi produk mulai dari obat resep, OTC, sampai dengan obat untuk hewan. Menyusul
setelah Kalbe Farma dan Sanbe Farma adalah Kimia Farma dan Indo Farma yang merupakan
perusahaan BUMN dengan pilihan prduk yang lebih sedikit dari Kalbe Farma maupun Sanbe
Farma. Bio Farma sampai dengan saat ini masih terfokus untuk memproduksi produk berupa
vaksin, sehingga variasi produknya kurang dapat bersaing dengan keempat perusahaan
lainnya.
Berdasarkan kondisi di atas, kami memberikan poin 4 untuk Kalbe Farma dan Sanbe Farma
yang memunyai variasi produk paling banyak dibandingkan perusahaan pesaing lainnya,
kemudian disusul oleh Kimia Farma dan Indo Farma, Tempo Scan Pacific dan terakhir adalah
Bio Farma.
5. Net Profit Margin
Net Profit Margin merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Semakin
besar Net Profit Margin, maka kinerja perusahaan akan semakin produktif, semakin besar
rasio ini, maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba
yang tinggi, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan
modalnya pada perusahaan tersebut.
Dilihat dari Net Profit Margin dari keenam perusahaan farmasi di Indonesia tersebut, Bio
Farma mempunyai posisi yang terbaik, dimana Bio Farma meiliki rasio Net Profit Margin
sebesar 18,40%, kemudian posisi kedua adalah Sanbe Farma dengan rasio sebesar 13,58%.
Kalbe Farma yang merupakan market leader ternyata hanya memiliki rasio Net Profit Margin
sebesar 10,22%. Selanjutnya adalah Tempo Scan Pacific yang memiliki rasio NPM sebesar
8%, sedangkan Kimia Farma dan Indo Farma masing-masing memiliki NPM yang mencapai
2,19% dan 0,19%.
Dari kondisi Net Profit Margin yang dicapai oleh masing-masing perusahaan di atas, Bio
Farma mendapat rating 4 poin dengan pencapaian tertingginya, disusul oleh Sanbe Farma
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 77

PT Kalbe Farma Tbk


dengan 3 poin. Kalbe Farma dan Tempo Scan Pacific masing-masing mendapatkan 2 poin,
sedangkan Kimia Farma dan Indo Farma mendapat poin 1 dengan pencapaian Net Pofit
Margin-nya.
6. Global Expansion
Kalbe Farma telah merambah ke pasar internasional. Kalbe International telah membangun
jaringan usaha mitra dagang untuk menjual produk-produk Grup Kalbe di lebih dari 20
negara, terutama di Asia-Pasifik dan Afrika.
Sanbe Farma juga telah merambah ke perdagangan internasional dengan penjualan ekspor
pada tahun 2009 mencapai 20,886 miliar rupiah. Pasar Internasional yang telah dicapai
Sanbe Farma telah melingkupi sebagian Asia dimana terdapat cabang operasi pada Filiphina,
Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Pakistan, sebagian
benua Afrika yaitu di Ethiopia, Somalia, Qatar, Yaman, Nigeria, selain itu juga mempunyai
operasi di USA, Eropa, Rusia & CIS, India, Hongkong & Macau, Afghanistan, Africa Selatan.
PT Tempo Scan Pacific sampai dengan 2009, mempunyai distribution scope masih di
Indonesia dengan jumlah cabang/agen penjual seluruhnya sebanyak 45 unit di seluruh
Indonesia.
Produk-produk Kimia Farma yang mencakup produk obat jadi dan sediaan farmasi serta
bahan baku obat seperti Iodine dan Quinine telah memasuki pasar di negara-negara, India,
Jepang, Taiwan and Selandia Baru. Produk Jadi dan Kosmetik telah dipasarkan ke Yaman,
Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Vietnam, Sudan, dan Papua Nugini.
Pada tahun 2009, Indofarma sudah mengekspor produknya ke enam negara yaitu
Afghanistan, Nigeria, Irak, Polandia, Myanmar dan Singapura. Sedangkan Biofarma,
kegiatan penjualan dilakukan melalui mekanisme ekspor ke UNICEF dan/atau UN Agencies
lainnya. Untuk pasar bilateral, dilakukan melalui kerjasama dengan para agen lokal di luar
negeri yang diatur sedemikian rupa berdasarkan area pemasarannya, terutama untuk
penjualan produk-produk yang telah memperoleh Prekualifikasi WHO (WHO
Prequalification). Dengan suplai vaksin ke UNICEF serta bilateral melalui agen ini, sejak tahun
1997, produk-produk perusahaan telah dipergunakan oleh konsumen di berbagai negara
Afrika, Asia, Amerika Latin dan sebagian negara Eropa.
Berdasarkan cakupan pemasaran diatas, Kalbe Farma, Sanbe Farma, Kimia Farma dan Bio
Farma masih berimbang dalam ekspansi ke luar negeri sehingga kami berikan 3 poin,
sedangkan untuk Tempo Scan Pacific dan Indo Farma yang masih kurang luas dalam
merambah pasar luar negeri kami berikan 2 poin.
7. Promotion
Promosi adalah setiap aktivitas yang dilakukan, diorganisir atau disponsori oleh anggota
yang ditujukan pada profesi kesehatan untuk mempromosikan peresepan obat,
rekomendasi, persediaan, pemberian atau penggunaan produk farmasinya, melalui semua
media. Dalam memperkenalkan produknya perusahaan dapat melakukan promosi sehingga
masyarakat luas dapat mengetahui produk perusahaan dan menarik minat konsumen untuk
menggunakan produk tersebut.
Selama tahun 2009 Kalbe farma telah melakukan beberapa kegiatan promosi untuk
memperkenalkan produknya, misalnya untuk meningkatkan penjualan obat resep pada
tahun 2009 antara lain adalah mengembangkan merek dagang yang kuat melalui kegiatan
ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 78

PT Kalbe Farma Tbk


dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan komprehensif atau holistik
kepada konsumen. Pada tahun ini Kalbe Farma telah mengeluarkan dana sebesar Rp547,36
miliar untuk kegiatan advertising. Sementara itu PT Tempo Scan Pacific dalam kegiatan
advertising-nya mengalokasikan dana sebesar Rp579,296 miliar. Sedangkan PT Indofarma,
PT Sanbe Farma, PT dan PT Kimia Farma masing-masing mengalokasikan dananya sebesar
Rp112 miliar, Rp63,108 miliar, dan Rp78,41 miliar. Sedangkan Biofarma melakukan kegiatan
promosi dengan melaksanakan kegiatan pameran di berbagai event, pemasangan iklan di
berbagai media, dan melakukan beberapa pengadaan media promosi dalam bentuk brosur
dan flyer. Namun Biofarma tidak merinci berapa dana yang dialokasikan dalam kegiatan
promosi mereka.
Berdasarkan kondisi di atas, kami memberikan rating 4 poin untuk Kalbe Farma dan Tempo
Scan Pacific sehubungan dengan besarnya dana yang dialokasikan dalam kegiatan
advertising ini, kemudian 3 poin untuk Indofarma, 2 poin untuk Sanbe Farma dan Indo Farma
serta 1 poin untuk Bio Farma.
8. Corporate Social Responsibility (CSR)
Tanggung jawab Kalbe pada masyarakat tidak hanya melekat pada kegiatan bisnis farmasi
dan produk kesehatan yang bermanfaat bagi kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia
secara luas. Namun komitmen tersebut juga diperluas dengan program Corporate Social
Responsibility (CSR) yang senantiasa dikembangkan sebagai bagian inti dalam pelaksanaan
kebijakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Pada tahun 2006 telah dibentuk Kalbe Berbagi
sebagai wadah kegiatan tanggung jawab sosial Grup Kalbe, yang pada tahun 2009
melakukan beberapa kegiatan antara lain Kalbe Berbagi Gesit Entrostop: Bantuan bagi
korban banjir di Semarang, Kalbe Berbagi: Bantuan bagi korban di Situ Gintung, Kalbe
Berbagi: Bantuan bagi korban gempa di Padang, dll.
Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen dalam menjaga lingkungan,
beberapa anak perusahaan Kalbe telah mengimplementasikan ISO 14001:2004 yang
merupakan standar internasional dalam sistem manajemen lingkungan pada hampir semua
fasilitas produksinya. Komitmen kami dalam implementasinya diwujudkan dalam (1)
pemenuhan perundangan, persyaratan dan peraturan lain dalam bidang lingkungan, (2)
pencegahan pencemaran lingkungan, dan (3) perbaikan berkesinambungan dalam bidang
lingkungan.
Kimia Farma telah mewujudkan kepedulian sosial, membina dan mengembangkan sektor
Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta ikut peduli dengan kelestarian lingkungan hidup
dalam program-program, seperti Penanggulangan HIV dan PKBL (Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan).
Indofarma secara bertahap telah mencoba mengembangkan bakti sosialnya kepada
masyarakat. Beragam bidang dan strata sosial telah dijangkau oleh kegiatan sosial
Perseroan, seperti bidang kesehatan (donor darah bersama PMI dan sunatan gratis), bidang
pendidikan (pemberian beasiswa pendidikan formal), bidang kesejahteraan (bantuan bagi
korban bencana), dan lain-lain.
Bio Farma telah melakukan berbagai pembinaan dalam rangka meningkatkan kemampuan
usaha kecil agar menjadi pengusaha tangguh dan mandiri serta pemberdayaan kondisi sosial
masyarakat di wilayah usaha Perusahaan.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 79

PT Kalbe Farma Tbk


Berdasarkan kondisi tersebut di atas keenam perusahaan tersebut telah menerapkan
program CSR dalam menjalankan industrinya. Masing-masing kegiatan mempunyai andil
yang penting bagi masyarakat. Dengan demikian kami berikan poin yang sama untuk semua
perusahaan di atas.
9. Marketing and Distribution
Sebagai perusahaan farmasi terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk
(Enseval) dan anak perusahaannya, Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di
Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64
cabang sehingga mampu menjangkau 1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung
dan tidak langsung. Kompetitornya, PT Kimia Farma Trading & Distribution memiliki
jaringan sebanyak 41 cabang dan tenaga salesman sejumlah 284 orang untuk melayani
21.364 outlet di seluruh wilayah Indonesia. Di samping mendistribusikan produk-produk
perusahaan, KFTD juga bertindak sebagai distributor untuk produk-produk principal, antara
lain dari PT Merapi (infus), PT Tirta Santana (kasa elastis), PT Duta Kaizar, PT Mahakam
Betafarma, PT Biofarma, PT Reddis Papua, dan PT Meier. Kompetitor lainnya yaitu PT
Biofarma dari unitnya sendiri yaitu PBF Biofarma memang kurang luas jangkauannya, tetapi
dengan menggandeng 13 distributor, tiga diantaranya berstatus sebagai Badan Usaha Milik
Negara yaitu PT Kimia Farma Tbk, PT Indofarma Global Medika, dan PT Perusahaan
Perdagangan Indonesia (Persero), PT Biofarma menjadi memiliki jangkauan distribusi yang
cukup luas. PT Sanbe Farma, melalui PT Bina San Prima yang 35 cabang, 60 anak cabang, 25
principal diantaranya P&G, Shell, Kraft, Reckitt Benckiser dll, telah berhasil pula menjangkau
hampir seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan PT Indofarma melalui anak perusahaannya
yaitu PT Indofarma Global Medika berhasil mendistribusikan produknya sendiri dan
perusahaan lainnya seperti PT Biofarma walau tidak seluas kompetitor lainnya karena hanya
memiliki 30 cabang, sebuah warehouse, 57 mobil box dan 198 unit sepeda motor.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 80

PT Kalbe Farma Tbk

Tabel 2.6

Competitive Profile Matrix


Kalbe Farma
No

Critical Succes Factors

Sanbe Farma

Weight

Tempo Scan
Pacific

Kimia Farma

Indo Farma

Biofarma

Rating

Score

Rating

Score

Rating

Score

Rating

Score

Rating

Score

Rating

Score

Market Share

0,1

0,4

0,3

0,2

0,1

0,1

0,1

Financial Position

0,08

0,32

0,24

0,24

0,08

0,16

0,24

Research and Development

0,15

0,6

0,45

0,15

0,3

0,15

0,3

Product Diversivication

0,11

0,44

0,44

0,33

0,33

0,33

0,22

Profit Margin

0,1

0,2

0,3

0,2

0,1

0,1

0,4

Global Ekspansion

0,14

0,42

0,42

0,28

0,42

0,28

0,42

Promotion

0,12

0,48

0,24

0,48

0,24

0,36

0,12

Corporate Social Responsibility

0,07

0,21

0,21

0,21

0,21

0,21

0,21

Marketing and distribution

0,13

0,52

0,39

0,39

0,39

0,26

0,39

Total

1,00

Case Analysis Diagnostic Phase

3,59

2,99

2,48

2,17

1,95

2,4

P a g e | 81

PT Kalbe Farma Tbk

KALBE FARMAS STRATEGIC MATCH AND POSITION


SWOT MATRIX
SWOT Matrix merupakan matriks yang digunakan untuk mengembangkan 4 tipe strategi, yaitu:
SO (Strengths-Opportunities) Strategies, WO (Weaknesses-Opportunities) Strategies, ST
(Strengths-Threats) Strategies, dan WT (Weaknesses-Opportunities) Strategies bagi Kalbe Farma.
Tabel 2.7
SWOT Matrix
SWOT MATRIX
STRENGTHS

WEAKNESSES

Market leader produk


kesehatan dan obatobatan di Indonesia

Net profit margin yang


relatif rendah dibanding
kompetitor

Perusahaan farmasi publik


terbesar di Asia Tenggara

Adanya kompetisi internal


yang cukup keras

Penjualan dari masingmasing divisi cukup


berimbang
Kalbe Farma meraih
berbagai penghargaan
bergengsi selama tahun
2009
PT Bintang Toedjoe
memperoleh sertifikasi
ISO 9001:2000 dan ISO
14001:2004 dari Lloyds
Register Quality
Assurance (LRQA)
Kalbe meningkatkan
kepemilikan atas PT
Enseval Putera
Megatrading Tbk sebesar
25,45% melalui
penawaran tender
Kalbe memiliki jaringan
distribusi paling luas di
Indonesia
Investasi Kalbe dalam
R&D pada tahun 2009
mencapai Rp 78,8 miliar
atau meningkat 8,4% dari
investasi tahun 2008

Penjualan ekspor Kalbe


Farma masih kecil porsinya

Pangsa pasar produk nutrisi


Kalbe Farma masih rendah

Produk herbal yang


diproduksi Kalbe Farma
masih relatif rendah

Tingkat ketergantungan
bahan baku impor masih
tinggi

Stem Cell and Cancer


Institute (SCI)
mendapatkan 3 paten
yang berhubungan
dengan bahan anti kanker

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 82

PT Kalbe Farma Tbk

10

OPPORTUNITIES

Pada tahun 2009, SCI


membentuk unit bisnis
Kalbe Genomics (KalGen)
sebagai laboratorium
diagnostik molecular
canggih yang pertama di
Indonesia
SO STRATEGIES

WO STRATEGIES

Kebijakan pemerintah
yang cenderung
memberatkan perusahaan
farmasi asing

Meningkatkan koordinasi
antar divisi dan
departemen dalam
perusahaan sendiri
terutama dalam produksi
dan distribusi produk
(S7,O2)

Melakukan efisiensi biaya


dengan optimalisasi
pengelolaan rantai pasokan
mulai dari pasokan bahan
baku, proses produksi,
hingga distribusi produk
(W1,W2,06)

Hasil proyeksi
menunjukkan bahwa
jumlah penduduk
Indonesia selama dua
puluh lima tahun terus
meningkat yaitu dari 205,1
juta pada tahun 2000
menjadi 273,2 juta pada
tahun 2025
Pertumbuhan pasar obat
herbal Indonesia selama 5
tahun terakhir rata-rata
sekitar 15%

Melakukan penelitian
terhadap bahan baku
hayati dalam negeri untuk
menghasilkan produk baru
baik obat resep/bebas
maupun obat herbal
(S9,O4)

Meluncurkan produk
inovator baru berkualitas
ekspor yang belum dimiliki
oleh produsen lain
khususnya di bidang obat
resep dan produk nutrisi
serta membuat legal
system yang ketat (W4,O2)

Mengakuisisi vendor
penyedia bahan baku lokal
untuk mengembangkan
industri kimia hulu dalam
negeri sekaligus
mengurangi impor bahan
baku (S1,S2,O6)

Mengakuisisi salah satu


perusahaan herbal di
Indonesia (W5,O3,O4)

Indonesia merupakan salah


satu negara mega diversity
untuk tumbuhan obat di
dunia

Melakukan ekspansi bisnis


ke wilayah Asia dan Afrika
melalui kolaborasi
berbentuk joint venture
dengan perusahaan asing
bertaraf internasional
(S3,O5)

Melakukan ekspansi bisnis


ke wilayah Asia dan Afrika
melalui kolaborasi
berbentuk joint venture
dengan perusahaan asing
bertaraf internasional
(W3,O5)

Kebijakan pemerintah
mendukung ekspor

Pasar farmasi Indonesia


tumbuh rata-rata per tahun
11% sejak tahun 2003
sampai dengan estimasi
2010

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 83

PT Kalbe Farma Tbk


THREATS
1

Kebijakan pemerintah
mengenai pembatasan
harga obat generik dan
pembatasan obat branded
generic pada sarana
pelayanan kesehatan
pemerintah
Fluktuasi nilai tukar rupiah
terhadap valas (valuta
asing)

Peredaran obat palsu yang


masih tinggi

Krisis ekonomi di Indonesia


sebagai dampak krisis
global
Rendahnya kesadaran
masyarakat memeriksakan
kesehatannya

Makin maraknya
pengobatan alternatif

Rencana merger Indofarma


dan Kimia Farma

Peraturan Menteri
Keuangan nomor
104/PMK.03/2009 tentang
biaya promosi dan
penjualan yang dapat
dikurangkan dari
penghasilan bruto

ST STRATEGIES
1

Meningkatkan koordinasi
antar divisi dan
departemen dalam
perusahaan sendiri
terutama dalam produksi
dan distribusi produk (S6,
S7,T7)
Meluncurkan produk
inovator baru yang belum
dimiliki oleh produsen lain
khususnya di bidang obat
resep dan produk nutrisi
dan membuat legal
system yang ketat (S1, O3)

WT STRATEGIES
1

Mengakuisisi vendor
penyedia bahan baku lokal
untuk mengembangkan
industri kimia hulu dalam
negeri sekaligus
mengurangi impor bahan
baku (W6, T2)
Melakukan promosi yang
efektif terhadap produk
baru yang dikeluarkan
melalui pendekatan
persuasif yang dapat
memperkuat brand image
namun tidak menguras
biaya (W4,T8)
Mengakuisisi salah satu
perusahaan herbal di
Indonesia (W5,O6)

SO Strategies
SO Strategies memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari
peluang eksternal. Pada kasus PT Kalbe Farma Tbk ini, strateginya adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan koordinasi antar divisi dan departemen dalam perusahaan sendiri
terutama dalam produksi dan distribusi produk
Penyelarasan rantai pasokan dari penyediaan bahan baku, produksi, pemasaran, penjualan,
distribusi dan logistik ini memiliki dampak besar mengingat Kalbe memiliki lebih dari 2.000
jenis produk yang disalurkan melalui 64 cabang yang melayani langsung sekitar 150.000
outlet di seluruh Indonesia. Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur
distribusi dan pembagian pangsa pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling
bersaing.
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 84

PT Kalbe Farma Tbk


2. Melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan
produk baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal
Kesuksesan unit riset PT Kalbe Farma Tbk, SCI menemukan dan mendapatkan 3 paten yang
berhubungan dengan bahan anti kanker dari artocarpin, ekstrak daun cassia alata dan piper
crocatum diharapkan dapat memacu perusahaan untuk terus melanjutkan penelitian sejenis
mengingat Indonesia memiliki keragaman hayati yang luar biasa, terutama untuk penyakitpenyakit yang berkembang akhir-akhir ini dan masih belum ada obat patennya.
3. Mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal untuk mengembangkan industri kimia
hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku
PT Kalbe Farma Tbk dapat mengakuisisi perusahaan kimia dalam negeri dan kemudian
meningkatkan teknologinya sehingga bisa menghasilkan bahan baku bagi perusahaan. Walau
mungkin tidak semua bahan baku bisa disediakan sendiri nantinya, diharapkan untuk tahap
awal impor bahan baku dapat diminimalisir sebisa mungkin.
4. Melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint
venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional
Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan
dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain
utama di pasar Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta
menjalin kerja sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial.
WO Strategies
WO Strategies bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil
keuntungan dari peluang eksternal. Terkadang peluang tersedia tetapi kelemahan internal
menghalangi perusahaan mengambil manfaat dari peluang tersebut. WO Strategies dari PT
Kalbe Farma Tbk adalah:
1. Melakukan efisiensi biaya dengan optimalisasi pengelolaan rantai pasokan mulai dari
pasokan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi produk
Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur distribusi dan pembagian pangsa
pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling bersaing.
2. Meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh produsen
lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi serta membuat legal system yang
ketat
Menghasilkan suatu produk inovator tentu akan menjadi competitive advantage sendiri bagi
perusahaan dimana saat itu belum ada kompetitor yang menghasilkan produk sejenis
sehingga perhatian konsumen akan langsung tertuju pada produk tersebut. Untuk obat resep
selain produk berbahan baku kimia, diharapkan terobosan-terobosan baru dari bahan hayati
lokal dapat lebih dikembangkan, sedangkan untuk nutrisi dapat lebih difokuskan pada
pengembangan produk yang belum dimiliki kompetitor atau pada produk dimana kompetitor
tidak cukup mendominasi. Mengenai legal system, selain mendaftarkan produknya untuk
mendapatkan HAKI, tim intelejen untuk mengawasi peredaran obat palsu juga dibutuhkan.
Produk yang diciptakan dengan teknologi yang tidak dimiliki pihak lain juga sebenarnya
cukup efektif untuk mencegah dipalsukannya produk PT Kalbe Farma Tbk sendiri.
3. Mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia
Mengingat potensi pasar obat herbal yang cukup tinggi di Indonesia dan tingginya
keragaman hayati yang dimiliki Indonesia, langkah yang harus diambil memang PT Kalbe
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 85

PT Kalbe Farma Tbk


Farma harus ikut terjun ke dalam bisnis ini dengan cakupan yang lebih luas. 3 (tiga) produk
yang telah diproduksi sebelumnya dirasa sangat tidak memadai. Oleh karena itu strategi yang
memungkinkan adalah PT Kalbe Farma dapat mengakuisisi salah satu perusahaan obat
herbal di Indonesia, terutama yang sudah cukup memiliki nama. Memang pada tahun 2009,
Divisi Kemasan dan Distribusi sudah bekerja sama dengan Ny Meneer, namun masih sebatas
pada pendistribusian produk saja.
4. Melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint
venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional
Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan
dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain
utama di pasar Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta
menjalin kerja sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial.
ST Strategies
ST Strategies menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi
dampak dari ancaman eksternal. ST Strategies yang dapat diterapkan PT Kalbe Farma Tbk
antara lain:
1. Meningkatkan koordinasi antar divisi dan departemen dalam perusahaan sendiri
terutama dalam produksi dan distribusi produk
Penyelarasan rantai pasokan dari penyediaan bahan baku, produksi, pemasaran, penjualan,
distribusi dan logistik ini memiliki dampak besar mengingat Kalbe memiliki lebih dari 2.000
jenis produk yang disalurkan melalui 64 cabang yang melayani langsung sekitar 150.000
outlet di seluruh Indonesia. Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur
distribusi dan pembagian pangsa pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling
bersaing.
2. Meluncurkan produk inovator baru yang belum dimiliki oleh produsen lain khususnya di
bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system yang ketat
Menghasilkan suatu produk inovator tentu akan menjadi competitive advantage sendiri bagi
perusahaan dimana saat itu belum ada kompetitor yang menghasilkan produk sejenis
sehingga perhatian konsumen akan langsung tertuju pada produk tersebut. Untuk obat resep
selain produk berbahan baku kimia, diharapkan terobosan-terobosan baru dari bahan hayati
lokal dapat lebih dikembangkan, sedangkan untuk nutrisi dapat lebih difokuskan pada
pengembangan produk yang belum dimiliki kompetitor atau pada produk dimana kompetitor
tidak cukup mendominasi. Mengenai legal system, selain mendaftarkan produknya untuk
mendapatkan HAKI, tim intelejen untuk mengawasi peredaran obat palsu juga dibutuhkan.
Produk yang diciptakan dengan teknologi yang tidak dimiliki pihak lain juga sebenarnya
cukup efektif untuk mencegah dipalsukannya produk PT Kalbe Farma Tbk sendiri.
WT Strategies
WT Strategies merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal
serta menghindari ancaman eksternal. Alternatif WT Strategies yang dapat diambil PT Kalbe
Farma Tbk disini diantaranya:
1. Mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal untuk mengembangkan industri kimia
hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 86

PT Kalbe Farma Tbk


Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan
dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain
utama di Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta menjalin kerja
sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial.
2. Melakukan promosi yang efektif terhadap produk baru yang dikeluarkan melalui
pendekatan persuasif yang dapat memperkuat brand image namun tidak menguras biaya
Promosi melalui media cetak maupun televisi dan radio memang sangat efektif apabila dilihat
hasilnya, namun cara tersebut cukup menguras biaya dan hanya membuat masyarakat
sekadar mengenal produk tersebut. Strategi altenatif yang dapat diambil untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi diantaranya dengan mengembangkan merek dagang
yang kuat melalui kegiatan ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat
antara Divisi Obat Resep dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan
komprehensif atau holistik kepada konsumen. Hal yang terakhir disebut dapat juga dilakukan
dengan membuat suatu laman dalam situs jejaring sosial dimana nantinya perusahaan,
khususnya mengenai produk tertentu dapat berinteraksi langsung dengan konsumen.
3. Mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia
Mengingat potensi pasar obat herbal yang cukup tinggi di Indonesia dan tingginya keragaman
hayati yang dimiliki Indonesia, langkah yang harus diambil memang PT Kalbe Farma harus
ikut terjun ke dalam bisnis ini dengan cakupan yang lebih luas. 3 (tiga) produk yang telah
diproduksi sebelumnya dirasa sangat tidak memadai. Oleh karena itu strategi yang
memungkinkan adalah PT Kalbe Farma dapat mengakuisisi salah satu perusahaan obat herbal
di Indonesia, terutama yang sudah cukup memiliki nama.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 87

PT Kalbe Farma Tbk

BCG MATRIX
BCG Matrix menggambarkan perbandingan Kalbe Farma/Divisi di Kalbe Farma dengan konteks
posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri farmasi. Sebagaimana telah
dibahas sebelumnya, diketahui bahwa Kalbe Farma memiliki 4 divisi usaha yaitu Divisi Obat
Resep, Divisi Produk Kesehatan, Divisi Nutrisi dan Divisi Distribusi dan Kemasan. Di bawah ini
adalah Tabel BCG dari PT Kalbe Farma Tbk:
Tabel 2.8

No

Divisions

1
2
3
4

Obat Resep
Produk Kesehatan
Nutrisi
Distribusi dan
Kemasan
TOTAL

Relative Market Share


Revenues
%
Profits
(miliar Rp)
Revenues
(miliar Rp)
2.213,80
24,4
486,99
1.727,20
19,0
331,96
1.935,80
21,3
353,89
3.210,50
35,3
393,03
9.087,30

100,0

1.565,87

%
Profits
31,1
21,2
22,6
25,1

RMS
1,00
1,00
0,27
1,00

IGR
(%)
13,3
13,2
6,1
34,0

100,0

Pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa pendapatan dari tiap divisi hampir merata, yang
menunjukkan keseimbangan kekuatan diantara tiap divisinya. Hanya Divisi Distribusi dan
Kemasan yang sedikit lebih menonjol dibanding 3 (tiga) divisi lainnya. Ini merupakan suatu
keberhasilan pengambilan strategi dimana setelah distribusi dan kemasan dipisahkan menjadi
unit bisnis tersendiri ternyata menunjukkan potensi pasar yang sangat besar. Untuk Industry
Growth Rate, tampak dalam tabel bahwa industri farmasi merupakan suatu industri yang
menjanjikan dimana untuk tahun-tahun kedepannya industri ini diprediksi masih bisa terus
berkembang. Hanya segmen nutrisi saja yang pertumbuhannya tidak setinggi segmen lainnya,
tetapi 6,1% juga tidak bisa dikatakan rendah. Untuk usaha distribusi di tahun 2009 bahkan telah
menjadi motor pertumbuhan baru dengan pertumbuhan sekitar 34,0%.
Mengenai Relative Market Share pada tabel di atas, perhitungannya diambil dari tingkat
pendapatan tiap divisi pada PT Kalbe Farma Tbk yang dibandingkan dengan pendapatan di
bidang usaha sejenis yang dimiliki pesaing terbesar pada industri tersebut. Yang unik disini,
ternyata tiap divisi pada PT Kalbe Farma Tbk memiliki kompetitor terbesar yang berbeda-beda.
Divisi Obat Resep bersaing ketat dengan produk sejenis dari Dexa Medica Group. Divisi Produk
Kesehatan, khususnya obat bebas harus berhadapan dengan produk-produk dari Tempo Scan.
Divisi Nutrisi masih harus berjuang keras untuk menggeser produk-produk Nestle, sedangkan
Divisi Distribusi dan Kemasan tidak bisa begitu saja meremehkan pergerakan PT Kimia Farma
Tbk. Dari keempat divisi tersebut, 3 (tiga) diantaranya merupakan pemimpin pasar. Hanya Divisi
Nutrisi yang masih belum mampu menggeser Nestle, perusahaan multinasional yang memang
sudah lama menguasai pasar nutrisi Indonesia.
Untuk BCG Matrix dari PT Kalbe Farma Tbk digambarkan sebagai berikut:

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 88

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.8
BCG Matrix
RELATIVE MARKET SHARE POSITION IN THE INDUSTRY

High

High
1,0

+35
+30

Medium

Low

0,5

0,0

25,1%

+25
+20
+15

31,1%

+10

INDUSTRY SALES
GROWTH RATE Medium
(Percentage)

+5

STARS

?
22,6%

21,2%

0
-5
-10
-15
-20

CASHCOWS

DOGS

-25
-30
Low

-35

Dari matrix di atas dapat kita ketahui bahwa posisi Divisi Obat Resep, Divisi Produk Kesehatan
serta Divisi Kemasan dan Distribusi berada pada Kuadran II yaitu Stars dimana ketiga divisi
tersebut memiliki Relative Market Share yang tinggi, bahkan ketiganya merupakan pemimpin
pasar pada masing-masing bidang industrinya. Selain itu, ketiga divisi tersebut juga berada pada
industri yang cukup tinggi tingkat pertumbuhannya dimana masing-masing divisi berada pada
industri yang pertumbuhannya diatas 10%. Strategi yang bisa diterapkan PT Kalbe Farma Tbk
dalam posisi Kuadran II ini diantaranya: mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia,
melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan produk
baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal, mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal
untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan
baku, meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh produsen
lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system yang ketat
dan melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint
venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional.
Sedangkan untuk Divisi Nutrisi dapat kita lihat bahwa mereka berada pada Kuadran I yaitu
Question Marks (?). Hal tersebut diakibatkan walau mereka berada pada bidang industri yang
cukup tinggi tingkat pertumbuhannya (6,1%), mereka belum mampu menjadi pemimpin pasar.
Dalam bidang ini Nestle masih terus mendominasi dan dibutuhkan usaha ekstra keras untuk
dapat menyainginya. Melihat hal tersebut strategi yang dapat diterapkan PT Kalbe Farma untuk
Divisi Nutrisinya ini antara lain: meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang
belum dimiliki oleh produsen lain dan membuat legal system yang ketat dan melakukan ekspansi

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 89

PT Kalbe Farma Tbk


bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint venture dengan perusahaan
asing bertaraf internasional.

I/E MATRIX
I/E Matrix menggambarkan posisi Kalbe Farma dalam 9 cell displays. Matriks ini dibagi menjadi
tiga daerah utama yang memiliki implikasi strategi berbeda. Pertama rekomendasi untuk
perusahaan yang masuk dalam sel I, II, IV dapat digambarkan sebagai grow and build. Strategi
yang sesuai untuk posisi ini adalah Integration, Market Penetration, Market Development, dan
Product Development. Kedua, perusahaan yang masuk dalam sel III, V, VII dapat digambarkan
sebagai hold and maintain. Strategi yang sesuai untuk posisi ini adalah Market Penetration dan
Product Development. Ketiga, divisi yang masuk dalam sel VI, VIII, IX dapat digambarkan sebagai
harvest or divest.
Figure 2.9
I/E Matrix for Kalbe Farma

Dari tabel I/E Matrix di atas, dapat diketahui bahwa posisi Kalbe berada dalam sel IV yakni
termasuk grow and build. Pada posisi ini, strategi yang paling cocok untuk Kalbe adalah
Integration, Market Penetration, Market Development, dan Product Development.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 90

PT Kalbe Farma Tbk

SPACE MATRIX
SPACE Matrix merupakan Matriks yang terdiri dari kerangka 4 kuadran yang mengindikasikan
apakah agresif, konservatif, defensif, atau strategi kompetitif yang paling sesuai untuk Kalbe
Farma.
Tabel 2. 9
Tabel rating SPACE Matrix
No.

Financial Position (FP)

Ratings

Current Ratio PT Kalbe Farma 298,70 %

Return on Asset PT Kalbe Farma 14,33%

Return on Equity PT Kalbe Farma 21,55%

Fixed Asset Turnover Ratio sebesar 6,5 kali

Working Capital Turnover Ratio PT Kalbe Farma adalah sebesar 1,46%

Debt to Equity Ratio sebesar 36,52%

Total Pendapatan Usaha pada tahun 2009 Sebesar Rp924,004 Milyar,


mengalami kenaikan sebesar 31,43% dari tahun 2008

Gross Profit Margin sebesar 49,65%, mengalami kenaikan 1,37% dari tahun
2008

Operating Margin pada tahun 2009 16,19%, naik 1,23% dari laba bersih tahun
2008

10

Earning Per Share meningkat menjadi Rp 97 per lembar saham

11

Price Earning Ratio sebesar 12,37 kali

12

Saldo Kas dan Setara Kas PT Kalbe Farma pada akhir tahun 2009 turun/naik
dari Rp1.562.664.177.408 diawal tahun menjadi Rp1.321.797.625.299

FP Ratings Average
No.

Industry Position (IP)

4,67
Ratings

Struktur permodalan sebagian besar didanai dari saham

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003
sampai dengan estimasi 2010

Terdapat 199 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia

Persentase piutang usaha dalam Neraca cukup besar

PT Kalbe, selain divisi nutrisi, cenderung mendominasi market share di


indonesia

Pertumbuhan pasar obat herbal Indonesia selama 5 tahun terakhir rata-rata


sekitar 15%

IP Ratings Average
No.
1
2

Competitive Position (CP)


Market leader produk kesehatan dan obat-obatan di Indonesia dengan market
share terbesar pada obat resep (13%) dan obat bebas (16%)
Meraih beberapa penghargaan bergengsi dan sertifikasi kualitas produk,
brand, distribusi, dan kepuasan pelanggan serta beberapa penghargaan
lainnya

4,33
Ratings
-1
-2

Sebagian besar bahan baku produksi masih diimpor

-6

Memiliki jaringan distribusi terluas di Indonesia

-2

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 91

PT Kalbe Farma Tbk


5

Pionir dalam teknologi medis dan paradigma pengobatan masa depan

-2

Dalam kegiatan promosi dan pengenalan produk menempati peringkat kedua


setelah Tempo Group

-4

Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009
mencapai Rp78,8 miliar atau meningkat 8,4%

-2

CP Ratings Average
No.

Stability Position (SP)

-2,71
Ratings

Laju inflasi tahun 2009 sangat rendah, yakni sebesar 2,78%

-1

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 sebesar 4,5%

-3

3
4
5

Peningkatan permintaan obat murah seiring dengan meningkatnya populasi


dan sarana pelayanan kesehatan
Kebijakan pemerintah yang memberatkan perusahaan asing masuk ke pasar
indonesia
Tingginya angka pemalsuan obat mencapai 20% dari penjualan produk
farmasi
SP Ratings Average

-2
-2
-6
-2,80

Competitive Position
1.

Market Leader Produk Kesehatan dan Obat-Obatan Di Indonesia dengan Market Share
Terbesar pada Obat Resep (13%) dan Obat Bebas (16%)
Kalbe merupakan market leader untuk produk kesehatan masyarakat dan market leader
untuk produk ethical. Produk-produknya merupakan leading brand dengan berbagai
segmentasi pasar yang spesifik. Selain itu produknya merupakan inovator, dengan
mengembangkan obat-obatan serta rumusan kimia baru baik dengan kemampuan sendiri
ataupun melalui aliansi strategis dengan mitra internasional, serta banyak menghasilkan
produk-produk baru yang berbasis teknologi tinggi. Kalbe menguasai pasar obat resep
dengan market share sebesar 13%. Selain itu Kalbe juga menguasai pasar obat bebas
dengan market share 16%.
Sumber: Annual Report 2009

2.

Meraih Beberapa Penghargaan Bergengsi dan Sertifikasi Kualitas Produk, Brand,


Distribusi, dan Kepuasan Pelanggan serta Beberapa Penghargaan Lainnya
Kalbe Farma meraih berbagai penghargaan bergengsi selama tahun 2009. Penghargaan
yang diperoleh Kalbe Farma terkait pertumbuhan, brand, distribusi, dan kepuasan
pelanggan. Beberapa penghargaan dimaksud adalah:
a. 2009 Asia Pacific Excellence in Growth Award dari Frost & Sullivan;
b. Asias 200 Most-Admired Companies and The Indonesias Top 10 Companies dari The
Wall Street Journal Asia;
c. Top Brand Award 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Promag, Mixagrip,
Fatigon, Neo Entrostop, Komix dan Extra Joss;
d. Top Brand Award For Kids 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Entrostop;
e. Indonesia Best Brand Award Best Brand Platinum dari SWA dan MARS untuk
Promag, Cerebrovit dan Cerebrofort;
f. Indonesia Customer Satisfaction Award from Frontier and SWA untuk Promag, Komix

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 92

PT Kalbe Farma Tbk

g.
h.
i.
j.

dan Extra Joss;


The Most Powerful Distribution Performance Distribution Performance dari SWA, MIX,
QASA untuk Mixagrip, Komix dan Extra Joss;
Gold Medal Indonesia Quality Convention 2009 dari PMMI IQMA untuk QCC Flavettes
Bintang Toedjoe; dll
PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari
Lloyds Register Quality Assurance (LRQA)
PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dari Lloyds Register
Quality Assurance (LRQA), sebuah institusi pemberi sertifikasi terbesar yang telah
diakui di dunia.
ISO 9001:2000 menggabungkan tiga standar 9001, 9002, dan 9003 menjadi satu, yang
disebut 9001. Desain dan prosedur pengembangan diperlukan hanya jika perusahaan
terlibat dalam penciptaan produk baru. Versi 2000 berupaya untuk membuat
perubahan radikal dalam berpikir dengan benar-benar menempatkan konsep dari
proses manajemen pusat dalam pemantauan dan mengoptimalkan tugas perusahaan,
dan bukan hanya memeriksa produk akhir. Versi 2000 juga menuntut keterlibatan oleh
eksekutif atas, dalam rangka mengintegrasikan kualitas ke dalam sistem bisnis dan
menghindari pendelegasian fungsi kualitas untuk administrator level junior. Tujuan
lain adalah untuk meningkatkan efektivitas melalui metrik kinerja proses - pengukuran
numerik efektivitas tugas dan kegiatan.
ISO 14001:2004 adalah suatu standar pengelolaan lingkungan. Ini menentukan satu
set persyaratan manajemen lingkungan untuk lingkungan manajemen sistem. Tujuan
dari standar ini adalah untuk membantu semua jenis organisasi untuk melindungi
lingkungan, untuk mencegah polusi, dan untuk meningkatkan kinerja lingkungan
mereka.
Sumber: Annual Report 2009

3.

Sebagian Besar Bahan Baku Produksi Masih Diimpor


Tingkat ketergantungan Kalbe Farma terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi.
Kondisi ini kurang menguntungkan terutama pada saat melemahnya nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing. Selain itu, kondisi keamanan dan isu politik negara pemasok
berpotensi menjadi kendala distribusi bahan baku.
Sumber: Annual Report 2009

4. Memiliki Jaringan Distribusi Terluas di Indonesia


Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia. Sebagai perusahaan farmasi
terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk (Enseval) dan anak perusahaannya,
Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi
Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64 cabang sehingga mampu menjangkau
1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung dan tidak langsung. Selain
mendistribusikan produk-produk Grup Kalbe, Perseroan juga mendistribusikan produkproduk perusahaan kesehatan terkemuka bertaraf internasional. Dalam rangka
mendekatkan diri ke konsumen, selama tahun 2009 Enseval membuka 4 cabang baru yaitu
di Jakarta Selatan, Bengkulu, Gorontalo dan Palangkaraya. Hal tersebut menjadikan
Enseval sebagai perusahaan distribusi dan logistik produk kesehatan yang terbesar di
Indonesia.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 93

PT Kalbe Farma Tbk


Sumber: Annual Report 2009

5.

Pionir dalam Teknologi Medis dan Paradigma Pengobatan Masa Depan


Bisnis pionir yang dikembangkan Kalbe sebagai antisipasi perkembangan teknologi medis
dan paradigma pengobatan masa depan targeted therapy, yaitu bisnis biofarmasi. Di dalam
lanskap bisnis baru ini tercakup penelitian sel punca untuk pengobatan berbagai penyakit,
serta layanan diagnostik molekular untuk pengobatan kanker yang mengarah ke
personalized medicine.
Sumber: Annual Report 2009

6. Dalam Kegiatan Promosi dan Pengenalan Produk Menempati Peringkat Kedua Setelah
Tempo Group
Selama tahun 2009 Kalbe farma telah melakukan beberapa kegiatan promosi untuk
memeperkenalkan produknya, misalnya untuk meningkatkan penjualan obat resep pada
tahun 2009 antara lain adalah mengembangkan merek dagang yang kuat melalui kegiatan
ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep
dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan komprehensif atau
holistik kepada konsumen. Pada tahun ini Kalbe Farma telah mengeluarkan dana sebesar
Rp547,36 Miliar untuk kegiatan promosi. Sementara itu PT Tempo Scan Pacific dalam
mengalokasikan dana sebesar Rp579,296 Miliar untuk kegiatan yang sama. PT Indofarma,
PT Sanbe Farma, PT dan PT Kimia Farma masing-masing mengalokasikan dananya sebesar
Rp112 miliar, 63,108 miliar, dan 78,41 miliar. Sedangkan Biofarma melakukan kegiatan
promosi dengan melaksanakan kegiatan pameran di berbagai event, pemasangan iklan di
berbagai media, dan melakukan beberapa pengadaan media promosi dalam bentuk brosur
dan flyer. Namun Biofarma tidak merincikan berapa dana yang dialokasikan dalam
kegiatan promosi mereka.
Sumber: Annual Report 2009

7.

Investasi Kalbe dalam Riset dan Pengembangan (R&D) pada Tahun 2009 Mencapai
Rp78,8 Miliar atau Meningkat 8,4%
Inovasi dan semangat wirausaha telah menjadi ciri khas Kalbe sejak berdirinya lebih dari 40
tahun yang lalu. Di tahun 2009, Kalbe terus melanjutkan langkah-langkah strategis menjadi
inovator dalam penciptaan produk baru yang semakin canggih dan bernilai tinggi.
Pengembangan kapabilitas strategis ini dilakukan Perseroan melalui riset sendiri, di bawah
lisensi pihak ketiga atau kerja sama dan aliansi dengan mitra-mitra lokal maupun
internasional, seperti institusi riset, universitas dan perusahaan lain, atau dengan kata lain
meliputi unsur akademis, bisnis dan pemerintahan.
Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai Rp 78,8
miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp 72,7 miliar yang dilakukan pada tahun 2008.
Dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor terpilih, Kalbe Farma telah
menginvestasikan dana yang jauh lebih besar, dimana Sanbe Farma sebagai pesaing
terdekat hanya menginvestasikan dananya sebesar 47,88 Milliar, disusul dengan Biofarma
yang menginvestasikan dananya untuk R&D sebesar 24,17 Milliar, kemudian Kimia Farma
sebesar 8,92 Milliar.
Sumber: Annual Report 2009

Stability Position

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 94

PT Kalbe Farma Tbk


1.

Laju Inflasi Tahun 2009 Sangat Rendah, Yakni Sebesar 2,78%


Inflasi sepanjang tahun 2009 sebesar 2,78% (sumber:BPS) tercatat sebagai yang terendah
sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, pemerintah menargetkan laju inflasi sepanjang
2009 mencapai 4,5 persen. Selama ini, inflasi Indonesia cenderung berada di angka 5
persen. Dengan rendahnya inflasi tersebut, daya beli masyarakat masih tetap terjaga dan
industri dapat tumbuh dengan cukup baik.
Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/01/04/14553668/Menkeu.Inflasi.2009.Terendah.Sepa
njang.Sejarah

2.

Pertumbuhan Ekonomi Pada Tahun 2009 Sebesar 4,5%


Meskipun masih dilanda krisis keuangan global, namun Indonesia masih bisa mencatatkan
pertumbuhan sebesar 4,5% (sumber:BPS) pada tahun 2009. Belanja pemerintah yang
tumbuh 15,7% merupakan salah satu penyebab pertumbuhan itu bisa tercapai. Faktor lain
yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 mencapai 4,5 persen adalah
tumbuhnya konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,9 persen. Begitu juga investasi yang
dilaporkan masih tumbuh 3,3 persen dibandingkan tahun 2008.
Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/02/10/13085158/BPS.Pertumbuhan.Ekonomi.2009.4.5
.Persen

3.

Peningkatan Permintaan Obat Murah Seiring dengan Meningkatnya Populasi Dan


Sarana Pelayanan Kesehatan
Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate
sebesar 11% sejak tahun 2003 sampai dengan estimasi 2010. Pertumbuhan ini dipengaruhi
oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan
penduduk Indonesia. Permintaan akan obat resep khususnya obat resep murah akan
semakin meningkat seiring dengan peningkatan sarana pelayanan kesehatan di seluruh
wilayah Indonesia.

4.

Kebijakan Pemerintah yang Memberatkan Perusahaan Asing Masuk ke Pasar Indonesia


Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1010/Menkes/Per/XI/2008 yang diterbitkan 3
November 2008 itu menyebutkan perusahaan farmasi berstatus Pedagang Besar Farmasi
yang tidak memiliki fasilitas pabrik di Indonesia tidak bisa mendaftarkan obat-obatan baru
ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, perusahan Pedagang Besar
Farmasi harus menyerahkan izin statusnya ke perusahaan yang memiliki pabrik di
Indonesia. Kebijakan tersebut relatif menguntungkan perusahaan dalam negeri dan
memberatkan perusahaan asing untuk masuk ke pasar Indonesia

5.

Tingginya Angka Pemalsuan Obat Mencapai 20% dari Penjualan Produk Farmasi
Menurut Business Monitor International, angka pemalsuan obat di Indonesia masih sangat
tinggi, yakni mencapai 20% dari penjualan produk farmasi. Hal tersebut menjadi
penghalang utama para investor untuk masuk ke industri ini khususnya investor asing.

Financial Position
1.

Current Ratio PT Kalbe Farma 298,70%

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 95

PT Kalbe Farma Tbk


Analisis terhadap Current Ratio dapat digunakan untuk mengetahui seberapa likuid
perusahaan, kaitannya dengan kemampuan untuk melunasi utang jangka pendek yang
jatuh tempo pada tahun berjalan. Skor 298,70% artinya perusahaan masih memiliki sisa aset
lancar setelah digunakan untuk melunasi semua kewajiban lancar. Dalam hal ini rasio PT
Kalbe Farma masih tertinggi dan berada diatas pesaing-pesaingnya.
2.

Return on Asset (ROA) PT Kalbe Farma adalah 14,43%


Return on Asset adalah rasio untuk mengukur Earning Before Interest and Taxes (EBIT) yang
dapat dihasilkan dari setiap rupiah aset yang dimiliki. Pada tahun 2009, PT Kalbe Farma
memiliki ROA sebesar 14,43% terbesar kedua diantara empat perusahaan farmasi yang
dianalisis. Untuk maksimalisasi income dari penggunaan aset, PT Kalbe Farma masih kalah
dari Bio Farma.

3.

Return on Equity (ROE) PT Kalbe Farma adalah 21,55%


Return on Equity PT Kalbe Farma berada pada skor standar dengan kedua kompetitornya
yakni Kimia Farma dan Indo Farma, namun masih dibawah dari Bio Farma. ROE dapat
digunakan sebagai indikator profitabilitas yang bagus dari perusahaan. Tiap saham yang
diinvestasikan perusahaan menghasilkan EBIT sebesar 21,55%. Struktur pendanaan PT
Kalbe masih sebagian besar berasal dari saham.

4.

Fixed Asset Turnover Ratio sebesar 6,50 kali


Rasio ini membandingkan antara besar pendapatan usaha yang dihasilkan dari penggunaan
aset tetap. Analisis terhadap Fixed Asset Turnover Ratio dapat memberikan gambaran
terhadap investor seberapa baik perusahaan mendayagunakan aset tetapnya untuk
menghasilkan pendapatan. Gambaran lain yang bisa dilihat adalah indikasi apakah
perusahaan terlalu besar menginvestasikan modalnya pada aset tetap sehingga akan
menyulitkan perusahaan ketika akan melunasi kewajiban yang sifatnya insidental atau tibatiba (penjualan aset akan memakan waktu dan tidak dapat melunasi kebutuhan kas yang
mendadak).
Rasio PT Kalbe di tahun 2009 menempati posisi ketiga dari empat perusahaan farmasi yang
kami analisa. Dalam hal ini kami mencermati bahwa PT Kalbe masih kurang efektif dalam
memanfaatkan aset tetapnya dalam menjalankan operasi perusahaan. Ini cukup
memprihatinkan karena total aset PT Kalbe Farma berada diurutan pertama dari para
pesaing-pesaingnya.

5.

PT Kalbe Farma memiliki Working Capital Turnover Ratio sebesar 1,46 kali
Working Capital Turnover Ratio PT Kalbe ada di posisi ketiga dari empat perusahaan farmasi
yang kami analisis. Kami berpendapat bahwa PT Kalbe Farma kurang mampu
memanfaatkan modal kerja yang tersedia (aset lancar setelah dikurangi kewajiban lancar)
untuk menghasilkan pendapatan untuk perusahaan, dibanding dengan para kompetitornya.
Debt to Equity Ratio adalah 36,52%
Rasio ini berfungsi untuk mengetahui persentase keseluruhan dana yang berasal dari
hutang dengan yang berasal dari pemilik. Dalam hal ini rasio dari PT Kalbe adalah 36,52%
yang mana artinya komposisi hutang dari PT Kalbe hanya sebesar 36,52% dari total
equitasnya.

6.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 96

PT Kalbe Farma Tbk


7.

Persentase Laba Bersih tahun 2009 naik 31,43% dari tahun 2008
Total Pendapatan Usaha pada tahun 2009 Sebesar 924,004 milyar, mengalami kenaikan
sebesar 31,43% dari tahun 2008.

8.

Gross Profit Margin sebesar 49,65%, mengalami kenaikan 1,37% dari tahun 2008
Gross Profit PT Kalbe Farma berada di posisi kedua setelah Bio Farma dengan nilai 49,65%.
Nilai ini kurang sebanding dengan besarnya perusahaan. Perusahaan kurang dapat
melakukan efisiensi biaya-biaya seperti bahan baku, tenaga kerja dan biaya lainnya untuk
dapat meningkatkan profit perusahaan.

9.

Operating Margin pada tahun 2009 16,19%, naik 1,23% dari laba bersih tahun 2008
Untuk menghitung Operating Margin terdapat komponen pendapatan usaha, beban kontrak
dan beban usaha. Perusahaan dari hasil tersebut dapa melakukan penilaian apakah beban
usaha (Operating Expense) terlalu besar sehingga dapat memperkecil laba. Dari analisis
kami, Operating Margin PT Kalbe berada di urutan kedua dari kompetitornya.

10. Earning Per Share meningkat menjadi Rp97 per lembar saham
EPS adalah alat untuk melakukan penilaian atas profitabilitas suatu perusahaan. EPS PT
Kalbe dibandingkan dengan kompetitornya (Kimia Farma) yang sama-sama sudah listing di
bursa jauh berada diatasnya. Kimia Farma berada pada posisi kedua dengan EPS sebesar
RP11,25
11. Price Earning Ratio (PER) sebesar 12,37 kali
Price Earning Ratio adalah indikator ketertarikan investor terhadap perusahaan di pasar
modal. Pada akhir tahun 2009, PT Kalbe memiliki PER sebesar 12,37 kali, yang mana ini
berarti bahwa investor hendak membeli tiap lembar saham PT Kalbe dengan harga 12,37
kali dari nilai Earning per Share nya (EPS).
12. Cash Flow
Dari laporan arus kas PT Kalbe di tahun 2009, nilai arus kas dari kegiatan operasi positif, arus
kas dari kegiatan investasi negatif, dan arus kas dari pendanaan juga negatif. Secara umum
ini berarti bahwa perusahaan mampu membiayai kegiatan investasi dan pendanaannya dari
hasil kegiatan operasinya. Free Cash Flow adalah kas yang tersedia dari kegiatan operasi
setelah digunakan untuk memelihara atau menambah aset perusahaan. Dana kas yang
tersedia ini sangat penting untuk memungkinkan perusahaan melakukan terobosan seperti
mengembangkan produk baru, melakukan akuisisi; atau melakukan pembayaran atas
kewajiban-kewajibannya seperti membayar deviden atau hutang. PT Kalbe memiliki Cash
Flow yang bisa dilihat dari arus kas kegiatan operasi yang bernilai positif.
Industrial Position
1.

Struktur permodalan sebagian berasal dari saham


PT Kalbe Farma Tbk memenuhi kebutuhan permodalan perusahaannya sebagian besar dari
penjualan sahamnya, dikombinasikan dengan melakukan pinjaman. Hal ini sangat bagus
karena pendanaan dengan saham lebih fleksibel daripada pendanaan melalui hutang. Hal
yang menjadi perhatian perusahaan adalah kemungkinan kewajiban pembayaran deviden.

2.

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003 sampai
dengan estimasi 2010

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 97

PT Kalbe Farma Tbk


Dengan posisi market share Kalbe saat ini, diyakini bahwa pertumbuhan pasar farmasi
tersebut berdampak signifikan terhadap pendapatan PT Kalbe Farma Tbk secara
keseluruhan.
3.

Terdapat 199 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia


Saat ini ada 199 jumlah perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah
tersebut sebanyak 35 perusahaan adalah PMA (Penanaman Modal Asing) dengan pangsa
pasar yang diperkirakan mencapai 29.5%. Empat perusahaan lain adalah BUMN dengan
pangsa pasar sebesar 7,0% dan sisanya PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dengan
pangsa pasar 63.5%. Sebanyak 10 besar perusahaan Farmasi di tahun 2010 umumnya
didominasi oleh 9 perusahaan lokal yaitu Sanbe Farma, Kalbe Farma, Dexa Medica, Bintang
Toedjoe, Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Konimex, Phapros, Indofarma dan 1 perusahaan
PMA yaitu Pfizer. Market share dari 10 perusahaan terbesar ini kurang lebih 40%.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 98

PT Kalbe Farma Tbk


Tabel 2.10
Perbandingan Posisi Keuangan Kompetitor (dalam Jutaan rupiah)
Kalbe
Farma
1.563

Kimia
Farma
164

Indo
Farma
111

Receivables

1.318

45

180

156

Inventories

1.561

437

142

136

Advances

21

12

Tax Paid in Advance

92

127

46

Prepaid expense

15

Due from related parties

Penyertaan Saham

Deffered Tax Assets

29

28

24

1.398

402

101

545

482

357

213

109

Balance Sheet
Cash & Cash Equivalents

Fixed Assets
Trade Payables

Bio Farma
315

Tax Payables

273

27

12

32

Stock Capital

508

555

310

450

436

75

26

Sales

9.087

2.854

1.125

1.183

Cost of Good Sold

4.575

2.066

820

480

Gross Profit

4.512

788

305

703

Total Operating Expense

2.946

676

259

362

Income from operation

1.566

112

46

341

(95)

(12)

(33)

(30)

Earning before interest and tax

1.471

100

13

311

Income Tax Expense

(421)

37

(11)

(93)

929

63

218

97

11,25

Debt to Equity

36,52%

36,82%

126,18%

23,86%

Current Ratio

298,70%

199,84%

154,21%

284,00%

Quick/Acid Test Ratio

199,51%

114,22%

116,54%

198,00%

Cash Ratio

99,27%

32,07%

29,42%

133,00%

Gross Profit Margin

49,65%

27,62%

27,08%

59,45%

Operating Margin Ratio

16,19%

3,49%

1,13%

28,82%

Net Profit Margin

10,22%

2,19%

0,19%

18,40%

Return on Equity

21,55%

21,55%

21,55%

29,57%

6,50

7,10

11,14

2,17

14,33%

7,16%

6,31%

27,16%

1,46

4,05

4,02

1,10

Add Paid in Capital


Income Statements

Other expense

Net Income
Basic Earning per Share
Ratios

Fixed Asset Turnover


Return on Asset
Working Capital Turnover

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 99

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.10
SPACE Matrix

Kuadran II
Conservative Profiles

Kuadran I
Aggressive Profiles

Kuadran III
Defensive Profiles

Kuadran I
Competitive Profiles

Tabel 2.11
Perhitungan Koordinat
Strategic Position

Average

FP

4,67

SP

-2,80

IP

4,33

CP

-2,71

Directional Vector Coordinate


1,87

Coordinate

y-axis
(1,87) , (1,62)

1,62

x-axis

Dari posisi KALBE pada SPACE Matrix di atas, dapat diketahui bahwa KALBE berada pada
Kuadran I, yaitu posisi Aggressive. Pada posisi ini, strategi yang tepat buat KALBE adalah:
1. Backward, forward, horizontal integration
2. Market Penetration
3. Market Development
4. Product Development
5. Diversification (related and unrelated)

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 100

PT Kalbe Farma Tbk

GRAND STRATEGY MATRIX


Grand Strategy Matrix merupakan suatu alat yang digunakan dalam memformulasikan strategi.
Matrix ini menggunakan Market Growth atau pertumbuhan pasar sebagai sumbu Y dan
Competitive Position atau posisi daya saing dalam pasar industri yang serupa sebagai sumbu X.
Berikut ini merupakan Grand Strategy Matrix dari Kalbe Farma:
Figure 2.11
Grand Strategy Matrix

RAPID MARKET GROWTH


QUADRANT I
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Market Development
Market Penetration
Product Development
Forward Integration
Backward Integration
Horizontal Integration
Related Diversification

WEAK
COMPETITIVE
POSITION

STRONG
COMPETITIVE
POSITION

SLOW MARKET GROWTH

PT Kalbe Farma Tbk berada pada posisi Quadrant I, karena selain memiliki posisi kompetitif yang
kuat, perusahaan juga berada pada pertumbuhan pasar yang cepat/tinggi.
1. Strong Competitive Position
Dari 4 (empat) divisi yang ada dalam PT Kalbe Farma Tbk, 3 diantaranya berhasil menguasai
pangsa pasar di Indonesia. Divisi Obat Resep Kalbe mampu mempertahankan posisi dominan
peringkat pertama di pasar obat resep di Indonesia, dengan pangsa pasar 13% di tahun 2009.
Dalam pasar obat bebas yang merupakan lahan Divisi Produk Kesehatan, Kalbe Farma berada
di urutan pertama dengan penguasaan 15% pangsa pasar di Indonesia. Begitu juga dengan
Divisi Distribusi dan Kemasan. Hanya Divisi Nutrisi yang produknya belum dapat menguasai
pasar karena masih berada di bawah produsen-produsen multinasional yang sudah lebih awal
menggarap pasar nutrisi di Indonesia.
Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 101

PT Kalbe Farma Tbk


2. High Market Growth
Angka pertumbuhan industri farmasi di Indonesia yang cukup tinggi adalah kesempatan yang
harus dapat dimanfaatkan oleh PT Kalbe Farma Tbk untuk mengembangkan usahanya. Pasar
obat resep Indonesia mengalami pertumbuhan 13,3% di tahun 2009 berdasarkan data IMS
Health 2009. Selama periode tahun 2005 hingga 2009, pertumbuhan pasar obat bebas
tercatat sekitar 13,2%. Pasar nutrisi di tahun 2009 tumbuh sebesar 6,1% berdasarkan data AC
Nielsen 2009, dimana Kalbe Nutritionals sebagai pendatang baru telah mulai mampu
bersaing sedangkan pemasaran dan distribusi peralatan kesehatan dan diagnostik yang telah
dipisahkan menjadi unit bisnis tersendiri karena potensi pasar yang sangat besar di tahun
2009 menunjukkan pertumbuhan sekitar 34,0%.
Dari posisi diatas maka strategi yang dapat diambil PT Kalbe Farma Tbk diantaranya dapat
berupa:
1. Market Development
2. Market Penetration
3. Product Development
4. Forward Integration
5. Backward Integration
6. Horizontal Integration
7. Related Diversification
Langkah kongkrit yang dapat diambil PT Kalbe Farma dalam rangka menjalankan strategistrategi diatas diantaranya: mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia,
melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan produk
baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal, mengakuisisi vendor penyedia bahan baku
lokal untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor
bahan baku, meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh
produsen lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system
yang ketat dan melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi
berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 102

PT Kalbe Farma Tbk

KALBE FARMAS STRATEGIC CHOICE (QSPM)


Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah Pendekatan manajemen strategi level
atas untuk mengevaluasi berbagai keungkinan strategi-strategi yang ada. QSPM menyediakan
metode analisis untuk perbandingan beberapa alternatif dihubungkan dengan SWOT suatu
perusahaan. QSPM menghasilkan strategi terpilih dengan nilai tertimbang tertinggi yang akan
menjadi prioritas dalam pelaksanaan strategi. Proses penentuan ini sangat intuitif dan subjektif.
Berdasarkan hasil diagnose sebelumnya, strategi yang paling tepat untuk Kalbe Farma adalah
Integration, Market Penetration, Market Development, dan Product Development. Atas keempat
strategi tersebut akan dibuat perbandingan dalam suatu QSPM. Strategi Integration akan
dikhususkan pada strategi Backward Intregration, karena pada tahun 2009 Kalbe Farma telah
meningkatkan kepemilikan sahamnya pada Enseval, sebuah perusahaan distribusi terbesar di
Indonesia sehingga kepemilikan saham menjadi 83,75%. Oleh karena itu, strategi yang
disarankan saat ini adalah Backward Integration.
Berikut akan disajikan QSPM bagi Kalbe Farma:

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 103

PT Kalbe Farma Tbk

Tabel 2.12
QSPM
STRATEGIC ALTERNATIVES

KEY FACTORS

1
Backward
Integration
AS
TAS

2
Market
Penetration
AS
TAS

3
Market
Development
AS
TAS

0,06

4,00

0,24

3,00

0,18

1,00

0,06

2,00

0,12

0,08

0,08

3,00

0,24

2,00

0,16

1,00

0,08

4,00

0,32

0,08

3,00

0,24

1,00

0,08

2,00

0,16

4,00

0,32

WEIGHT

4
Product
Development
AS
TAS

OPPORTUNITIES
1

Kebijakan pemerintah yang cenderung memberatkan perusahaan farmasi asing

Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh
lima tahun terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta
pada tahun 2025
Pertumbuhan pasar obat herbal Indonesia selama 5 tahun terakhir rata-rata sekitar
15%
Indonesia merupakan salah satu negara mega diversity untuk tumbuhan obat di dunia

Kebijakan pemerintah mendukung ekspor

0,07

2,00

0,14

1,00

0,07

4,00

0,28

3,00

0,21

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003 sampai
dengan estimasi 2010

0,09

2,00

0,18

4,00

0,36

1,00

0,09

3,00

0,27

2
3

THREATS
7

Kebijakan pemerintah mengenai pembatasan harga obat generik dan pembatasan


obat branded generic pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah

0,06

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap valas (valuta asing)

0,06

4,00

0,24

1,00

0,06

2,00

0,12

3,00

0,18

Peredaran obat palsu yang masih tinggi

0,07

10

Krisis ekonomi di Indonesia sebagai dampak krisis global

0,05

3,00

0,15

1,00

0,05

4,00

0,20

2,00

0,10

11

Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan kesehatannya

0,08

12

Makin maraknya pengobatan alternatif

0,07

1,00

0,07

4,00

0,28

3,00

0,21

2,00

0,14

13

Rencana merger Indofarma dan Kimia Farma

0,09

1,00

0,09

3,00

0,27

4,00

0,36

2,00

0,18

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 104

PT Kalbe Farma Tbk


STRATEGIC ALTERNATIVES

KEY FACTORS
14

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2009 tentang Biaya Promosi dan


Penjualan yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto

WEIGHT
0,06

1
Backward
Integration
AS
TAS

2
Market
Penetration
AS
TAS

3
Market
Development
AS
TAS

4
Product
Development
AS
TAS

1,00
STRENGTHS
1

Market Leader produk kesehatan dan obat-obatan di Indonesia

0,08

1,00

0,08

4,00

0,32

3,00

0,24

2,00

0,16

Perusahaan farmasi publik terbesar di Asia Tenggara

0,07

1,00

0,07

2,00

0,14

4,00

0,28

3,00

0,21

Penjualan dari masing-masing divisi cukup berimbang

0,05

Kalbe Farma meraih berbagai penghargaan bergengsi selama tahun 2009

0,06

PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari
Lloyds Register Quality Assurance (LRQA)

0,05

Kalbe meningkatkan kepemilikan atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk sebesar


25,45% melalui penawaran tender

0,06

Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia

0,07

1,00

0,07

3,00

0,21

4,00

0,28

2,00

0,14

Investasi Kalbe dalam R&D pada tahun 2009 mencapai Rp 78,8 miliar atau meningkat
8,4% dari investasi tahun 2008

0,06

Stem Cell and Cancer Institute (SCI) mendapatkan 3 paten yang berhubungan dengan
bahan anti kanker

0,06

3,00

0,18

1,00

0,06

2,00

0,12

4,00

0,24

10

Pada tahun 2009, SCI membentuk unit bisnis Kalbe Genomics (KalGen) sebagai
laboratorium diagnostic molecular canggih yang pertama di Indonesia

0,08

3,00

0,24

2,00

0,16

1,00

0,08

4,00

0,32

0,07

4,00

0,28

2,00

0,14

1,00

0,07

3,00

0,21

WEAKNESSES
11

Net Profit Margin yang relatif rendah dibanding kompetitor

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 105

PT Kalbe Farma Tbk


STRATEGIC ALTERNATIVES

KEY FACTORS

WEIGHT

1
Backward
Integration
AS
TAS

2
Market
Penetration
AS
TAS

3
Market
Development
AS
TAS

4
Product
Development
AS
TAS

12

Adanya kompetisi internal yang cukup keras

0,04

13

Penjualan ekspor Kalbe Farma masih kecil porsinya

0,06

1,00

0,06

2,00

0,12

4,00

0,24

3,00

0,18

14

Pangsa pasar produk nutrisi Kalbe Farma masih rendah

0,06

3,00

0,18

4,00

0,24

1,00

0,06

2,00

0,12

15

Produk herbal yang diproduksi Kalbe Farma masih relatif rendah

0,06

3,00

0,18

2,00

0,12

1,00

0,06

4,00

0,24

16

Tingkat ketergantungan Kalbe Farma terhadap bahan baku impor masih tinggi

0,07

4,00

0,28

2,00

0,14

1,00

0,07

3,00

0,21

TOTAL

1,00

3,21

3,16

3,06

3,87

Dari hasil QSPM tersebut, terlihat bahwa prioritas pertama strategi yang akan dilaksanakan Kalbe Farma adalah product developmentdengan skor 3,87.
Oleh karena strategi product development berhubungan erat dengan ketiga strategi lainnya maka pada rencana strategis Kalbe 2010-2015, strategistrategi yang lain juga akan dilaksanakan untuk mendukung strategi utama product development.

Case Analysis Diagnostic Phase

P a g e | 106

Anda mungkin juga menyukai