Anda di halaman 1dari 48
PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

D I A G N O S T I C P H A S E
D I A G N O S T I C
P H A S E
PT Kalbe Farma Tbk D I A G N O S T I C P H

SWOT ANALYSIS

Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.

A. OPPORTUNITIES AND THREATS

OPPORTUNITIES 1. Kebijakan Pemerintah yang Cenderung Memberatkan Perusahaan Farmasi Asing Peraturan Menteri Kesehatan
OPPORTUNITIES
1.
Kebijakan Pemerintah yang Cenderung Memberatkan Perusahaan Farmasi Asing
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1010/Menkes/Per/XI/2008 yang diterbitkan 3
November 2008 itu menyebutkan perusahaan farmasi berstatus Pedagang Besar Farmasi
yang tidak memiliki fasilitas pabrik di Indonesia tidak bisa mendaftarkan obat-obatan baru
ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, perusahan Pedagang Besar
Farmasi harus menyerahkan izin statusnya ke perusahaan yang memiliki pabrik di Indonesia.
Kebijakan tersebut relatif menguntungkan Kalbe sebagai perusahaan dalam negeri terbesar
di bidang farmasi, untuk dapat meningkatkan dominasinya khususnya di pasar domestik.
Sumber: http://kosmo.vivanews.com/news/read/7738-kebijakan_pemerintah memberatkan pma farmasi
2.

Hasil Proyeksi Menunjukkan Bahwa Jumlah Penduduk Indonesia Selama Dua Puluh Lima Tahun Terus Meningkat Yaitu dari 205,1 Juta pada Tahun 2000 Menjadi 273,2 Juta pada Tahun 2025 Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025. Namun, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Walaupun demikian, kondisi ini tetap menjadi peluang bagi Kalbe Farma untuk meningkatkan kapasitas usahanya untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.

3. Pertumbuhan Pasar Obat Herbal Indonesia Selama 5 Tahun Terakhir Rata-Rata Sekitar

15%

Dalam dua dasawarsa terakhir, perhatian dunia terhadap obat-obatan dari bahan alam (obat tradisional) menunjukkan peningkatan, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengistilahkan pengobatan tradisional sebagai traditional medicine untuk negara timur dan menyebut istilah complementary and alternative medicines bagi negara barat.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 59

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

WHO menyebutkan, bahwa hingga 65% dari penduduk negara-negara maju telah menggunakan pengobatan tradisional di mana di dalamnya termasuk penggunaan obat- obat bahan alam. Bahkan, penduduk beberapa negara sudah menunjukkan peningkatan konsumsi obat tradisional yang menakjubkan. Konsumsi obat tradisional di Cina mencapai 50% dari total konsumsi di bidang kesehatan, dan 80% penduduk Benua Afrika, Asia dan Amerika Latin juga menggunakan obat tradisional untuk menjaga kesehatan.

Diperkirakan pada 2010 pasar obat modern mencapai Rp 37,5 triliun dan obat herbal Rp7,2

triliun.

Hal ini menjadi peluang bagi Kalbe Farma untuk ikut mengambil bagian dalam persaingan

pasar obat herbal dalam negeri.

Indonesia Merupakan Salah Satu Negara Mega Diversity untuk Tumbuhan Obat di Dunia Keanekaragaman hayati ini adalah yang tertinggi ke-2 setelah Brazil. Di dunia terdapat 40 ribu spesies tanaman, dan sekitar 30 ribu spesies berada di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 9.600 di antaranya terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Kalbe Farma dapat memanfaatkan peluang ini melalui bidang R&D untuk menemukan bahan baku obat yang berasal dari keanekaragaman hayati Indonesia.

4.

Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/03/12/23487/30_negara_hadiri_konferensi keanekaragaman hayati di
Sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/03/12/23487/30_negara_hadiri_konferensi
keanekaragaman hayati di bali/
5. Kebijakan Pemerintah Mendukung Ekspor
Dukungan ekspor ini dapat dilihat dari adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009
tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Berdasarkan undang-undang ini,
Pembiayaan Ekspor Nasional bertujuan untuk menunjang kebijakan Pemerintah dalam
rangka mendorong program ekspor nasional.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Pembiayaan Ekspor Nasional, berdasarkan Undang-
Undang ini dibentuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Adapun tugas LPEI
adalah:
a.

Memberi bantuan yang diperlukan bagi badan usaha (perusahaan) dalam rangka ekspor, dalam bentuk pembiayaan, penjaminan, dan asuransi guna pengembangan dalam rangka menghasilkan barang dan jasa dan/atau usaha lain yang menunjang ekspor;

b. Menyediakan pembiayaan bagi transaksi atau proyek yang dikategorikan tidak dapat dibiayai oleh perbankan, tetapi mempunyai prospek untuk peningkatan ekspor nasional; dan

c. Membantu mengatasi hambatan yang dihadapi oleh bank atau lembaga keuangan dalam penyediaan pembiayaan bagi eksportir yang secara komersial cukup potensial dan/atau penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia.

6. Pasar Farmasi Indonesia Tumbuh Rata-Rata Per Tahun 11% Sejak Tahun 2003 Sampai dengan Estimasi 2010

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate sebesar 11% sejak tahun 2003 sampai dengan estimasi 2010. Pada tahun 2009, pasar farmasi tumbuh sebesar 13,3%. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia. Kondisi ini tentu membuka peluang bagi Kalbe Farma dalam meningkatkan produksi dan pemasarannya.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 60

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

C a s e A n a l y s i s D i a

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 61

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

THREATS

1. Kebijakan Pemerintah Mengenai Pembatasan Harga Obat Generik dan Pembatasan Obat Branded Generic pada Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah Pembatasan harga obat generik dilakukan pemerintah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 302/Menkes/SK/III/2008 tentang Harga Obat Generik dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 696/Menkes/Per/VI/2007 tentang Harga Obat Generik Bernama Dagang (Branded Generic) pada Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Kebijakan tersebut berdampak pada rendahnya margin obat generik yang diproduksi perusahaan farmasi dan secara umum kurang menguntungkan bagi industri farmasi terutama pada saat terjadi kenaikan harga bahan baku obat.

Sumber:

2. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Valuta Asing (Valas) Nilai tukar rupiah fluktuatif terhadap valas (valuta asing). Berikut kami sajikan sampel fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap 4 valas, yaitu USD, JPY, CNY, dan EUR selama kurun waktu 2008-2009 dalam grafik berikut:

Figure 2.1 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap US Dollar 2008-2009
Figure 2.1
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap US Dollar 2008-2009

Figure 2.2 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yen Jepang 2008-2009

2.2 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yen Jepang 2008-2009 C a s e A n a l

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 62

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.3 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yuan China 2008-2009

2.3 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap Yuan China 2008-2009 Figure 2.4 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap EURO 2008-2009
Figure 2.4 Fluktuasi kurs Rupiah terhadap EURO 2008-2009
Figure 2.4
Fluktuasi kurs Rupiah terhadap EURO 2008-2009

3. Peredaran Obat Palsu yang Masih Tinggi Semakin maraknya peredaran obat palsu di pasaran telah mengakibatkan kerugian yang cukup signifikan baik bagi pelaku bisnis dan negara pada umumnya, serta dalam hal ini Kalbe pada khususnya. Kerugian negara atas peredaran obat palsu ini ditaksir hingga trilyunan rupiah, Justisiari Perdana Kusumah, Sekjen Masyarakat Indonesia Anti Pembajakan (MIAP), mengungkapkan data tersebut mengacu kepada survei pada 2005 lalu serta melihat temuan riil di lapangan. Justi mengatakan belum memiliki data 2009 pada pelanggaran farmasi ini. Akan tetapi, data LPEM Universitas Indonesia yang dirilis 2005 lalu menunjukkan tingkat kerugian sektor farmasi akibat pelanggaran HaKI amat besar. Asumsi barang yang dipalsukan produk impor, dengan kerugian mencapai Rp132 miliar dan potensi tenaga kerja tak terpakai 7.977 orang. Jika produk lokal, kerugian sebesar Rp174 miliar dengan opportunity lost 25.579 pekerja.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 63

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

4. Krisis Ekonomi di Indonesia Sebagai Dampak Krisis Global Dampak krisis global cukup terasa di indonesia, dan menyebabkan turunnya daya beli obat masyarakat indonesia sehingga akan mengancam kelangsungan hidup dari industri farmasi di Indonesia.

5. Rendahnya Kesadaran Masyarakat Memeriksakan Kesehatannya Kesadaran masyarakat Indonesia dalam memeriksa kesehatannya masih sangat rendah. Rendahnya ini dikarenakan banyak faktor, mulai takut bertemu dokter, ketakutan akan ditemukan adanya penyakit di tubuhnya, takut dioperasi hingga harga untuk berobat yang dinilai masih sangat mahal.

6. Makin Maraknya Pengobatan Alternatif Semakin mahalnya biaya pengobatan medis di rumah sakit membuat masyarakat memilih jalur pengobatan alternatif. Praktek pengobatan ini marak dalam beberapa tahun terakhir dan sebagian tidak dilengkapi dengan surat izin praktek atau surat tanda daftar praktek. Faktor pertimbangan biaya dan faktor ketakutan akan operasi juga menjadi seringkali jadi pemicu pasien untuk beralih ke pengobatan alternatif.

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2009/09/10/18275077/Pengobatan.Alternatif.Makin.Marak 7. Rencana Merger
Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2009/09/10/18275077/Pengobatan.Alternatif.Makin.Marak
7.
Rencana Merger Indofarma dan Kimia Farma
PT Indofarma Tbk (INAF) akan bertemu PT Kimia Farma Tbk (KAEF) untuk membahas
penggabungan usaha (merger) kedua badan usaha milik negara (BUMN) farmasi tersebut.
Kedua BUMN ini berencana merger pada tahun 2010. Dengan adanya penggabungan 2
BUMN tersebut jelas akan mengancam posisi pasar Kalbe Farma.
Sumber: http://bisnis.vivanews.com/news/read/114667-rencana merger indofarma temui_kimia farma
8.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2009 tentang Biaya Promosi dan Penjualan yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Berdasarkan PMK ini, besarnya biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah tidak melebihi 2% (dua persen) dari peredaran usaha dan paling banyak Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah). Peraturan ini jelas menjadi ancaman bagi Kalbe Farma dan bagi perusahaan farmasi lain mengingat porsi biaya promosi yang cukup besar untuk industri ini. Berikut kami sajikan total biaya promosi dari beberapa perusahaan farmasi:

Tabel 2.1 Biaya Promosi Beberapa Perusahaan Farmasi Indonesia

(dalam milyar rupiah)

Perusahaan

Peredaran Usaha

Biaya Adv.

Persentase

PT Kalbe Farma

9.087,347

547,365

6.02%

PT Sanbe Farma

1.398,279

63,103

4.51%

PT Tempo Scan Pacific, Tbk

4.497,931

579,296

12.88%

PT Kimia Farma (Persero) Tbk

2.854,057

78,414

2.75%

PT Indofarma (Persero) Tbk

1.125,055

112,347

9.99%

Sumber: - http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2009/104~PMK.03~2009Per.htm -Annual Report PT Kalbe Farma, PT Sanbe Farma, PT Tempo Scan Pacific, PT Kimia Farma, dan PT Indofarma

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 64

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk C a s e A n a l y s i s

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 65

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

EFE MATRIX

EFE Matrix merupakan sebuah alat untuk menentukan strategi dengan mengevaluasi lingkungan eksternal perusahaan yang meliputi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan alam, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan informasi eksternal lainnya. EFE Matrik Kalbe Farma disajikan dalam tabel 2.2 berikut:

Tabel 2.2 EFE Matrix for Kalbe Farma

Weighted Key External Factors Weight Rating Score Opportunities 1. Kebijakan Pemerintah yang Cenderung Memberatkan
Weighted
Key External Factors
Weight
Rating
Score
Opportunities
1.
Kebijakan Pemerintah yang Cenderung
Memberatkan Perusahaan Farmasi Asing
0,06
4
0,24
2.
Hasil Proyeksi Menunjukkan Bahwa Jumlah
Penduduk Indonesia Selama Dua Puluh Lima
Tahun Terus Meningkat Yaitu dari 205,1 Juta pada
Tahun 2000 Menjadi 273,2 Juta pada Tahun 2025
0,08
4
0,32
3.
Pertumbuhan Pasar Obat Herbal Indonesia Selama
5 Tahun Terakhir Rata-Rata Sekitar 15%
0,08
2
0,16
4.
Indonesia
Merupakan
Salah
Satu
Negara
Mega
0,08
2
0,16
Diversity Untuk Tumbuhan Obat di Dunia
5.
Kebijakan Pemerintah Mendukung Ekspor
0,07
3
0,21
6.
Pasar Farmasi Indonesia Tumbuh Rata-Rata Per
Tahun 11% Sejak Tahun 2003 Sampai dengan
Estimasi 2010
0,09
4
0,36
Threats
7.
Kebijakan Pemerintah Mengenai Pembatasan
Harga Obat Generik dan Pembatasan Obat
Branded Generic pada Sarana Pelayanan
Kesehatan Pemerintah
0,06
3
0,18
8.
Fluktuasi
Nilai
Tukar
Rupiah
Terhadap
Valas
0,06
4
0,24
(Valuta Asing)
9.
Peredaran Obat Palsu yang Masih Tinggi
0,07
2
0,14
10.
Krisis Ekonomi di Indonesia Sebagai Dampak Krisis
Global
0,05
4
0,20
11.
Rendahnya Kesadaran Masyarakat Memeriksakan
Kesehatannya
0,08
2
0,16
12.
Makin Maraknya Pengobatan Alternatif
0,07
2
0,14
13.
Rencana Merger Indofarma dan Kimia Farma
0,09
1
0,09
14.
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
0,06
2
0,12
104/PMK.03/2009 tentang
Biaya
Promosi
dan
Penjualan
yang
Dapat
Dikurangkan
dari
Penghasilan Bruto
Total
1.00
2,72

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 66

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Dari tabel EFE Matrix di atas, dapat diketahui nilai total weighted score Kalbe Farma adalah sebesar 2,72. Jumlah ini sedikit di atas rata-rata (2,5), mengindikasikan bahwa Kalbe Farma cukup bagus dalam merespon berbagai peluang yang ada dan mengatasi berbagai ancaman yang dihadapi perusahaan. Dengan score sedikit di atas rata-rata juga mengindikasikan bahwa Kalbe Farma bisa lebih baik lagi dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang muncul untuk kemudian diambil manfaatnya bagi perusahaan dengan tujuan untuk semakin mengokohkan diri sebagai pemimpin pasar farmasi di Indonesia. Pada jangka panjang, bahkan Kalbe Farma bisa mencapai apa yang telah menjadi visinya (proposed vision) untuk menjadi perusahaan farmasi terbesar di Asia dan Afrika. Visi tersebut tidaklah mudah untuk dicapai. Dalam hal adanya peluang dan ancaman, Kalbe Farma harus bisa memanfaatkannya dengan baik demi kinerja dan pencapaian perusahaan.

dengan baik demi kinerja dan pencapaian perusahaan. C a s e A n a l y

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 67

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

B. STRENGTHS AND WEAKNESSES

STRENGTHS

1. Market Leader Produk Kesehatan dan Obat-Obatan di Indonesia Kalbe merupakan market leader untuk produk kesehatan masyarakat dan market leader untuk produk ethical. Produk-produknya merupakan leading brand dengan berbagai segmentasi pasar yang spesifik. Selain itu produknya merupakan inovator, dengan mengembangkan obat-obatan serta rumusan kimia baru baik dengan kemampuan sendiri ataupun melalui aliansi strategis dengan mitra internasional, serta banyak menghasilkan produk-produk baru yang berbasis teknologi tinggi.

2. Perusahaan Farmasi Publik Terbesar di Asia Tenggara PT Kalbe Farma Tbk (“Perseroan” atau “Kalbe”) didirikan pada tahun 1966 dan menjadi perusahaan publik sejak tahun 1991 di Bursa Efek Indonesia, dengan nilai kapitalisasi pasar pada saat ini di atas US$ 1,4 miliar dan penjualan melebihi Rp 9 triliun. Berkantor pusat di Jakarta, Kalbe adalah perusahaan publik farmasi terbesar di Asia Tenggara dengan pasar yang tersebar di 9 negara yang memiliki total populasi mencapai 570 juta jiwa. Pencapaian ini dimulai pada tanggal 16 Desember 2005 di mana manajemen Kalbe telah berhasil melakukan penggabungan usaha dengan Dankos dan PT Enseval (”Enseval”) menjadi satu perusahaan dalam rangka menciptakan satu perusahaan farmasi tercatat dan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Penggabungan usaha ini akan memberikan peluang bagi masa depan Kalbe dalam meningkatkan efisiensi serta efektivitas. Merger yang melibatkan PT Enseval sebagai superholding dan tiga anak perusahaan yang terdaftar di BEJ tersebut Kalbe Farma, Dankos Laboratories (DNKS), Enseval Putera Megatrading (EPMS) sekaligus membentuk perusahaan yang betul-betul terintegrasi. Secara horisontal, Kalbe “baru” menawarkan rentang produk yang jauh lebih luas, mulai dari berbagai bentuk obat dan makanan kesehatan sampai suplemen dan minuman berenergi. Secara vertikal, mereka melakukan kegiatan dari pengadaan bahan baku, manufakturing produk jadi, pemasaran, sampai penjualan dan distribusi. Kalbe memiliki pengalaman yang cukup panjang dan dari segi finansial, pendapatan Kalbe meningkat sekitar 18% per tahun.

3. Penjualan dari Masing-Masing Divisi Cukup Berimbang Kalbe Farma memiliki 4 divisi, yaitu Divisi Obat Resep, Divisi Produk Kesehatan, Divisi Nutrisi, dan Divisi Distribusi dan Kemasan. Penjualan dari masing-masing divisi tersebut pada tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada tabel berikut:

pada tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.3 Laba Kotor Berdasarkan Segmen

Tabel 2.3 Laba Kotor Berdasarkan Segmen Bisnis

berikut: Tabel 2.3 Laba Kotor Berdasarkan Segmen Bisnis C a s e A n a l

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 68

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Hal ini merupakan kekuatan bagi Kalbe Farma karena Kalbe tidak bergantung pada satu divisi secara dominan. Apabila terjadi masalah pada salah satu divisi, misalkan penurunan penjualan, tidak akan terlalu mempengaruhi total penjualan Kalbe Farma. Jika terjadi kerugian pun tidak akan terlalu besar jika dibandingkan dengan apabila Kalbe Farma bergantung pada 1 divisi tertentu.

4. Kalbe Farma Meraih Berbagai Penghargaan Bergengsi Selama Tahun 2009 Penghargaan yang diperoleh Kalbe Farma terkait pertumbuhan, brand, distribusi, dan kepuasan pelanggan. Beberapa penghargaan dimaksud adalah:

a. 2009 Asia Pacific Excellence in Growth Award dari Frost & Sullivan;

b. Asia’s 200 Most-Admired Companies and The Indonesia’s Top 10 Companies dari The Wall Street Journal Asia;

c. Top Brand Award 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Promag, Mixagrip, Fatigon, Neo Entrostop, Komix dan Extra Joss;

d. Top Brand Award For Kids 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Entrostop;

e. Indonesia Best Brand Award – Best Brand Platinum dari SWA dan MARS untuk Promag,
e. Indonesia Best Brand Award – Best Brand Platinum dari SWA dan MARS untuk Promag,
Cerebrovit dan Cerebrofort;
f. Indonesia Customer Satisfaction Award from Frontier and SWA untuk Promag, Komix dan
Extra Joss;
g. The Most Powerful Distribution Performance – Distribution Performance dari SWA, MIX,
QASA untuk Mixagrip, Komix dan Extra Joss;
h. Gold Medal Indonesia Quality Convention 2009 dari PMMI – IQMA untuk QCC Flavettes –
Bintang Toedjoe; dll
5.

PT Bintang Toedjoe Memperoleh Sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA) PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dari Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA), sebuah institusi pemberi sertifikasi terbesar yang telah diakui di dunia. ISO 9001:2000 menggabungkan tiga standar 9001, 9002, dan 9003 menjadi satu, yang disebut 9001. Desain dan prosedur pengembangan diperlukan hanya jika perusahaan terlibat dalam penciptaan produk baru. Versi 2000 berupaya untuk membuat perubahan radikal dalam berpikir dengan benar-benar menempatkan konsep dari proses manajemen pusat dalam pemantauan dan mengoptimalkan tugas perusahaan, dan bukan hanya memeriksa produk akhir. Versi 2000 juga menuntut keterlibatan oleh eksekutif atas, dalam rangka mengintegrasikan kualitas ke dalam sistem bisnis dan menghindari pendelegasian fungsi kualitas untuk administrator level junior. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan efektivitas melalui matrik kinerja proses, pengukuran numerik efektivitas tugas dan kegiatan. ISO 14001:2004 adalah suatu standar pengelolaan lingkungan. Ini menentukan satu set persyaratan manajemen lingkungan untuk lingkungan manajemen sistem. Tujuan dari standar ini adalah untuk membantu semua jenis organisasi untuk melindungi lingkungan, untuk mencegah polusi, dan untuk meningkatkan kinerja lingkungan mereka.

6. Kalbe Meningkatkan Kepemilikan atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk Sebesar 25,45% Melalui Penawaran Tender

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 69

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Pada tahun 2009, kepemilikan Kalbe Farma atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk berubah dari 58,19% menjadi 83,75%. Enseval merupakan perusahaan distribusi dan logistik produk kesehatan yang terbesar di Indonesia. Perusahaan ini merupakan perusahaan distribusi obat-obatan yang baik reputasinya, yakni telah memperoleh sertifikasi Good Distribution Practice untuk Regional Distribution Center serta gudang bahan baku di Jakarta dan Surabaya.

Kalbe Memiliki Jaringan Distribusi Paling Luas di Indonesia Sebagai perusahaan farmasi terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk (“Enseval”) dan anak perusahaannya, Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64 cabang sehingga mampu menjangkau 1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung dan tidak langsung. Selain mendistribusikan produk-produk Grup Kalbe, Perseroan juga mendistribusikan produk-produk perusahaan kesehatan terkemuka bertaraf internasional. Dalam rangka mendekatkan diri ke konsumen, selama tahun 2009 Enseval membuka 4 cabang baru yaitu di Jakarta Selatan, Bengkulu, Gorontalo dan Palangkaraya. Hal tersebut menjadikan Enseval sebagai perusahaan distribusi dan logistik produk kesehatan yang terbesar di Indonesia.

7.

8. Investasi Kalbe Dalam R&D Pada Tahun 2009 Mencapai Rp 78,8 Miliar atau Meningkat 8,4%
8.
Investasi Kalbe Dalam R&D Pada Tahun 2009 Mencapai Rp 78,8 Miliar atau Meningkat
8,4% dari Investasi Tahun 2008
Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai Rp
78,8 miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp 72,7 miliar yang dilakukan pada tahun
2008. Biaya R&D Perseroan tahun 2009 setara dengan sekitar 0,9% dari total penjualan
konsolidasi. Hal ini merupakan kekuatan Kalbe karena sebagai perusahaan farmasi, salah
satu indikator kesuksesan adalah adanya penemuan produk baru obat-obatan. Sementara,
penemuan produk baru mustahil bisa tercapai tanpa adanya penelitian dan pengembangan
melalui bidang R&D. Dengan peningkatan biaya R&D ini, Kalbe sangat memperhatikan
penelitian produk-produk baru farmasi.
9.

Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Mendapatkan 3 Paten yang Berhubungan dengan Bahan Anti Kanker SCI merupakan unit riset di bawah naungan Kalbe yang fokus pada riset sel punca dan kanker. Dalam riset penyakit kanker tersebut, SCI mendapatkan 3 paten yang berhubungan dengan bahan anti kanker dari artocarpin, ekstrak daun cassia alata dan piper crocatum. Penemuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia dengan keragaman hayatinya dapat digunakan sebagai pengobatan kanker.

10. Pada Tahun 2009, SCI Membentuk Unit Bisnis Kalbe Genomics (KalGen) sebagai Laboratorium Diagnostik Molecular Canggih yang Pertama di Indonesia KalGen kini memfokuskan pada layanan pemeriksaan molekular untuk melihat profil gen dari sel kanker pada pasien sehingga bisa diberikan obat dengan tepat (farmakogenetik). KalGen telah memiliki 13 layanan pemeriksaan farmakogenetik hingga akhir 2009. Pemeriksaan genetik ini akan terus dikembangkan, tidak hanya pada kanker saja, tapi pada penyakit-penyakit lain juga. Dalam kegiatannya, KalGen selalu berkolaborasi dengan berbagai laboratorium, lembaga-lembaga riset dan perguruan tinggi serta akan mengembangkan layanan ke tingkat regional.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 70

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

WEAKNESSES

1. Net Profit Margin yang Relatif Rendah Dibanding Kompetitor Pada tahun 2009 Kalbe Farma membukukan net profit margin sebesar 10,22% atau meningkat 1,25% dibanding tahun 2008. Namun angka tersebut masih dibawah net profit margin Sanbe Farma sebesar 13,58% dan Bio Farma sebesar 18,4%. Hal tersebut menunjukkan bahwa Kalbe Farma kurang efisien dalam menjalankan proses bisnis dan adanya kelemahan dalam mengendalikan cost.

2. Adanya Kompetisi Internal yang Cukup Keras Sesuatu yang dapat disebut “perang saudara” terutama terjadi di jalur pemasaran. Lebih spesifik lagi, di produk-produk farmasi yang berada di kategori yang sama. Di obat flu, misalnya, Kalbe memiliki Procold sementara Dankos punya andalan yang cukup ampuh, Mixagrip. Lantaran Kalbe dan Dankos bisa saling melihat data masing-masing, akan lebih banyak energi tersita untuk bersaing dan berpotensi untuk saling menjatuhkan.

3. Penjualan Ekspor Kalbe Farma Masih Kecil Porsinya Nilai total penjualan Kalbe Farma dalam 5
3. Penjualan Ekspor Kalbe Farma Masih Kecil Porsinya
Nilai total penjualan Kalbe Farma dalam 5 tahun disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2.4
Penjualan Lokal dan Ekspor Kalbe Farma
Porsi
Tahun
Sales Volume
Lokal
Ekspor
Ekspor
2005
5.870.938.590.836
5.560.103.259.345
310.835.331.491
5.29%
2006
6.071.550.437.967
5.781.655.567.922
289.894.870.045
4.77%
2007
7.004.909.851.908
6.610.161.638.769
394.748.213.139
5.64%
2008
7.877.366.385.633
7.586.191.007.456
291.175.378.177
3.70%
2009
9.087.347.669.804
8.754.157.580.220
333.190.089.584
3.67%

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa porsi penjualan ekspor Kalbe Farma termasuk kecil jika dibandingkan dengan total penjualannya. Porsi ini justru cenderung menurun sejak tahun 2005. Jumlah kecil ini tergolong kelemahan Kalbe, mengingat Kalbe memiliki kantor perwakilan di Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, Singapura, Nigeria, dan Afrika Selatan.

4. Pangsa Pasar Produk Nutrisi Kalbe Farma Masih Rendah Pangsa pasar produk nutrisi masih dikuasai oleh Nestle dengan porsi 30%, Sari Husada dengan 16%, Frisian Flag Indonesia dengan 11%, dan Nutricia dengan 10%. Sementara, Kalbe Nutritional hanya menguasai pangsa pasar sebesar 8% saja. Data mengenai pangsa pasar produk nutrisi dapat dilihat pada bagan berikut ini.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 71

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.5 Pangsa Pasar Nutrisi

PT Kalbe Farma Tbk Figure 2.5 Pangsa Pasar Nutrisi 5. Produk Herbal yang Diproduksi Kalbe Farma

5.

Produk Herbal yang Diproduksi Kalbe Farma Masih Relatif Rendah Dibandingkan dengan kompetitornya, Kalbe Farma memiliki produk herbal lebih sedikit dari pesaingnya. Pada tahun 2009, Kalbe Farma hanya memiliki 3 produk herbal yakni Bintangin, Mensana, dan Remuvit. Sementara Kimia Farma memiliki 26 produk herbal. Kondisi ini merupakan kelemahan Kalbe Farma mengingat pertumbuhan pasar obat herbal yang cukup tinggi.

6. Tingkat Ketergantungan Kalbe Farma Terhadap Bahan Baku Impor Masih Tinggi Kalbe masih cenderung rentan
6. Tingkat Ketergantungan Kalbe Farma Terhadap Bahan Baku Impor Masih Tinggi
Kalbe masih cenderung rentan terhadap ketergantungan atas bahan baku impor untuk
kelangsungan kegiatan bisnis, sehingga masih perlu memperhitungkan penyediaan dana
mata uang asing yang memadai dan dampak yang mungkin timbul akibat fluktuasi mata
uang asing terhadap biaya produksi.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 72

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

IFE MATRIX

IFE Matrix merupakan sebuah alat untuk menentukan strategi dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) pada level fungsional dalam suatu perusahaan. Penentuan bobot Key Internal Factors diperlukan kecermatan analisa dan intuisi mendalam dari perumus matriks ini sehingga formulasi strategi bisa dihasilkan dengan baik.

Tabel 2.5 IFE Matrix for Kalbe Farma

 

Key Internal Factors

 

Weight

Rating

Weighted

Score

Strengths

       

1.

Market

Leader

Produk

Kesehatan

dan

Obat-

0,08

4

0,32

Obatan di Indonesia

 

2.

Perusahaan

Farmasi

Publik

Terbesar

di

Asia

 

0,07

4

0,28

Tenggara

3.

Penjualan

dari

Masing-Masing

Divisi

Cukup

0,05

3

0,15

Berimbang

 

4.

Kalbe

Farma

Meraih

Berbagai

Penghargaan

0,06

4

0,24

Bergengsi Selama Tahun 2009

 

5.

PT Bintang Toedjoe Memperoleh Sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA)

0,05

3

0,15

6.

Kalbe Meningkatkan Kepemilikan atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk Sebesar 25,45% Melalui Penawaran Tender

0,06

4

0,24

7.

Kalbe Memiliki Jaringan Distribusi Paling Luas di Indonesia

0,07

4

0,28

8.

Investasi Kalbe Dalam R&D Pada Tahun 2009 Mencapai Rp 78,8 Miliar atau Meningkat 8,4% dari Investasi Tahun 2008

0,06

4

0,24

9.

Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Mendapatkan 3 Paten yang Berhubungan dengan Bahan Anti Kanker

0,06

4

0,24

10.

Pada

Tahun

2009,

SCI

Membentuk

Unit

Bisnis

0,08

4

0,32

Kalbe

Genomics (KalGen) sebagai

Laboratorium

Diagnostic

Molecular

Canggih

yang

Pertama

di

Indonesia

Weaknesses

       

11.

Net Profit Margin yang Relatif Rendah Dibanding Kompetitor

0,07

2

0,14

12.

Adanya Kompetisi Internal yang Cukup Keras

 

0,04

2

0,08

13.

Penjualan

Ekspor

Kalbe

Farma

Masih

Kecil

0,06

2

0,12

Porsinya

14.

Pangsa Pasar Produk Nutrisi Kalbe Farma Masih

0,06

1

0,06

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 73

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

       

Weighted

 

Key Internal Factors

Weight

Rating

Score

 

Rendah

     

15.

Produk Herbal yang Diproduksi Kalbe Farma Masih Relatif Rendah

0,06

 

1 0,06

16.

Tingkat

Ketergantungan

Kalbe

Farma

Terhadap

0,07

 

2 0,14

Bahan Baku Impor Masih Tinggi

 
 

Total

1,00

 

3,06

Dari tabel IFE Matrix di atas, dapat diketahui nilai total weighted score Kalbe Farma adalah sebesar 3,06. Jumlah ini di atas rata-rata (2,5), mengindikasikan bahwa Kalbe Farma memiliki posisi internal yang cukup kuat.

bahwa Kalbe Farma memiliki posisi internal yang cukup kuat. C a s e A n a

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 74

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

COMPETITIVE PROFILE MATRIX (CPM)

Competitive Profile Matrix mengidentifikasi pesaing-pesaing utama Kalbe Farma mengenai kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) terkait posisi strategis Kalbe Farma. Pesaing utama yang menjadi perbandingan dalam CPM ini adalah, Sanbe Farma, Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Indofarma, dan Bio Farma. Dalam perbandingan ini, ditentukan Critical Success Factors, yaitu: Market Share, Financial Position, Research and Development, Product Diversification, Profit Margin, Global Expansion, Promotion, Corporate Social Responsibility, dan Marketing and Distribution. Berikut ini uraian dari masing-masing Critical Success Factors tersebut:

Market Share Market Share merupakan kondisi pasar yang menunjukkan seberapa besar pasar yang telah dikuasai perusahaan untuk memasarkan produk mereka. Industri farmasi di Indonesia sekurang-kurangnya terdiri dari 200 perusahaan farmasi, di mana 40% lebih pangsa pasar hanya dikuasai dari beberapa perusahaan besar saja. Sampai dengan saat ini, PT Kalbe Farma masih merupakan pemimpin pasar dengan mendapatkan pangsa pasar terbesar untuk produk obat dengan resep dokter (ethical products) Kalbe Farma masih memimpin seperti terlihat pada figure di bawah ini:

1.

Figure 2.6 Pangsa Pasar Industri Farmasi
Figure 2.6
Pangsa Pasar Industri Farmasi

Diagram di atas menunjukkan bahwa menurut survei yang dilakukan ITMA dan IHPA, Kalbe Farma masih memimpin pasar dengan menguasai pangsa pasar sebesar 13% dan 11%, sedangkan Sanbe Farma mendapatkan pangsa pasar sebesar 6% dan 9%. Sedangkan pangsa pasar obat resep untuk Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Bio Farma, dan Indo Farma masih dibawah 3%. Untuk produk kesehatan dan obat yang dijual bebas di pasaran (Over The Counter) Kalbe Farma juga menguasai pasar dengan memperoleh 15% dari seluruh pangsa pasar, kemudian posisi kedua disusul oleh Tempo Group dengan menguasai pasar sebesar 9%. Sedangkan Sanbe pada pasar ini memperoleh bagian sebesar 4%. Kimia Farma, Bio Farma dan Indo Farma masing-masing memperoleh kurang dari 3%.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 75

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.7 Pangsa Pasar OTC

PT Kalbe Farma Tbk Figure 2.7 Pangsa Pasar OTC 2. Financial Position Pada tahun 2009 Kalbe

2.

Financial Position Pada tahun 2009 Kalbe Farma masih mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar dengan posisi keuangan yang paling baik. Walaupun secara perkembangan dari tahun 2008 Sanbe Farma sangat agresif dalam meningkatkan labanya, namun secara keseluruhan laba tertinggi masih dipegang oleh Kalbe Farma. Pada tahun 2009, Kalbe Farma memperoleh laba sebesar Rp929 miliar (meningkat 31,43% dari tahun sebelumnya). Di lain pihak, Sanbe Farma pada tahun 2009 memperoleh laba sebesar Rp189,91 miliar (meningkat 103,12% dari tahun sebelumnya). Tempo Scan Pacific pada tahun 2009 memperoleh laba sebesar Rp359,96 miliar, Bio Farma memperoleh laba sebesar Rp217,68 miliar, Kimia Farma memperoleh laba sebesar Rp62,51 miliar. Sedangkan Indo Farma memperoleh laba sebesar Rp2,13 miliar. Berdasarkan posisi keuangan diatas kami memberikan poin 4 untuk Kalbe Farma, poin 3 untuk Sanbe Farma, Tempo Scan Pacific, dan Bio Farma, poin 2 untuk Kimia Farma, sedangkan untuk Indo Farma dengan laba terendah kami berikan 1 poin.

3.
3.

Research and Development Pelaksanaan penelitian dan pengembangan merupakan suatu keharusan bagi setiap perusahaan dalam menjaga eksistensi serta mengembangkan pasar bisnisnya. Suatu produk pasti mengalami siklus hidup mulai dari pengenalan produk sampai dengan produk tersebut mengalami masa kejenuhan sehingga pemasarannya akan terus menurun. Perusahaan berkewajiban untuk terus membuat inovasi-inovasi baru dalam pengembangan produknya sehingga dapat terus mempertahankan pasar yang telah diraih dan terus mengembangkannya. Inovasi dan semangat wirausaha telah menjadi ciri khas Kalbe sejak berdirinya lebih dari 40 tahun yang lalu. Di tahun 2009, Kalbe terus melanjutkan langkah-langkah strategis menjadi inovator dalam penciptaan produk baru yang semakin canggih dan bernilai tinggi. Pengembangan kapabilitas strategis ini dilakukan Perseroan melalui riset sendiri, di bawah lisensi pihak ketiga atau kerja sama dan aliansi dengan mitra-mitra lokal maupun internasional, seperti institusi riset, universitas dan perusahaan lain, atau dengan kata lain meliputi unsur akademis, bisnis dan pemerintahan.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 76

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai Rp78,8 miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp72,7 miliar yang dilakukan pada tahun 2008. Dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor terpilih, Kalbe Farma telah menginvestasikan dana yang jauh lebih besar, dimana Sanbe Farma sebagai pesaing terdekat hanya menginvestasikan dananya sebesar Rp47,88 milliar, disusul dengan Biofarma yang menginvestasikan dananya untuk R&D sebesar Rp24,17 milliar, kemudian Kimia Farma sebesar Rp8,92 milliar. Kondisi di atas memberikan dasar bagi kami untuk memberikan rating 4 pada Kalbe Farma dalam faktor penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama tahun 2009, kemudian poin 3 kami berikan untuk Sanbe dan Bio Farma, dan poin 2 untuk Kimia Farma.

Product Diversification Diversifikasi produk merupakan salah satu cara untuk meningkatkan volume penjualan yang dapat dilakukan oleh perusahaan terutama jika perusahaan tersebut telah berada dalam tahap kedewasaan. Dengan diversifikasi produk, suatu perusahaan tidak akan bergantung pada satu jenis produknya saja. Tetapi perusahaan juga dapat mengandalkan jenis produk lainnya (produk diversifikasi). Karena jika salah satu jenis produknya tengah mengalami penurunan, maka akan dapat teratasi dengan produk jenis lainnya. Sampai dengan saat ini, Kalbe Farma sebagai market leader masih memimpin dengan produk yang paling variatif. Sanbe Farma sebagai rival terdekat Kalbe Farma masih bersaing dalam variasi produk mulai dari obat resep, OTC, sampai dengan obat untuk hewan. Menyusul setelah Kalbe Farma dan Sanbe Farma adalah Kimia Farma dan Indo Farma yang merupakan perusahaan BUMN dengan pilihan prduk yang lebih sedikit dari Kalbe Farma maupun Sanbe Farma. Bio Farma sampai dengan saat ini masih terfokus untuk memproduksi produk berupa vaksin, sehingga variasi produknya kurang dapat bersaing dengan keempat perusahaan lainnya. Berdasarkan kondisi di atas, kami memberikan poin 4 untuk Kalbe Farma dan Sanbe Farma yang memunyai variasi produk paling banyak dibandingkan perusahaan pesaing lainnya, kemudian disusul oleh Kimia Farma dan Indo Farma, Tempo Scan Pacific dan terakhir adalah Bio Farma.

4.

Farma, Tempo Scan Pacific dan terakhir adalah Bio Farma. 4. 5. Net Profit Margin Net Profit

5. Net Profit Margin Net Profit Margin merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Semakin besar Net Profit Margin, maka kinerja perusahaan akan semakin produktif, semakin besar rasio ini, maka dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Dilihat dari Net Profit Margin dari keenam perusahaan farmasi di Indonesia tersebut, Bio Farma mempunyai posisi yang terbaik, dimana Bio Farma meiliki rasio Net Profit Margin sebesar 18,40%, kemudian posisi kedua adalah Sanbe Farma dengan rasio sebesar 13,58%. Kalbe Farma yang merupakan market leader ternyata hanya memiliki rasio Net Profit Margin sebesar 10,22%. Selanjutnya adalah Tempo Scan Pacific yang memiliki rasio NPM sebesar 8%, sedangkan Kimia Farma dan Indo Farma masing-masing memiliki NPM yang mencapai 2,19% dan 0,19%. Dari kondisi Net Profit Margin yang dicapai oleh masing-masing perusahaan di atas, Bio Farma mendapat rating 4 poin dengan pencapaian tertingginya, disusul oleh Sanbe Farma

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 77

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

dengan 3 poin. Kalbe Farma dan Tempo Scan Pacific masing-masing mendapatkan 2 poin, sedangkan Kimia Farma dan Indo Farma mendapat poin 1 dengan pencapaian Net Pofit Margin-nya.

Global Expansion Kalbe Farma telah merambah ke pasar internasional. Kalbe International telah membangun jaringan usaha mitra dagang untuk menjual produk-produk Grup Kalbe di lebih dari 20 negara, terutama di Asia-Pasifik dan Afrika. Sanbe Farma juga telah merambah ke perdagangan internasional dengan penjualan ekspor pada tahun 2009 mencapai 20,886 miliar rupiah. Pasar Internasional yang telah dicapai Sanbe Farma telah melingkupi sebagian Asia dimana terdapat cabang operasi pada Filiphina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Pakistan, sebagian benua Afrika yaitu di Ethiopia, Somalia, Qatar, Yaman, Nigeria, selain itu juga mempunyai operasi di USA, Eropa, Rusia & CIS, India, Hongkong & Macau, Afghanistan, Africa Selatan. PT Tempo Scan Pacific sampai dengan 2009, mempunyai distribution scope masih di Indonesia dengan jumlah cabang/agen penjual seluruhnya sebanyak 45 unit di seluruh Indonesia. Produk-produk Kimia Farma yang mencakup produk obat jadi dan sediaan farmasi serta bahan baku obat seperti Iodine dan Quinine telah memasuki pasar di negara-negara, India, Jepang, Taiwan and Selandia Baru. Produk Jadi dan Kosmetik telah dipasarkan ke Yaman, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Vietnam, Sudan, dan Papua Nugini. Pada tahun 2009, Indofarma sudah mengekspor produknya ke enam negara yaitu Afghanistan, Nigeria, Irak, Polandia, Myanmar dan Singapura. Sedangkan Biofarma, kegiatan penjualan dilakukan melalui mekanisme ekspor ke UNICEF dan/atau UN Agencies lainnya. Untuk pasar bilateral, dilakukan melalui kerjasama dengan para agen lokal di luar negeri yang diatur sedemikian rupa berdasarkan area pemasarannya, terutama untuk penjualan produk-produk yang telah memperoleh Prekualifikasi WHO (WHO Prequalification). Dengan suplai vaksin ke UNICEF serta bilateral melalui agen ini, sejak tahun 1997, produk-produk perusahaan telah dipergunakan oleh konsumen di berbagai negara Afrika, Asia, Amerika Latin dan sebagian negara Eropa. Berdasarkan cakupan pemasaran diatas, Kalbe Farma, Sanbe Farma, Kimia Farma dan Bio Farma masih berimbang dalam ekspansi ke luar negeri sehingga kami berikan 3 poin, sedangkan untuk Tempo Scan Pacific dan Indo Farma yang masih kurang luas dalam merambah pasar luar negeri kami berikan 2 poin.

7. Promotion Promosi adalah setiap aktivitas yang dilakukan, diorganisir atau disponsori oleh anggota yang ditujukan pada profesi kesehatan untuk mempromosikan peresepan obat, rekomendasi, persediaan, pemberian atau penggunaan produk farmasinya, melalui semua media. Dalam memperkenalkan produknya perusahaan dapat melakukan promosi sehingga masyarakat luas dapat mengetahui produk perusahaan dan menarik minat konsumen untuk menggunakan produk tersebut. Selama tahun 2009 Kalbe farma telah melakukan beberapa kegiatan promosi untuk memperkenalkan produknya, misalnya untuk meningkatkan penjualan obat resep pada tahun 2009 antara lain adalah mengembangkan merek dagang yang kuat melalui kegiatan ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep

6.

serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep 6. C a s e A n a

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 78

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan komprehensif atau holistik kepada konsumen. Pada tahun ini Kalbe Farma telah mengeluarkan dana sebesar Rp547,36 miliar untuk kegiatan advertising. Sementara itu PT Tempo Scan Pacific dalam kegiatan advertising-nya mengalokasikan dana sebesar Rp579,296 miliar. Sedangkan PT Indofarma, PT Sanbe Farma, PT dan PT Kimia Farma masing-masing mengalokasikan dananya sebesar Rp112 miliar, Rp63,108 miliar, dan Rp78,41 miliar. Sedangkan Biofarma melakukan kegiatan promosi dengan melaksanakan kegiatan pameran di berbagai event, pemasangan iklan di berbagai media, dan melakukan beberapa pengadaan media promosi dalam bentuk brosur dan flyer. Namun Biofarma tidak merinci berapa dana yang dialokasikan dalam kegiatan promosi mereka. Berdasarkan kondisi di atas, kami memberikan rating 4 poin untuk Kalbe Farma dan Tempo Scan Pacific sehubungan dengan besarnya dana yang dialokasikan dalam kegiatan advertising ini, kemudian 3 poin untuk Indofarma, 2 poin untuk Sanbe Farma dan Indo Farma serta 1 poin untuk Bio Farma.

Corporate Social Responsibility (CSR) Tanggung jawab Kalbe pada masyarakat tidak hanya melekat pada kegiatan bisnis farmasi dan produk kesehatan yang bermanfaat bagi kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia secara luas. Namun komitmen tersebut juga diperluas dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang senantiasa dikembangkan sebagai bagian inti dalam pelaksanaan kebijakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Pada tahun 2006 telah dibentuk Kalbe Berbagi sebagai wadah kegiatan tanggung jawab sosial Grup Kalbe, yang pada tahun 2009 melakukan beberapa kegiatan antara lain Kalbe Berbagi Gesit Entrostop: Bantuan bagi korban banjir di Semarang, Kalbe Berbagi: Bantuan bagi korban di Situ Gintung, Kalbe Berbagi: Bantuan bagi korban gempa di Padang, dll. Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen dalam menjaga lingkungan, beberapa anak perusahaan Kalbe telah mengimplementasikan ISO 14001:2004 yang merupakan standar internasional dalam sistem manajemen lingkungan pada hampir semua fasilitas produksinya. Komitmen kami dalam implementasinya diwujudkan dalam (1) pemenuhan perundangan, persyaratan dan peraturan lain dalam bidang lingkungan, (2) pencegahan pencemaran lingkungan, dan (3) perbaikan berkesinambungan dalam bidang lingkungan. Kimia Farma telah mewujudkan kepedulian sosial, membina dan mengembangkan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta ikut peduli dengan kelestarian lingkungan hidup dalam program-program, seperti Penanggulangan HIV dan PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Indofarma secara bertahap telah mencoba mengembangkan bakti sosialnya kepada masyarakat. Beragam bidang dan strata sosial telah dijangkau oleh kegiatan sosial Perseroan, seperti bidang kesehatan (donor darah bersama PMI dan sunatan gratis), bidang pendidikan (pemberian beasiswa pendidikan formal), bidang kesejahteraan (bantuan bagi korban bencana), dan lain-lain. Bio Farma telah melakukan berbagai pembinaan dalam rangka meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi pengusaha tangguh dan mandiri serta pemberdayaan kondisi sosial masyarakat di wilayah usaha Perusahaan.

8.

kondisi sosial masyarakat di wilayah usaha Perusahaan. 8. C a s e A n a l

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 79

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Berdasarkan kondisi tersebut di atas keenam perusahaan tersebut telah menerapkan program CSR dalam menjalankan industrinya. Masing-masing kegiatan mempunyai andil yang penting bagi masyarakat. Dengan demikian kami berikan poin yang sama untuk semua perusahaan di atas.

Marketing and Distribution Sebagai perusahaan farmasi terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk (“Enseval”) dan anak perusahaannya, Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64 cabang sehingga mampu menjangkau 1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung dan tidak langsung. Kompetitornya, PT Kimia Farma Trading & Distribution memiliki jaringan sebanyak 41 cabang dan tenaga salesman sejumlah 284 orang untuk melayani 21.364 outlet di seluruh wilayah Indonesia. Di samping mendistribusikan produk-produk perusahaan, KFTD juga bertindak sebagai distributor untuk produk-produk principal, antara lain dari PT Merapi (infus), PT Tirta Santana (kasa elastis), PT Duta Kaizar, PT Mahakam Betafarma, PT Biofarma, PT Reddis Papua, dan PT Meier. Kompetitor lainnya yaitu PT Biofarma dari unitnya sendiri yaitu PBF Biofarma memang kurang luas jangkauannya, tetapi dengan menggandeng 13 distributor, tiga diantaranya berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara yaitu PT Kimia Farma Tbk, PT Indofarma Global Medika, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT Biofarma menjadi memiliki jangkauan distribusi yang cukup luas. PT Sanbe Farma, melalui PT Bina San Prima yang 35 cabang, 60 anak cabang, 25 principal diantaranya P&G, Shell, Kraft, Reckitt Benckiser dll, telah berhasil pula menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan PT Indofarma melalui anak perusahaannya yaitu PT Indofarma Global Medika berhasil mendistribusikan produknya sendiri dan perusahaan lainnya seperti PT Biofarma walau tidak seluas kompetitor lainnya karena hanya memiliki 30 cabang, sebuah warehouse, 57 mobil box dan 198 unit sepeda motor.

9.

warehouse , 57 mobil box dan 198 unit sepeda motor. 9. C a s e A

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 80

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Tabel 2.6

Competitive Profile Matrix

Tempo Scan Kalbe Farma Sanbe Farma Kimia Farma Indo Farma Biofarma Pacific No Critical Succes
Tempo Scan
Kalbe Farma
Sanbe Farma
Kimia Farma
Indo Farma
Biofarma
Pacific
No
Critical Succes Factors
Weight
Rating
Score
Rating
Score
Rating
Score
Rating
Score
Rating
Score
Rating
Score
1
Market Share
0,1
4
0,4
3
0,3
2
0,2
1
0,1
1
0,1
1
0,1
2
Financial Position
0,08
4
0,32
3
0,24
3
0,24
1
0,08
2
0,16
3
0,24
3
Research and Development
0,15
4
0,6
3
0,45
1
0,15
2
0,3
1
0,15
2
0,3
4
Product Diversivication
0,11
4
0,44
4
0,44
3
0,33
3
0,33
3
0,33
2
0,22
5
Profit Margin
0,1
2
0,2
3
0,3
2
0,2
1
0,1
1
0,1
4
0,4
6
Global Ekspansion
0,14
3
0,42
3
0,42
2
0,28
3
0,42
2
0,28
3
0,42
7
Promotion
0,12
4
0,48
2
0,24
4
0,48
2
0,24
3
0,36
1
0,12
8
Corporate Social Responsibility
0,07
3
0,21
3
0,21
3
0,21
3
0,21
3
0,21
3
0,21
9
Marketing and distribution
0,13
4
0,52
3
0,39
3
0,39
3
0,39
2
0,26
3
0,39
Total
1,00
3,59
2,99
2,48
2,17
1,95
2,4

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 81

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk KALBE FARMA’S STRATEGIC MATCH AND POSITION SWOT MATRIX SWOT Matrix merupakan matriks

KALBE FARMA’S STRATEGIC MATCH AND POSITION

SWOT MATRIX

SWOT Matrix merupakan matriks yang digunakan untuk mengembangkan 4 tipe strategi, yaitu:

SO (Strengths-Opportunities) Strategies, WO (Weaknesses-Opportunities) Strategies, ST (Strengths-Threats) Strategies, dan WT (Weaknesses-Opportunities) Strategies bagi Kalbe Farma.

Tabel 2.7

SWOT Matrix

SWOT MATRIX STRENGTHS WEAKNESSES 1 Market leader produk kesehatan dan obat- obatan di Indonesia 1
SWOT MATRIX
STRENGTHS
WEAKNESSES
1
Market leader produk
kesehatan dan obat-
obatan di Indonesia
1
Net profit margin yang
relatif rendah dibanding
kompetitor
2
Perusahaan farmasi publik
terbesar di Asia Tenggara
2
Adanya kompetisi internal
yang cukup keras
3
Penjualan dari masing-
masing divisi cukup
berimbang
3
Penjualan ekspor Kalbe
Farma masih kecil porsinya
4
Kalbe Farma meraih
4
berbagai penghargaan
bergengsi selama tahun
Pangsa pasar produk nutrisi
Kalbe Farma masih rendah
2009
5
PT Bintang Toedjoe
memperoleh sertifikasi
ISO 9001:2000 dan ISO
14001:2004 dari Lloyd’s
Register Quality
Assurance (LRQA)
5
Produk herbal yang
diproduksi Kalbe Farma
masih relatif rendah
6
Kalbe meningkatkan
kepemilikan atas PT
Enseval Putera
Megatrading Tbk sebesar
25,45% melalui
penawaran tender
6
Tingkat ketergantungan
bahan baku impor masih
tinggi
7
Kalbe memiliki jaringan
distribusi paling luas di
Indonesia
8
Investasi Kalbe dalam
R&D pada tahun 2009
mencapai Rp 78,8 miliar
atau meningkat 8,4% dari
investasi tahun 2008
9
Stem Cell and Cancer
Institute (SCI)
mendapatkan 3 paten
yang berhubungan
dengan bahan anti kanker

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 82

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

10 Pada tahun 2009, SCI membentuk unit bisnis Kalbe Genomics (KalGen) sebagai laboratorium diagnostik molecular
10
Pada tahun 2009, SCI
membentuk unit bisnis
Kalbe Genomics (KalGen)
sebagai laboratorium
diagnostik molecular
canggih yang pertama di
Indonesia
OPPORTUNITIES
SO STRATEGIES
WO STRATEGIES
1
Kebijakan pemerintah
yang cenderung
memberatkan perusahaan
farmasi asing
1
Meningkatkan koordinasi
antar divisi dan
departemen dalam
perusahaan sendiri
terutama dalam produksi
dan distribusi produk
1
Melakukan efisiensi biaya
dengan optimalisasi
pengelolaan rantai pasokan
mulai dari pasokan bahan
baku, proses produksi,
hingga distribusi produk
(S7,O2)
(W1,W2,06)
2
Hasil proyeksi
menunjukkan bahwa
jumlah penduduk
Indonesia selama dua
puluh lima tahun terus
meningkat yaitu dari 205,1
juta pada tahun 2000
menjadi 273,2 juta pada
tahun 2025
2
Melakukan penelitian
terhadap bahan baku
hayati dalam negeri untuk
menghasilkan produk baru
baik obat resep/bebas
maupun obat herbal
2
(S9,O4)
Meluncurkan produk
inovator baru berkualitas
ekspor yang belum dimiliki
oleh produsen lain
khususnya di bidang obat
resep dan produk nutrisi
serta membuat legal
system yang ketat (W4,O2)
3
Pertumbuhan pasar obat
herbal Indonesia selama 5
tahun terakhir rata-rata
sekitar 15%
3
Mengakuisisi vendor
penyedia bahan baku lokal
untuk mengembangkan
industri kimia hulu dalam
negeri sekaligus
mengurangi impor bahan
baku (S1,S2,O6)
3
Mengakuisisi salah satu
perusahaan herbal di
Indonesia (W5,O3,O4)
4
Indonesia merupakan salah
satu negara mega diversity
untuk tumbuhan obat di
dunia
4
Melakukan ekspansi bisnis
ke wilayah Asia dan Afrika
melalui kolaborasi
berbentuk joint venture
dengan perusahaan asing
bertaraf internasional
4
Melakukan ekspansi bisnis
ke wilayah Asia dan Afrika
melalui kolaborasi
berbentuk joint venture
dengan perusahaan asing
bertaraf internasional
(S3,O5)
(W3,O5)
5
Kebijakan pemerintah
mendukung ekspor
6
Pasar farmasi Indonesia
tumbuh rata-rata per tahun
11% sejak tahun 2003
sampai dengan estimasi
2010

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 83

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

THREATS ST STRATEGIES WT STRATEGIES 1 Kebijakan pemerintah mengenai pembatasan harga obat generik dan pembatasan
THREATS
ST STRATEGIES
WT STRATEGIES
1
Kebijakan pemerintah
mengenai pembatasan
harga obat generik dan
pembatasan obat branded
generic pada sarana
pelayanan kesehatan
pemerintah
1
Meningkatkan koordinasi
antar divisi dan
departemen dalam
perusahaan sendiri
terutama dalam produksi
dan distribusi produk (S6,
1
S7,T7)
Mengakuisisi vendor
penyedia bahan baku lokal
untuk mengembangkan
industri kimia hulu dalam
negeri sekaligus
mengurangi impor bahan
baku (W6, T2)
2
Fluktuasi nilai tukar rupiah
terhadap valas (valuta
asing)
2
Meluncurkan produk
inovator baru yang belum
dimiliki oleh produsen lain
khususnya di bidang obat
resep dan produk nutrisi
dan membuat legal
system yang ketat (S1, O3)
2
Melakukan promosi yang
efektif terhadap produk
baru yang dikeluarkan
melalui pendekatan
persuasif yang dapat
memperkuat brand image
namun tidak menguras
biaya (W4,T8)
3
Peredaran obat palsu yang
masih tinggi
3
Mengakuisisi salah satu
perusahaan herbal di
Indonesia (W5,O6)
4
Krisis ekonomi di Indonesia
sebagai dampak krisis
global
5
Rendahnya kesadaran
masyarakat memeriksakan
kesehatannya
6
Makin maraknya
pengobatan alternatif
7
Rencana merger Indofarma
dan Kimia Farma
8
Peraturan Menteri
Keuangan nomor
104/PMK.03/2009 tentang
biaya promosi dan
penjualan yang dapat
dikurangkan dari
penghasilan bruto

SO Strategies

SO Strategies memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Pada kasus PT Kalbe Farma Tbk ini, strateginya adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan koordinasi antar divisi dan departemen dalam perusahaan sendiri terutama dalam produksi dan distribusi produk Penyelarasan rantai pasokan dari penyediaan bahan baku, produksi, pemasaran, penjualan, distribusi dan logistik ini memiliki dampak besar mengingat Kalbe memiliki lebih dari 2.000 jenis produk yang disalurkan melalui 64 cabang yang melayani langsung sekitar 150.000 outlet di seluruh Indonesia. Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur distribusi dan pembagian pangsa pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling bersaing.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 84

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

2. Melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan produk baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal Kesuksesan unit riset PT Kalbe Farma Tbk, SCI menemukan dan mendapatkan 3 paten yang berhubungan dengan bahan anti kanker dari artocarpin, ekstrak daun cassia alata dan piper crocatum diharapkan dapat memacu perusahaan untuk terus melanjutkan penelitian sejenis mengingat Indonesia memiliki keragaman hayati yang luar biasa, terutama untuk penyakit- penyakit yang berkembang akhir-akhir ini dan masih belum ada obat patennya.

3. Mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku PT Kalbe Farma Tbk dapat mengakuisisi perusahaan kimia dalam negeri dan kemudian meningkatkan teknologinya sehingga bisa menghasilkan bahan baku bagi perusahaan. Walau mungkin tidak semua bahan baku bisa disediakan sendiri nantinya, diharapkan untuk tahap awal impor bahan baku dapat diminimalisir sebisa mungkin.

4. Melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta menjalin kerja sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial.

WO Strategies WO Strategies bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang
WO Strategies
WO Strategies bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil
keuntungan dari peluang eksternal. Terkadang peluang tersedia tetapi kelemahan internal
menghalangi perusahaan mengambil manfaat dari peluang tersebut. WO Strategies dari PT
Kalbe Farma Tbk adalah:
1.
Melakukan efisiensi biaya dengan optimalisasi pengelolaan rantai pasokan mulai dari
pasokan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi produk
Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur distribusi dan pembagian pangsa
pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling bersaing.
2.

Meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh produsen lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi serta membuat legal system yang ketat Menghasilkan suatu produk inovator tentu akan menjadi competitive advantage sendiri bagi perusahaan dimana saat itu belum ada kompetitor yang menghasilkan produk sejenis sehingga perhatian konsumen akan langsung tertuju pada produk tersebut. Untuk obat resep selain produk berbahan baku kimia, diharapkan terobosan-terobosan baru dari bahan hayati lokal dapat lebih dikembangkan, sedangkan untuk nutrisi dapat lebih difokuskan pada pengembangan produk yang belum dimiliki kompetitor atau pada produk dimana kompetitor tidak cukup mendominasi. Mengenai legal system, selain mendaftarkan produknya untuk mendapatkan HAKI, tim intelejen untuk mengawasi peredaran obat palsu juga dibutuhkan. Produk yang diciptakan dengan teknologi yang tidak dimiliki pihak lain juga sebenarnya cukup efektif untuk mencegah dipalsukannya produk PT Kalbe Farma Tbk sendiri.

3. Mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia Mengingat potensi pasar obat herbal yang cukup tinggi di Indonesia dan tingginya keragaman hayati yang dimiliki Indonesia, langkah yang harus diambil memang PT Kalbe

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 85

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Farma harus ikut terjun ke dalam bisnis ini dengan cakupan yang lebih luas. 3 (tiga) produk yang telah diproduksi sebelumnya dirasa sangat tidak memadai. Oleh karena itu strategi yang memungkinkan adalah PT Kalbe Farma dapat mengakuisisi salah satu perusahaan obat herbal di Indonesia, terutama yang sudah cukup memiliki nama. Memang pada tahun 2009, Divisi Kemasan dan Distribusi sudah bekerja sama dengan Ny Meneer, namun masih sebatas pada pendistribusian produk saja.

4. Melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta menjalin kerja sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial.

ST Strategies

ST Strategies menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal.
ST Strategies menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi
dampak dari ancaman eksternal. ST Strategies yang dapat diterapkan PT Kalbe Farma Tbk
antara lain:
1.
Meningkatkan koordinasi antar divisi dan departemen dalam perusahaan sendiri
terutama dalam produksi dan distribusi produk
Penyelarasan rantai pasokan dari penyediaan bahan baku, produksi, pemasaran, penjualan,
distribusi dan logistik ini memiliki dampak besar mengingat Kalbe memiliki lebih dari 2.000
jenis produk yang disalurkan melalui 64 cabang yang melayani langsung sekitar 150.000
outlet di seluruh Indonesia. Strategi ini terutama diarahkan untuk memperpendek jalur
distribusi dan pembagian pangsa pasar untuk produk-produk internal perusahaan yang saling
bersaing.
2.
Meluncurkan produk inovator baru yang belum dimiliki oleh produsen lain khususnya di
bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system yang ketat
Menghasilkan suatu produk inovator tentu akan menjadi competitive advantage sendiri bagi
perusahaan dimana saat itu belum ada kompetitor yang menghasilkan produk sejenis
sehingga perhatian konsumen akan langsung tertuju pada produk tersebut. Untuk obat resep
selain produk berbahan baku kimia, diharapkan terobosan-terobosan baru dari bahan hayati
lokal dapat lebih dikembangkan, sedangkan untuk nutrisi dapat lebih difokuskan pada
pengembangan produk yang belum dimiliki kompetitor atau pada produk dimana kompetitor
tidak cukup mendominasi. Mengenai legal system, selain mendaftarkan produknya untuk
mendapatkan HAKI, tim intelejen untuk mengawasi peredaran obat palsu juga dibutuhkan.
Produk yang diciptakan dengan teknologi yang tidak dimiliki pihak lain juga sebenarnya
cukup efektif untuk mencegah dipalsukannya produk PT Kalbe Farma Tbk sendiri.

WT Strategies

WT Strategies merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Alternatif WT Strategies yang dapat diambil PT Kalbe Farma Tbk disini diantaranya:

1. Mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 86

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Strategi ini adalah dalam rangka ekspansi pasar ekspor yang lebih luas. Kolaborasi dilakukan dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Target awal disini adalah menjadi pemain utama di Asia Tenggara dengan melakukan ekspansi bisnis secara selektif serta menjalin kerja sama strategis dengan prinsipal-prinsipal baru yang potensial. 2. Melakukan promosi yang efektif terhadap produk baru yang dikeluarkan melalui pendekatan persuasif yang dapat memperkuat brand image namun tidak menguras biaya Promosi melalui media cetak maupun televisi dan radio memang sangat efektif apabila dilihat hasilnya, namun cara tersebut cukup menguras biaya dan hanya membuat masyarakat sekadar mengenal produk tersebut. Strategi altenatif yang dapat diambil untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi diantaranya dengan mengembangkan merek dagang yang kuat melalui kegiatan ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan komprehensif atau holistik kepada konsumen. Hal yang terakhir disebut dapat juga dilakukan dengan membuat suatu laman dalam situs jejaring sosial dimana nantinya perusahaan, khususnya mengenai produk tertentu dapat berinteraksi langsung dengan konsumen.

3.

Mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia Mengingat potensi pasar obat herbal yang cukup tinggi di Indonesia dan tingginya keragaman hayati yang dimiliki Indonesia, langkah yang harus diambil memang PT Kalbe Farma harus ikut terjun ke dalam bisnis ini dengan cakupan yang lebih luas. 3 (tiga) produk yang telah diproduksi sebelumnya dirasa sangat tidak memadai. Oleh karena itu strategi yang memungkinkan adalah PT Kalbe Farma dapat mengakuisisi salah satu perusahaan obat herbal di Indonesia, terutama yang sudah cukup memiliki nama.

di Indonesia, terutama yang sudah cukup memiliki nama. C a s e A n a l

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 87

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

BCG MATRIX

BCG Matrix menggambarkan perbandingan Kalbe Farma/Divisi di Kalbe Farma dengan konteks posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri farmasi. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, diketahui bahwa Kalbe Farma memiliki 4 divisi usaha yaitu Divisi Obat Resep, Divisi Produk Kesehatan, Divisi Nutrisi dan Divisi Distribusi dan Kemasan. Di bawah ini adalah Tabel BCG dari PT Kalbe Farma Tbk:

Tabel 2.8

Relative Market Share Revenues % Profits % IGR No Divisions RMS (miliar Rp) Revenues (miliar
Relative Market Share
Revenues
%
Profits
%
IGR
No
Divisions
RMS
(miliar Rp)
Revenues
(miliar Rp)
Profits
(%)
1
Obat Resep
2.213,80
24,4
486,99
31,1
1,00
13,3
2
Produk Kesehatan
1.727,20
19,0
331,96
21,2
1,00
13,2
3
Nutrisi
1.935,80
21,3
353,89
22,6
0,27
6,1
4
Distribusi dan
3.210,50
35,3
393,03
25,1
1,00
34,0
Kemasan
TOTAL
9.087,30
100,0
1.565,87
100,0

Pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa pendapatan dari tiap divisi hampir merata, yang menunjukkan keseimbangan kekuatan diantara tiap divisinya. Hanya Divisi Distribusi dan Kemasan yang sedikit lebih menonjol dibanding 3 (tiga) divisi lainnya. Ini merupakan suatu keberhasilan pengambilan strategi dimana setelah distribusi dan kemasan dipisahkan menjadi unit bisnis tersendiri ternyata menunjukkan potensi pasar yang sangat besar. Untuk Industry Growth Rate, tampak dalam tabel bahwa industri farmasi merupakan suatu industri yang menjanjikan dimana untuk tahun-tahun kedepannya industri ini diprediksi masih bisa terus berkembang. Hanya segmen nutrisi saja yang pertumbuhannya tidak setinggi segmen lainnya, tetapi 6,1% juga tidak bisa dikatakan rendah. Untuk usaha distribusi di tahun 2009 bahkan telah menjadi motor pertumbuhan baru dengan pertumbuhan sekitar 34,0%. Mengenai Relative Market Share pada tabel di atas, perhitungannya diambil dari tingkat pendapatan tiap divisi pada PT Kalbe Farma Tbk yang dibandingkan dengan pendapatan di bidang usaha sejenis yang dimiliki pesaing terbesar pada industri tersebut. Yang unik disini, ternyata tiap divisi pada PT Kalbe Farma Tbk memiliki kompetitor terbesar yang berbeda-beda. Divisi Obat Resep bersaing ketat dengan produk sejenis dari Dexa Medica Group. Divisi Produk Kesehatan, khususnya obat bebas harus berhadapan dengan produk-produk dari Tempo Scan. Divisi Nutrisi masih harus berjuang keras untuk menggeser produk-produk Nestle, sedangkan Divisi Distribusi dan Kemasan tidak bisa begitu saja meremehkan pergerakan PT Kimia Farma Tbk. Dari keempat divisi tersebut, 3 (tiga) diantaranya merupakan pemimpin pasar. Hanya Divisi Nutrisi yang masih belum mampu menggeser Nestle, perusahaan multinasional yang memang sudah lama menguasai pasar nutrisi Indonesia. Untuk BCG Matrix dari PT Kalbe Farma Tbk digambarkan sebagai berikut:

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 88

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.8

BCG Matrix

RELATIVE MARKET SHARE POSITION IN THE INDUSTRY

High

Medium

Low

1,0 High +35 0,5 0,0 +30 25,1% 4 +25 +20 31,1% 1 STARS ? +15
1,0
High
+35
0,5
0,0
+30
25,1%
4
+25
+20
31,1%
1
STARS
?
+15
22,6%
+10
21,2%
2
3
+5
INDUSTRY SALES
GROWTH RATE
Medium
0
(Percentage)
-5
-10
-15
CASHCOWS
DOGS
-20
-25
-30
Low
-35

Dari matrix di atas dapat kita ketahui bahwa posisi Divisi Obat Resep, Divisi Produk Kesehatan serta Divisi Kemasan dan Distribusi berada pada Kuadran II yaitu Stars dimana ketiga divisi tersebut memiliki Relative Market Share yang tinggi, bahkan ketiganya merupakan pemimpin pasar pada masing-masing bidang industrinya. Selain itu, ketiga divisi tersebut juga berada pada industri yang cukup tinggi tingkat pertumbuhannya dimana masing-masing divisi berada pada industri yang pertumbuhannya diatas 10%. Strategi yang bisa diterapkan PT Kalbe Farma Tbk dalam posisi Kuadran II ini diantaranya: mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia, melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan produk baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal, mengakuisisi vendor penyedia bahan baku lokal untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku, meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh produsen lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system yang ketat dan melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional. Sedangkan untuk Divisi Nutrisi dapat kita lihat bahwa mereka berada pada Kuadran I yaitu Question Marks (?). Hal tersebut diakibatkan walau mereka berada pada bidang industri yang cukup tinggi tingkat pertumbuhannya (6,1%), mereka belum mampu menjadi pemimpin pasar. Dalam bidang ini Nestle masih terus mendominasi dan dibutuhkan usaha ekstra keras untuk dapat menyainginya. Melihat hal tersebut strategi yang dapat diterapkan PT Kalbe Farma untuk Divisi Nutrisinya ini antara lain: meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh produsen lain dan membuat legal system yang ketat dan melakukan ekspansi

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 89

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional.

I/E MATRIX

I/E Matrix menggambarkan posisi Kalbe Farma dalam 9 cell displays. Matriks ini dibagi menjadi tiga daerah utama yang memiliki implikasi strategi berbeda. Pertama rekomendasi untuk perusahaan yang masuk dalam sel I, II, IV dapat digambarkan sebagai grow and build. Strategi yang sesuai untuk posisi ini adalah Integration, Market Penetration, Market Development, dan Product Development. Kedua, perusahaan yang masuk dalam sel III, V, VII dapat digambarkan sebagai hold and maintain. Strategi yang sesuai untuk posisi ini adalah Market Penetration dan Product Development. Ketiga, divisi yang masuk dalam sel VI, VIII, IX dapat digambarkan sebagai harvest or divest.

Figure 2.9 I/E Matrix for Kalbe Farma

harvest or divest . Figure 2.9 I/E Matrix for Kalbe Farma Dari tabel I/E Matrix di

Dari tabel I/E Matrix di atas, dapat diketahui bahwa posisi Kalbe berada dalam sel IV yakni termasuk grow and build. Pada posisi ini, strategi yang paling cocok untuk Kalbe adalah Integration, Market Penetration, Market Development, dan Product Development.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 90

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

SPACE MATRIX

SPACE Matrix merupakan Matriks yang terdiri dari kerangka 4 kuadran yang mengindikasikan apakah agresif, konservatif, defensif, atau strategi kompetitif yang paling sesuai untuk Kalbe Farma.

Tabel 2. 9 Tabel rating SPACE Matrix

No. Financial Position (FP) Ratings 1 Current Ratio PT Kalbe Farma 298,70 % 7 2
No.
Financial Position (FP)
Ratings
1
Current Ratio PT Kalbe Farma 298,70 %
7
2
Return on Asset PT Kalbe Farma 14,33%
5
3
Return on Equity PT Kalbe Farma 21,55%
4
4
Fixed Asset Turnover Ratio sebesar 6,5 kali
2
5
Working Capital Turnover Ratio PT Kalbe Farma adalah sebesar 1,46%
3
6
Debt to Equity Ratio sebesar 36,52%
5
Total Pendapatan Usaha pada tahun 2009 Sebesar Rp924,004 Milyar,
7
6
mengalami kenaikan sebesar 31,43% dari tahun 2008
Gross Profit Margin sebesar 49,65%, mengalami kenaikan 1,37% dari tahun
8
4
2008
Operating Margin pada tahun 2009 16,19%, naik 1,23% dari laba bersih tahun
9
5
2008
10
Earning Per Share meningkat menjadi Rp 97 per lembar saham
6
11
Price Earning Ratio sebesar 12,37 kali
6
12
Saldo Kas dan Setara Kas PT Kalbe Farma pada akhir tahun 2009 turun/naik
dari Rp1.562.664.177.408 diawal tahun menjadi Rp1.321.797.625.299
3
FP Ratings Average
4,67
No.
Industry Position (IP)
Ratings
1
Struktur permodalan sebagian besar didanai dari saham
4
Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003
2
5
sampai dengan estimasi 2010
3
Terdapat 199 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia
4
4
Persentase piutang usaha dalam Neraca cukup besar
5
PT Kalbe, selain divisi nutrisi, cenderung mendominasi market share di
5
6
indonesia
6
Pertumbuhan pasar obat herbal Indonesia selama 5 tahun terakhir rata-rata
sekitar 15%
2
IP Ratings Average
4,33
No.
Competitive Position (CP)
Ratings
Market leader produk kesehatan dan obat-obatan di Indonesia dengan market
1
-1
share terbesar pada obat resep (13%) dan obat bebas (16%)
Meraih beberapa penghargaan bergengsi dan sertifikasi kualitas produk,
2
brand, distribusi, dan kepuasan pelanggan serta beberapa penghargaan
lainnya
-2
3
Sebagian besar bahan baku produksi masih diimpor
-6
4
Memiliki jaringan distribusi terluas di Indonesia
-2

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 91

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

5

Pionir dalam teknologi medis dan paradigma pengobatan masa depan

-2

6

Dalam kegiatan promosi dan pengenalan produk menempati peringkat kedua setelah Tempo Group

-4

 

Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009

 

7

mencapai Rp78,8 miliar atau meningkat 8,4%

-2

 

CP Ratings Average

-2,71

No.

Stability Position (SP)

Ratings

1

Laju inflasi tahun 2009 sangat rendah, yakni sebesar 2,78%

-1

2

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 sebesar 4,5%

-3

 

Peningkatan permintaan obat murah seiring dengan meningkatnya populasi

 

3

dan sarana pelayanan kesehatan

-2

 

Kebijakan pemerintah yang memberatkan perusahaan asing masuk ke pasar

 

4

indonesia

-2

 

Tingginya angka pemalsuan obat mencapai 20% dari penjualan produk

 

5

farmasi

-6

 

SP Ratings Average

-2,80

Competitive Position 1. Market Leader Produk Kesehatan dan Obat-Obatan Di Indonesia dengan Market Share Terbesar
Competitive Position
1. Market Leader Produk Kesehatan dan Obat-Obatan Di Indonesia dengan Market Share
Terbesar pada Obat Resep (13%) dan Obat Bebas (16%)
Kalbe merupakan market leader untuk produk kesehatan masyarakat dan market leader
untuk produk ethical. Produk-produknya merupakan leading brand dengan berbagai
segmentasi pasar yang spesifik. Selain itu produknya merupakan inovator, dengan
mengembangkan obat-obatan serta rumusan kimia baru baik dengan kemampuan sendiri
ataupun melalui aliansi strategis dengan mitra internasional, serta banyak menghasilkan
produk-produk baru yang berbasis teknologi tinggi. Kalbe menguasai pasar obat resep
dengan market share sebesar 13%. Selain itu Kalbe juga menguasai pasar obat bebas
dengan market share 16%.
Sumber: Annual Report 2009

2. Meraih Beberapa Penghargaan Bergengsi dan Sertifikasi Kualitas Produk, Brand,

Distribusi, dan Kepuasan Pelanggan serta Beberapa Penghargaan Lainnya Kalbe Farma meraih berbagai penghargaan bergengsi selama tahun 2009. Penghargaan yang diperoleh Kalbe Farma terkait pertumbuhan, brand, distribusi, dan kepuasan pelanggan. Beberapa penghargaan dimaksud adalah:

a.

2009 Asia Pacific Excellence in Growth Award dari Frost & Sullivan;

 

b.

Asia’s 200 Most-Admired Companies and The Indonesia’s Top 10 Companies dari The Wall Street Journal Asia;

c.

Top Brand Award 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Promag, Mixagrip, Fatigon, Neo Entrostop, Komix dan Extra Joss;

d.

Top Brand Award For Kids 2009 dari Frontier dan Majalah Marketing untuk Entrostop;

e.

Indonesia Best Brand Award Best Brand Platinum dari SWA dan MARS untuk Promag, Cerebrovit dan Cerebrofort;

f.

Indonesia Customer Satisfaction Award from Frontier and SWA untuk Promag, Komix

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 92

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

dan Extra Joss;

g. The Most Powerful Distribution Performance Distribution Performance dari SWA, MIX, QASA untuk Mixagrip, Komix dan Extra Joss;

h. Gold Medal Indonesia Quality Convention 2009 dari PMMI IQMA untuk QCC Flavettes Bintang Toedjoe; dll

i. PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA)

j. PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dari Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA), sebuah institusi pemberi sertifikasi terbesar yang telah diakui di dunia. ISO 9001:2000 menggabungkan tiga standar 9001, 9002, dan 9003 menjadi satu, yang disebut 9001. Desain dan prosedur pengembangan diperlukan hanya jika perusahaan terlibat dalam penciptaan produk baru. Versi 2000 berupaya untuk membuat perubahan radikal dalam berpikir dengan benar-benar menempatkan konsep dari proses manajemen pusat dalam pemantauan dan mengoptimalkan tugas perusahaan, dan bukan hanya memeriksa produk akhir. Versi 2000 juga menuntut keterlibatan oleh eksekutif atas, dalam rangka mengintegrasikan kualitas ke dalam sistem bisnis dan menghindari pendelegasian fungsi kualitas untuk administrator level junior. Tujuan lain adalah untuk meningkatkan efektivitas melalui metrik kinerja proses - pengukuran numerik efektivitas tugas dan kegiatan. ISO 14001:2004 adalah suatu standar pengelolaan lingkungan. Ini menentukan satu set persyaratan manajemen lingkungan untuk lingkungan manajemen sistem. Tujuan dari standar ini adalah untuk membantu semua jenis organisasi untuk melindungi lingkungan, untuk mencegah polusi, dan untuk meningkatkan kinerja lingkungan mereka.

Sumber: Annual Report 2009 3.
Sumber: Annual Report 2009
3.

Sebagian Besar Bahan Baku Produksi Masih Diimpor Tingkat ketergantungan Kalbe Farma terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi. Kondisi ini kurang menguntungkan terutama pada saat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Selain itu, kondisi keamanan dan isu politik negara pemasok berpotensi menjadi kendala distribusi bahan baku.

Sumber: Annual Report 2009

4. Memiliki Jaringan Distribusi Terluas di Indonesia Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia. Sebagai perusahaan farmasi terbesar, melalui PT Enseval Putera Megatrading Tbk (“Enseval”) dan anak perusahaannya, Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia didukung oleh 2 Pusat Distribusi Regional di kota Jakarta dan Surabaya, serta 64 cabang sehingga mampu menjangkau 1.000.000 outlet di seluruh Indonesia secara langsung dan tidak langsung. Selain mendistribusikan produk-produk Grup Kalbe, Perseroan juga mendistribusikan produk- produk perusahaan kesehatan terkemuka bertaraf internasional. Dalam rangka mendekatkan diri ke konsumen, selama tahun 2009 Enseval membuka 4 cabang baru yaitu di Jakarta Selatan, Bengkulu, Gorontalo dan Palangkaraya. Hal tersebut menjadikan Enseval sebagai perusahaan distribusi dan logistik produk kesehatan yang terbesar di

Indonesia.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 93

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Sumber: Annual Report 2009

5. Pionir dalam Teknologi Medis dan Paradigma Pengobatan Masa Depan Bisnis pionir yang dikembangkan Kalbe sebagai antisipasi perkembangan teknologi medis dan paradigma pengobatan masa depan targeted therapy, yaitu bisnis biofarmasi. Di dalam lanskap bisnis baru ini tercakup penelitian sel punca untuk pengobatan berbagai penyakit, serta layanan diagnostik molekular untuk pengobatan kanker yang mengarah ke personalized medicine.

Sumber: Annual Report 2009

6. Dalam Kegiatan Promosi dan Pengenalan Produk Menempati Peringkat Kedua Setelah Tempo Group Selama tahun 2009 Kalbe farma telah melakukan beberapa kegiatan promosi untuk memeperkenalkan produknya, misalnya untuk meningkatkan penjualan obat resep pada tahun 2009 antara lain adalah mengembangkan merek dagang yang kuat melalui kegiatan ilmiah seperti seminar dan pameran, serta kerjasama lebih erat antara Divisi Obat Resep dengan unit bisnis Kalbe lainnya melalui pembentukan pelayanan komprehensif atau holistik kepada konsumen. Pada tahun ini Kalbe Farma telah mengeluarkan dana sebesar Rp547,36 Miliar untuk kegiatan promosi. Sementara itu PT Tempo Scan Pacific dalam mengalokasikan dana sebesar Rp579,296 Miliar untuk kegiatan yang sama. PT Indofarma, PT Sanbe Farma, PT dan PT Kimia Farma masing-masing mengalokasikan dananya sebesar Rp112 miliar, 63,108 miliar, dan 78,41 miliar. Sedangkan Biofarma melakukan kegiatan promosi dengan melaksanakan kegiatan pameran di berbagai event, pemasangan iklan di berbagai media, dan melakukan beberapa pengadaan media promosi dalam bentuk brosur dan flyer. Namun Biofarma tidak merincikan berapa dana yang dialokasikan dalam kegiatan promosi mereka.

Sumber: Annual Report 2009 7.
Sumber: Annual Report 2009
7.

Investasi Kalbe dalam Riset dan Pengembangan (R&D) pada Tahun 2009 Mencapai Rp78,8 Miliar atau Meningkat 8,4% Inovasi dan semangat wirausaha telah menjadi ciri khas Kalbe sejak berdirinya lebih dari 40 tahun yang lalu. Di tahun 2009, Kalbe terus melanjutkan langkah-langkah strategis menjadi inovator dalam penciptaan produk baru yang semakin canggih dan bernilai tinggi. Pengembangan kapabilitas strategis ini dilakukan Perseroan melalui riset sendiri, di bawah lisensi pihak ketiga atau kerja sama dan aliansi dengan mitra-mitra lokal maupun internasional, seperti institusi riset, universitas dan perusahaan lain, atau dengan kata lain meliputi unsur akademis, bisnis dan pemerintahan. Investasi Kalbe dalam riset dan pengembangan (R&D) pada tahun 2009 mencapai Rp 78,8 miliar atau meningkat 8,4% dari investasi Rp 72,7 miliar yang dilakukan pada tahun 2008. Dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor terpilih, Kalbe Farma telah menginvestasikan dana yang jauh lebih besar, dimana Sanbe Farma sebagai pesaing terdekat hanya menginvestasikan dananya sebesar 47,88 Milliar, disusul dengan Biofarma yang menginvestasikan dananya untuk R&D sebesar 24,17 Milliar, kemudian Kimia Farma sebesar 8,92 Milliar.

Sumber: Annual Report 2009

Stability Position

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 94

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

1. Laju Inflasi Tahun 2009 Sangat Rendah, Yakni Sebesar 2,78% Inflasi sepanjang tahun 2009 sebesar 2,78% (sumber:BPS) tercatat sebagai yang terendah sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, pemerintah menargetkan laju inflasi sepanjang 2009 mencapai 4,5 persen. Selama ini, inflasi Indonesia cenderung berada di angka 5 persen. Dengan rendahnya inflasi tersebut, daya beli masyarakat masih tetap terjaga dan industri dapat tumbuh dengan cukup baik.

Sumber:

2. Pertumbuhan Ekonomi Pada Tahun 2009 Sebesar 4,5% Meskipun masih dilanda krisis keuangan global, namun Indonesia masih bisa mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,5% (sumber:BPS) pada tahun 2009. Belanja pemerintah yang tumbuh 15,7% merupakan salah satu penyebab pertumbuhan itu bisa tercapai. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 mencapai 4,5 persen adalah tumbuhnya konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,9 persen. Begitu juga investasi yang dilaporkan masih tumbuh 3,3 persen dibandingkan tahun 2008.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/02/10/13085158/BPS.Pertumbuhan.Ekonomi.2009.4.5 .Persen 3.
Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/02/10/13085158/BPS.Pertumbuhan.Ekonomi.2009.4.5
.Persen
3.
Peningkatan Permintaan Obat Murah Seiring dengan Meningkatnya Populasi Dan
Sarana Pelayanan Kesehatan
Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate
sebesar 11% sejak tahun 2003 sampai dengan estimasi 2010. Pertumbuhan ini dipengaruhi
oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan
penduduk Indonesia. Permintaan akan obat resep khususnya obat resep murah akan
semakin meningkat seiring dengan peningkatan sarana pelayanan kesehatan di seluruh
wilayah Indonesia.
4.

Kebijakan Pemerintah yang Memberatkan Perusahaan Asing Masuk ke Pasar Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1010/Menkes/Per/XI/2008 yang diterbitkan 3 November 2008 itu menyebutkan perusahaan farmasi berstatus Pedagang Besar Farmasi yang tidak memiliki fasilitas pabrik di Indonesia tidak bisa mendaftarkan obat-obatan baru ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, perusahan Pedagang Besar Farmasi harus menyerahkan izin statusnya ke perusahaan yang memiliki pabrik di Indonesia. Kebijakan tersebut relatif menguntungkan perusahaan dalam negeri dan memberatkan perusahaan asing untuk masuk ke pasar Indonesia

5. Tingginya Angka Pemalsuan Obat Mencapai 20% dari Penjualan Produk Farmasi Menurut Business Monitor International, angka pemalsuan obat di Indonesia masih sangat tinggi, yakni mencapai 20% dari penjualan produk farmasi. Hal tersebut menjadi penghalang utama para investor untuk masuk ke industri ini khususnya investor asing.

Financial Position

1. Current Ratio PT Kalbe Farma 298,70%

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 95

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Analisis terhadap Current Ratio dapat digunakan untuk mengetahui seberapa likuid perusahaan, kaitannya dengan kemampuan untuk melunasi utang jangka pendek yang jatuh tempo pada tahun berjalan. Skor 298,70% artinya perusahaan masih memiliki sisa aset lancar setelah digunakan untuk melunasi semua kewajiban lancar. Dalam hal ini rasio PT Kalbe Farma masih tertinggi dan berada diatas pesaing-pesaingnya.

2. Return on Asset (ROA) PT Kalbe Farma adalah 14,43% Return on Asset adalah rasio untuk mengukur Earning Before Interest and Taxes (EBIT) yang dapat dihasilkan dari setiap rupiah aset yang dimiliki. Pada tahun 2009, PT Kalbe Farma memiliki ROA sebesar 14,43% terbesar kedua diantara empat perusahaan farmasi yang dianalisis. Untuk maksimalisasi income dari penggunaan aset, PT Kalbe Farma masih kalah dari Bio Farma.

3. Return on Equity (ROE) PT Kalbe Farma adalah 21,55% Return on Equity PT Kalbe Farma berada pada skor standar dengan kedua kompetitornya yakni Kimia Farma dan Indo Farma, namun masih dibawah dari Bio Farma. ROE dapat digunakan sebagai indikator profitabilitas yang bagus dari perusahaan. Tiap saham yang diinvestasikan perusahaan menghasilkan EBIT sebesar 21,55%. Struktur pendanaan PT Kalbe masih sebagian besar berasal dari saham.

4.
4.

Fixed Asset Turnover Ratio sebesar 6,50 kali Rasio ini membandingkan antara besar pendapatan usaha yang dihasilkan dari penggunaan aset tetap. Analisis terhadap Fixed Asset Turnover Ratio dapat memberikan gambaran terhadap investor seberapa baik perusahaan mendayagunakan aset tetapnya untuk menghasilkan pendapatan. Gambaran lain yang bisa dilihat adalah indikasi apakah perusahaan terlalu besar menginvestasikan modalnya pada aset tetap sehingga akan menyulitkan perusahaan ketika akan melunasi kewajiban yang sifatnya insidental atau tiba- tiba (penjualan aset akan memakan waktu dan tidak dapat melunasi kebutuhan kas yang mendadak). Rasio PT Kalbe di tahun 2009 menempati posisi ketiga dari empat perusahaan farmasi yang kami analisa. Dalam hal ini kami mencermati bahwa PT Kalbe masih kurang efektif dalam memanfaatkan aset tetapnya dalam menjalankan operasi perusahaan. Ini cukup memprihatinkan karena total aset PT Kalbe Farma berada diurutan pertama dari para pesaing-pesaingnya.

5. PT Kalbe Farma memiliki Working Capital Turnover Ratio sebesar 1,46 kali Working Capital Turnover Ratio PT Kalbe ada di posisi ketiga dari empat perusahaan farmasi yang kami analisis. Kami berpendapat bahwa PT Kalbe Farma kurang mampu memanfaatkan modal kerja yang tersedia (aset lancar setelah dikurangi kewajiban lancar) untuk menghasilkan pendapatan untuk perusahaan, dibanding dengan para kompetitornya.

6. Debt to Equity Ratio adalah 36,52% Rasio ini berfungsi untuk mengetahui persentase keseluruhan dana yang berasal dari hutang dengan yang berasal dari pemilik. Dalam hal ini rasio dari PT Kalbe adalah 36,52% yang mana artinya komposisi hutang dari PT Kalbe hanya sebesar 36,52% dari total equitasnya.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 96

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

7. Persentase Laba Bersih tahun 2009 naik 31,43% dari tahun 2008 Total Pendapatan Usaha pada tahun 2009 Sebesar 924,004 milyar, mengalami kenaikan sebesar 31,43% dari tahun 2008.

8. Gross Profit Margin sebesar 49,65%, mengalami kenaikan 1,37% dari tahun 2008 Gross Profit PT Kalbe Farma berada di posisi kedua setelah Bio Farma dengan nilai 49,65%. Nilai ini kurang sebanding dengan besarnya perusahaan. Perusahaan kurang dapat melakukan efisiensi biaya-biaya seperti bahan baku, tenaga kerja dan biaya lainnya untuk dapat meningkatkan profit perusahaan.

9. Operating Margin pada tahun 2009 16,19%, naik 1,23% dari laba bersih tahun 2008 Untuk menghitung Operating Margin terdapat komponen pendapatan usaha, beban kontrak dan beban usaha. Perusahaan dari hasil tersebut dapa melakukan penilaian apakah beban usaha (Operating Expense) terlalu besar sehingga dapat memperkecil laba. Dari analisis kami, Operating Margin PT Kalbe berada di urutan kedua dari kompetitornya.

10. Earning Per Share meningkat menjadi Rp97 per lembar saham EPS adalah alat untuk melakukan penilaian atas profitabilitas suatu perusahaan. EPS PT Kalbe dibandingkan dengan kompetitornya (Kimia Farma) yang sama-sama sudah listing di bursa jauh berada diatasnya. Kimia Farma berada pada posisi kedua dengan EPS sebesar

RP11,25 11. Price Earning Ratio (PER) sebesar 12,37 kali Price Earning Ratio adalah indikator ketertarikan
RP11,25
11.
Price Earning Ratio (PER) sebesar 12,37 kali
Price Earning Ratio adalah indikator ketertarikan investor terhadap perusahaan di pasar
modal. Pada akhir tahun 2009, PT Kalbe memiliki PER sebesar 12,37 kali, yang mana ini
berarti bahwa investor hendak membeli tiap lembar saham PT Kalbe dengan harga 12,37
kali dari nilai Earning per Share nya (EPS).
12.

Cash Flow Dari laporan arus kas PT Kalbe di tahun 2009, nilai arus kas dari kegiatan operasi positif, arus kas dari kegiatan investasi negatif, dan arus kas dari pendanaan juga negatif. Secara umum ini berarti bahwa perusahaan mampu membiayai kegiatan investasi dan pendanaannya dari hasil kegiatan operasinya. Free Cash Flow adalah kas yang tersedia dari kegiatan operasi setelah digunakan untuk memelihara atau menambah aset perusahaan. Dana kas yang tersedia ini sangat penting untuk memungkinkan perusahaan melakukan terobosan seperti mengembangkan produk baru, melakukan akuisisi; atau melakukan pembayaran atas kewajiban-kewajibannya seperti membayar deviden atau hutang. PT Kalbe memiliki Cash Flow yang bisa dilihat dari arus kas kegiatan operasi yang bernilai positif.

Industrial Position

1. Struktur permodalan sebagian berasal dari saham PT Kalbe Farma Tbk memenuhi kebutuhan permodalan perusahaannya sebagian besar dari penjualan sahamnya, dikombinasikan dengan melakukan pinjaman. Hal ini sangat bagus karena pendanaan dengan saham lebih fleksibel daripada pendanaan melalui hutang. Hal yang menjadi perhatian perusahaan adalah kemungkinan kewajiban pembayaran deviden.

2. Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003 sampai dengan estimasi 2010

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 97

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Dengan posisi market share Kalbe saat ini, diyakini bahwa pertumbuhan pasar farmasi tersebut berdampak signifikan terhadap pendapatan PT Kalbe Farma Tbk secara keseluruhan.

3. Terdapat 199 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia Saat ini ada 199 jumlah perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 35 perusahaan adalah PMA (Penanaman Modal Asing) dengan pangsa pasar yang diperkirakan mencapai 29.5%. Empat perusahaan lain adalah BUMN dengan pangsa pasar sebesar 7,0% dan sisanya PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dengan pangsa pasar 63.5%. Sebanyak 10 besar perusahaan Farmasi di tahun 2010 umumnya didominasi oleh 9 perusahaan lokal yaitu Sanbe Farma, Kalbe Farma, Dexa Medica, Bintang Toedjoe, Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Konimex, Phapros, Indofarma dan 1 perusahaan PMA yaitu Pfizer. Market share dari 10 perusahaan terbesar ini kurang lebih 40%.

share dari 10 perusahaan terbesar ini kurang lebih 40%. C a s e A n a

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 98

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Tabel 2.10 Perbandingan Posisi Keuangan Kompetitor (dalam Jutaan rupiah)

Kalbe Kimia Indo Balance Sheet Bio Farma Farma Farma Farma Cash & Cash Equivalents 1.563
Kalbe
Kimia
Indo
Balance Sheet
Bio Farma
Farma
Farma
Farma
Cash & Cash Equivalents
1.563
164
111
315
Receivables
1.318
45
180
156
Inventories
1.561
437
142
136
Advances
0
1
21
12
Tax Paid in Advance
0
92
127
46
Prepaid expense
0
15
0
1
Due from related parties
4
4
0
0
Penyertaan Saham
0
1
0
0
Deffered Tax Assets
29
28
24
0
Fixed Assets
1.398
402
101
545
Trade Payables
482
357
213
109
Tax Payables
273
27
12
32
Stock Capital
508
555
310
450
Add Paid in Capital
0
436
75
26
Income Statements
Sales
9.087
2.854
1.125
1.183
Cost of Good Sold
4.575
2.066
820
480
Gross Profit
4.512
788
305
703
Total Operating Expense
2.946
676
259
362
Income from operation
1.566
112
46
341
Other expense
(95)
(12)
(33)
(30)
Earning before interest and tax
1.471
100
13
311
Income Tax Expense
(421)
37
(11)
(93)
Net Income
929
63
2
218
Basic Earning per Share
97
11,25
0
0
Ratios
Debt to Equity
36,52%
36,82%
126,18%
23,86%
Current Ratio
298,70%
199,84%
154,21%
284,00%
Quick/Acid Test Ratio
199,51%
114,22%
116,54%
198,00%
Cash Ratio
99,27%
32,07%
29,42%
133,00%
Gross Profit Margin
49,65%
27,62%
27,08%
59,45%
Operating Margin Ratio
16,19%
3,49%
1,13%
28,82%
Net Profit Margin
10,22%
2,19%
0,19%
18,40%
Return on Equity
21,55%
21,55%
21,55%
29,57%
Fixed Asset Turnover
6,50
7,10
11,14
2,17
Return on Asset
14,33%
7,16%
6,31%
27,16%
Working Capital Turnover
1,46
4,05
4,02
1,10

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 99

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Figure 2.10

SPACE Matrix

Kuadran II Conservative Profiles Kuadran I Aggressive Profiles Kuadran III Defensive Profiles Kuadran I Competitive
Kuadran II
Conservative Profiles
Kuadran I
Aggressive Profiles
Kuadran III
Defensive Profiles
Kuadran I
Competitive Profiles
Tabel 2.11
Perhitungan Koordinat
Strategic Position
Average
Directional Vector Coordinate
Coordinate
FP
4,67
1,87
y-axis
SP
-2,80
(1,87) , (1,62)
IP
4,33
1,62
x-axis
CP
-2,71

Dari posisi KALBE pada SPACE Matrix di atas, dapat diketahui bahwa KALBE berada pada Kuadran I, yaitu posisi Aggressive. Pada posisi ini, strategi yang tepat buat KALBE adalah:

1. Backward, forward, horizontal integration

2. Market Penetration

3. Market Development

4. Product Development

5. Diversification (related and unrelated)

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 100

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

GRAND STRATEGY MATRIX

Grand Strategy Matrix merupakan suatu alat yang digunakan dalam memformulasikan strategi. Matrix ini menggunakan Market Growth atau pertumbuhan pasar sebagai sumbu Y dan Competitive Position atau posisi daya saing dalam pasar industri yang serupa sebagai sumbu X. Berikut ini merupakan Grand Strategy Matrix dari Kalbe Farma:

Figure 2.11 Grand Strategy Matrix RAPID MARKET GROWTH QUADRANT I 1. Market Development 2. Market
Figure 2.11
Grand Strategy Matrix
RAPID MARKET GROWTH
QUADRANT I
1. Market Development
2. Market Penetration
3. Product Development
4. Forward Integration
5. Backward Integration
6. Horizontal Integration
7. Related Diversification
WEAK
STRONG
COMPETITIVE
COMPETITIVE
POSITION
POSITION
SLOW MARKET GROWTH

PT Kalbe Farma Tbk berada pada posisi Quadrant I, karena selain memiliki posisi kompetitif yang kuat, perusahaan juga berada pada pertumbuhan pasar yang cepat/tinggi.

1. Strong Competitive Position Dari 4 (empat) divisi yang ada dalam PT Kalbe Farma Tbk, 3 diantaranya berhasil menguasai pangsa pasar di Indonesia. Divisi Obat Resep Kalbe mampu mempertahankan posisi dominan peringkat pertama di pasar obat resep di Indonesia, dengan pangsa pasar 13% di tahun 2009. Dalam pasar obat bebas yang merupakan lahan Divisi Produk Kesehatan, Kalbe Farma berada di urutan pertama dengan penguasaan 15% pangsa pasar di Indonesia. Begitu juga dengan Divisi Distribusi dan Kemasan. Hanya Divisi Nutrisi yang produknya belum dapat menguasai pasar karena masih berada di bawah produsen-produsen multinasional yang sudah lebih awal menggarap pasar nutrisi di Indonesia.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 101

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

2. High Market Growth

Angka pertumbuhan industri farmasi di Indonesia yang cukup tinggi adalah kesempatan yang harus dapat dimanfaatkan oleh PT Kalbe Farma Tbk untuk mengembangkan usahanya. Pasar obat resep Indonesia mengalami pertumbuhan 13,3% di tahun 2009 berdasarkan data IMS Health 2009. Selama periode tahun 2005 hingga 2009, pertumbuhan pasar obat bebas tercatat sekitar 13,2%. Pasar nutrisi di tahun 2009 tumbuh sebesar 6,1% berdasarkan data AC Nielsen 2009, dimana Kalbe Nutritionals sebagai pendatang baru telah mulai mampu bersaing sedangkan pemasaran dan distribusi peralatan kesehatan dan diagnostik yang telah dipisahkan menjadi unit bisnis tersendiri karena potensi pasar yang sangat besar di tahun 2009 menunjukkan pertumbuhan sekitar 34,0%. Dari posisi diatas maka strategi yang dapat diambil PT Kalbe Farma Tbk diantaranya dapat berupa:

1. Market Development

2. Market Penetration

3. Product Development

4.

Forward Integration

5. Backward Integration 6. Horizontal Integration 7. Related Diversification Langkah kongkrit yang dapat diambil PT
5. Backward Integration
6. Horizontal Integration
7. Related Diversification
Langkah kongkrit yang dapat diambil PT Kalbe Farma dalam rangka menjalankan strategi-
strategi diatas diantaranya: mengakuisisi salah satu perusahaan herbal di Indonesia,
melakukan penelitian terhadap bahan baku hayati dalam negeri untuk menghasilkan produk
baru baik obat resep/bebas maupun obat herbal, mengakuisisi vendor penyedia bahan baku
lokal untuk mengembangkan industri kimia hulu dalam negeri sekaligus mengurangi impor
bahan baku, meluncurkan produk inovator baru berkualitas ekspor yang belum dimiliki oleh
produsen lain khususnya di bidang obat resep dan produk nutrisi dan membuat legal system
yang ketat dan melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Asia dan Afrika melalui kolaborasi
berbentuk joint venture dengan perusahaan asing bertaraf internasional.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 102

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk KALBE FARMA’S STRATEGIC CHOICE (QSPM) Quantitative Strategic Planning Matrix ( QSPM )

KALBE FARMA’S STRATEGIC CHOICE (QSPM)

Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah Pendekatan manajemen strategi level atas untuk mengevaluasi berbagai keungkinan strategi-strategi yang ada. QSPM menyediakan metode analisis untuk perbandingan beberapa alternatif dihubungkan dengan SWOT suatu perusahaan. QSPM menghasilkan strategi terpilih dengan nilai tertimbang tertinggi yang akan menjadi prioritas dalam pelaksanaan strategi. Proses penentuan ini sangat intuitif dan subjektif.

Berdasarkan hasil diagnose sebelumnya, strategi yang paling tepat untuk Kalbe Farma adalah Integration, Market Penetration, Market Development, dan Product Development. Atas keempat strategi tersebut akan dibuat perbandingan dalam suatu QSPM. Strategi Integration akan dikhususkan pada strategi Backward Intregration, karena pada tahun 2009 Kalbe Farma telah meningkatkan kepemilikan sahamnya pada Enseval, sebuah perusahaan distribusi terbesar di Indonesia sehingga kepemilikan saham menjadi 83,75%. Oleh karena itu, strategi yang disarankan saat ini adalah Backward Integration. Berikut akan disajikan QSPM bagi Kalbe Farma:

/
/

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 103

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

Tabel 2.12

QSPM

STRATEGIC ALTERNATIVES 1 2 3 4 Backward Market Market Product Integration Penetration Development Development
STRATEGIC ALTERNATIVES
1
2
3
4
Backward
Market
Market
Product
Integration
Penetration
Development
Development
KEY FACTORS
WEIGHT
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
OPPORTUNITIES
1
Kebijakan pemerintah yang cenderung memberatkan perusahaan farmasi asing
0,06
4,00
0,24
3,00
0,18
1,00
0,06
2,00
0,12
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh
2
lima tahun terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta
pada tahun 2025
0,08
-
-
-
-
-
-
-
-
Pertumbuhan pasar obat herbal Indonesia selama 5 tahun terakhir rata-rata sekitar
3
0,08
3,00
0,24
2,00
0,16
1,00
0,08
4,00
0,32
15%
4
Indonesia merupakan salah satu negara mega diversity untuk tumbuhan obat di dunia
0,08
3,00
0,24
1,00
0,08
2,00
0,16
4,00
0,32
5
Kebijakan pemerintah mendukung ekspor
0,07
2,00
0,14
1,00
0,07
4,00
0,28
3,00
0,21
6
Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun 11% sejak tahun 2003 sampai
dengan estimasi 2010
0,09
2,00
0,18
4,00
0,36
1,00
0,09
3,00
0,27
THREATS
Kebijakan pemerintah mengenai pembatasan harga obat generik dan pembatasan
7
0,06
-
-
-
-
-
-
-
-
obat branded generic pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah
8
Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap valas (valuta asing)
0,06
4,00
0,24
1,00
0,06
2,00
0,12
3,00
0,18
9
Peredaran obat palsu yang masih tinggi
0,07
-
-
-
-
-
-
-
-
10
Krisis ekonomi di Indonesia sebagai dampak krisis global
0,05
3,00
0,15
1,00
0,05
4,00
0,20
2,00
0,10
11
Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan kesehatannya
0,08
-
-
-
-
-
-
-
-
12
Makin maraknya pengobatan alternatif
0,07
1,00
0,07
4,00
0,28
3,00
0,21
2,00
0,14
13
Rencana merger Indofarma dan Kimia Farma
0,09
1,00
0,09
3,00
0,27
4,00
0,36
2,00
0,18

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 104

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

STRATEGIC ALTERNATIVES 1 2 3 4 Backward Market Market Product Integration Penetration Development Development
STRATEGIC ALTERNATIVES
1
2
3
4
Backward
Market
Market
Product
Integration
Penetration
Development
Development
KEY FACTORS
WEIGHT
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/PMK.03/2009 tentang Biaya Promosi dan
14
0,06
-
-
-
-
-
-
-
-
Penjualan yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto
1,00
STRENGTHS
1
Market Leader produk kesehatan dan obat-obatan di Indonesia
0,08
1,00
0,08
4,00
0,32
3,00
0,24
2,00
0,16
2
Perusahaan farmasi publik terbesar di Asia Tenggara
0,07
1,00
0,07
2,00
0,14
4,00
0,28
3,00
0,21
3
Penjualan dari masing-masing divisi cukup berimbang
0,05
- -
- -
-
-
-
-
4
Kalbe Farma meraih berbagai penghargaan bergengsi selama tahun 2009
0,06
- -
- -
-
-
-
-
PT Bintang Toedjoe memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 dan ISO 14001:2004 dari
5
0,05
- -
- -
-
-
-
-
Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA)
6
Kalbe meningkatkan kepemilikan atas PT Enseval Putera Megatrading Tbk sebesar
25,45% melalui penawaran tender
0,06
- -
- -
-
-
-
-
7
Kalbe memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia
0,07
1,00
0,07
3,00
0,21
4,00
0,28
2,00
0,14
8
Investasi Kalbe dalam R&D pada tahun 2009 mencapai Rp 78,8 miliar atau meningkat
8,4% dari investasi tahun 2008
0,06
-
-
-
-
-
-
-
-
Stem Cell and Cancer Institute (SCI) mendapatkan 3 paten yang berhubungan dengan
9
0,06
3,00
0,18
1,00
0,06
2,00
0,12
4,00
0,24
bahan anti kanker
10
Pada tahun 2009, SCI membentuk unit bisnis Kalbe Genomics (KalGen) sebagai
laboratorium diagnostic molecular canggih yang pertama di Indonesia
0,08
3,00
0,24
2,00
0,16
1,00
0,08
4,00
0,32
WEAKNESSES
11
Net Profit Margin yang relatif rendah dibanding kompetitor
0,07
4,00
0,28
2,00
0,14
1,00
0,07
3,00
0,21

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 105

PT Kalbe Farma Tbk

PT Kalbe Farma Tbk

STRATEGIC ALTERNATIVES 1 2 3 4 Backward Market Market Product Integration Penetration Development Development
STRATEGIC ALTERNATIVES
1
2 3
4
Backward
Market
Market
Product
Integration
Penetration
Development
Development
KEY FACTORS
WEIGHT
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
AS
TAS
12 Adanya kompetisi internal yang cukup keras
0,04
-
-
-
-
-
-
-
-
13 Penjualan ekspor Kalbe Farma masih kecil porsinya
0,06
1,00
0,06
2,00
0,12
4,00
0,24
3,00
0,18
14 Pangsa pasar produk nutrisi Kalbe Farma masih rendah
0,06
3,00
0,18
4,00
0,24
1,00
0,06
2,00
0,12
15 Produk herbal yang diproduksi Kalbe Farma masih relatif rendah
0,06
3,00
0,18
2,00
0,12
1,00
0,06
4,00
0,24
16 Tingkat ketergantungan Kalbe Farma terhadap bahan baku impor masih tinggi
0,07
4,00
0,28
2,00
0,14
1,00
0,07
3,00
0,21
1,00
3,21
3,16
3,06
3,87
TOTAL
Dari hasil QSPM tersebut, terlihat bahwa prioritas pertama strategi yang akan dilaksanakan Kalbe Farma adalah product development¸dengan skor 3,87.
Oleh karena strategi product development
berhubungan erat dengan ketiga strategi lainnya maka pada rencana strategis Kalbe 2010-2015, strategi-
strategi yang lain juga akan dilaksanakan untuk mendukung strategi utama product development.

C a s e

A n a l y s i s

D i a g n o s t i c

P h a s e

P a g e

| 106