Anda di halaman 1dari 6

Modul 3 TRANSISTOR

Nama

: AHMAD PUJI ARDI

NIM

: 12313079

E-mail

: ahmadpujiardi@gmail.com

Asisten

: Ridho N P

12312010

Muthia J M

12312064

Tanggal Praktikum

: 20 November 2014

Abstrak

Kata kunci :

1. Tujuan

a.

Memahami

cara

kerja

transistor

sebagai penguat.

 

b. Memahami

cara

kerja

transistor

sebagai gerbang logika.

2. Teori Dasar

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Terdapat berbagai macam jenis transistor, pada praktikum kali ini digunakan Bipolar Junction Transistor tipe NPN.

Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor.

yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor. (a) (b) Gambar 1. (a) bentuk fisik tansistor.

(a)

yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor. (a) (b) Gambar 1. (a) bentuk fisik tansistor.

(b)

Gambar 1. (a) bentuk fisik tansistor. (b) BJT tipe npn dan pnp.

Transistor sebagai penguat Transistor sebagai penguat merupakan salah satu fungsi dari transistor. Transistor dapat membuat sinyal masukan menjadi besar pada keluaran, baik itu arus AC maupun arus DC. Pada prinsipnya untuk penggunaan penguat adalah “arus kecil pada basis digunakan untuk mengontrol arus yang lebih besar pada yang diberikan ke kolektor melewati transistor tersebut.”

yang diberikan ke kolektor melewati transistor tersebut.” Gambar 2. Rangkaian transistor untuk penguat Transistor

Gambar 2. Rangkaian transistor untuk penguat

Transistor sebagai saklar Seperti yang telah diketahui bahwa transistor memiliki 3 elektroda yakni basis, kolektor, dan emitor. Berdasarkan karakteristik tersebut transisitor dapat dengan baik digunakan sebagai saklar dalam suatu rangkaian tertentu. Cara kerja transistor sebagai saklar dapat diumpamakan sebagai keran air.

sebagai saklar dalam suatu rangkaian tertentu. Cara kerja transistor sebagai saklar dapat diumpamakan sebagai keran air.

Gambar 3. Keran air perumpamaan transistor

Karakteristik saklar adalah memiliki 2 kaki dan memiliki 2 keadaan yakni on dan off. On ketika arus mengalir dengan bebas tanpa hambatan yang menghalangi sedangkan off ketika arus tak bisa mengalir karena putus aliran arusnya. Dari perumpamaan diketahui bahwa ketika kaki basis transistor tidak diberikan arus, tidak ada arus pada emitor yang berarti transistor dalam keadaan terbuka (saklar off) atau disebut cutoff. Sedangkan ketika kaki basis diberi arus yang cukup maka arus pada kolektor akan mengalir pada emitor. Jika arus yang diberikan terlalu besar, maka transistor dalam keadaan over saturation. Dari fungsi transistor sebagai saklar lebih lanjut dapat dijadikan rangkaian gerbang logika. gerbang logika adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika Boolean yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran logik. Ada beberapa tipe dari rangkaian gerbang logika tetapi yang digunakan pada praktikum adalah NOT, NAND, dan NOR.

yang digunakan pada praktikum adalah NOT, NAND, dan NOR. (a) (b) (c) Gambar 4. (a) rangkaian

(a)

yang digunakan pada praktikum adalah NOT, NAND, dan NOR. (a) (b) (c) Gambar 4. (a) rangkaian

(b)

digunakan pada praktikum adalah NOT, NAND, dan NOR. (a) (b) (c) Gambar 4. (a) rangkaian NOT

(c)

Gambar 4. (a) rangkaian NOT

3. Metode Percobaan

(b)

rangkaian NAND

(c)

rangkaian NOR

A. Voltage-divider-based Amplifier Untuk percobaan fungsi transistor sebagai penguat dilakukan dengan cara simulasi pada ISIS. Pertama kita buat rangkaian pada ISIS seperti pada Gambar 2. Setelah selesai kita beri masukan Vcc sebesar 12 volt dan sinyal masukan sinusoidal dengan amplitudo 10 mV 100 mV serta atur frekuensinya. Setelah itu catat besarnya tegangan masukan dan tegangan keluaran dengan memberi V probe.

masukan dan tegangan keluaran dengan memberi V probe. Gambar 5. Rangakaian penguat transistor B. Rangkaian NOT

Gambar 5. Rangakaian penguat transistor

B. Rangkaian NOT Dalam praktikum mengenai rangakaian NOT, kami mengalami kegagalan dimana pembacaan multimeter tidak mengalami perubahan walaupun tegangan masukan diubah-ubah sehingga tidak sesuai harapan. Untuk itu, kami hanya melakukan simulasi yang dilakukan dengan program ISIS. Kami membuat

rangkaian sesuai gambar 4 (a).

Kemudian kita hubungkan Vcc dengan tegangan input 5 V. Kemudian kita ukur tegangan output dari 0 1 V dengan selang 0,1 V dan dari 1 V 5V dengan selang 0,5 V.

selang 0,1 V dan dari 1 V – 5V dengan selang 0,5 V. Gambar 6. Rangkaian

Gambar 6. Rangkaian NOT

C. Rangkaian NAND dan NOR Dalam praktikum ini kami juga gagal dalam mempraktikan rangkaian NAND dan NOR seperti pada rangakaian NOT. Kami melakukan simulasi dengan ISIS. Pertama kita buat rangkaian NAND dan NOR sesuai dengan yang ada di modul. Setelah selesai, beri tegangan Vcc sebesar 5 V. Untuk keadaan yang pertama sumber a dan b tidak diberi tegangan, keadaan kedua salah satu dari a atau b diberi tegangan sebesar 5 V dan keadaan ketiga dimana sumber a dan b diberi tegangan sebesar 5 V. Dari keempat keadaan catat hasil tegangan keluaran yang dihasilkan.

keadaan catat hasil tegangan keluaran yang dihasilkan. (a) (b) Gambar 7. (a) rangkaian NAND (b) rangkaian

(a)

keadaan catat hasil tegangan keluaran yang dihasilkan. (a) (b) Gambar 7. (a) rangkaian NAND (b) rangkaian

(b)

Gambar 7. (a) rangkaian NAND (b) rangkaian NOR

4. Data dan Pengolahan

A. Voltage-divider-based Amplifier

Tabel 1. Hasil simulasi rangkaian penguat transistor

Vin (mV)

V(mV)

gain

10

34

3,400

20

68,5

3,425

30

103

3,433

40

137

3,425

50

171

3,420

60

205

3,417

70

240

3,429

80

275

3,438

90

307,5

3,417

100

342,5

3,425

GRAFIK Vin VS Vout

350 300 250 200 150 100 50 0 0 20 40 60 80 100 Vout
350
300
250
200
150
100
50
0
0
20
40
60
80
100
Vout (mV)

Vin (mV)

B. Rangkaian NOT

Tabel 2. Hasil simulasi rangkaian NOT untuk 0-1V dengan selang 0,1 V

Vin (V)

Vout(V)

0

5

0,1

5

0,2

5

0,3

4,99

0,4

4,99

0,5

4,97

0,6

3,97

0,7

0,11

0,8

0,08

0,9

0,07

1

0,06

Tabel 3. Hasil simulasi rangkaian NOT untuk 1-5V dengan selang 0,5 V

Vin (V)

Vout(V)

1

0,06

1,5

0,05

2

0,04

2,5

0,036

3

0,034

3,5

0,032

4

0,031

4,5

0,03

5

0,029

Tabel 4. Tabel kebenaran rangkaian NOT

Vin (V)

Vout(V)

1

0

0

1

   

GRAFIK Vin BANDING Vout (0 - 1 V SELANG 0,1)

 

6

5

5

4

 

Vout (V)

3

 

2

1

0

 

0

0,2

0,4

0,6

0,8

1

1,2

 

Vin (V)

 

GRAFIK Vin BANDING Vout (1-5 V SELANG 0,5)

   

0,07

0,07

0,06

0,05

0,04

0,03

0,02

0,01

 

0

 

0

1

2

3

4

5

6

C. Rangkaian NAND dan NOR

Tabel 5. Hasil simulasi rangkaian NAND

VA (V)

VB(mV)

Vout (V)

0

0

5

0

5

5

5

0

5

5

5

0,076

Tabel 6. Tabel kebenaran rangkaian NAND

VA (V)

VB(mV)

Vout (V)

0

0

1

0

1

1

1

0

1

1

1

0

Tabel 7. Hasil simulasi rangkaian NOR

VA (V)

VB(mV)

Vout (V)

0

0

5

0

5

0

5

0

0

5

5

0,0187

Tabel 8. Tabel kebenaran rangkaian NOR

 

VA (V)

VB(mV)

Vout (V)

0

0

1

0

1

0

1

0

0

1

1

0

5.

Analisis

 

A. Voltage-divider-based Amplifier Dari hasil simulasi dengan menggunakan ISIS didapatkan tabel Vin, Vout, dan Gain. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa rangkaian yang dibuat mengalami penguatan tegangan rata-rata sebesar 3,423 kali. Selain terjadi penguatan tegangan keluaran, terjadi juga perubahan fasa dari gelombang tegangan input dengan tegangan output. Didapat bahwa beda fasa yang terjadi sebesar 90 o dimana tegangan output (Vout) tertinggal sebesar 90 o dibandingkan tegangan input (Vin) yang dapat dilihat pada gambar . Hal ini terjadi karena rangkaian tersebut merupakan rangkaian RC yang bersifat kapasitif. Adanya kapasitor pada rangkaian membuat tegangan mengisi muatan kapasitor terlebih dahulu sehingga tegangan keluaran akan tertinggal dari tegangan input.

tegangan keluaran akan tertinggal dari tegangan input. B. Rangkaian NOT Dari grafik pada rangakaian NOT dapat

B. Rangkaian NOT Dari grafik pada rangakaian

NOT dapat dilihat bahwa rangkaian dapat bekerja sebagai saklar secara efektif berada pada range antara 0,6 0,7 V terutama pada 0,7 V. Hal ini berarti bahwa pada tegangan ini merupakan tegangan yang menghasilkan arus yang cukup untuk membuat kaki base pada transistor

menjadi keadaan saturasi.

Selain itu, dapat terlihat pada

grafik bahwa nilai tegangan keluaran tidak pernah menyentuh angka 0 walaupun tegangan input semakin diperbesar. Hal ini terjadi karena kaki base tidak bisa menutup secara total arus yang mengalir dari kolektor ke emiter walaupun arus pada kaki base besar melebihi arus dari Vcc.

C. Rangkaian NAND dan NOR Dari rangkaian dapat dilihat bahwa rangkaian NAND memiliki 2 transistor yang dipasang seri sedangkan pada rangkaian NOR memiliki 2 transistor yang dipasang secara paralel.

Untuk membuat rangkaian AND dan OR sama seperti konjugatnya yakni untuk AND 2 buah transistor dipasang secara seri dengan satu keluaran dan untuk rangkaian OR 2 transistor dipasang secara paralel dengan satu keluaran.

6.

Simpulan

1.

Transistor dapat berfungsi sebagai penguat tegangan pada rangakaian dengan penguatan yang dapat disesuaikan melalui pemberian tegangan pada kaki base.

2.

Hasil dari penguatan memiliki beda fase dengan gelombang sumber sebesar 90 O .

3.

Rangakaian transistor sebagai saklar pada rangkaian gerbang logika memiliki arus minimal

untuk transistor agar dapat bekerja sebagai saklar.

4. Hasil keluaran dari rangkaian transistor pada gerbang logika tak pernah memperoleh nilai

0.

5. Pada rangkaian NAND akan mendapatkan keluaran tegangan mendekati 0 jika kedua input A dan B diberi tegangan sebesar Vcc.

6. Pada rangkaian NOR akan

mendapatkan keluaran tegangan bernilai sama Vcc jika semua input tidak diberi tengangan.

7. Daftar Pustaka [1] Alexander CA & Sadiku MS.Fundamentals of Electric

Circuits (3rd ed.). McGraw-Hill.

2006.

[2] Malvino A & Bates DJ. Electronic Principles (7th ed.). McGraw-Hill. 2007.